7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

I Wayan Artika by I Wayan Artika
May 27, 2026
in Khas
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

Peserta Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula Bali (lawan gula buatan kolonial Belanda, yakni gula pasir), atau dalam istilah populer disebut brown sugar. Gula ini dihasilkan oleh pohon aren atau dalam bahasa Bali disebut jaka. Jaka banyak tumbuh di sela-sela perkebunan kopi dan hutan di Desa Pedawa. Keberadaan pohon ini di Nusantara sangat penting. Terbukti, penduduk setempat memiliki berbagai cara untuk memanfaatkannya, baik air nira atau tuaknya maupun buah mudanya yang dikenal sebagai kolang-kaling. Nira atau tuak di berbagai daerah di Nusantara pada umumnya merupakan bahan baku gula merah atau gula aren. Meskipun demikian, nira atau tuak juga bisa difermentasi menjadi minuman keras.

Sejak kurang lebih dua puluh tahun terakhir, popularitas gula merah Pedawa semakin meningkat sehingga desa ini makin dikenal luas melalui produk gula merahnya. Namun demikian, Desa Pedawa lebih dari sekadar gula merah. Desa ini tidak hanya tentang produk pohon jaka tersebut. Di desa yang berada di lereng bukit ini tersimpan hampir seluruh kearifan Bali Aga, meskipun sebagian mungkin tidak begitu dikenal karena perlahan terkikis oleh waktu. Tentu hal itu tidak berarti nilai-nilai moral Bali Aga yang luhur telah ditinggalkan. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut tetap hidup, hanya kini perlu terus direvitalisasi, disadarkan kembali keberadaannya, dan diinternalisasi di tengah masyarakat desa.

Pedawa dikenal memiliki beragam kearifan lokal dalam bidang lingkungan, vegetasi, dan penghormatan terhadap 85 mata air yang muncul di wilayah desa ini. Data-data ekologi tersebut telah dikumpulkan oleh sebuah komunitas bernama Komunitas Kayoman yang didirikan oleh seorang intelektual desa, Wayan Sadnyana. Setelah menamatkan studi di Jurusan Bahasa Jepang Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, lalu tinggal beberapa tahun di Jepang dan melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah di Indonesia, ia kembali ke desanya. Kebetulan ia juga merupakan dosen di Universitas Pendidikan Ganesha yang jaraknya relatif dekat dengan Desa Pedawa. Kondisi ini memungkinkan dirinya tetap bermukim di desa sambil membangun masyarakat berdasarkan pemikiran dan kajian akademik. Keadaan tersebut juga membuatnya dapat terus memberikan perhatian dan berkarya untuk desanya sesuai dengan visi dan pengalaman yang dimiliki sebagai seorang intelektual.

Dari tangannya lahir sejumlah komunitas, di samping Kayoman, salah satunya Pondok Literasi Sabih. Pada awal berdirinya, Pondok Literasi Sabih merupakan tempat kegiatan belajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Kata Sabih adalah nama sebuah lokasi di Desa Pedawa, tempat Wayan Sadnyana membangun rumah sekaligus komunitasnya. Keberadaan komunitas ini kini cukup dikenal dan kiprahnya telah diakui dalam berbagai forum literasi di Bali maupun tingkat nasional.

Landasan pemikiran mendirikan Pondok Literasi Sabih berangkat dari keinginan membangun negosiasi antara dua kondisi yang saling bertentangan dalam kehidupan masyarakat Bali Aga. Di satu sisi, mereka mulai melupakan tradisi dan nilai-nilai luhur warisan para tetua; di sisi lain, desa ini juga tidak mungkin menolak segala bentuk kemajuan dan teknologi yang terus masuk ke tengah kehidupan masyarakat.

Untuk itu Wayan Sadnyana membangun budaya kritik kebudayaan dan sosial, sekaligus mengembangkan berbagai kemitraan riset dengan para peneliti dari perguruan tinggi di Bali maupun luar negeri, serta dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat. Gagasannya tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan melalui pendirian pusat belajar yang pada awalnya diperuntukkan bagi anak-anak dengan materi kursus bahasa asing. Dari sini kemudian berkembang menjadi tempat belajar adat dan budaya Bali Aga, yang pada tahun 2025 kemudian berkembang menjadi sekolah adat.

Di dalam diri Wayan Sadnyana sebagai tokoh masyarakat Desa Pedawa tersimpan ideologi Bali Aga yang sangat kuat. Ia mendalami pengetahuan lokal mengenai Bali Aga, khususnya desanya sendiri: mulai dari ritual, kesenian, sastra lisan, dialek Bali Aga, pertanian, hingga pelestarian mata air dan lingkungan secara umum. Pengetahuan itu memang tidak dimiliki secara merata oleh masyarakat, sering kali hanya berupa ingatan yang terpisah-pisah. Wayan Sadnyana mencoba merangkainya kembali layaknya sebuah permainan bongkar pasang.

Kearifan Desa Pedawa akhirnya mulai terwadahi dalam sekolah adat, yakni sebuah sekolah yang kurikulumnya berbasis pada pengetahuan dan kearifan adat. Sekolah ini tertata lebih sistematis sehingga lebih mudah direalisasikan. Di sekolah adat inilah kurikulum lokal Bali Aga dipelajari. Ini menjadi sesuatu yang penting di Bali, sebuah pulau yang dikenal sangat kuat memegang adat, tetapi ironisnya belum banyak memiliki lembaga pendidikan adat yang terstruktur. Selama ini ada pasraman untuk anak-anak sekolah, tetapi sifatnya musiman dan biasanya berlangsung saat libur panjang.

Kiprah desa ini, yang digerakkan oleh seorang intelektual melalui Pondok Literasi Sabih, kini tidak hanya bergerak pada kursus bahasa asing, melainkan juga mulai mendatangkan wisatawan dengan latar belakang akademik.

Semua itu terungkap dalam kegiatan Program “Desa Binaan” yang dirancang oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha. Tahun ini Desa Pedawa dipilih sebagai lokasi program dengan harapan besar agar kampus benar-benar berdampak pada kehidupan masyarakat. Program dimulai dari identifikasi potensi, kebutuhan, dan persoalan desa melalui kajian atas pemikiran tokoh-tokoh desa, termasuk Wayan Sadnyana, serta berbagai komunitas seperti Balawa, RPS, Kelompok Tani Getah Uyung, dan lainnya.

Dari situ terungkap berbagai keunggulan yang dapat dipelajari pihak kampus. Dosen dan mahasiswa dapat mengkaji fenomena menarik di Pedawa. Mahasiswa juga bisa menjadikannya bahan kajian dalam perkuliahan. Hal ini menunjukkan keterbukaan Fakultas Bahasa dan Seni terhadap dinamika masyarakat tanpa harus selalu berada di menara gading, sebagaimana sering ditekankan oleh Bapak Dekan Drs. I.G.D. Nurjaya, M.Pd.

Program Desa Binaan tahun 2026 diisi dengan berbagai kegiatan Tri Dharma: pengajaran oleh mahasiswa melalui kursus, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen bersama mahasiswa. Kegiatan ini memberikan warna baru sekaligus fokus baru bagi desa. Pedawa menjadi laboratorium pengetahuan yang dikaji dan dianalisis secara sistematis untuk membangun pemahaman baru yang kelak dapat menjadi sumbangan bagi desa-desa lain di Bali.

Peran riset yang dilakukan Universitas Pendidikan Ganesha, khususnya Fakultas Bahasa dan Seni, sungguh membanggakan. Para dosen turun langsung ke lapangan, bahkan menginap. Salah satunya melalui proyek mural yang dikerjakan I Wayan Sudiarta dari Prodi Pendidikan Seni Rupa. Dalam kawasan Desa Pedawa yang kaya ekosistem, kosmologi, kearifan leluhur, dan persoalan sosialnya, berbagai gagasan dan ketajaman analisis berkembang secara langsung di lapangan.

Ekoliterasi

Salah satu kegiatan yang dilakukan tim dosen dari Jurusan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah dalam Program Desa Binaan tahun ketiga 2026—setelah sebelumnya dilaksanakan di Desa Les pada tahun 2024 dan Desa Kalibukbuk pada tahun 2025—mengangkat tema atau klaster “identitas desa dan literasi”.

Program yang dipilih adalah pelatihan ekoliterasi. Peserta kegiatan ini adalah anggota Pondok Literasi Sabih. Anak-anak yang menjadi anggotanya sejak dini telah diperkenalkan pada kearifan ekologi yang menjadi warisan masyarakat Pedawa. Pengetahuan ini sangat penting.

Karena itu, materi yang disampaikan tidak diambil dari luar, melainkan dikembangkan berdasarkan hasil survei pada bulan April lalu. Dari situ disusun materi mengenai mata air, vegetasi, dan tumbuhan yang hidup di sekitar mata air di Desa Pedawa, yang akar dan batangnya berperan penting menyimpan air.

Di sini juga disampaikan pengetahuan mengenai gula aren yang menjadi merek lokal dan sudah sangat dikenal. Selain itu, berbagai topik tentang tumbuhan untuk keperluan upacara juga dibicarakan dalam kegiatan ekoliterasi yang berbasis lokal ini.

Namun demikian, wawasan umum mengenai literasi juga tetap diberikan kepada peserta untuk mengingatkan dan menguatkan kembali pengetahuan mereka. Literasi tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di keluarga dan di tengah masyarakat atau komunitas. Pondok Literasi Sabih menjadi salah satu contoh gerakan literasi masyarakat di Bali.

Dengan demikian, keberadaan Pondok Literasi Sabih tidak hanya penting bagi pelestarian budaya lokal dan budaya Bali Aga, tetapi juga menegaskan bahwa Desa Pedawa memiliki gerakan literasi berbasis masyarakat yang kuat dan bermakna.

Pengetahuan-pengetahuan yang dibagikan dalam focus group discussion ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih sesungguhnya berkaitan erat dengan ideologi lingkungan yang menjadi salah satu kearifan lokal terpenting di Desa Pedawa. Kearifan tersebut memang mulai tergerus, tetapi langkah antisipatif telah dilakukan dengan cepat melalui gerakan komunitas yang dipimpin Wayan Sadnyana.

Fenomena ini penting bagi Fakultas Bahasa dan Seni. Para dosen mendapat kesempatan memahami dinamika desa yang digerakkan oleh komunitas. Di dalam komunitas itulah berkembang pemikiran-pemikiran kritis, inovatif, dan berwawasan ke depan. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa PedawaLiterasiPondok Literasi Sabih PedawaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Next Post

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

by Jaswanto
July 6, 2026
0
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

Read moreDetails

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
0
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

Read moreDetails

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
0
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

Read moreDetails

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
0
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

Read moreDetails

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
0
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

Read moreDetails

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co