22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

I Wayan Artika by I Wayan Artika
May 27, 2026
in Khas
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

Peserta Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula Bali (lawan gula buatan kolonial Belanda, yakni gula pasir), atau dalam istilah populer disebut brown sugar. Gula ini dihasilkan oleh pohon aren atau dalam bahasa Bali disebut jaka. Jaka banyak tumbuh di sela-sela perkebunan kopi dan hutan di Desa Pedawa. Keberadaan pohon ini di Nusantara sangat penting. Terbukti, penduduk setempat memiliki berbagai cara untuk memanfaatkannya, baik air nira atau tuaknya maupun buah mudanya yang dikenal sebagai kolang-kaling. Nira atau tuak di berbagai daerah di Nusantara pada umumnya merupakan bahan baku gula merah atau gula aren. Meskipun demikian, nira atau tuak juga bisa difermentasi menjadi minuman keras.

Sejak kurang lebih dua puluh tahun terakhir, popularitas gula merah Pedawa semakin meningkat sehingga desa ini makin dikenal luas melalui produk gula merahnya. Namun demikian, Desa Pedawa lebih dari sekadar gula merah. Desa ini tidak hanya tentang produk pohon jaka tersebut. Di desa yang berada di lereng bukit ini tersimpan hampir seluruh kearifan Bali Aga, meskipun sebagian mungkin tidak begitu dikenal karena perlahan terkikis oleh waktu. Tentu hal itu tidak berarti nilai-nilai moral Bali Aga yang luhur telah ditinggalkan. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut tetap hidup, hanya kini perlu terus direvitalisasi, disadarkan kembali keberadaannya, dan diinternalisasi di tengah masyarakat desa.

Pedawa dikenal memiliki beragam kearifan lokal dalam bidang lingkungan, vegetasi, dan penghormatan terhadap 85 mata air yang muncul di wilayah desa ini. Data-data ekologi tersebut telah dikumpulkan oleh sebuah komunitas bernama Komunitas Kayoman yang didirikan oleh seorang intelektual desa, Wayan Sadnyana. Setelah menamatkan studi di Jurusan Bahasa Jepang Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, lalu tinggal beberapa tahun di Jepang dan melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah di Indonesia, ia kembali ke desanya. Kebetulan ia juga merupakan dosen di Universitas Pendidikan Ganesha yang jaraknya relatif dekat dengan Desa Pedawa. Kondisi ini memungkinkan dirinya tetap bermukim di desa sambil membangun masyarakat berdasarkan pemikiran dan kajian akademik. Keadaan tersebut juga membuatnya dapat terus memberikan perhatian dan berkarya untuk desanya sesuai dengan visi dan pengalaman yang dimiliki sebagai seorang intelektual.

Dari tangannya lahir sejumlah komunitas, di samping Kayoman, salah satunya Pondok Literasi Sabih. Pada awal berdirinya, Pondok Literasi Sabih merupakan tempat kegiatan belajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Kata Sabih adalah nama sebuah lokasi di Desa Pedawa, tempat Wayan Sadnyana membangun rumah sekaligus komunitasnya. Keberadaan komunitas ini kini cukup dikenal dan kiprahnya telah diakui dalam berbagai forum literasi di Bali maupun tingkat nasional.

Landasan pemikiran mendirikan Pondok Literasi Sabih berangkat dari keinginan membangun negosiasi antara dua kondisi yang saling bertentangan dalam kehidupan masyarakat Bali Aga. Di satu sisi, mereka mulai melupakan tradisi dan nilai-nilai luhur warisan para tetua; di sisi lain, desa ini juga tidak mungkin menolak segala bentuk kemajuan dan teknologi yang terus masuk ke tengah kehidupan masyarakat.

Untuk itu Wayan Sadnyana membangun budaya kritik kebudayaan dan sosial, sekaligus mengembangkan berbagai kemitraan riset dengan para peneliti dari perguruan tinggi di Bali maupun luar negeri, serta dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat. Gagasannya tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan melalui pendirian pusat belajar yang pada awalnya diperuntukkan bagi anak-anak dengan materi kursus bahasa asing. Dari sini kemudian berkembang menjadi tempat belajar adat dan budaya Bali Aga, yang pada tahun 2025 kemudian berkembang menjadi sekolah adat.

Di dalam diri Wayan Sadnyana sebagai tokoh masyarakat Desa Pedawa tersimpan ideologi Bali Aga yang sangat kuat. Ia mendalami pengetahuan lokal mengenai Bali Aga, khususnya desanya sendiri: mulai dari ritual, kesenian, sastra lisan, dialek Bali Aga, pertanian, hingga pelestarian mata air dan lingkungan secara umum. Pengetahuan itu memang tidak dimiliki secara merata oleh masyarakat, sering kali hanya berupa ingatan yang terpisah-pisah. Wayan Sadnyana mencoba merangkainya kembali layaknya sebuah permainan bongkar pasang.

Kearifan Desa Pedawa akhirnya mulai terwadahi dalam sekolah adat, yakni sebuah sekolah yang kurikulumnya berbasis pada pengetahuan dan kearifan adat. Sekolah ini tertata lebih sistematis sehingga lebih mudah direalisasikan. Di sekolah adat inilah kurikulum lokal Bali Aga dipelajari. Ini menjadi sesuatu yang penting di Bali, sebuah pulau yang dikenal sangat kuat memegang adat, tetapi ironisnya belum banyak memiliki lembaga pendidikan adat yang terstruktur. Selama ini ada pasraman untuk anak-anak sekolah, tetapi sifatnya musiman dan biasanya berlangsung saat libur panjang.

Kiprah desa ini, yang digerakkan oleh seorang intelektual melalui Pondok Literasi Sabih, kini tidak hanya bergerak pada kursus bahasa asing, melainkan juga mulai mendatangkan wisatawan dengan latar belakang akademik.

Semua itu terungkap dalam kegiatan Program “Desa Binaan” yang dirancang oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha. Tahun ini Desa Pedawa dipilih sebagai lokasi program dengan harapan besar agar kampus benar-benar berdampak pada kehidupan masyarakat. Program dimulai dari identifikasi potensi, kebutuhan, dan persoalan desa melalui kajian atas pemikiran tokoh-tokoh desa, termasuk Wayan Sadnyana, serta berbagai komunitas seperti Balawa, RPS, Kelompok Tani Getah Uyung, dan lainnya.

Dari situ terungkap berbagai keunggulan yang dapat dipelajari pihak kampus. Dosen dan mahasiswa dapat mengkaji fenomena menarik di Pedawa. Mahasiswa juga bisa menjadikannya bahan kajian dalam perkuliahan. Hal ini menunjukkan keterbukaan Fakultas Bahasa dan Seni terhadap dinamika masyarakat tanpa harus selalu berada di menara gading, sebagaimana sering ditekankan oleh Bapak Dekan Drs. I.G.D. Nurjaya, M.Pd.

Program Desa Binaan tahun 2026 diisi dengan berbagai kegiatan Tri Dharma: pengajaran oleh mahasiswa melalui kursus, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen bersama mahasiswa. Kegiatan ini memberikan warna baru sekaligus fokus baru bagi desa. Pedawa menjadi laboratorium pengetahuan yang dikaji dan dianalisis secara sistematis untuk membangun pemahaman baru yang kelak dapat menjadi sumbangan bagi desa-desa lain di Bali.

Peran riset yang dilakukan Universitas Pendidikan Ganesha, khususnya Fakultas Bahasa dan Seni, sungguh membanggakan. Para dosen turun langsung ke lapangan, bahkan menginap. Salah satunya melalui proyek mural yang dikerjakan I Wayan Sudiarta dari Prodi Pendidikan Seni Rupa. Dalam kawasan Desa Pedawa yang kaya ekosistem, kosmologi, kearifan leluhur, dan persoalan sosialnya, berbagai gagasan dan ketajaman analisis berkembang secara langsung di lapangan.

Ekoliterasi

Salah satu kegiatan yang dilakukan tim dosen dari Jurusan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah dalam Program Desa Binaan tahun ketiga 2026—setelah sebelumnya dilaksanakan di Desa Les pada tahun 2024 dan Desa Kalibukbuk pada tahun 2025—mengangkat tema atau klaster “identitas desa dan literasi”.

Program yang dipilih adalah pelatihan ekoliterasi. Peserta kegiatan ini adalah anggota Pondok Literasi Sabih. Anak-anak yang menjadi anggotanya sejak dini telah diperkenalkan pada kearifan ekologi yang menjadi warisan masyarakat Pedawa. Pengetahuan ini sangat penting.

Karena itu, materi yang disampaikan tidak diambil dari luar, melainkan dikembangkan berdasarkan hasil survei pada bulan April lalu. Dari situ disusun materi mengenai mata air, vegetasi, dan tumbuhan yang hidup di sekitar mata air di Desa Pedawa, yang akar dan batangnya berperan penting menyimpan air.

Di sini juga disampaikan pengetahuan mengenai gula aren yang menjadi merek lokal dan sudah sangat dikenal. Selain itu, berbagai topik tentang tumbuhan untuk keperluan upacara juga dibicarakan dalam kegiatan ekoliterasi yang berbasis lokal ini.

Namun demikian, wawasan umum mengenai literasi juga tetap diberikan kepada peserta untuk mengingatkan dan menguatkan kembali pengetahuan mereka. Literasi tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di keluarga dan di tengah masyarakat atau komunitas. Pondok Literasi Sabih menjadi salah satu contoh gerakan literasi masyarakat di Bali.

Dengan demikian, keberadaan Pondok Literasi Sabih tidak hanya penting bagi pelestarian budaya lokal dan budaya Bali Aga, tetapi juga menegaskan bahwa Desa Pedawa memiliki gerakan literasi berbasis masyarakat yang kuat dan bermakna.

Pengetahuan-pengetahuan yang dibagikan dalam focus group discussion ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih sesungguhnya berkaitan erat dengan ideologi lingkungan yang menjadi salah satu kearifan lokal terpenting di Desa Pedawa. Kearifan tersebut memang mulai tergerus, tetapi langkah antisipatif telah dilakukan dengan cepat melalui gerakan komunitas yang dipimpin Wayan Sadnyana.

Fenomena ini penting bagi Fakultas Bahasa dan Seni. Para dosen mendapat kesempatan memahami dinamika desa yang digerakkan oleh komunitas. Di dalam komunitas itulah berkembang pemikiran-pemikiran kritis, inovatif, dan berwawasan ke depan. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa PedawaLiterasiPondok Literasi Sabih PedawaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

Next Post

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co