ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara percakapan warga, lalu larut menjadi kenangan yang nyaris tak lagi didengar. Bunyi rombong Gula Gending adalah salah satunya. Selama puluhan tahun ia menjadi penanda ruang sosial masyarakat Lombok, tetapi justru karena kedekatannya, ia kerap luput dari perhatian.
Pertunjukan Gula Gending 2.0 yang dipentaskan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Jumat (12/6/2026) malam, menghadirkan upaya menarik untuk mengembalikan bunyi itu ke tengah-tengah khalayak Lombok. Pertunjukan tersebut diinisiasi dan diproduseri langsung oleh Yuga Anggana, musisi dari Bandung yang kini menetap di Lombok, dan disutradarai Taufik Mawardi―akademisi cum sutradara muda yang banyak mengangkat kesenian dan budaya lokal Lombok ke panggung teater modern.
Menurut Taufik, pilihan untuk mengangkat Gula Gending ke dalam format teater yang berkolaborasi dengan musik, tari, dan seni visual merupakan langkah yang tepat dalam upaya menghidupkan Warisan Budaya Takbenda.
Namun, tentu saja, pertunjukan ini tidak sekadar menghadirkan nostalgia terhadap sebuah warisan budaya takbenda semata. Lebih daripada itu, sutradara berusaha melakukan sesuatu yang lebih dalam, yakni usaha mengubah suara keseharian menjadi bahan renungan tentang identitas, perubahan sosial, dan nasib tradisi di tengah arus modernitas. Untuk itulah ia menjadi penting.

Gula Gending 2.0 berani mengangkat sesuatu yang tampak remeh menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang menarik. Sebagaimana diakui Taufik Mawardi, daya tarik proyek ini muncul dari kesederhanaan gagasan yang dibawa oleh Yuga Anggana sebagai penggagas.
“Ketika pertama kali mendengar gagasan Yuga, saya merasa ini menarik sekali. Kita berbicara tentang sesuatu yang sangat sederhana dan membudaya dalam kehidupan masyarakat. Bunyi rombong Gula Gending adalah hal yang selama ini kita dengar begitu saja. Namun ternyata di dalamnya ada sejarah, ada kehidupan sosial, ada identitas budaya yang bisa diolah menjadi seni pertunjukan,” terang Taufik.
Pernyataan tersebut sesungguhnya menjadi kunci pembacaan terhadap keseluruhan pertunjukan. Gula Gending 2.0 bekerja dengan asumsi bahwa kebudayaan tidak hanya tersimpan dalam artefak besar, bangunan monumental, atau kisah-kisah kepahlawanan. Kebudayaan juga bersembunyi dalam bunyi-bunyi kecil yang dianggap biasa. Dengan kata lain, pertunjukan ini mengajak penonton menyadari bahwa yang sehari-hari kadangkala lebih penting daripada yang spektakuler. Dalam konteks itu, Gula Gending 2.0 dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap kecenderungan zaman yang lebih menghargai hal-hal baru dibandingkan yang akrab.
Meruangkan Tradisi
Modernitas sering menciptakan hirarki budaya yang menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang usang, sementara teknologi dan inovasi dianggap lebih bernilai. Pertunjukan ini mencoba membalik logika tersebut dengan menunjukkan bahwa tradisi bukan benda mati yang disimpan dalam lemari museum, melainkan sesuatu yang cair (tidak statis) dan dapat terus bertransformasi.

Taufik menyebut bahwa tradisi perlu menemukan ruang baru agar dapat terus hidup. Dan ia mencontohkan bagaimana tradisi yang berasal dari Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur itu hadir di Kota Mataram dan disaksikan oleh penonton dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat. Baginya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sebuah tradisi lokal dapat memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas ketika diterjemahkan melalui bahasa seni pertunjukan.
“Ketika Gula Gending dipentaskan, ia menjadi lebih terbuka. Ia diruang-kan. Yang terlibat bukan hanya pelaku tradisinya, tetapi juga seniman dari berbagai bidang. Yang menonton bukan hanya masyarakat asal tradisi itu, tetapi juga orang-orang dari berbagai daerah, berbagai profesi, dan berbagai generasi,” katanya.
Pernyataan ini penting karena menyentuh persoalan mendasar dalam praktik pelestarian budaya. Selama ini, banyak upaya pelestarian berhenti pada dokumentasi dan pencatatan administratif. Tradisi diperlakukan sebagai benda yang harus diamankan dari kepunahan, tetapi jarang diberi kesempatan untuk berkembang. Gula Gending 2.0 menawarkan model berbeda: tradisi dipertahankan justru melalui perubahan.
Namun, sampai sejauh mana tradisi dapat diubah tanpa kehilangan dirinya? Pertunjukan ini tidak memberikan jawaban pasti, tetapi mencoba merundingkannya melalui bentuk artistik yang dipilih. Pengembangan instrumen rombong dari dua lubang bunyi menjadi lima lubang, misalnya, memperlihatkan usaha memperluas kemungkinan musikal tanpa memutus hubungan dengan bentuk asalnya.
“Kami berangkat dari bentuk aslinya yang memiliki dua lubang bunyi, lalu mengembangkannya menjadi lima lubang untuk membuka kemungkinan musikal yang lebih luas. Itu bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga bagian dari upaya membaca ulang tradisi tanpa menghilangkan akar budayanya,” Taufik menerangkan.
Artistik yang Sederhana
Dalam pertunjukan ini, sebagai sutradara, Taufik memilih pendekatan artistik yang sederhana―dan itu justru menjadi salah satu hal yang penting. Taufik tampaknya sadar bahwa tema besar tidak selalu membutuhkan panggung yang megah. Baginya, kesederhanaan justru membuat penonton lebih dekat dengan cerita. “Karena itu kami menggunakan banyak elemen yang sederhana, tetapi tetap memberi ruang bagi simbol-simbol yang bisa ditafsirkan lebih dalam.”
Benar. Kesederhanaan itu memungkinkan perhatian penonton tertuju pada tubuh para pemain, bunyi, dan relasi antartokoh. Dalam situasi ketika banyak pertunjukan berlomba menghadirkan efek visual yang spektakuler, pendekatan ini terasa segar. Ia mengingatkan bahwa teater pada dasarnya tetap bertumpu pada kemampuan menciptakan pengalaman manusiawi yang hidup di hadapan penonton.
Dan di atas panggung, pertunjukan bergerak dalam wilayah realisme yang cukup mudah dikenali penonton. Kehidupan masyarakat sehari-hari hadir melalui situasi-situasi yang dekat dengan pengalaman sosial masyarakat Lombok. Akan tetapi, lapisan realisme tersebut tidak berdiri sendirian. Di baliknya, sekali lagi, tersimpan sejumlah simbol yang berusaha memperluas tafsir.
Meski pertentangan antara tradisi dan modernitas menjadi tema yang terus berulang sepanjang pertunjukan; tetapi, konflik itu tidak tampil sebagai benturan hitam-putih antara masa lalu dan masa depan, melainkan sebagai negosiasi yang terus berlangsung. Tradisi tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya suci, begitu pula modernitas tidak sepenuhnya dianggap ancaman. Keduanya hadir sebagai kekuatan yang saling memengaruhi.
Sementara itu, kontras antara tokoh Salman dan Rawi membuka pembacaan lain mengenai stratifikasi sosial. Pertunjukan menunjukkan bahwa perubahan budaya tidak pernah berlangsung dalam ruang kosong; ia selalu terkait dengan relasi kuasa dan posisi ekonomi. Tradisi sering kali dirayakan sebagai milik bersama, tetapi akses terhadap perubahan dan manfaat kebudayaan tidak selalu dibagi secara merata.
Jembatan Antargenerasi
Namun, di balik keberhasilan itu, Taufik mengakui proses produksi menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Ya, pertunjukan ini melibatkan pemain dari berbagai kelompok usia dan latar belakang. Di dalam satu panggung terdapat anak-anak, generasi Z, milenial, hingga pemain dewasa yang memiliki pengalaman seni yang berbeda-beda.

“Cara berkomunikasi dengan mereka tentu berbeda. Karena itu saya harus mencari pendekatan yang berbeda pula agar seluruh proses tetap nyaman dan kondusif,” ujarnya. Menurut Taufik, membangun rasa saling percaya menjadi salah satu kunci utama selama masa latihan yang berlangsung berbulan-bulan.
Kehadiran anak-anak, generasi Z, milenial, hingga pemain dewasa ini menciptakan lanskap sosial yang mencerminkan kenyataan masyarakat itu sendiri. Proses kreatif yang melibatkan kelompok-kelompok berbeda ini bukan hanya persoalan teknis produksi, melainkan juga metafora mengenai bagaimana tradisi diwariskan dan dinegosiasikan lintas generasi. Barangkali karena itulah resonansi pertunjukan terasa cukup kuat di kalangan penonton.
Egi Gerhani, seorang videografer yang hadir malam itu, mengungkapkan kesannya: “Luar biasa keren. Saya rasa ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Lombok karena hampir semua orang akrab dengan Gula Gending. Tapi pertunjukan ini membuat kita melihatnya dari sudut yang berbeda.”
Lebih jauh lagi, ia mengaku terdorong untuk menerjemahkan cerita tersebut ke medium lain. “Saya jadi terpancing untuk membuat sesuatu yang lain dari cerita ini. Mungkin film, mungkin bentuk karya visual lainnya. Karena ternyata Gula Gending menyimpan begitu banyak cerita yang menarik untuk dieksplorasi,” tambahnya.
Reaksi semacam ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan tidak hanya diukur dari tepuk tangan yang diterimanya, tetapi juga dari kemampuannya memunculkan percakapan baru setelah lampu panggung padam.
Sampai di sini, sekali lagi, Gula Gending 2.0 bukan sekadar pertunjukan tentang seorang penjual gula rambut nenek atau tentang bunyi rombong yang mengiringinya. Ia adalah refleksi tentang cara masyarakat memandang warisan budayanya sendiri. Pertunjukan ini mengingatkan bahwa tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk yang agung dan sakral. Kadang-kadang ia bersembunyi dalam bunyi sederhana yang melintas di depan rumah, menunggu seseorang mendengarkannya kembali. Dan ketika bunyi itu akhirnya dipanggungkan, yang sesungguhnya dipertontonkan bukan hanya sebuah tradisi, melainkan hubungan manusia dengan ingatannya sendiri.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole





























