14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 19, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh kaum perempuan. Dalam dunia politik dan kekuasaan hak kaum perempuan sepertinya sengaja  dijauhkan dan termaginalkan, bahkan ada kesan diisolasi, diblokir atau dalam bahasa bijaknya  ‘dibatasi’ untuk tidak muncul sebagai pemenang sekaligus pemegang kekuasan (leader).

Pada catatan sejarah dunia pun lebih menunjukan bahwa kekuasaan didominasi kaum laki-laki dari mulai zaman kerajaan sampai pada zaman sistem pemerintahan demokrasi sekarang ini. Walau ada beberapa contoh kekecualian bahwa perempuan punya kemampuan untuk menempati kursi mahkota kekuasaan. Ratu Bilqis, Ratu Elizabeth, Margareth Teacher, misal.

Gerakan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak perempuan yang berfokus pada kesetaraan gender,  kebebasan berekspresi,  untuk mendapatkan  hak pendidikan serta melawan budaya pemaksaan (pingitan dan pernikahan paksa) di Indonesia mulai pijar dipelopori oleh seorang putri golongan bangsawan Jepara bernama R.A. Kartini yang kemudian dijadikan Pahlawan Nasional dengan dijuluki Ibu Emansipasi Wanita Indonesia.

Pemikiran-pemikiran progresif beliau didokumentasikan dalam surat-surat, yang kemudian dibukukan dalam buku berjudul  “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Pemikiran cemerlang beliau mencerminkan keinginan akan kebebasan, kemajuan, dan persamaan derajat. Relevansi di masa  kini emansipasi ini bertransformasi dari sekadar mendapatkan hak menjadi partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan bangsa dan pengambil keputusan.

Kini perempuan-perempuan Indonesia secara umum sudah merasakan hasil perjuangan Kartini, dan kini Kartini-Kartini Indonesia sudah mendapatkan pengakuan dan kedudukan yang setara dengan kaum laki-laki dalam hal kesetaraan gender. Sudah banyak Kartini Indonesia yang menduduki jabatan politik dan jabatan profesional serta jabatan akademik. Perempuan Indonesia sudah memiliki kualitas dan prestasi yang diakui secara internasional di berbagai bidang dan itu sangat membanggakan.

Namun, apakah secara kuantitatif perempuan Indonesia sudah mendapatkan kebebasan dan hak serta jaminan kehidupan yang layak sesuai dengan hak-hak yang tercantum di Piagam Hak Asasi Manusia ? Ini yang barangkali perlu dikaji dan digali secara komperhensif. Termasuk mengkaji kaum perempuan di daerah-daerah terpencil, terisolasi, daerah pedalaman dan kesukuan yang relatif masih bernuansa tradisional dan berkategori tertinggal peradabannya. Suku Baduy salah satunya.

Posisi, Peran dan Nasib Perempuan Baduy

Ketika kita membedah perempuan Baduy, maka harus dipahami terlebih dahulu bahwa ada 2 komunitas sekaligus kriteria, yaitu  perempuan Baduy Dalam dan Baduy Luar yang memiliki persamaan tapi lebih banyak perbedaannya. Situasi, kondisi dan posisi  perempuan Baduy Dalam hidupnya lebih terisolasi dari dunia luar karena berpegang teguh pada tatanan dan aturan adat yang sangat ketat.

Sebaliknya, perempuan Baduy Luar lebih memiliki kesempatan lebih besar dan luas untuk berinteraksi dengan dunia luar (modernisasi) karena hukum adatnya memberikan kelonggaran untuk melakukan prilaku tersebut. Mereka berkesempatan berkontribusi dan berkreasi secara penuh  sebagai pergerak laju ekonomi (berdagang/bisnis) namun tetap menjaga keseimbangan dengan tradisi dan fokus pada pelestrian budaya yang diwariskan secara turun temurun dengan segala konsekuensinya.

Walaupun tidak sama persis,  dalam kehidupan  adat dan ekonomi perempuan di suku Baduy memiliki peran yang krusial dan terhormat,  memegang peranan setara dengan kaum laki-laki, kecuali dalam hal politik dan kekuasaan. Perempuan Baduy memiliki peran sakral dan penting  dalam upacara  adat. Mereka dianggap  sebagai pengejawantahan Dewi Padi  Nyi Pohaci Sang Hyang Sri yang menghormati perempuan  sebagai  sumber kehidupan.

Hak-hak perempuan Baduy diakomodir  melalui  pembagian peran berdasarkan norma  pikukuh karuhun. Hak bagi perempuan Baduy berjalan beriringan dengan kewajiban mematuhi batasan dan hukum adat. Perempuan Baduy Dalam lebih bersifat patrun atau tunduk mengikuti aturan adat dan mereka begitu menikmati nasib keterisolasiannya.

Perempuan Baduy Luar memiliki kebebasan tetapi mereka harus berhadapan dengan tantangan dan risiko terjadinya pergeseran ke arah “Perempuan Modern Style Baduy”.  Secara umum perempuan Baduy Luar diberikan kebebasan dan jaminan yang sama seperti perempuan modern lainnya tetapi dengan batasan hukum adat yang mereka yakini.

Seperti Apa Bentuk Emansipasi Wanita di Suku Baduy?

Di atas sudah diuraikan secara umum, singkat, dan gamblang bagaimana posisi, peran dan nasib Kartini-Kartini Baduy sampai saat ini. Jaminan atas hak-hak perempuan Baduy alat ukurnya adalah hukum adat (bukan teori HAM), mereka adalah satu kesukuan yang kuat dan tegas dalam memegang teguh pikukuh karuhun-nya.

Secara umum di Suku Baduy peran laki-laki masih mendominasi di berbagi aspek kehidupan, tetapi tidak harus dipandang bahwa Baduy menganut total sistem patriaki atau “menomorduakan” kaum perempuan. Kehidupan mereka dipandu oleh hukum adat yang mereka sepakati dan diyakini kebenarannya sejak mereka lahir bahwa kaum perempuan ditempatkan sebagai kaum terhormat sesuai dengan peran dan fungsinya tetapi dibatasi dominasinya tidak seluas laki-laki dan itu sudah menjadi ketetapan hukum adat.

Oleh karenanya di Baduy tidak ada ceritanya gerakan menuntut kesetaraan hak bagi perempuan (feminisme). Hukum adat Baduy melarang kaum perempuan menduduki jabatan politik atau kekuasaan atau menjadi pemimpin. Hukum adat melarang warganya termasuk kaum perempuan menempuh pendidikan formal. Di Baduy Dalam perkawinan masih dijodohkan oleh tokoh adat, artinya kaum perempuan itu tidak diberikan kebebasan memilih calon suami. Di Baduy Luar sudah menggunakan dua alur; dijodohkan dan memilih sendiri. Itu doktrinasi yang sudah mereka sepakati.

Sistem sosial yang sudah baku di Suku Baduy di mana peran dan fungsi kaum Kartini Baduy sudah dipatok berdasarkan hukum adat yang berlaku dan itu sudah menjadi panduan hidup mereka berabad-abad lamanya, artinya ketika kita mengukur emansipasi wanita di Baduy harus dilihat dari kacamata Baduy itu sendiri. Di dalam Sistem pemerintahan adat Baduy tidak memiliki ruang atau perangkat untuk profesional, politik dan kekuasaan, mereka hanya menyediakan sistem pemerintahan untuk melakukan tugas kesukuan mereka yaitu menjaga dan melindungi keseimbangan alam bukan untuk memajukan sebuah negara.

Emansipasi yang menekankan tuntutan kesetaraan gender, pendidikan, kebebasan berpendapat tidak selaras dengan kondisi sosial dan kultur yang dimiliki Baduy. Satu yang nampak bahwa Kartini-Kartini Baduy sudah memiliki kontribusi dalam meningkatkan laju pergerakan ekonomi melalui karya tenunan dan kebebasan dalam menikmati digitalisasi. [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 15 Mei 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatpariwisata provinsi bantenProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

Next Post

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co