3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 19, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh kaum perempuan. Dalam dunia politik dan kekuasaan hak kaum perempuan sepertinya sengaja  dijauhkan dan termaginalkan, bahkan ada kesan diisolasi, diblokir atau dalam bahasa bijaknya  ‘dibatasi’ untuk tidak muncul sebagai pemenang sekaligus pemegang kekuasan (leader).

Pada catatan sejarah dunia pun lebih menunjukan bahwa kekuasaan didominasi kaum laki-laki dari mulai zaman kerajaan sampai pada zaman sistem pemerintahan demokrasi sekarang ini. Walau ada beberapa contoh kekecualian bahwa perempuan punya kemampuan untuk menempati kursi mahkota kekuasaan. Ratu Bilqis, Ratu Elizabeth, Margareth Teacher, misal.

Gerakan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak perempuan yang berfokus pada kesetaraan gender,  kebebasan berekspresi,  untuk mendapatkan  hak pendidikan serta melawan budaya pemaksaan (pingitan dan pernikahan paksa) di Indonesia mulai pijar dipelopori oleh seorang putri golongan bangsawan Jepara bernama R.A. Kartini yang kemudian dijadikan Pahlawan Nasional dengan dijuluki Ibu Emansipasi Wanita Indonesia.

Pemikiran-pemikiran progresif beliau didokumentasikan dalam surat-surat, yang kemudian dibukukan dalam buku berjudul  “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Pemikiran cemerlang beliau mencerminkan keinginan akan kebebasan, kemajuan, dan persamaan derajat. Relevansi di masa  kini emansipasi ini bertransformasi dari sekadar mendapatkan hak menjadi partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan bangsa dan pengambil keputusan.

Kini perempuan-perempuan Indonesia secara umum sudah merasakan hasil perjuangan Kartini, dan kini Kartini-Kartini Indonesia sudah mendapatkan pengakuan dan kedudukan yang setara dengan kaum laki-laki dalam hal kesetaraan gender. Sudah banyak Kartini Indonesia yang menduduki jabatan politik dan jabatan profesional serta jabatan akademik. Perempuan Indonesia sudah memiliki kualitas dan prestasi yang diakui secara internasional di berbagai bidang dan itu sangat membanggakan.

Namun, apakah secara kuantitatif perempuan Indonesia sudah mendapatkan kebebasan dan hak serta jaminan kehidupan yang layak sesuai dengan hak-hak yang tercantum di Piagam Hak Asasi Manusia ? Ini yang barangkali perlu dikaji dan digali secara komperhensif. Termasuk mengkaji kaum perempuan di daerah-daerah terpencil, terisolasi, daerah pedalaman dan kesukuan yang relatif masih bernuansa tradisional dan berkategori tertinggal peradabannya. Suku Baduy salah satunya.

Posisi, Peran dan Nasib Perempuan Baduy

Ketika kita membedah perempuan Baduy, maka harus dipahami terlebih dahulu bahwa ada 2 komunitas sekaligus kriteria, yaitu  perempuan Baduy Dalam dan Baduy Luar yang memiliki persamaan tapi lebih banyak perbedaannya. Situasi, kondisi dan posisi  perempuan Baduy Dalam hidupnya lebih terisolasi dari dunia luar karena berpegang teguh pada tatanan dan aturan adat yang sangat ketat.

Sebaliknya, perempuan Baduy Luar lebih memiliki kesempatan lebih besar dan luas untuk berinteraksi dengan dunia luar (modernisasi) karena hukum adatnya memberikan kelonggaran untuk melakukan prilaku tersebut. Mereka berkesempatan berkontribusi dan berkreasi secara penuh  sebagai pergerak laju ekonomi (berdagang/bisnis) namun tetap menjaga keseimbangan dengan tradisi dan fokus pada pelestrian budaya yang diwariskan secara turun temurun dengan segala konsekuensinya.

Walaupun tidak sama persis,  dalam kehidupan  adat dan ekonomi perempuan di suku Baduy memiliki peran yang krusial dan terhormat,  memegang peranan setara dengan kaum laki-laki, kecuali dalam hal politik dan kekuasaan. Perempuan Baduy memiliki peran sakral dan penting  dalam upacara  adat. Mereka dianggap  sebagai pengejawantahan Dewi Padi  Nyi Pohaci Sang Hyang Sri yang menghormati perempuan  sebagai  sumber kehidupan.

Hak-hak perempuan Baduy diakomodir  melalui  pembagian peran berdasarkan norma  pikukuh karuhun. Hak bagi perempuan Baduy berjalan beriringan dengan kewajiban mematuhi batasan dan hukum adat. Perempuan Baduy Dalam lebih bersifat patrun atau tunduk mengikuti aturan adat dan mereka begitu menikmati nasib keterisolasiannya.

Perempuan Baduy Luar memiliki kebebasan tetapi mereka harus berhadapan dengan tantangan dan risiko terjadinya pergeseran ke arah “Perempuan Modern Style Baduy”.  Secara umum perempuan Baduy Luar diberikan kebebasan dan jaminan yang sama seperti perempuan modern lainnya tetapi dengan batasan hukum adat yang mereka yakini.

Seperti Apa Bentuk Emansipasi Wanita di Suku Baduy?

Di atas sudah diuraikan secara umum, singkat, dan gamblang bagaimana posisi, peran dan nasib Kartini-Kartini Baduy sampai saat ini. Jaminan atas hak-hak perempuan Baduy alat ukurnya adalah hukum adat (bukan teori HAM), mereka adalah satu kesukuan yang kuat dan tegas dalam memegang teguh pikukuh karuhun-nya.

Secara umum di Suku Baduy peran laki-laki masih mendominasi di berbagi aspek kehidupan, tetapi tidak harus dipandang bahwa Baduy menganut total sistem patriaki atau “menomorduakan” kaum perempuan. Kehidupan mereka dipandu oleh hukum adat yang mereka sepakati dan diyakini kebenarannya sejak mereka lahir bahwa kaum perempuan ditempatkan sebagai kaum terhormat sesuai dengan peran dan fungsinya tetapi dibatasi dominasinya tidak seluas laki-laki dan itu sudah menjadi ketetapan hukum adat.

Oleh karenanya di Baduy tidak ada ceritanya gerakan menuntut kesetaraan hak bagi perempuan (feminisme). Hukum adat Baduy melarang kaum perempuan menduduki jabatan politik atau kekuasaan atau menjadi pemimpin. Hukum adat melarang warganya termasuk kaum perempuan menempuh pendidikan formal. Di Baduy Dalam perkawinan masih dijodohkan oleh tokoh adat, artinya kaum perempuan itu tidak diberikan kebebasan memilih calon suami. Di Baduy Luar sudah menggunakan dua alur; dijodohkan dan memilih sendiri. Itu doktrinasi yang sudah mereka sepakati.

Sistem sosial yang sudah baku di Suku Baduy di mana peran dan fungsi kaum Kartini Baduy sudah dipatok berdasarkan hukum adat yang berlaku dan itu sudah menjadi panduan hidup mereka berabad-abad lamanya, artinya ketika kita mengukur emansipasi wanita di Baduy harus dilihat dari kacamata Baduy itu sendiri. Di dalam Sistem pemerintahan adat Baduy tidak memiliki ruang atau perangkat untuk profesional, politik dan kekuasaan, mereka hanya menyediakan sistem pemerintahan untuk melakukan tugas kesukuan mereka yaitu menjaga dan melindungi keseimbangan alam bukan untuk memajukan sebuah negara.

Emansipasi yang menekankan tuntutan kesetaraan gender, pendidikan, kebebasan berpendapat tidak selaras dengan kondisi sosial dan kultur yang dimiliki Baduy. Satu yang nampak bahwa Kartini-Kartini Baduy sudah memiliki kontribusi dalam meningkatkan laju pergerakan ekonomi melalui karya tenunan dan kebebasan dalam menikmati digitalisasi. [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 15 Mei 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatpariwisata provinsi bantenProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

Next Post

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co