3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 14, 2026
in Esai
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Arthur Eddington | Wikipedia

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern

Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan. Kalimat seperti “secara ilmiah sudah terbukti” kerap dipakai bukan hanya untuk menjelaskan fakta, tetapi juga untuk menutup ruang diskusi. Ada semacam aura finalitas yang melekat pada kata “ilmiah”, seolah-olah di luar itu hanyalah opini, spekulasi, atau bahkan ilusi.

Namun Arthur Eddington justru mengingatkan hal yang lebih subtil dalam The Philosophy of Physical Science, bahwa sains sendiri memiliki batas epistemologis yang tidak bisa dihindari. Ia tidak berdiri di luar manusia, tetapi lahir dari cara manusia mengamati, mengukur, dan menafsirkan dunia.

Dalam pengamatan Eddington, apa yang kita sebut “fakta ilmiah” selalu sudah melalui tiga lapisan: alat ukur, teori interpretasi, kesadaran pengamat. Dengan kata lain, sains bukan cermin langsung realitas, melainkan model yang dibentuk oleh interaksi antara dunia dan pikiran manusia. Artinya, mengacu pada konsep Pancamaya Kosha, sains baru menyentuh tataran Manomaya Kosha, yang dimaknai Guruji Anand Krishna sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya yakni memori, obsesi, persepsi dan sebagainya.

Di titik ini, muncul persoalan yang relevan dengan pengalaman sehari-hari: ketika sebagian akademisi atau “oknum saintis” berbicara seolah sains adalah kebenaran absolut, mereka sebenarnya sedang melampaui batas sains itu sendiri. Mereka tidak lagi melakukan sains, tetapi mengideologikan sains.

Padahal dalam pandangan Eddington, justru sebaliknya: semakin dalam kita masuk ke fisika modern (terutama relativitas dan kuantum), semakin kita sadar bahwa kepastian absolut itu menyusut. Yang tersisa adalah probabilitas, model, dan interpretasi.

Maka ketika sains diperlakukan sebagai satu-satunya jalan kebenaran, yang terjadi bukan kemajuan epistemik, tetapi penyempitan cara melihat dunia. Ini yang bisa disebut sebagai kesombongan epistemik, keyakinan bahwa satu metode sudah cukup untuk menjelaskan seluruh realitas.

Kritik Eddington: Sains Tidak Bisa Dipisahkan dari Filsafat dan Cara Kita Mengetahui

Eddington tidak pernah memisahkan sains dari refleksi filosofis. Justru ia melihat bahwa semakin fundamental sebuah pertanyaan fisika, semakin ia berubah menjadi pertanyaan tentang cara kita mengetahui. Salah satu kontribusi pentingnya adalah gagasan bahwa yang kita ukur dalam fisika bukan “benda itu sendiri”, tetapi hubungan antara pengukuran. Ini berarti bahwa “realitas fisik” dalam sains modern adalah konstruksi relasional, bukan objek independen yang sepenuhnya terpisah dari pengamat.

Pandangan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat perkembangan fisika modern, dimana dalam mekanika kuantum, hasil pengukuran mempengaruhi sistem, sedangkan dalam kosmologi, model alam semesta bergantung pada kerangka matematis. Dalam teori informasi, realitas sering dipahami sebagai struktur data. Semua ini menunjukkan bahwa sains tidak pernah berdiri sendiri sebagai entitas murni empiris. Ia selalu membawa asumsi filosofis di dalamnya.

Namun dalam praktik sosial, hal ini sering dilupakan. Ada kecenderungan untuk menganggap data sebagai “kebenaran mentah”, mengabaikan peran interpretasi, mereduksi realitas hanya pada apa yang bisa diukur. Di sinilah Eddington menjadi penting, ia mengingatkan bahwa pengukuran tidak pernah netral, dan teori selalu mendahului cara kita membaca data.

Dengan kata lain, sains tanpa filsafat akan menjadi teknis tetapi buta terhadap asumsi dasarnya sendiri. Ia bisa sangat akurat secara matematis, tetapi kehilangan kesadaran tentang apa arti “akurasi” itu sendiri. Di titik ini, kritik terhadap “pendewaan saintis” menjadi relevan bukan sebagai penolakan terhadap sains, tetapi sebagai pengingat bahwa sains yang melupakan refleksi filosofis akan mudah berubah menjadi dogma baru. Eddington tidak menolak sains, ia justru memperdalamnya dengan menunjukkan bahwa setiap fakta ilmiah selalu sudah “diterjemahkan” oleh kerangka berpikir manusia.

Menuju Pandangan Holistik: Sains, Filsafat, dan Spiritualitas sebagai Satu Kesadaran Pengetahuan

Salah satu implikasi paling menarik dari pemikiran Eddington adalah kemungkinan untuk melihat pengetahuan secara lebih holistik, bukan terfragmentasi. Jika sains adalah cara kita mengukur dunia, dan filsafat adalah cara kita mempertanyakan cara kita mengukur, maka spiritualitas (dalam arti luas) adalah cara kita mempertanyakan siapa yang mengukur.

Dalam kerangka ini, tiga domain tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sains mengamati pola dunia. Filsafat menguji asumsi pengamatan. Spiritualitas menyelidiki kesadaran pengamat.

Eddington sendiri tidak berbicara dalam istilah spiritualitas modern, tetapi ia membuka ruangnya ketika ia menyatakan bahwa realitas fisik tidak bisa dipisahkan dari struktur pengetahuan kita tentang realitas itu. Artinya, dunia yang kita alami bukan hanya “di luar sana”, tetapi juga “di dalam cara kita menyadarinya”.

Pandangan ini menjadi sangat relevan dalam konteks modern, di mana sering terjadi fragmentasi, dimana sains dianggap lawan agama, spiritualitas dianggap anti-intelektual dan filsafat dianggap tidak praktis. Padahal, jika mengikuti intuisi Eddington, fragmentasi ini justru mengurangi kedalaman pemahaman kita tentang realitas.

Pendekatan holistik tidak berarti mencampuradukkan semua hal tanpa batas, tetapi memahami bahwa setiap pendekatan menangkap aspek berbeda dari realitas yang sama, dan tidak ada satu metode yang bisa mencakup keseluruhan. Dengan demikian, klaim bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran menjadi tidak hanya sempit, tetapi juga tidak sesuai dengan cara kerja sains modern itu sendiri.

Karena sains yang paling maju hari ini justru semakin sadar akan batasnya, dimana dalam kuantum, pengamat tidak bisa dihilangkan, dalam kosmologi, model selalu bersifat sementara, dan dalam fisika teoretis, matematika sering mendahului intuisi empiris. Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang halus namun dalam, bahwa realitas tidak pernah sepenuhnya dipisahkan dari cara kita memahaminya

Sains yang Dewasa adalah Sains yang Sadar Batasnya

Jika dibaca secara reflektif, Eddington sebenarnya tidak sedang “melemahkan sains”, tetapi mendewasakan sains. Sains yang dewasa bukan sains yang merasa paling benar, tetapi sains yang sadar bahwa ia bekerja dengan model, bukan realitas langsung, bergantung pada bahasa, matematika, dan alat ukur, serta selalu terbuka untuk revisi.

Dalam kesadaran seperti itu, tidak ada ruang bagi kesombongan epistemik. Yang ada justru ruang dialog antara sains yang mengukur, filsafat yang menguji dan kesadaran yang memahami. Maka pandangan holistik bukanlah romantisme, tetapi konsekuensi logis dari sains modern itu sendiri.

Eddington, tanpa menyatakannya secara eksplisit dalam bahasa spiritual, telah membuka pintu bahwa realitas lebih dalam daripada sekadar apa yang bisa diukur—dan bahwa memahami dunia selalu sekaligus berarti memahami cara kita memahami dunia itu sendiri.

Pada akhirnya, pandangan Eddington selaras dengan pandangan Patanjali dalam Yoga Sutra I.7: pratyakṣa-anumāna-āgamāḥ pramāṇāni. Dalam buku Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Guruji Anand Krishna mengatakan bahwa ada tiga landasan, tiga dasar atau tiga sumber bagi  pramāṇa  atau pengetahuan yang benar. Kata pramāṇa juga digunakan untuk  “bukti”- berarti pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya. Pertama, landasan  pratyakṣa, hasil pengetahuan dan/atau pengalaman pribadi adalah sesuatu yang ada di depan mata. Kedua, landasan anumāna, hasil asumsi, yang tentu berdasarkan akal sehat dan pertimbangan yang tepat. Ketiga, landasan āgamah, atau pernyataan yang jujur para bijak, yang dapat dipertanggungjawabkan. [T]

Tags: Arthur Eddingtonsains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Next Post

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co