25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 14, 2026
in Esai
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Arthur Eddington | Wikipedia

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern

Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan. Kalimat seperti “secara ilmiah sudah terbukti” kerap dipakai bukan hanya untuk menjelaskan fakta, tetapi juga untuk menutup ruang diskusi. Ada semacam aura finalitas yang melekat pada kata “ilmiah”, seolah-olah di luar itu hanyalah opini, spekulasi, atau bahkan ilusi.

Namun Arthur Eddington justru mengingatkan hal yang lebih subtil dalam The Philosophy of Physical Science, bahwa sains sendiri memiliki batas epistemologis yang tidak bisa dihindari. Ia tidak berdiri di luar manusia, tetapi lahir dari cara manusia mengamati, mengukur, dan menafsirkan dunia.

Dalam pengamatan Eddington, apa yang kita sebut “fakta ilmiah” selalu sudah melalui tiga lapisan: alat ukur, teori interpretasi, kesadaran pengamat. Dengan kata lain, sains bukan cermin langsung realitas, melainkan model yang dibentuk oleh interaksi antara dunia dan pikiran manusia. Artinya, mengacu pada konsep Pancamaya Kosha, sains baru menyentuh tataran Manomaya Kosha, yang dimaknai Guruji Anand Krishna sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya yakni memori, obsesi, persepsi dan sebagainya.

Di titik ini, muncul persoalan yang relevan dengan pengalaman sehari-hari: ketika sebagian akademisi atau “oknum saintis” berbicara seolah sains adalah kebenaran absolut, mereka sebenarnya sedang melampaui batas sains itu sendiri. Mereka tidak lagi melakukan sains, tetapi mengideologikan sains.

Padahal dalam pandangan Eddington, justru sebaliknya: semakin dalam kita masuk ke fisika modern (terutama relativitas dan kuantum), semakin kita sadar bahwa kepastian absolut itu menyusut. Yang tersisa adalah probabilitas, model, dan interpretasi.

Maka ketika sains diperlakukan sebagai satu-satunya jalan kebenaran, yang terjadi bukan kemajuan epistemik, tetapi penyempitan cara melihat dunia. Ini yang bisa disebut sebagai kesombongan epistemik, keyakinan bahwa satu metode sudah cukup untuk menjelaskan seluruh realitas.

Kritik Eddington: Sains Tidak Bisa Dipisahkan dari Filsafat dan Cara Kita Mengetahui

Eddington tidak pernah memisahkan sains dari refleksi filosofis. Justru ia melihat bahwa semakin fundamental sebuah pertanyaan fisika, semakin ia berubah menjadi pertanyaan tentang cara kita mengetahui. Salah satu kontribusi pentingnya adalah gagasan bahwa yang kita ukur dalam fisika bukan “benda itu sendiri”, tetapi hubungan antara pengukuran. Ini berarti bahwa “realitas fisik” dalam sains modern adalah konstruksi relasional, bukan objek independen yang sepenuhnya terpisah dari pengamat.

Pandangan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat perkembangan fisika modern, dimana dalam mekanika kuantum, hasil pengukuran mempengaruhi sistem, sedangkan dalam kosmologi, model alam semesta bergantung pada kerangka matematis. Dalam teori informasi, realitas sering dipahami sebagai struktur data. Semua ini menunjukkan bahwa sains tidak pernah berdiri sendiri sebagai entitas murni empiris. Ia selalu membawa asumsi filosofis di dalamnya.

Namun dalam praktik sosial, hal ini sering dilupakan. Ada kecenderungan untuk menganggap data sebagai “kebenaran mentah”, mengabaikan peran interpretasi, mereduksi realitas hanya pada apa yang bisa diukur. Di sinilah Eddington menjadi penting, ia mengingatkan bahwa pengukuran tidak pernah netral, dan teori selalu mendahului cara kita membaca data.

Dengan kata lain, sains tanpa filsafat akan menjadi teknis tetapi buta terhadap asumsi dasarnya sendiri. Ia bisa sangat akurat secara matematis, tetapi kehilangan kesadaran tentang apa arti “akurasi” itu sendiri. Di titik ini, kritik terhadap “pendewaan saintis” menjadi relevan bukan sebagai penolakan terhadap sains, tetapi sebagai pengingat bahwa sains yang melupakan refleksi filosofis akan mudah berubah menjadi dogma baru. Eddington tidak menolak sains, ia justru memperdalamnya dengan menunjukkan bahwa setiap fakta ilmiah selalu sudah “diterjemahkan” oleh kerangka berpikir manusia.

Menuju Pandangan Holistik: Sains, Filsafat, dan Spiritualitas sebagai Satu Kesadaran Pengetahuan

Salah satu implikasi paling menarik dari pemikiran Eddington adalah kemungkinan untuk melihat pengetahuan secara lebih holistik, bukan terfragmentasi. Jika sains adalah cara kita mengukur dunia, dan filsafat adalah cara kita mempertanyakan cara kita mengukur, maka spiritualitas (dalam arti luas) adalah cara kita mempertanyakan siapa yang mengukur.

Dalam kerangka ini, tiga domain tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sains mengamati pola dunia. Filsafat menguji asumsi pengamatan. Spiritualitas menyelidiki kesadaran pengamat.

Eddington sendiri tidak berbicara dalam istilah spiritualitas modern, tetapi ia membuka ruangnya ketika ia menyatakan bahwa realitas fisik tidak bisa dipisahkan dari struktur pengetahuan kita tentang realitas itu. Artinya, dunia yang kita alami bukan hanya “di luar sana”, tetapi juga “di dalam cara kita menyadarinya”.

Pandangan ini menjadi sangat relevan dalam konteks modern, di mana sering terjadi fragmentasi, dimana sains dianggap lawan agama, spiritualitas dianggap anti-intelektual dan filsafat dianggap tidak praktis. Padahal, jika mengikuti intuisi Eddington, fragmentasi ini justru mengurangi kedalaman pemahaman kita tentang realitas.

Pendekatan holistik tidak berarti mencampuradukkan semua hal tanpa batas, tetapi memahami bahwa setiap pendekatan menangkap aspek berbeda dari realitas yang sama, dan tidak ada satu metode yang bisa mencakup keseluruhan. Dengan demikian, klaim bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran menjadi tidak hanya sempit, tetapi juga tidak sesuai dengan cara kerja sains modern itu sendiri.

Karena sains yang paling maju hari ini justru semakin sadar akan batasnya, dimana dalam kuantum, pengamat tidak bisa dihilangkan, dalam kosmologi, model selalu bersifat sementara, dan dalam fisika teoretis, matematika sering mendahului intuisi empiris. Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang halus namun dalam, bahwa realitas tidak pernah sepenuhnya dipisahkan dari cara kita memahaminya

Sains yang Dewasa adalah Sains yang Sadar Batasnya

Jika dibaca secara reflektif, Eddington sebenarnya tidak sedang “melemahkan sains”, tetapi mendewasakan sains. Sains yang dewasa bukan sains yang merasa paling benar, tetapi sains yang sadar bahwa ia bekerja dengan model, bukan realitas langsung, bergantung pada bahasa, matematika, dan alat ukur, serta selalu terbuka untuk revisi.

Dalam kesadaran seperti itu, tidak ada ruang bagi kesombongan epistemik. Yang ada justru ruang dialog antara sains yang mengukur, filsafat yang menguji dan kesadaran yang memahami. Maka pandangan holistik bukanlah romantisme, tetapi konsekuensi logis dari sains modern itu sendiri.

Eddington, tanpa menyatakannya secara eksplisit dalam bahasa spiritual, telah membuka pintu bahwa realitas lebih dalam daripada sekadar apa yang bisa diukur—dan bahwa memahami dunia selalu sekaligus berarti memahami cara kita memahami dunia itu sendiri.

Pada akhirnya, pandangan Eddington selaras dengan pandangan Patanjali dalam Yoga Sutra I.7: pratyakṣa-anumāna-āgamāḥ pramāṇāni. Dalam buku Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Guruji Anand Krishna mengatakan bahwa ada tiga landasan, tiga dasar atau tiga sumber bagi  pramāṇa  atau pengetahuan yang benar. Kata pramāṇa juga digunakan untuk  “bukti”- berarti pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya. Pertama, landasan  pratyakṣa, hasil pengetahuan dan/atau pengalaman pribadi adalah sesuatu yang ada di depan mata. Kedua, landasan anumāna, hasil asumsi, yang tentu berdasarkan akal sehat dan pertimbangan yang tepat. Ketiga, landasan āgamah, atau pernyataan yang jujur para bijak, yang dapat dipertanggungjawabkan. [T]

Tags: Arthur Eddingtonsains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Next Post

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co