3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 14, 2026
in Esai
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Arthur Eddington | Wikipedia

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern

Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan. Kalimat seperti “secara ilmiah sudah terbukti” kerap dipakai bukan hanya untuk menjelaskan fakta, tetapi juga untuk menutup ruang diskusi. Ada semacam aura finalitas yang melekat pada kata “ilmiah”, seolah-olah di luar itu hanyalah opini, spekulasi, atau bahkan ilusi.

Namun Arthur Eddington justru mengingatkan hal yang lebih subtil dalam The Philosophy of Physical Science, bahwa sains sendiri memiliki batas epistemologis yang tidak bisa dihindari. Ia tidak berdiri di luar manusia, tetapi lahir dari cara manusia mengamati, mengukur, dan menafsirkan dunia.

Dalam pengamatan Eddington, apa yang kita sebut “fakta ilmiah” selalu sudah melalui tiga lapisan: alat ukur, teori interpretasi, kesadaran pengamat. Dengan kata lain, sains bukan cermin langsung realitas, melainkan model yang dibentuk oleh interaksi antara dunia dan pikiran manusia. Artinya, mengacu pada konsep Pancamaya Kosha, sains baru menyentuh tataran Manomaya Kosha, yang dimaknai Guruji Anand Krishna sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya yakni memori, obsesi, persepsi dan sebagainya.

Di titik ini, muncul persoalan yang relevan dengan pengalaman sehari-hari: ketika sebagian akademisi atau “oknum saintis” berbicara seolah sains adalah kebenaran absolut, mereka sebenarnya sedang melampaui batas sains itu sendiri. Mereka tidak lagi melakukan sains, tetapi mengideologikan sains.

Padahal dalam pandangan Eddington, justru sebaliknya: semakin dalam kita masuk ke fisika modern (terutama relativitas dan kuantum), semakin kita sadar bahwa kepastian absolut itu menyusut. Yang tersisa adalah probabilitas, model, dan interpretasi.

Maka ketika sains diperlakukan sebagai satu-satunya jalan kebenaran, yang terjadi bukan kemajuan epistemik, tetapi penyempitan cara melihat dunia. Ini yang bisa disebut sebagai kesombongan epistemik, keyakinan bahwa satu metode sudah cukup untuk menjelaskan seluruh realitas.

Kritik Eddington: Sains Tidak Bisa Dipisahkan dari Filsafat dan Cara Kita Mengetahui

Eddington tidak pernah memisahkan sains dari refleksi filosofis. Justru ia melihat bahwa semakin fundamental sebuah pertanyaan fisika, semakin ia berubah menjadi pertanyaan tentang cara kita mengetahui. Salah satu kontribusi pentingnya adalah gagasan bahwa yang kita ukur dalam fisika bukan “benda itu sendiri”, tetapi hubungan antara pengukuran. Ini berarti bahwa “realitas fisik” dalam sains modern adalah konstruksi relasional, bukan objek independen yang sepenuhnya terpisah dari pengamat.

Pandangan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat perkembangan fisika modern, dimana dalam mekanika kuantum, hasil pengukuran mempengaruhi sistem, sedangkan dalam kosmologi, model alam semesta bergantung pada kerangka matematis. Dalam teori informasi, realitas sering dipahami sebagai struktur data. Semua ini menunjukkan bahwa sains tidak pernah berdiri sendiri sebagai entitas murni empiris. Ia selalu membawa asumsi filosofis di dalamnya.

Namun dalam praktik sosial, hal ini sering dilupakan. Ada kecenderungan untuk menganggap data sebagai “kebenaran mentah”, mengabaikan peran interpretasi, mereduksi realitas hanya pada apa yang bisa diukur. Di sinilah Eddington menjadi penting, ia mengingatkan bahwa pengukuran tidak pernah netral, dan teori selalu mendahului cara kita membaca data.

Dengan kata lain, sains tanpa filsafat akan menjadi teknis tetapi buta terhadap asumsi dasarnya sendiri. Ia bisa sangat akurat secara matematis, tetapi kehilangan kesadaran tentang apa arti “akurasi” itu sendiri. Di titik ini, kritik terhadap “pendewaan saintis” menjadi relevan bukan sebagai penolakan terhadap sains, tetapi sebagai pengingat bahwa sains yang melupakan refleksi filosofis akan mudah berubah menjadi dogma baru. Eddington tidak menolak sains, ia justru memperdalamnya dengan menunjukkan bahwa setiap fakta ilmiah selalu sudah “diterjemahkan” oleh kerangka berpikir manusia.

Menuju Pandangan Holistik: Sains, Filsafat, dan Spiritualitas sebagai Satu Kesadaran Pengetahuan

Salah satu implikasi paling menarik dari pemikiran Eddington adalah kemungkinan untuk melihat pengetahuan secara lebih holistik, bukan terfragmentasi. Jika sains adalah cara kita mengukur dunia, dan filsafat adalah cara kita mempertanyakan cara kita mengukur, maka spiritualitas (dalam arti luas) adalah cara kita mempertanyakan siapa yang mengukur.

Dalam kerangka ini, tiga domain tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sains mengamati pola dunia. Filsafat menguji asumsi pengamatan. Spiritualitas menyelidiki kesadaran pengamat.

Eddington sendiri tidak berbicara dalam istilah spiritualitas modern, tetapi ia membuka ruangnya ketika ia menyatakan bahwa realitas fisik tidak bisa dipisahkan dari struktur pengetahuan kita tentang realitas itu. Artinya, dunia yang kita alami bukan hanya “di luar sana”, tetapi juga “di dalam cara kita menyadarinya”.

Pandangan ini menjadi sangat relevan dalam konteks modern, di mana sering terjadi fragmentasi, dimana sains dianggap lawan agama, spiritualitas dianggap anti-intelektual dan filsafat dianggap tidak praktis. Padahal, jika mengikuti intuisi Eddington, fragmentasi ini justru mengurangi kedalaman pemahaman kita tentang realitas.

Pendekatan holistik tidak berarti mencampuradukkan semua hal tanpa batas, tetapi memahami bahwa setiap pendekatan menangkap aspek berbeda dari realitas yang sama, dan tidak ada satu metode yang bisa mencakup keseluruhan. Dengan demikian, klaim bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran menjadi tidak hanya sempit, tetapi juga tidak sesuai dengan cara kerja sains modern itu sendiri.

Karena sains yang paling maju hari ini justru semakin sadar akan batasnya, dimana dalam kuantum, pengamat tidak bisa dihilangkan, dalam kosmologi, model selalu bersifat sementara, dan dalam fisika teoretis, matematika sering mendahului intuisi empiris. Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang halus namun dalam, bahwa realitas tidak pernah sepenuhnya dipisahkan dari cara kita memahaminya

Sains yang Dewasa adalah Sains yang Sadar Batasnya

Jika dibaca secara reflektif, Eddington sebenarnya tidak sedang “melemahkan sains”, tetapi mendewasakan sains. Sains yang dewasa bukan sains yang merasa paling benar, tetapi sains yang sadar bahwa ia bekerja dengan model, bukan realitas langsung, bergantung pada bahasa, matematika, dan alat ukur, serta selalu terbuka untuk revisi.

Dalam kesadaran seperti itu, tidak ada ruang bagi kesombongan epistemik. Yang ada justru ruang dialog antara sains yang mengukur, filsafat yang menguji dan kesadaran yang memahami. Maka pandangan holistik bukanlah romantisme, tetapi konsekuensi logis dari sains modern itu sendiri.

Eddington, tanpa menyatakannya secara eksplisit dalam bahasa spiritual, telah membuka pintu bahwa realitas lebih dalam daripada sekadar apa yang bisa diukur—dan bahwa memahami dunia selalu sekaligus berarti memahami cara kita memahami dunia itu sendiri.

Pada akhirnya, pandangan Eddington selaras dengan pandangan Patanjali dalam Yoga Sutra I.7: pratyakṣa-anumāna-āgamāḥ pramāṇāni. Dalam buku Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Guruji Anand Krishna mengatakan bahwa ada tiga landasan, tiga dasar atau tiga sumber bagi  pramāṇa  atau pengetahuan yang benar. Kata pramāṇa juga digunakan untuk  “bukti”- berarti pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya. Pertama, landasan  pratyakṣa, hasil pengetahuan dan/atau pengalaman pribadi adalah sesuatu yang ada di depan mata. Kedua, landasan anumāna, hasil asumsi, yang tentu berdasarkan akal sehat dan pertimbangan yang tepat. Ketiga, landasan āgamah, atau pernyataan yang jujur para bijak, yang dapat dipertanggungjawabkan. [T]

Tags: Arthur Eddingtonsains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Next Post

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co