3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 14, 2026
in Esai
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Arthur Eddington | Wikipedia

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern

Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan. Kalimat seperti “secara ilmiah sudah terbukti” kerap dipakai bukan hanya untuk menjelaskan fakta, tetapi juga untuk menutup ruang diskusi. Ada semacam aura finalitas yang melekat pada kata “ilmiah”, seolah-olah di luar itu hanyalah opini, spekulasi, atau bahkan ilusi.

Namun Arthur Eddington justru mengingatkan hal yang lebih subtil dalam The Philosophy of Physical Science, bahwa sains sendiri memiliki batas epistemologis yang tidak bisa dihindari. Ia tidak berdiri di luar manusia, tetapi lahir dari cara manusia mengamati, mengukur, dan menafsirkan dunia.

Dalam pengamatan Eddington, apa yang kita sebut “fakta ilmiah” selalu sudah melalui tiga lapisan: alat ukur, teori interpretasi, kesadaran pengamat. Dengan kata lain, sains bukan cermin langsung realitas, melainkan model yang dibentuk oleh interaksi antara dunia dan pikiran manusia. Artinya, mengacu pada konsep Pancamaya Kosha, sains baru menyentuh tataran Manomaya Kosha, yang dimaknai Guruji Anand Krishna sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya yakni memori, obsesi, persepsi dan sebagainya.

Di titik ini, muncul persoalan yang relevan dengan pengalaman sehari-hari: ketika sebagian akademisi atau “oknum saintis” berbicara seolah sains adalah kebenaran absolut, mereka sebenarnya sedang melampaui batas sains itu sendiri. Mereka tidak lagi melakukan sains, tetapi mengideologikan sains.

Padahal dalam pandangan Eddington, justru sebaliknya: semakin dalam kita masuk ke fisika modern (terutama relativitas dan kuantum), semakin kita sadar bahwa kepastian absolut itu menyusut. Yang tersisa adalah probabilitas, model, dan interpretasi.

Maka ketika sains diperlakukan sebagai satu-satunya jalan kebenaran, yang terjadi bukan kemajuan epistemik, tetapi penyempitan cara melihat dunia. Ini yang bisa disebut sebagai kesombongan epistemik, keyakinan bahwa satu metode sudah cukup untuk menjelaskan seluruh realitas.

Kritik Eddington: Sains Tidak Bisa Dipisahkan dari Filsafat dan Cara Kita Mengetahui

Eddington tidak pernah memisahkan sains dari refleksi filosofis. Justru ia melihat bahwa semakin fundamental sebuah pertanyaan fisika, semakin ia berubah menjadi pertanyaan tentang cara kita mengetahui. Salah satu kontribusi pentingnya adalah gagasan bahwa yang kita ukur dalam fisika bukan “benda itu sendiri”, tetapi hubungan antara pengukuran. Ini berarti bahwa “realitas fisik” dalam sains modern adalah konstruksi relasional, bukan objek independen yang sepenuhnya terpisah dari pengamat.

Pandangan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat perkembangan fisika modern, dimana dalam mekanika kuantum, hasil pengukuran mempengaruhi sistem, sedangkan dalam kosmologi, model alam semesta bergantung pada kerangka matematis. Dalam teori informasi, realitas sering dipahami sebagai struktur data. Semua ini menunjukkan bahwa sains tidak pernah berdiri sendiri sebagai entitas murni empiris. Ia selalu membawa asumsi filosofis di dalamnya.

Namun dalam praktik sosial, hal ini sering dilupakan. Ada kecenderungan untuk menganggap data sebagai “kebenaran mentah”, mengabaikan peran interpretasi, mereduksi realitas hanya pada apa yang bisa diukur. Di sinilah Eddington menjadi penting, ia mengingatkan bahwa pengukuran tidak pernah netral, dan teori selalu mendahului cara kita membaca data.

Dengan kata lain, sains tanpa filsafat akan menjadi teknis tetapi buta terhadap asumsi dasarnya sendiri. Ia bisa sangat akurat secara matematis, tetapi kehilangan kesadaran tentang apa arti “akurasi” itu sendiri. Di titik ini, kritik terhadap “pendewaan saintis” menjadi relevan bukan sebagai penolakan terhadap sains, tetapi sebagai pengingat bahwa sains yang melupakan refleksi filosofis akan mudah berubah menjadi dogma baru. Eddington tidak menolak sains, ia justru memperdalamnya dengan menunjukkan bahwa setiap fakta ilmiah selalu sudah “diterjemahkan” oleh kerangka berpikir manusia.

Menuju Pandangan Holistik: Sains, Filsafat, dan Spiritualitas sebagai Satu Kesadaran Pengetahuan

Salah satu implikasi paling menarik dari pemikiran Eddington adalah kemungkinan untuk melihat pengetahuan secara lebih holistik, bukan terfragmentasi. Jika sains adalah cara kita mengukur dunia, dan filsafat adalah cara kita mempertanyakan cara kita mengukur, maka spiritualitas (dalam arti luas) adalah cara kita mempertanyakan siapa yang mengukur.

Dalam kerangka ini, tiga domain tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sains mengamati pola dunia. Filsafat menguji asumsi pengamatan. Spiritualitas menyelidiki kesadaran pengamat.

Eddington sendiri tidak berbicara dalam istilah spiritualitas modern, tetapi ia membuka ruangnya ketika ia menyatakan bahwa realitas fisik tidak bisa dipisahkan dari struktur pengetahuan kita tentang realitas itu. Artinya, dunia yang kita alami bukan hanya “di luar sana”, tetapi juga “di dalam cara kita menyadarinya”.

Pandangan ini menjadi sangat relevan dalam konteks modern, di mana sering terjadi fragmentasi, dimana sains dianggap lawan agama, spiritualitas dianggap anti-intelektual dan filsafat dianggap tidak praktis. Padahal, jika mengikuti intuisi Eddington, fragmentasi ini justru mengurangi kedalaman pemahaman kita tentang realitas.

Pendekatan holistik tidak berarti mencampuradukkan semua hal tanpa batas, tetapi memahami bahwa setiap pendekatan menangkap aspek berbeda dari realitas yang sama, dan tidak ada satu metode yang bisa mencakup keseluruhan. Dengan demikian, klaim bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran menjadi tidak hanya sempit, tetapi juga tidak sesuai dengan cara kerja sains modern itu sendiri.

Karena sains yang paling maju hari ini justru semakin sadar akan batasnya, dimana dalam kuantum, pengamat tidak bisa dihilangkan, dalam kosmologi, model selalu bersifat sementara, dan dalam fisika teoretis, matematika sering mendahului intuisi empiris. Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang halus namun dalam, bahwa realitas tidak pernah sepenuhnya dipisahkan dari cara kita memahaminya

Sains yang Dewasa adalah Sains yang Sadar Batasnya

Jika dibaca secara reflektif, Eddington sebenarnya tidak sedang “melemahkan sains”, tetapi mendewasakan sains. Sains yang dewasa bukan sains yang merasa paling benar, tetapi sains yang sadar bahwa ia bekerja dengan model, bukan realitas langsung, bergantung pada bahasa, matematika, dan alat ukur, serta selalu terbuka untuk revisi.

Dalam kesadaran seperti itu, tidak ada ruang bagi kesombongan epistemik. Yang ada justru ruang dialog antara sains yang mengukur, filsafat yang menguji dan kesadaran yang memahami. Maka pandangan holistik bukanlah romantisme, tetapi konsekuensi logis dari sains modern itu sendiri.

Eddington, tanpa menyatakannya secara eksplisit dalam bahasa spiritual, telah membuka pintu bahwa realitas lebih dalam daripada sekadar apa yang bisa diukur—dan bahwa memahami dunia selalu sekaligus berarti memahami cara kita memahami dunia itu sendiri.

Pada akhirnya, pandangan Eddington selaras dengan pandangan Patanjali dalam Yoga Sutra I.7: pratyakṣa-anumāna-āgamāḥ pramāṇāni. Dalam buku Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Guruji Anand Krishna mengatakan bahwa ada tiga landasan, tiga dasar atau tiga sumber bagi  pramāṇa  atau pengetahuan yang benar. Kata pramāṇa juga digunakan untuk  “bukti”- berarti pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya. Pertama, landasan  pratyakṣa, hasil pengetahuan dan/atau pengalaman pribadi adalah sesuatu yang ada di depan mata. Kedua, landasan anumāna, hasil asumsi, yang tentu berdasarkan akal sehat dan pertimbangan yang tepat. Ketiga, landasan āgamah, atau pernyataan yang jujur para bijak, yang dapat dipertanggungjawabkan. [T]

Tags: Arthur Eddingtonsains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Next Post

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co