Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern
Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan. Kalimat seperti “secara ilmiah sudah terbukti” kerap dipakai bukan hanya untuk menjelaskan fakta, tetapi juga untuk menutup ruang diskusi. Ada semacam aura finalitas yang melekat pada kata “ilmiah”, seolah-olah di luar itu hanyalah opini, spekulasi, atau bahkan ilusi.
Namun Arthur Eddington justru mengingatkan hal yang lebih subtil dalam The Philosophy of Physical Science, bahwa sains sendiri memiliki batas epistemologis yang tidak bisa dihindari. Ia tidak berdiri di luar manusia, tetapi lahir dari cara manusia mengamati, mengukur, dan menafsirkan dunia.
Dalam pengamatan Eddington, apa yang kita sebut “fakta ilmiah” selalu sudah melalui tiga lapisan: alat ukur, teori interpretasi, kesadaran pengamat. Dengan kata lain, sains bukan cermin langsung realitas, melainkan model yang dibentuk oleh interaksi antara dunia dan pikiran manusia. Artinya, mengacu pada konsep Pancamaya Kosha, sains baru menyentuh tataran Manomaya Kosha, yang dimaknai Guruji Anand Krishna sebagai gugusan pikiran dan perasaan dengan segala anak pinaknya yakni memori, obsesi, persepsi dan sebagainya.
Di titik ini, muncul persoalan yang relevan dengan pengalaman sehari-hari: ketika sebagian akademisi atau “oknum saintis” berbicara seolah sains adalah kebenaran absolut, mereka sebenarnya sedang melampaui batas sains itu sendiri. Mereka tidak lagi melakukan sains, tetapi mengideologikan sains.
Padahal dalam pandangan Eddington, justru sebaliknya: semakin dalam kita masuk ke fisika modern (terutama relativitas dan kuantum), semakin kita sadar bahwa kepastian absolut itu menyusut. Yang tersisa adalah probabilitas, model, dan interpretasi.
Maka ketika sains diperlakukan sebagai satu-satunya jalan kebenaran, yang terjadi bukan kemajuan epistemik, tetapi penyempitan cara melihat dunia. Ini yang bisa disebut sebagai kesombongan epistemik, keyakinan bahwa satu metode sudah cukup untuk menjelaskan seluruh realitas.
Kritik Eddington: Sains Tidak Bisa Dipisahkan dari Filsafat dan Cara Kita Mengetahui
Eddington tidak pernah memisahkan sains dari refleksi filosofis. Justru ia melihat bahwa semakin fundamental sebuah pertanyaan fisika, semakin ia berubah menjadi pertanyaan tentang cara kita mengetahui. Salah satu kontribusi pentingnya adalah gagasan bahwa yang kita ukur dalam fisika bukan “benda itu sendiri”, tetapi hubungan antara pengukuran. Ini berarti bahwa “realitas fisik” dalam sains modern adalah konstruksi relasional, bukan objek independen yang sepenuhnya terpisah dari pengamat.
Pandangan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat perkembangan fisika modern, dimana dalam mekanika kuantum, hasil pengukuran mempengaruhi sistem, sedangkan dalam kosmologi, model alam semesta bergantung pada kerangka matematis. Dalam teori informasi, realitas sering dipahami sebagai struktur data. Semua ini menunjukkan bahwa sains tidak pernah berdiri sendiri sebagai entitas murni empiris. Ia selalu membawa asumsi filosofis di dalamnya.
Namun dalam praktik sosial, hal ini sering dilupakan. Ada kecenderungan untuk menganggap data sebagai “kebenaran mentah”, mengabaikan peran interpretasi, mereduksi realitas hanya pada apa yang bisa diukur. Di sinilah Eddington menjadi penting, ia mengingatkan bahwa pengukuran tidak pernah netral, dan teori selalu mendahului cara kita membaca data.
Dengan kata lain, sains tanpa filsafat akan menjadi teknis tetapi buta terhadap asumsi dasarnya sendiri. Ia bisa sangat akurat secara matematis, tetapi kehilangan kesadaran tentang apa arti “akurasi” itu sendiri. Di titik ini, kritik terhadap “pendewaan saintis” menjadi relevan bukan sebagai penolakan terhadap sains, tetapi sebagai pengingat bahwa sains yang melupakan refleksi filosofis akan mudah berubah menjadi dogma baru. Eddington tidak menolak sains, ia justru memperdalamnya dengan menunjukkan bahwa setiap fakta ilmiah selalu sudah “diterjemahkan” oleh kerangka berpikir manusia.
Menuju Pandangan Holistik: Sains, Filsafat, dan Spiritualitas sebagai Satu Kesadaran Pengetahuan
Salah satu implikasi paling menarik dari pemikiran Eddington adalah kemungkinan untuk melihat pengetahuan secara lebih holistik, bukan terfragmentasi. Jika sains adalah cara kita mengukur dunia, dan filsafat adalah cara kita mempertanyakan cara kita mengukur, maka spiritualitas (dalam arti luas) adalah cara kita mempertanyakan siapa yang mengukur.
Dalam kerangka ini, tiga domain tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sains mengamati pola dunia. Filsafat menguji asumsi pengamatan. Spiritualitas menyelidiki kesadaran pengamat.
Eddington sendiri tidak berbicara dalam istilah spiritualitas modern, tetapi ia membuka ruangnya ketika ia menyatakan bahwa realitas fisik tidak bisa dipisahkan dari struktur pengetahuan kita tentang realitas itu. Artinya, dunia yang kita alami bukan hanya “di luar sana”, tetapi juga “di dalam cara kita menyadarinya”.
Pandangan ini menjadi sangat relevan dalam konteks modern, di mana sering terjadi fragmentasi, dimana sains dianggap lawan agama, spiritualitas dianggap anti-intelektual dan filsafat dianggap tidak praktis. Padahal, jika mengikuti intuisi Eddington, fragmentasi ini justru mengurangi kedalaman pemahaman kita tentang realitas.
Pendekatan holistik tidak berarti mencampuradukkan semua hal tanpa batas, tetapi memahami bahwa setiap pendekatan menangkap aspek berbeda dari realitas yang sama, dan tidak ada satu metode yang bisa mencakup keseluruhan. Dengan demikian, klaim bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran menjadi tidak hanya sempit, tetapi juga tidak sesuai dengan cara kerja sains modern itu sendiri.
Karena sains yang paling maju hari ini justru semakin sadar akan batasnya, dimana dalam kuantum, pengamat tidak bisa dihilangkan, dalam kosmologi, model selalu bersifat sementara, dan dalam fisika teoretis, matematika sering mendahului intuisi empiris. Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang halus namun dalam, bahwa realitas tidak pernah sepenuhnya dipisahkan dari cara kita memahaminya
Sains yang Dewasa adalah Sains yang Sadar Batasnya
Jika dibaca secara reflektif, Eddington sebenarnya tidak sedang “melemahkan sains”, tetapi mendewasakan sains. Sains yang dewasa bukan sains yang merasa paling benar, tetapi sains yang sadar bahwa ia bekerja dengan model, bukan realitas langsung, bergantung pada bahasa, matematika, dan alat ukur, serta selalu terbuka untuk revisi.
Dalam kesadaran seperti itu, tidak ada ruang bagi kesombongan epistemik. Yang ada justru ruang dialog antara sains yang mengukur, filsafat yang menguji dan kesadaran yang memahami. Maka pandangan holistik bukanlah romantisme, tetapi konsekuensi logis dari sains modern itu sendiri.
Eddington, tanpa menyatakannya secara eksplisit dalam bahasa spiritual, telah membuka pintu bahwa realitas lebih dalam daripada sekadar apa yang bisa diukur—dan bahwa memahami dunia selalu sekaligus berarti memahami cara kita memahami dunia itu sendiri.
Pada akhirnya, pandangan Eddington selaras dengan pandangan Patanjali dalam Yoga Sutra I.7: pratyakṣa-anumāna-āgamāḥ pramāṇāni. Dalam buku Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Guruji Anand Krishna mengatakan bahwa ada tiga landasan, tiga dasar atau tiga sumber bagi pramāṇa atau pengetahuan yang benar. Kata pramāṇa juga digunakan untuk “bukti”- berarti pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya. Pertama, landasan pratyakṣa, hasil pengetahuan dan/atau pengalaman pribadi adalah sesuatu yang ada di depan mata. Kedua, landasan anumāna, hasil asumsi, yang tentu berdasarkan akal sehat dan pertimbangan yang tepat. Ketiga, landasan āgamah, atau pernyataan yang jujur para bijak, yang dapat dipertanggungjawabkan. [T]





























