“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat itu. Mungkin terdengar arogan, tapi yang perlu kita ingat bahwa tulisan-tulisan Nietzsche selalu bernuansa aforisme sheingga perlu analisis lebih lanjut secara bahasa dan faktor-faktor yang memengaruhi penulisannya. Beberapa menganggap Nietzsche mengkritik kondisi zaman saat itu karena konsep-konsep soal Tuhan (termasuk doktrin-doktrin agama dan kekristenan yang utama) tidak mempunyai pengaruh lagi bagi kompas moral manusia.
Ada yang mengatakan dirinya mencoba menghapus jaminan transendental bagi manusia dan mencoba mengajak manusia untuk membuat nilai bagi dirinya sendiri dan menjadi Ubermensch. Tafsiran terhadap Nietzsche sungguh variatif, namun salah satu tafsiran yang menarik dan ingin saya bahas disini ialah bunga rampai berjudul Para Pembunuh Tuhan (2009) yang ditulis oleh A. Setyo Wibowo, dkk. Di mana isinya mencoba membahas Nietzsche dan tokoh-tokoh posmodern lainnya yang mengkritik metafisika Barat.
Secara garis besar, buku ini sebenarnya merupakan bunga rampai yang tulisan-tulisannya membahas kritik terhadap metafisika Barat. Dapat dikatakan pula bahwa buku ini berisi tulisan-tulisan dengan bahasan-bahasan posmodern yang merespon situasi dunia modern dan pemikiran objektivisme. Sebenarnya ada beberapa tokoh lain yang dibahas dalam buku ini yang dianggap sebagai pembunuh “Tuhan”, seperti Heidegger, Hokheimer, Adorno, bahkan Derrida. Namun, yang menarik bagi saya dalam buku ini adalah perspektif baru dalam membaca Nietzsche.
Seperti pada salah satu tulisan yang ditulis oleh Fitzgerald K. Sitorus yang mencoba membahas interpretasi Heidegger terhadap Nietzsche. Ia memulai dengan membahasakan periode perkembangan filsafat Barat dengan Sein Zum Nietzsche. Di mana ia menganggap bahwa sejarah filsafat Barat selama dua milenium adalah perjalanan menuju Nietzsche. Baginya, Nietzsche merupakan “penyempurna” yang mencoba membunuh metafisika Barat. Dalam buku ini dituliskan bahwa filsafat Barat terpolarisasi menjadi Plato dan Nietzsche, dan diantara kedua kutub tersebut, sebelum Nietzsche, hanyalah variasi dari Plato. Nietzsche dapat disebut sebagai pintu masuk menuju pemikiran posmodern.
Konsep “Idea” yang dirumuskan oleh Plato, dapat dikatakan, memiliki pengaruh yang kuat bagi perkembangan filsafat Barat. Konsep inilah yang memperkuat bentuk metafisika Barat. Di mana metafisika tersebut berkembang menjadi metafisika yang tidak dapat dihancurkan (metanarasi). Idea pasca-Plato bertransformasi menjadi berbagai macam bentuk, entah itu rasio bagi kaum rasionalisme, pemujaan berlebih pada pengetahuan indrawi bagi kaum empirisme, dan sebagainya. Dan di Abad Pertengahan idea mengambil wujud dalam bentuk “Tuhan”. Kemungkinan hal inilah yang melatarbelakangi frasa “Tuhan telah mati”.
Yang dibunuh oleh Nietzsche bukanlah Tuhan, melainkan “Tuhan”. Ia membunuh Tuhan-Tuhan yang diciptakan sendiri oleh manusia akibat will to power yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Apa yang dilakukan oleh Nietzsche adalah upaya yang dalam bahasa Derrida disebut sebagai dekonstruksi. Ia mencoba untuk mempertanyakan kembali dan menghancurkan setiap will to power manusia yang mencoba melanggengkan idea-idea mereka sendiri. Hal ini, bagi Nietzsche, bukanlah wujud dari sikap Ubermensch.
Bagi Nietzsche menjadi Ubermensch adalah menjadi manusia yang berani menerima dan menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan mencoba membuat nilai bagi dirinya sendiri. Tetapi membuat nilai sendiri bukan berarti menjadikannya membuat pelarian kepada wujud supra-indrawi yang terwujud dalam “Tuhan.”
Melalui buku ini, saya dapat menyimpulkan bahwa yang dibunuh oleh Nietzsche bukanlah Tuhan yang merupakan entitas kosmik yang transenden sekaligus imanen. Yang dibunuh oleh Nietzsche adalah Tuhan-Tuhan yang ada di dalam kepala manusia itu sendiri. Buku ini sendiri, bagi saya, merupakan buku yang dapat menambah perspektif bagi individu agar tidak terbelenggu pada doktrin-doktrin yang bersifat “maya”.
Buku ini merupakan upaya membebaskan dari belenggu konsep-konsep yang mengurung pikiran manusia yang menuntun pada sikap fanatisme dan tidak menerima kepelbagaian konsep pemikiran. Dan setidaknya, buku ini merupakan upaya-upaya yang dapat menuntun manusia pada sikap penerimaan secara “fatum brutum amor fati.” [T]
Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole




























