9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Farhan M. Adyatma by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
in Ulas Buku
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Buku ‘Terdepan, Terluar, Tertinggal’ | Foto: Farhan M. Adyatma

  • Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045
  • Penulis: Martin Suryajaya
  • Penerbit: Anagram
  • Tahun terbit: Agustus 2020
  • Jumlah halaman: 216 halaman

Sebagai pembaca buku sastra Indonesia, sudah sepatutnya bagi saya untuk menghargai usaha Sulaiman H. dalam mengumpulkan puisi-puisi dari para penyair obskur dalam rentang waktu 100 tahun Indonesia (1945-2045). Usaha Sulaiman H. tersebut kemudian dibukukan menjadi sebuah buku antologi puisi berjudul Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 (2020).

Mari kita definisikan dahulu arti dari kata “obskur”. Dalam KBBI Edisi XIII (2045), obskur artinya adalah “tidak jelas; samar-samar: ia adalah seorang penyair — karena kiprahnya tidak diketahui banyak orang”. Jadi, bisa dibilang buku yang kerap disebut 3T ini memuat berbagai puisi dari para penyair yang kiprahnya tidak diketahui banyak orang.

Dalam tulisannya yang berjudul Dari Dapur Penyunting, Sulaiman H. menyatakan bahwa sedikit sekali karya penyair lokal terutama dari tempat-tempat gelap yang terbit dalam antologi puisi bergengsi (hlm. 13). Sulaiman H. juga menambahkan bahwa: “Ini tentunya suatu kelalaian kita dalam mengangkat harkat dan martabat penyair-penyair yang kurang beruntung dalam sejarah perpuisian di tanah air.”

Sudah cukup bagi kita sebagai pembaca sastra Indonesia untuk memberi panggung kepada nama-nama penyair kondang seperti Chairil Anwar, WC Rendra, Gemi Mohawk, Dea Imut, dan nama-nama penyair kondang lainnya. Sekarang sudah saatnya kita mengapresiasi puisi-puisi karya para penyair obskur yang terkumpul dalam buku antologi puisi 3T ini.

Pembaca yang Terkecoh

Apa yang saya ceritakan sebelumnya pada hakikatnya adalah fiksi. Sulaiman H. adalah fiksi. Buku 3T ini sebenarnya adalah karya Martin Suryajaya dan dieditori oleh Hamzah Muhammad. Ya, antologi puisi yang ada pada buku 3T ini adalah karya Martin Suryajaya. 

Nama-nama penyair yang ada pada buku 3T ini sejatinya adalah kumpulan sosok imajiner ciptaan Martin Suryajaya. Oleh karena itu, buku 3T ini juga bisa dibilang menjadi buku antologi puisi pertama di Indonesia yang di dalamnya terdapat banyak heteronim. 

Pembaca mungkin juga akan dibingungkan mengenai jenis sastra dari buku ini. Di dalam buku ini terdapat prakata dari Sulaiman H. selaku penyunting, biografi penyair, cerita ketika penyunting menemukan karya dari penyair obskur yang bersangkutan, dan contoh puisi dari penyair yang bersangkutan. Selain itu, buku ini juga memiliki epilog yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. yang ditulis oleh Laura Putri Lasmi yang (lagi-lagi) fiksi.

Dalam wawancaranya bersama Gunawan Budi Susanto, Martin Suryajaya menyatakan bahwa buku 3T ini ada yang menganggapnya sebagai novel alih-alih buku puisi, ada juga yang menganggapnya sebagai naskah drama, dan ada juga yang menganggapnya sebagai “bukan puisi, bukan pula novel”. Ketika saya membaca buku ini, batas nyata dan fiksi menjadi terasa kabur—hal yang sejatinya saya apresiasi dari buku ini.

Orang Kaya Berpuisi

Ketika saya membaca tentang seorang penyair bernama Gladys Suwandhi (1969-2010), saya melihat bahwa Sulaiman H. di sini menceritakan tentang Gladys Suwandhi sebagai seseorang yang sangat makmur yang menulis puisi. Sulaiman H. juga menceritakan tentang besarnya potensi Gladys menjadi seorang penyair terkenal dengan segala modal yang dimiliki.

Gladys diceritakan sebagai seseorang yang kaya yang lahir di Cekoslowakia dan berasal dari sebuah keluarga diplomat. Gladys menikah dan menjadi ibu rumah tangga dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat makmur.

Buku puisinya yang berjudul Karangan Bunga di Ruang Tamu (1995) adalah satu-satunya karya penyair perempuan ini. Namun, bisa dibilang Gladys salah memilih penerbit untuk menerbitkan puisinya. Hal itu karena Gladys menyerahkan penerbitan buku puisinya itu ke penerbit yang terbiasa menerbitkan buku-buku resep masakan (hlm. 75).

Ketika menyunting karya Gladys ini, Sulaiman H. memiliki pertanyaan yang mungkin beberapa pembaca pernah terpikirkan: seperti apakah rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga kaya di dekade 1990-an? Bagaimana bisa seorang yang kaya dengan pergaulan yang agaknya luas menulis sajak-sajak yang seutuhnya mendekam dalam rumah?

Proposal Yayasan Pancaroba

Bagi saya, salah satu “penyair”—kalau boleh disebut demikian—yang mencolok di buku ini adalah Yayasan Pancaroba. Yayasan Pancaroba adalah sebuah perkumpulan penyair dan pegiat sastra yang diinisiasi pada 2015 oleh Noto Suroto, Mas Kumambang, dan Godi Suwarna Pragolapati (hlm. 137). 

Yayasan yang bermarkas di Sewon, Bantul, Yogyakarta ini bergerak di bidang advokasi sastra. Yayasan ini memiliki misi yakni memastikan agar sastrawan se-Indonesia mudah mendapat rezeki dan terhindar dari berbagai nasib yang kurang baik. 

Untuk tujuan itu, Yayasan Pancaroba konsisten memproduksi proposal, antara lain berupa permohonan dukungan pendanaan, pembiayaan residensi, dan sejenisnya. Yayasan ini bubar pada 2020 setelah terjerat utang akibat kekacauan administrasi kegiatan Temu Penyair yang sedianya akan mereka selenggarakan setahun sebelumnya.

Uniknya, ada orang iseng yang menata surat-surat Yayasan Pancaroba itu ke dalam format sajak dan menerbitkannya di sebuah zine garda-depan dari Salatiga. Menurut Sulaiman H., zine yang dimaksud tersebut hanya terbit sekali dalam bentuk tulisan tangan yang difotokopi dengan tidak rapi.

Izinkanlah kami memperkenalkan diri.
Yayasan Pancaroba adalah sebuah LSM
yang bergerak di bidang advokasi sastra.
Kami memastikan hak-hak sastrawan,
khususnya penyair, terpenuhi seutuhnya.
Telah ada banyak penyair berhimpun
dalam organisasi kami.


— Yayasan Pancaroba, dalam Tolong Kami, Sampoerna Foundation (2019)

Kritik terhadap Sulaiman H.

Dalam epilog di buku 3T ini, pembaca akan disajikan tulisan Laura Putri Lasmi yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. (2045). Dalam tulisannya itu, Laura Putri Lasmi banyak membahas karakter dari Sulaiman H. sebagai seorang arsiparis/sejarawan ketimbang membahas kualitas sastrawi para penyair obskur yang dikumpulkannya (hlm. 200).

Salah satu kritik dari Laura Putri Lasmi adalah tentang kurangnya penyair perempuan yang hadir di buku 3T ini. Baginya, jaringan internet seharusnya mempermudah Sulaiman H. dalam menemukan banyak penyair perempuan, baik yang profesional maupun yang sesekali menulis puisi di waktu senggang (hlm. 201).

Selain itu, Laura Putri Lasmi juga mengkritik bahwa lokasi penyair obskur yang ada di dalam buku 3T ini masih terfokus di Pulau Jawa (hlm. 206). Baginya, Provinsi-provinsi seperti Bali, NTB, NTT, dan provinsi lain di luar Pulau Jawa juga terdapat para penyair obskur. Laura Putri Lasmi di sini menganggap bahwa Sulaiman H. malas dalam mencari informasi secara lebih dalam (hlm. 208).

Sebagai penutup, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa ia kasihan dengan Sulaiman H. ini (hlm. 215). Baginya, Sulaiman H. di sini terlihat seperti orang yang sedikit terganggu kesehatannya, baik fisik maupun psikis. Mengetahui hal itu, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa “belum terlambat untuk berobat” (hlm. 216). Kalimat “Maaf, baru bisa segini.” adalah kalimat penutup terbaik yang pernah saya temukan dalam sebuah buku, dan itu terdapat pada tulisan Laura Putri Lasmi tersebut. [T]

Penulis: Farhan M. Adyatma
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisisastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Farhan M. Adyatma

Farhan M. Adyatma

Penulis lepas asal Malang, tulisannya berfokus pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Tulisannya tersiar di beberapa media online. IG @farhan.m.adyatma

Related Posts

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co