8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Farhan M. Adyatma by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
in Ulas Buku
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Buku ‘Terdepan, Terluar, Tertinggal’ | Foto: Farhan M. Adyatma

  • Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045
  • Penulis: Martin Suryajaya
  • Penerbit: Anagram
  • Tahun terbit: Agustus 2020
  • Jumlah halaman: 216 halaman

Sebagai pembaca buku sastra Indonesia, sudah sepatutnya bagi saya untuk menghargai usaha Sulaiman H. dalam mengumpulkan puisi-puisi dari para penyair obskur dalam rentang waktu 100 tahun Indonesia (1945-2045). Usaha Sulaiman H. tersebut kemudian dibukukan menjadi sebuah buku antologi puisi berjudul Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 (2020).

Mari kita definisikan dahulu arti dari kata “obskur”. Dalam KBBI Edisi XIII (2045), obskur artinya adalah “tidak jelas; samar-samar: ia adalah seorang penyair — karena kiprahnya tidak diketahui banyak orang”. Jadi, bisa dibilang buku yang kerap disebut 3T ini memuat berbagai puisi dari para penyair yang kiprahnya tidak diketahui banyak orang.

Dalam tulisannya yang berjudul Dari Dapur Penyunting, Sulaiman H. menyatakan bahwa sedikit sekali karya penyair lokal terutama dari tempat-tempat gelap yang terbit dalam antologi puisi bergengsi (hlm. 13). Sulaiman H. juga menambahkan bahwa: “Ini tentunya suatu kelalaian kita dalam mengangkat harkat dan martabat penyair-penyair yang kurang beruntung dalam sejarah perpuisian di tanah air.”

Sudah cukup bagi kita sebagai pembaca sastra Indonesia untuk memberi panggung kepada nama-nama penyair kondang seperti Chairil Anwar, WC Rendra, Gemi Mohawk, Dea Imut, dan nama-nama penyair kondang lainnya. Sekarang sudah saatnya kita mengapresiasi puisi-puisi karya para penyair obskur yang terkumpul dalam buku antologi puisi 3T ini.

Pembaca yang Terkecoh

Apa yang saya ceritakan sebelumnya pada hakikatnya adalah fiksi. Sulaiman H. adalah fiksi. Buku 3T ini sebenarnya adalah karya Martin Suryajaya dan dieditori oleh Hamzah Muhammad. Ya, antologi puisi yang ada pada buku 3T ini adalah karya Martin Suryajaya. 

Nama-nama penyair yang ada pada buku 3T ini sejatinya adalah kumpulan sosok imajiner ciptaan Martin Suryajaya. Oleh karena itu, buku 3T ini juga bisa dibilang menjadi buku antologi puisi pertama di Indonesia yang di dalamnya terdapat banyak heteronim. 

Pembaca mungkin juga akan dibingungkan mengenai jenis sastra dari buku ini. Di dalam buku ini terdapat prakata dari Sulaiman H. selaku penyunting, biografi penyair, cerita ketika penyunting menemukan karya dari penyair obskur yang bersangkutan, dan contoh puisi dari penyair yang bersangkutan. Selain itu, buku ini juga memiliki epilog yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. yang ditulis oleh Laura Putri Lasmi yang (lagi-lagi) fiksi.

Dalam wawancaranya bersama Gunawan Budi Susanto, Martin Suryajaya menyatakan bahwa buku 3T ini ada yang menganggapnya sebagai novel alih-alih buku puisi, ada juga yang menganggapnya sebagai naskah drama, dan ada juga yang menganggapnya sebagai “bukan puisi, bukan pula novel”. Ketika saya membaca buku ini, batas nyata dan fiksi menjadi terasa kabur—hal yang sejatinya saya apresiasi dari buku ini.

Orang Kaya Berpuisi

Ketika saya membaca tentang seorang penyair bernama Gladys Suwandhi (1969-2010), saya melihat bahwa Sulaiman H. di sini menceritakan tentang Gladys Suwandhi sebagai seseorang yang sangat makmur yang menulis puisi. Sulaiman H. juga menceritakan tentang besarnya potensi Gladys menjadi seorang penyair terkenal dengan segala modal yang dimiliki.

Gladys diceritakan sebagai seseorang yang kaya yang lahir di Cekoslowakia dan berasal dari sebuah keluarga diplomat. Gladys menikah dan menjadi ibu rumah tangga dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat makmur.

Buku puisinya yang berjudul Karangan Bunga di Ruang Tamu (1995) adalah satu-satunya karya penyair perempuan ini. Namun, bisa dibilang Gladys salah memilih penerbit untuk menerbitkan puisinya. Hal itu karena Gladys menyerahkan penerbitan buku puisinya itu ke penerbit yang terbiasa menerbitkan buku-buku resep masakan (hlm. 75).

Ketika menyunting karya Gladys ini, Sulaiman H. memiliki pertanyaan yang mungkin beberapa pembaca pernah terpikirkan: seperti apakah rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga kaya di dekade 1990-an? Bagaimana bisa seorang yang kaya dengan pergaulan yang agaknya luas menulis sajak-sajak yang seutuhnya mendekam dalam rumah?

Proposal Yayasan Pancaroba

Bagi saya, salah satu “penyair”—kalau boleh disebut demikian—yang mencolok di buku ini adalah Yayasan Pancaroba. Yayasan Pancaroba adalah sebuah perkumpulan penyair dan pegiat sastra yang diinisiasi pada 2015 oleh Noto Suroto, Mas Kumambang, dan Godi Suwarna Pragolapati (hlm. 137). 

Yayasan yang bermarkas di Sewon, Bantul, Yogyakarta ini bergerak di bidang advokasi sastra. Yayasan ini memiliki misi yakni memastikan agar sastrawan se-Indonesia mudah mendapat rezeki dan terhindar dari berbagai nasib yang kurang baik. 

Untuk tujuan itu, Yayasan Pancaroba konsisten memproduksi proposal, antara lain berupa permohonan dukungan pendanaan, pembiayaan residensi, dan sejenisnya. Yayasan ini bubar pada 2020 setelah terjerat utang akibat kekacauan administrasi kegiatan Temu Penyair yang sedianya akan mereka selenggarakan setahun sebelumnya.

Uniknya, ada orang iseng yang menata surat-surat Yayasan Pancaroba itu ke dalam format sajak dan menerbitkannya di sebuah zine garda-depan dari Salatiga. Menurut Sulaiman H., zine yang dimaksud tersebut hanya terbit sekali dalam bentuk tulisan tangan yang difotokopi dengan tidak rapi.

Izinkanlah kami memperkenalkan diri.
Yayasan Pancaroba adalah sebuah LSM
yang bergerak di bidang advokasi sastra.
Kami memastikan hak-hak sastrawan,
khususnya penyair, terpenuhi seutuhnya.
Telah ada banyak penyair berhimpun
dalam organisasi kami.


— Yayasan Pancaroba, dalam Tolong Kami, Sampoerna Foundation (2019)

Kritik terhadap Sulaiman H.

Dalam epilog di buku 3T ini, pembaca akan disajikan tulisan Laura Putri Lasmi yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. (2045). Dalam tulisannya itu, Laura Putri Lasmi banyak membahas karakter dari Sulaiman H. sebagai seorang arsiparis/sejarawan ketimbang membahas kualitas sastrawi para penyair obskur yang dikumpulkannya (hlm. 200).

Salah satu kritik dari Laura Putri Lasmi adalah tentang kurangnya penyair perempuan yang hadir di buku 3T ini. Baginya, jaringan internet seharusnya mempermudah Sulaiman H. dalam menemukan banyak penyair perempuan, baik yang profesional maupun yang sesekali menulis puisi di waktu senggang (hlm. 201).

Selain itu, Laura Putri Lasmi juga mengkritik bahwa lokasi penyair obskur yang ada di dalam buku 3T ini masih terfokus di Pulau Jawa (hlm. 206). Baginya, Provinsi-provinsi seperti Bali, NTB, NTT, dan provinsi lain di luar Pulau Jawa juga terdapat para penyair obskur. Laura Putri Lasmi di sini menganggap bahwa Sulaiman H. malas dalam mencari informasi secara lebih dalam (hlm. 208).

Sebagai penutup, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa ia kasihan dengan Sulaiman H. ini (hlm. 215). Baginya, Sulaiman H. di sini terlihat seperti orang yang sedikit terganggu kesehatannya, baik fisik maupun psikis. Mengetahui hal itu, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa “belum terlambat untuk berobat” (hlm. 216). Kalimat “Maaf, baru bisa segini.” adalah kalimat penutup terbaik yang pernah saya temukan dalam sebuah buku, dan itu terdapat pada tulisan Laura Putri Lasmi tersebut. [T]

Penulis: Farhan M. Adyatma
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisisastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Farhan M. Adyatma

Farhan M. Adyatma

Penulis lepas asal Malang, tulisannya berfokus pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Tulisannya tersiar di beberapa media online. IG @farhan.m.adyatma

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co