18 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Farhan M. Adyatma by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
in Ulas Buku
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Buku ‘Terdepan, Terluar, Tertinggal’ | Foto: Farhan M. Adyatma

  • Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045
  • Penulis: Martin Suryajaya
  • Penerbit: Anagram
  • Tahun terbit: Agustus 2020
  • Jumlah halaman: 216 halaman

Sebagai pembaca buku sastra Indonesia, sudah sepatutnya bagi saya untuk menghargai usaha Sulaiman H. dalam mengumpulkan puisi-puisi dari para penyair obskur dalam rentang waktu 100 tahun Indonesia (1945-2045). Usaha Sulaiman H. tersebut kemudian dibukukan menjadi sebuah buku antologi puisi berjudul Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 (2020).

Mari kita definisikan dahulu arti dari kata “obskur”. Dalam KBBI Edisi XIII (2045), obskur artinya adalah “tidak jelas; samar-samar: ia adalah seorang penyair — karena kiprahnya tidak diketahui banyak orang”. Jadi, bisa dibilang buku yang kerap disebut 3T ini memuat berbagai puisi dari para penyair yang kiprahnya tidak diketahui banyak orang.

Dalam tulisannya yang berjudul Dari Dapur Penyunting, Sulaiman H. menyatakan bahwa sedikit sekali karya penyair lokal terutama dari tempat-tempat gelap yang terbit dalam antologi puisi bergengsi (hlm. 13). Sulaiman H. juga menambahkan bahwa: “Ini tentunya suatu kelalaian kita dalam mengangkat harkat dan martabat penyair-penyair yang kurang beruntung dalam sejarah perpuisian di tanah air.”

Sudah cukup bagi kita sebagai pembaca sastra Indonesia untuk memberi panggung kepada nama-nama penyair kondang seperti Chairil Anwar, WC Rendra, Gemi Mohawk, Dea Imut, dan nama-nama penyair kondang lainnya. Sekarang sudah saatnya kita mengapresiasi puisi-puisi karya para penyair obskur yang terkumpul dalam buku antologi puisi 3T ini.

Pembaca yang Terkecoh

Apa yang saya ceritakan sebelumnya pada hakikatnya adalah fiksi. Sulaiman H. adalah fiksi. Buku 3T ini sebenarnya adalah karya Martin Suryajaya dan dieditori oleh Hamzah Muhammad. Ya, antologi puisi yang ada pada buku 3T ini adalah karya Martin Suryajaya. 

Nama-nama penyair yang ada pada buku 3T ini sejatinya adalah kumpulan sosok imajiner ciptaan Martin Suryajaya. Oleh karena itu, buku 3T ini juga bisa dibilang menjadi buku antologi puisi pertama di Indonesia yang di dalamnya terdapat banyak heteronim. 

Pembaca mungkin juga akan dibingungkan mengenai jenis sastra dari buku ini. Di dalam buku ini terdapat prakata dari Sulaiman H. selaku penyunting, biografi penyair, cerita ketika penyunting menemukan karya dari penyair obskur yang bersangkutan, dan contoh puisi dari penyair yang bersangkutan. Selain itu, buku ini juga memiliki epilog yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. yang ditulis oleh Laura Putri Lasmi yang (lagi-lagi) fiksi.

Dalam wawancaranya bersama Gunawan Budi Susanto, Martin Suryajaya menyatakan bahwa buku 3T ini ada yang menganggapnya sebagai novel alih-alih buku puisi, ada juga yang menganggapnya sebagai naskah drama, dan ada juga yang menganggapnya sebagai “bukan puisi, bukan pula novel”. Ketika saya membaca buku ini, batas nyata dan fiksi menjadi terasa kabur—hal yang sejatinya saya apresiasi dari buku ini.

Orang Kaya Berpuisi

Ketika saya membaca tentang seorang penyair bernama Gladys Suwandhi (1969-2010), saya melihat bahwa Sulaiman H. di sini menceritakan tentang Gladys Suwandhi sebagai seseorang yang sangat makmur yang menulis puisi. Sulaiman H. juga menceritakan tentang besarnya potensi Gladys menjadi seorang penyair terkenal dengan segala modal yang dimiliki.

Gladys diceritakan sebagai seseorang yang kaya yang lahir di Cekoslowakia dan berasal dari sebuah keluarga diplomat. Gladys menikah dan menjadi ibu rumah tangga dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat makmur.

Buku puisinya yang berjudul Karangan Bunga di Ruang Tamu (1995) adalah satu-satunya karya penyair perempuan ini. Namun, bisa dibilang Gladys salah memilih penerbit untuk menerbitkan puisinya. Hal itu karena Gladys menyerahkan penerbitan buku puisinya itu ke penerbit yang terbiasa menerbitkan buku-buku resep masakan (hlm. 75).

Ketika menyunting karya Gladys ini, Sulaiman H. memiliki pertanyaan yang mungkin beberapa pembaca pernah terpikirkan: seperti apakah rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga kaya di dekade 1990-an? Bagaimana bisa seorang yang kaya dengan pergaulan yang agaknya luas menulis sajak-sajak yang seutuhnya mendekam dalam rumah?

Proposal Yayasan Pancaroba

Bagi saya, salah satu “penyair”—kalau boleh disebut demikian—yang mencolok di buku ini adalah Yayasan Pancaroba. Yayasan Pancaroba adalah sebuah perkumpulan penyair dan pegiat sastra yang diinisiasi pada 2015 oleh Noto Suroto, Mas Kumambang, dan Godi Suwarna Pragolapati (hlm. 137). 

Yayasan yang bermarkas di Sewon, Bantul, Yogyakarta ini bergerak di bidang advokasi sastra. Yayasan ini memiliki misi yakni memastikan agar sastrawan se-Indonesia mudah mendapat rezeki dan terhindar dari berbagai nasib yang kurang baik. 

Untuk tujuan itu, Yayasan Pancaroba konsisten memproduksi proposal, antara lain berupa permohonan dukungan pendanaan, pembiayaan residensi, dan sejenisnya. Yayasan ini bubar pada 2020 setelah terjerat utang akibat kekacauan administrasi kegiatan Temu Penyair yang sedianya akan mereka selenggarakan setahun sebelumnya.

Uniknya, ada orang iseng yang menata surat-surat Yayasan Pancaroba itu ke dalam format sajak dan menerbitkannya di sebuah zine garda-depan dari Salatiga. Menurut Sulaiman H., zine yang dimaksud tersebut hanya terbit sekali dalam bentuk tulisan tangan yang difotokopi dengan tidak rapi.

Izinkanlah kami memperkenalkan diri.
Yayasan Pancaroba adalah sebuah LSM
yang bergerak di bidang advokasi sastra.
Kami memastikan hak-hak sastrawan,
khususnya penyair, terpenuhi seutuhnya.
Telah ada banyak penyair berhimpun
dalam organisasi kami.


— Yayasan Pancaroba, dalam Tolong Kami, Sampoerna Foundation (2019)

Kritik terhadap Sulaiman H.

Dalam epilog di buku 3T ini, pembaca akan disajikan tulisan Laura Putri Lasmi yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. (2045). Dalam tulisannya itu, Laura Putri Lasmi banyak membahas karakter dari Sulaiman H. sebagai seorang arsiparis/sejarawan ketimbang membahas kualitas sastrawi para penyair obskur yang dikumpulkannya (hlm. 200).

Salah satu kritik dari Laura Putri Lasmi adalah tentang kurangnya penyair perempuan yang hadir di buku 3T ini. Baginya, jaringan internet seharusnya mempermudah Sulaiman H. dalam menemukan banyak penyair perempuan, baik yang profesional maupun yang sesekali menulis puisi di waktu senggang (hlm. 201).

Selain itu, Laura Putri Lasmi juga mengkritik bahwa lokasi penyair obskur yang ada di dalam buku 3T ini masih terfokus di Pulau Jawa (hlm. 206). Baginya, Provinsi-provinsi seperti Bali, NTB, NTT, dan provinsi lain di luar Pulau Jawa juga terdapat para penyair obskur. Laura Putri Lasmi di sini menganggap bahwa Sulaiman H. malas dalam mencari informasi secara lebih dalam (hlm. 208).

Sebagai penutup, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa ia kasihan dengan Sulaiman H. ini (hlm. 215). Baginya, Sulaiman H. di sini terlihat seperti orang yang sedikit terganggu kesehatannya, baik fisik maupun psikis. Mengetahui hal itu, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa “belum terlambat untuk berobat” (hlm. 216). Kalimat “Maaf, baru bisa segini.” adalah kalimat penutup terbaik yang pernah saya temukan dalam sebuah buku, dan itu terdapat pada tulisan Laura Putri Lasmi tersebut. [T]

Penulis: Farhan M. Adyatma
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisisastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Farhan M. Adyatma

Farhan M. Adyatma

Penulis lepas asal Malang, tulisannya berfokus pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Tulisannya tersiar di beberapa media online. IG @farhan.m.adyatma

Related Posts

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails
Next Post
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara
Pameran

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

by tatkala
September 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co