15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
in Cerpen
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Ilustrasi tatkala.co | Canva

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen, seolah mengejekku.

Sudah tiga puluh menit aku duduk. Secangkir kopi di meja mulai dingin. Tenggorokanku terasa kering, kepala sedikit pening, dan hidungku mampet sejak pagi. Badanku belum benar-benar pulih dari demam dua hari lalu, tapi tenggat tidak peduli pada suhu tubuh.

Di kalender, hari ini sudah kulingkari merah sejak seminggu lalu. Itu adalah tenggat pengumpulan cerpen.

Judulnya sudah ada, “Aku Tak Bisa Menulis Cerpen”.

Awalnya kupikir judul itu lucu. Meta. Seolah aku sedang bermain-main dengan keadaan. Tapi semakin lama aku menatap layar kosong ini, semakin terasa bahwa judul itu bukan lagi lelucon. Ia berubah menjadi pengakuan.

Aku benar-benar tak bisa menulis cerpen. Padahal dulu aku suka menulis.

Aku ingat masa-masa SMA, ketika aku bisa menghabiskan malam dengan mengetik cerita tentang anak desa yang ingin menjadi astronot, atau tentang gadis yang jatuh cinta pada hujan. Waktu itu menulis terasa seperti bernapas: alami, tanpa paksaan. Kata-kata mengalir begitu saja, seperti air dari keran yang lupa dimatikan.

Sekarang?

Sekarang setiap kalimat terasa seperti harus ditarik paksa dari dasar sumur.

Ponselku bergetar di meja. Aku melirik layarnya. Nama yang sama muncul lagi, Pak Hendra. Aku tidak mengangkatnya.

Sudah tiga kali hari ini dia menelepon. Aku tahu isinya apa. Tagihan yang menumpuk, janji yang pernah kuucapkan minggu lalu, nada suara yang semakin dingin setiap kali aku meminta waktu.

Aku mematikan layar ponsel dan meletakkannya terbalik.

Belum lima menit, notifikasi pesan masuk.

“Mas, kapan bisa transfer? Saya tunggu kabarnya hari ini.”

Dadaku mengencang.

Aku menutup laptop sebentar dan bersandar di kursi. Kala itu langit sore di luar jendela berwarna abu-abu pucat. Di kejauhan terdengar suara motor lewat, disusul teriakan anak-anak yang sedang bermain bola di gang.

Dunia tetap berjalan, sementara aku terjebak di satu titik.

Aku membuka ponsel lagi. Ada pesan dari Raka.

“Gimana cerpennya? Deadline jam 12 malam, kan?”

Aku tidak langsung membalas.

Raka adalah teman sekampusku dulu. Dialah yang pertama kali mengajakku ikut lomba menulis ini. Katanya, “Lumayan buat portofolio.” Ia juga bilang hadiahnya cukup besar, kalau beruntung, bisa jadi modal usaha kecil-kecilan. Aku mengangguk waktu itu, membayangkan uang hadiah dan satu baris tambahan di CV, dengan keyakinan yang terlalu besar terhadap diriku sendiri.

Kupikir menulis cerpen akan mudah. Nyatanya, tidak. Bukan cuma karena ide yang buntu, tapi karena hidup tiba-tiba terasa seperti menumpuk di satu hari yang sama.

Dua minggu lalu aku dipanggil ke ruang HRD. Kalimatnya singkat dan rapi. Perusahaan sedang melakukan efisiensi. Posisi kontrakku tidak diperpanjang. “Terima kasih atas kontribusinya selama ini,” ucap si HRD.

Aku mengangguk seperti orang dewasa yang baik, menandatangani berkas, lalu pulang dengan kepala kosong. Di perjalanan, aku menghitung sisa saldo di rekening dan langsung tahu bahwa bulan depan akan menjadi bulan yang berat.

Selama hampir dua tahun aku bekerja sebagai humas korporat, mengurusi siaran pers, menjawab komplain warga soal proyek, dan berpura-pura ramah di acara peluncuran gedung. Aku belajar tersenyum di depan kamera meski sering merasa kosong di dalam. Pekerjaan itu tidak pernah benar-benar kupahami sebagai panggilan, tapi aku bertahan karena gaji bulanan terasa lebih nyata daripada mimpi.

Belum genap seminggu dipecat, Dinda pacarku datang. Mantan pacarku, sekarang.

Ia duduk di tepi kasur, memainkan ujung lengan jaketnya, lalu berkata bahwa ia capek. Capek menunggu aku ‘menjadi lebih stabil’. Capek dengan janji-janji bahwa semuanya akan membaik.

“Aku butuh pasangan yang sudah siap, bukan yang masih berjuang,” katanya pelan.

Aku ingin bilang bahwa aku sedang melakukan yang terbaik. Bahwa tidak semua orang bisa langsung mapan. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Kami berpisah dengan cara yang dewasa. Tanpa teriakan. Tanpa drama. Tapi, justru itu yang paling menyakitkan.

Dan hari ini, di tengah kepala yang masih berat, dompet yang menipis, dan hati yang belum selesai patah, aku harus menulis cerpen.

Aku kembali membuka laptop. Kursor masih berkedip sabar.

Baiklah, kataku dalam hati. Tulis saja apa pun.

Tanganku mulai bergerak.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

Aku berhenti.

Kalimat itu terasa basi. Terlalu sering dipakai. Aku menghapusnya. Kucoba lagi.

“Pada suatu sore yang biasa…”

Kuhapus lagi. Kenapa semuanya terdengar klise?

Ponselku kembali bergetar. Pesan dari Dinda kali ini.

Maaf ya. Semoga kamu baik-baik saja. Aku menatap layar itu lama, lalu mengunci ponsel tanpa membalas.

Aku mengacak rambutku sendiri. Mungkin masalahnya bukan pada ide. Mungkin masalahnya aku terlalu penuh. Penuh tagihan. Penuh kehilangan. Penuh ketakutan.

Takut tulisanku jelek. Takut ceritaku tidak bermakna. Takut dibandingkan dengan penulis-penulis lain yang jauh lebih berbakat. Takut gagal. Ketakutan itu menumpuk pelan-pelan, lalu berubah menjadi tembok yang tinggi.

Aku teringat perkataan dosen sastra saat kuliah dulu. “Masalah terbesar penulis pemula bukan kurang ide, tapi terlalu banyak penilaian terhadap diri sendiri.”

Ya, ironisnya, aku pernah kuliah Sastra Indonesia. Hanya sampai semester tiga. Setelah itu aku keluar tanpa upacara apa pun, membawa pulang naskah-naskah puisi dan rasa bersalah yang belum selesai. Orang tuaku tidak marah, hanya kecewa dengan cara yang sunyi. Setahun setelah drop out (DO), aku masuk lagi, kali ini ke Ilmu Komunikasi. Jurusan yang lebih ‘aman’, kata mereka. Aku menamatkannya bukan karena cinta, tapi karena lelah berdebat.

Waktu itu aku mengangguk, merasa paham. Sekarang aku baru benar-benar mengerti maksudnya.

Aku berdiri dan berjalan ke dapur. Kakiku terasa agak lemas. Kutuang sisa kopi ke wastafel, lalu membuat yang baru. Tanganku sedikit gemetar saat menuang air panas. Aroma bubuk kopi yang diseduh kembali sedikit menenangkan.

Saat kembali ke kamar, aku membawa cangkir hangat dan secuil tekad yang entah datang dari mana.

Baik. Kalau tidak bisa menulis cerpen, tulis saja tentang ketidakmampuan itu.

Tentang aku, Arga.

Nama itu kutulis pelan di baris pertama, seperti sedang menguji apakah aku masih mengenali diriku sendiri.

“Aku menatap layar kosong dan merasa seperti sedang berhadapan dengan diriku sendiri.”

Kali ini aku tidak menghapusnya.

Kalimat demi kalimat menyusul, perlahan. Aku menulis tentang kamar kecilku, tentang kopi yang selalu keburu dingin, tentang suara motor di sore hari. Aku menulis tentang tenggat waktu yang membuat dada terasa sesak.

Aku menulis tentang telepon dari penagih utang. Tentang surat pemutusan kontrak yang masih terlipat rapi di tas. Tentang pesan putus yang kubaca berulang-ulang meski sudah kuhapus dari chat. Tentang tubuh yang masih meriang tapi dipaksa duduk berjam-jam.

Aku menulis tentang Raka, tentang lomba ini, tentang dosen sastra. Aku menulis tentang masa SMA, tentang cerita-cerita yang dulu terasa mudah.

Aku juga menulis tentang diriku yang terdampar di dunia humas, tentang gelar komunikasi yang kutuntaskan dengan setengah hati, tentang sastra yang kutinggalkan terlalu cepat. Tentang bagaimana aku kini pandai merangkai kalimat untuk rilis pers, tapi gagap saat harus jujur pada perasaanku sendiri.

Aku menulis tentang rasa takut. Tentang bagaimana semuanya datang bersamaan, seolah hidup sedang menguji seberapa kuat aku bertahan.

Ternyata, ketika aku berhenti memikirkan apakah ini cerpen yang ‘bagus’ atau ‘tidak’, jari-jariku bergerak lebih ringan. Aku tidak lagi berusaha membuat metafora rumit atau plot yang canggih. Aku hanya bercerita.

Tentang seseorang yang baru dipecat, sedang sakit, ditinggal pacar, dikejar utang, dan duduk di depan laptop sambil mencoba tidak tenggelam.

Sesekali aku berhenti untuk menyeruput kopi. Sesekali aku membaca ulang satu paragraf dan memperbaiki kata yang terasa janggal. Tapi aku tidak lagi menghapus semuanya dari awal.

Waktu berjalan tanpa terasa. Langit di luar jendela berubah menjadi gelap. Lampu-lampu rumah tetangga menyala satu per satu. Anak-anak di gang sudah tidak terdengar lagi. Yang tersisa hanya dengung kipas angin dan ketukan keyboard.

Aku membuka pesan Raka dan membalas singkat.

“Lagi nulis. Doain.”

Tak lama kemudian, ia membalas dengan emoji jempol.

Aku tersenyum kecil.

Aku melanjutkan ceritaku. Di dalamnya, tokoh ‘aku’ mengingat bagaimana dulu ia menulis bukan untuk lomba, bukan untuk nilai, bukan untuk pengakuan. Ia menulis karena ingin bercerita. Karena ada hal-hal di kepalanya yang perlu keluar.

Aku menulis bahwa mungkin, di situlah letak masalahnya sekarang. Terlalu banyak tujuan di luar cerita itu sendiri.

Aku menulis bahwa kegagalan bukan selalu tentang kalah lomba atau kehilangan pekerjaan, tapi tentang berhenti mencoba. Aku menulis bahwa menulis tidak selalu harus indah. Kadang cukup jujur.

Beberapa kali aku merasa kalimatku canggung. Beberapa bagian terasa datar. Tapi aku membiarkannya. Aku tidak lagi mengejar kesempurnaan. Aku hanya ingin selesai.

Jam di pojok kanan bawah layar menunjukkan pukul 22.47. Masih ada waktu.

Ponselku kembali bergetar. Pesan dari Pak Hendra. “Mas, saya tunggu kabarnya malam ini.”

Aku menelan ludah, lalu mengetik balasan singkat: “Besok pagi saya usahakan, Pak. Terima kasih sudah memberi waktu.”

Aku tidak tahu dari mana uang itu akan datang. Tapi setidaknya aku sudah jujur.

Aku kembali ke cerpen. Membaca ulang dari awal. Ada bagian yang kupangkas, ada yang kutambah. Aku mengganti beberapa kata agar alurnya lebih mengalir. Aku memperbaiki tanda baca. Tidak banyak, tapi cukup.

Judul tetap sama: ‘Aku Tak Bisa Menulis Cerpen’.

Semakin lama aku menatap judul itu, semakin terasa bahwa ia telah berubah makna. Bukan lagi tentang ketidakmampuan, tapi tentang proses menerima diri. Tentang keberanian untuk tetap menulis, meski merasa hidup sedang runtuh dari berbagai arah.

Aku menambahkan satu paragraf penutup:

Bahwa mungkin semua penulis pernah sampai di titik ini. Titik ketika kata-kata terasa jauh. Ketika layar kosong terasa seperti vonis. Tapi selama kita masih mau duduk, membuka dokumen, dan mengetik satu kalimat pertama ─ meski sambil menahan sakit, kehilangan, dan kecemasan ─ barangkali kita sebenarnya masih bisa.

Jam 23.38, aku menyimpan file itu, lalu mengunggahnya ke laman lomba. Setelah tombol submit berubah menjadi notifikasi ‘berhasil’, aku bersandar di kursi dan menghembuskan napas panjang. Dadaku terasa lebih ringan.

Aku tak tahu apakah cerpen ini bagus atau tidak, apalagi lolos seleksi. Bisa jadi ceritaku tenggelam di antara ratusan karya lain yang lebih bernas.

Aku juga masih belum tahu bagaimana caranya membayar utang, mencari pekerjaan baru, atau menyembuhkan hati yang patah. Tapi malam ini, setidaknya, aku berhasil melawan satu hal: keinginanku untuk menyerah.

Ponselku berbunyi. Pesan dari Raka.

“Udah submit?”

“Udah,” balasku.

“Mantap. Apa judulnya?”

Aku mengetik: ‘Aku Tak Bisa Menulis Cerpen’.

Tiga detik kemudian, ia membalas.

“Wkwk. Keren. Justru itu cerpennya.”

Aku tersenyum.

Mungkin benar, cerpen ini bukan tentang plot besar atau konflik dramatis. Mungkin ini hanya cerita sederhana tentang seseorang yang hampir tenggelam, lalu memilih untuk tetap berenang, meski pelan.

Aku menutup laptop dan berbaring di kasur. Di langit-langit kamar, bayangan kipas angin berputar pelan.

Besok dunia akan berjalan seperti biasa. Surat lamaran harus dikirim. Janji pembayaran harus ditepati. Kesepian mungkin masih datang diam-diam.

Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali duduk di depan layar kosong, merasa buntu lagi.

Tapi sekarang aku tahu satu hal. Aku mungkin sering merasa tak bisa menulis cerpen.

Namun selama aku masih mau menulis tentang kekacauan ini, tentang takut dan jatuh bangun, mungkin aku sebenarnya masih bisa menjadi seorang penulis. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Next Post

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co