4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2026
in Ulas Film
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk hiburan keluarga di akhir pekan. Lebih daripada itu, animasi garapan Pixar Animation Studios untuk Walt Disney Pictures itu juga merupakan medium kritik dan renungan bagi prilaku serakah manusia abad 21, di mana antroposentris telah menjerumuskan kita pada sifat superior—merasa jauh lebih unggul—atas mahkluk lain.

Dan benar. Setelah menonton Hoppers, dari kisah Mabel Tanaka (tokoh utama) bersama teman-teman satwanya: berang-berang yang tambun, beruang, kadal, katak, ular, ulat-ulat licik, dll—orang-orang kreatif di Pixar selalu punya kecenderungan untuk membuat cerita yang mengulik kategori dan taksonomi dunia alam, seperti kata Alissa Wilkinson di  The New York Times)—keyakinan saya semakin tebal bahwa film animasi kerap hadir sebagai medium yang tampak ringan tetapi menyimpan lapisan gagasan yang kompleks. Dalam konteks itu, Hoppers muncul sebagai salah satu karya yang mencoba menjembatani hiburan dengan kritik sosial-ekologis dengan imajinsi yang segar—walaupun tampaknya hanya setengah hati, tak keras, jelas, dan menonjok sebagaimana The Lorax (2012) garapan Chris Renaud, misalnya.

Disutradarai oleh Daniel Chong, fabel ini berkisah tentang Mabel Tanaka (disuarakan oleh Piper Curda), yang sejak kecil diajarkan oleh neneknya (Karen Huie) untuk mencintai hewan, tumbuhan, dan serangga yang menghuni padang kecil—dengan genangan air berkat bendungan berang-berang yang tenang—di dekat rumah sang nenek, tepat di pinggiran kota kecil bernama Beaverton. “Sulit untuk marah ketika kamu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar,” kata sang nenek kepada Mabel kecil yang mendorongnya untuk diam dan mengamati saat satwa-satwa muncul dari hutan dan perairan. Sebagai manusia, mereka pun merupakan bagian dari ekosistem tersebut, ujar sang nenek.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Saat berusia 19 tahun, Mabel telah menjadi mahasiswi pelindung padang tersebut yang penuh semangat dan keberanian. Namun, tempat itu berada dalam bahaya besar karena Wali Kota Beaverton yang populer dan tampan, Jerry (Jon Hamm), ingin membangun jalan lingkar yang melintasinya. Jerry mengklaim mendapat izin dari negara dengan alasan bahwa semua hewan telah meninggalkan padang itu. Dalam kepanikan, Mabel berkonsultasi dengan dosen biologinya, Dr. Sam (Kathy Najimy), yang memberitahunya bahwa ada satu cara untuk menyelamatkan padang tersebut: membuat koloni berang-berang kembali tinggal di sana. Sebagai spesies kunci, berang-berang beserta bendungannya akan menarik hewan-hewan lain kembali ke wilayah itu.

Sejak awal, Hoppers menempatkan dirinya sebagai film yang sadar akan krisis ekologis. Dunia yang dibangunnya bukan sekadar latar, melainkan representasi dari relasi manusia (atau makhluk) dengan lingkungan yang kian rapuh. Isu yang digaungkan cukup jelas: eksploitasi alam, hilangnya habitat, dan konsekuensi moral dari kemajuan yang tak terkendali. Namun, yang menarik, Hoppers tidak memilih jalur alegori yang terlalu eksplisit seperti The Lorax. Jika The Lorax secara gamblang menghadirkan kapitalisme rakus melalui karakter Once-ler dan kehancuran hutan Truffula, Hoppers cenderung lebih subtil, membiarkan penonton merangkai sendiri makna dari konflik yang muncul.

Pendekatan ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Di satu sisi, Hoppers terasa lebih dewasa karena tidak menggurui. Ia memberi ruang tafsir, terutama bagi penonton yang sudah akrab dengan diskursus lingkungan. Namun di sisi lain, ketidakjelasan ini bisa membuat pesan film terasa kurang menggigit. Berbeda dengan The Lorax yang secara lugas menyampaikan kritik—bahkan hingga menjadi semacam slogan aktivisme—Hoppers kadang terjebak dalam ambiguitas yang justru melemahkan urgensinya.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Dari segi plot, Hoppers memiliki struktur yang cukup konvensional: perjalanan tokoh utama dari ketidaktahuan menuju kesadaran. Narasi berkembang melalui konflik eksternal—ancaman terhadap habitat—dan konflik internal—keraguan serta transformasi karakter. Sayangnya, perkembangan ini tidak selalu terasa organik. Beberapa titik perubahan tampak dipaksakan, seolah film terburu-buru mencapai klimaks tanpa memberi cukup waktu bagi penonton untuk terlibat secara emosional.

Sebagai perbandingan, The Lorax membangun progresi cerita yang lebih rapi. Transformasi Once-ler terasa gradual, didorong oleh pilihan-pilihan yang logis meskipun tragis. Penonton diajak menyaksikan kehancuran secara bertahap, sehingga dampaknya lebih membekas. Hoppers, sebaliknya, terkadang melompat dari satu konflik ke konflik lain tanpa jembatan yang kuat, membuat ritme cerita terasa tidak stabil.

Namun demikian, Hoppers memiliki keunggulan dalam eksplorasi dunia. World-building yang ditawarkan cukup imajinatif, dengan detail yang memperkaya pengalaman visual. Lingkungan yang digambarkan tidak hanya indah, tetapi juga menyiratkan ketegangan antara alam dan intervensi teknologi (sains). Di sinilah saya mulai menemukan kekhasan film ini. Ia  bukan sekadar cerita tentang penyelamatan alam, melainkan juga refleksi tentang bagaimana teknologi mengubah cara makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan.

Kualitas animasi Hoppers patut diapresiasi. Secara teknis, film ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam rendering tekstur dan pencahayaan. Detail pada lanskap—mulai dari dedaunan hingga efek air—terlihat hidup dan dinamis. Gerakan karakter pun cukup halus, meskipun pada beberapa adegan masih terasa kaku, terutama dalam ekspresi wajah yang kurang variatif.

Jika dibandingkan dengan The Lorax, yang dirilis lebih dari satu dekade lalu, Hoppers jelas unggul dalam aspek teknologi. The Lorax mengandalkan gaya visual yang lebih kartunis, dengan warna-warna cerah dan desain karakter yang sederhana namun ikonik. Sementara itu, Hoppers mencoba pendekatan yang lebih realistis, mendekati estetika animasi modern yang mengutamakan detail. Namun, keunggulan teknis ini tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan emosional. Justru kesederhanaan visual The Lorax membuatnya lebih mudah diingat, sementara kompleksitas Hoppers kadang terasa berjarak.

Dari segi karakterisasi, Hoppers menghadirkan tokoh-tokoh yang cukup beragam, tetapi tidak semuanya mendapatkan porsi pengembangan yang memadai. Tokoh utama memang mengalami perkembangan, tetapi karakter pendukung sering kali hanya berfungsi sebagai alat untuk mendorong plot. Hal ini berbeda dengan The Lorax, di mana bahkan karakter sekunder memiliki peran yang jelas dan kontribusi terhadap tema.

Dialog dalam Hoppers juga menjadi area yang bisa diperdebatkan. Beberapa bagian terasa kuat dan reflektif, terutama ketika menyentuh isu moral. Namun, ada pula dialog yang terdengar klise, seolah mengulang pesan yang sudah sering muncul dalam film bertema serupa. The Lorax, meskipun juga tidak lepas dari simplifikasi, berhasil mengemas dialog dengan lebih ringan dan mudah diingat, bahkan dalam bentuk lagu yang menjadi bagian integral dari narasi.

Yang menarik, Hoppers tampaknya mencoba menjangkau audiens yang lebih luas, tidak hanya anak-anak tetapi juga remaja dan dewasa. Hal ini terlihat dari kompleksitas tema dan pendekatan visualnya. Namun, ambisi ini belum sepenuhnya terwujud. Film ini berada di antara dua kutub: terlalu kompleks untuk anak-anak, tetapi belum cukup tajam untuk penonton dewasa. Sementara itu, The Lorax justru berhasil menyeimbangkan keduanya, menyampaikan pesan yang sederhana namun relevan bagi berbagai usia.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Sampai di sini, Hoppers adalah film yang penting, meskipun belum sepenuhnya berhasil. Ia menunjukkan bahwa animasi masih menjadi medium yang potensial untuk mengangkat isu-isu besar, terutama terkait lingkungan. Namun, untuk benar-benar berdampak, film semacam ini perlu menemukan keseimbangan antara pesan dan penyampaian, antara kompleksitas dan kejelasan.

Pada akhirnya, terlepas dari kesetengah hatian kritik sosial-ekologisnya, mengutip kata Alissa Wilkinson di  The New York Times , “ini adalah sebuah fabel dengan sentuhan kecintaan pada sains dan deretan karakter hewan yang memikat. Pilihan yang jauh lebih baik dibanding banyak film lain yang bisa saja Anda tonton di bioskop.”[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmfilm animasiWalt Disney Pictures
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Next Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co