4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2026
in Ulas Film
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk hiburan keluarga di akhir pekan. Lebih daripada itu, animasi garapan Pixar Animation Studios untuk Walt Disney Pictures itu juga merupakan medium kritik dan renungan bagi prilaku serakah manusia abad 21, di mana antroposentris telah menjerumuskan kita pada sifat superior—merasa jauh lebih unggul—atas mahkluk lain.

Dan benar. Setelah menonton Hoppers, dari kisah Mabel Tanaka (tokoh utama) bersama teman-teman satwanya: berang-berang yang tambun, beruang, kadal, katak, ular, ulat-ulat licik, dll—orang-orang kreatif di Pixar selalu punya kecenderungan untuk membuat cerita yang mengulik kategori dan taksonomi dunia alam, seperti kata Alissa Wilkinson di  The New York Times)—keyakinan saya semakin tebal bahwa film animasi kerap hadir sebagai medium yang tampak ringan tetapi menyimpan lapisan gagasan yang kompleks. Dalam konteks itu, Hoppers muncul sebagai salah satu karya yang mencoba menjembatani hiburan dengan kritik sosial-ekologis dengan imajinsi yang segar—walaupun tampaknya hanya setengah hati, tak keras, jelas, dan menonjok sebagaimana The Lorax (2012) garapan Chris Renaud, misalnya.

Disutradarai oleh Daniel Chong, fabel ini berkisah tentang Mabel Tanaka (disuarakan oleh Piper Curda), yang sejak kecil diajarkan oleh neneknya (Karen Huie) untuk mencintai hewan, tumbuhan, dan serangga yang menghuni padang kecil—dengan genangan air berkat bendungan berang-berang yang tenang—di dekat rumah sang nenek, tepat di pinggiran kota kecil bernama Beaverton. “Sulit untuk marah ketika kamu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar,” kata sang nenek kepada Mabel kecil yang mendorongnya untuk diam dan mengamati saat satwa-satwa muncul dari hutan dan perairan. Sebagai manusia, mereka pun merupakan bagian dari ekosistem tersebut, ujar sang nenek.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Saat berusia 19 tahun, Mabel telah menjadi mahasiswi pelindung padang tersebut yang penuh semangat dan keberanian. Namun, tempat itu berada dalam bahaya besar karena Wali Kota Beaverton yang populer dan tampan, Jerry (Jon Hamm), ingin membangun jalan lingkar yang melintasinya. Jerry mengklaim mendapat izin dari negara dengan alasan bahwa semua hewan telah meninggalkan padang itu. Dalam kepanikan, Mabel berkonsultasi dengan dosen biologinya, Dr. Sam (Kathy Najimy), yang memberitahunya bahwa ada satu cara untuk menyelamatkan padang tersebut: membuat koloni berang-berang kembali tinggal di sana. Sebagai spesies kunci, berang-berang beserta bendungannya akan menarik hewan-hewan lain kembali ke wilayah itu.

Sejak awal, Hoppers menempatkan dirinya sebagai film yang sadar akan krisis ekologis. Dunia yang dibangunnya bukan sekadar latar, melainkan representasi dari relasi manusia (atau makhluk) dengan lingkungan yang kian rapuh. Isu yang digaungkan cukup jelas: eksploitasi alam, hilangnya habitat, dan konsekuensi moral dari kemajuan yang tak terkendali. Namun, yang menarik, Hoppers tidak memilih jalur alegori yang terlalu eksplisit seperti The Lorax. Jika The Lorax secara gamblang menghadirkan kapitalisme rakus melalui karakter Once-ler dan kehancuran hutan Truffula, Hoppers cenderung lebih subtil, membiarkan penonton merangkai sendiri makna dari konflik yang muncul.

Pendekatan ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Di satu sisi, Hoppers terasa lebih dewasa karena tidak menggurui. Ia memberi ruang tafsir, terutama bagi penonton yang sudah akrab dengan diskursus lingkungan. Namun di sisi lain, ketidakjelasan ini bisa membuat pesan film terasa kurang menggigit. Berbeda dengan The Lorax yang secara lugas menyampaikan kritik—bahkan hingga menjadi semacam slogan aktivisme—Hoppers kadang terjebak dalam ambiguitas yang justru melemahkan urgensinya.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Dari segi plot, Hoppers memiliki struktur yang cukup konvensional: perjalanan tokoh utama dari ketidaktahuan menuju kesadaran. Narasi berkembang melalui konflik eksternal—ancaman terhadap habitat—dan konflik internal—keraguan serta transformasi karakter. Sayangnya, perkembangan ini tidak selalu terasa organik. Beberapa titik perubahan tampak dipaksakan, seolah film terburu-buru mencapai klimaks tanpa memberi cukup waktu bagi penonton untuk terlibat secara emosional.

Sebagai perbandingan, The Lorax membangun progresi cerita yang lebih rapi. Transformasi Once-ler terasa gradual, didorong oleh pilihan-pilihan yang logis meskipun tragis. Penonton diajak menyaksikan kehancuran secara bertahap, sehingga dampaknya lebih membekas. Hoppers, sebaliknya, terkadang melompat dari satu konflik ke konflik lain tanpa jembatan yang kuat, membuat ritme cerita terasa tidak stabil.

Namun demikian, Hoppers memiliki keunggulan dalam eksplorasi dunia. World-building yang ditawarkan cukup imajinatif, dengan detail yang memperkaya pengalaman visual. Lingkungan yang digambarkan tidak hanya indah, tetapi juga menyiratkan ketegangan antara alam dan intervensi teknologi (sains). Di sinilah saya mulai menemukan kekhasan film ini. Ia  bukan sekadar cerita tentang penyelamatan alam, melainkan juga refleksi tentang bagaimana teknologi mengubah cara makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan.

Kualitas animasi Hoppers patut diapresiasi. Secara teknis, film ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam rendering tekstur dan pencahayaan. Detail pada lanskap—mulai dari dedaunan hingga efek air—terlihat hidup dan dinamis. Gerakan karakter pun cukup halus, meskipun pada beberapa adegan masih terasa kaku, terutama dalam ekspresi wajah yang kurang variatif.

Jika dibandingkan dengan The Lorax, yang dirilis lebih dari satu dekade lalu, Hoppers jelas unggul dalam aspek teknologi. The Lorax mengandalkan gaya visual yang lebih kartunis, dengan warna-warna cerah dan desain karakter yang sederhana namun ikonik. Sementara itu, Hoppers mencoba pendekatan yang lebih realistis, mendekati estetika animasi modern yang mengutamakan detail. Namun, keunggulan teknis ini tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan emosional. Justru kesederhanaan visual The Lorax membuatnya lebih mudah diingat, sementara kompleksitas Hoppers kadang terasa berjarak.

Dari segi karakterisasi, Hoppers menghadirkan tokoh-tokoh yang cukup beragam, tetapi tidak semuanya mendapatkan porsi pengembangan yang memadai. Tokoh utama memang mengalami perkembangan, tetapi karakter pendukung sering kali hanya berfungsi sebagai alat untuk mendorong plot. Hal ini berbeda dengan The Lorax, di mana bahkan karakter sekunder memiliki peran yang jelas dan kontribusi terhadap tema.

Dialog dalam Hoppers juga menjadi area yang bisa diperdebatkan. Beberapa bagian terasa kuat dan reflektif, terutama ketika menyentuh isu moral. Namun, ada pula dialog yang terdengar klise, seolah mengulang pesan yang sudah sering muncul dalam film bertema serupa. The Lorax, meskipun juga tidak lepas dari simplifikasi, berhasil mengemas dialog dengan lebih ringan dan mudah diingat, bahkan dalam bentuk lagu yang menjadi bagian integral dari narasi.

Yang menarik, Hoppers tampaknya mencoba menjangkau audiens yang lebih luas, tidak hanya anak-anak tetapi juga remaja dan dewasa. Hal ini terlihat dari kompleksitas tema dan pendekatan visualnya. Namun, ambisi ini belum sepenuhnya terwujud. Film ini berada di antara dua kutub: terlalu kompleks untuk anak-anak, tetapi belum cukup tajam untuk penonton dewasa. Sementara itu, The Lorax justru berhasil menyeimbangkan keduanya, menyampaikan pesan yang sederhana namun relevan bagi berbagai usia.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Sampai di sini, Hoppers adalah film yang penting, meskipun belum sepenuhnya berhasil. Ia menunjukkan bahwa animasi masih menjadi medium yang potensial untuk mengangkat isu-isu besar, terutama terkait lingkungan. Namun, untuk benar-benar berdampak, film semacam ini perlu menemukan keseimbangan antara pesan dan penyampaian, antara kompleksitas dan kejelasan.

Pada akhirnya, terlepas dari kesetengah hatian kritik sosial-ekologisnya, mengutip kata Alissa Wilkinson di  The New York Times , “ini adalah sebuah fabel dengan sentuhan kecintaan pada sains dan deretan karakter hewan yang memikat. Pilihan yang jauh lebih baik dibanding banyak film lain yang bisa saja Anda tonton di bioskop.”[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmfilm animasiWalt Disney Pictures
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Next Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co