24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2026
in Ulas Film
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk hiburan keluarga di akhir pekan. Lebih daripada itu, animasi garapan Pixar Animation Studios untuk Walt Disney Pictures itu juga merupakan medium kritik dan renungan bagi prilaku serakah manusia abad 21, di mana antroposentris telah menjerumuskan kita pada sifat superior—merasa jauh lebih unggul—atas mahkluk lain.

Dan benar. Setelah menonton Hoppers, dari kisah Mabel Tanaka (tokoh utama) bersama teman-teman satwanya: berang-berang yang tambun, beruang, kadal, katak, ular, ulat-ulat licik, dll—orang-orang kreatif di Pixar selalu punya kecenderungan untuk membuat cerita yang mengulik kategori dan taksonomi dunia alam, seperti kata Alissa Wilkinson di  The New York Times)—keyakinan saya semakin tebal bahwa film animasi kerap hadir sebagai medium yang tampak ringan tetapi menyimpan lapisan gagasan yang kompleks. Dalam konteks itu, Hoppers muncul sebagai salah satu karya yang mencoba menjembatani hiburan dengan kritik sosial-ekologis dengan imajinsi yang segar—walaupun tampaknya hanya setengah hati, tak keras, jelas, dan menonjok sebagaimana The Lorax (2012) garapan Chris Renaud, misalnya.

Disutradarai oleh Daniel Chong, fabel ini berkisah tentang Mabel Tanaka (disuarakan oleh Piper Curda), yang sejak kecil diajarkan oleh neneknya (Karen Huie) untuk mencintai hewan, tumbuhan, dan serangga yang menghuni padang kecil—dengan genangan air berkat bendungan berang-berang yang tenang—di dekat rumah sang nenek, tepat di pinggiran kota kecil bernama Beaverton. “Sulit untuk marah ketika kamu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar,” kata sang nenek kepada Mabel kecil yang mendorongnya untuk diam dan mengamati saat satwa-satwa muncul dari hutan dan perairan. Sebagai manusia, mereka pun merupakan bagian dari ekosistem tersebut, ujar sang nenek.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Saat berusia 19 tahun, Mabel telah menjadi mahasiswi pelindung padang tersebut yang penuh semangat dan keberanian. Namun, tempat itu berada dalam bahaya besar karena Wali Kota Beaverton yang populer dan tampan, Jerry (Jon Hamm), ingin membangun jalan lingkar yang melintasinya. Jerry mengklaim mendapat izin dari negara dengan alasan bahwa semua hewan telah meninggalkan padang itu. Dalam kepanikan, Mabel berkonsultasi dengan dosen biologinya, Dr. Sam (Kathy Najimy), yang memberitahunya bahwa ada satu cara untuk menyelamatkan padang tersebut: membuat koloni berang-berang kembali tinggal di sana. Sebagai spesies kunci, berang-berang beserta bendungannya akan menarik hewan-hewan lain kembali ke wilayah itu.

Sejak awal, Hoppers menempatkan dirinya sebagai film yang sadar akan krisis ekologis. Dunia yang dibangunnya bukan sekadar latar, melainkan representasi dari relasi manusia (atau makhluk) dengan lingkungan yang kian rapuh. Isu yang digaungkan cukup jelas: eksploitasi alam, hilangnya habitat, dan konsekuensi moral dari kemajuan yang tak terkendali. Namun, yang menarik, Hoppers tidak memilih jalur alegori yang terlalu eksplisit seperti The Lorax. Jika The Lorax secara gamblang menghadirkan kapitalisme rakus melalui karakter Once-ler dan kehancuran hutan Truffula, Hoppers cenderung lebih subtil, membiarkan penonton merangkai sendiri makna dari konflik yang muncul.

Pendekatan ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Di satu sisi, Hoppers terasa lebih dewasa karena tidak menggurui. Ia memberi ruang tafsir, terutama bagi penonton yang sudah akrab dengan diskursus lingkungan. Namun di sisi lain, ketidakjelasan ini bisa membuat pesan film terasa kurang menggigit. Berbeda dengan The Lorax yang secara lugas menyampaikan kritik—bahkan hingga menjadi semacam slogan aktivisme—Hoppers kadang terjebak dalam ambiguitas yang justru melemahkan urgensinya.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Dari segi plot, Hoppers memiliki struktur yang cukup konvensional: perjalanan tokoh utama dari ketidaktahuan menuju kesadaran. Narasi berkembang melalui konflik eksternal—ancaman terhadap habitat—dan konflik internal—keraguan serta transformasi karakter. Sayangnya, perkembangan ini tidak selalu terasa organik. Beberapa titik perubahan tampak dipaksakan, seolah film terburu-buru mencapai klimaks tanpa memberi cukup waktu bagi penonton untuk terlibat secara emosional.

Sebagai perbandingan, The Lorax membangun progresi cerita yang lebih rapi. Transformasi Once-ler terasa gradual, didorong oleh pilihan-pilihan yang logis meskipun tragis. Penonton diajak menyaksikan kehancuran secara bertahap, sehingga dampaknya lebih membekas. Hoppers, sebaliknya, terkadang melompat dari satu konflik ke konflik lain tanpa jembatan yang kuat, membuat ritme cerita terasa tidak stabil.

Namun demikian, Hoppers memiliki keunggulan dalam eksplorasi dunia. World-building yang ditawarkan cukup imajinatif, dengan detail yang memperkaya pengalaman visual. Lingkungan yang digambarkan tidak hanya indah, tetapi juga menyiratkan ketegangan antara alam dan intervensi teknologi (sains). Di sinilah saya mulai menemukan kekhasan film ini. Ia  bukan sekadar cerita tentang penyelamatan alam, melainkan juga refleksi tentang bagaimana teknologi mengubah cara makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan.

Kualitas animasi Hoppers patut diapresiasi. Secara teknis, film ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam rendering tekstur dan pencahayaan. Detail pada lanskap—mulai dari dedaunan hingga efek air—terlihat hidup dan dinamis. Gerakan karakter pun cukup halus, meskipun pada beberapa adegan masih terasa kaku, terutama dalam ekspresi wajah yang kurang variatif.

Jika dibandingkan dengan The Lorax, yang dirilis lebih dari satu dekade lalu, Hoppers jelas unggul dalam aspek teknologi. The Lorax mengandalkan gaya visual yang lebih kartunis, dengan warna-warna cerah dan desain karakter yang sederhana namun ikonik. Sementara itu, Hoppers mencoba pendekatan yang lebih realistis, mendekati estetika animasi modern yang mengutamakan detail. Namun, keunggulan teknis ini tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan emosional. Justru kesederhanaan visual The Lorax membuatnya lebih mudah diingat, sementara kompleksitas Hoppers kadang terasa berjarak.

Dari segi karakterisasi, Hoppers menghadirkan tokoh-tokoh yang cukup beragam, tetapi tidak semuanya mendapatkan porsi pengembangan yang memadai. Tokoh utama memang mengalami perkembangan, tetapi karakter pendukung sering kali hanya berfungsi sebagai alat untuk mendorong plot. Hal ini berbeda dengan The Lorax, di mana bahkan karakter sekunder memiliki peran yang jelas dan kontribusi terhadap tema.

Dialog dalam Hoppers juga menjadi area yang bisa diperdebatkan. Beberapa bagian terasa kuat dan reflektif, terutama ketika menyentuh isu moral. Namun, ada pula dialog yang terdengar klise, seolah mengulang pesan yang sudah sering muncul dalam film bertema serupa. The Lorax, meskipun juga tidak lepas dari simplifikasi, berhasil mengemas dialog dengan lebih ringan dan mudah diingat, bahkan dalam bentuk lagu yang menjadi bagian integral dari narasi.

Yang menarik, Hoppers tampaknya mencoba menjangkau audiens yang lebih luas, tidak hanya anak-anak tetapi juga remaja dan dewasa. Hal ini terlihat dari kompleksitas tema dan pendekatan visualnya. Namun, ambisi ini belum sepenuhnya terwujud. Film ini berada di antara dua kutub: terlalu kompleks untuk anak-anak, tetapi belum cukup tajam untuk penonton dewasa. Sementara itu, The Lorax justru berhasil menyeimbangkan keduanya, menyampaikan pesan yang sederhana namun relevan bagi berbagai usia.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Sampai di sini, Hoppers adalah film yang penting, meskipun belum sepenuhnya berhasil. Ia menunjukkan bahwa animasi masih menjadi medium yang potensial untuk mengangkat isu-isu besar, terutama terkait lingkungan. Namun, untuk benar-benar berdampak, film semacam ini perlu menemukan keseimbangan antara pesan dan penyampaian, antara kompleksitas dan kejelasan.

Pada akhirnya, terlepas dari kesetengah hatian kritik sosial-ekologisnya, mengutip kata Alissa Wilkinson di  The New York Times , “ini adalah sebuah fabel dengan sentuhan kecintaan pada sains dan deretan karakter hewan yang memikat. Pilihan yang jauh lebih baik dibanding banyak film lain yang bisa saja Anda tonton di bioskop.”[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmfilm animasiWalt Disney Pictures
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Next Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co