25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2026
in Ulas Film
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk hiburan keluarga di akhir pekan. Lebih daripada itu, animasi garapan Pixar Animation Studios untuk Walt Disney Pictures itu juga merupakan medium kritik dan renungan bagi prilaku serakah manusia abad 21, di mana antroposentris telah menjerumuskan kita pada sifat superior—merasa jauh lebih unggul—atas mahkluk lain.

Dan benar. Setelah menonton Hoppers, dari kisah Mabel Tanaka (tokoh utama) bersama teman-teman satwanya: berang-berang yang tambun, beruang, kadal, katak, ular, ulat-ulat licik, dll—orang-orang kreatif di Pixar selalu punya kecenderungan untuk membuat cerita yang mengulik kategori dan taksonomi dunia alam, seperti kata Alissa Wilkinson di  The New York Times)—keyakinan saya semakin tebal bahwa film animasi kerap hadir sebagai medium yang tampak ringan tetapi menyimpan lapisan gagasan yang kompleks. Dalam konteks itu, Hoppers muncul sebagai salah satu karya yang mencoba menjembatani hiburan dengan kritik sosial-ekologis dengan imajinsi yang segar—walaupun tampaknya hanya setengah hati, tak keras, jelas, dan menonjok sebagaimana The Lorax (2012) garapan Chris Renaud, misalnya.

Disutradarai oleh Daniel Chong, fabel ini berkisah tentang Mabel Tanaka (disuarakan oleh Piper Curda), yang sejak kecil diajarkan oleh neneknya (Karen Huie) untuk mencintai hewan, tumbuhan, dan serangga yang menghuni padang kecil—dengan genangan air berkat bendungan berang-berang yang tenang—di dekat rumah sang nenek, tepat di pinggiran kota kecil bernama Beaverton. “Sulit untuk marah ketika kamu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar,” kata sang nenek kepada Mabel kecil yang mendorongnya untuk diam dan mengamati saat satwa-satwa muncul dari hutan dan perairan. Sebagai manusia, mereka pun merupakan bagian dari ekosistem tersebut, ujar sang nenek.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Saat berusia 19 tahun, Mabel telah menjadi mahasiswi pelindung padang tersebut yang penuh semangat dan keberanian. Namun, tempat itu berada dalam bahaya besar karena Wali Kota Beaverton yang populer dan tampan, Jerry (Jon Hamm), ingin membangun jalan lingkar yang melintasinya. Jerry mengklaim mendapat izin dari negara dengan alasan bahwa semua hewan telah meninggalkan padang itu. Dalam kepanikan, Mabel berkonsultasi dengan dosen biologinya, Dr. Sam (Kathy Najimy), yang memberitahunya bahwa ada satu cara untuk menyelamatkan padang tersebut: membuat koloni berang-berang kembali tinggal di sana. Sebagai spesies kunci, berang-berang beserta bendungannya akan menarik hewan-hewan lain kembali ke wilayah itu.

Sejak awal, Hoppers menempatkan dirinya sebagai film yang sadar akan krisis ekologis. Dunia yang dibangunnya bukan sekadar latar, melainkan representasi dari relasi manusia (atau makhluk) dengan lingkungan yang kian rapuh. Isu yang digaungkan cukup jelas: eksploitasi alam, hilangnya habitat, dan konsekuensi moral dari kemajuan yang tak terkendali. Namun, yang menarik, Hoppers tidak memilih jalur alegori yang terlalu eksplisit seperti The Lorax. Jika The Lorax secara gamblang menghadirkan kapitalisme rakus melalui karakter Once-ler dan kehancuran hutan Truffula, Hoppers cenderung lebih subtil, membiarkan penonton merangkai sendiri makna dari konflik yang muncul.

Pendekatan ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Di satu sisi, Hoppers terasa lebih dewasa karena tidak menggurui. Ia memberi ruang tafsir, terutama bagi penonton yang sudah akrab dengan diskursus lingkungan. Namun di sisi lain, ketidakjelasan ini bisa membuat pesan film terasa kurang menggigit. Berbeda dengan The Lorax yang secara lugas menyampaikan kritik—bahkan hingga menjadi semacam slogan aktivisme—Hoppers kadang terjebak dalam ambiguitas yang justru melemahkan urgensinya.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Dari segi plot, Hoppers memiliki struktur yang cukup konvensional: perjalanan tokoh utama dari ketidaktahuan menuju kesadaran. Narasi berkembang melalui konflik eksternal—ancaman terhadap habitat—dan konflik internal—keraguan serta transformasi karakter. Sayangnya, perkembangan ini tidak selalu terasa organik. Beberapa titik perubahan tampak dipaksakan, seolah film terburu-buru mencapai klimaks tanpa memberi cukup waktu bagi penonton untuk terlibat secara emosional.

Sebagai perbandingan, The Lorax membangun progresi cerita yang lebih rapi. Transformasi Once-ler terasa gradual, didorong oleh pilihan-pilihan yang logis meskipun tragis. Penonton diajak menyaksikan kehancuran secara bertahap, sehingga dampaknya lebih membekas. Hoppers, sebaliknya, terkadang melompat dari satu konflik ke konflik lain tanpa jembatan yang kuat, membuat ritme cerita terasa tidak stabil.

Namun demikian, Hoppers memiliki keunggulan dalam eksplorasi dunia. World-building yang ditawarkan cukup imajinatif, dengan detail yang memperkaya pengalaman visual. Lingkungan yang digambarkan tidak hanya indah, tetapi juga menyiratkan ketegangan antara alam dan intervensi teknologi (sains). Di sinilah saya mulai menemukan kekhasan film ini. Ia  bukan sekadar cerita tentang penyelamatan alam, melainkan juga refleksi tentang bagaimana teknologi mengubah cara makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan.

Kualitas animasi Hoppers patut diapresiasi. Secara teknis, film ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam rendering tekstur dan pencahayaan. Detail pada lanskap—mulai dari dedaunan hingga efek air—terlihat hidup dan dinamis. Gerakan karakter pun cukup halus, meskipun pada beberapa adegan masih terasa kaku, terutama dalam ekspresi wajah yang kurang variatif.

Jika dibandingkan dengan The Lorax, yang dirilis lebih dari satu dekade lalu, Hoppers jelas unggul dalam aspek teknologi. The Lorax mengandalkan gaya visual yang lebih kartunis, dengan warna-warna cerah dan desain karakter yang sederhana namun ikonik. Sementara itu, Hoppers mencoba pendekatan yang lebih realistis, mendekati estetika animasi modern yang mengutamakan detail. Namun, keunggulan teknis ini tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan emosional. Justru kesederhanaan visual The Lorax membuatnya lebih mudah diingat, sementara kompleksitas Hoppers kadang terasa berjarak.

Dari segi karakterisasi, Hoppers menghadirkan tokoh-tokoh yang cukup beragam, tetapi tidak semuanya mendapatkan porsi pengembangan yang memadai. Tokoh utama memang mengalami perkembangan, tetapi karakter pendukung sering kali hanya berfungsi sebagai alat untuk mendorong plot. Hal ini berbeda dengan The Lorax, di mana bahkan karakter sekunder memiliki peran yang jelas dan kontribusi terhadap tema.

Dialog dalam Hoppers juga menjadi area yang bisa diperdebatkan. Beberapa bagian terasa kuat dan reflektif, terutama ketika menyentuh isu moral. Namun, ada pula dialog yang terdengar klise, seolah mengulang pesan yang sudah sering muncul dalam film bertema serupa. The Lorax, meskipun juga tidak lepas dari simplifikasi, berhasil mengemas dialog dengan lebih ringan dan mudah diingat, bahkan dalam bentuk lagu yang menjadi bagian integral dari narasi.

Yang menarik, Hoppers tampaknya mencoba menjangkau audiens yang lebih luas, tidak hanya anak-anak tetapi juga remaja dan dewasa. Hal ini terlihat dari kompleksitas tema dan pendekatan visualnya. Namun, ambisi ini belum sepenuhnya terwujud. Film ini berada di antara dua kutub: terlalu kompleks untuk anak-anak, tetapi belum cukup tajam untuk penonton dewasa. Sementara itu, The Lorax justru berhasil menyeimbangkan keduanya, menyampaikan pesan yang sederhana namun relevan bagi berbagai usia.

Adegan dalam film Hoppers (2026) | Foto: disney.id

Sampai di sini, Hoppers adalah film yang penting, meskipun belum sepenuhnya berhasil. Ia menunjukkan bahwa animasi masih menjadi medium yang potensial untuk mengangkat isu-isu besar, terutama terkait lingkungan. Namun, untuk benar-benar berdampak, film semacam ini perlu menemukan keseimbangan antara pesan dan penyampaian, antara kompleksitas dan kejelasan.

Pada akhirnya, terlepas dari kesetengah hatian kritik sosial-ekologisnya, mengutip kata Alissa Wilkinson di  The New York Times , “ini adalah sebuah fabel dengan sentuhan kecintaan pada sains dan deretan karakter hewan yang memikat. Pilihan yang jauh lebih baik dibanding banyak film lain yang bisa saja Anda tonton di bioskop.”[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmfilm animasiWalt Disney Pictures
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Next Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co