12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
in Ulas Film
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Poster film Alas Roban | Unlimited Production

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata yang hidup di ingatan, bercampur antara pengalaman fisik, cerita lisan, dan mitos yang diwariskan dari mulut ke mulut. Kata itu selalu mengandung gema: angker, sepi, hutan jati yang panjang, kendaraan mogok, serta kisah orang hilang atau “dibawa” penunggu.

Maka, ketika sebuah film berjudul Alas Roban hadir di bioskop, ia tidak datang sebagai teks kosong. Ia langsung berdialog dengan memori kolektif penontonnya. Menonton film ini—dalam konteks personal, sebagai hiburan bersama istri setelah rutinitas—menjadi pengalaman hermeneutik: sebuah perjumpaan antara teks film, ingatan masa lalu, dan sistem kepercayaan Jawa yang telah lama membentuk cara kita memaknai ruang, waktu, dan yang gaib. Film ini tidak hanya “menakut-nakuti”, tetapi bekerja sebagai medium penafsiran ulang mitos Alas Roban dalam bahasa sinema kontemporer.

Produksi Era 90-an sebagai Strategi Hermeneutik

Salah satu kekuatan utama Alas Roban (2026) terletak pada totalitas desain produksinya. Bus antarkota, struktur bangunan, pasar tradisional, hingga suasana hutan jati, semuanya dikonstruksi dengan presisi yang meyakinkan penonton bahwa para karakter memang hidup di era 1990-an. Ini bukan sekadar nostalgia visual, melainkan strategi hermeneutik.

Dalam kerangka hermeneutika Hans-Georg Gadamer, pemahaman selalu terjadi melalui fusi horizon—pertemuan antara horizon masa lalu dan horizon masa kini. Dengan menghidupkan kembali era 90-an, film ini memperkecil jarak historis antara pengalaman personal penonton dan dunia naratif film. Penonton seusia saya tidak sedang “melihat” masa lalu, melainkan kembali masuk ke dalamnya.

Alas Roban, sebelum tol Trans Jawa, adalah ruang transisi: wilayah liminal antara kota dan kota, antara aman dan tidak aman, antara rasional dan irasional. Film ini berhasil mengembalikan Alas Roban sebagai ruang ambang (liminality), sebuah konsep penting dalam mitologi Jawa, di mana batas dunia manusia dan dunia gaib menjadi tipis.

Pewarnaan Warm dan Dialektika Horor–Kasih

Pilihan sinematografi dengan dominasi warna hangat (warm tone) menghadirkan paradoks menarik. Secara umum, horor identik dengan warna dingin, gelap, dan kontras tajam. Namun Alas Roban justru memilih pendekatan berbeda. Pewarnaan hangat ini bukan hanya menegaskan latar waktu, tetapi juga menjadi kode emosional.

Dalam pembacaan hermeneutik simbolik, warna hangat berfungsi ganda. Di satu sisi, ia memperhalus teror—membuat horor terasa “mendekat” dan akrab. Di sisi lain, ia memberi isyarat bahwa di balik kengerian, terdapat kisah manusiawi yang hangat: perjuangan seorang ibu untuk melindungi anaknya.

Di sinilah film ini bergerak melampaui horor sebagai genre sensasi. Ketakutan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berdampingan dengan kasih. Dalam mitologi Jawa, hubungan antara dunia gaib dan manusia jarang hitam-putih. Penunggu hutan tidak selalu jahat; mereka memiliki hukum, etika, dan relasi tertentu dengan manusia. Pewarnaan warm menjadi metafora visual atas ambiguitas tersebut.

Urban Legendsebagai Ingatan Kolektif

Bayangan urban legend Alas Roban membuat setiap jumpscare terasa lebih berdampak. Bukan karena efek visual semata, tetapi karena penonton telah membawa “teks lain” ke dalam pengalaman menonton: cerita sopir bus, kisah orang tua, pengalaman pribadi melewati hutan jati pada malam hari.

Dalam perspektif hermeneutika Paul Ricoeur, mitos bekerja sebagai narasi simbolik yang menyimpan kebenaran eksistensial, bukan kebenaran faktual. Film Alas Roban membaca ulang mitos ini bukan untuk membuktikan benar-salahnya, melainkan untuk menyingkap maknanya: rasa takut sebagai mekanisme sosial, sebagai cara masyarakat Jawa mengajarkan kehati-hatian terhadap ruang yang dianggap sakral.

Ketika jumpscare muncul, ia tidak berdiri sendiri. Ia beresonansi dengan memori kolektif penonton. Inilah sebabnya adegan-adegan mengejutkan terasa “lebih kena”: karena ketakutan itu telah lama hidup sebelum film ini dibuat.

Sosok Gendis dan Tanda dari Alam Gaib

Kemunculan sosok Gendis yang diperankan oleh Fara Shakila menjadi titik balik emosional sekaligus simbolik film ini. Gendis bukan sekadar korban atau medium horor. Ia adalah penanda—tubuh manusia yang ditandai oleh kekuatan gaib Alas Roban.

Dalam mitologi Jawa, penandaan oleh makhluk halus sering kali bukan hukuman, melainkan penetapan takdir atau posisi. Individu yang “dipilih” berada di antara dua dunia. Film ini menangkap konsep tersebut dengan cukup sensitif, terutama melalui ritual masuk ke alam gaib yang ditampilkan dengan nuansa sakral, bukan sensasional.

Ritual tersebut dapat dibaca sebagai bentuk rite of passage—peralihan status dari manusia biasa menuju subjek yang memahami hukum alam lain. Dalam hermeneutika mitos, ritual bukan sekadar adegan, melainkan teks budaya yang mengajarkan bahwa tidak semua wilayah boleh dimasuki tanpa izin, tanpa etika, dan tanpa kesiapan batin.

Alas Roban sebagai Metafora Jalan Hidup

Lebih jauh, Alas Roban dalam film ini dapat dibaca sebagai metafora perjalanan hidup. Jalan panjang, gelap, penuh risiko, tetapi harus dilalui demi tujuan tertentu. Dalam konteks cerita, tujuan itu adalah keselamatan anak; dalam konteks penonton, ia adalah perjalanan hidup itu sendiri.

Mitologi Jawa memandang jalan bukan sekadar ruang fisik, tetapi ruang spiritual. Setiap perjalanan mengandung kemungkinan pertemuan—dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan yang tak kasatmata. Film Alas Roban berhasil menghidupkan kembali cara pandang ini, tanpa perlu ceramah atau simbol yang terlalu eksplisit.

Horor sebagai Tafsir Kebudayaan

Alas Roban (2026) bukan film horor yang hanya mengandalkan teriakan dan bayangan. Ia adalah teks budaya yang membuka kembali dialog tentang mitos, ingatan kolektif, dan cara orang Jawa memaknai ruang angker. Melalui pendekatan visual era 90-an, pewarnaan hangat, dan narasi relasi ibu–anak, film ini menghadirkan horor sebagai pengalaman hermeneutik: ketakutan yang ditafsirkan, bukan sekadar dirasakan.

Bagi penonton yang pernah melewati Alas Roban sebelum tol Trans Jawa, film ini terasa seperti cermin retak: kita melihat masa lalu, mitos, dan diri kita sendiri di dalamnya. Dan mungkin, di situlah letak horor paling dalam—bukan pada penunggu hutan, melainkan pada kesadaran bahwa ketakutan itu telah lama tinggal dalam ingatan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmfilm hororhermeneutikajawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Next Post

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca —Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Omong Kutang Kutang

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca ---Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co