23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 23, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

Catatan Harian Sugi Lanus, 19 Januari 2026

Bagaimana pelaksanaan Tawur dan Nyepi menurut Parhyangan Besakih dan Desa Adat Besakih?

Awig-awig Desa Adat Besakih secara jelas menyebutkan Caru Tawur Kesanga dilaksanakan pada hari Tilem.

Berikut petikannya:

Pawos 38

(1) Satunggil ngewarsa rikalaning tilem sasih kesanga (9) kemargiyang caru tawur kesanga ngangge banteng makacihna pacang magpag rahina penyepian.
(2) Penyepian sane kemargian antuk kerama desa:
(Ha) Mati geni, tan kalugra ngendihang geni
(Na) Mati karya, tan kalugra ngambil seraja karya
(Ca) Mati lelungan, tan kalugra lunga ka margi agung utawi ka jaba desa
(Ra) Mati lelanguan, tan kalugra nyuarayang suaran gambelan maoneng onengan utawi sapanunggilannia.
(3) Berata penyepian inucap kemargian rahina ngawit saking semeng ngantos semeng benjange (matetenger suaran kulkul ring pura penataran agung).
(4) Riwus rahina nyepi (benjangne) maka cihna pengawit isaka warsa patut sowang-sowang warga kerama desa sami ngaksama utawi medharma sanhi.

LONTAR-LONTAR & PRASASTI BESAKIH

Isi dari Awig-awig Desa Adat Besakih yang menyatakan Caru Tawur Kesanga dilaksanakan pada hari Tilem sesuai dengan berbagai lontar-lontar Besakih.

Berikut list lontar-lontar kesejarahan dan aturan ritual dll yang menjadi pedoman Pura Kahyangan Jagat Besakih*.

A. KELOMPOK RAJA PURAN BESAKIH I (RPB I)

•⁠ ⁠Koleksi I Gusti Mangku Ngurah, Besakih
Manuskrip ini, tampaknya, sebelumnya disimpan di Merajan Selonding, Besakih. I Gusti Mangku Ngurah (I Gusti Mangku Kabayan), di rumahnya manuskrip ini sekarang disimpan untuk keamanan yang lebih besar, dengan ramah mengizinkan saya untuk mempelajari teks ini, pada hari yang tepat dan dengan persembahan yang sesuai. Saya tidak membuat transkripsi teks ini. Teks ini identik dengan manuskrip RPB I lainnya.

•⁠ ⁠Koleksi Padanda Gede Putra Telaga (Geria Gede, Banjarangkan)
Manuskrip ini (58 lembar) berisi teks Raja Purana BesakihI dan Raja Purana BesakihII.

•⁠ ⁠HKS.2590 –Raja Purana Pura Besakih
Lontar asli (28 lembar) dimiliki oleh I Gusti Agung Mas Putra, Lumintang, Denpasar. Transkripsi (18 halaman) oleh Sagung Putri, tertanggal 14 Oktober 1978.

•⁠ ⁠HKS. ? – – Pangandika ring Gunung Agung
Lontar asli (28 lembar) dalam koleksi I Dewa Wayan Pucangan, Jero Kanginan, Sidemen. Transkripsi Gusti Lanang Mantra, tertanggal 12 Mei 1979.

•⁠ ⁠Koleksi Grader, Perpustakaan Universitas, Leiden
Manuskrip ini, 36 halaman tulisan tangan di atas kertas bergaris, terdapat dalam map hijau bertanda “Archie£ Korn. NB.Prasasti Purana Pabantjangah Pura Besakih”. Pada saat penelitian saya, koleksi Grader belum dikatalogkan. Koleksi ini terdiri dari transkripsi yang telah dibagi menjadi pengantar dan 87 paragraf. Paragraf 1-82 berasal dari RPB I, paragraf 83-84 berasal dari RPB II (1.14-2.29: lih. ms.S), sedangkan paragraf 85-87 adalah memorandum tambahan yang tidak ditemukan dalam manuskrip lain.

•⁠ ⁠Prasasti Bali 907 (Selat B)
Prasasti ini, yang disebut “Bhatara Ratu Putra”, disimpan di desa Selat, di mana ia memainkan peran penting dalam upacara 107 tahun desa tersebut (Goris 1969, khususnya hlm. 101, 110; Goris 1954: I.46). Prasasti ini bertanggal Saka 1393. Teksnya sangat mirip dengan bagian dari RPI (5.20-7.25), dengan sedikit tambahan. Dalam transkripsi yang dibuat untuk Ketut Ginarsa, prasasti ini secara keliru disebut Prasasti Pura Pasar Agung.

•⁠ ⁠ Korn Col1.253/7
Manuskrip ini mencakup teks RPB I dalam aksara Bali di sisi kiri halaman, dan terjemahan ‘Melayu’ dalam aksara Latin di sisi kanan. Manuskrip diakhiri dengan kolofon singkat yang menyatakan bahwa transkripsi dan terjemahan adalah karya Gusti Putu Jiwa, pada saat itu (sekitar tahun 1922) kanca (juru tulis) pertama di Raad Kerta di Klungkung. Ia juga memberikan ringkasan tentang pentingnya Pura Besakih menurut sang [Ida Padanda] Gde Pidada, seorang anggota Raad Kerta. Manuskrip ini mungkin disiapkan untuk V.E.Korn, yang koleksinya kini berada di dalamnya lagi setelah berada dalam kepemilikan sementara C.Grader selama bertahun-tahun (Grader 1970:76).

•⁠ ⁠Museum Nasional No.958b — Prasasti Gunung Agung
Sumber ms. tidak dikenal. Dikutip dalam Jaarboek KBG 1933:346. Transkripsi diterbitkan oleh Hadisutjipto (1975).

•⁠ ⁠K.385 — Purana Kahyangan Besakih
Disalin dari buku (60 halaman) asli milik Puri Gobraja, Singaraja. Transkripsi karya I Gde Suparna (21 halaman). Dikutip dalam katalog Gedong Kirtya sekitar tahun 1935.

•⁠ ⁠K.1341 — Rajapurana Pura Besakih
Disalin dari buku catatan aslinya milik C.Grader, Controleur di Singaraja. Ringkasan dalam Goris 1937. Transkripsi oleh I K. Windia (28 lembar, 21 halaman), tertanggal 4 Oktober 1977.

•⁠ ⁠Anandakusuma 1978 — Raja Purana Pura Besakih
Buku kecil berstempel yang diterbitkan oleh Satya Hindu Dharma, Klungkung, 1978 (28 halaman). Sumber teks tidak disebutkan. Editor membagi teks menjadi 20 bagian, bagian terakhir tidak ditemukan dalam manuskrip RPB lainnya, tetapi dikenal dalam teks dari Besakih (HKS.3828, SF-Bes.3).

B. KELOMPOK RAJA PURAN BESAKIH II (RPB II)

•⁠ ⁠Raja Purana Besakih Ki Kabayan Basukih, aparab Ki Tonjaha (Catatan: Referensi ke teks adalah ke halaman dan baris manuskrip Q)

•⁠ ⁠(P) K.153 – – Rajapurana
Lontar asli (24 lembar) dalam koleksi Ida Made Bukian, Sanur, Badung. Transkripsi (21 halaman) oleh I Mangku Resi Kadjeng, tertanggal 16 Agustus 1948. Manuskrip ini berisi dua karya terpisah, yang pertama (lembar 1-15b), yang kedua (lembar 15b-24b) berisi Purana Tatwa Gagaduhan’ sesuai dengan kata-kata terakhirnya. Namun, teks yang terakhir ini tidak terlepas dari Besakih; teks ini juga membahas berbagai hal lainnya.

•⁠ ⁠(Q) L.Or. 13.607 – – Rajapurana
Dikatakan berasal dari lontar asli (24 lembar) dalam koleksi I Gusti Bagus Kuta, Jero Celuk Negara, Amlapura. Transkripsi (15 halaman) oleh I Gusti Ngurah Rai. Teks ini identik dengan K. 1531, bahkan hingga pemisah antar lembar. Ada kemungkinan transkripsi tersebut disalin dari K.l531.

(•⁠ ⁠R) K.955 – – Babad Pasek Gelgel
Manuskrip asli berada dalam koleksi Anak Agung Putu Djlantik, raja Buleleng. Manuskrip dimulai dengan teks Babad Pasek Gelgel (lembar lb-19a), dilanjutkan dengan teks RPB II (19b-41b) yang berisi beberapa bagian tambahan (36b-39a), beberapa bagian dari RPB I (41b-45a = RPB I 2.23-5.19), dan diakhiri dengan bagian yang tidak ditemukan dalam manuskrip lain (45a-53a).

*Silahkan lebih terinci tentang Parahyangan Besakih bisa dibaca disertasi David J. Stuart-Fox yang telah disidangkan tahun 1987 untuk gelar Doctor of Philosophy di The Australian National University, disertasinya berjudul: PURA BESAKIH, A Study of Balinese Religion and Society.

Tags: besakihHari Raya Nyepilontarsastra balitilem kasanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Next Post

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co