3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
January 23, 2026
in Cerpen
Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN tak kunjung turun, tapi langit tampak malas untuk bersinar sejak sore tadi. Warnanya abu-abu serupa kaus kaki yang sudah seminggu tak dicuci, digulung-gulung begitu saja lalu dilempar ke pojok lemari.

Ranti berdiri diam di depan sebuah warung kelontong tua, tubuhnya basah kuyup bukan karena hujan, tapi karena peluh dan sisa air dari ember yang tadi ia pakai buat menyiram halaman rumah. Ibu tirinya baru saja melempar ember itu ke arahnya. Alasannya sederhana, Ranti lupa membuang plastik bekas mi instan dari meja makan. Masalah yang mungkin bisa diselesaikan dengan satu kalimat tenang, tapi tentu saja bukan itu gaya hidup di rumah petak nomor tujuh itu.

“Lagi-lagi kamu bikin malu! Mau jadi perempuan macam apa kalau begini terus?” suara Ibu Yanti menggema di kepalanya, bercampur dengan dengungan lalat dan iklan sabun pembersih kewanitaan yang entah mengapa terus berputar di radio butut mereka.

Ranti hanya memegang sandal jepit pink miliknya yang tinggal sebelah. Bukan sandal baru, bahkan bukan miliknya sejak awal. Sandal itu ia temukan di halaman belakang sekolah dua tahun lalu, dan sejak itu ia merasa memiliki. Sebelahnya hilang seminggu lalu, saat ia nekat kabur ke taman kota selepas dipukul karena menumpahkan sayur.

Di dalam kantong plastik hitam yang ia peluk, ada sebilah pisau dapur. Benda itu ia bawa bukan karena hendak melakukan sesuatu yang dramatis seperti dalam sinetron, tapi karena ia mencurinya dari dapur sebelum keluar rumah. Pisau itu, pikirnya, akan berguna jika nanti ia bertemu anjing, atau laki-laki yang mendekat tanpa alasan jelas.

Dia berjalan pelan ke taman kota, tempat di mana orang-orang berpura-pura bahagia. Orang-orang dengan sepeda lipat mahal, keluarga kecil dengan stroller, dan remaja yang sibuk ber-selfie sambil menata rambut.

Tak ada yang menyadari kehadirannya. Mungkin lebih tepatnya tak ada yang peduli. Di bawah pohon kersen yang cukup besar untuk dijadikan tempat duduk dan menangis secara bersamaan, Ranti berhenti. Ia melempar plastik berisi pisau ke rumput, lalu duduk memeluk lutut. Sebuah mural penuh warna di dinding taman menatapnya tajam, gambar seorang anak dengan balon berbentuk hati yang terbang meninggalkannya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan?” tiba-tiba ada suara.

Ranti menoleh cepat. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki dengan rambut acak-acakan dan kaus bertuliskan Make Coffee, Not War. Wajahnya dan penampilannya sedikit berantakan.

“Apa?” tanya Ranti, bukan karena ingin tahu, tapi karena tak mengerti kenapa lelaki itu duduk begitu saja di dekatnya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan? Aku serius.”

“Kenapa kamu pikir aku mau mati?”

“Karena kamu membawa pisau dan ekspresimu kayak itik yang ditinggal induknya padahal belum belajar berenang.”

Ranti memandangnya tajam. “Kamu aneh.”

“Terima kasih. Aku Troy.” Ia mengulurkan tangan yang penuh bekas tinta spidol.

Ranti tak menyambutnya.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit, hanya sesekali terdengar anak kecil tertawa di kejauhan dan bunyi klakson dari jalan utama. Daun-daun kersen gugur pelan, bagai salju dalam versi tropis.

“Aku kehilangan sandal,” ucap Ranti tiba-tiba. “Yang satunya. Ini tinggal sebelah.”

Troy menatap sandal pink yang penuh lecet itu. “Sayang ya. Mungkin dia nggak kuat hidup bareng kamu.”

Ranti menghela napas, tidak yakin apakah harus tertawa atau menghajar lelaki itu dengan sandal.

“Aku tinggal di rumah yang selalu merasa kekurangan, bahkan untuk kasih sayang. Ibuku, ya, mungkin bukan ibuku. Dia cuma perempuan yang dipaksa memelihara anak orang yang wajahnya mirip suaminya. Dan aku terlalu mirip.”

Troy mengangguk entah sudah tahu. Atau berpura-pura.

“Pisau itu buat siapa?” tanyanya pelan.

“Entahlah. Mungkin buat anjing. Mungkin buat aku sendiri. Atau siapa pun yang kebetulan lewat.”

“Hm,” Troy mengeluarkan sebungkus kerupuk dari kantong jaketnya. “Mau?”

Ranti menolak dengan tatapan malas. Seakan waktu berlalu lambat. Hujan belum turun, tapi langit sudah semakin muram.

“Aku sering ke sini,” ucap Troy kemudian. “Tempat ini baik. Kadang kalau duduk lama, kamu bisa lihat ada anak kucing menyusui di balik semak. Kadang kamu juga bisa dengar orang nyanyi lagu pop Korea sambil nangis.”

Ranti masih menatap kosong. Tapi kali ini lebih pelan, lebih ringan. “Kamu tinggal di mana?” tanya Ranti akhirnya.

“Di mana saja. Pernah di teras kantor kelurahan, pernah juga di bekas halte yang sudah roboh. Tapi sekarang lagi menetap di bangku taman ini, udah seminggu.”

“Kenapa nggak cari kerja?”

Troy tertawa pelan. “Karena aku terlalu terlatih buat hidup tanpa uang, tapi terlalu payah buat hidup dengan disiplin. Dan orang macam aku lebih cocok jadi mural di tembok daripada jadi kasir Indomaret.”

Mereka tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa Ranti terdengar lepas. Seperti sesuatu yang tercecer, lalu akhirnya ditemukan kembali.

Troy tiba-tiba berdiri dan berjingkat, lalu berjalan ke arah trotoar. Ia mengambil sesuatu dari balik tiang lampu dan kembali dengan dua buah es lilin warna merah muda di tangan

“Selamat datang di pesta kemiskinan elegan,” katanya sambil menyerahkan satu pada Ranti.

Ranti menerimanya dengan bingung. “Kamu curi?”

“Enggak. Penjualnya temanku. Dia udah pasrah sama hidup dan dagangannya.”

Ranti menggigit ujung es lilin itu. Dingin dan manis. Sebuah penghiburan murahan yang ternyata cukup ampuh. “Apa kamu enggak capek hidup kayak gitu?”

Troy duduk lagi. “Capek. Tapi aku nggak cukup penting buat siapa-siapa. Jadi ya, hidup ini semacam bonus.”

Ranti menatapnya. “Apa kamu pernah merasa ingin hilang?”

“Pernah. Tapi tiap kali aku ingin, dunia kayak sengaja makin nunjukkin aku. Polisi nyari, satpam ngusir, tetangga ngomel. Hilang itu ternyata lebih susah daripada mati.”

Ranti tersenyum kecil. “Kamu sok filosofis.”

“Terima kasih. Itu hinaan terbaik yang pernah aku terima.”

Hari mulai gelap. Lampu taman menyala satu per satu. Troy berdiri, lalu mengambil plastik hitam yang tadi dibawa Ranti.

“Pisau ini nggak cocok buat kamu. Kamu nggak punya cukup niat buat menyakiti. Dan itu bukan hinaan.”

Ranti mengangguk, meskipun tak yakin dia setuju. Lalu berkata, “Aku masih penasaran ke mana sandal sebelahku.”

Troy berpikir sejenak. “Mungkin sandal itu menemukan hidup baru. Atau dipakai malaikat yang kebetulan cuma punya satu kaki.”

“Kamu gila,” gumam Ranti.

“Mungkin,” kata Troy sambil menjauh.

Ranti berdiri pelan. Langkahnya berat. Ia berjalan melintasi taman yang mulai sepi, menyusuri jalan setapak di antara semak dan rumput yang basah. Kepalanya terasa ringan, seolah tadi ada sesuatu yang keluar tanpa benar-benar ia sadari.

Ia sempat berhenti di depan dinding mural anak dengan balon hati itu. Kali ini ia tak hanya melihat lukisan, tapi juga bayangannya sendiri di kaca etalase toko yang tertutup di belakangnya. Wajahnya tampak, berbeda. Masih murung, tapi tidak lagi pecah.

Di depan gerbang taman, ia kembali ke tempat tadi dan duduk lagi di sana. Pohon kersen masih berdiri, gelap dan diam. Bangku taman kosong. Tak ada siapa-siapa. Tapi ia bisa membayangkan Troy masih duduk di sana, memeluk dunia dengan cara yang aneh.

Lima menit kemudian, Ranti masih duduk sendiri di bawah pohon kersen. Ia menarik napas panjang. Pisau sudah dibawa pergi. Troy juga sudah hilang entah ke mana. Ia melihat ke arah sandal pink-nya yang basah, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil di punggung.

Saat ia berdiri hendak pulang, matanya menangkap sesuatu di balik semak. Ia mendekat. Dan di sana, di antara rumput dan bunga liar, tergeletak sandal pink yang persis dengan miliknya, sebelah yang hilang.

Ranti mengambilnya pelan, kaget sekaligus geli.

Tanpa pikir panjang, ia berjalan pulang. Ke rumah petak nomor tujuh. Ke ibu yang mungkin sudah tertidur atau masih memaki dalam hati. Ke tempat yang sama, tapi dengan dua sandal yang utuh.

Dan tanpa ada yang tahu, di belakang pohon kersen itu, Troy duduk lagi. Menyimpan pisau di bawah jaketnya. Dan sepasang sandal butut yang kini tinggal satu. Di bawah cahaya temaram lampu taman, Troy menyender pelan. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan secarik foto kecil yang sudah mulai luntur. Seorang gadis kecil tersenyum di situ, memegang dua sandal pink yang sama persis. “Dua tahun lalu,” gumamnya. Ia menyelipkan kembali foto itu ke saku jaket, menatap langit yang masih kelabu. Mungkin sandal itu memang bukan milik Ranti. Tapi barangkali, dengan memberikannya, ia bisa mengembalikan sesuatu yang lebih sulit. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Willy Fahmy Agiska | kumpulan puisi, 2026 | Jalan Baru 

Next Post

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co