14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
January 23, 2026
in Cerpen
Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN tak kunjung turun, tapi langit tampak malas untuk bersinar sejak sore tadi. Warnanya abu-abu serupa kaus kaki yang sudah seminggu tak dicuci, digulung-gulung begitu saja lalu dilempar ke pojok lemari.

Ranti berdiri diam di depan sebuah warung kelontong tua, tubuhnya basah kuyup bukan karena hujan, tapi karena peluh dan sisa air dari ember yang tadi ia pakai buat menyiram halaman rumah. Ibu tirinya baru saja melempar ember itu ke arahnya. Alasannya sederhana, Ranti lupa membuang plastik bekas mi instan dari meja makan. Masalah yang mungkin bisa diselesaikan dengan satu kalimat tenang, tapi tentu saja bukan itu gaya hidup di rumah petak nomor tujuh itu.

“Lagi-lagi kamu bikin malu! Mau jadi perempuan macam apa kalau begini terus?” suara Ibu Yanti menggema di kepalanya, bercampur dengan dengungan lalat dan iklan sabun pembersih kewanitaan yang entah mengapa terus berputar di radio butut mereka.

Ranti hanya memegang sandal jepit pink miliknya yang tinggal sebelah. Bukan sandal baru, bahkan bukan miliknya sejak awal. Sandal itu ia temukan di halaman belakang sekolah dua tahun lalu, dan sejak itu ia merasa memiliki. Sebelahnya hilang seminggu lalu, saat ia nekat kabur ke taman kota selepas dipukul karena menumpahkan sayur.

Di dalam kantong plastik hitam yang ia peluk, ada sebilah pisau dapur. Benda itu ia bawa bukan karena hendak melakukan sesuatu yang dramatis seperti dalam sinetron, tapi karena ia mencurinya dari dapur sebelum keluar rumah. Pisau itu, pikirnya, akan berguna jika nanti ia bertemu anjing, atau laki-laki yang mendekat tanpa alasan jelas.

Dia berjalan pelan ke taman kota, tempat di mana orang-orang berpura-pura bahagia. Orang-orang dengan sepeda lipat mahal, keluarga kecil dengan stroller, dan remaja yang sibuk ber-selfie sambil menata rambut.

Tak ada yang menyadari kehadirannya. Mungkin lebih tepatnya tak ada yang peduli. Di bawah pohon kersen yang cukup besar untuk dijadikan tempat duduk dan menangis secara bersamaan, Ranti berhenti. Ia melempar plastik berisi pisau ke rumput, lalu duduk memeluk lutut. Sebuah mural penuh warna di dinding taman menatapnya tajam, gambar seorang anak dengan balon berbentuk hati yang terbang meninggalkannya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan?” tiba-tiba ada suara.

Ranti menoleh cepat. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki dengan rambut acak-acakan dan kaus bertuliskan Make Coffee, Not War. Wajahnya dan penampilannya sedikit berantakan.

“Apa?” tanya Ranti, bukan karena ingin tahu, tapi karena tak mengerti kenapa lelaki itu duduk begitu saja di dekatnya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan? Aku serius.”

“Kenapa kamu pikir aku mau mati?”

“Karena kamu membawa pisau dan ekspresimu kayak itik yang ditinggal induknya padahal belum belajar berenang.”

Ranti memandangnya tajam. “Kamu aneh.”

“Terima kasih. Aku Troy.” Ia mengulurkan tangan yang penuh bekas tinta spidol.

Ranti tak menyambutnya.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit, hanya sesekali terdengar anak kecil tertawa di kejauhan dan bunyi klakson dari jalan utama. Daun-daun kersen gugur pelan, bagai salju dalam versi tropis.

“Aku kehilangan sandal,” ucap Ranti tiba-tiba. “Yang satunya. Ini tinggal sebelah.”

Troy menatap sandal pink yang penuh lecet itu. “Sayang ya. Mungkin dia nggak kuat hidup bareng kamu.”

Ranti menghela napas, tidak yakin apakah harus tertawa atau menghajar lelaki itu dengan sandal.

“Aku tinggal di rumah yang selalu merasa kekurangan, bahkan untuk kasih sayang. Ibuku, ya, mungkin bukan ibuku. Dia cuma perempuan yang dipaksa memelihara anak orang yang wajahnya mirip suaminya. Dan aku terlalu mirip.”

Troy mengangguk entah sudah tahu. Atau berpura-pura.

“Pisau itu buat siapa?” tanyanya pelan.

“Entahlah. Mungkin buat anjing. Mungkin buat aku sendiri. Atau siapa pun yang kebetulan lewat.”

“Hm,” Troy mengeluarkan sebungkus kerupuk dari kantong jaketnya. “Mau?”

Ranti menolak dengan tatapan malas. Seakan waktu berlalu lambat. Hujan belum turun, tapi langit sudah semakin muram.

“Aku sering ke sini,” ucap Troy kemudian. “Tempat ini baik. Kadang kalau duduk lama, kamu bisa lihat ada anak kucing menyusui di balik semak. Kadang kamu juga bisa dengar orang nyanyi lagu pop Korea sambil nangis.”

Ranti masih menatap kosong. Tapi kali ini lebih pelan, lebih ringan. “Kamu tinggal di mana?” tanya Ranti akhirnya.

“Di mana saja. Pernah di teras kantor kelurahan, pernah juga di bekas halte yang sudah roboh. Tapi sekarang lagi menetap di bangku taman ini, udah seminggu.”

“Kenapa nggak cari kerja?”

Troy tertawa pelan. “Karena aku terlalu terlatih buat hidup tanpa uang, tapi terlalu payah buat hidup dengan disiplin. Dan orang macam aku lebih cocok jadi mural di tembok daripada jadi kasir Indomaret.”

Mereka tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa Ranti terdengar lepas. Seperti sesuatu yang tercecer, lalu akhirnya ditemukan kembali.

Troy tiba-tiba berdiri dan berjingkat, lalu berjalan ke arah trotoar. Ia mengambil sesuatu dari balik tiang lampu dan kembali dengan dua buah es lilin warna merah muda di tangan

“Selamat datang di pesta kemiskinan elegan,” katanya sambil menyerahkan satu pada Ranti.

Ranti menerimanya dengan bingung. “Kamu curi?”

“Enggak. Penjualnya temanku. Dia udah pasrah sama hidup dan dagangannya.”

Ranti menggigit ujung es lilin itu. Dingin dan manis. Sebuah penghiburan murahan yang ternyata cukup ampuh. “Apa kamu enggak capek hidup kayak gitu?”

Troy duduk lagi. “Capek. Tapi aku nggak cukup penting buat siapa-siapa. Jadi ya, hidup ini semacam bonus.”

Ranti menatapnya. “Apa kamu pernah merasa ingin hilang?”

“Pernah. Tapi tiap kali aku ingin, dunia kayak sengaja makin nunjukkin aku. Polisi nyari, satpam ngusir, tetangga ngomel. Hilang itu ternyata lebih susah daripada mati.”

Ranti tersenyum kecil. “Kamu sok filosofis.”

“Terima kasih. Itu hinaan terbaik yang pernah aku terima.”

Hari mulai gelap. Lampu taman menyala satu per satu. Troy berdiri, lalu mengambil plastik hitam yang tadi dibawa Ranti.

“Pisau ini nggak cocok buat kamu. Kamu nggak punya cukup niat buat menyakiti. Dan itu bukan hinaan.”

Ranti mengangguk, meskipun tak yakin dia setuju. Lalu berkata, “Aku masih penasaran ke mana sandal sebelahku.”

Troy berpikir sejenak. “Mungkin sandal itu menemukan hidup baru. Atau dipakai malaikat yang kebetulan cuma punya satu kaki.”

“Kamu gila,” gumam Ranti.

“Mungkin,” kata Troy sambil menjauh.

Ranti berdiri pelan. Langkahnya berat. Ia berjalan melintasi taman yang mulai sepi, menyusuri jalan setapak di antara semak dan rumput yang basah. Kepalanya terasa ringan, seolah tadi ada sesuatu yang keluar tanpa benar-benar ia sadari.

Ia sempat berhenti di depan dinding mural anak dengan balon hati itu. Kali ini ia tak hanya melihat lukisan, tapi juga bayangannya sendiri di kaca etalase toko yang tertutup di belakangnya. Wajahnya tampak, berbeda. Masih murung, tapi tidak lagi pecah.

Di depan gerbang taman, ia kembali ke tempat tadi dan duduk lagi di sana. Pohon kersen masih berdiri, gelap dan diam. Bangku taman kosong. Tak ada siapa-siapa. Tapi ia bisa membayangkan Troy masih duduk di sana, memeluk dunia dengan cara yang aneh.

Lima menit kemudian, Ranti masih duduk sendiri di bawah pohon kersen. Ia menarik napas panjang. Pisau sudah dibawa pergi. Troy juga sudah hilang entah ke mana. Ia melihat ke arah sandal pink-nya yang basah, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil di punggung.

Saat ia berdiri hendak pulang, matanya menangkap sesuatu di balik semak. Ia mendekat. Dan di sana, di antara rumput dan bunga liar, tergeletak sandal pink yang persis dengan miliknya, sebelah yang hilang.

Ranti mengambilnya pelan, kaget sekaligus geli.

Tanpa pikir panjang, ia berjalan pulang. Ke rumah petak nomor tujuh. Ke ibu yang mungkin sudah tertidur atau masih memaki dalam hati. Ke tempat yang sama, tapi dengan dua sandal yang utuh.

Dan tanpa ada yang tahu, di belakang pohon kersen itu, Troy duduk lagi. Menyimpan pisau di bawah jaketnya. Dan sepasang sandal butut yang kini tinggal satu. Di bawah cahaya temaram lampu taman, Troy menyender pelan. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan secarik foto kecil yang sudah mulai luntur. Seorang gadis kecil tersenyum di situ, memegang dua sandal pink yang sama persis. “Dua tahun lalu,” gumamnya. Ia menyelipkan kembali foto itu ke saku jaket, menatap langit yang masih kelabu. Mungkin sandal itu memang bukan milik Ranti. Tapi barangkali, dengan memberikannya, ia bisa mengembalikan sesuatu yang lebih sulit. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Willy Fahmy Agiska | kumpulan puisi, 2026 | Jalan Baru 

Next Post

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co