23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
January 23, 2026
in Cerpen
Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN tak kunjung turun, tapi langit tampak malas untuk bersinar sejak sore tadi. Warnanya abu-abu serupa kaus kaki yang sudah seminggu tak dicuci, digulung-gulung begitu saja lalu dilempar ke pojok lemari.

Ranti berdiri diam di depan sebuah warung kelontong tua, tubuhnya basah kuyup bukan karena hujan, tapi karena peluh dan sisa air dari ember yang tadi ia pakai buat menyiram halaman rumah. Ibu tirinya baru saja melempar ember itu ke arahnya. Alasannya sederhana, Ranti lupa membuang plastik bekas mi instan dari meja makan. Masalah yang mungkin bisa diselesaikan dengan satu kalimat tenang, tapi tentu saja bukan itu gaya hidup di rumah petak nomor tujuh itu.

“Lagi-lagi kamu bikin malu! Mau jadi perempuan macam apa kalau begini terus?” suara Ibu Yanti menggema di kepalanya, bercampur dengan dengungan lalat dan iklan sabun pembersih kewanitaan yang entah mengapa terus berputar di radio butut mereka.

Ranti hanya memegang sandal jepit pink miliknya yang tinggal sebelah. Bukan sandal baru, bahkan bukan miliknya sejak awal. Sandal itu ia temukan di halaman belakang sekolah dua tahun lalu, dan sejak itu ia merasa memiliki. Sebelahnya hilang seminggu lalu, saat ia nekat kabur ke taman kota selepas dipukul karena menumpahkan sayur.

Di dalam kantong plastik hitam yang ia peluk, ada sebilah pisau dapur. Benda itu ia bawa bukan karena hendak melakukan sesuatu yang dramatis seperti dalam sinetron, tapi karena ia mencurinya dari dapur sebelum keluar rumah. Pisau itu, pikirnya, akan berguna jika nanti ia bertemu anjing, atau laki-laki yang mendekat tanpa alasan jelas.

Dia berjalan pelan ke taman kota, tempat di mana orang-orang berpura-pura bahagia. Orang-orang dengan sepeda lipat mahal, keluarga kecil dengan stroller, dan remaja yang sibuk ber-selfie sambil menata rambut.

Tak ada yang menyadari kehadirannya. Mungkin lebih tepatnya tak ada yang peduli. Di bawah pohon kersen yang cukup besar untuk dijadikan tempat duduk dan menangis secara bersamaan, Ranti berhenti. Ia melempar plastik berisi pisau ke rumput, lalu duduk memeluk lutut. Sebuah mural penuh warna di dinding taman menatapnya tajam, gambar seorang anak dengan balon berbentuk hati yang terbang meninggalkannya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan?” tiba-tiba ada suara.

Ranti menoleh cepat. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki dengan rambut acak-acakan dan kaus bertuliskan Make Coffee, Not War. Wajahnya dan penampilannya sedikit berantakan.

“Apa?” tanya Ranti, bukan karena ingin tahu, tapi karena tak mengerti kenapa lelaki itu duduk begitu saja di dekatnya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan? Aku serius.”

“Kenapa kamu pikir aku mau mati?”

“Karena kamu membawa pisau dan ekspresimu kayak itik yang ditinggal induknya padahal belum belajar berenang.”

Ranti memandangnya tajam. “Kamu aneh.”

“Terima kasih. Aku Troy.” Ia mengulurkan tangan yang penuh bekas tinta spidol.

Ranti tak menyambutnya.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit, hanya sesekali terdengar anak kecil tertawa di kejauhan dan bunyi klakson dari jalan utama. Daun-daun kersen gugur pelan, bagai salju dalam versi tropis.

“Aku kehilangan sandal,” ucap Ranti tiba-tiba. “Yang satunya. Ini tinggal sebelah.”

Troy menatap sandal pink yang penuh lecet itu. “Sayang ya. Mungkin dia nggak kuat hidup bareng kamu.”

Ranti menghela napas, tidak yakin apakah harus tertawa atau menghajar lelaki itu dengan sandal.

“Aku tinggal di rumah yang selalu merasa kekurangan, bahkan untuk kasih sayang. Ibuku, ya, mungkin bukan ibuku. Dia cuma perempuan yang dipaksa memelihara anak orang yang wajahnya mirip suaminya. Dan aku terlalu mirip.”

Troy mengangguk entah sudah tahu. Atau berpura-pura.

“Pisau itu buat siapa?” tanyanya pelan.

“Entahlah. Mungkin buat anjing. Mungkin buat aku sendiri. Atau siapa pun yang kebetulan lewat.”

“Hm,” Troy mengeluarkan sebungkus kerupuk dari kantong jaketnya. “Mau?”

Ranti menolak dengan tatapan malas. Seakan waktu berlalu lambat. Hujan belum turun, tapi langit sudah semakin muram.

“Aku sering ke sini,” ucap Troy kemudian. “Tempat ini baik. Kadang kalau duduk lama, kamu bisa lihat ada anak kucing menyusui di balik semak. Kadang kamu juga bisa dengar orang nyanyi lagu pop Korea sambil nangis.”

Ranti masih menatap kosong. Tapi kali ini lebih pelan, lebih ringan. “Kamu tinggal di mana?” tanya Ranti akhirnya.

“Di mana saja. Pernah di teras kantor kelurahan, pernah juga di bekas halte yang sudah roboh. Tapi sekarang lagi menetap di bangku taman ini, udah seminggu.”

“Kenapa nggak cari kerja?”

Troy tertawa pelan. “Karena aku terlalu terlatih buat hidup tanpa uang, tapi terlalu payah buat hidup dengan disiplin. Dan orang macam aku lebih cocok jadi mural di tembok daripada jadi kasir Indomaret.”

Mereka tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa Ranti terdengar lepas. Seperti sesuatu yang tercecer, lalu akhirnya ditemukan kembali.

Troy tiba-tiba berdiri dan berjingkat, lalu berjalan ke arah trotoar. Ia mengambil sesuatu dari balik tiang lampu dan kembali dengan dua buah es lilin warna merah muda di tangan

“Selamat datang di pesta kemiskinan elegan,” katanya sambil menyerahkan satu pada Ranti.

Ranti menerimanya dengan bingung. “Kamu curi?”

“Enggak. Penjualnya temanku. Dia udah pasrah sama hidup dan dagangannya.”

Ranti menggigit ujung es lilin itu. Dingin dan manis. Sebuah penghiburan murahan yang ternyata cukup ampuh. “Apa kamu enggak capek hidup kayak gitu?”

Troy duduk lagi. “Capek. Tapi aku nggak cukup penting buat siapa-siapa. Jadi ya, hidup ini semacam bonus.”

Ranti menatapnya. “Apa kamu pernah merasa ingin hilang?”

“Pernah. Tapi tiap kali aku ingin, dunia kayak sengaja makin nunjukkin aku. Polisi nyari, satpam ngusir, tetangga ngomel. Hilang itu ternyata lebih susah daripada mati.”

Ranti tersenyum kecil. “Kamu sok filosofis.”

“Terima kasih. Itu hinaan terbaik yang pernah aku terima.”

Hari mulai gelap. Lampu taman menyala satu per satu. Troy berdiri, lalu mengambil plastik hitam yang tadi dibawa Ranti.

“Pisau ini nggak cocok buat kamu. Kamu nggak punya cukup niat buat menyakiti. Dan itu bukan hinaan.”

Ranti mengangguk, meskipun tak yakin dia setuju. Lalu berkata, “Aku masih penasaran ke mana sandal sebelahku.”

Troy berpikir sejenak. “Mungkin sandal itu menemukan hidup baru. Atau dipakai malaikat yang kebetulan cuma punya satu kaki.”

“Kamu gila,” gumam Ranti.

“Mungkin,” kata Troy sambil menjauh.

Ranti berdiri pelan. Langkahnya berat. Ia berjalan melintasi taman yang mulai sepi, menyusuri jalan setapak di antara semak dan rumput yang basah. Kepalanya terasa ringan, seolah tadi ada sesuatu yang keluar tanpa benar-benar ia sadari.

Ia sempat berhenti di depan dinding mural anak dengan balon hati itu. Kali ini ia tak hanya melihat lukisan, tapi juga bayangannya sendiri di kaca etalase toko yang tertutup di belakangnya. Wajahnya tampak, berbeda. Masih murung, tapi tidak lagi pecah.

Di depan gerbang taman, ia kembali ke tempat tadi dan duduk lagi di sana. Pohon kersen masih berdiri, gelap dan diam. Bangku taman kosong. Tak ada siapa-siapa. Tapi ia bisa membayangkan Troy masih duduk di sana, memeluk dunia dengan cara yang aneh.

Lima menit kemudian, Ranti masih duduk sendiri di bawah pohon kersen. Ia menarik napas panjang. Pisau sudah dibawa pergi. Troy juga sudah hilang entah ke mana. Ia melihat ke arah sandal pink-nya yang basah, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil di punggung.

Saat ia berdiri hendak pulang, matanya menangkap sesuatu di balik semak. Ia mendekat. Dan di sana, di antara rumput dan bunga liar, tergeletak sandal pink yang persis dengan miliknya, sebelah yang hilang.

Ranti mengambilnya pelan, kaget sekaligus geli.

Tanpa pikir panjang, ia berjalan pulang. Ke rumah petak nomor tujuh. Ke ibu yang mungkin sudah tertidur atau masih memaki dalam hati. Ke tempat yang sama, tapi dengan dua sandal yang utuh.

Dan tanpa ada yang tahu, di belakang pohon kersen itu, Troy duduk lagi. Menyimpan pisau di bawah jaketnya. Dan sepasang sandal butut yang kini tinggal satu. Di bawah cahaya temaram lampu taman, Troy menyender pelan. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan secarik foto kecil yang sudah mulai luntur. Seorang gadis kecil tersenyum di situ, memegang dua sandal pink yang sama persis. “Dua tahun lalu,” gumamnya. Ia menyelipkan kembali foto itu ke saku jaket, menatap langit yang masih kelabu. Mungkin sandal itu memang bukan milik Ranti. Tapi barangkali, dengan memberikannya, ia bisa mengembalikan sesuatu yang lebih sulit. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Willy Fahmy Agiska | kumpulan puisi, 2026 | Jalan Baru 

Next Post

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co