12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
January 23, 2026
in Cerpen
Sandal Sebelah dan Sebilah Pisau | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN tak kunjung turun, tapi langit tampak malas untuk bersinar sejak sore tadi. Warnanya abu-abu serupa kaus kaki yang sudah seminggu tak dicuci, digulung-gulung begitu saja lalu dilempar ke pojok lemari.

Ranti berdiri diam di depan sebuah warung kelontong tua, tubuhnya basah kuyup bukan karena hujan, tapi karena peluh dan sisa air dari ember yang tadi ia pakai buat menyiram halaman rumah. Ibu tirinya baru saja melempar ember itu ke arahnya. Alasannya sederhana, Ranti lupa membuang plastik bekas mi instan dari meja makan. Masalah yang mungkin bisa diselesaikan dengan satu kalimat tenang, tapi tentu saja bukan itu gaya hidup di rumah petak nomor tujuh itu.

“Lagi-lagi kamu bikin malu! Mau jadi perempuan macam apa kalau begini terus?” suara Ibu Yanti menggema di kepalanya, bercampur dengan dengungan lalat dan iklan sabun pembersih kewanitaan yang entah mengapa terus berputar di radio butut mereka.

Ranti hanya memegang sandal jepit pink miliknya yang tinggal sebelah. Bukan sandal baru, bahkan bukan miliknya sejak awal. Sandal itu ia temukan di halaman belakang sekolah dua tahun lalu, dan sejak itu ia merasa memiliki. Sebelahnya hilang seminggu lalu, saat ia nekat kabur ke taman kota selepas dipukul karena menumpahkan sayur.

Di dalam kantong plastik hitam yang ia peluk, ada sebilah pisau dapur. Benda itu ia bawa bukan karena hendak melakukan sesuatu yang dramatis seperti dalam sinetron, tapi karena ia mencurinya dari dapur sebelum keluar rumah. Pisau itu, pikirnya, akan berguna jika nanti ia bertemu anjing, atau laki-laki yang mendekat tanpa alasan jelas.

Dia berjalan pelan ke taman kota, tempat di mana orang-orang berpura-pura bahagia. Orang-orang dengan sepeda lipat mahal, keluarga kecil dengan stroller, dan remaja yang sibuk ber-selfie sambil menata rambut.

Tak ada yang menyadari kehadirannya. Mungkin lebih tepatnya tak ada yang peduli. Di bawah pohon kersen yang cukup besar untuk dijadikan tempat duduk dan menangis secara bersamaan, Ranti berhenti. Ia melempar plastik berisi pisau ke rumput, lalu duduk memeluk lutut. Sebuah mural penuh warna di dinding taman menatapnya tajam, gambar seorang anak dengan balon berbentuk hati yang terbang meninggalkannya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan?” tiba-tiba ada suara.

Ranti menoleh cepat. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki dengan rambut acak-acakan dan kaus bertuliskan Make Coffee, Not War. Wajahnya dan penampilannya sedikit berantakan.

“Apa?” tanya Ranti, bukan karena ingin tahu, tapi karena tak mengerti kenapa lelaki itu duduk begitu saja di dekatnya.

“Kalau kamu mati, siapa yang kehilangan? Aku serius.”

“Kenapa kamu pikir aku mau mati?”

“Karena kamu membawa pisau dan ekspresimu kayak itik yang ditinggal induknya padahal belum belajar berenang.”

Ranti memandangnya tajam. “Kamu aneh.”

“Terima kasih. Aku Troy.” Ia mengulurkan tangan yang penuh bekas tinta spidol.

Ranti tak menyambutnya.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit, hanya sesekali terdengar anak kecil tertawa di kejauhan dan bunyi klakson dari jalan utama. Daun-daun kersen gugur pelan, bagai salju dalam versi tropis.

“Aku kehilangan sandal,” ucap Ranti tiba-tiba. “Yang satunya. Ini tinggal sebelah.”

Troy menatap sandal pink yang penuh lecet itu. “Sayang ya. Mungkin dia nggak kuat hidup bareng kamu.”

Ranti menghela napas, tidak yakin apakah harus tertawa atau menghajar lelaki itu dengan sandal.

“Aku tinggal di rumah yang selalu merasa kekurangan, bahkan untuk kasih sayang. Ibuku, ya, mungkin bukan ibuku. Dia cuma perempuan yang dipaksa memelihara anak orang yang wajahnya mirip suaminya. Dan aku terlalu mirip.”

Troy mengangguk entah sudah tahu. Atau berpura-pura.

“Pisau itu buat siapa?” tanyanya pelan.

“Entahlah. Mungkin buat anjing. Mungkin buat aku sendiri. Atau siapa pun yang kebetulan lewat.”

“Hm,” Troy mengeluarkan sebungkus kerupuk dari kantong jaketnya. “Mau?”

Ranti menolak dengan tatapan malas. Seakan waktu berlalu lambat. Hujan belum turun, tapi langit sudah semakin muram.

“Aku sering ke sini,” ucap Troy kemudian. “Tempat ini baik. Kadang kalau duduk lama, kamu bisa lihat ada anak kucing menyusui di balik semak. Kadang kamu juga bisa dengar orang nyanyi lagu pop Korea sambil nangis.”

Ranti masih menatap kosong. Tapi kali ini lebih pelan, lebih ringan. “Kamu tinggal di mana?” tanya Ranti akhirnya.

“Di mana saja. Pernah di teras kantor kelurahan, pernah juga di bekas halte yang sudah roboh. Tapi sekarang lagi menetap di bangku taman ini, udah seminggu.”

“Kenapa nggak cari kerja?”

Troy tertawa pelan. “Karena aku terlalu terlatih buat hidup tanpa uang, tapi terlalu payah buat hidup dengan disiplin. Dan orang macam aku lebih cocok jadi mural di tembok daripada jadi kasir Indomaret.”

Mereka tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa Ranti terdengar lepas. Seperti sesuatu yang tercecer, lalu akhirnya ditemukan kembali.

Troy tiba-tiba berdiri dan berjingkat, lalu berjalan ke arah trotoar. Ia mengambil sesuatu dari balik tiang lampu dan kembali dengan dua buah es lilin warna merah muda di tangan

“Selamat datang di pesta kemiskinan elegan,” katanya sambil menyerahkan satu pada Ranti.

Ranti menerimanya dengan bingung. “Kamu curi?”

“Enggak. Penjualnya temanku. Dia udah pasrah sama hidup dan dagangannya.”

Ranti menggigit ujung es lilin itu. Dingin dan manis. Sebuah penghiburan murahan yang ternyata cukup ampuh. “Apa kamu enggak capek hidup kayak gitu?”

Troy duduk lagi. “Capek. Tapi aku nggak cukup penting buat siapa-siapa. Jadi ya, hidup ini semacam bonus.”

Ranti menatapnya. “Apa kamu pernah merasa ingin hilang?”

“Pernah. Tapi tiap kali aku ingin, dunia kayak sengaja makin nunjukkin aku. Polisi nyari, satpam ngusir, tetangga ngomel. Hilang itu ternyata lebih susah daripada mati.”

Ranti tersenyum kecil. “Kamu sok filosofis.”

“Terima kasih. Itu hinaan terbaik yang pernah aku terima.”

Hari mulai gelap. Lampu taman menyala satu per satu. Troy berdiri, lalu mengambil plastik hitam yang tadi dibawa Ranti.

“Pisau ini nggak cocok buat kamu. Kamu nggak punya cukup niat buat menyakiti. Dan itu bukan hinaan.”

Ranti mengangguk, meskipun tak yakin dia setuju. Lalu berkata, “Aku masih penasaran ke mana sandal sebelahku.”

Troy berpikir sejenak. “Mungkin sandal itu menemukan hidup baru. Atau dipakai malaikat yang kebetulan cuma punya satu kaki.”

“Kamu gila,” gumam Ranti.

“Mungkin,” kata Troy sambil menjauh.

Ranti berdiri pelan. Langkahnya berat. Ia berjalan melintasi taman yang mulai sepi, menyusuri jalan setapak di antara semak dan rumput yang basah. Kepalanya terasa ringan, seolah tadi ada sesuatu yang keluar tanpa benar-benar ia sadari.

Ia sempat berhenti di depan dinding mural anak dengan balon hati itu. Kali ini ia tak hanya melihat lukisan, tapi juga bayangannya sendiri di kaca etalase toko yang tertutup di belakangnya. Wajahnya tampak, berbeda. Masih murung, tapi tidak lagi pecah.

Di depan gerbang taman, ia kembali ke tempat tadi dan duduk lagi di sana. Pohon kersen masih berdiri, gelap dan diam. Bangku taman kosong. Tak ada siapa-siapa. Tapi ia bisa membayangkan Troy masih duduk di sana, memeluk dunia dengan cara yang aneh.

Lima menit kemudian, Ranti masih duduk sendiri di bawah pohon kersen. Ia menarik napas panjang. Pisau sudah dibawa pergi. Troy juga sudah hilang entah ke mana. Ia melihat ke arah sandal pink-nya yang basah, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil di punggung.

Saat ia berdiri hendak pulang, matanya menangkap sesuatu di balik semak. Ia mendekat. Dan di sana, di antara rumput dan bunga liar, tergeletak sandal pink yang persis dengan miliknya, sebelah yang hilang.

Ranti mengambilnya pelan, kaget sekaligus geli.

Tanpa pikir panjang, ia berjalan pulang. Ke rumah petak nomor tujuh. Ke ibu yang mungkin sudah tertidur atau masih memaki dalam hati. Ke tempat yang sama, tapi dengan dua sandal yang utuh.

Dan tanpa ada yang tahu, di belakang pohon kersen itu, Troy duduk lagi. Menyimpan pisau di bawah jaketnya. Dan sepasang sandal butut yang kini tinggal satu. Di bawah cahaya temaram lampu taman, Troy menyender pelan. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan secarik foto kecil yang sudah mulai luntur. Seorang gadis kecil tersenyum di situ, memegang dua sandal pink yang sama persis. “Dua tahun lalu,” gumamnya. Ia menyelipkan kembali foto itu ke saku jaket, menatap langit yang masih kelabu. Mungkin sandal itu memang bukan milik Ranti. Tapi barangkali, dengan memberikannya, ia bisa mengembalikan sesuatu yang lebih sulit. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Willy Fahmy Agiska | kumpulan puisi, 2026 | Jalan Baru 

Next Post

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co