23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
May 4, 2026
in Cerpen
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja.

Aku menoleh, menatap wajahnya yang sayu. “Bagaimana” tanyaku, mencoba tersenyum.

“Aku lolos.”

Seharusnya itu kabar baik. Kabar yang kami tunggu-tunggu. Namun, ada jeda yang ganjil setelahnya.

“Kalau aku berangkat,” lanjutnya pelan, “kita akan berpisah.”

Aku menatapnya lama. “Pergilah,” kataku akhirnya. “Kejar mimpimu. Aku akan tetap di sini.”

Ia tak menjawab. Hanya mendekat, mengecup keningku, dan memelukku seolah waktu bisa dihentikan. Senja jatuh perlahan. Lalu tanpa kami sadari, sesuatu dalam hidup kami ikut luruh bersamanya.

Seminggu sebelum keberangkatannya, Bagus mengajakku berkeliling Singaraja. Ia ingin meninggalkan jejak di setiap sudut kota. Katanya, agar aku tak pernah benar-benar sendirian.

Sehari sebelum ia pergi, kami menuju Pantai Lovina. Pagi masih gelap saat kami tiba. Laut terbentang seperti lembaran rahasia yang belum dibuka. Kami menyewa perahu kecil, lalu melaju perlahan ke tengah. Embusan angin, aroma asin laut, cahaya mentari yang malu-malu muncul dari balik cakrawala membuat pagi itu terasa seperti lukisan hidup.

Pagi itu, kami bukan satu-satunya yang mengejar keajaiban. Puluhan perahu lain pun turut serta, seperti pasukan yang sedang memburu bintang di siang hari. Masing-masing berlomba, seolah keberuntungan hanya milik yang tercepat. Aku mulai merasakan ketegangan, seperti ada perlombaan tak kasat mata.

Lumba-lumba tak kunjung muncul. Laut tampak tenang, nyaris tanpa riak. Aku duduk terdiam, menatap hamparan air. Di sampingku, Bagus menggenggam tanganku. Mungkin ia takut aku kecewa. Tapi tidak, bagiku, bahkan jika lumba-lumba tak datang, hari ini telah menjadi kenangan yang tak akan pernah hilang.

“Kalau nanti lumba-lumbanya muncul,” kata Bagus tiba-tiba, “kau harus berjanji sesuatu.”

Aku menoleh. “Apa?”

“Jangan pernah meninggalkanku.”

Aku terdiam. Permintaan sederhana, tapi terasa berat. Bukan karena aku tak ingin, tapi karena hidup sering kali tak memberi pilihan. Belum sempat kujawab, permukaan laut bergetar. Dan seolah semesta ikut campur dalam permainan ini, empat ekor lumba-lumba muncul dan melompat bersamaan.

Tubuh mereka berkilau. Menari-nari, meliuk-liuk di permukaan air, seperti penari yang sedang menyambut pagi. Mereka begitu dekat, hanya beberapa meter dari perahu kami, seakan tahu kehadiran mereka sedang ditunggu untuk sebuah janji.

“Indah….” bisikku.

Bagus tersenyum, namun matanya tak sepenuhnya ikut tersenyum. Seolah ia tahu, keindahan ini adalah sesuatu yang tak akan lama kami miliki.

Usai menikmati pertunjukkan spektakuler para lumba-lumba, kami pun kembali ke darat dan melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan, hampir tak ada percakapan yang terucap. Ketika tiba di depan rumahku, Bagus mematikan mesin motornya, lalu berdiri tepat di hadapanku sambil menatap dalam.

“Risa… hari ini memang bukan akhir dari kisah kita. Namun, aku ingin kau menyimpan semua yang telah kita lewati. Mari kita wujudkan impian masing-masing dan bertemu lagi di waktu yang paling tepat. Aku… mencintaimu, Risa. Tunggulah aku kembali!”

Ucapannya meresap perlahan, menyentuh setiap sudut hatiku yang rapuh. Aku menggenggam tangannya erat dan dengan suara lirih yang nyaris pecah, aku hanya mampu berujar, “Kembalilah saat kau benar-benar ingin kembali padaku.”

Hanya itu. Sebuah kalimat sederhana yang menggantungkan seluruh harapan pada takdir. Air mataku pun tumpah tanpa mampu kubendung dan seketika aku larut dalam pelukan Bagus.

Bagus pergi ke negeri seberang.

Awalnya, kami baik-baik saja. Pesan singkat, panggilan video, tawa-tawa kecil yang menyeberangi waktu, semuanya masih terasa utuh. Bagus yang kukenal. Dan aku tetap Risa yang menunggunya.

Hingga pesan itu datang. Nomor tak dikenal. Tanpa nama. Tanpa salam.

“Aku sudah melunasi semua hutang orang tuamu. Menjauhlah dari anakku. Jika tidak, orang tuamu yang akan menanggung akibatnya.”

Pesan itu bukan yang pertama. Tapi kali ini berbeda. Mereka menyebut hutang ayahku. Menyebut sesuatu yang selama ini kami sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Tanganku gemetar. Dadaku sesak.

Aku tahu siapa yang mengirimnya. Keluarga Bagus.

Sejak awal, mereka tak pernah benar-benar menerima kehadiranku. Bukan hanya karena aku miskin. Tapi karena aku bukan siapa-siapa. Sedangkan Bagus—Ida Bagus Eka Surya Suputra— lahir dari garis yang tak boleh disandingkan dengan sepertiku.

Aku mencoba bertahan. Mengabaikan. Melawan dalam diam. Namun kali ini, mereka tidak menyerangku. Mereka menyerang keluargaku. Dan aku kalah.

Ayahku adalah penjudi ulung yang tak pernah berhenti. Entah sudah berapa banyak surat penagihan dan caci maki yang mampir ke rumah kami. Aku dan Ibu telah mencoba segala cara, berdoa, bertahan, berjuang, namun semuanya terasa sia-sia.

Kini, kebebasan Ayah seolah dibayar oleh mereka, lalu digunakan sebagai senjata yang justru melukai hatiku sendiri. Aku terdiam di tempat, diliputi amarah, kehancuran, dan keputusasaan. Ada luka yang tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar kehilangan arah, tak tahu harus melangkah ke mana.

Aku pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.

Aku mengganti nomor, meninggalkan Singaraja, dan memulai hidup baru di Denpasar. Berprofesi sebagai guru. Mengajar anak-anak tentang mimpi, tentang keberanian. Namun, itu adalah hal-hal yang justru gagal kulakukan dalam hidupku sendiri.

Bagus menghilang dari hidupku. Atau mungkin… akulah yang menghilang darinya.

Sepuluh tahun berlalu.

Telah lama tak ada kabar darinya. Jujur saja, begitu banyak pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah ia pernah mencariku? Pernahkah ia bertanya-tanya ke mana aku menghilang? Ataukah ia memilih menyerah dan menerima perjodohan dengan perempuan lain? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk seperti sisa-sisa yang mengendap di benak, memenuhi ruang yang seharusnya sudah lama kutinggalkan.

Dan hari ini, aku kembali ke Pantai Lovina. Tempat di mana kami pernah percaya bahwa cinta cukup kuat untuk melawan segalanya. Laut masih sama. Angin masih membawa aroma asin yang sama. Perahu-perahu masih berayun di kejauhan. Hanya satu yang berbeda. Aku.

Aku berdiri sendiri di tepi pantai, menatap cakrawala yang dulu kami bagi berdua. Kenangan datang seperti ombak, tak bisa ditahan dan tak bisa dihindari.

“Aku kembali… Bagus,” gumamku pelan.

Bukan untuk menunggu. Bukan untuk berharap. Tapi untuk mengembalikan sesuatu yang selama ini kubawa terlalu lama. Sebuah janji yang tak pernah bisa kupenuhi. [T]

Reporter/Penulis: Kadek Windari
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Bapak Berdiri di Ambang Pintu karya Kadek Windari (Prasasti, 2025).

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

Next Post

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co