3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
May 4, 2026
in Cerpen
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja.

Aku menoleh, menatap wajahnya yang sayu. “Bagaimana” tanyaku, mencoba tersenyum.

“Aku lolos.”

Seharusnya itu kabar baik. Kabar yang kami tunggu-tunggu. Namun, ada jeda yang ganjil setelahnya.

“Kalau aku berangkat,” lanjutnya pelan, “kita akan berpisah.”

Aku menatapnya lama. “Pergilah,” kataku akhirnya. “Kejar mimpimu. Aku akan tetap di sini.”

Ia tak menjawab. Hanya mendekat, mengecup keningku, dan memelukku seolah waktu bisa dihentikan. Senja jatuh perlahan. Lalu tanpa kami sadari, sesuatu dalam hidup kami ikut luruh bersamanya.

Seminggu sebelum keberangkatannya, Bagus mengajakku berkeliling Singaraja. Ia ingin meninggalkan jejak di setiap sudut kota. Katanya, agar aku tak pernah benar-benar sendirian.

Sehari sebelum ia pergi, kami menuju Pantai Lovina. Pagi masih gelap saat kami tiba. Laut terbentang seperti lembaran rahasia yang belum dibuka. Kami menyewa perahu kecil, lalu melaju perlahan ke tengah. Embusan angin, aroma asin laut, cahaya mentari yang malu-malu muncul dari balik cakrawala membuat pagi itu terasa seperti lukisan hidup.

Pagi itu, kami bukan satu-satunya yang mengejar keajaiban. Puluhan perahu lain pun turut serta, seperti pasukan yang sedang memburu bintang di siang hari. Masing-masing berlomba, seolah keberuntungan hanya milik yang tercepat. Aku mulai merasakan ketegangan, seperti ada perlombaan tak kasat mata.

Lumba-lumba tak kunjung muncul. Laut tampak tenang, nyaris tanpa riak. Aku duduk terdiam, menatap hamparan air. Di sampingku, Bagus menggenggam tanganku. Mungkin ia takut aku kecewa. Tapi tidak, bagiku, bahkan jika lumba-lumba tak datang, hari ini telah menjadi kenangan yang tak akan pernah hilang.

“Kalau nanti lumba-lumbanya muncul,” kata Bagus tiba-tiba, “kau harus berjanji sesuatu.”

Aku menoleh. “Apa?”

“Jangan pernah meninggalkanku.”

Aku terdiam. Permintaan sederhana, tapi terasa berat. Bukan karena aku tak ingin, tapi karena hidup sering kali tak memberi pilihan. Belum sempat kujawab, permukaan laut bergetar. Dan seolah semesta ikut campur dalam permainan ini, empat ekor lumba-lumba muncul dan melompat bersamaan.

Tubuh mereka berkilau. Menari-nari, meliuk-liuk di permukaan air, seperti penari yang sedang menyambut pagi. Mereka begitu dekat, hanya beberapa meter dari perahu kami, seakan tahu kehadiran mereka sedang ditunggu untuk sebuah janji.

“Indah….” bisikku.

Bagus tersenyum, namun matanya tak sepenuhnya ikut tersenyum. Seolah ia tahu, keindahan ini adalah sesuatu yang tak akan lama kami miliki.

Usai menikmati pertunjukkan spektakuler para lumba-lumba, kami pun kembali ke darat dan melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan, hampir tak ada percakapan yang terucap. Ketika tiba di depan rumahku, Bagus mematikan mesin motornya, lalu berdiri tepat di hadapanku sambil menatap dalam.

“Risa… hari ini memang bukan akhir dari kisah kita. Namun, aku ingin kau menyimpan semua yang telah kita lewati. Mari kita wujudkan impian masing-masing dan bertemu lagi di waktu yang paling tepat. Aku… mencintaimu, Risa. Tunggulah aku kembali!”

Ucapannya meresap perlahan, menyentuh setiap sudut hatiku yang rapuh. Aku menggenggam tangannya erat dan dengan suara lirih yang nyaris pecah, aku hanya mampu berujar, “Kembalilah saat kau benar-benar ingin kembali padaku.”

Hanya itu. Sebuah kalimat sederhana yang menggantungkan seluruh harapan pada takdir. Air mataku pun tumpah tanpa mampu kubendung dan seketika aku larut dalam pelukan Bagus.

Bagus pergi ke negeri seberang.

Awalnya, kami baik-baik saja. Pesan singkat, panggilan video, tawa-tawa kecil yang menyeberangi waktu, semuanya masih terasa utuh. Bagus yang kukenal. Dan aku tetap Risa yang menunggunya.

Hingga pesan itu datang. Nomor tak dikenal. Tanpa nama. Tanpa salam.

“Aku sudah melunasi semua hutang orang tuamu. Menjauhlah dari anakku. Jika tidak, orang tuamu yang akan menanggung akibatnya.”

Pesan itu bukan yang pertama. Tapi kali ini berbeda. Mereka menyebut hutang ayahku. Menyebut sesuatu yang selama ini kami sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Tanganku gemetar. Dadaku sesak.

Aku tahu siapa yang mengirimnya. Keluarga Bagus.

Sejak awal, mereka tak pernah benar-benar menerima kehadiranku. Bukan hanya karena aku miskin. Tapi karena aku bukan siapa-siapa. Sedangkan Bagus—Ida Bagus Eka Surya Suputra— lahir dari garis yang tak boleh disandingkan dengan sepertiku.

Aku mencoba bertahan. Mengabaikan. Melawan dalam diam. Namun kali ini, mereka tidak menyerangku. Mereka menyerang keluargaku. Dan aku kalah.

Ayahku adalah penjudi ulung yang tak pernah berhenti. Entah sudah berapa banyak surat penagihan dan caci maki yang mampir ke rumah kami. Aku dan Ibu telah mencoba segala cara, berdoa, bertahan, berjuang, namun semuanya terasa sia-sia.

Kini, kebebasan Ayah seolah dibayar oleh mereka, lalu digunakan sebagai senjata yang justru melukai hatiku sendiri. Aku terdiam di tempat, diliputi amarah, kehancuran, dan keputusasaan. Ada luka yang tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar kehilangan arah, tak tahu harus melangkah ke mana.

Aku pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.

Aku mengganti nomor, meninggalkan Singaraja, dan memulai hidup baru di Denpasar. Berprofesi sebagai guru. Mengajar anak-anak tentang mimpi, tentang keberanian. Namun, itu adalah hal-hal yang justru gagal kulakukan dalam hidupku sendiri.

Bagus menghilang dari hidupku. Atau mungkin… akulah yang menghilang darinya.

Sepuluh tahun berlalu.

Telah lama tak ada kabar darinya. Jujur saja, begitu banyak pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah ia pernah mencariku? Pernahkah ia bertanya-tanya ke mana aku menghilang? Ataukah ia memilih menyerah dan menerima perjodohan dengan perempuan lain? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk seperti sisa-sisa yang mengendap di benak, memenuhi ruang yang seharusnya sudah lama kutinggalkan.

Dan hari ini, aku kembali ke Pantai Lovina. Tempat di mana kami pernah percaya bahwa cinta cukup kuat untuk melawan segalanya. Laut masih sama. Angin masih membawa aroma asin yang sama. Perahu-perahu masih berayun di kejauhan. Hanya satu yang berbeda. Aku.

Aku berdiri sendiri di tepi pantai, menatap cakrawala yang dulu kami bagi berdua. Kenangan datang seperti ombak, tak bisa ditahan dan tak bisa dihindari.

“Aku kembali… Bagus,” gumamku pelan.

Bukan untuk menunggu. Bukan untuk berharap. Tapi untuk mengembalikan sesuatu yang selama ini kubawa terlalu lama. Sebuah janji yang tak pernah bisa kupenuhi. [T]

Reporter/Penulis: Kadek Windari
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Bapak Berdiri di Ambang Pintu karya Kadek Windari (Prasasti, 2025).

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

Next Post

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails
Next Post
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co