3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
May 4, 2026
in Cerpen
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja.

Aku menoleh, menatap wajahnya yang sayu. “Bagaimana” tanyaku, mencoba tersenyum.

“Aku lolos.”

Seharusnya itu kabar baik. Kabar yang kami tunggu-tunggu. Namun, ada jeda yang ganjil setelahnya.

“Kalau aku berangkat,” lanjutnya pelan, “kita akan berpisah.”

Aku menatapnya lama. “Pergilah,” kataku akhirnya. “Kejar mimpimu. Aku akan tetap di sini.”

Ia tak menjawab. Hanya mendekat, mengecup keningku, dan memelukku seolah waktu bisa dihentikan. Senja jatuh perlahan. Lalu tanpa kami sadari, sesuatu dalam hidup kami ikut luruh bersamanya.

Seminggu sebelum keberangkatannya, Bagus mengajakku berkeliling Singaraja. Ia ingin meninggalkan jejak di setiap sudut kota. Katanya, agar aku tak pernah benar-benar sendirian.

Sehari sebelum ia pergi, kami menuju Pantai Lovina. Pagi masih gelap saat kami tiba. Laut terbentang seperti lembaran rahasia yang belum dibuka. Kami menyewa perahu kecil, lalu melaju perlahan ke tengah. Embusan angin, aroma asin laut, cahaya mentari yang malu-malu muncul dari balik cakrawala membuat pagi itu terasa seperti lukisan hidup.

Pagi itu, kami bukan satu-satunya yang mengejar keajaiban. Puluhan perahu lain pun turut serta, seperti pasukan yang sedang memburu bintang di siang hari. Masing-masing berlomba, seolah keberuntungan hanya milik yang tercepat. Aku mulai merasakan ketegangan, seperti ada perlombaan tak kasat mata.

Lumba-lumba tak kunjung muncul. Laut tampak tenang, nyaris tanpa riak. Aku duduk terdiam, menatap hamparan air. Di sampingku, Bagus menggenggam tanganku. Mungkin ia takut aku kecewa. Tapi tidak, bagiku, bahkan jika lumba-lumba tak datang, hari ini telah menjadi kenangan yang tak akan pernah hilang.

“Kalau nanti lumba-lumbanya muncul,” kata Bagus tiba-tiba, “kau harus berjanji sesuatu.”

Aku menoleh. “Apa?”

“Jangan pernah meninggalkanku.”

Aku terdiam. Permintaan sederhana, tapi terasa berat. Bukan karena aku tak ingin, tapi karena hidup sering kali tak memberi pilihan. Belum sempat kujawab, permukaan laut bergetar. Dan seolah semesta ikut campur dalam permainan ini, empat ekor lumba-lumba muncul dan melompat bersamaan.

Tubuh mereka berkilau. Menari-nari, meliuk-liuk di permukaan air, seperti penari yang sedang menyambut pagi. Mereka begitu dekat, hanya beberapa meter dari perahu kami, seakan tahu kehadiran mereka sedang ditunggu untuk sebuah janji.

“Indah….” bisikku.

Bagus tersenyum, namun matanya tak sepenuhnya ikut tersenyum. Seolah ia tahu, keindahan ini adalah sesuatu yang tak akan lama kami miliki.

Usai menikmati pertunjukkan spektakuler para lumba-lumba, kami pun kembali ke darat dan melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan, hampir tak ada percakapan yang terucap. Ketika tiba di depan rumahku, Bagus mematikan mesin motornya, lalu berdiri tepat di hadapanku sambil menatap dalam.

“Risa… hari ini memang bukan akhir dari kisah kita. Namun, aku ingin kau menyimpan semua yang telah kita lewati. Mari kita wujudkan impian masing-masing dan bertemu lagi di waktu yang paling tepat. Aku… mencintaimu, Risa. Tunggulah aku kembali!”

Ucapannya meresap perlahan, menyentuh setiap sudut hatiku yang rapuh. Aku menggenggam tangannya erat dan dengan suara lirih yang nyaris pecah, aku hanya mampu berujar, “Kembalilah saat kau benar-benar ingin kembali padaku.”

Hanya itu. Sebuah kalimat sederhana yang menggantungkan seluruh harapan pada takdir. Air mataku pun tumpah tanpa mampu kubendung dan seketika aku larut dalam pelukan Bagus.

Bagus pergi ke negeri seberang.

Awalnya, kami baik-baik saja. Pesan singkat, panggilan video, tawa-tawa kecil yang menyeberangi waktu, semuanya masih terasa utuh. Bagus yang kukenal. Dan aku tetap Risa yang menunggunya.

Hingga pesan itu datang. Nomor tak dikenal. Tanpa nama. Tanpa salam.

“Aku sudah melunasi semua hutang orang tuamu. Menjauhlah dari anakku. Jika tidak, orang tuamu yang akan menanggung akibatnya.”

Pesan itu bukan yang pertama. Tapi kali ini berbeda. Mereka menyebut hutang ayahku. Menyebut sesuatu yang selama ini kami sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Tanganku gemetar. Dadaku sesak.

Aku tahu siapa yang mengirimnya. Keluarga Bagus.

Sejak awal, mereka tak pernah benar-benar menerima kehadiranku. Bukan hanya karena aku miskin. Tapi karena aku bukan siapa-siapa. Sedangkan Bagus—Ida Bagus Eka Surya Suputra— lahir dari garis yang tak boleh disandingkan dengan sepertiku.

Aku mencoba bertahan. Mengabaikan. Melawan dalam diam. Namun kali ini, mereka tidak menyerangku. Mereka menyerang keluargaku. Dan aku kalah.

Ayahku adalah penjudi ulung yang tak pernah berhenti. Entah sudah berapa banyak surat penagihan dan caci maki yang mampir ke rumah kami. Aku dan Ibu telah mencoba segala cara, berdoa, bertahan, berjuang, namun semuanya terasa sia-sia.

Kini, kebebasan Ayah seolah dibayar oleh mereka, lalu digunakan sebagai senjata yang justru melukai hatiku sendiri. Aku terdiam di tempat, diliputi amarah, kehancuran, dan keputusasaan. Ada luka yang tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar kehilangan arah, tak tahu harus melangkah ke mana.

Aku pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.

Aku mengganti nomor, meninggalkan Singaraja, dan memulai hidup baru di Denpasar. Berprofesi sebagai guru. Mengajar anak-anak tentang mimpi, tentang keberanian. Namun, itu adalah hal-hal yang justru gagal kulakukan dalam hidupku sendiri.

Bagus menghilang dari hidupku. Atau mungkin… akulah yang menghilang darinya.

Sepuluh tahun berlalu.

Telah lama tak ada kabar darinya. Jujur saja, begitu banyak pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah ia pernah mencariku? Pernahkah ia bertanya-tanya ke mana aku menghilang? Ataukah ia memilih menyerah dan menerima perjodohan dengan perempuan lain? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk seperti sisa-sisa yang mengendap di benak, memenuhi ruang yang seharusnya sudah lama kutinggalkan.

Dan hari ini, aku kembali ke Pantai Lovina. Tempat di mana kami pernah percaya bahwa cinta cukup kuat untuk melawan segalanya. Laut masih sama. Angin masih membawa aroma asin yang sama. Perahu-perahu masih berayun di kejauhan. Hanya satu yang berbeda. Aku.

Aku berdiri sendiri di tepi pantai, menatap cakrawala yang dulu kami bagi berdua. Kenangan datang seperti ombak, tak bisa ditahan dan tak bisa dihindari.

“Aku kembali… Bagus,” gumamku pelan.

Bukan untuk menunggu. Bukan untuk berharap. Tapi untuk mengembalikan sesuatu yang selama ini kubawa terlalu lama. Sebuah janji yang tak pernah bisa kupenuhi. [T]

Reporter/Penulis: Kadek Windari
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Bapak Berdiri di Ambang Pintu karya Kadek Windari (Prasasti, 2025).

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

Next Post

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co