24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
May 4, 2026
in Cerpen
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja.

Aku menoleh, menatap wajahnya yang sayu. “Bagaimana” tanyaku, mencoba tersenyum.

“Aku lolos.”

Seharusnya itu kabar baik. Kabar yang kami tunggu-tunggu. Namun, ada jeda yang ganjil setelahnya.

“Kalau aku berangkat,” lanjutnya pelan, “kita akan berpisah.”

Aku menatapnya lama. “Pergilah,” kataku akhirnya. “Kejar mimpimu. Aku akan tetap di sini.”

Ia tak menjawab. Hanya mendekat, mengecup keningku, dan memelukku seolah waktu bisa dihentikan. Senja jatuh perlahan. Lalu tanpa kami sadari, sesuatu dalam hidup kami ikut luruh bersamanya.

Seminggu sebelum keberangkatannya, Bagus mengajakku berkeliling Singaraja. Ia ingin meninggalkan jejak di setiap sudut kota. Katanya, agar aku tak pernah benar-benar sendirian.

Sehari sebelum ia pergi, kami menuju Pantai Lovina. Pagi masih gelap saat kami tiba. Laut terbentang seperti lembaran rahasia yang belum dibuka. Kami menyewa perahu kecil, lalu melaju perlahan ke tengah. Embusan angin, aroma asin laut, cahaya mentari yang malu-malu muncul dari balik cakrawala membuat pagi itu terasa seperti lukisan hidup.

Pagi itu, kami bukan satu-satunya yang mengejar keajaiban. Puluhan perahu lain pun turut serta, seperti pasukan yang sedang memburu bintang di siang hari. Masing-masing berlomba, seolah keberuntungan hanya milik yang tercepat. Aku mulai merasakan ketegangan, seperti ada perlombaan tak kasat mata.

Lumba-lumba tak kunjung muncul. Laut tampak tenang, nyaris tanpa riak. Aku duduk terdiam, menatap hamparan air. Di sampingku, Bagus menggenggam tanganku. Mungkin ia takut aku kecewa. Tapi tidak, bagiku, bahkan jika lumba-lumba tak datang, hari ini telah menjadi kenangan yang tak akan pernah hilang.

“Kalau nanti lumba-lumbanya muncul,” kata Bagus tiba-tiba, “kau harus berjanji sesuatu.”

Aku menoleh. “Apa?”

“Jangan pernah meninggalkanku.”

Aku terdiam. Permintaan sederhana, tapi terasa berat. Bukan karena aku tak ingin, tapi karena hidup sering kali tak memberi pilihan. Belum sempat kujawab, permukaan laut bergetar. Dan seolah semesta ikut campur dalam permainan ini, empat ekor lumba-lumba muncul dan melompat bersamaan.

Tubuh mereka berkilau. Menari-nari, meliuk-liuk di permukaan air, seperti penari yang sedang menyambut pagi. Mereka begitu dekat, hanya beberapa meter dari perahu kami, seakan tahu kehadiran mereka sedang ditunggu untuk sebuah janji.

“Indah….” bisikku.

Bagus tersenyum, namun matanya tak sepenuhnya ikut tersenyum. Seolah ia tahu, keindahan ini adalah sesuatu yang tak akan lama kami miliki.

Usai menikmati pertunjukkan spektakuler para lumba-lumba, kami pun kembali ke darat dan melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan, hampir tak ada percakapan yang terucap. Ketika tiba di depan rumahku, Bagus mematikan mesin motornya, lalu berdiri tepat di hadapanku sambil menatap dalam.

“Risa… hari ini memang bukan akhir dari kisah kita. Namun, aku ingin kau menyimpan semua yang telah kita lewati. Mari kita wujudkan impian masing-masing dan bertemu lagi di waktu yang paling tepat. Aku… mencintaimu, Risa. Tunggulah aku kembali!”

Ucapannya meresap perlahan, menyentuh setiap sudut hatiku yang rapuh. Aku menggenggam tangannya erat dan dengan suara lirih yang nyaris pecah, aku hanya mampu berujar, “Kembalilah saat kau benar-benar ingin kembali padaku.”

Hanya itu. Sebuah kalimat sederhana yang menggantungkan seluruh harapan pada takdir. Air mataku pun tumpah tanpa mampu kubendung dan seketika aku larut dalam pelukan Bagus.

Bagus pergi ke negeri seberang.

Awalnya, kami baik-baik saja. Pesan singkat, panggilan video, tawa-tawa kecil yang menyeberangi waktu, semuanya masih terasa utuh. Bagus yang kukenal. Dan aku tetap Risa yang menunggunya.

Hingga pesan itu datang. Nomor tak dikenal. Tanpa nama. Tanpa salam.

“Aku sudah melunasi semua hutang orang tuamu. Menjauhlah dari anakku. Jika tidak, orang tuamu yang akan menanggung akibatnya.”

Pesan itu bukan yang pertama. Tapi kali ini berbeda. Mereka menyebut hutang ayahku. Menyebut sesuatu yang selama ini kami sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Tanganku gemetar. Dadaku sesak.

Aku tahu siapa yang mengirimnya. Keluarga Bagus.

Sejak awal, mereka tak pernah benar-benar menerima kehadiranku. Bukan hanya karena aku miskin. Tapi karena aku bukan siapa-siapa. Sedangkan Bagus—Ida Bagus Eka Surya Suputra— lahir dari garis yang tak boleh disandingkan dengan sepertiku.

Aku mencoba bertahan. Mengabaikan. Melawan dalam diam. Namun kali ini, mereka tidak menyerangku. Mereka menyerang keluargaku. Dan aku kalah.

Ayahku adalah penjudi ulung yang tak pernah berhenti. Entah sudah berapa banyak surat penagihan dan caci maki yang mampir ke rumah kami. Aku dan Ibu telah mencoba segala cara, berdoa, bertahan, berjuang, namun semuanya terasa sia-sia.

Kini, kebebasan Ayah seolah dibayar oleh mereka, lalu digunakan sebagai senjata yang justru melukai hatiku sendiri. Aku terdiam di tempat, diliputi amarah, kehancuran, dan keputusasaan. Ada luka yang tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar kehilangan arah, tak tahu harus melangkah ke mana.

Aku pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.

Aku mengganti nomor, meninggalkan Singaraja, dan memulai hidup baru di Denpasar. Berprofesi sebagai guru. Mengajar anak-anak tentang mimpi, tentang keberanian. Namun, itu adalah hal-hal yang justru gagal kulakukan dalam hidupku sendiri.

Bagus menghilang dari hidupku. Atau mungkin… akulah yang menghilang darinya.

Sepuluh tahun berlalu.

Telah lama tak ada kabar darinya. Jujur saja, begitu banyak pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah ia pernah mencariku? Pernahkah ia bertanya-tanya ke mana aku menghilang? Ataukah ia memilih menyerah dan menerima perjodohan dengan perempuan lain? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk seperti sisa-sisa yang mengendap di benak, memenuhi ruang yang seharusnya sudah lama kutinggalkan.

Dan hari ini, aku kembali ke Pantai Lovina. Tempat di mana kami pernah percaya bahwa cinta cukup kuat untuk melawan segalanya. Laut masih sama. Angin masih membawa aroma asin yang sama. Perahu-perahu masih berayun di kejauhan. Hanya satu yang berbeda. Aku.

Aku berdiri sendiri di tepi pantai, menatap cakrawala yang dulu kami bagi berdua. Kenangan datang seperti ombak, tak bisa ditahan dan tak bisa dihindari.

“Aku kembali… Bagus,” gumamku pelan.

Bukan untuk menunggu. Bukan untuk berharap. Tapi untuk mengembalikan sesuatu yang selama ini kubawa terlalu lama. Sebuah janji yang tak pernah bisa kupenuhi. [T]

Reporter/Penulis: Kadek Windari
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Bapak Berdiri di Ambang Pintu karya Kadek Windari (Prasasti, 2025).

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

Next Post

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co