24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
May 29, 2026
in Cerpen
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih mengandung dingin yang menembus hingga ke tulang. Di tangan kanannya, sebuah tas plastik berisi beberapa lembar koran; di tangan kirinya, bungkusan nasi yang masih hangat, terikat karet warna merah.

Sudah lebih dari dua puluh tahun ia menjadi loper koran. Dulu, ia bisa membawa seratus eksemplar setiap pagi. Tapi sekarang, di zaman layar sentuh dan berita daring, yang tersisa tak sampai dua puluh. Pelanggannya makin tua, sebagian sudah wafat, sebagian pindah, dan sisanya tinggal sedikit yang masih mau membaca berita lewat kertas.

Namun bagi Pak Syukur, membagikan koran bukan sekadar kerja. Itu adalah ritual pagi yang meneguhkan keberadaannya sebuah alasan untuk bangun, bergerak, dan merasa masih berguna. Ia bukan sekadar mengantar berita; ia menyambung hidup, walau sederhana.

Di saku baju lusuhnya, terselip satu lembar foto usang. Foto anaknya, Arman, saat masih berseragam putih abu-abu. Itu satu-satunya foto yang tersisa setelah istrinya meninggal, setelah kontrakan lama mereka terbakar, dan setelah Arman memutuskan pergi entah ke mana.

“Pak, saya mau coba kerja di Jakarta. Bapak jangan khawatir,” kata Arman waktu itu. Ia pergi hanya dengan ransel kecil dan jaket denim, penuh semangat seperti anak muda lain yang yakin nasib bisa ditaklukkan di kota besar.

Awalnya, kabar masih datang, meski jarang: lewat surat, kemudian SMS. Tapi entah sejak kapan, semuanya lenyap. Nomor tak bisa dihubungi. Surat tak lagi berbalas. Pak Syukur tak pernah tahu pasti kenapa. Tapi ia menduga, mungkin karena Arman tak berhasil seperti yang ia harapkan.

“Mungkin dia malu,” gumamnya kadang, sambil menatap lembaran koran yang makin tipis isinya. “Atau mungkin dia hanya sedang cari jalan pulang yang benar.”

Pak Syukur tak pernah mencarinya. Bukan karena tak rindu, tapi karena takut kalau kenyataannya lebih pahit dari harapan. Ia memilih menunggu. Dalam diam. Dalam pagi-pagi yang terus datang tanpa pamit.

Kadang, jika pagi terlalu sunyi dan warung kopi masih tutup, Pak Syukur akan duduk di kursi kayu dekat halte, membuka bekal nasinya, dan memakan perlahan sambil membaca satu lembar koran yang tak laku. Ia membaca berita dengan mata kabur, kadang tak benar-benar paham, tapi tetap dibaca sampai habis. Ia percaya, meski dunia terus berubah, kata-kata di kertas tetap punya ruh.

Suatu pagi Minggu, saat langit mulai terang dan langganannya mulai keluar rumah, Pak Syukur menerima koran seperti biasa dari agen. Tapi ada satu hal berbeda: sebuah amplop putih terselip di dalam tumpukan koran, tanpa nama.

Ia membukanya pelan. Di dalamnya, ada uang seratus ribuan yang dilipat rapi, dan secarik kertas bertulisan tangan:

“Untuk Bapak Loper Koran yang selalu tepat waktu.

Saya pembaca setia, dulu dan sekarang.

Terima kasih sudah menjaga pagi saya tetap hidup.”

– A.

Pak Syukur terdiam. Tangannya gemetar. Ia tak tahu siapa “A.” itu, tapi ucapan terima kasih itu seperti embun bagi hatinya yang sudah mulai mengering. Mungkin ini balasan dari semesta, pikirnya. Mungkin hidup tak selalu harus bertemu untuk saling menyentuh.

Hari-hari berikutnya, surat itu menjadi penghibur. Setiap Minggu, di antara tumpukan koran yang makin sedikit, Pak Syukur selalu berharap menemukan amplop lain. Tapi tidak ada. Sampai suatu pagi, di minggu ketiga bulan itu, ia menemukan lagi satu amplop putih. Isinya kali ini hanya secarik kertas:

“Jika Bapak membaca halaman 5 hari ini,

mungkin Bapak akan menemukan seseorang yang Bapak rindukan.”

Dengan tergesa, Pak Syukur membuka halaman 5. Di sana, sebuah artikel kecil terpajang: “Loper Koran, Pagi yang Tak Pernah Mati.” Di bawahnya, foto dirinya dari belakang sedang mendorong sepeda. Ia tak sadar kapan difoto. Di bawah artikel itu, ada nama penulisnya: Arman Syukur.

Dunia seperti berhenti berputar. Ia baca ulang nama itu, berkali-kali, sambil berbisik, “Anakku…”

Matanya membasah, napasnya tercekat. Ia belum tahu segalanya, tapi ia tahu satu hal: Arman masih hidup. Dan lebih dari itu masih mengingatnya. Lewat tulisan. Lewat berita yang ia sendiri antarkan setiap hari.

Minggu berikutnya, di depan rumah kontrakan yang ia tempati, Seorang pria berdiri diam. Wajahnya lebih tua dari usianya, matanya cekung dan letih. Topi lusuh di tangan, ransel kecil di punggung. Saat ia mengangkat wajah, waktu seakan berhenti.

“Pak…” suaranya lirih. “Ini saya.”

Pak Syukur hanya berdiri, tak berkata. Lalu tertawa kecil, disusul tangis yang tak sempat ia tahan. Ia tak memeluk, hanya menepuk bahu lelaki itu kemudian menanyakan sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian.

“Kenapa kamu nggak ada kabar, Man?”

Arman menunduk, Tangannya gemetar sedikit, tapi suaranya jelas. “Karena saya gagal, Pak. Gagal jadi anak yang bisa Bapak banggakan. Dan saya terlalu pengecut untuk pulang sebagai orang yang gagal.”

Pak Syukur menoleh pelan. Matanya lembut seperti teh yang hampir dingin.

“Yang Bapak sesali… bukan karena kamu gagal. Tapi karena kamu memilih gak ada kabar.”

Arman menunduk.

“Maaf pak, Arman pulang tanpa membawa apa-apa tapi saya pulang membawa cerita. Cerita itu yang menyelamatkan saya, Pak. Waktu saya mulai bisa nulis untuk majalah kecil, saya tulis tentang pagi. Tentang orang-orang kecil. Tentang tukang koran. Tentang Bapak…”

Setelah itu, hidup tak berubah drastis. Tapi cukup. Pak Syukur tetap membagikan koran, kini dibantu Arman. Pelanggan mereka justru bertambah. Ada yang ingin beli koran hanya untuk membaca tulisan-tulisan Arman. Ada yang sekadar ingin melihat “ayah dan anak yang bersatu kembali.”

Tulisan Arman menyebar. Ia menulis tentang kesunyian yang setia, tentang bapak-bapak yang bangun sebelum matahari, tentang orang-orang yang tetap berdiri meski tak pernah dipuji. Dan setiap Minggu pagi, di teras kecil yang lapuk, dua orang duduk bersama. Membuka nasi bungkus, menyeruput teh, dan membaca koran bersama. Bukan karena berita dunia. Tapi karena di situlah mereka tahu: beberapa orang tak perlu panggung besar untuk menghidupkan makna. Dan kadang, pulang bukan tentang rumah. Tapi tentang keberanian menoleh ke luka, lalu menuliskannya jadi cahaya.

Kadang, selepas mengantar koran, mereka duduk lebih lama. Arman membacakan berita dengan suara pelan, diselipi komentar-komentar lucu yang membuat Pak Syukur terkekeh meski giginya tinggal separuh. Mereka tidak membicarakan masa lalu terlalu banyak, hanya secukupnya untuk menyentuh tanpa membuka luka. Sisanya, mereka habiskan untuk mengamati pagi anak-anak berangkat sekolah, ibu-ibu menyapu halaman, dan motor-motor melaju tergesa seperti biasa.

Suatu ketika, Arman membawa naskah pendek ke hadapan bapaknya. “Ini tentang kita, Pak. Saya mau kirim ke media. Bukan supaya terkenal, tapi supaya orang tahu, loper koran itu bukan profesi yang punah. Ia hanya bertransformasi. Dari tangan, ke hati.”

Pak Syukur tidak langsung menjawab. Ia membaca perlahan. Beberapa kalimat membuatnya diam lama. Lalu ia mengangguk.

“Kalau tulisan bisa bikin orang berhenti sejenak dari sibuknya, itu lebih dari cukup,” katanya.

Cerita itu dimuat. Judulnya sederhana: “Bungkus Nasi dan Harapan yang Tetap Hangat.” Banyak yang mengirim pesan ke redaksi, mengaku tersentuh. Beberapa loper koran di kota lain bahkan mencetak ulang cerita itu dan menyelipkannya di antara koran mereka. Arman tertawa kecil saat membaca komentar-komentar itu.

“Lihat, Pak. Kata-kata bisa berjalan lebih jauh dari kaki kita.”

Pak Syukur hanya menepuk punggung anaknya pelan. Tak banyak kata. Tapi di matanya, ada bangga yang tak bisa disembunyikan.

Suatu pagi, saat hujan turun rintik, Arman membuka bungkus nasi dan menemukan sepotong telur dadar yang dibentuk seperti hati. Di atasnya, ada tulisan kecil dari warung langganan mereka: “Untuk Bapak dan Anak Koran. Terima kasih sudah menjaga pagi kami.”

Pak Syukur tertawa. “Lihat, Man. Pagi ini kita gak cuma bawa koran. Tapi juga bawa cerita.”

Arman mengangguk. Dan pagi itu, mereka makan lebih lambat dari biasanya. Bukan karena hujan, tapi karena tak ingin hari terlalu cepat berlalu.

Sejak hari itu, mereka berdua jadi seperti berita yang ditunggu. Bukan karena sensasi. Tapi karena konsistensi. Karena di dunia yang serba cepat dan digital, ada dua orang yang tetap menyusuri gang sempit dengan koran di tangan dan harapan di dada.

Dan setiap Minggu pagi, ketika orang-orang membuka halaman lima, ada satu tulisan baru dari Arman. Selalu tentang hal kecil yang kerap luput: penjaga sekolah yang tak pernah absen, penjual bubur yang selalu tersenyum, atau ayah yang tak pernah berhenti menunggu anaknya pulang.

Karena bagi Arman, menulis bukan soal menjadi hebat. Tapi tentang menyampaikan yang sunyi. Dan bagi Pak Syukur, hidup bukan soal besar atau kecilnya langkah. Tapi tentang tetap berjalan, selagi matahari belum padam.

Di satu pagi yang lain, Arman menatap ayahnya yang sedang mengikat plastik koran.

“Pak, apa Bapak pernah benar-benar menyerah?”

Pak Syukur terdiam sebentar. Lalu menjawab, “Pernah. Tapi setiap kali saya hampir menyerah, pagi datang lagi. Dan saya pikir, selama pagi tetap datang, mungkin saya juga harus tetap berjalan.”

Arman mengangguk pelan. Dan di dalam hatinya, ia tahu: ia tak hanya menemukan jalan pulang. Tapi juga menemukan alasan untuk tinggal.

Dan pagi-pagi di sudut kota itu pun terus hidup. Dengan suara ranting yang dipijak pelan, dengan derak sepeda tua, dan dengan dua sosok sederhana yang mengingatkan kita bahwa cerita terbaik sering kali lahir dari hidup yang tak pernah lelah menunggu dan menulis ulang harapan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

Next Post

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
(Bukan) Demokrasi Kita

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  -- [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co