14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
May 29, 2026
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang nyata. Di era digital, kanal informasi semakin terbuka dan masyarakat memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk menyampaikan pendapat.

Media sosial memungkinkan berbagai kebijakan pemerintah dipantau dan dikritik dalam waktu cepat. Sebuah isu dapat menjadi perhatian publik nasional hanya dalam hitungan jam, sementara perdebatan politik berkembang hampir setiap hari di berbagai platform. Sekilas, situasi ini menunjukkan menguatnya kesadaran kritis masyarakat. Namun di tengah derasnya kritik tersebut, perubahan politik mendasar tidak selalu mengikuti.

Menurut pandangan penulis – yang juga berkecimpung di dunia gerakan – salah satu akar dari permasalahan tersebut adalah pengorganisasian yang melemah. Charles Tilly melihat gerakan sosial sebagai bentuk aksi kolektif yang bergantung pada kapasitas mobilisasi: kemampuan membangun jaringan, menjaga solidaritas, dan mempertahankan tekanan secara berkelanjutan.

Saul Alinsky dalam Rules for Radicals menambahkan, bahwa kekuatan semacam itu tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun melalui kerja pengorganisasian yang dekat dengan masyarakat. Kritik yang tersebar luas tidak otomatis berubah menjadi kekuatan politik. Ia membutuhkan hubungan sosial yang nyata, basis yang hidup, dan kemampuan menghubungkan banyak kepentingan ke dalam agenda bersama.

Penulis curiga bahwa masalah pengorganisasian ini berkaitan langsung dengan minimnya keterlibatan akar rumput. Kritik memang semakin mudah disuarakan dan ruang ekspresi semakin terbuka, tetapi ketika masyarakat yang berhadapan langsung dengan persoalan sehari-hari belum terlibat secara kuat, kritik kerap berhenti di tingkat wacana dan belum berkembang menjadi kekuatan kolektif yang mampu memberi tekanan politik secara nyata.

Persoalannya bukan karena masyarakat di tingkat akar rumput seperti buruh, petani kecil, nelayan, pedagang kecil, miskin kota, atau masyarakat adat tidak memiliki kepentingan atau tidak menyadari masalah. Sebaliknya, merekalah yang justru berhadapan paling dekat dengan berbagai persoalan yang sangat konkret dan mendesak: harga kebutuhan pokok yang naik, pendapatan yang tidak menentu, biaya pendidikan yang mahal, persoalan tanah, sulitnya akses kerja, layanan kesehatan, hingga ancaman terhadap ruang hidup. Sehingga tantangannya bukan pada ada atau tidaknya persoalan, melainkan pada bagaimana persoalan-persoalan konkret tersebut belum cukup diorganisir dan dihubungkan menjadi kekuatan kolektif yang lebih luas.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kerja pengorganisasian itu belum berjalan cukup kuat. Penulis menduga, bahwa kerja-kerja aktivisme hari ini sering lebih dekat dengan ruang diskusi dan perdebatan publik daripada dengan kerja sosial yang lebih mendalam di tengah masyarakat.

                                                                        ***

Perkembangan media digital memang memperluas ruang kritik, tetapi juga mendorong energi gerakan banyak terserap ke produksi opini, respons cepat terhadap isu, dan perdebatan yang terus berganti. Ketika ruang kritik lebih ramai daripada ruang pengorganisasian, muncul jarak antara suara yang nyaring di ruang publik dan persoalan konkret yang hidup di tengah masyarakat.

Selain itu, penulis juga menaruh kecurigaan bahwa sebagian kerja-kerja aktivisme hari ini masih berisiko menempatkan masyarakat lebih sebagai penerima agenda daripada sebagai pelaku utama perubahan. Dalam konteks ini, Paulo Freire melalui Pedagogy of the Oppressed mengingatkan bahwa pembebasan tidak lahir dari satu pihak yang datang sebagai penyelamat, melainkan dari dialog dan keterlibatan masyarakat sebagai subjek perubahan.

Bagi Freire, perubahan sosial tidak dapat dibangun melalui hubungan yang menempatkan masyarakat hanya sebagai objek yang diarahkan. Mereka yang mengalami persoalan harus ikut membaca realitasnya sendiri, membentuk kesadaran bersama, dan terlibat aktif dalam menentukan arah perubahan. Dalam pengertian ini, kerja pengorganisasian tidak cukup hadir sebagai representasi atas nama masyarakat, tetapi perlu tumbuh bersama masyarakat itu sendiri.

Terinspirasi dari Freire, pemikiran Mansour Fakih dalam Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik menawarkan arah yang penting dalam konteks Indonesia. Mansour Fakih menekankan bahwa perubahan sosial tidak cukup dibangun dari kritik yang berputar di ruang intelektual atau diskusi di lingkaran terbatas.

Perubahan harus tumbuh melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat dan berangkat dari pengalaman hidup mereka sendiri. Kerja-kerja sosial tidak cukup berhenti sebagai penyampai gagasan atau kritik dari kejauhan, tetapi perlu hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan konkret yang dihadapi sehari-hari, membangun hubungan yang nyata, dan menghubungkan persoalan-persoalan tersebut ke dalam kesadaran bersama.

Oleh karena itu, apresiasi sebesar-besarnya harus diberikan kepada mereka yang tetap bergerak di tengah berbagai keterbatasan, mereka yang bekerja di tempat-tempat yang tak selalu terlihat, di ruang-ruang yang sunyi: mendampingi warga, mengadvokasi kebijakan, membangun pendidikan komunitas, atau menjaga solidaritas tetap hidup di banyak tempat.

Penulis menyadari bahwa perubahan sosial tidak pernah berlangsung secara instan. Ia sering bergerak perlahan, bertahap, dan membutuhkan waktu yang panjang. Seperti yang dikatakan Saul Alinsky, perubahan tidak selalu dimulai dari sasaran besar yang langsung mengguncang pusat kekuasaan. Dalam banyak keadaan, perubahan justru tumbuh dari kemenangan-kemenangan kecil yang konkret, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan mampu membangun rasa percaya diri bersama. Dari sana kepercayaan tumbuh, solidaritas menguat, dan organisasi perlahan menemukan pijakannya.

Sebagai penutup, penulis ingin menyegarkan ingatan kita kembali dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib r.a.: “Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Kritik yang melimpah menunjukkan bahwa kesadaran publik terus tumbuh, tetapi tanpa kerja pengorganisasian yang mampu menghimpun persoalan konkret masyarakat akar rumput menjadi agenda bersama, kritik mudah berhenti sebagai wacana. Karena itu, perhatian terhadap akar rumput dan kesabaran membangun organisasi tetap menjadi bagian penting agar suara kritis tidak hanya terdengar, tetapi juga perlahan mampu menjadi kekuatan sosial yang nyata. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Tags: kritikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

'Magnifica Humanitas' sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co