3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
May 29, 2026
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang nyata. Di era digital, kanal informasi semakin terbuka dan masyarakat memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk menyampaikan pendapat.

Media sosial memungkinkan berbagai kebijakan pemerintah dipantau dan dikritik dalam waktu cepat. Sebuah isu dapat menjadi perhatian publik nasional hanya dalam hitungan jam, sementara perdebatan politik berkembang hampir setiap hari di berbagai platform. Sekilas, situasi ini menunjukkan menguatnya kesadaran kritis masyarakat. Namun di tengah derasnya kritik tersebut, perubahan politik mendasar tidak selalu mengikuti.

Menurut pandangan penulis – yang juga berkecimpung di dunia gerakan – salah satu akar dari permasalahan tersebut adalah pengorganisasian yang melemah. Charles Tilly melihat gerakan sosial sebagai bentuk aksi kolektif yang bergantung pada kapasitas mobilisasi: kemampuan membangun jaringan, menjaga solidaritas, dan mempertahankan tekanan secara berkelanjutan.

Saul Alinsky dalam Rules for Radicals menambahkan, bahwa kekuatan semacam itu tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun melalui kerja pengorganisasian yang dekat dengan masyarakat. Kritik yang tersebar luas tidak otomatis berubah menjadi kekuatan politik. Ia membutuhkan hubungan sosial yang nyata, basis yang hidup, dan kemampuan menghubungkan banyak kepentingan ke dalam agenda bersama.

Penulis curiga bahwa masalah pengorganisasian ini berkaitan langsung dengan minimnya keterlibatan akar rumput. Kritik memang semakin mudah disuarakan dan ruang ekspresi semakin terbuka, tetapi ketika masyarakat yang berhadapan langsung dengan persoalan sehari-hari belum terlibat secara kuat, kritik kerap berhenti di tingkat wacana dan belum berkembang menjadi kekuatan kolektif yang mampu memberi tekanan politik secara nyata.

Persoalannya bukan karena masyarakat di tingkat akar rumput seperti buruh, petani kecil, nelayan, pedagang kecil, miskin kota, atau masyarakat adat tidak memiliki kepentingan atau tidak menyadari masalah. Sebaliknya, merekalah yang justru berhadapan paling dekat dengan berbagai persoalan yang sangat konkret dan mendesak: harga kebutuhan pokok yang naik, pendapatan yang tidak menentu, biaya pendidikan yang mahal, persoalan tanah, sulitnya akses kerja, layanan kesehatan, hingga ancaman terhadap ruang hidup. Sehingga tantangannya bukan pada ada atau tidaknya persoalan, melainkan pada bagaimana persoalan-persoalan konkret tersebut belum cukup diorganisir dan dihubungkan menjadi kekuatan kolektif yang lebih luas.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kerja pengorganisasian itu belum berjalan cukup kuat. Penulis menduga, bahwa kerja-kerja aktivisme hari ini sering lebih dekat dengan ruang diskusi dan perdebatan publik daripada dengan kerja sosial yang lebih mendalam di tengah masyarakat.

                                                                        ***

Perkembangan media digital memang memperluas ruang kritik, tetapi juga mendorong energi gerakan banyak terserap ke produksi opini, respons cepat terhadap isu, dan perdebatan yang terus berganti. Ketika ruang kritik lebih ramai daripada ruang pengorganisasian, muncul jarak antara suara yang nyaring di ruang publik dan persoalan konkret yang hidup di tengah masyarakat.

Selain itu, penulis juga menaruh kecurigaan bahwa sebagian kerja-kerja aktivisme hari ini masih berisiko menempatkan masyarakat lebih sebagai penerima agenda daripada sebagai pelaku utama perubahan. Dalam konteks ini, Paulo Freire melalui Pedagogy of the Oppressed mengingatkan bahwa pembebasan tidak lahir dari satu pihak yang datang sebagai penyelamat, melainkan dari dialog dan keterlibatan masyarakat sebagai subjek perubahan.

Bagi Freire, perubahan sosial tidak dapat dibangun melalui hubungan yang menempatkan masyarakat hanya sebagai objek yang diarahkan. Mereka yang mengalami persoalan harus ikut membaca realitasnya sendiri, membentuk kesadaran bersama, dan terlibat aktif dalam menentukan arah perubahan. Dalam pengertian ini, kerja pengorganisasian tidak cukup hadir sebagai representasi atas nama masyarakat, tetapi perlu tumbuh bersama masyarakat itu sendiri.

Terinspirasi dari Freire, pemikiran Mansour Fakih dalam Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik menawarkan arah yang penting dalam konteks Indonesia. Mansour Fakih menekankan bahwa perubahan sosial tidak cukup dibangun dari kritik yang berputar di ruang intelektual atau diskusi di lingkaran terbatas.

Perubahan harus tumbuh melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat dan berangkat dari pengalaman hidup mereka sendiri. Kerja-kerja sosial tidak cukup berhenti sebagai penyampai gagasan atau kritik dari kejauhan, tetapi perlu hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan konkret yang dihadapi sehari-hari, membangun hubungan yang nyata, dan menghubungkan persoalan-persoalan tersebut ke dalam kesadaran bersama.

Oleh karena itu, apresiasi sebesar-besarnya harus diberikan kepada mereka yang tetap bergerak di tengah berbagai keterbatasan, mereka yang bekerja di tempat-tempat yang tak selalu terlihat, di ruang-ruang yang sunyi: mendampingi warga, mengadvokasi kebijakan, membangun pendidikan komunitas, atau menjaga solidaritas tetap hidup di banyak tempat.

Penulis menyadari bahwa perubahan sosial tidak pernah berlangsung secara instan. Ia sering bergerak perlahan, bertahap, dan membutuhkan waktu yang panjang. Seperti yang dikatakan Saul Alinsky, perubahan tidak selalu dimulai dari sasaran besar yang langsung mengguncang pusat kekuasaan. Dalam banyak keadaan, perubahan justru tumbuh dari kemenangan-kemenangan kecil yang konkret, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan mampu membangun rasa percaya diri bersama. Dari sana kepercayaan tumbuh, solidaritas menguat, dan organisasi perlahan menemukan pijakannya.

Sebagai penutup, penulis ingin menyegarkan ingatan kita kembali dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib r.a.: “Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Kritik yang melimpah menunjukkan bahwa kesadaran publik terus tumbuh, tetapi tanpa kerja pengorganisasian yang mampu menghimpun persoalan konkret masyarakat akar rumput menjadi agenda bersama, kritik mudah berhenti sebagai wacana. Karena itu, perhatian terhadap akar rumput dan kesabaran membangun organisasi tetap menjadi bagian penting agar suara kritis tidak hanya terdengar, tetapi juga perlahan mampu menjadi kekuatan sosial yang nyata. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Tags: kritikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

'Magnifica Humanitas' sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co