23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
May 29, 2026
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang nyata. Di era digital, kanal informasi semakin terbuka dan masyarakat memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk menyampaikan pendapat.

Media sosial memungkinkan berbagai kebijakan pemerintah dipantau dan dikritik dalam waktu cepat. Sebuah isu dapat menjadi perhatian publik nasional hanya dalam hitungan jam, sementara perdebatan politik berkembang hampir setiap hari di berbagai platform. Sekilas, situasi ini menunjukkan menguatnya kesadaran kritis masyarakat. Namun di tengah derasnya kritik tersebut, perubahan politik mendasar tidak selalu mengikuti.

Menurut pandangan penulis – yang juga berkecimpung di dunia gerakan – salah satu akar dari permasalahan tersebut adalah pengorganisasian yang melemah. Charles Tilly melihat gerakan sosial sebagai bentuk aksi kolektif yang bergantung pada kapasitas mobilisasi: kemampuan membangun jaringan, menjaga solidaritas, dan mempertahankan tekanan secara berkelanjutan.

Saul Alinsky dalam Rules for Radicals menambahkan, bahwa kekuatan semacam itu tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun melalui kerja pengorganisasian yang dekat dengan masyarakat. Kritik yang tersebar luas tidak otomatis berubah menjadi kekuatan politik. Ia membutuhkan hubungan sosial yang nyata, basis yang hidup, dan kemampuan menghubungkan banyak kepentingan ke dalam agenda bersama.

Penulis curiga bahwa masalah pengorganisasian ini berkaitan langsung dengan minimnya keterlibatan akar rumput. Kritik memang semakin mudah disuarakan dan ruang ekspresi semakin terbuka, tetapi ketika masyarakat yang berhadapan langsung dengan persoalan sehari-hari belum terlibat secara kuat, kritik kerap berhenti di tingkat wacana dan belum berkembang menjadi kekuatan kolektif yang mampu memberi tekanan politik secara nyata.

Persoalannya bukan karena masyarakat di tingkat akar rumput seperti buruh, petani kecil, nelayan, pedagang kecil, miskin kota, atau masyarakat adat tidak memiliki kepentingan atau tidak menyadari masalah. Sebaliknya, merekalah yang justru berhadapan paling dekat dengan berbagai persoalan yang sangat konkret dan mendesak: harga kebutuhan pokok yang naik, pendapatan yang tidak menentu, biaya pendidikan yang mahal, persoalan tanah, sulitnya akses kerja, layanan kesehatan, hingga ancaman terhadap ruang hidup. Sehingga tantangannya bukan pada ada atau tidaknya persoalan, melainkan pada bagaimana persoalan-persoalan konkret tersebut belum cukup diorganisir dan dihubungkan menjadi kekuatan kolektif yang lebih luas.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kerja pengorganisasian itu belum berjalan cukup kuat. Penulis menduga, bahwa kerja-kerja aktivisme hari ini sering lebih dekat dengan ruang diskusi dan perdebatan publik daripada dengan kerja sosial yang lebih mendalam di tengah masyarakat.

                                                                        ***

Perkembangan media digital memang memperluas ruang kritik, tetapi juga mendorong energi gerakan banyak terserap ke produksi opini, respons cepat terhadap isu, dan perdebatan yang terus berganti. Ketika ruang kritik lebih ramai daripada ruang pengorganisasian, muncul jarak antara suara yang nyaring di ruang publik dan persoalan konkret yang hidup di tengah masyarakat.

Selain itu, penulis juga menaruh kecurigaan bahwa sebagian kerja-kerja aktivisme hari ini masih berisiko menempatkan masyarakat lebih sebagai penerima agenda daripada sebagai pelaku utama perubahan. Dalam konteks ini, Paulo Freire melalui Pedagogy of the Oppressed mengingatkan bahwa pembebasan tidak lahir dari satu pihak yang datang sebagai penyelamat, melainkan dari dialog dan keterlibatan masyarakat sebagai subjek perubahan.

Bagi Freire, perubahan sosial tidak dapat dibangun melalui hubungan yang menempatkan masyarakat hanya sebagai objek yang diarahkan. Mereka yang mengalami persoalan harus ikut membaca realitasnya sendiri, membentuk kesadaran bersama, dan terlibat aktif dalam menentukan arah perubahan. Dalam pengertian ini, kerja pengorganisasian tidak cukup hadir sebagai representasi atas nama masyarakat, tetapi perlu tumbuh bersama masyarakat itu sendiri.

Terinspirasi dari Freire, pemikiran Mansour Fakih dalam Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik menawarkan arah yang penting dalam konteks Indonesia. Mansour Fakih menekankan bahwa perubahan sosial tidak cukup dibangun dari kritik yang berputar di ruang intelektual atau diskusi di lingkaran terbatas.

Perubahan harus tumbuh melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat dan berangkat dari pengalaman hidup mereka sendiri. Kerja-kerja sosial tidak cukup berhenti sebagai penyampai gagasan atau kritik dari kejauhan, tetapi perlu hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan konkret yang dihadapi sehari-hari, membangun hubungan yang nyata, dan menghubungkan persoalan-persoalan tersebut ke dalam kesadaran bersama.

Oleh karena itu, apresiasi sebesar-besarnya harus diberikan kepada mereka yang tetap bergerak di tengah berbagai keterbatasan, mereka yang bekerja di tempat-tempat yang tak selalu terlihat, di ruang-ruang yang sunyi: mendampingi warga, mengadvokasi kebijakan, membangun pendidikan komunitas, atau menjaga solidaritas tetap hidup di banyak tempat.

Penulis menyadari bahwa perubahan sosial tidak pernah berlangsung secara instan. Ia sering bergerak perlahan, bertahap, dan membutuhkan waktu yang panjang. Seperti yang dikatakan Saul Alinsky, perubahan tidak selalu dimulai dari sasaran besar yang langsung mengguncang pusat kekuasaan. Dalam banyak keadaan, perubahan justru tumbuh dari kemenangan-kemenangan kecil yang konkret, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan mampu membangun rasa percaya diri bersama. Dari sana kepercayaan tumbuh, solidaritas menguat, dan organisasi perlahan menemukan pijakannya.

Sebagai penutup, penulis ingin menyegarkan ingatan kita kembali dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib r.a.: “Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Kritik yang melimpah menunjukkan bahwa kesadaran publik terus tumbuh, tetapi tanpa kerja pengorganisasian yang mampu menghimpun persoalan konkret masyarakat akar rumput menjadi agenda bersama, kritik mudah berhenti sebagai wacana. Karena itu, perhatian terhadap akar rumput dan kesabaran membangun organisasi tetap menjadi bagian penting agar suara kritis tidak hanya terdengar, tetapi juga perlahan mampu menjadi kekuatan sosial yang nyata. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Tags: kritikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

'Magnifica Humanitas' sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co