SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang nyata. Di era digital, kanal informasi semakin terbuka dan masyarakat memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk menyampaikan pendapat.
Media sosial memungkinkan berbagai kebijakan pemerintah dipantau dan dikritik dalam waktu cepat. Sebuah isu dapat menjadi perhatian publik nasional hanya dalam hitungan jam, sementara perdebatan politik berkembang hampir setiap hari di berbagai platform. Sekilas, situasi ini menunjukkan menguatnya kesadaran kritis masyarakat. Namun di tengah derasnya kritik tersebut, perubahan politik mendasar tidak selalu mengikuti.
Menurut pandangan penulis – yang juga berkecimpung di dunia gerakan – salah satu akar dari permasalahan tersebut adalah pengorganisasian yang melemah. Charles Tilly melihat gerakan sosial sebagai bentuk aksi kolektif yang bergantung pada kapasitas mobilisasi: kemampuan membangun jaringan, menjaga solidaritas, dan mempertahankan tekanan secara berkelanjutan.
Saul Alinsky dalam Rules for Radicals menambahkan, bahwa kekuatan semacam itu tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun melalui kerja pengorganisasian yang dekat dengan masyarakat. Kritik yang tersebar luas tidak otomatis berubah menjadi kekuatan politik. Ia membutuhkan hubungan sosial yang nyata, basis yang hidup, dan kemampuan menghubungkan banyak kepentingan ke dalam agenda bersama.
Penulis curiga bahwa masalah pengorganisasian ini berkaitan langsung dengan minimnya keterlibatan akar rumput. Kritik memang semakin mudah disuarakan dan ruang ekspresi semakin terbuka, tetapi ketika masyarakat yang berhadapan langsung dengan persoalan sehari-hari belum terlibat secara kuat, kritik kerap berhenti di tingkat wacana dan belum berkembang menjadi kekuatan kolektif yang mampu memberi tekanan politik secara nyata.
Persoalannya bukan karena masyarakat di tingkat akar rumput seperti buruh, petani kecil, nelayan, pedagang kecil, miskin kota, atau masyarakat adat tidak memiliki kepentingan atau tidak menyadari masalah. Sebaliknya, merekalah yang justru berhadapan paling dekat dengan berbagai persoalan yang sangat konkret dan mendesak: harga kebutuhan pokok yang naik, pendapatan yang tidak menentu, biaya pendidikan yang mahal, persoalan tanah, sulitnya akses kerja, layanan kesehatan, hingga ancaman terhadap ruang hidup. Sehingga tantangannya bukan pada ada atau tidaknya persoalan, melainkan pada bagaimana persoalan-persoalan konkret tersebut belum cukup diorganisir dan dihubungkan menjadi kekuatan kolektif yang lebih luas.
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kerja pengorganisasian itu belum berjalan cukup kuat. Penulis menduga, bahwa kerja-kerja aktivisme hari ini sering lebih dekat dengan ruang diskusi dan perdebatan publik daripada dengan kerja sosial yang lebih mendalam di tengah masyarakat.
***
Perkembangan media digital memang memperluas ruang kritik, tetapi juga mendorong energi gerakan banyak terserap ke produksi opini, respons cepat terhadap isu, dan perdebatan yang terus berganti. Ketika ruang kritik lebih ramai daripada ruang pengorganisasian, muncul jarak antara suara yang nyaring di ruang publik dan persoalan konkret yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, penulis juga menaruh kecurigaan bahwa sebagian kerja-kerja aktivisme hari ini masih berisiko menempatkan masyarakat lebih sebagai penerima agenda daripada sebagai pelaku utama perubahan. Dalam konteks ini, Paulo Freire melalui Pedagogy of the Oppressed mengingatkan bahwa pembebasan tidak lahir dari satu pihak yang datang sebagai penyelamat, melainkan dari dialog dan keterlibatan masyarakat sebagai subjek perubahan.
Bagi Freire, perubahan sosial tidak dapat dibangun melalui hubungan yang menempatkan masyarakat hanya sebagai objek yang diarahkan. Mereka yang mengalami persoalan harus ikut membaca realitasnya sendiri, membentuk kesadaran bersama, dan terlibat aktif dalam menentukan arah perubahan. Dalam pengertian ini, kerja pengorganisasian tidak cukup hadir sebagai representasi atas nama masyarakat, tetapi perlu tumbuh bersama masyarakat itu sendiri.
Terinspirasi dari Freire, pemikiran Mansour Fakih dalam Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik menawarkan arah yang penting dalam konteks Indonesia. Mansour Fakih menekankan bahwa perubahan sosial tidak cukup dibangun dari kritik yang berputar di ruang intelektual atau diskusi di lingkaran terbatas.
Perubahan harus tumbuh melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat dan berangkat dari pengalaman hidup mereka sendiri. Kerja-kerja sosial tidak cukup berhenti sebagai penyampai gagasan atau kritik dari kejauhan, tetapi perlu hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan konkret yang dihadapi sehari-hari, membangun hubungan yang nyata, dan menghubungkan persoalan-persoalan tersebut ke dalam kesadaran bersama.
Oleh karena itu, apresiasi sebesar-besarnya harus diberikan kepada mereka yang tetap bergerak di tengah berbagai keterbatasan, mereka yang bekerja di tempat-tempat yang tak selalu terlihat, di ruang-ruang yang sunyi: mendampingi warga, mengadvokasi kebijakan, membangun pendidikan komunitas, atau menjaga solidaritas tetap hidup di banyak tempat.
Penulis menyadari bahwa perubahan sosial tidak pernah berlangsung secara instan. Ia sering bergerak perlahan, bertahap, dan membutuhkan waktu yang panjang. Seperti yang dikatakan Saul Alinsky, perubahan tidak selalu dimulai dari sasaran besar yang langsung mengguncang pusat kekuasaan. Dalam banyak keadaan, perubahan justru tumbuh dari kemenangan-kemenangan kecil yang konkret, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan mampu membangun rasa percaya diri bersama. Dari sana kepercayaan tumbuh, solidaritas menguat, dan organisasi perlahan menemukan pijakannya.
Sebagai penutup, penulis ingin menyegarkan ingatan kita kembali dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib r.a.: “Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Kritik yang melimpah menunjukkan bahwa kesadaran publik terus tumbuh, tetapi tanpa kerja pengorganisasian yang mampu menghimpun persoalan konkret masyarakat akar rumput menjadi agenda bersama, kritik mudah berhenti sebagai wacana. Karena itu, perhatian terhadap akar rumput dan kesabaran membangun organisasi tetap menjadi bagian penting agar suara kritis tidak hanya terdengar, tetapi juga perlahan mampu menjadi kekuatan sosial yang nyata. [T]
Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole






























