14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
in Esai
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tentang kecerdasan buatan. Dokumen ini bukan sekadar nasihat religius bagi umat Katolik, melainkan intervensi moral terhadap arah peradaban digital. Ensiklik tersebut resmi dirilis Vatikan pada Mei 2026 dan menempatkan AI sebagai salah satu ujian terbesar bagi martabat manusia, kebenaran, kerja, kebebasan, dan perdamaian dunia.

Sudut pandang utama tulisan adalah bahwa Magnifica Humanitas perlu dibaca sebagai kritik terhadap peradaban teknokratis, yaitu peradaban yang terlalu percaya bahwa setiap masalah manusia dapat diselesaikan melalui efisiensi, komputasi, otomatisasi, dan kontrol data. Dalam kerangka ini, AI bukan ditolak sebagai teknologi, tetapi diperingatkan agar tidak berubah menjadi sistem kekuasaan baru yang menggeser manusia dari pusat kehidupan sosial.

AI dan Paradigma Teknokratis

Paus Leo XIV tampaknya melanjutkan garis kritik yang sebelumnya kuat dalam pemikiran Paus Fransiskus, terutama kritik terhadap “paradigma teknokratis” dalam Laudato si’. Namun, Magnifica Humanitas memperluas kritik itu ke dunia algoritma, model bahasa besar, otomasi kerja, senjata otonom, dan ekonomi data. AI dipandang bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi sebagai struktur sosial yang dapat mengubah relasi kuasa.

Secara teoritis, pandangan ini sejalan dengan kritik Jacques Ellul tentang masyarakat teknologis, yaitu ketika teknik tidak lagi menjadi sarana, melainkan berubah menjadi logika dominan yang mengatur manusia (Ellul, 2021). Ia juga dekat dengan gagasan Martin Heidegger tentang teknologi modern sebagai cara manusia “membingkai” dunia hanya sebagai sumber daya (Heidegger, 1954). Dalam konteks AI, manusia berisiko dibaca bukan sebagai pribadi yang bermartabat, melainkan sebagai data, pola perilaku, target iklan, tenaga kerja murah, atau objek prediksi.

Di sinilah prinsip Doktrin Sosial Gereja. Martabat manusia, kebaikan bersama, solidaritas, subsidiaritas, dan tujuan universal barang-barang menjadi kriteria etis untuk menilai AI. Artinya, pertanyaan utama bukan lagi “seberapa canggih AI?”, melainkan “siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan, dan apakah manusia tetap menjadi subjek moral?”

Martabat Manusia Melawan Reduksi Algoritmik

Gagasan paling kuat dari ensiklik ini adalah bahwa AI tidak memiliki hati, tubuh, pengalaman batin, nurani, dan tanggung jawab moral. AI dapat meniru bahasa manusia, menghasilkan keputusan statistik, dan mengolah data dalam skala besar, tetapi ia tidak mengalami penderitaan, kasih, rasa bersalah, atau pertobatan. Karena itu, menyerahkan keputusan hidup manusia sepenuhnya kepada mesin adalah bentuk kemunduran moral.

Dalam konteks ini, AI tidak boleh dijadikan hakim terakhir atas nilai manusia. Kita sudah melihat bagaimana sistem algoritmik dipakai dalam rekrutmen kerja, kredit, asuransi, kepolisian prediktif, pendidikan, bahkan penilaian risiko sosial. Jika data historis yang digunakan mengandung bias, maka AI dapat memperkuat ketidakadilan lama dalam bentuk baru yang tampak objektif.

Penelitian dan laporan global menunjukkan bahwa isu bias, privasi, dan kepercayaan publik terhadap AI masih menjadi masalah serius. Stanford AI Index 2025 mencatat bahwa AI telah menjadi teknologi transformatif, tetapi manfaatnya tidak otomatis tersebar secara adil tanpa tata kelola yang tepat (Wang & Xie, 2026). Dengan kata lain, kemajuan teknis tidak identik dengan kemajuan moral.

Kebenaran sebagai Barang Publik

Salah satu kontribusi penting Magnifica Humanitas adalah menempatkan kebenaran sebagai bagian dari kebaikan bersama. Ini sangat relevan karena AI generatif mempercepat produksi teks, gambar, audio, dan video palsu dalam skala massal. Deepfake, propaganda otomatis, dan manipulasi opini publik membuat masyarakat semakin sulit membedakan kebenaran dari fabrikasi.

Kasus deepfake dalam politik, penipuan finansial berbasis suara sintetis, dan banjir konten palsu di media sosial menunjukkan bahwa krisis AI bukan hanya krisis teknologi, melainkan krisis epistemik. Ketika publik tidak lagi percaya pada fakta, demokrasi kehilangan dasar rasionalnya. Reuters melaporkan bahwa PBB telah menyerukan langkah global untuk mendeteksi dan melawan deepfake berbasis AI karena risikonya terhadap pemilu, penipuan, dan kepercayaan publik.

Dalam perspektif ensiklik, kebenaran tidak boleh diprivatisasi oleh platform digital atau dikendalikan oleh algoritma keterlibatan (Caplan & Boyd, 2016). Kebenaran adalah syarat bagi demokrasi, keadilan, dan kehidupan bersama. Jika AI hanya diatur oleh logika klik, viralitas, dan keuntungan iklan, maka ia akan lebih mudah menjadi mesin kekacauan daripada sarana pencerahan.

Kerja, Otomasi, dan Martabat Pekerja

Bagian tentang kerja dalam Magnifica Humanitas sangat penting karena AI sering dipromosikan sebagai alat efisiensi, tetapi jarang dibahas dari sisi martabat pekerja. Otomasi memang dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat menciptakan pengangguran struktural, memperlemah posisi tawar buruh, dan menghapus pekerjaan tingkat awal.

Penelitian Economic Insights menunjukkan bahwa AI generatif lebih mungkin mengubah pekerjaan daripada langsung menghancurkan seluruh pekerjaan, tetapi dampaknya tidak merata (Drozd & Tavares, 2024). Pekerjaan administratif dan klerikal termasuk yang paling terekspos, dan kelompok tertentu dapat lebih rentan terhadap perubahan tersebut.

Maka, pertanyaan etisnya bukan apakah perusahaan boleh menggunakan AI, melainkan bagaimana transisi itu dilakukan. Apakah pekerja diberi pelatihan ulang? Apakah keuntungan produktivitas dibagi secara adil? Apakah AI dipakai untuk memperkuat manusia atau sekadar mengganti manusia demi margin laba?

Hal ini secara jelas tampak pada pekerja data labeler dan moderator konten. Di balik kecerdasan AI, ada jutaan pekerja yang memberi label gambar, membersihkan data, memoderasi konten kekerasan, dan melatih model. Brookings mencatat adanya gerakan pekerja data dan moderator konten di Kenya serta Global South yang menuntut upah layak, kondisi kerja aman, dan dukungan kesehatan mental. Kasus ini menunjukkan bahwa AI yang tampak “otomatis” sering berdiri di atas kerja manusia yang tersembunyi.

Kebebasan dan Perbudakan Digital Baru

Ensiklik ini juga kuat karena menyebut kemungkinan munculnya “perbudakan baru” dalam ekonomi digital. Istilah ini dapat dibaca secara luas, bahwa bukan hanya perdagangan manusia yang difasilitasi platform, tetapi juga bentuk eksploitasi digital seperti kerja mikro berupah rendah, pengawasan pekerja, manipulasi perilaku konsumen, dan ketergantungan manusia pada sistem rekomendasi.

Dalam ekonomi platform, kebebasan sering tampak sebagai pilihan, yaitu memilih aplikasi, memilih pekerjaan fleksibel, memilih konten. Namun di balik itu, algoritma menentukan visibilitas, pendapatan, rating, bahkan reputasi seseorang. Kebebasan menjadi semu ketika manusia tidak memahami bagaimana sistem mengambil keputusan atas dirinya.

Di sinilah prinsip subsidiaritas menjadi relevan. Keputusan teknologi tidak boleh hanya ditentukan oleh perusahaan besar, investor, atau negara kuat. Komunitas terdampak harus memiliki suara. Data, algoritma, dan paten tidak boleh hanya menjadi barang privat yang memperkaya segelintir elit, sebab dampaknya menyentuh kehidupan publik.

Senjata Otonom dan Hilangnya Tanggung Jawab Moral

Paus Leo XIV memperingatkan bahaya senjata otonom yang dapat membuat keputusan hidup dan mati semakin jauh dari pertimbangan manusia. Reuters melaporkan bahwa dalam ensiklik ini Paus mendesak regulasi AI yang lebih ketat dan memperingatkan bahwa sebagian senjata kini bergerak menuju operasi di luar kendali manusia langsung.

Persoalan utama senjata otonom bukan hanya akurasi, tetapi tanggung jawab. Jika drone atau sistem AI salah menargetkan warga sipil, siapa yang bertanggung jawab? Programmer? Komandan? Produsen? Negara? Davison, N. (2018) telah lama memperingatkan bahwa keterbatasan kontrol manusia atas senjata otonom dapat menyulitkan pertanggungjawaban dalam hukum humaniter internasional (Davison, 2018).

Dalam kasus perang modern teknologi militer semakin terdigitalisasi, seperti drone, sistem target otomatis, pengawasan satelit, dan analisis medan tempur berbasis AI. Dalam situasi perang, kecepatan algoritmik dapat mengalahkan refleksi moral. Padahal keputusan membunuh tidak boleh direduksi menjadi kalkulasi probabilitas.

Peradaban Kasih sebagai Alternatif

Konsep “Peradaban Kasih” dalam ensiklik ini bukan slogan sentimental. Ia adalah tawaran politik-etis untuk melawan budaya kekuasaan. Dalam budaya kekuasaan, AI dipakai untuk menguasai pasar, memantau warga, memenangkan perang, dan memaksimalkan profit. Dalam peradaban kasih, AI harus diarahkan untuk pendidikan, kesehatan, keadilan sosial, perdamaian, perlindungan lingkungan, dan penguatan relasi manusia.

Pandangan ini tidak anti-teknologi. Justru sebaliknya, ia menuntut teknologi yang lebih bertanggung jawab. AI dapat membantu diagnosis penyakit, memetakan bencana, mempercepat riset ilmiah, meningkatkan akses pendidikan, dan mendukung administrasi publik. Namun semua manfaat itu hanya bermakna jika manusia tetap menjadi tujuan, bukan bahan bakar sistem.

Menjadi Arsitek yang Bijaksana

Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa krisis AI bukan terutama soal mesin yang menjadi terlalu pintar, melainkan manusia yang menjadi terlalu lalai. Bahaya terbesar bukan ketika AI menggantikan manusia secara teknis, tetapi ketika manusia menyerahkan nurani, tanggung jawab, dan penilaian moralnya kepada sistem otomatis.

Ensiklik ini relevan tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi bagi akademisi, pembuat kebijakan, insinyur, pengusaha, jurnalis, pendidik, dan masyarakat sipil. Ia mengajak kita menjadi “arsitek yang bijaksana”, yaitu membangun teknologi dengan fondasi martabat manusia, bukan sekadar efisiensi; dengan orientasi kebaikan bersama, bukan monopoli; dengan solidaritas, bukan eksploitasi; dengan kebenaran, bukan manipulasi.

Sehingga AI akan menjadi cermin dari nilai manusia yang menciptakannya. Jika dibangun dalam logika kuasa, ia akan memperbesar ketimpangan. Jika dibangun dalam etika kasih, ia dapat menjadi alat pembebasan. Maka pertanyaan terbesar era AI bukan “apa yang dapat dilakukan mesin?”, melainkan “manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui mesin itu?” [T]

Referensi

Caplan, R., & Boyd, D. (2016). Who controls the public sphere in an era of algorithms. Mediation, Automation, Power, 1–19.

Davison, N. (2018). A legal perspective: Autonomous weapon systems under international humanitarian law.

Drozd, L. A., & Tavares, M. (2024). Generative AI: A turning point for labor’s share. Economic Insights, 9(1), 2–11.

Ellul, J. (2021). The technological society. Vintage.

Heidegger, M. (1954). The question concerning technology. Technology and values: Essential readings, 99, 113.

Wang, X., & Xie, F. (2026). Global artificial intelligence governance research in the digital and intelligent era: Advances, trends and countermeasures. Journal of Knowledge Management, 30(1), 30–68.

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Next Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita ---Nomor 3 Paling Sering!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co