3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
in Esai
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tentang kecerdasan buatan. Dokumen ini bukan sekadar nasihat religius bagi umat Katolik, melainkan intervensi moral terhadap arah peradaban digital. Ensiklik tersebut resmi dirilis Vatikan pada Mei 2026 dan menempatkan AI sebagai salah satu ujian terbesar bagi martabat manusia, kebenaran, kerja, kebebasan, dan perdamaian dunia.

Sudut pandang utama tulisan adalah bahwa Magnifica Humanitas perlu dibaca sebagai kritik terhadap peradaban teknokratis, yaitu peradaban yang terlalu percaya bahwa setiap masalah manusia dapat diselesaikan melalui efisiensi, komputasi, otomatisasi, dan kontrol data. Dalam kerangka ini, AI bukan ditolak sebagai teknologi, tetapi diperingatkan agar tidak berubah menjadi sistem kekuasaan baru yang menggeser manusia dari pusat kehidupan sosial.

AI dan Paradigma Teknokratis

Paus Leo XIV tampaknya melanjutkan garis kritik yang sebelumnya kuat dalam pemikiran Paus Fransiskus, terutama kritik terhadap “paradigma teknokratis” dalam Laudato si’. Namun, Magnifica Humanitas memperluas kritik itu ke dunia algoritma, model bahasa besar, otomasi kerja, senjata otonom, dan ekonomi data. AI dipandang bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi sebagai struktur sosial yang dapat mengubah relasi kuasa.

Secara teoritis, pandangan ini sejalan dengan kritik Jacques Ellul tentang masyarakat teknologis, yaitu ketika teknik tidak lagi menjadi sarana, melainkan berubah menjadi logika dominan yang mengatur manusia (Ellul, 2021). Ia juga dekat dengan gagasan Martin Heidegger tentang teknologi modern sebagai cara manusia “membingkai” dunia hanya sebagai sumber daya (Heidegger, 1954). Dalam konteks AI, manusia berisiko dibaca bukan sebagai pribadi yang bermartabat, melainkan sebagai data, pola perilaku, target iklan, tenaga kerja murah, atau objek prediksi.

Di sinilah prinsip Doktrin Sosial Gereja. Martabat manusia, kebaikan bersama, solidaritas, subsidiaritas, dan tujuan universal barang-barang menjadi kriteria etis untuk menilai AI. Artinya, pertanyaan utama bukan lagi “seberapa canggih AI?”, melainkan “siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan, dan apakah manusia tetap menjadi subjek moral?”

Martabat Manusia Melawan Reduksi Algoritmik

Gagasan paling kuat dari ensiklik ini adalah bahwa AI tidak memiliki hati, tubuh, pengalaman batin, nurani, dan tanggung jawab moral. AI dapat meniru bahasa manusia, menghasilkan keputusan statistik, dan mengolah data dalam skala besar, tetapi ia tidak mengalami penderitaan, kasih, rasa bersalah, atau pertobatan. Karena itu, menyerahkan keputusan hidup manusia sepenuhnya kepada mesin adalah bentuk kemunduran moral.

Dalam konteks ini, AI tidak boleh dijadikan hakim terakhir atas nilai manusia. Kita sudah melihat bagaimana sistem algoritmik dipakai dalam rekrutmen kerja, kredit, asuransi, kepolisian prediktif, pendidikan, bahkan penilaian risiko sosial. Jika data historis yang digunakan mengandung bias, maka AI dapat memperkuat ketidakadilan lama dalam bentuk baru yang tampak objektif.

Penelitian dan laporan global menunjukkan bahwa isu bias, privasi, dan kepercayaan publik terhadap AI masih menjadi masalah serius. Stanford AI Index 2025 mencatat bahwa AI telah menjadi teknologi transformatif, tetapi manfaatnya tidak otomatis tersebar secara adil tanpa tata kelola yang tepat (Wang & Xie, 2026). Dengan kata lain, kemajuan teknis tidak identik dengan kemajuan moral.

Kebenaran sebagai Barang Publik

Salah satu kontribusi penting Magnifica Humanitas adalah menempatkan kebenaran sebagai bagian dari kebaikan bersama. Ini sangat relevan karena AI generatif mempercepat produksi teks, gambar, audio, dan video palsu dalam skala massal. Deepfake, propaganda otomatis, dan manipulasi opini publik membuat masyarakat semakin sulit membedakan kebenaran dari fabrikasi.

Kasus deepfake dalam politik, penipuan finansial berbasis suara sintetis, dan banjir konten palsu di media sosial menunjukkan bahwa krisis AI bukan hanya krisis teknologi, melainkan krisis epistemik. Ketika publik tidak lagi percaya pada fakta, demokrasi kehilangan dasar rasionalnya. Reuters melaporkan bahwa PBB telah menyerukan langkah global untuk mendeteksi dan melawan deepfake berbasis AI karena risikonya terhadap pemilu, penipuan, dan kepercayaan publik.

Dalam perspektif ensiklik, kebenaran tidak boleh diprivatisasi oleh platform digital atau dikendalikan oleh algoritma keterlibatan (Caplan & Boyd, 2016). Kebenaran adalah syarat bagi demokrasi, keadilan, dan kehidupan bersama. Jika AI hanya diatur oleh logika klik, viralitas, dan keuntungan iklan, maka ia akan lebih mudah menjadi mesin kekacauan daripada sarana pencerahan.

Kerja, Otomasi, dan Martabat Pekerja

Bagian tentang kerja dalam Magnifica Humanitas sangat penting karena AI sering dipromosikan sebagai alat efisiensi, tetapi jarang dibahas dari sisi martabat pekerja. Otomasi memang dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat menciptakan pengangguran struktural, memperlemah posisi tawar buruh, dan menghapus pekerjaan tingkat awal.

Penelitian Economic Insights menunjukkan bahwa AI generatif lebih mungkin mengubah pekerjaan daripada langsung menghancurkan seluruh pekerjaan, tetapi dampaknya tidak merata (Drozd & Tavares, 2024). Pekerjaan administratif dan klerikal termasuk yang paling terekspos, dan kelompok tertentu dapat lebih rentan terhadap perubahan tersebut.

Maka, pertanyaan etisnya bukan apakah perusahaan boleh menggunakan AI, melainkan bagaimana transisi itu dilakukan. Apakah pekerja diberi pelatihan ulang? Apakah keuntungan produktivitas dibagi secara adil? Apakah AI dipakai untuk memperkuat manusia atau sekadar mengganti manusia demi margin laba?

Hal ini secara jelas tampak pada pekerja data labeler dan moderator konten. Di balik kecerdasan AI, ada jutaan pekerja yang memberi label gambar, membersihkan data, memoderasi konten kekerasan, dan melatih model. Brookings mencatat adanya gerakan pekerja data dan moderator konten di Kenya serta Global South yang menuntut upah layak, kondisi kerja aman, dan dukungan kesehatan mental. Kasus ini menunjukkan bahwa AI yang tampak “otomatis” sering berdiri di atas kerja manusia yang tersembunyi.

Kebebasan dan Perbudakan Digital Baru

Ensiklik ini juga kuat karena menyebut kemungkinan munculnya “perbudakan baru” dalam ekonomi digital. Istilah ini dapat dibaca secara luas, bahwa bukan hanya perdagangan manusia yang difasilitasi platform, tetapi juga bentuk eksploitasi digital seperti kerja mikro berupah rendah, pengawasan pekerja, manipulasi perilaku konsumen, dan ketergantungan manusia pada sistem rekomendasi.

Dalam ekonomi platform, kebebasan sering tampak sebagai pilihan, yaitu memilih aplikasi, memilih pekerjaan fleksibel, memilih konten. Namun di balik itu, algoritma menentukan visibilitas, pendapatan, rating, bahkan reputasi seseorang. Kebebasan menjadi semu ketika manusia tidak memahami bagaimana sistem mengambil keputusan atas dirinya.

Di sinilah prinsip subsidiaritas menjadi relevan. Keputusan teknologi tidak boleh hanya ditentukan oleh perusahaan besar, investor, atau negara kuat. Komunitas terdampak harus memiliki suara. Data, algoritma, dan paten tidak boleh hanya menjadi barang privat yang memperkaya segelintir elit, sebab dampaknya menyentuh kehidupan publik.

Senjata Otonom dan Hilangnya Tanggung Jawab Moral

Paus Leo XIV memperingatkan bahaya senjata otonom yang dapat membuat keputusan hidup dan mati semakin jauh dari pertimbangan manusia. Reuters melaporkan bahwa dalam ensiklik ini Paus mendesak regulasi AI yang lebih ketat dan memperingatkan bahwa sebagian senjata kini bergerak menuju operasi di luar kendali manusia langsung.

Persoalan utama senjata otonom bukan hanya akurasi, tetapi tanggung jawab. Jika drone atau sistem AI salah menargetkan warga sipil, siapa yang bertanggung jawab? Programmer? Komandan? Produsen? Negara? Davison, N. (2018) telah lama memperingatkan bahwa keterbatasan kontrol manusia atas senjata otonom dapat menyulitkan pertanggungjawaban dalam hukum humaniter internasional (Davison, 2018).

Dalam kasus perang modern teknologi militer semakin terdigitalisasi, seperti drone, sistem target otomatis, pengawasan satelit, dan analisis medan tempur berbasis AI. Dalam situasi perang, kecepatan algoritmik dapat mengalahkan refleksi moral. Padahal keputusan membunuh tidak boleh direduksi menjadi kalkulasi probabilitas.

Peradaban Kasih sebagai Alternatif

Konsep “Peradaban Kasih” dalam ensiklik ini bukan slogan sentimental. Ia adalah tawaran politik-etis untuk melawan budaya kekuasaan. Dalam budaya kekuasaan, AI dipakai untuk menguasai pasar, memantau warga, memenangkan perang, dan memaksimalkan profit. Dalam peradaban kasih, AI harus diarahkan untuk pendidikan, kesehatan, keadilan sosial, perdamaian, perlindungan lingkungan, dan penguatan relasi manusia.

Pandangan ini tidak anti-teknologi. Justru sebaliknya, ia menuntut teknologi yang lebih bertanggung jawab. AI dapat membantu diagnosis penyakit, memetakan bencana, mempercepat riset ilmiah, meningkatkan akses pendidikan, dan mendukung administrasi publik. Namun semua manfaat itu hanya bermakna jika manusia tetap menjadi tujuan, bukan bahan bakar sistem.

Menjadi Arsitek yang Bijaksana

Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa krisis AI bukan terutama soal mesin yang menjadi terlalu pintar, melainkan manusia yang menjadi terlalu lalai. Bahaya terbesar bukan ketika AI menggantikan manusia secara teknis, tetapi ketika manusia menyerahkan nurani, tanggung jawab, dan penilaian moralnya kepada sistem otomatis.

Ensiklik ini relevan tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi bagi akademisi, pembuat kebijakan, insinyur, pengusaha, jurnalis, pendidik, dan masyarakat sipil. Ia mengajak kita menjadi “arsitek yang bijaksana”, yaitu membangun teknologi dengan fondasi martabat manusia, bukan sekadar efisiensi; dengan orientasi kebaikan bersama, bukan monopoli; dengan solidaritas, bukan eksploitasi; dengan kebenaran, bukan manipulasi.

Sehingga AI akan menjadi cermin dari nilai manusia yang menciptakannya. Jika dibangun dalam logika kuasa, ia akan memperbesar ketimpangan. Jika dibangun dalam etika kasih, ia dapat menjadi alat pembebasan. Maka pertanyaan terbesar era AI bukan “apa yang dapat dilakukan mesin?”, melainkan “manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui mesin itu?” [T]

Referensi

Caplan, R., & Boyd, D. (2016). Who controls the public sphere in an era of algorithms. Mediation, Automation, Power, 1–19.

Davison, N. (2018). A legal perspective: Autonomous weapon systems under international humanitarian law.

Drozd, L. A., & Tavares, M. (2024). Generative AI: A turning point for labor’s share. Economic Insights, 9(1), 2–11.

Ellul, J. (2021). The technological society. Vintage.

Heidegger, M. (1954). The question concerning technology. Technology and values: Essential readings, 99, 113.

Wang, X., & Xie, F. (2026). Global artificial intelligence governance research in the digital and intelligent era: Advances, trends and countermeasures. Journal of Knowledge Management, 30(1), 30–68.

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Next Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita ---Nomor 3 Paling Sering!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co