23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
in Esai
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tentang kecerdasan buatan. Dokumen ini bukan sekadar nasihat religius bagi umat Katolik, melainkan intervensi moral terhadap arah peradaban digital. Ensiklik tersebut resmi dirilis Vatikan pada Mei 2026 dan menempatkan AI sebagai salah satu ujian terbesar bagi martabat manusia, kebenaran, kerja, kebebasan, dan perdamaian dunia.

Sudut pandang utama tulisan adalah bahwa Magnifica Humanitas perlu dibaca sebagai kritik terhadap peradaban teknokratis, yaitu peradaban yang terlalu percaya bahwa setiap masalah manusia dapat diselesaikan melalui efisiensi, komputasi, otomatisasi, dan kontrol data. Dalam kerangka ini, AI bukan ditolak sebagai teknologi, tetapi diperingatkan agar tidak berubah menjadi sistem kekuasaan baru yang menggeser manusia dari pusat kehidupan sosial.

AI dan Paradigma Teknokratis

Paus Leo XIV tampaknya melanjutkan garis kritik yang sebelumnya kuat dalam pemikiran Paus Fransiskus, terutama kritik terhadap “paradigma teknokratis” dalam Laudato si’. Namun, Magnifica Humanitas memperluas kritik itu ke dunia algoritma, model bahasa besar, otomasi kerja, senjata otonom, dan ekonomi data. AI dipandang bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi sebagai struktur sosial yang dapat mengubah relasi kuasa.

Secara teoritis, pandangan ini sejalan dengan kritik Jacques Ellul tentang masyarakat teknologis, yaitu ketika teknik tidak lagi menjadi sarana, melainkan berubah menjadi logika dominan yang mengatur manusia (Ellul, 2021). Ia juga dekat dengan gagasan Martin Heidegger tentang teknologi modern sebagai cara manusia “membingkai” dunia hanya sebagai sumber daya (Heidegger, 1954). Dalam konteks AI, manusia berisiko dibaca bukan sebagai pribadi yang bermartabat, melainkan sebagai data, pola perilaku, target iklan, tenaga kerja murah, atau objek prediksi.

Di sinilah prinsip Doktrin Sosial Gereja. Martabat manusia, kebaikan bersama, solidaritas, subsidiaritas, dan tujuan universal barang-barang menjadi kriteria etis untuk menilai AI. Artinya, pertanyaan utama bukan lagi “seberapa canggih AI?”, melainkan “siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan, dan apakah manusia tetap menjadi subjek moral?”

Martabat Manusia Melawan Reduksi Algoritmik

Gagasan paling kuat dari ensiklik ini adalah bahwa AI tidak memiliki hati, tubuh, pengalaman batin, nurani, dan tanggung jawab moral. AI dapat meniru bahasa manusia, menghasilkan keputusan statistik, dan mengolah data dalam skala besar, tetapi ia tidak mengalami penderitaan, kasih, rasa bersalah, atau pertobatan. Karena itu, menyerahkan keputusan hidup manusia sepenuhnya kepada mesin adalah bentuk kemunduran moral.

Dalam konteks ini, AI tidak boleh dijadikan hakim terakhir atas nilai manusia. Kita sudah melihat bagaimana sistem algoritmik dipakai dalam rekrutmen kerja, kredit, asuransi, kepolisian prediktif, pendidikan, bahkan penilaian risiko sosial. Jika data historis yang digunakan mengandung bias, maka AI dapat memperkuat ketidakadilan lama dalam bentuk baru yang tampak objektif.

Penelitian dan laporan global menunjukkan bahwa isu bias, privasi, dan kepercayaan publik terhadap AI masih menjadi masalah serius. Stanford AI Index 2025 mencatat bahwa AI telah menjadi teknologi transformatif, tetapi manfaatnya tidak otomatis tersebar secara adil tanpa tata kelola yang tepat (Wang & Xie, 2026). Dengan kata lain, kemajuan teknis tidak identik dengan kemajuan moral.

Kebenaran sebagai Barang Publik

Salah satu kontribusi penting Magnifica Humanitas adalah menempatkan kebenaran sebagai bagian dari kebaikan bersama. Ini sangat relevan karena AI generatif mempercepat produksi teks, gambar, audio, dan video palsu dalam skala massal. Deepfake, propaganda otomatis, dan manipulasi opini publik membuat masyarakat semakin sulit membedakan kebenaran dari fabrikasi.

Kasus deepfake dalam politik, penipuan finansial berbasis suara sintetis, dan banjir konten palsu di media sosial menunjukkan bahwa krisis AI bukan hanya krisis teknologi, melainkan krisis epistemik. Ketika publik tidak lagi percaya pada fakta, demokrasi kehilangan dasar rasionalnya. Reuters melaporkan bahwa PBB telah menyerukan langkah global untuk mendeteksi dan melawan deepfake berbasis AI karena risikonya terhadap pemilu, penipuan, dan kepercayaan publik.

Dalam perspektif ensiklik, kebenaran tidak boleh diprivatisasi oleh platform digital atau dikendalikan oleh algoritma keterlibatan (Caplan & Boyd, 2016). Kebenaran adalah syarat bagi demokrasi, keadilan, dan kehidupan bersama. Jika AI hanya diatur oleh logika klik, viralitas, dan keuntungan iklan, maka ia akan lebih mudah menjadi mesin kekacauan daripada sarana pencerahan.

Kerja, Otomasi, dan Martabat Pekerja

Bagian tentang kerja dalam Magnifica Humanitas sangat penting karena AI sering dipromosikan sebagai alat efisiensi, tetapi jarang dibahas dari sisi martabat pekerja. Otomasi memang dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat menciptakan pengangguran struktural, memperlemah posisi tawar buruh, dan menghapus pekerjaan tingkat awal.

Penelitian Economic Insights menunjukkan bahwa AI generatif lebih mungkin mengubah pekerjaan daripada langsung menghancurkan seluruh pekerjaan, tetapi dampaknya tidak merata (Drozd & Tavares, 2024). Pekerjaan administratif dan klerikal termasuk yang paling terekspos, dan kelompok tertentu dapat lebih rentan terhadap perubahan tersebut.

Maka, pertanyaan etisnya bukan apakah perusahaan boleh menggunakan AI, melainkan bagaimana transisi itu dilakukan. Apakah pekerja diberi pelatihan ulang? Apakah keuntungan produktivitas dibagi secara adil? Apakah AI dipakai untuk memperkuat manusia atau sekadar mengganti manusia demi margin laba?

Hal ini secara jelas tampak pada pekerja data labeler dan moderator konten. Di balik kecerdasan AI, ada jutaan pekerja yang memberi label gambar, membersihkan data, memoderasi konten kekerasan, dan melatih model. Brookings mencatat adanya gerakan pekerja data dan moderator konten di Kenya serta Global South yang menuntut upah layak, kondisi kerja aman, dan dukungan kesehatan mental. Kasus ini menunjukkan bahwa AI yang tampak “otomatis” sering berdiri di atas kerja manusia yang tersembunyi.

Kebebasan dan Perbudakan Digital Baru

Ensiklik ini juga kuat karena menyebut kemungkinan munculnya “perbudakan baru” dalam ekonomi digital. Istilah ini dapat dibaca secara luas, bahwa bukan hanya perdagangan manusia yang difasilitasi platform, tetapi juga bentuk eksploitasi digital seperti kerja mikro berupah rendah, pengawasan pekerja, manipulasi perilaku konsumen, dan ketergantungan manusia pada sistem rekomendasi.

Dalam ekonomi platform, kebebasan sering tampak sebagai pilihan, yaitu memilih aplikasi, memilih pekerjaan fleksibel, memilih konten. Namun di balik itu, algoritma menentukan visibilitas, pendapatan, rating, bahkan reputasi seseorang. Kebebasan menjadi semu ketika manusia tidak memahami bagaimana sistem mengambil keputusan atas dirinya.

Di sinilah prinsip subsidiaritas menjadi relevan. Keputusan teknologi tidak boleh hanya ditentukan oleh perusahaan besar, investor, atau negara kuat. Komunitas terdampak harus memiliki suara. Data, algoritma, dan paten tidak boleh hanya menjadi barang privat yang memperkaya segelintir elit, sebab dampaknya menyentuh kehidupan publik.

Senjata Otonom dan Hilangnya Tanggung Jawab Moral

Paus Leo XIV memperingatkan bahaya senjata otonom yang dapat membuat keputusan hidup dan mati semakin jauh dari pertimbangan manusia. Reuters melaporkan bahwa dalam ensiklik ini Paus mendesak regulasi AI yang lebih ketat dan memperingatkan bahwa sebagian senjata kini bergerak menuju operasi di luar kendali manusia langsung.

Persoalan utama senjata otonom bukan hanya akurasi, tetapi tanggung jawab. Jika drone atau sistem AI salah menargetkan warga sipil, siapa yang bertanggung jawab? Programmer? Komandan? Produsen? Negara? Davison, N. (2018) telah lama memperingatkan bahwa keterbatasan kontrol manusia atas senjata otonom dapat menyulitkan pertanggungjawaban dalam hukum humaniter internasional (Davison, 2018).

Dalam kasus perang modern teknologi militer semakin terdigitalisasi, seperti drone, sistem target otomatis, pengawasan satelit, dan analisis medan tempur berbasis AI. Dalam situasi perang, kecepatan algoritmik dapat mengalahkan refleksi moral. Padahal keputusan membunuh tidak boleh direduksi menjadi kalkulasi probabilitas.

Peradaban Kasih sebagai Alternatif

Konsep “Peradaban Kasih” dalam ensiklik ini bukan slogan sentimental. Ia adalah tawaran politik-etis untuk melawan budaya kekuasaan. Dalam budaya kekuasaan, AI dipakai untuk menguasai pasar, memantau warga, memenangkan perang, dan memaksimalkan profit. Dalam peradaban kasih, AI harus diarahkan untuk pendidikan, kesehatan, keadilan sosial, perdamaian, perlindungan lingkungan, dan penguatan relasi manusia.

Pandangan ini tidak anti-teknologi. Justru sebaliknya, ia menuntut teknologi yang lebih bertanggung jawab. AI dapat membantu diagnosis penyakit, memetakan bencana, mempercepat riset ilmiah, meningkatkan akses pendidikan, dan mendukung administrasi publik. Namun semua manfaat itu hanya bermakna jika manusia tetap menjadi tujuan, bukan bahan bakar sistem.

Menjadi Arsitek yang Bijaksana

Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa krisis AI bukan terutama soal mesin yang menjadi terlalu pintar, melainkan manusia yang menjadi terlalu lalai. Bahaya terbesar bukan ketika AI menggantikan manusia secara teknis, tetapi ketika manusia menyerahkan nurani, tanggung jawab, dan penilaian moralnya kepada sistem otomatis.

Ensiklik ini relevan tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi bagi akademisi, pembuat kebijakan, insinyur, pengusaha, jurnalis, pendidik, dan masyarakat sipil. Ia mengajak kita menjadi “arsitek yang bijaksana”, yaitu membangun teknologi dengan fondasi martabat manusia, bukan sekadar efisiensi; dengan orientasi kebaikan bersama, bukan monopoli; dengan solidaritas, bukan eksploitasi; dengan kebenaran, bukan manipulasi.

Sehingga AI akan menjadi cermin dari nilai manusia yang menciptakannya. Jika dibangun dalam logika kuasa, ia akan memperbesar ketimpangan. Jika dibangun dalam etika kasih, ia dapat menjadi alat pembebasan. Maka pertanyaan terbesar era AI bukan “apa yang dapat dilakukan mesin?”, melainkan “manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui mesin itu?” [T]

Referensi

Caplan, R., & Boyd, D. (2016). Who controls the public sphere in an era of algorithms. Mediation, Automation, Power, 1–19.

Davison, N. (2018). A legal perspective: Autonomous weapon systems under international humanitarian law.

Drozd, L. A., & Tavares, M. (2024). Generative AI: A turning point for labor’s share. Economic Insights, 9(1), 2–11.

Ellul, J. (2021). The technological society. Vintage.

Heidegger, M. (1954). The question concerning technology. Technology and values: Essential readings, 99, 113.

Wang, X., & Xie, F. (2026). Global artificial intelligence governance research in the digital and intelligent era: Advances, trends and countermeasures. Journal of Knowledge Management, 30(1), 30–68.

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Next Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita ---Nomor 3 Paling Sering!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co