3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
in Cerpen
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan yang berhembus bersama angin mencipta suara dari arah pura. Dari kecil, aku percaya bahwa desa kami adalah tempat yang tak akan berubah, selalu begini dan selamanya seperti ini. Bahkan, tiap jamnya terasa begitu lambat di sini, seakan roh leluhur menahanku agar tetap tinggal di sana bersama mereka. 

Menjelang rahina, para kaum wanita terlihat sibuk tanpa istirahat. Ada yang menyiapkan bahan banten, metanding, dan juga tetap bekerja di sela-sela kesibukan itu. Di tengah persiapan, anak-anak kecil berlarian menikmati suasana, sedangkan di balai banjar, para tetua duduk membicarakan adat dengan suara yang rendah serta penuh hormat. Semuanya terasa hidup, seolah desa kami dapat bernapas sendiri.

Sewaktu kecil, Ibu selalu mengingatkanku untuk menjaga desa ini “Indah, kita sebagai seorang manusia, harus menghormati tanah yang kita pijak,” kata Ibu suatu sore, sembari menyusun tumpukan canang.

“Suatu hari, jika kita acuh, tanah itu juga akan berhenti menjaga kita,” tambah Ibu.

Dulu, ketika mendengarkan perkataan Ibu, aku tak mengerti maknanya. Aku hanya mengangguk ketika Ibu mulai membahas hal itu. Sedangkan Ayah berbeda. Ia tetap mengikuti semua runtutan adat sebagaimana aturan yang tak tertulis itu. Namun, hidup membuatnya lebih akrab terhadap rasa cemas dibandingkan keyakinan-keyakinan lama. Ayah tak selalu mendapat panen yang bagus, sedangkan harga barang kian hari kian meningkat. Terkadang, aku melihatnya duduk melamun depan teras rumah, melihat hamparan sawah yang kini menyepi. Meski begitu, kehidupan di desa tetap berjalan seperti biasanya. 

Tahun berganti tahun, aku tumbuh dan berkembang di desa itu. Pura di ujung jalan itu pun masih menjadi tempat paling tenang yang aku ketahui. Aku rasa, kehidupan kecilku di sini akan sama, tak berubah meski tahun silih berganti. Sampai akhirnya beberapa mobil mewah datang memasuki jalan desa kami. Aku lihat, mobil-mobil itu terparkir rapi di depan balai banjar, membawa orang-orang dengan bahasa yang tak aku kenali. Mereka datang dengan para pejabat desa, membawa lembaran kertas janji dan rancangan masa depan. Katanya desa kami akan maju, warga bisa bekerja, serta kehidupan kami akan lebih terjamin. Mereka datang dengan bayang-bayang akan masa depan. Dan, tanpa aku sadari, desaku mulai kehilangan wajahnya sendiri. 

Setiap malam orang-orang membicarakan pembangunan villa di tanah sekitar pura. Suara perdebatan terdengar pada beberapa sudut desa. Mulai dari balai banjar hingga warung kecil pinggir jalan. Sebagian besar warga menyambut pembangunan itu dengan mata yang berbinar, seolah kejayaan sudah berada di depan mata. Sebagiannya lagi memilih untuk diam. Entah karena takut menyuarakan, atau hanya menjadi penyimak tanpa reaksi. Bagi orang luar mungkin terlihat biasa saja, tapi bagi kami warga setempat, tanah itu adalah tempat yang kesuciannya harus tetap ada. 

Sedari awal Ibu menolak semua rencana masa depan itu.

“Kalau bangunan itu berdiri di sana, cepat atau lambat semuanya akan berubah,” katanya pada suatu malam.

Aku kemudian mencoba berbicara pada Ayah. Kukatakan bahwa wisatawan belum tentu menghormati bagian dari adat kita, bahwa bangunan itu berdiri terlalu dekat dengan pura “Lambat laun, desa kita bisa berubah jadi tempat asing, Ayah.”

Mendengar itu, Ayah menghela napas cukup panjang. Ia kemudian menatapku dan berucap. “Kalian itu perempuan. Tidak semua urusan dapat kalian campuri,” katanya padaku dan Ibu. Ucapannya begitu menusuk, aku dan Ibu tak mampu berucap dibuatnya. Sejak malam itu aku sadar. Suaraku terlalu kecil di tengah riuhnya manusia desa.

Pembangunan tetap berjalan. Truk-truk besar mulai melewati jalan desa. Suara mesin berdengung menggantikan kicauan burung sawah. Debu-debu beterbangan tiap hari. Ia menempel pada dedaunan, pelinggih, hingga menyapa rumah warga. Sedikit demi sedikit, bangunan itu mulai terlihat jelas. Villa besar dengan dinding batu dan jendela-jendela tinggi berdiri di dekat areal sakral desa kami. Ketika malam, lampu-lampunya menyala terang, seolah dipaksakan untuk hidup di tengah tempat yang selama ini terbiasa dengan gelap dan suara jangkrik malam.

Sejak saat itu, jalan di desa kami tak pernah benar-benar sepi. Beberapa warga mulai bekerja di sana. Ada yang menjadi tukang kebun, penjaga dapur, petugas kebersihan, hingga pemandu wisata. Ayah salah satu dari mereka di sana. Ekonomi memang lebih membaik, seperti yang mereka katakan.

Suatu malam, Ayah pulang dari pekerjaannya. Pembawaannya terlihat lebih bahagia. Ia kemudian memperlihatkan beberapa lembar kertas merah padaku dan Ibu. Senyumnya begitu mengembang, bangga akan penghasilannya saat itu. Aku mencoba percaya, mungkin hanya pikiranku saja yang berlebihan terhadap pembangunan villa itu. Aku mulai menerima kolaborasi antara budaya dan wisatawan di desaku.

Pada awalnya, semuanya baik-baik saja. Wisatawan datang, berfoto, lalu pergi seperti angin lalu. Tapi, semakin lama, jalan menuju pura berubah. Dulu lintasan itu diiringi hamparan rumput. Kini sampah botol, bungkus snack hingga puntung rokok menjadi penghias jalanan itu. Aroma dupa yang dulu aku biasa hirup, digantikan dengan bau got yang kian menyengat.

Pada satu sore, upacara mepeed sedang berlangsung. Semua berjalan seperti yang biasa dilakukan. Namun, orang-orang asing mulai mendekat, menyisakan jarak 2 langkah hanya untuk jepretan gambar. Terlalu dekat untuk kumpulan orang yang tak saling mengenal. Tak hanya mendekat pada prosesi, mereka mulai mengacuhkan peraturan yang tak seharusnya mereka langgar. Banten caru yang seharusnya dihaturkan, diinjak tanpa rasa bersalah. Mereka hanya tersenyum tanpa permohonan ampun. Tak hanya itu, mereka mulai mengambil alih areal pura.

Aku berdiri di antara kerumunan itu. Pandanganku menyusuri tiap jengkal halaman pura, sampai akhirnya mataku tertuju pada seorang Nenek tua. Tatapannya teduh. Bibirnya terlihat bergetar, melantunkan kidung yadnya yang begitu khusyuk. Siapapun yang melihat mungkin akan merasakan hangat yang tak dikenal. Namun, sayangnya, di keindahan lantunan itu, banyak warga negara asing yang mengambil gambar. Flash dimana-mana. Dengan pakaian pendeknya, mereka datang memotret di halaman pura kala itu. Suara-suara mereka riuh, berlomba dengan tembangan Nenek yang syahdu. Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Malam itu, di antara kilatan kamera dan kidung yang tenggelam, aku tahu ada sesuatu yang runtuh dari desa kami.

Setelah upacara selesai, riuh kamera itu masih tertinggal di kepalaku. Malam itu, rumahku dipenuhi suara yang saling melukai—peperangan dua mulut dengan pandangan yang berbeda. Ibu menyalahkan Keputusan-keputusan yang dibuat Ayah sejak awal.

“Kau lihat saja sendiri! Tak ada lagi kehormatan untuk tuan bumi. Lihatlah! Sakralnya upacara tadi hilang oleh orang-orang tak tahu aturan adat!” ucap Ibu pada Ayah.

Ayah tak membantah. Ia hanya berdiam diri, tak bergeming sedikit pun. Mungkin saja, ia mulai sadar bahwa uang memang dapat memperbaiki hidup, tapi tak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang. Dan, untuk pertama kalinya aku tahu. Kiamat bisa terjadi tanpa dunia hancur sepenuhnya. Ia hidup di jalan-jalan yang mulai kotor. Di pelataran pura yang dipenuhi jejak kaki sembarang orang. Di rumah-rumah yang diselimuti pertengkaran. Di manusia-manusia yang kini berjalan di tanahnya sendiri tanpa menundukkan kepala.

Aku tak bisa menghentikan pembangunan villa itu. Aku juga tak bisa mengusir semua perubahan yang telah datang. Tapi, setidaknya aku masih bisa menjaga yang masih tersisa. Aku bisa membantu membersihkan area pura setelah upacara selesai dilangsungkan. Aku juga mengajari anak-anak kecil cara membuat canang, juga mengajari mereka doa-doa sederhana. Aku juga mulai berbicara di depan semua warga. Meski aku tahu, suaraku pasti tak akan mengubah pandangan mereka.

Kini aku mengerti maksud Ibu beberapa tahun silam, bahwa tanah juga bisa lelah menjaga manusia dan makhluk hidupnya. Dan mungkin, kehancuran bumi yang paling menyeramkan adalah ketika manusia perlahan berhenti mencintai tanah tempat mereka berpulang. [T]

Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Next Post

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba

Siswa SMAN 1 Amlapura

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co