PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan yang berhembus bersama angin mencipta suara dari arah pura. Dari kecil, aku percaya bahwa desa kami adalah tempat yang tak akan berubah, selalu begini dan selamanya seperti ini. Bahkan, tiap jamnya terasa begitu lambat di sini, seakan roh leluhur menahanku agar tetap tinggal di sana bersama mereka.
Menjelang rahina, para kaum wanita terlihat sibuk tanpa istirahat. Ada yang menyiapkan bahan banten, metanding, dan juga tetap bekerja di sela-sela kesibukan itu. Di tengah persiapan, anak-anak kecil berlarian menikmati suasana, sedangkan di balai banjar, para tetua duduk membicarakan adat dengan suara yang rendah serta penuh hormat. Semuanya terasa hidup, seolah desa kami dapat bernapas sendiri.
Sewaktu kecil, Ibu selalu mengingatkanku untuk menjaga desa ini “Indah, kita sebagai seorang manusia, harus menghormati tanah yang kita pijak,” kata Ibu suatu sore, sembari menyusun tumpukan canang.
“Suatu hari, jika kita acuh, tanah itu juga akan berhenti menjaga kita,” tambah Ibu.
Dulu, ketika mendengarkan perkataan Ibu, aku tak mengerti maknanya. Aku hanya mengangguk ketika Ibu mulai membahas hal itu. Sedangkan Ayah berbeda. Ia tetap mengikuti semua runtutan adat sebagaimana aturan yang tak tertulis itu. Namun, hidup membuatnya lebih akrab terhadap rasa cemas dibandingkan keyakinan-keyakinan lama. Ayah tak selalu mendapat panen yang bagus, sedangkan harga barang kian hari kian meningkat. Terkadang, aku melihatnya duduk melamun depan teras rumah, melihat hamparan sawah yang kini menyepi. Meski begitu, kehidupan di desa tetap berjalan seperti biasanya.
Tahun berganti tahun, aku tumbuh dan berkembang di desa itu. Pura di ujung jalan itu pun masih menjadi tempat paling tenang yang aku ketahui. Aku rasa, kehidupan kecilku di sini akan sama, tak berubah meski tahun silih berganti. Sampai akhirnya beberapa mobil mewah datang memasuki jalan desa kami. Aku lihat, mobil-mobil itu terparkir rapi di depan balai banjar, membawa orang-orang dengan bahasa yang tak aku kenali. Mereka datang dengan para pejabat desa, membawa lembaran kertas janji dan rancangan masa depan. Katanya desa kami akan maju, warga bisa bekerja, serta kehidupan kami akan lebih terjamin. Mereka datang dengan bayang-bayang akan masa depan. Dan, tanpa aku sadari, desaku mulai kehilangan wajahnya sendiri.
Setiap malam orang-orang membicarakan pembangunan villa di tanah sekitar pura. Suara perdebatan terdengar pada beberapa sudut desa. Mulai dari balai banjar hingga warung kecil pinggir jalan. Sebagian besar warga menyambut pembangunan itu dengan mata yang berbinar, seolah kejayaan sudah berada di depan mata. Sebagiannya lagi memilih untuk diam. Entah karena takut menyuarakan, atau hanya menjadi penyimak tanpa reaksi. Bagi orang luar mungkin terlihat biasa saja, tapi bagi kami warga setempat, tanah itu adalah tempat yang kesuciannya harus tetap ada.
Sedari awal Ibu menolak semua rencana masa depan itu.
“Kalau bangunan itu berdiri di sana, cepat atau lambat semuanya akan berubah,” katanya pada suatu malam.
Aku kemudian mencoba berbicara pada Ayah. Kukatakan bahwa wisatawan belum tentu menghormati bagian dari adat kita, bahwa bangunan itu berdiri terlalu dekat dengan pura “Lambat laun, desa kita bisa berubah jadi tempat asing, Ayah.”
Mendengar itu, Ayah menghela napas cukup panjang. Ia kemudian menatapku dan berucap. “Kalian itu perempuan. Tidak semua urusan dapat kalian campuri,” katanya padaku dan Ibu. Ucapannya begitu menusuk, aku dan Ibu tak mampu berucap dibuatnya. Sejak malam itu aku sadar. Suaraku terlalu kecil di tengah riuhnya manusia desa.
Pembangunan tetap berjalan. Truk-truk besar mulai melewati jalan desa. Suara mesin berdengung menggantikan kicauan burung sawah. Debu-debu beterbangan tiap hari. Ia menempel pada dedaunan, pelinggih, hingga menyapa rumah warga. Sedikit demi sedikit, bangunan itu mulai terlihat jelas. Villa besar dengan dinding batu dan jendela-jendela tinggi berdiri di dekat areal sakral desa kami. Ketika malam, lampu-lampunya menyala terang, seolah dipaksakan untuk hidup di tengah tempat yang selama ini terbiasa dengan gelap dan suara jangkrik malam.
Sejak saat itu, jalan di desa kami tak pernah benar-benar sepi. Beberapa warga mulai bekerja di sana. Ada yang menjadi tukang kebun, penjaga dapur, petugas kebersihan, hingga pemandu wisata. Ayah salah satu dari mereka di sana. Ekonomi memang lebih membaik, seperti yang mereka katakan.
Suatu malam, Ayah pulang dari pekerjaannya. Pembawaannya terlihat lebih bahagia. Ia kemudian memperlihatkan beberapa lembar kertas merah padaku dan Ibu. Senyumnya begitu mengembang, bangga akan penghasilannya saat itu. Aku mencoba percaya, mungkin hanya pikiranku saja yang berlebihan terhadap pembangunan villa itu. Aku mulai menerima kolaborasi antara budaya dan wisatawan di desaku.
Pada awalnya, semuanya baik-baik saja. Wisatawan datang, berfoto, lalu pergi seperti angin lalu. Tapi, semakin lama, jalan menuju pura berubah. Dulu lintasan itu diiringi hamparan rumput. Kini sampah botol, bungkus snack hingga puntung rokok menjadi penghias jalanan itu. Aroma dupa yang dulu aku biasa hirup, digantikan dengan bau got yang kian menyengat.
Pada satu sore, upacara mepeed sedang berlangsung. Semua berjalan seperti yang biasa dilakukan. Namun, orang-orang asing mulai mendekat, menyisakan jarak 2 langkah hanya untuk jepretan gambar. Terlalu dekat untuk kumpulan orang yang tak saling mengenal. Tak hanya mendekat pada prosesi, mereka mulai mengacuhkan peraturan yang tak seharusnya mereka langgar. Banten caru yang seharusnya dihaturkan, diinjak tanpa rasa bersalah. Mereka hanya tersenyum tanpa permohonan ampun. Tak hanya itu, mereka mulai mengambil alih areal pura.
Aku berdiri di antara kerumunan itu. Pandanganku menyusuri tiap jengkal halaman pura, sampai akhirnya mataku tertuju pada seorang Nenek tua. Tatapannya teduh. Bibirnya terlihat bergetar, melantunkan kidung yadnya yang begitu khusyuk. Siapapun yang melihat mungkin akan merasakan hangat yang tak dikenal. Namun, sayangnya, di keindahan lantunan itu, banyak warga negara asing yang mengambil gambar. Flash dimana-mana. Dengan pakaian pendeknya, mereka datang memotret di halaman pura kala itu. Suara-suara mereka riuh, berlomba dengan tembangan Nenek yang syahdu. Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Malam itu, di antara kilatan kamera dan kidung yang tenggelam, aku tahu ada sesuatu yang runtuh dari desa kami.
Setelah upacara selesai, riuh kamera itu masih tertinggal di kepalaku. Malam itu, rumahku dipenuhi suara yang saling melukai—peperangan dua mulut dengan pandangan yang berbeda. Ibu menyalahkan Keputusan-keputusan yang dibuat Ayah sejak awal.
“Kau lihat saja sendiri! Tak ada lagi kehormatan untuk tuan bumi. Lihatlah! Sakralnya upacara tadi hilang oleh orang-orang tak tahu aturan adat!” ucap Ibu pada Ayah.
Ayah tak membantah. Ia hanya berdiam diri, tak bergeming sedikit pun. Mungkin saja, ia mulai sadar bahwa uang memang dapat memperbaiki hidup, tapi tak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang. Dan, untuk pertama kalinya aku tahu. Kiamat bisa terjadi tanpa dunia hancur sepenuhnya. Ia hidup di jalan-jalan yang mulai kotor. Di pelataran pura yang dipenuhi jejak kaki sembarang orang. Di rumah-rumah yang diselimuti pertengkaran. Di manusia-manusia yang kini berjalan di tanahnya sendiri tanpa menundukkan kepala.
Aku tak bisa menghentikan pembangunan villa itu. Aku juga tak bisa mengusir semua perubahan yang telah datang. Tapi, setidaknya aku masih bisa menjaga yang masih tersisa. Aku bisa membantu membersihkan area pura setelah upacara selesai dilangsungkan. Aku juga mengajari anak-anak kecil cara membuat canang, juga mengajari mereka doa-doa sederhana. Aku juga mulai berbicara di depan semua warga. Meski aku tahu, suaraku pasti tak akan mengubah pandangan mereka.
Kini aku mengerti maksud Ibu beberapa tahun silam, bahwa tanah juga bisa lelah menjaga manusia dan makhluk hidupnya. Dan mungkin, kehancuran bumi yang paling menyeramkan adalah ketika manusia perlahan berhenti mencintai tanah tempat mereka berpulang. [T]
Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole




























