14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
in Cerpen
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan yang berhembus bersama angin mencipta suara dari arah pura. Dari kecil, aku percaya bahwa desa kami adalah tempat yang tak akan berubah, selalu begini dan selamanya seperti ini. Bahkan, tiap jamnya terasa begitu lambat di sini, seakan roh leluhur menahanku agar tetap tinggal di sana bersama mereka. 

Menjelang rahina, para kaum wanita terlihat sibuk tanpa istirahat. Ada yang menyiapkan bahan banten, metanding, dan juga tetap bekerja di sela-sela kesibukan itu. Di tengah persiapan, anak-anak kecil berlarian menikmati suasana, sedangkan di balai banjar, para tetua duduk membicarakan adat dengan suara yang rendah serta penuh hormat. Semuanya terasa hidup, seolah desa kami dapat bernapas sendiri.

Sewaktu kecil, Ibu selalu mengingatkanku untuk menjaga desa ini “Indah, kita sebagai seorang manusia, harus menghormati tanah yang kita pijak,” kata Ibu suatu sore, sembari menyusun tumpukan canang.

“Suatu hari, jika kita acuh, tanah itu juga akan berhenti menjaga kita,” tambah Ibu.

Dulu, ketika mendengarkan perkataan Ibu, aku tak mengerti maknanya. Aku hanya mengangguk ketika Ibu mulai membahas hal itu. Sedangkan Ayah berbeda. Ia tetap mengikuti semua runtutan adat sebagaimana aturan yang tak tertulis itu. Namun, hidup membuatnya lebih akrab terhadap rasa cemas dibandingkan keyakinan-keyakinan lama. Ayah tak selalu mendapat panen yang bagus, sedangkan harga barang kian hari kian meningkat. Terkadang, aku melihatnya duduk melamun depan teras rumah, melihat hamparan sawah yang kini menyepi. Meski begitu, kehidupan di desa tetap berjalan seperti biasanya. 

Tahun berganti tahun, aku tumbuh dan berkembang di desa itu. Pura di ujung jalan itu pun masih menjadi tempat paling tenang yang aku ketahui. Aku rasa, kehidupan kecilku di sini akan sama, tak berubah meski tahun silih berganti. Sampai akhirnya beberapa mobil mewah datang memasuki jalan desa kami. Aku lihat, mobil-mobil itu terparkir rapi di depan balai banjar, membawa orang-orang dengan bahasa yang tak aku kenali. Mereka datang dengan para pejabat desa, membawa lembaran kertas janji dan rancangan masa depan. Katanya desa kami akan maju, warga bisa bekerja, serta kehidupan kami akan lebih terjamin. Mereka datang dengan bayang-bayang akan masa depan. Dan, tanpa aku sadari, desaku mulai kehilangan wajahnya sendiri. 

Setiap malam orang-orang membicarakan pembangunan villa di tanah sekitar pura. Suara perdebatan terdengar pada beberapa sudut desa. Mulai dari balai banjar hingga warung kecil pinggir jalan. Sebagian besar warga menyambut pembangunan itu dengan mata yang berbinar, seolah kejayaan sudah berada di depan mata. Sebagiannya lagi memilih untuk diam. Entah karena takut menyuarakan, atau hanya menjadi penyimak tanpa reaksi. Bagi orang luar mungkin terlihat biasa saja, tapi bagi kami warga setempat, tanah itu adalah tempat yang kesuciannya harus tetap ada. 

Sedari awal Ibu menolak semua rencana masa depan itu.

“Kalau bangunan itu berdiri di sana, cepat atau lambat semuanya akan berubah,” katanya pada suatu malam.

Aku kemudian mencoba berbicara pada Ayah. Kukatakan bahwa wisatawan belum tentu menghormati bagian dari adat kita, bahwa bangunan itu berdiri terlalu dekat dengan pura “Lambat laun, desa kita bisa berubah jadi tempat asing, Ayah.”

Mendengar itu, Ayah menghela napas cukup panjang. Ia kemudian menatapku dan berucap. “Kalian itu perempuan. Tidak semua urusan dapat kalian campuri,” katanya padaku dan Ibu. Ucapannya begitu menusuk, aku dan Ibu tak mampu berucap dibuatnya. Sejak malam itu aku sadar. Suaraku terlalu kecil di tengah riuhnya manusia desa.

Pembangunan tetap berjalan. Truk-truk besar mulai melewati jalan desa. Suara mesin berdengung menggantikan kicauan burung sawah. Debu-debu beterbangan tiap hari. Ia menempel pada dedaunan, pelinggih, hingga menyapa rumah warga. Sedikit demi sedikit, bangunan itu mulai terlihat jelas. Villa besar dengan dinding batu dan jendela-jendela tinggi berdiri di dekat areal sakral desa kami. Ketika malam, lampu-lampunya menyala terang, seolah dipaksakan untuk hidup di tengah tempat yang selama ini terbiasa dengan gelap dan suara jangkrik malam.

Sejak saat itu, jalan di desa kami tak pernah benar-benar sepi. Beberapa warga mulai bekerja di sana. Ada yang menjadi tukang kebun, penjaga dapur, petugas kebersihan, hingga pemandu wisata. Ayah salah satu dari mereka di sana. Ekonomi memang lebih membaik, seperti yang mereka katakan.

Suatu malam, Ayah pulang dari pekerjaannya. Pembawaannya terlihat lebih bahagia. Ia kemudian memperlihatkan beberapa lembar kertas merah padaku dan Ibu. Senyumnya begitu mengembang, bangga akan penghasilannya saat itu. Aku mencoba percaya, mungkin hanya pikiranku saja yang berlebihan terhadap pembangunan villa itu. Aku mulai menerima kolaborasi antara budaya dan wisatawan di desaku.

Pada awalnya, semuanya baik-baik saja. Wisatawan datang, berfoto, lalu pergi seperti angin lalu. Tapi, semakin lama, jalan menuju pura berubah. Dulu lintasan itu diiringi hamparan rumput. Kini sampah botol, bungkus snack hingga puntung rokok menjadi penghias jalanan itu. Aroma dupa yang dulu aku biasa hirup, digantikan dengan bau got yang kian menyengat.

Pada satu sore, upacara mepeed sedang berlangsung. Semua berjalan seperti yang biasa dilakukan. Namun, orang-orang asing mulai mendekat, menyisakan jarak 2 langkah hanya untuk jepretan gambar. Terlalu dekat untuk kumpulan orang yang tak saling mengenal. Tak hanya mendekat pada prosesi, mereka mulai mengacuhkan peraturan yang tak seharusnya mereka langgar. Banten caru yang seharusnya dihaturkan, diinjak tanpa rasa bersalah. Mereka hanya tersenyum tanpa permohonan ampun. Tak hanya itu, mereka mulai mengambil alih areal pura.

Aku berdiri di antara kerumunan itu. Pandanganku menyusuri tiap jengkal halaman pura, sampai akhirnya mataku tertuju pada seorang Nenek tua. Tatapannya teduh. Bibirnya terlihat bergetar, melantunkan kidung yadnya yang begitu khusyuk. Siapapun yang melihat mungkin akan merasakan hangat yang tak dikenal. Namun, sayangnya, di keindahan lantunan itu, banyak warga negara asing yang mengambil gambar. Flash dimana-mana. Dengan pakaian pendeknya, mereka datang memotret di halaman pura kala itu. Suara-suara mereka riuh, berlomba dengan tembangan Nenek yang syahdu. Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Malam itu, di antara kilatan kamera dan kidung yang tenggelam, aku tahu ada sesuatu yang runtuh dari desa kami.

Setelah upacara selesai, riuh kamera itu masih tertinggal di kepalaku. Malam itu, rumahku dipenuhi suara yang saling melukai—peperangan dua mulut dengan pandangan yang berbeda. Ibu menyalahkan Keputusan-keputusan yang dibuat Ayah sejak awal.

“Kau lihat saja sendiri! Tak ada lagi kehormatan untuk tuan bumi. Lihatlah! Sakralnya upacara tadi hilang oleh orang-orang tak tahu aturan adat!” ucap Ibu pada Ayah.

Ayah tak membantah. Ia hanya berdiam diri, tak bergeming sedikit pun. Mungkin saja, ia mulai sadar bahwa uang memang dapat memperbaiki hidup, tapi tak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang. Dan, untuk pertama kalinya aku tahu. Kiamat bisa terjadi tanpa dunia hancur sepenuhnya. Ia hidup di jalan-jalan yang mulai kotor. Di pelataran pura yang dipenuhi jejak kaki sembarang orang. Di rumah-rumah yang diselimuti pertengkaran. Di manusia-manusia yang kini berjalan di tanahnya sendiri tanpa menundukkan kepala.

Aku tak bisa menghentikan pembangunan villa itu. Aku juga tak bisa mengusir semua perubahan yang telah datang. Tapi, setidaknya aku masih bisa menjaga yang masih tersisa. Aku bisa membantu membersihkan area pura setelah upacara selesai dilangsungkan. Aku juga mengajari anak-anak kecil cara membuat canang, juga mengajari mereka doa-doa sederhana. Aku juga mulai berbicara di depan semua warga. Meski aku tahu, suaraku pasti tak akan mengubah pandangan mereka.

Kini aku mengerti maksud Ibu beberapa tahun silam, bahwa tanah juga bisa lelah menjaga manusia dan makhluk hidupnya. Dan mungkin, kehancuran bumi yang paling menyeramkan adalah ketika manusia perlahan berhenti mencintai tanah tempat mereka berpulang. [T]

Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Next Post

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba

Siswa SMAN 1 Amlapura

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co