4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
in Cerpen
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan yang berhembus bersama angin mencipta suara dari arah pura. Dari kecil, aku percaya bahwa desa kami adalah tempat yang tak akan berubah, selalu begini dan selamanya seperti ini. Bahkan, tiap jamnya terasa begitu lambat di sini, seakan roh leluhur menahanku agar tetap tinggal di sana bersama mereka. 

Menjelang rahina, para kaum wanita terlihat sibuk tanpa istirahat. Ada yang menyiapkan bahan banten, metanding, dan juga tetap bekerja di sela-sela kesibukan itu. Di tengah persiapan, anak-anak kecil berlarian menikmati suasana, sedangkan di balai banjar, para tetua duduk membicarakan adat dengan suara yang rendah serta penuh hormat. Semuanya terasa hidup, seolah desa kami dapat bernapas sendiri.

Sewaktu kecil, Ibu selalu mengingatkanku untuk menjaga desa ini “Indah, kita sebagai seorang manusia, harus menghormati tanah yang kita pijak,” kata Ibu suatu sore, sembari menyusun tumpukan canang.

“Suatu hari, jika kita acuh, tanah itu juga akan berhenti menjaga kita,” tambah Ibu.

Dulu, ketika mendengarkan perkataan Ibu, aku tak mengerti maknanya. Aku hanya mengangguk ketika Ibu mulai membahas hal itu. Sedangkan Ayah berbeda. Ia tetap mengikuti semua runtutan adat sebagaimana aturan yang tak tertulis itu. Namun, hidup membuatnya lebih akrab terhadap rasa cemas dibandingkan keyakinan-keyakinan lama. Ayah tak selalu mendapat panen yang bagus, sedangkan harga barang kian hari kian meningkat. Terkadang, aku melihatnya duduk melamun depan teras rumah, melihat hamparan sawah yang kini menyepi. Meski begitu, kehidupan di desa tetap berjalan seperti biasanya. 

Tahun berganti tahun, aku tumbuh dan berkembang di desa itu. Pura di ujung jalan itu pun masih menjadi tempat paling tenang yang aku ketahui. Aku rasa, kehidupan kecilku di sini akan sama, tak berubah meski tahun silih berganti. Sampai akhirnya beberapa mobil mewah datang memasuki jalan desa kami. Aku lihat, mobil-mobil itu terparkir rapi di depan balai banjar, membawa orang-orang dengan bahasa yang tak aku kenali. Mereka datang dengan para pejabat desa, membawa lembaran kertas janji dan rancangan masa depan. Katanya desa kami akan maju, warga bisa bekerja, serta kehidupan kami akan lebih terjamin. Mereka datang dengan bayang-bayang akan masa depan. Dan, tanpa aku sadari, desaku mulai kehilangan wajahnya sendiri. 

Setiap malam orang-orang membicarakan pembangunan villa di tanah sekitar pura. Suara perdebatan terdengar pada beberapa sudut desa. Mulai dari balai banjar hingga warung kecil pinggir jalan. Sebagian besar warga menyambut pembangunan itu dengan mata yang berbinar, seolah kejayaan sudah berada di depan mata. Sebagiannya lagi memilih untuk diam. Entah karena takut menyuarakan, atau hanya menjadi penyimak tanpa reaksi. Bagi orang luar mungkin terlihat biasa saja, tapi bagi kami warga setempat, tanah itu adalah tempat yang kesuciannya harus tetap ada. 

Sedari awal Ibu menolak semua rencana masa depan itu.

“Kalau bangunan itu berdiri di sana, cepat atau lambat semuanya akan berubah,” katanya pada suatu malam.

Aku kemudian mencoba berbicara pada Ayah. Kukatakan bahwa wisatawan belum tentu menghormati bagian dari adat kita, bahwa bangunan itu berdiri terlalu dekat dengan pura “Lambat laun, desa kita bisa berubah jadi tempat asing, Ayah.”

Mendengar itu, Ayah menghela napas cukup panjang. Ia kemudian menatapku dan berucap. “Kalian itu perempuan. Tidak semua urusan dapat kalian campuri,” katanya padaku dan Ibu. Ucapannya begitu menusuk, aku dan Ibu tak mampu berucap dibuatnya. Sejak malam itu aku sadar. Suaraku terlalu kecil di tengah riuhnya manusia desa.

Pembangunan tetap berjalan. Truk-truk besar mulai melewati jalan desa. Suara mesin berdengung menggantikan kicauan burung sawah. Debu-debu beterbangan tiap hari. Ia menempel pada dedaunan, pelinggih, hingga menyapa rumah warga. Sedikit demi sedikit, bangunan itu mulai terlihat jelas. Villa besar dengan dinding batu dan jendela-jendela tinggi berdiri di dekat areal sakral desa kami. Ketika malam, lampu-lampunya menyala terang, seolah dipaksakan untuk hidup di tengah tempat yang selama ini terbiasa dengan gelap dan suara jangkrik malam.

Sejak saat itu, jalan di desa kami tak pernah benar-benar sepi. Beberapa warga mulai bekerja di sana. Ada yang menjadi tukang kebun, penjaga dapur, petugas kebersihan, hingga pemandu wisata. Ayah salah satu dari mereka di sana. Ekonomi memang lebih membaik, seperti yang mereka katakan.

Suatu malam, Ayah pulang dari pekerjaannya. Pembawaannya terlihat lebih bahagia. Ia kemudian memperlihatkan beberapa lembar kertas merah padaku dan Ibu. Senyumnya begitu mengembang, bangga akan penghasilannya saat itu. Aku mencoba percaya, mungkin hanya pikiranku saja yang berlebihan terhadap pembangunan villa itu. Aku mulai menerima kolaborasi antara budaya dan wisatawan di desaku.

Pada awalnya, semuanya baik-baik saja. Wisatawan datang, berfoto, lalu pergi seperti angin lalu. Tapi, semakin lama, jalan menuju pura berubah. Dulu lintasan itu diiringi hamparan rumput. Kini sampah botol, bungkus snack hingga puntung rokok menjadi penghias jalanan itu. Aroma dupa yang dulu aku biasa hirup, digantikan dengan bau got yang kian menyengat.

Pada satu sore, upacara mepeed sedang berlangsung. Semua berjalan seperti yang biasa dilakukan. Namun, orang-orang asing mulai mendekat, menyisakan jarak 2 langkah hanya untuk jepretan gambar. Terlalu dekat untuk kumpulan orang yang tak saling mengenal. Tak hanya mendekat pada prosesi, mereka mulai mengacuhkan peraturan yang tak seharusnya mereka langgar. Banten caru yang seharusnya dihaturkan, diinjak tanpa rasa bersalah. Mereka hanya tersenyum tanpa permohonan ampun. Tak hanya itu, mereka mulai mengambil alih areal pura.

Aku berdiri di antara kerumunan itu. Pandanganku menyusuri tiap jengkal halaman pura, sampai akhirnya mataku tertuju pada seorang Nenek tua. Tatapannya teduh. Bibirnya terlihat bergetar, melantunkan kidung yadnya yang begitu khusyuk. Siapapun yang melihat mungkin akan merasakan hangat yang tak dikenal. Namun, sayangnya, di keindahan lantunan itu, banyak warga negara asing yang mengambil gambar. Flash dimana-mana. Dengan pakaian pendeknya, mereka datang memotret di halaman pura kala itu. Suara-suara mereka riuh, berlomba dengan tembangan Nenek yang syahdu. Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Malam itu, di antara kilatan kamera dan kidung yang tenggelam, aku tahu ada sesuatu yang runtuh dari desa kami.

Setelah upacara selesai, riuh kamera itu masih tertinggal di kepalaku. Malam itu, rumahku dipenuhi suara yang saling melukai—peperangan dua mulut dengan pandangan yang berbeda. Ibu menyalahkan Keputusan-keputusan yang dibuat Ayah sejak awal.

“Kau lihat saja sendiri! Tak ada lagi kehormatan untuk tuan bumi. Lihatlah! Sakralnya upacara tadi hilang oleh orang-orang tak tahu aturan adat!” ucap Ibu pada Ayah.

Ayah tak membantah. Ia hanya berdiam diri, tak bergeming sedikit pun. Mungkin saja, ia mulai sadar bahwa uang memang dapat memperbaiki hidup, tapi tak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang. Dan, untuk pertama kalinya aku tahu. Kiamat bisa terjadi tanpa dunia hancur sepenuhnya. Ia hidup di jalan-jalan yang mulai kotor. Di pelataran pura yang dipenuhi jejak kaki sembarang orang. Di rumah-rumah yang diselimuti pertengkaran. Di manusia-manusia yang kini berjalan di tanahnya sendiri tanpa menundukkan kepala.

Aku tak bisa menghentikan pembangunan villa itu. Aku juga tak bisa mengusir semua perubahan yang telah datang. Tapi, setidaknya aku masih bisa menjaga yang masih tersisa. Aku bisa membantu membersihkan area pura setelah upacara selesai dilangsungkan. Aku juga mengajari anak-anak kecil cara membuat canang, juga mengajari mereka doa-doa sederhana. Aku juga mulai berbicara di depan semua warga. Meski aku tahu, suaraku pasti tak akan mengubah pandangan mereka.

Kini aku mengerti maksud Ibu beberapa tahun silam, bahwa tanah juga bisa lelah menjaga manusia dan makhluk hidupnya. Dan mungkin, kehancuran bumi yang paling menyeramkan adalah ketika manusia perlahan berhenti mencintai tanah tempat mereka berpulang. [T]

Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Next Post

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba

Siswa SMAN 1 Amlapura

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co