12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

Dody Widianto by Dody Widianto
May 22, 2026
in Cerpen
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

Ilustrasi: tatkala.co | Canva

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka 5, kau yang hidup hanya berdua dengan ibumu yang renta, dan sekarang kau dilema apakah ingin mengaku pada ibumu? Pada sebuah nyawa yang sekarang telah bersembunyi di rahimmu? Ibumu mulai pikun dan kala perkenalan pertama itu, kau terlalu cepat menentukan pilihan.

Kau dinikahi siri oleh orang asing itu. Tak ada buku nikah. Hanya selembar kertas di atas meterai 10 ribu. Hanya mahar emas 1 gram, yang saat itu jika dirupiahkan sekitar 1,6 juta saja. Kala itu pamanmu tak setuju dan memintamu membuat surat perjanjian kedua. Pamanmu meminta agar kau segera dinikahi resmi dalam rentang waktu yang ditentukan. Secepatnya. Namun, sebuah amplop tebal malah membungkam pamanmu dan bilang semua akan baik-baik saja. Uang kadang bisa membuat manusia berubah pikiran seketika. Lelaki itu menuliskan alamat rumahnya dan juga nomor telepon yang ternyata memang aktif. Ketika itu, keluargamu seolah telah berada dalam pelukan erat drama yang telah dirancangnya.

Kala itu, kalian pernah bersitatap dalam diam. Seolah ada gemuruh tak bernama yang terus bergejolak dalam dada serupa air mendidih. Kau terus memandang orang asing di depanmu dalam takjub yang bahkan kau sendiri belum pernah bertemu. Kau menoleh sedikit ke samping dan sebuah mobil sedan hitam mengilat terparkir di pinggir jalan teras warungmu.

Seseorang datang ke warung kecilmu di jalanan aspal sempit seberang pasar Cublak. Sebuah pasar di perbatasan provinsi yang dikelilingi pohon-pohon pinus. Seseorang berkacamata hitam, dengan sedikit cambang di pipi, kepala yang diikat sorban putih, baju jubah lengan panjang yang sama putihnya. Entah siapa dan ia hanya ingin membeli sesuatu yang sepele: kembang gula. Mulutnya terasa pahit karena mengaku kelelahan dalam acara yang padat di luar kota. Kepalanya terasa sedikit pening, katanya.

Dari kembang gula itu, dari beberapa butir permen, semula kau merasa cinta semanis kembang gula. Namun, saat ini kau merasa segalanya hanyalah khayalan belaka. Kau dilupakan dan cinta terasa sepahit biji mahoni. Apakah kau ingin diam saja? Atau ingin mengakui semuanya? Ia orang besar yang dielu-elukan dan tentu saja (terlihat) suci dari segala dosa. Setidaknya itu jawaban yang sering kaulihat di televisi atau media sosial.

Di depan warung, ketika orang lalu lalang dalam segala kegiatan pasar, kau masih melamun. Bukan tanpa sebab. Kau memikirlan seseorang yang dulu pernah menyinggahi hatimu, menikahimu, lalu menikmati tubuhmu. Kau menuduh dirimu bodoh kala itu. Serupa perempuan yang linglung dan terihipnotis oleh ketampanan orang asing yang bahkan kau pun tak tahu dari mana asalnya.

Kau mengingat-ingat lagi dengan cara apa untuk menyelesaikan masalah ini. Kau lihat beberapa renceng makanan ringan panganan bocah yang menggantung, bergoyang-goyang ke kanan kiri, diterpa angin dingin pegunungan. Kabut pekat perlahan turun dari arah barat. Warna remang putihnya segera menutupi jarak pandang. Orang-orang terus berjalan dalam keinginan masing-masing. Lalu suara tawar menawar dan canda terdengar serupa dengung lebah. Kau terus menggeleng, berpangku tangan di atas etalase kaca yang di dalamnya berisi gula pasir, minyak goreng, teh, kopi, roti kering, keripik tempe, dan makanan ringan lain.

Sebab masalah bertambah ketika temanmu Sruyun datang ke rumahmu. Ia temanmu sejak kecil yang ketika kecil dulu, dan belum mengenal malu, bermain di deras aliran air kali yang jernih di dusun sebelah dalam ketelanjangan. Ia temanmu mencari pakan rumput untuk kambing etawamu di belakang rumah ketika senja tiba. Kala itu, ketika kau menikah di bawah tangan pun, ia datang untuk jadi saksi di pernikahanmu. Namun, masalah bertambah runyam ketika kau tahu, lelaki yang menikahimu siri ternyata milik sah perempuan lain. Ia tak pernah cerita kepadamu tentang hal ini. Dan semula, cinta yang semanis madu, berubah sepahit empedu.

Dan ketika temanmu tahu, kau diam saja sore itu di tebing-tebing bukit pinus yang ditumbuhi rerumputan, kau masih lesu terdiam. Bahkan ketika temanmu merasa iba dan terus melihatmu terduduk bersandar pada satu batang pohon pinus yang tinggi menjulang. Kau meluruskan kaki dan ada yang mengembun di sudut matamu. Orang asing itu datang lagi ke rumahmu sebulan lalu, atas nama nafkah ia datang dengan uang dan tentu saja cinta. Uangnya memang tak seberapa, tetapi sebagai seorang istri kau memang merindukannya. Dan ketika kau sadar ada yang bersemayam dalam rahimmu, pikiramu makin bertambah-tambah. Mampukah kau mengurusi jabang bayimu dan ibumu yang renta bersamaan? Kau memang punya suami, tetapi ia serupa bunglon yang kadang ada dan kadang tidak ada.

Temanmu segera meletakkan karung dan arit hanya demi mendengar keluh kesahmu. Ketika ia tahu jika lelakimu sekarang ini jarang mampir ke rumah. Beralasan sibuk acara di luar kota biarpun kau pernah cerita tentang cikal bakal penerusnya di rahimmu. Dulu ia yang rajin setiap sebulan atau dua bulan datang, kini sering tanpa kabar bak ditelan bumi, bahkan hingga kandunganmu mulai bernyawa dan menyentuh angka bulan empat.

Temanmu di sebelah mengelus rambutmu dan bilang kau harus berani. Apa yang mereka anggap orang suci, kadang tak sebaik yang orang lain kira. Hormat dan kagum pada manusia semestinya biasa saja. Tak usah berlebihan, hingga menganggapnya serupa dewa yang kita tahu kadang mereka gila hormat demi status sosial. Kau tahu, hatimu bertambah-tambah serupa dicucuk duri-duri ketika kau tahu, berita di televisi, istri simpanannya lebih dari enam. Edan. Kau menggeleng. Hipnotis apa yang telah merasukimu kala itu hingga kau menyerahkan rahim suci untuknya dengan mahar dan janji manis serupa kembang gula.

Ketika temanmu menanyakan apakah ada waktu lagi lelaki itu datang ke rumah? Kau menggeleng pelan dan tak yakin. Barangkali hanya doa yang bisa membuatnya kangen dan mau datang ke rumah. Bukankah istrinya banyak? Ia bebas memilih di rumah mana yang ia sukai terlebih dahulu. Ia bebas menemui perempuan mana yang ia rindukan lebih dulu, yang bisa saja tersebar di segala pulau di nusantara. Mana ada yang tahu. Kau menggeleng pelan lagi, seolah kala itu harga wanita 1,6 juta saja. Begitu murahnya. Sekarang kau hanya bisa meratapi keadaanmu yang tak tahu harus bagaimana. Terlalu cepat menentukan pilihan kala itu.

Maka, ketika minggu kedua sejak kau curahkan segala perasaan dan keluh kesahmu ke sahabatmu itu, kau persiapkan segalanya. Lelakimu benar-benar datang dalam cinta. Lelakimu datang dalam nafsu yang memburu ketika melihat perutmu sedikit buncit. Namun, kau ingat pesan temanmu itu. Dalam bujuk rayu, kau meminta tanda tangan, kau rekam semua itu dengan ponsel yang ia tak tahu. Kau bilang hanya ingin meminta dijatah untuk biaya anaknya tiap bulan. Ketika lelakimu melihat 5 juta, dengan cepat ia menandatanganinya. Lalu setelah itu kalian tenggelam di kedalaman palung rindu yang paling dalam, di atas ranjang.

Sejak dua minggu kejadian itu, kau pergi ke rumah sahabatmu. Menceritakan semua kejadian dua minggu lalu sesuai arahannya. Lalu menanyakan di mana rumah pengacara teman Pak De-nya. Ia tahu sangat welas asih pada semua dan kadang tak meminta bayaran bantuan hukum. Warung di rumah biarkan ibunya yang menjaga. Kau telah menitip pada pamanmu untuk merawatnya dan mengawasi warungmu. Sahabatmu itu malah bingung dan bilang mau ke mana untuk menemukan lelakimu? Kau telah mengumpulkan segala data tentang lelakimu, istri-istrinya, juga rumah singgahnya. Untuk ke sana tentu butuh biaya besar. Namun, Pak De tahu keadaanmu, sebuah transfer uang datang untuk ongkos itu dan memulai semuanya.

Kau perlihatkan selembar kertas bermeterai kepada temanmu. Kau kelupas tempelan kertas kecil yang telah ditandatangani lelakimu. Ketikan kata “juta” berganti “milyar”. Dan kau akan meminta pertanggungjawaban. Entah berhasil entah tidak, entah di pengadilan, entah di mana, kau tahu, kau terlalu berharga untuk diremehkan dengan kata nafsu yang dibalut agama. Kelicikan harus dibayar kelicikan sekarang! [T]

Penulis: Dody Widianto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Next Post

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Dody Widianto

Dody Widianto

Lahir di Surabaya. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co