30 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Rezky Chiki by Rezky Chiki
June 9, 2026
in Ulas Pentas
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja "Aura dan Ruang Aman" di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan, atau perilaku yang dianggap lumrah dalam pergaulan. Komentar tentang tubuh perempuan, ekspresi gender yang beragam, male gaze, catcalling, hingga sentuhan tanpa izin kerap dipandang sebagai hal sepele. Ketika perilaku-perilaku ini terus dinormalisasi, banyak orang tidak lagi melihatnya sebagai pelecehan, bahkan pelakunya sendiri”

***

BEBERAPA minggu lalu, tepatnya Rabu, 20 Mei 2026, sahabat saya, Sabri Sahafuddin, mengundang saya untuk menyaksikan sebuah pertunjukan teater yang menjadi bagian dari Proyek Suara Perempuan Remaja. Saya duduk di barisan tengah penonton dengan bayangan akan menyaksikan sebuah kampanye pencegahan kekerasan seksual bagi remaja. Namun, yang saya temukan di ruang pertunjukan itu jauh lebih kompleks: sebuah pengalaman yang mengajak penonton menengok kembali hal-hal yang selama ini dianggap biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan berbagai bentuk ketidaknyamanan dari tindak kekerasan verbal.

Digelar di lingkungan SMA-SMAK Makassar, pertunjukan berjudul Aura dan Ruang Aman menjadi ruang dialog yang dekat dengan keseharian para pelajar. Melalui cerita yang dibangun, penonton diajak memahami bahwa kekerasan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia bisa muncul di sekitar kita, bahkan dalam lingkar pertemanan yang selama ini dianggap aman.

Ini debut penyutradaraan Sabri Sahafuddin dan diperankan oleh aktor-aktor berbakat yaitu, Nurhafsa Hidayani, Nirwana Aprianty, serta Nurul Inayah, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara narasi, cukup untuk memantik sisi emosional penontonnya. Saya melihat bagaimana cerita yang dipentaskan membuka ruang bagi para remaja, terutama kami (baca : perempuan), untuk mengenali pengalaman-pengalaman yang mungkin pernah kami alami, tetapi selama ini sulit kami ungkapkan atau bahkan pahami sebagai bentuk pelanggaran terhadap diri kami.

Sejak awal, pertunjukan Aura dan Ruang Aman tampil mengalir tanpa menggurui. Ia tidak hadir dengan bahasa yang terlalu teoritis ataupun penuh slogan. Sebaliknya, pertunjukan ini memilih menghadirkan pengalaman sehari-hari yang terasa begitu dekat dengan kehidupan remaja : obrolan ringan bersama teman, candaan yang dianggap biasa, komentar mengenai tubuh perempuan, hingga situasi-situasi yang selama ini sering dianggap sepele. Justru menjadi kekuatan pertunjukan ini. Sebab mereka hadir dalam bentuk yang mudah dikenali.

Disinilah Aura dan Ruang Aman menjadi penting. Pertunjukan ini tidak hanya bicara tentang korban dan pelaku secara hitam-putih, tetapi juga mengajak penonton memikirkan kembali bagaimana budaya sosial terbentuk dan diwariskan. Ada banyak tindakan yang sebenarnya menyakitkan, tetapi terus dibiarkan karena dianggap lumrah saja. Ketika sebuah perilaku melecehkan terus menerus dinormalisasi sebagai candaan, maka lingkungan secara tidak langsung telah menciptakan ruang aman bagi pelaku, misalnya ketika Aura coba menceritakan pengalaman tidak nyamannya kepada lingkar pertemanannya sendiri. Ia sudah berusaha untuk speak up, alih-alih mendapat dukungan atau setidaknya rasa empati, respons yang ia terima justru berupa kalimat yang terdengar sangat familiar di kehidupan sehari-hari : “memang begitu cowok-cowok.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, bahkan sering diucapkan tanpa niat buruk. Namun dari deretan tengah kursi penonton, saya mendengar kalimat itu terasa menyakitkan. Apalagi membayangkan kalimat itu diucapkan oleh orang terdekatku. Betapa pelecehan sering kali dinormalisasi oleh orang-orang terdekat kami sendiri. Kami tidak mendapatkan validasi atas rasa tidak nyaman yang kami alami, kami justru didorong untuk memaklumi perilaku tersebut. Lantas, sejak kapan sih pelecehan ini menjadi sesuatu yang wajar dan harus diterima perempuan sebagai bagian dari hidup sehari-hari?

Pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja “Aura dan Ruang Aman” di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

Dari refleksi saya, tidak sedikit korban kekerasan seksual sebenarnya telah mencoba untuk berbicara, tetapi kita gagal menjadi pendengar yang serius. Kita sibuk mengecilkan pengalaman orang terdekat kita yang menjadi korban. Kita sibuk memberikan nasihat mengenai cara korban berperilaku dan berpakaian tanpa berusaha kritis pada perilaku pelakunya. Saya pikir lama-lama hal ini akan sungguh membahayakan, ketika lingkungan meremehkan pengalaman korban, dampaknya tidak berhenti pada satu kejadian saja. Korban dapat kehilangan rasa aman untuk bercerita kembali di masa depan atau yang lebih parah korban ikut menormalisasi tindak pelecehan verbal tersebut. Mereka bisa saja menjadi ragu terhadap pengalaman mereka sendiri, mempertanyakan apakah rasa tidak nyaman yang mereka rasakan memang valid atau tidak. Dalam jangka panjang, budaya seperti ini menciptakan ruang diam yang membuat pelaku terus merasa perilakunya dapat dimaklumi.

Saya ingin menyoroti pada bagian antiklimaks yang merupakan puncak emosional pertunjukan. Kumpulan video remaja perempuan yang berani menceritakan pengalaman pelecehan yang mereka alami di ruang publik maupun ruang privat ditampilkan. Secara realistis. Video-video tersebut menghadirkan pengalaman yang terasa getir, setidaknya bagi saya. Para remaja perempuan berbicara mengenai rasa takut, rasa marah, rasa malu, hingga pengalaman mereka ketika harus menghadapi komentar-komentar yang merendahkan tubuh mereka.

Sebagai seorang penyintas, ada satu narasi yang pernah lama saya percayai: bahwa pakaian perempuan adalah penyebab terjadinya pelecehan seksual. Narasi itu kembali saya pertanyakan ketika menyaksikan salah satu video yang ditayangkan dalam pertunjukan. Seorang remaja perempuan bercerita tentang pengalaman mengalami catcalling di jalan saat mengenakan seragam olahraga sekolah, dengan ransel masih menggantung di pundaknya. Tidak ada pakaian yang dianggap “mengundang”. Tidak ada perilaku yang bisa dijadikan alasan. Namun pelecehan itu tetap terjadi dan saya tahu, ia tidak sendirian. Banyak dari kami pernah mengalami hal yang sama.

Kesaksian-kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana perempuan kerap kehilangan ruang untuk mengekspresikan diri dengan bebas, terutama di ruang publik. Kami tidak hanya berhadapan dengan pelecehan, tetapi juga dengan berbagai aturan tak tertulis yang terus mengawasi tubuh dan perilaku kami. Cara berpakaian, cara berjalan, cara tertawa, bahkan cara kami menempati ruang sering kali dinilai melalui standar budaya patriarki yang berpusat pada tatapan laki-laki (male gaze). Akibatnya, perempuan tidak hanya dituntut

untuk menjaga diri dari kekerasan, tetapi juga terus-menerus diminta menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial yang membatasi kebebasan berekspresi.

Apa yang membuat pengalaman perempuan di ruang publik terasa begitu akrab dengan rasa waspada?

Dari berbagai kesaksian yang ditampilkan, saya melihat bahwa ruang publik masih sering dikuasai oleh cara pandang yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang paling berhak atas ruang dan tubuh orang lain. Kuasa itu tampak dalam hal-hal yang sering dianggap sepele: menatap tubuh perempuan tanpa henti, melontarkan komentar, menggoda, bersiul, bahkan menyentuh tanpa izin. Semua dilakukan seolah-olah tubuh perempuan memang tersedia untuk dinilai, dikomentari, dan direspons sesuka hati.

Akibatnya, banyak dari kami yang tumbuh dengan kewaspadaan yang nyaris tidak pernah selesai. Kami belajar menghitung jam pulang, memilih rute yang dianggap lebih aman, menyesuaikan cara berpakaian, hingga terus-menerus mengantisipasi kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja. Di sisi lain, banyak laki-laki justru tumbuh tanpa pernah diajak secara serius untuk memahami batas tubuh, persetujuan, dan hak orang lain untuk merasa aman di ruang yang sama. Di sinilah ketimpangan itu bermula: perempuan dibesarkan untuk menghindari kekerasan, sementara laki-laki tidak selalu dibesarkan untuk mencegahnya.

Dari pertunjukan ini kita juga dapat menyoroti kenyataan bahwa pelaku kekerasan seksual tidak selalu datang dari sosok asing atau karena pakaian yang kami kenakan. Pelecehan terjadi karena adanya niat dan tindakan dari pelaku itu sendiri. Narasi yang terus menyalahkan kami sebagai perempuan justru membuat masyarakat gagal melihat akar persoalan yang sebenarnya. Selama perempuan terus diminta mengubah cara berpakaian, sementara pelaku tidak pernah diajak mengevaluasi perilakunya, maka kekerasan seksual akan terus dianggap sebagai tanggung jawab korban untuk dihindari.

Diskusi usai pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja “Aura dan Ruang Aman” di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

Melalui pendekatan yang emosional namun tidak menghakimi, Aura dan Ruang Aman berhasil membuka ruang refleksi bagi penontonnya. Pertunjukan ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak kita untuk mulai mempertanyakan banyak hal yang selama ini dianggap biasa. Mengapa perempuan harus terus membatasi dirinya agar merasa aman? Mengapa candaan yang merendahkan tubuh perempuan masih dianggap lucu? Mengapa pengalaman korban sering kali lebih diragukan dibanding perilaku pelaku?

Tentu saja seni teater dapat menjadi medium advokasi sosial yang kuat. Di tengah derasnya informasi digital dan pendekatan kampanye yang sering terasa formal, sebuah pertunjukan teater justru mampu menghadirkan pengalaman emosional yang lebih personal. Penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak merasakan ketidaknyamanan, ketakutan, dan kebingungan yang dialami korban.

Barangkali, di situlah kekuatan seni bekerja. Ia tidak memaksa penonton untuk setuju, tetapi perlahan membuat mereka bertanya pada diri sendiri. Apakah selama ini kita pernah menertawakan candaan yang sebenarnya melecehkan? Apakah kita pernah meremehkan cerita seseorang karena menganggap itu bukan masalah besar? Atau mungkin, apakah kita pernah menjadi bagian dari lingkungan yang membuat korban merasa tidak aman untuk berbicara?

Beberapa pertanyaan memang perlu terus tinggal di kepala kita setelah pertunjukan ini selesai.

Pembahasan kita hari ini seharusnya tidak lagi berhenti pada nasihat tentang “bagaimana agar tidak menjadi korban.” Percakapan yang lebih penting justru adalah: bagaimana kita mendidik diri sendiri agar tidak menjadi pelaku. Bagaimana kita membangun generasi yang memahami persetujuan (consent), menghormati tubuh orang lain, dan tidak menormalisasi kekerasan dalam bentuk apapun, bahkan yang dibungkus sebagai candaan.

Lalu, lingkungan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya? Lingkungan yang membuat remaja perempuan terus merasa waspada setiap kali memasuki ruang publik, atau lingkungan yang memberi mereka kebebasan untuk tumbuh, bersuara, dan hadir tanpa rasa takut?

Kru dan pemain pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja “Aura dan Ruang Aman” di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

Melalui Suara Perempuan Remaja, pertunjukan Aura dan Ruang Aman tidak hanya menjadi karya seni pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama. Sebuah ruang yang mengajak kita mendengarkan suara-suara yang selama ini dikecilkan, mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dianggap wajar, dan membayangkan kemungkinan hadirnya lingkungan yang lebih sehat bagi generasi berikutnya. Karena mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari keberanian untuk mendengar dan berhenti menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang biasa.

Ruang aman bukan privilese yang hanya dinikmati sebagian orang, melainkan hak yang seharusnya dimiliki setiap orang. FIX NO DEBAT! [T]

Tags: MakassarRemajaseni pertunjukansiswaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

Next Post

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Rezky Chiki

Rezky Chiki

Seniman multidisipliner asal Makassar yang dikenal sebagai performans, aktris, penari tradisi, penulis dan Juru Bahasa Isyarat. Melalui komunitas seni 4 titik, ia menggabungkan seni tari dengan advokasi bagi komunitas Tuli untuk menciptakan ruang berkesenian yang inklusif dan setara.Nama Rezky Chiki tercatat dalam beberapa ruang diskusi mengenai representasi gender, di mana ia berperan dalam konteks yang menyoroti patriarki dan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Kiprahnya berfokus pada upaya penghapusan diskriminasi gender dan membangun inklusi sosial, terutama bagi kelompok rentan.

Related Posts

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co