11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Rezky Chiki by Rezky Chiki
June 9, 2026
in Ulas Pentas
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja "Aura dan Ruang Aman" di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan, atau perilaku yang dianggap lumrah dalam pergaulan. Komentar tentang tubuh perempuan, ekspresi gender yang beragam, male gaze, catcalling, hingga sentuhan tanpa izin kerap dipandang sebagai hal sepele. Ketika perilaku-perilaku ini terus dinormalisasi, banyak orang tidak lagi melihatnya sebagai pelecehan, bahkan pelakunya sendiri”

***

BEBERAPA minggu lalu, tepatnya Rabu, 20 Mei 2026, sahabat saya, Sabri Sahafuddin, mengundang saya untuk menyaksikan sebuah pertunjukan teater yang menjadi bagian dari Proyek Suara Perempuan Remaja. Saya duduk di barisan tengah penonton dengan bayangan akan menyaksikan sebuah kampanye pencegahan kekerasan seksual bagi remaja. Namun, yang saya temukan di ruang pertunjukan itu jauh lebih kompleks: sebuah pengalaman yang mengajak penonton menengok kembali hal-hal yang selama ini dianggap biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan berbagai bentuk ketidaknyamanan dari tindak kekerasan verbal.

Digelar di lingkungan SMA-SMAK Makassar, pertunjukan berjudul Aura dan Ruang Aman menjadi ruang dialog yang dekat dengan keseharian para pelajar. Melalui cerita yang dibangun, penonton diajak memahami bahwa kekerasan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia bisa muncul di sekitar kita, bahkan dalam lingkar pertemanan yang selama ini dianggap aman.

Ini debut penyutradaraan Sabri Sahafuddin dan diperankan oleh aktor-aktor berbakat yaitu, Nurhafsa Hidayani, Nirwana Aprianty, serta Nurul Inayah, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang kuat secara narasi, cukup untuk memantik sisi emosional penontonnya. Saya melihat bagaimana cerita yang dipentaskan membuka ruang bagi para remaja, terutama kami (baca : perempuan), untuk mengenali pengalaman-pengalaman yang mungkin pernah kami alami, tetapi selama ini sulit kami ungkapkan atau bahkan pahami sebagai bentuk pelanggaran terhadap diri kami.

Sejak awal, pertunjukan Aura dan Ruang Aman tampil mengalir tanpa menggurui. Ia tidak hadir dengan bahasa yang terlalu teoritis ataupun penuh slogan. Sebaliknya, pertunjukan ini memilih menghadirkan pengalaman sehari-hari yang terasa begitu dekat dengan kehidupan remaja : obrolan ringan bersama teman, candaan yang dianggap biasa, komentar mengenai tubuh perempuan, hingga situasi-situasi yang selama ini sering dianggap sepele. Justru menjadi kekuatan pertunjukan ini. Sebab mereka hadir dalam bentuk yang mudah dikenali.

Disinilah Aura dan Ruang Aman menjadi penting. Pertunjukan ini tidak hanya bicara tentang korban dan pelaku secara hitam-putih, tetapi juga mengajak penonton memikirkan kembali bagaimana budaya sosial terbentuk dan diwariskan. Ada banyak tindakan yang sebenarnya menyakitkan, tetapi terus dibiarkan karena dianggap lumrah saja. Ketika sebuah perilaku melecehkan terus menerus dinormalisasi sebagai candaan, maka lingkungan secara tidak langsung telah menciptakan ruang aman bagi pelaku, misalnya ketika Aura coba menceritakan pengalaman tidak nyamannya kepada lingkar pertemanannya sendiri. Ia sudah berusaha untuk speak up, alih-alih mendapat dukungan atau setidaknya rasa empati, respons yang ia terima justru berupa kalimat yang terdengar sangat familiar di kehidupan sehari-hari : “memang begitu cowok-cowok.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, bahkan sering diucapkan tanpa niat buruk. Namun dari deretan tengah kursi penonton, saya mendengar kalimat itu terasa menyakitkan. Apalagi membayangkan kalimat itu diucapkan oleh orang terdekatku. Betapa pelecehan sering kali dinormalisasi oleh orang-orang terdekat kami sendiri. Kami tidak mendapatkan validasi atas rasa tidak nyaman yang kami alami, kami justru didorong untuk memaklumi perilaku tersebut. Lantas, sejak kapan sih pelecehan ini menjadi sesuatu yang wajar dan harus diterima perempuan sebagai bagian dari hidup sehari-hari?

Pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja “Aura dan Ruang Aman” di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

Dari refleksi saya, tidak sedikit korban kekerasan seksual sebenarnya telah mencoba untuk berbicara, tetapi kita gagal menjadi pendengar yang serius. Kita sibuk mengecilkan pengalaman orang terdekat kita yang menjadi korban. Kita sibuk memberikan nasihat mengenai cara korban berperilaku dan berpakaian tanpa berusaha kritis pada perilaku pelakunya. Saya pikir lama-lama hal ini akan sungguh membahayakan, ketika lingkungan meremehkan pengalaman korban, dampaknya tidak berhenti pada satu kejadian saja. Korban dapat kehilangan rasa aman untuk bercerita kembali di masa depan atau yang lebih parah korban ikut menormalisasi tindak pelecehan verbal tersebut. Mereka bisa saja menjadi ragu terhadap pengalaman mereka sendiri, mempertanyakan apakah rasa tidak nyaman yang mereka rasakan memang valid atau tidak. Dalam jangka panjang, budaya seperti ini menciptakan ruang diam yang membuat pelaku terus merasa perilakunya dapat dimaklumi.

Saya ingin menyoroti pada bagian antiklimaks yang merupakan puncak emosional pertunjukan. Kumpulan video remaja perempuan yang berani menceritakan pengalaman pelecehan yang mereka alami di ruang publik maupun ruang privat ditampilkan. Secara realistis. Video-video tersebut menghadirkan pengalaman yang terasa getir, setidaknya bagi saya. Para remaja perempuan berbicara mengenai rasa takut, rasa marah, rasa malu, hingga pengalaman mereka ketika harus menghadapi komentar-komentar yang merendahkan tubuh mereka.

Sebagai seorang penyintas, ada satu narasi yang pernah lama saya percayai: bahwa pakaian perempuan adalah penyebab terjadinya pelecehan seksual. Narasi itu kembali saya pertanyakan ketika menyaksikan salah satu video yang ditayangkan dalam pertunjukan. Seorang remaja perempuan bercerita tentang pengalaman mengalami catcalling di jalan saat mengenakan seragam olahraga sekolah, dengan ransel masih menggantung di pundaknya. Tidak ada pakaian yang dianggap “mengundang”. Tidak ada perilaku yang bisa dijadikan alasan. Namun pelecehan itu tetap terjadi dan saya tahu, ia tidak sendirian. Banyak dari kami pernah mengalami hal yang sama.

Kesaksian-kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana perempuan kerap kehilangan ruang untuk mengekspresikan diri dengan bebas, terutama di ruang publik. Kami tidak hanya berhadapan dengan pelecehan, tetapi juga dengan berbagai aturan tak tertulis yang terus mengawasi tubuh dan perilaku kami. Cara berpakaian, cara berjalan, cara tertawa, bahkan cara kami menempati ruang sering kali dinilai melalui standar budaya patriarki yang berpusat pada tatapan laki-laki (male gaze). Akibatnya, perempuan tidak hanya dituntut

untuk menjaga diri dari kekerasan, tetapi juga terus-menerus diminta menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial yang membatasi kebebasan berekspresi.

Apa yang membuat pengalaman perempuan di ruang publik terasa begitu akrab dengan rasa waspada?

Dari berbagai kesaksian yang ditampilkan, saya melihat bahwa ruang publik masih sering dikuasai oleh cara pandang yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang paling berhak atas ruang dan tubuh orang lain. Kuasa itu tampak dalam hal-hal yang sering dianggap sepele: menatap tubuh perempuan tanpa henti, melontarkan komentar, menggoda, bersiul, bahkan menyentuh tanpa izin. Semua dilakukan seolah-olah tubuh perempuan memang tersedia untuk dinilai, dikomentari, dan direspons sesuka hati.

Akibatnya, banyak dari kami yang tumbuh dengan kewaspadaan yang nyaris tidak pernah selesai. Kami belajar menghitung jam pulang, memilih rute yang dianggap lebih aman, menyesuaikan cara berpakaian, hingga terus-menerus mengantisipasi kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja. Di sisi lain, banyak laki-laki justru tumbuh tanpa pernah diajak secara serius untuk memahami batas tubuh, persetujuan, dan hak orang lain untuk merasa aman di ruang yang sama. Di sinilah ketimpangan itu bermula: perempuan dibesarkan untuk menghindari kekerasan, sementara laki-laki tidak selalu dibesarkan untuk mencegahnya.

Dari pertunjukan ini kita juga dapat menyoroti kenyataan bahwa pelaku kekerasan seksual tidak selalu datang dari sosok asing atau karena pakaian yang kami kenakan. Pelecehan terjadi karena adanya niat dan tindakan dari pelaku itu sendiri. Narasi yang terus menyalahkan kami sebagai perempuan justru membuat masyarakat gagal melihat akar persoalan yang sebenarnya. Selama perempuan terus diminta mengubah cara berpakaian, sementara pelaku tidak pernah diajak mengevaluasi perilakunya, maka kekerasan seksual akan terus dianggap sebagai tanggung jawab korban untuk dihindari.

Diskusi usai pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja “Aura dan Ruang Aman” di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

Melalui pendekatan yang emosional namun tidak menghakimi, Aura dan Ruang Aman berhasil membuka ruang refleksi bagi penontonnya. Pertunjukan ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak kita untuk mulai mempertanyakan banyak hal yang selama ini dianggap biasa. Mengapa perempuan harus terus membatasi dirinya agar merasa aman? Mengapa candaan yang merendahkan tubuh perempuan masih dianggap lucu? Mengapa pengalaman korban sering kali lebih diragukan dibanding perilaku pelaku?

Tentu saja seni teater dapat menjadi medium advokasi sosial yang kuat. Di tengah derasnya informasi digital dan pendekatan kampanye yang sering terasa formal, sebuah pertunjukan teater justru mampu menghadirkan pengalaman emosional yang lebih personal. Penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak merasakan ketidaknyamanan, ketakutan, dan kebingungan yang dialami korban.

Barangkali, di situlah kekuatan seni bekerja. Ia tidak memaksa penonton untuk setuju, tetapi perlahan membuat mereka bertanya pada diri sendiri. Apakah selama ini kita pernah menertawakan candaan yang sebenarnya melecehkan? Apakah kita pernah meremehkan cerita seseorang karena menganggap itu bukan masalah besar? Atau mungkin, apakah kita pernah menjadi bagian dari lingkungan yang membuat korban merasa tidak aman untuk berbicara?

Beberapa pertanyaan memang perlu terus tinggal di kepala kita setelah pertunjukan ini selesai.

Pembahasan kita hari ini seharusnya tidak lagi berhenti pada nasihat tentang “bagaimana agar tidak menjadi korban.” Percakapan yang lebih penting justru adalah: bagaimana kita mendidik diri sendiri agar tidak menjadi pelaku. Bagaimana kita membangun generasi yang memahami persetujuan (consent), menghormati tubuh orang lain, dan tidak menormalisasi kekerasan dalam bentuk apapun, bahkan yang dibungkus sebagai candaan.

Lalu, lingkungan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya? Lingkungan yang membuat remaja perempuan terus merasa waspada setiap kali memasuki ruang publik, atau lingkungan yang memberi mereka kebebasan untuk tumbuh, bersuara, dan hadir tanpa rasa takut?

Kru dan pemain pertunjukan dari Proyek Suara Perempuan Remaja “Aura dan Ruang Aman” di lingkungan SMA-SMAK Makassar | Foto: Istimewa

Melalui Suara Perempuan Remaja, pertunjukan Aura dan Ruang Aman tidak hanya menjadi karya seni pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama. Sebuah ruang yang mengajak kita mendengarkan suara-suara yang selama ini dikecilkan, mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dianggap wajar, dan membayangkan kemungkinan hadirnya lingkungan yang lebih sehat bagi generasi berikutnya. Karena mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari keberanian untuk mendengar dan berhenti menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang biasa.

Ruang aman bukan privilese yang hanya dinikmati sebagian orang, melainkan hak yang seharusnya dimiliki setiap orang. FIX NO DEBAT! [T]

Tags: MakassarRemajaseni pertunjukansiswaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

Next Post

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Rezky Chiki

Rezky Chiki

Seniman multidisipliner asal Makassar yang dikenal sebagai performans, aktris, penari tradisi, penulis dan Juru Bahasa Isyarat. Melalui komunitas seni 4 titik, ia menggabungkan seni tari dengan advokasi bagi komunitas Tuli untuk menciptakan ruang berkesenian yang inklusif dan setara.Nama Rezky Chiki tercatat dalam beberapa ruang diskusi mengenai representasi gender, di mana ia berperan dalam konteks yang menyoroti patriarki dan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Kiprahnya berfokus pada upaya penghapusan diskriminasi gender dan membangun inklusi sosial, terutama bagi kelompok rentan.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co