1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
in Esai
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdekaan. NU Bali, sejauh yang bisa ditelusuri sudah berdiri sejak tahun 1934.

Data ini didapatkan pada daftar hadir Muktamar NU ke IX yang dilaksanakan di Banyuwangi Pada 23-24 April 1934, dimana ada dua utusan yang hadir dari Bali. Bahkan, sebelum pelaksanaan Muktamar di ujung timur pulau jawa itu, sebagaimana cerita dari para sesepuh di Jembrana, KH Abdul Wahab Chasbullah (Tokoh Pendiri NU) datang langsung ke Jembrana untuk memperkenalkan NU, dan tentu mengajak tokoh muslim setempat untuk ikut pada perhelatan akbar di Banyuwangi, yang secara geografis tidak jauh dari Jembrana.   

Hasil terpenting dari Muktamar di Banyuwangi ini, adalah disetujuinya pembentukan wadah khusus bagi anak anak muda NU, yang kemudian diberi nama Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), dan belakangan berubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Dari sana, NU mulai diperkenalkan kepada masyarakat Muslim Bali, sekaligus membentuk sayap mudanya GP Ansor. NU terbukti diterima, karena tidak lama setelah itu, pelajar muslim Bali yang sebelumnya belajar agama ke Lombok, pada tahun 1935 mulai banyak yang mondok ke Jawa. Salah satunya pelajar asal Desa Pegayaman Buleleng bernama Affandi, mondok ke Pondok Tebuireng Jombang. Hal ini sebagaimana catatan Wayan Suardika, mahasiswa Sejarah Universitas Udayana dalam skripsi yang ditulisnya dengan judul “Perkembangan Nahdlatul Ulama di Bali” pada tahun 1988.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Masjid di Bali | Foto: Ist

Pada tahun tahun setelahnya, Angkatan pelajar muslim Bali terus bertambah untuk mondok di Jawa, seperti pada tahun 1954, Ahmad Damanhuri asal Loloan Jembrana berangkat mondok ke Pondok Tambakberas Jombang dibawah asuhan langsung KH. Abdul Wahab Chasbullah. Kelak Damanhuri pada tahun 1963 menjadi Ketua PC GP Ansor Jembrana dan memainkan peran yang sangat penting pada dinamika sosial tahun 1965-1966.

Peran Penting GP Ansor di Bali

Pertama, keterlibatan pada masa revolusi kemerdekaan di Bali. Perjuangan rakyat Bali bahu membahu melawan Belanda yang berupaya merebut kembali pasca proklamasi 1945. Perjuangan bersama lintas agama ini, untuk di Bali, pada zaman Kerajaan sudah terbiasa dilakukan para pasukan  muslim, meski yang dibelanya adalah Raja yang berbeda agama.

Ditambah lagi, pada konteks tahun 1945, setelah NU sudah mulai menyebarkan paham keagamaan yang akomodatif terhadap tradisi, sekaligus memiliki pandangan kebangsaan yang kuat untuk membela tanah air, anak anak muda NU saat itu terjun ke medan laga pertempuran bersama pejuang lainnya. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya makam makam pejuang muslim yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Bali.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Gereja di Bali | Foto: Ist

Kedua, memainkan peran penting pada masa chaos 1965-1966. Kejadian ini lebih dikenal zaman Gestok oleh masyarakat Bali. Pada catatan Soe Hok Gie, di Bali sedikitnya ada 80 ribu jiwa menjadi korban akibat konflik ideologi politik dari pusat, yang merembet ke daerah termasuk Bali. Dimana saat itu, nyawa sangat mudah dihilangkan dengan tuduhan atau dicap komunis.

Konflik terbuka dialami GP Ansor versus PKI, sebagaimana berita yang diturunkan Harian Suara Indonesia pada tanggal 15 November 1965, melaporkan terjadi bentrokan fisik di Gerokgak Buleleng pada hari Kamis 11 November 1965 yang menewaskan 4 Anggota PKI, 2 Anggota Ansor, dan 1 Anggota PNI, serta puluhan lainnya luka luka. Konflik ini pecah karena ada isu penyerangan dari Pemuda Rakyat yang berafiliasi dengan PKI.

Bentrokan juga terjadi di Tegalbadeng Jembrana pada 30 November 1965 yang menewaskan 2 Anggota Ansor dan 1 orang Tentara. Konflik ini dipicu adanya kecurigaan kepada anggota PKI yang melakukan rapat gelap. Saat hendak dibubarkan, terjadi bentrok hingga menewaskan 2 orang anggota Ansor, yang setelah itu memancing kemarahan massa terhadap simpatisan PKI.

Pada massa “pembersihan” ini, GP Ansor meski terlibat bersama Pemuda PNI dan Tentara, melakukan penyisiran dengan hati hati, karena tidak semua harus “dihabisi” karena dicap PKI. Ada orang orang yang tidak mengerti apa apa, tapi akhirnya menjadi korban.

Dalam situasi mencekam dan chaos, agar tidak semua dihabisi, Kartu Tanda Anggota (KTA) Ansor menjadi kartu sakti sebagai bukti seseorang tidak terafiliasi dengan PKI. Bahkan mereka yang sebelumnya bukan anggota, mendatangi ketua ketua Ansor untuk meminta dibuatkan KTA Ansor. Kemudian Anggota Ansor di Desa Desa bersama pemuda lainnya setiap malam melakukan ronda untuk turut serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.   

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

Ketiga, Ansor menjadi Jembatan Keharmonisan. Pasca peristiwa Bom Bali, narasi identitas mulai massif didengungkan, mulai dari pertemuan resmi hingga obrolan warung kopi. Kewaspadaan karena memang pariwisata membutuhkan kenyamanan dan keamanan, diterjemahkan dengan berlebih yang mengarah ke SARA.

Peristiwa Bom Bali dari kaca mata manapun, tidaklah dibenarkan, termasuk Muslim Bali sendiri sangat mengutuk kejadian tersebut. Bom Bali bukan hanya meluluhlantakan bangunan di Legian Kuta, tapi juga berimbas pada hancurnya bangunan harmonis Hindu-Islam yang sudah ratusan tahun terbangun harmonis.

Beberapa upaya dilakukan NU Bali, utamanya para aktivis GP Ansor Bali dengan berkoordinasi dengan pihak keamanan terkait menyisir dan memetakan sebaran paham keagamaan yang mengarah pada radikalisme. Paham keagamaan yang radikal ini sangat bertentangan dengan cara pandang NU yang moderat. Bahkan karena GP Ansor konsen dengan isu keharmonisan, tak jarang terjadi riak riak kecil tatkala berhadapan dengan kelompok ekstrem kanan ini.

Selanjutnya, GP Ansor di Bali selalu melakukan kerjasama simbolis, baik dengan dialog maupun pengamanan. Tak jarang kita sering menyaksikan satuan khusus Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mengamankan upacara keagamaan bersama Pecalang, baik upacara Hindu mapun Islam. Kedekatan ini ingin menunjukan bahwa Hindu yang disimbolkan melalui Pecalang bisa berdampingan dengan Banser yang representasi dari Muslim Bali.

Diluar isu keharmonisan, GP Ansor Bali kini terus bergerak agar kemanfaatan bisa dirasakan masyarakat Bali, mulai dari isu lingkungan hingga pada advokasi bantuan hukum pada masyarakat lemah.  [T]

Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ansor BulelengGP AnsorMuslimmuslim baliNahdlatul Ulama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Next Post

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co