21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
in Esai
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdekaan. NU Bali, sejauh yang bisa ditelusuri sudah berdiri sejak tahun 1934.

Data ini didapatkan pada daftar hadir Muktamar NU ke IX yang dilaksanakan di Banyuwangi Pada 23-24 April 1934, dimana ada dua utusan yang hadir dari Bali. Bahkan, sebelum pelaksanaan Muktamar di ujung timur pulau jawa itu, sebagaimana cerita dari para sesepuh di Jembrana, KH Abdul Wahab Chasbullah (Tokoh Pendiri NU) datang langsung ke Jembrana untuk memperkenalkan NU, dan tentu mengajak tokoh muslim setempat untuk ikut pada perhelatan akbar di Banyuwangi, yang secara geografis tidak jauh dari Jembrana.   

Hasil terpenting dari Muktamar di Banyuwangi ini, adalah disetujuinya pembentukan wadah khusus bagi anak anak muda NU, yang kemudian diberi nama Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), dan belakangan berubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Dari sana, NU mulai diperkenalkan kepada masyarakat Muslim Bali, sekaligus membentuk sayap mudanya GP Ansor. NU terbukti diterima, karena tidak lama setelah itu, pelajar muslim Bali yang sebelumnya belajar agama ke Lombok, pada tahun 1935 mulai banyak yang mondok ke Jawa. Salah satunya pelajar asal Desa Pegayaman Buleleng bernama Affandi, mondok ke Pondok Tebuireng Jombang. Hal ini sebagaimana catatan Wayan Suardika, mahasiswa Sejarah Universitas Udayana dalam skripsi yang ditulisnya dengan judul “Perkembangan Nahdlatul Ulama di Bali” pada tahun 1988.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Masjid di Bali | Foto: Ist

Pada tahun tahun setelahnya, Angkatan pelajar muslim Bali terus bertambah untuk mondok di Jawa, seperti pada tahun 1954, Ahmad Damanhuri asal Loloan Jembrana berangkat mondok ke Pondok Tambakberas Jombang dibawah asuhan langsung KH. Abdul Wahab Chasbullah. Kelak Damanhuri pada tahun 1963 menjadi Ketua PC GP Ansor Jembrana dan memainkan peran yang sangat penting pada dinamika sosial tahun 1965-1966.

Peran Penting GP Ansor di Bali

Pertama, keterlibatan pada masa revolusi kemerdekaan di Bali. Perjuangan rakyat Bali bahu membahu melawan Belanda yang berupaya merebut kembali pasca proklamasi 1945. Perjuangan bersama lintas agama ini, untuk di Bali, pada zaman Kerajaan sudah terbiasa dilakukan para pasukan  muslim, meski yang dibelanya adalah Raja yang berbeda agama.

Ditambah lagi, pada konteks tahun 1945, setelah NU sudah mulai menyebarkan paham keagamaan yang akomodatif terhadap tradisi, sekaligus memiliki pandangan kebangsaan yang kuat untuk membela tanah air, anak anak muda NU saat itu terjun ke medan laga pertempuran bersama pejuang lainnya. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya makam makam pejuang muslim yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Bali.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Gereja di Bali | Foto: Ist

Kedua, memainkan peran penting pada masa chaos 1965-1966. Kejadian ini lebih dikenal zaman Gestok oleh masyarakat Bali. Pada catatan Soe Hok Gie, di Bali sedikitnya ada 80 ribu jiwa menjadi korban akibat konflik ideologi politik dari pusat, yang merembet ke daerah termasuk Bali. Dimana saat itu, nyawa sangat mudah dihilangkan dengan tuduhan atau dicap komunis.

Konflik terbuka dialami GP Ansor versus PKI, sebagaimana berita yang diturunkan Harian Suara Indonesia pada tanggal 15 November 1965, melaporkan terjadi bentrokan fisik di Gerokgak Buleleng pada hari Kamis 11 November 1965 yang menewaskan 4 Anggota PKI, 2 Anggota Ansor, dan 1 Anggota PNI, serta puluhan lainnya luka luka. Konflik ini pecah karena ada isu penyerangan dari Pemuda Rakyat yang berafiliasi dengan PKI.

Bentrokan juga terjadi di Tegalbadeng Jembrana pada 30 November 1965 yang menewaskan 2 Anggota Ansor dan 1 orang Tentara. Konflik ini dipicu adanya kecurigaan kepada anggota PKI yang melakukan rapat gelap. Saat hendak dibubarkan, terjadi bentrok hingga menewaskan 2 orang anggota Ansor, yang setelah itu memancing kemarahan massa terhadap simpatisan PKI.

Pada massa “pembersihan” ini, GP Ansor meski terlibat bersama Pemuda PNI dan Tentara, melakukan penyisiran dengan hati hati, karena tidak semua harus “dihabisi” karena dicap PKI. Ada orang orang yang tidak mengerti apa apa, tapi akhirnya menjadi korban.

Dalam situasi mencekam dan chaos, agar tidak semua dihabisi, Kartu Tanda Anggota (KTA) Ansor menjadi kartu sakti sebagai bukti seseorang tidak terafiliasi dengan PKI. Bahkan mereka yang sebelumnya bukan anggota, mendatangi ketua ketua Ansor untuk meminta dibuatkan KTA Ansor. Kemudian Anggota Ansor di Desa Desa bersama pemuda lainnya setiap malam melakukan ronda untuk turut serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.   

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

Ketiga, Ansor menjadi Jembatan Keharmonisan. Pasca peristiwa Bom Bali, narasi identitas mulai massif didengungkan, mulai dari pertemuan resmi hingga obrolan warung kopi. Kewaspadaan karena memang pariwisata membutuhkan kenyamanan dan keamanan, diterjemahkan dengan berlebih yang mengarah ke SARA.

Peristiwa Bom Bali dari kaca mata manapun, tidaklah dibenarkan, termasuk Muslim Bali sendiri sangat mengutuk kejadian tersebut. Bom Bali bukan hanya meluluhlantakan bangunan di Legian Kuta, tapi juga berimbas pada hancurnya bangunan harmonis Hindu-Islam yang sudah ratusan tahun terbangun harmonis.

Beberapa upaya dilakukan NU Bali, utamanya para aktivis GP Ansor Bali dengan berkoordinasi dengan pihak keamanan terkait menyisir dan memetakan sebaran paham keagamaan yang mengarah pada radikalisme. Paham keagamaan yang radikal ini sangat bertentangan dengan cara pandang NU yang moderat. Bahkan karena GP Ansor konsen dengan isu keharmonisan, tak jarang terjadi riak riak kecil tatkala berhadapan dengan kelompok ekstrem kanan ini.

Selanjutnya, GP Ansor di Bali selalu melakukan kerjasama simbolis, baik dengan dialog maupun pengamanan. Tak jarang kita sering menyaksikan satuan khusus Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mengamankan upacara keagamaan bersama Pecalang, baik upacara Hindu mapun Islam. Kedekatan ini ingin menunjukan bahwa Hindu yang disimbolkan melalui Pecalang bisa berdampingan dengan Banser yang representasi dari Muslim Bali.

Diluar isu keharmonisan, GP Ansor Bali kini terus bergerak agar kemanfaatan bisa dirasakan masyarakat Bali, mulai dari isu lingkungan hingga pada advokasi bantuan hukum pada masyarakat lemah.  [T]

Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ansor BulelengGP AnsorMuslimmuslim baliNahdlatul Ulama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Next Post

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co