1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
in Esai
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdekaan. NU Bali, sejauh yang bisa ditelusuri sudah berdiri sejak tahun 1934.

Data ini didapatkan pada daftar hadir Muktamar NU ke IX yang dilaksanakan di Banyuwangi Pada 23-24 April 1934, dimana ada dua utusan yang hadir dari Bali. Bahkan, sebelum pelaksanaan Muktamar di ujung timur pulau jawa itu, sebagaimana cerita dari para sesepuh di Jembrana, KH Abdul Wahab Chasbullah (Tokoh Pendiri NU) datang langsung ke Jembrana untuk memperkenalkan NU, dan tentu mengajak tokoh muslim setempat untuk ikut pada perhelatan akbar di Banyuwangi, yang secara geografis tidak jauh dari Jembrana.   

Hasil terpenting dari Muktamar di Banyuwangi ini, adalah disetujuinya pembentukan wadah khusus bagi anak anak muda NU, yang kemudian diberi nama Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), dan belakangan berubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Dari sana, NU mulai diperkenalkan kepada masyarakat Muslim Bali, sekaligus membentuk sayap mudanya GP Ansor. NU terbukti diterima, karena tidak lama setelah itu, pelajar muslim Bali yang sebelumnya belajar agama ke Lombok, pada tahun 1935 mulai banyak yang mondok ke Jawa. Salah satunya pelajar asal Desa Pegayaman Buleleng bernama Affandi, mondok ke Pondok Tebuireng Jombang. Hal ini sebagaimana catatan Wayan Suardika, mahasiswa Sejarah Universitas Udayana dalam skripsi yang ditulisnya dengan judul “Perkembangan Nahdlatul Ulama di Bali” pada tahun 1988.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Masjid di Bali | Foto: Ist

Pada tahun tahun setelahnya, Angkatan pelajar muslim Bali terus bertambah untuk mondok di Jawa, seperti pada tahun 1954, Ahmad Damanhuri asal Loloan Jembrana berangkat mondok ke Pondok Tambakberas Jombang dibawah asuhan langsung KH. Abdul Wahab Chasbullah. Kelak Damanhuri pada tahun 1963 menjadi Ketua PC GP Ansor Jembrana dan memainkan peran yang sangat penting pada dinamika sosial tahun 1965-1966.

Peran Penting GP Ansor di Bali

Pertama, keterlibatan pada masa revolusi kemerdekaan di Bali. Perjuangan rakyat Bali bahu membahu melawan Belanda yang berupaya merebut kembali pasca proklamasi 1945. Perjuangan bersama lintas agama ini, untuk di Bali, pada zaman Kerajaan sudah terbiasa dilakukan para pasukan  muslim, meski yang dibelanya adalah Raja yang berbeda agama.

Ditambah lagi, pada konteks tahun 1945, setelah NU sudah mulai menyebarkan paham keagamaan yang akomodatif terhadap tradisi, sekaligus memiliki pandangan kebangsaan yang kuat untuk membela tanah air, anak anak muda NU saat itu terjun ke medan laga pertempuran bersama pejuang lainnya. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya makam makam pejuang muslim yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Bali.

GP Ansor bersama petugas keamanan lainnya di sebuah Gereja di Bali | Foto: Ist

Kedua, memainkan peran penting pada masa chaos 1965-1966. Kejadian ini lebih dikenal zaman Gestok oleh masyarakat Bali. Pada catatan Soe Hok Gie, di Bali sedikitnya ada 80 ribu jiwa menjadi korban akibat konflik ideologi politik dari pusat, yang merembet ke daerah termasuk Bali. Dimana saat itu, nyawa sangat mudah dihilangkan dengan tuduhan atau dicap komunis.

Konflik terbuka dialami GP Ansor versus PKI, sebagaimana berita yang diturunkan Harian Suara Indonesia pada tanggal 15 November 1965, melaporkan terjadi bentrokan fisik di Gerokgak Buleleng pada hari Kamis 11 November 1965 yang menewaskan 4 Anggota PKI, 2 Anggota Ansor, dan 1 Anggota PNI, serta puluhan lainnya luka luka. Konflik ini pecah karena ada isu penyerangan dari Pemuda Rakyat yang berafiliasi dengan PKI.

Bentrokan juga terjadi di Tegalbadeng Jembrana pada 30 November 1965 yang menewaskan 2 Anggota Ansor dan 1 orang Tentara. Konflik ini dipicu adanya kecurigaan kepada anggota PKI yang melakukan rapat gelap. Saat hendak dibubarkan, terjadi bentrok hingga menewaskan 2 orang anggota Ansor, yang setelah itu memancing kemarahan massa terhadap simpatisan PKI.

Pada massa “pembersihan” ini, GP Ansor meski terlibat bersama Pemuda PNI dan Tentara, melakukan penyisiran dengan hati hati, karena tidak semua harus “dihabisi” karena dicap PKI. Ada orang orang yang tidak mengerti apa apa, tapi akhirnya menjadi korban.

Dalam situasi mencekam dan chaos, agar tidak semua dihabisi, Kartu Tanda Anggota (KTA) Ansor menjadi kartu sakti sebagai bukti seseorang tidak terafiliasi dengan PKI. Bahkan mereka yang sebelumnya bukan anggota, mendatangi ketua ketua Ansor untuk meminta dibuatkan KTA Ansor. Kemudian Anggota Ansor di Desa Desa bersama pemuda lainnya setiap malam melakukan ronda untuk turut serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.   

GP Ansor bersama pecalang dan petugas keamanan lainnya dalam perayaan hari raya di Bali | Foto: Ist

Ketiga, Ansor menjadi Jembatan Keharmonisan. Pasca peristiwa Bom Bali, narasi identitas mulai massif didengungkan, mulai dari pertemuan resmi hingga obrolan warung kopi. Kewaspadaan karena memang pariwisata membutuhkan kenyamanan dan keamanan, diterjemahkan dengan berlebih yang mengarah ke SARA.

Peristiwa Bom Bali dari kaca mata manapun, tidaklah dibenarkan, termasuk Muslim Bali sendiri sangat mengutuk kejadian tersebut. Bom Bali bukan hanya meluluhlantakan bangunan di Legian Kuta, tapi juga berimbas pada hancurnya bangunan harmonis Hindu-Islam yang sudah ratusan tahun terbangun harmonis.

Beberapa upaya dilakukan NU Bali, utamanya para aktivis GP Ansor Bali dengan berkoordinasi dengan pihak keamanan terkait menyisir dan memetakan sebaran paham keagamaan yang mengarah pada radikalisme. Paham keagamaan yang radikal ini sangat bertentangan dengan cara pandang NU yang moderat. Bahkan karena GP Ansor konsen dengan isu keharmonisan, tak jarang terjadi riak riak kecil tatkala berhadapan dengan kelompok ekstrem kanan ini.

Selanjutnya, GP Ansor di Bali selalu melakukan kerjasama simbolis, baik dengan dialog maupun pengamanan. Tak jarang kita sering menyaksikan satuan khusus Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mengamankan upacara keagamaan bersama Pecalang, baik upacara Hindu mapun Islam. Kedekatan ini ingin menunjukan bahwa Hindu yang disimbolkan melalui Pecalang bisa berdampingan dengan Banser yang representasi dari Muslim Bali.

Diluar isu keharmonisan, GP Ansor Bali kini terus bergerak agar kemanfaatan bisa dirasakan masyarakat Bali, mulai dari isu lingkungan hingga pada advokasi bantuan hukum pada masyarakat lemah.  [T]

Penulis: Abdul Karim Abraham
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ansor BulelengGP AnsorMuslimmuslim baliNahdlatul Ulama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

Next Post

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

by Sugi Lanus
June 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

Read moreDetails

Bulan Juni Milik Empat Presiden

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
0
Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

Read moreDetails

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

by Agung Sudarsa
June 28, 2026
0
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa...

Read moreDetails

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
0
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin...

Read moreDetails

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

by Doni Sugiarto Wijaya
June 28, 2026
0
Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua...

Read moreDetails
Next Post
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co