11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 10, 2026
in Esai
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini

PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih menggema dalam kesadaran kolektif masyarakat Bali. Ketika pasukan kolonial Belanda memasuki Denpasar, Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung bersama keluarga, para ksatria, pemangku, dan rakyat memilih jalan puputan. Mereka sadar bahwa secara militer tidak mungkin menang, namun mereka menolak tunduk kepada kekuasaan yang dianggap merampas martabat dan kedaulatan.

Puputan bukan sekadar peristiwa sejarah. Puputan adalah simbol keberanian moral. Sebuah pernyataan bahwa ada nilai-nilai yang lebih tinggi daripada rasa takut, kenyamanan, bahkan kehidupan itu sendiri.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, Bali menghadapi tantangan yang berbeda. Tidak ada lagi kapal perang yang berlabuh di Sanur. Tidak ada lagi serdadu kolonial yang berjalan menuju puri-puri kerajaan. Namun ancaman terhadap Bali tetap ada, hadir dalam bentuk yang lebih halus dan sering kali sulit dikenali.

Alih fungsi lahan pertanian, eksploitasi sumber daya air, kerusakan kawasan pesisir, pembangunan yang melampaui daya dukung lingkungan, hingga berbagai kebijakan yang berpotensi mengabaikan kepentingan masyarakat lokal merupakan tantangan nyata yang sedang dihadapi Bali saat ini.

Karena itu, semangat puputan tetap relevan. Bukan untuk mengangkat senjata, melainkan untuk membangkitkan kesadaran.

Ketika Alam Bali Menjadi Taruhan

Bali dikenal dunia karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Namun sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan. Budaya Bali lahir dari hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Sawah bukan sekadar lahan produksi pangan. Ia adalah bagian dari sistem Subak yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya. Gunung bukan hanya bentang geografis, tetapi juga ruang sakral yang menjadi sumber kehidupan. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan bagian dari ekosistem spiritual dan ekologis yang menopang kehidupan masyarakat.

Masalahnya, dalam arus pembangunan modern, alam sering kali dipandang semata sebagai aset ekonomi. Hutan dianggap lahan kosong yang siap dibangun. Pantai dianggap ruang komersial. Sawah dipandang sebagai cadangan tanah untuk investasi.

Padahal ketika alam kehilangan fungsi ekologisnya, masyarakat juga kehilangan fondasi kehidupannya. Krisis air yang mulai dirasakan di berbagai wilayah Bali menjadi salah satu tanda bahwa daya dukung alam tidaklah tak terbatas.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pembangunan diperlukan. Tentu diperlukan. Pertanyaannya adalah pembangunan untuk siapa, dan sampai sejauh mana pembangunan itu tetap menghormati batas-batas ekologis Bali.

Di sinilah masyarakat sipil memiliki peran penting untuk terus mengingatkan agar pembangunan tidak kehilangan arah.

For HATI Bali dan Semangat Revolusi Damai

Dalam konteks tersebut, kehadiran Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For HATI Bali) memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar sebuah organisasi masyarakat.

For HATI Bali dapat dipandang sebagai ruang kebersamaan bagi mereka yang mencintai Bali. Di dalamnya berkumpul berbagai unsur masyarakat: akademisi, tokoh adat, aktivis lingkungan, petani, seniman, mahasiswa, profesional, dan warga biasa yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Pulau Dewata.

Perjuangan yang dilakukan bukanlah perlawanan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran. Bukan melalui kekerasan, melainkan melalui dialog, kajian ilmiah, advokasi, edukasi, dan partisipasi publik.

Inilah yang dapat disebut sebagai revolusi damai.

Revolusi damai tidak berusaha menghancurkan. Revolusi damai berusaha membangun kesadaran. Revolusi damai tidak menciptakan musuh. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menegakkan Dharma..

Dalam revolusi damai, kekuatan terbesar bukanlah senjata atau kekuasaan, melainkan keberanian moral untuk mengatakan yang benar dan memperjuangkan kepentingan bersama.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari gerakan-gerakan damai yang berakar pada kesadaran masyarakat. Bali pun membutuhkan energi perubahan seperti itu.

Menjadi Perubahan yang Ingin Kita Lihat

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan, “Be the change you wish to see in the world.”

Kalimat sederhana ini memiliki makna yang sangat mendalam. Banyak orang mengeluhkan kerusakan lingkungan, tetapi sedikit yang mengubah gaya hidupnya. Banyak yang mengkritik kebijakan, tetapi enggan terlibat dalam proses sosial yang dapat menghasilkan perubahan.

Padahal perubahan selalu dimulai dari individu.

Ketika seseorang mengurangi penggunaan plastik, ia sedang menjadi perubahan. Ketika petani mempertahankan sawahnya, ia sedang menjadi perubahan. Ketika akademisi menyampaikan hasil penelitian demi kepentingan publik, ia sedang menjadi perubahan. Ketika masyarakat berani menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab, mereka juga sedang menjadi perubahan.

Perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Sering kali ia lahir dari ribuan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.

Karena itu, menjaga Bali bukan hanya tugas pemerintah, aktivis, atau organisasi tertentu. Menjaga Bali adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang menikmati berkah pulau ini.

Jika setiap orang mengambil bagian sesuai kapasitasnya, maka energi perubahan akan tumbuh secara alami. Dan ketika kesadaran itu menyebar, lahirlah gerakan sosial yang mampu mengubah arah sejarah.

Puputan Zaman Now: Bergandengan Tangan untuk Masa Depan Bali

Puputan zaman now bukanlah tentang kematian. Puputan zaman now adalah tentang pengabdian.

Ia adalah keberanian untuk peduli ketika sebagian orang memilih diam. Ia adalah keberanian untuk bersuara ketika kepentingan publik terancam. Ia adalah keberanian untuk menjaga warisan leluhur demi generasi yang belum lahir.

Hari ini Bali membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia terlibat. Bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bukan untuk menolak pembangunan, melainkan untuk memastikan pembangunan tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

For HATI Bali, sebuah Gerakan Kebangkitan Bali, adalah salah satu ruang tempat kesadaran itu bertumbuh. Sebuah wadah kebersamaan bagi siapa saja yang percaya bahwa Bali harus dijaga dengan cinta, pengetahuan, dan tanggung jawab.

Masa depan Bali tidak ditentukan oleh segelintir orang. Masa depan Bali ditentukan oleh sejauh mana masyarakatnya mau terlibat dan mengambil bagian.

Karena itu, marilah kita menjadikan semangat Puputan Badung sebagai inspirasi moral bagi zaman sekarang. Bukan dengan mengorbankan kehidupan, tetapi dengan mengabdikan kehidupan. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kesadaran. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan revolusi damai.

Be the change.

Jadilah perubahan yang ingin kita lihat. Jadilah bagian dari revolusi damai. Jadilah bagian dari For HATI Bali. Sebab menjaga Bali bukan hanya tentang hari ini. Menjaga Bali adalah bentuk cinta kepada masa depan.

Bali tidak membutuhkan pahlawan tunggal. Bali membutuhkan kebersamaan. Sebagaimana dikatakan Bhagawan Vyasa, dalam buku Sindhu Samskriti:

Dalam Treta Yuga, andalannya adalah kekuatan mantra.

Dalam Kreta Yuga, Kekuatan Pengetahuan menjadi andalan.

Dalam Dvapara  Yuga, Kekuatan militer menjadi andalan.

Dalam Kali  Yuga, Kekuatan kebersamaan  menjadi andalan.

Semoga Kebersamaan yang terjalin, mampu menjadi sebuah Gerakan Kebangkitan Bali. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPembangunan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Next Post

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli
Panggung

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co