1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 10, 2026
in Esai
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini

PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih menggema dalam kesadaran kolektif masyarakat Bali. Ketika pasukan kolonial Belanda memasuki Denpasar, Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung bersama keluarga, para ksatria, pemangku, dan rakyat memilih jalan puputan. Mereka sadar bahwa secara militer tidak mungkin menang, namun mereka menolak tunduk kepada kekuasaan yang dianggap merampas martabat dan kedaulatan.

Puputan bukan sekadar peristiwa sejarah. Puputan adalah simbol keberanian moral. Sebuah pernyataan bahwa ada nilai-nilai yang lebih tinggi daripada rasa takut, kenyamanan, bahkan kehidupan itu sendiri.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, Bali menghadapi tantangan yang berbeda. Tidak ada lagi kapal perang yang berlabuh di Sanur. Tidak ada lagi serdadu kolonial yang berjalan menuju puri-puri kerajaan. Namun ancaman terhadap Bali tetap ada, hadir dalam bentuk yang lebih halus dan sering kali sulit dikenali.

Alih fungsi lahan pertanian, eksploitasi sumber daya air, kerusakan kawasan pesisir, pembangunan yang melampaui daya dukung lingkungan, hingga berbagai kebijakan yang berpotensi mengabaikan kepentingan masyarakat lokal merupakan tantangan nyata yang sedang dihadapi Bali saat ini.

Karena itu, semangat puputan tetap relevan. Bukan untuk mengangkat senjata, melainkan untuk membangkitkan kesadaran.

Ketika Alam Bali Menjadi Taruhan

Bali dikenal dunia karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Namun sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan. Budaya Bali lahir dari hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Sawah bukan sekadar lahan produksi pangan. Ia adalah bagian dari sistem Subak yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya. Gunung bukan hanya bentang geografis, tetapi juga ruang sakral yang menjadi sumber kehidupan. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan bagian dari ekosistem spiritual dan ekologis yang menopang kehidupan masyarakat.

Masalahnya, dalam arus pembangunan modern, alam sering kali dipandang semata sebagai aset ekonomi. Hutan dianggap lahan kosong yang siap dibangun. Pantai dianggap ruang komersial. Sawah dipandang sebagai cadangan tanah untuk investasi.

Padahal ketika alam kehilangan fungsi ekologisnya, masyarakat juga kehilangan fondasi kehidupannya. Krisis air yang mulai dirasakan di berbagai wilayah Bali menjadi salah satu tanda bahwa daya dukung alam tidaklah tak terbatas.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pembangunan diperlukan. Tentu diperlukan. Pertanyaannya adalah pembangunan untuk siapa, dan sampai sejauh mana pembangunan itu tetap menghormati batas-batas ekologis Bali.

Di sinilah masyarakat sipil memiliki peran penting untuk terus mengingatkan agar pembangunan tidak kehilangan arah.

For HATI Bali dan Semangat Revolusi Damai

Dalam konteks tersebut, kehadiran Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For HATI Bali) memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar sebuah organisasi masyarakat.

For HATI Bali dapat dipandang sebagai ruang kebersamaan bagi mereka yang mencintai Bali. Di dalamnya berkumpul berbagai unsur masyarakat: akademisi, tokoh adat, aktivis lingkungan, petani, seniman, mahasiswa, profesional, dan warga biasa yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Pulau Dewata.

Perjuangan yang dilakukan bukanlah perlawanan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran. Bukan melalui kekerasan, melainkan melalui dialog, kajian ilmiah, advokasi, edukasi, dan partisipasi publik.

Inilah yang dapat disebut sebagai revolusi damai.

Revolusi damai tidak berusaha menghancurkan. Revolusi damai berusaha membangun kesadaran. Revolusi damai tidak menciptakan musuh. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menegakkan Dharma..

Dalam revolusi damai, kekuatan terbesar bukanlah senjata atau kekuasaan, melainkan keberanian moral untuk mengatakan yang benar dan memperjuangkan kepentingan bersama.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari gerakan-gerakan damai yang berakar pada kesadaran masyarakat. Bali pun membutuhkan energi perubahan seperti itu.

Menjadi Perubahan yang Ingin Kita Lihat

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan, “Be the change you wish to see in the world.”

Kalimat sederhana ini memiliki makna yang sangat mendalam. Banyak orang mengeluhkan kerusakan lingkungan, tetapi sedikit yang mengubah gaya hidupnya. Banyak yang mengkritik kebijakan, tetapi enggan terlibat dalam proses sosial yang dapat menghasilkan perubahan.

Padahal perubahan selalu dimulai dari individu.

Ketika seseorang mengurangi penggunaan plastik, ia sedang menjadi perubahan. Ketika petani mempertahankan sawahnya, ia sedang menjadi perubahan. Ketika akademisi menyampaikan hasil penelitian demi kepentingan publik, ia sedang menjadi perubahan. Ketika masyarakat berani menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab, mereka juga sedang menjadi perubahan.

Perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Sering kali ia lahir dari ribuan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.

Karena itu, menjaga Bali bukan hanya tugas pemerintah, aktivis, atau organisasi tertentu. Menjaga Bali adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang menikmati berkah pulau ini.

Jika setiap orang mengambil bagian sesuai kapasitasnya, maka energi perubahan akan tumbuh secara alami. Dan ketika kesadaran itu menyebar, lahirlah gerakan sosial yang mampu mengubah arah sejarah.

Puputan Zaman Now: Bergandengan Tangan untuk Masa Depan Bali

Puputan zaman now bukanlah tentang kematian. Puputan zaman now adalah tentang pengabdian.

Ia adalah keberanian untuk peduli ketika sebagian orang memilih diam. Ia adalah keberanian untuk bersuara ketika kepentingan publik terancam. Ia adalah keberanian untuk menjaga warisan leluhur demi generasi yang belum lahir.

Hari ini Bali membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia terlibat. Bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bukan untuk menolak pembangunan, melainkan untuk memastikan pembangunan tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

For HATI Bali, sebuah Gerakan Kebangkitan Bali, adalah salah satu ruang tempat kesadaran itu bertumbuh. Sebuah wadah kebersamaan bagi siapa saja yang percaya bahwa Bali harus dijaga dengan cinta, pengetahuan, dan tanggung jawab.

Masa depan Bali tidak ditentukan oleh segelintir orang. Masa depan Bali ditentukan oleh sejauh mana masyarakatnya mau terlibat dan mengambil bagian.

Karena itu, marilah kita menjadikan semangat Puputan Badung sebagai inspirasi moral bagi zaman sekarang. Bukan dengan mengorbankan kehidupan, tetapi dengan mengabdikan kehidupan. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kesadaran. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan revolusi damai.

Be the change.

Jadilah perubahan yang ingin kita lihat. Jadilah bagian dari revolusi damai. Jadilah bagian dari For HATI Bali. Sebab menjaga Bali bukan hanya tentang hari ini. Menjaga Bali adalah bentuk cinta kepada masa depan.

Bali tidak membutuhkan pahlawan tunggal. Bali membutuhkan kebersamaan. Sebagaimana dikatakan Bhagawan Vyasa, dalam buku Sindhu Samskriti:

Dalam Treta Yuga, andalannya adalah kekuatan mantra.

Dalam Kreta Yuga, Kekuatan Pengetahuan menjadi andalan.

Dalam Dvapara  Yuga, Kekuatan militer menjadi andalan.

Dalam Kali  Yuga, Kekuatan kebersamaan  menjadi andalan.

Semoga Kebersamaan yang terjalin, mampu menjadi sebuah Gerakan Kebangkitan Bali. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPembangunan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Next Post

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

by Sugi Lanus
June 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

Read moreDetails

Bulan Juni Milik Empat Presiden

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
0
Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

Read moreDetails

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

by Agung Sudarsa
June 28, 2026
0
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa...

Read moreDetails

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
0
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin...

Read moreDetails

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

by Doni Sugiarto Wijaya
June 28, 2026
0
Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co