12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 10, 2026
in Esai
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini

PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih menggema dalam kesadaran kolektif masyarakat Bali. Ketika pasukan kolonial Belanda memasuki Denpasar, Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung bersama keluarga, para ksatria, pemangku, dan rakyat memilih jalan puputan. Mereka sadar bahwa secara militer tidak mungkin menang, namun mereka menolak tunduk kepada kekuasaan yang dianggap merampas martabat dan kedaulatan.

Puputan bukan sekadar peristiwa sejarah. Puputan adalah simbol keberanian moral. Sebuah pernyataan bahwa ada nilai-nilai yang lebih tinggi daripada rasa takut, kenyamanan, bahkan kehidupan itu sendiri.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, Bali menghadapi tantangan yang berbeda. Tidak ada lagi kapal perang yang berlabuh di Sanur. Tidak ada lagi serdadu kolonial yang berjalan menuju puri-puri kerajaan. Namun ancaman terhadap Bali tetap ada, hadir dalam bentuk yang lebih halus dan sering kali sulit dikenali.

Alih fungsi lahan pertanian, eksploitasi sumber daya air, kerusakan kawasan pesisir, pembangunan yang melampaui daya dukung lingkungan, hingga berbagai kebijakan yang berpotensi mengabaikan kepentingan masyarakat lokal merupakan tantangan nyata yang sedang dihadapi Bali saat ini.

Karena itu, semangat puputan tetap relevan. Bukan untuk mengangkat senjata, melainkan untuk membangkitkan kesadaran.

Ketika Alam Bali Menjadi Taruhan

Bali dikenal dunia karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Namun sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan. Budaya Bali lahir dari hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Sawah bukan sekadar lahan produksi pangan. Ia adalah bagian dari sistem Subak yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya. Gunung bukan hanya bentang geografis, tetapi juga ruang sakral yang menjadi sumber kehidupan. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan bagian dari ekosistem spiritual dan ekologis yang menopang kehidupan masyarakat.

Masalahnya, dalam arus pembangunan modern, alam sering kali dipandang semata sebagai aset ekonomi. Hutan dianggap lahan kosong yang siap dibangun. Pantai dianggap ruang komersial. Sawah dipandang sebagai cadangan tanah untuk investasi.

Padahal ketika alam kehilangan fungsi ekologisnya, masyarakat juga kehilangan fondasi kehidupannya. Krisis air yang mulai dirasakan di berbagai wilayah Bali menjadi salah satu tanda bahwa daya dukung alam tidaklah tak terbatas.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pembangunan diperlukan. Tentu diperlukan. Pertanyaannya adalah pembangunan untuk siapa, dan sampai sejauh mana pembangunan itu tetap menghormati batas-batas ekologis Bali.

Di sinilah masyarakat sipil memiliki peran penting untuk terus mengingatkan agar pembangunan tidak kehilangan arah.

For HATI Bali dan Semangat Revolusi Damai

Dalam konteks tersebut, kehadiran Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For HATI Bali) memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar sebuah organisasi masyarakat.

For HATI Bali dapat dipandang sebagai ruang kebersamaan bagi mereka yang mencintai Bali. Di dalamnya berkumpul berbagai unsur masyarakat: akademisi, tokoh adat, aktivis lingkungan, petani, seniman, mahasiswa, profesional, dan warga biasa yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Pulau Dewata.

Perjuangan yang dilakukan bukanlah perlawanan dengan kemarahan, melainkan dengan kesadaran. Bukan melalui kekerasan, melainkan melalui dialog, kajian ilmiah, advokasi, edukasi, dan partisipasi publik.

Inilah yang dapat disebut sebagai revolusi damai.

Revolusi damai tidak berusaha menghancurkan. Revolusi damai berusaha membangun kesadaran. Revolusi damai tidak menciptakan musuh. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menegakkan Dharma..

Dalam revolusi damai, kekuatan terbesar bukanlah senjata atau kekuasaan, melainkan keberanian moral untuk mengatakan yang benar dan memperjuangkan kepentingan bersama.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari gerakan-gerakan damai yang berakar pada kesadaran masyarakat. Bali pun membutuhkan energi perubahan seperti itu.

Menjadi Perubahan yang Ingin Kita Lihat

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan, “Be the change you wish to see in the world.”

Kalimat sederhana ini memiliki makna yang sangat mendalam. Banyak orang mengeluhkan kerusakan lingkungan, tetapi sedikit yang mengubah gaya hidupnya. Banyak yang mengkritik kebijakan, tetapi enggan terlibat dalam proses sosial yang dapat menghasilkan perubahan.

Padahal perubahan selalu dimulai dari individu.

Ketika seseorang mengurangi penggunaan plastik, ia sedang menjadi perubahan. Ketika petani mempertahankan sawahnya, ia sedang menjadi perubahan. Ketika akademisi menyampaikan hasil penelitian demi kepentingan publik, ia sedang menjadi perubahan. Ketika masyarakat berani menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab, mereka juga sedang menjadi perubahan.

Perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Sering kali ia lahir dari ribuan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.

Karena itu, menjaga Bali bukan hanya tugas pemerintah, aktivis, atau organisasi tertentu. Menjaga Bali adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang menikmati berkah pulau ini.

Jika setiap orang mengambil bagian sesuai kapasitasnya, maka energi perubahan akan tumbuh secara alami. Dan ketika kesadaran itu menyebar, lahirlah gerakan sosial yang mampu mengubah arah sejarah.

Puputan Zaman Now: Bergandengan Tangan untuk Masa Depan Bali

Puputan zaman now bukanlah tentang kematian. Puputan zaman now adalah tentang pengabdian.

Ia adalah keberanian untuk peduli ketika sebagian orang memilih diam. Ia adalah keberanian untuk bersuara ketika kepentingan publik terancam. Ia adalah keberanian untuk menjaga warisan leluhur demi generasi yang belum lahir.

Hari ini Bali membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia terlibat. Bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bukan untuk menolak pembangunan, melainkan untuk memastikan pembangunan tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

For HATI Bali, sebuah Gerakan Kebangkitan Bali, adalah salah satu ruang tempat kesadaran itu bertumbuh. Sebuah wadah kebersamaan bagi siapa saja yang percaya bahwa Bali harus dijaga dengan cinta, pengetahuan, dan tanggung jawab.

Masa depan Bali tidak ditentukan oleh segelintir orang. Masa depan Bali ditentukan oleh sejauh mana masyarakatnya mau terlibat dan mengambil bagian.

Karena itu, marilah kita menjadikan semangat Puputan Badung sebagai inspirasi moral bagi zaman sekarang. Bukan dengan mengorbankan kehidupan, tetapi dengan mengabdikan kehidupan. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kesadaran. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan revolusi damai.

Be the change.

Jadilah perubahan yang ingin kita lihat. Jadilah bagian dari revolusi damai. Jadilah bagian dari For HATI Bali. Sebab menjaga Bali bukan hanya tentang hari ini. Menjaga Bali adalah bentuk cinta kepada masa depan.

Bali tidak membutuhkan pahlawan tunggal. Bali membutuhkan kebersamaan. Sebagaimana dikatakan Bhagawan Vyasa, dalam buku Sindhu Samskriti:

Dalam Treta Yuga, andalannya adalah kekuatan mantra.

Dalam Kreta Yuga, Kekuatan Pengetahuan menjadi andalan.

Dalam Dvapara  Yuga, Kekuatan militer menjadi andalan.

Dalam Kali  Yuga, Kekuatan kebersamaan  menjadi andalan.

Semoga Kebersamaan yang terjalin, mampu menjadi sebuah Gerakan Kebangkitan Bali. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPembangunan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

Next Post

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co