1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
in Cerpen
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit memudar dari kelam menuju keabu-abuan, lalu menyala tipis dengan warna aprikot. Embun di daun pisang mengerut, sementara rumput liar memantulkan cahaya lembut yang jatuh seperti serpihan perak.

Di tengah semua itu, seorang lelaki tua berjalan pelan sambil memegang sapu lidi. Tubuhnya agak membungkuk, rambutnya memutih seperti abu tungku, dan matanya, ah.. matanya, menyimpan ketenangan yang sudah lama tidak dimiliki manusia terburu-buru.

Itulah Marlan, atau “Pak Marlan”, atau “Si Tua Pagi”, begitu anak-anak desa menjulukinya.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan ia menjadi penjaga surau kecil itu. Surau yang dindingnya terkelupas, lantainya retak, dan pintunya sering berderit jika dibuka. Namun, bagi Marlan, tempat itu adalah setengah dari hidupnya; separuh lainnya adalah kesunyian.

Ia menyapu bukan hanya halaman, tapi juga restu kecil untuk hari yang akan dijalani manusia-manusia lain. Kadang ia bersenandung kecil, suara serak yang mengingatkan angin pada dedaunan kering. Senandungnya tidak pernah punya lirik: murni gumaman hati yang sudah lama berdamai dengan waktu.

Marlan tidak menunggu ucapan terima kasih. Tidak menuntut balasan. Tidak berharap ada yang memahami perjuangannya. Ia hanya mengulang rutinitas itu setiap pagi, seperti seseorang yang percaya bahwa ketekunan, meski sederhana, adalah bentuk cinta paling tulus.

Dan cinta, pikirnya, tidak perlu disaksikan siapa pun untuk tetap bernilai.

***

Suatu pagi berkabut, ketika ayam belum benar-benar bangun dan udara masih ringan seperti ingatan masa kecil, sebuah motor tua berhenti di depan rumah kosong yang catnya mengelupas. Dari motor itu turun seorang pemuda dengan ransel lusuh.

Dialah Rafi, anak desa yang pernah bermimpi besar saat meninggalkan kampungnya. Namun bekerja di kota mengikis banyak hal: harapan, harga diri, dan kepercayaan bahwa dunia memperlakukan semua orang dengan adil.

Kepulangannya lebih seperti pelarian.  Rafi merasa gagal. Dunia seolah menertawakannya setiap saat. Ketika ia berjalan tanpa tujuan, ia melihat siluet lelaki tua di halaman surau yang berkabut.

Marlan berdiri di bawah sinar redup, memandangi langit seperti membaca kitab kuno yang hanya ia sendiri yang bisa mengerti. Rafi mendekat.

“Kakek tidak capek melakukan semua ini setiap hari?”

Marlan menoleh perlahan, senyum kecil tercetak di wajah keriputnya.
“Kalau kita hanya mau melakukan yang menguntungkan diri sendiri, hidup akan terasa kecil, Nak.”

Rafi menghembuskan napas panjang. “Tapi hidup tetap sulit, Kek…”

“Kesulitan itu bagian dari perjalanan,” jawab Marlan lembut. “Yang harus kau waspadai bukan penderitaan… tapi rasa ingin menyerah.”

Rafi tak menyahut. Ia terlalu muda untuk memahami kedalaman kalimat itu, tapi cukup lelah untuk mengakuinya.

“Kakek,” katanya akhirnya, “apa gunanya semua ini? Surau tetap surau. Hari tetap hari. Tidak ada yang berubah.”

Marlan menatap padanya lama, seperti menilai berat beban tak kasat mata di bahu pemuda itu.

“Yang berubah itu hati orang yang melakukannya, Nak. Kalau hati kita tetap bernapas, dunia pun terasa sedikit lebih ringan.”

Rafi terdiam, tak menemukan bantahan. Di samping lelaki tua itu, ia merasa seolah sedang duduk di hadapan pohon yang sudah sangat tua, yang tidak lagi takut pada badai, karena akarnya sudah jauh menembus tanah.

Di antara rutinitas pagi, mereka sering berbicara. Bukan percakapan yang penting, tetapi yang diam-diam mengubah jiwa.

Suatu sore, ketika hujan turun seperti tirai panjang, Rafi bertanya, “Kakek punya mimpi dulu?”

Marlan tersenyum, tatapannya menerobos derasnya hujan.

“Dulu saya ingin anak saya jadi orang besar. Baju bagus, pekerjaan bagus, dihormati.”

“Kemudian?”

“Kemudian saya sadar… itu semua keinginan saya. Bukan keinginannya.”

Ia menghela napas, panjang dan berat.

“Kadang kita mengira kita mencintai seseorang. Padahal kita hanya mencintai bayangan yang kita ciptakan tentang mereka.”

Rafi tertegun.

“Anak Kakek masih sering pulang?”

“Tidak.”
Ada jeda panjang.


“Tapi saya tidak menunggunya. Ia punya jalan sendiri. Dan saya… punya matahari pagi.”

Hening menutup percakapan mereka. Rafi merasa ada luka lama yang tak selesai di balik ketenangan lelaki itu.

Namun yang membuatnya terharu bukan lukanya, melainkan caranya menerima luka itu sebagai bagian dari hidup. Tidak melawan, tidak menuntut, hanya mengakui keberadaannya seperti seseorang mengakui bayangan sendiri.

***

Desa itu tenang di malam hari, tapi kadang ketenangan justru memperkuat suara-suara dari dalam diri. Rafi sering gelisah. Ia merasa hidupnya kosong. Namun Marlan selalu mengatakan, “Kesunyian itu bukan hukuman. Itu ruang untuk mengerti diri sendiri.”

Suatu malam, angin berhembus kencang. Daun-daun kering berterbangan, seolah dunia hendak dibersihkan. Marlan dan Rafi masih di surau, memastikan pintu-pintu tertutup. Rafi, melihat lelaki tua itu berjalan dengan langkah lemah tapi pasti, merasa dadanya sesak.

“Kakek tidak pernah merasa sendiri?”

“Sering,” kata Marlan dengan jujur. “Tapi kesendirian itu alamiah. Kesepian adalah pilihan.”

“Apa bedanya?”

“Sendiri itu keadaan. Kesepian itu ketika kau berhenti berbuat untuk orang lain.”

Rafi menunduk.

“Kalau begitu, apa Kakek tidak merasa hidup Kakek terlalu sepi?”

Marlan menatapnya, tersenyum samar.
“Tidak, Nak. Karena setiap pagi, aku masih punya alasan untuk bangun.”

Tahun berlalu perlahan, seperti cerita yang disampaikan dengan napas panjang. Rafi kini menjadi penjaga surau yang baru, lebih kuat, lebih cekatan, lebih mampu mengecat, merawat, dan membersihkan. Penduduk desa memujinya, tapi ia tahu sesungguhnya ia hanya melanjutkan jejak lelaki tua itu.

Sementara Marlan… semakin ringkih. Kadang ia hanya duduk di bangku kayu, mengawasi Rafi bekerja. Namun matanya masih menyala, api kecil yang menolak padam. Suatu pagi, sinar matahari jatuh tepat pada wajah Marlan yang tampak pucat. Ia memanggil Rafi dengan suara lirih.

“Nak… mendekatlah.”

Rafi merunduk, mendengar napas lelaki tua itu yang makin pendek.

“Ada yang ingin Kakek tinggalkan.”

“Apa, Kek?”

“Keikhlasan,” gumam Marlan. “Bukan benda. Bukan uang. Tapi keberanian untuk tetap berjalan… meski tidak ada yang bertepuk tangan.”

Rafi menggenggam tangan lelaki tua itu, yang terasa dingin namun masih kuat.

“Kakek… terima kasih.”

Marlan tersenyum, senyum terakhir yang sangat damai. Dan pada pagi itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, pintu surau dibuka oleh tangan yang berbeda. Namun cahaya yang menyambut tetap sama.

Cahaya yang lahir dari dedikasi seorang lelaki tua yang tidak pernah meminta apa pun bagi dirinya sendiri. Lelaki yang menjaga pagi sampai pagi itu sendiri menjaganya kembali.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih mengenang Marlan. Bukan karena ia tokoh masyarakat, bukan karena jasanya monumental, tapi karena ia mengajarkan satu hal sederhana:

Bahwa hidup tidak perlu gemuruh untuk menjadi berarti.
Tidak perlu sorak-sorai untuk menjadi bermakna.
Yang dibutuhkan hanyalah langkah-langkah kecil yang tidak berhenti.

Rafi sering duduk di bangku kayu tempat Marlan biasa duduk, memandang matahari naik perlahan.

Pada momen-momen itu, ia merasa lelaki tua itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di pagi hari. Ia hidup di keheningan. Ia hidup di hati orang-orang yang pernah disentuh keikhlasannya.

Pagi tetap datang. Dan selama seseorang masih merawat pagi itu, jejak lelaki tua penjaga pagi tidak akan pernah hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Next Post

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co