21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
in Cerpen
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit memudar dari kelam menuju keabu-abuan, lalu menyala tipis dengan warna aprikot. Embun di daun pisang mengerut, sementara rumput liar memantulkan cahaya lembut yang jatuh seperti serpihan perak.

Di tengah semua itu, seorang lelaki tua berjalan pelan sambil memegang sapu lidi. Tubuhnya agak membungkuk, rambutnya memutih seperti abu tungku, dan matanya, ah.. matanya, menyimpan ketenangan yang sudah lama tidak dimiliki manusia terburu-buru.

Itulah Marlan, atau “Pak Marlan”, atau “Si Tua Pagi”, begitu anak-anak desa menjulukinya.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan ia menjadi penjaga surau kecil itu. Surau yang dindingnya terkelupas, lantainya retak, dan pintunya sering berderit jika dibuka. Namun, bagi Marlan, tempat itu adalah setengah dari hidupnya; separuh lainnya adalah kesunyian.

Ia menyapu bukan hanya halaman, tapi juga restu kecil untuk hari yang akan dijalani manusia-manusia lain. Kadang ia bersenandung kecil, suara serak yang mengingatkan angin pada dedaunan kering. Senandungnya tidak pernah punya lirik: murni gumaman hati yang sudah lama berdamai dengan waktu.

Marlan tidak menunggu ucapan terima kasih. Tidak menuntut balasan. Tidak berharap ada yang memahami perjuangannya. Ia hanya mengulang rutinitas itu setiap pagi, seperti seseorang yang percaya bahwa ketekunan, meski sederhana, adalah bentuk cinta paling tulus.

Dan cinta, pikirnya, tidak perlu disaksikan siapa pun untuk tetap bernilai.

***

Suatu pagi berkabut, ketika ayam belum benar-benar bangun dan udara masih ringan seperti ingatan masa kecil, sebuah motor tua berhenti di depan rumah kosong yang catnya mengelupas. Dari motor itu turun seorang pemuda dengan ransel lusuh.

Dialah Rafi, anak desa yang pernah bermimpi besar saat meninggalkan kampungnya. Namun bekerja di kota mengikis banyak hal: harapan, harga diri, dan kepercayaan bahwa dunia memperlakukan semua orang dengan adil.

Kepulangannya lebih seperti pelarian.  Rafi merasa gagal. Dunia seolah menertawakannya setiap saat. Ketika ia berjalan tanpa tujuan, ia melihat siluet lelaki tua di halaman surau yang berkabut.

Marlan berdiri di bawah sinar redup, memandangi langit seperti membaca kitab kuno yang hanya ia sendiri yang bisa mengerti. Rafi mendekat.

“Kakek tidak capek melakukan semua ini setiap hari?”

Marlan menoleh perlahan, senyum kecil tercetak di wajah keriputnya.
“Kalau kita hanya mau melakukan yang menguntungkan diri sendiri, hidup akan terasa kecil, Nak.”

Rafi menghembuskan napas panjang. “Tapi hidup tetap sulit, Kek…”

“Kesulitan itu bagian dari perjalanan,” jawab Marlan lembut. “Yang harus kau waspadai bukan penderitaan… tapi rasa ingin menyerah.”

Rafi tak menyahut. Ia terlalu muda untuk memahami kedalaman kalimat itu, tapi cukup lelah untuk mengakuinya.

“Kakek,” katanya akhirnya, “apa gunanya semua ini? Surau tetap surau. Hari tetap hari. Tidak ada yang berubah.”

Marlan menatap padanya lama, seperti menilai berat beban tak kasat mata di bahu pemuda itu.

“Yang berubah itu hati orang yang melakukannya, Nak. Kalau hati kita tetap bernapas, dunia pun terasa sedikit lebih ringan.”

Rafi terdiam, tak menemukan bantahan. Di samping lelaki tua itu, ia merasa seolah sedang duduk di hadapan pohon yang sudah sangat tua, yang tidak lagi takut pada badai, karena akarnya sudah jauh menembus tanah.

Di antara rutinitas pagi, mereka sering berbicara. Bukan percakapan yang penting, tetapi yang diam-diam mengubah jiwa.

Suatu sore, ketika hujan turun seperti tirai panjang, Rafi bertanya, “Kakek punya mimpi dulu?”

Marlan tersenyum, tatapannya menerobos derasnya hujan.

“Dulu saya ingin anak saya jadi orang besar. Baju bagus, pekerjaan bagus, dihormati.”

“Kemudian?”

“Kemudian saya sadar… itu semua keinginan saya. Bukan keinginannya.”

Ia menghela napas, panjang dan berat.

“Kadang kita mengira kita mencintai seseorang. Padahal kita hanya mencintai bayangan yang kita ciptakan tentang mereka.”

Rafi tertegun.

“Anak Kakek masih sering pulang?”

“Tidak.”
Ada jeda panjang.


“Tapi saya tidak menunggunya. Ia punya jalan sendiri. Dan saya… punya matahari pagi.”

Hening menutup percakapan mereka. Rafi merasa ada luka lama yang tak selesai di balik ketenangan lelaki itu.

Namun yang membuatnya terharu bukan lukanya, melainkan caranya menerima luka itu sebagai bagian dari hidup. Tidak melawan, tidak menuntut, hanya mengakui keberadaannya seperti seseorang mengakui bayangan sendiri.

***

Desa itu tenang di malam hari, tapi kadang ketenangan justru memperkuat suara-suara dari dalam diri. Rafi sering gelisah. Ia merasa hidupnya kosong. Namun Marlan selalu mengatakan, “Kesunyian itu bukan hukuman. Itu ruang untuk mengerti diri sendiri.”

Suatu malam, angin berhembus kencang. Daun-daun kering berterbangan, seolah dunia hendak dibersihkan. Marlan dan Rafi masih di surau, memastikan pintu-pintu tertutup. Rafi, melihat lelaki tua itu berjalan dengan langkah lemah tapi pasti, merasa dadanya sesak.

“Kakek tidak pernah merasa sendiri?”

“Sering,” kata Marlan dengan jujur. “Tapi kesendirian itu alamiah. Kesepian adalah pilihan.”

“Apa bedanya?”

“Sendiri itu keadaan. Kesepian itu ketika kau berhenti berbuat untuk orang lain.”

Rafi menunduk.

“Kalau begitu, apa Kakek tidak merasa hidup Kakek terlalu sepi?”

Marlan menatapnya, tersenyum samar.
“Tidak, Nak. Karena setiap pagi, aku masih punya alasan untuk bangun.”

Tahun berlalu perlahan, seperti cerita yang disampaikan dengan napas panjang. Rafi kini menjadi penjaga surau yang baru, lebih kuat, lebih cekatan, lebih mampu mengecat, merawat, dan membersihkan. Penduduk desa memujinya, tapi ia tahu sesungguhnya ia hanya melanjutkan jejak lelaki tua itu.

Sementara Marlan… semakin ringkih. Kadang ia hanya duduk di bangku kayu, mengawasi Rafi bekerja. Namun matanya masih menyala, api kecil yang menolak padam. Suatu pagi, sinar matahari jatuh tepat pada wajah Marlan yang tampak pucat. Ia memanggil Rafi dengan suara lirih.

“Nak… mendekatlah.”

Rafi merunduk, mendengar napas lelaki tua itu yang makin pendek.

“Ada yang ingin Kakek tinggalkan.”

“Apa, Kek?”

“Keikhlasan,” gumam Marlan. “Bukan benda. Bukan uang. Tapi keberanian untuk tetap berjalan… meski tidak ada yang bertepuk tangan.”

Rafi menggenggam tangan lelaki tua itu, yang terasa dingin namun masih kuat.

“Kakek… terima kasih.”

Marlan tersenyum, senyum terakhir yang sangat damai. Dan pada pagi itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, pintu surau dibuka oleh tangan yang berbeda. Namun cahaya yang menyambut tetap sama.

Cahaya yang lahir dari dedikasi seorang lelaki tua yang tidak pernah meminta apa pun bagi dirinya sendiri. Lelaki yang menjaga pagi sampai pagi itu sendiri menjaganya kembali.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih mengenang Marlan. Bukan karena ia tokoh masyarakat, bukan karena jasanya monumental, tapi karena ia mengajarkan satu hal sederhana:

Bahwa hidup tidak perlu gemuruh untuk menjadi berarti.
Tidak perlu sorak-sorai untuk menjadi bermakna.
Yang dibutuhkan hanyalah langkah-langkah kecil yang tidak berhenti.

Rafi sering duduk di bangku kayu tempat Marlan biasa duduk, memandang matahari naik perlahan.

Pada momen-momen itu, ia merasa lelaki tua itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di pagi hari. Ia hidup di keheningan. Ia hidup di hati orang-orang yang pernah disentuh keikhlasannya.

Pagi tetap datang. Dan selama seseorang masih merawat pagi itu, jejak lelaki tua penjaga pagi tidak akan pernah hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Next Post

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co