30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
in Cerpen
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit memudar dari kelam menuju keabu-abuan, lalu menyala tipis dengan warna aprikot. Embun di daun pisang mengerut, sementara rumput liar memantulkan cahaya lembut yang jatuh seperti serpihan perak.

Di tengah semua itu, seorang lelaki tua berjalan pelan sambil memegang sapu lidi. Tubuhnya agak membungkuk, rambutnya memutih seperti abu tungku, dan matanya, ah.. matanya, menyimpan ketenangan yang sudah lama tidak dimiliki manusia terburu-buru.

Itulah Marlan, atau “Pak Marlan”, atau “Si Tua Pagi”, begitu anak-anak desa menjulukinya.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan ia menjadi penjaga surau kecil itu. Surau yang dindingnya terkelupas, lantainya retak, dan pintunya sering berderit jika dibuka. Namun, bagi Marlan, tempat itu adalah setengah dari hidupnya; separuh lainnya adalah kesunyian.

Ia menyapu bukan hanya halaman, tapi juga restu kecil untuk hari yang akan dijalani manusia-manusia lain. Kadang ia bersenandung kecil, suara serak yang mengingatkan angin pada dedaunan kering. Senandungnya tidak pernah punya lirik: murni gumaman hati yang sudah lama berdamai dengan waktu.

Marlan tidak menunggu ucapan terima kasih. Tidak menuntut balasan. Tidak berharap ada yang memahami perjuangannya. Ia hanya mengulang rutinitas itu setiap pagi, seperti seseorang yang percaya bahwa ketekunan, meski sederhana, adalah bentuk cinta paling tulus.

Dan cinta, pikirnya, tidak perlu disaksikan siapa pun untuk tetap bernilai.

***

Suatu pagi berkabut, ketika ayam belum benar-benar bangun dan udara masih ringan seperti ingatan masa kecil, sebuah motor tua berhenti di depan rumah kosong yang catnya mengelupas. Dari motor itu turun seorang pemuda dengan ransel lusuh.

Dialah Rafi, anak desa yang pernah bermimpi besar saat meninggalkan kampungnya. Namun bekerja di kota mengikis banyak hal: harapan, harga diri, dan kepercayaan bahwa dunia memperlakukan semua orang dengan adil.

Kepulangannya lebih seperti pelarian.  Rafi merasa gagal. Dunia seolah menertawakannya setiap saat. Ketika ia berjalan tanpa tujuan, ia melihat siluet lelaki tua di halaman surau yang berkabut.

Marlan berdiri di bawah sinar redup, memandangi langit seperti membaca kitab kuno yang hanya ia sendiri yang bisa mengerti. Rafi mendekat.

“Kakek tidak capek melakukan semua ini setiap hari?”

Marlan menoleh perlahan, senyum kecil tercetak di wajah keriputnya.
“Kalau kita hanya mau melakukan yang menguntungkan diri sendiri, hidup akan terasa kecil, Nak.”

Rafi menghembuskan napas panjang. “Tapi hidup tetap sulit, Kek…”

“Kesulitan itu bagian dari perjalanan,” jawab Marlan lembut. “Yang harus kau waspadai bukan penderitaan… tapi rasa ingin menyerah.”

Rafi tak menyahut. Ia terlalu muda untuk memahami kedalaman kalimat itu, tapi cukup lelah untuk mengakuinya.

“Kakek,” katanya akhirnya, “apa gunanya semua ini? Surau tetap surau. Hari tetap hari. Tidak ada yang berubah.”

Marlan menatap padanya lama, seperti menilai berat beban tak kasat mata di bahu pemuda itu.

“Yang berubah itu hati orang yang melakukannya, Nak. Kalau hati kita tetap bernapas, dunia pun terasa sedikit lebih ringan.”

Rafi terdiam, tak menemukan bantahan. Di samping lelaki tua itu, ia merasa seolah sedang duduk di hadapan pohon yang sudah sangat tua, yang tidak lagi takut pada badai, karena akarnya sudah jauh menembus tanah.

Di antara rutinitas pagi, mereka sering berbicara. Bukan percakapan yang penting, tetapi yang diam-diam mengubah jiwa.

Suatu sore, ketika hujan turun seperti tirai panjang, Rafi bertanya, “Kakek punya mimpi dulu?”

Marlan tersenyum, tatapannya menerobos derasnya hujan.

“Dulu saya ingin anak saya jadi orang besar. Baju bagus, pekerjaan bagus, dihormati.”

“Kemudian?”

“Kemudian saya sadar… itu semua keinginan saya. Bukan keinginannya.”

Ia menghela napas, panjang dan berat.

“Kadang kita mengira kita mencintai seseorang. Padahal kita hanya mencintai bayangan yang kita ciptakan tentang mereka.”

Rafi tertegun.

“Anak Kakek masih sering pulang?”

“Tidak.”
Ada jeda panjang.


“Tapi saya tidak menunggunya. Ia punya jalan sendiri. Dan saya… punya matahari pagi.”

Hening menutup percakapan mereka. Rafi merasa ada luka lama yang tak selesai di balik ketenangan lelaki itu.

Namun yang membuatnya terharu bukan lukanya, melainkan caranya menerima luka itu sebagai bagian dari hidup. Tidak melawan, tidak menuntut, hanya mengakui keberadaannya seperti seseorang mengakui bayangan sendiri.

***

Desa itu tenang di malam hari, tapi kadang ketenangan justru memperkuat suara-suara dari dalam diri. Rafi sering gelisah. Ia merasa hidupnya kosong. Namun Marlan selalu mengatakan, “Kesunyian itu bukan hukuman. Itu ruang untuk mengerti diri sendiri.”

Suatu malam, angin berhembus kencang. Daun-daun kering berterbangan, seolah dunia hendak dibersihkan. Marlan dan Rafi masih di surau, memastikan pintu-pintu tertutup. Rafi, melihat lelaki tua itu berjalan dengan langkah lemah tapi pasti, merasa dadanya sesak.

“Kakek tidak pernah merasa sendiri?”

“Sering,” kata Marlan dengan jujur. “Tapi kesendirian itu alamiah. Kesepian adalah pilihan.”

“Apa bedanya?”

“Sendiri itu keadaan. Kesepian itu ketika kau berhenti berbuat untuk orang lain.”

Rafi menunduk.

“Kalau begitu, apa Kakek tidak merasa hidup Kakek terlalu sepi?”

Marlan menatapnya, tersenyum samar.
“Tidak, Nak. Karena setiap pagi, aku masih punya alasan untuk bangun.”

Tahun berlalu perlahan, seperti cerita yang disampaikan dengan napas panjang. Rafi kini menjadi penjaga surau yang baru, lebih kuat, lebih cekatan, lebih mampu mengecat, merawat, dan membersihkan. Penduduk desa memujinya, tapi ia tahu sesungguhnya ia hanya melanjutkan jejak lelaki tua itu.

Sementara Marlan… semakin ringkih. Kadang ia hanya duduk di bangku kayu, mengawasi Rafi bekerja. Namun matanya masih menyala, api kecil yang menolak padam. Suatu pagi, sinar matahari jatuh tepat pada wajah Marlan yang tampak pucat. Ia memanggil Rafi dengan suara lirih.

“Nak… mendekatlah.”

Rafi merunduk, mendengar napas lelaki tua itu yang makin pendek.

“Ada yang ingin Kakek tinggalkan.”

“Apa, Kek?”

“Keikhlasan,” gumam Marlan. “Bukan benda. Bukan uang. Tapi keberanian untuk tetap berjalan… meski tidak ada yang bertepuk tangan.”

Rafi menggenggam tangan lelaki tua itu, yang terasa dingin namun masih kuat.

“Kakek… terima kasih.”

Marlan tersenyum, senyum terakhir yang sangat damai. Dan pada pagi itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, pintu surau dibuka oleh tangan yang berbeda. Namun cahaya yang menyambut tetap sama.

Cahaya yang lahir dari dedikasi seorang lelaki tua yang tidak pernah meminta apa pun bagi dirinya sendiri. Lelaki yang menjaga pagi sampai pagi itu sendiri menjaganya kembali.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih mengenang Marlan. Bukan karena ia tokoh masyarakat, bukan karena jasanya monumental, tapi karena ia mengajarkan satu hal sederhana:

Bahwa hidup tidak perlu gemuruh untuk menjadi berarti.
Tidak perlu sorak-sorai untuk menjadi bermakna.
Yang dibutuhkan hanyalah langkah-langkah kecil yang tidak berhenti.

Rafi sering duduk di bangku kayu tempat Marlan biasa duduk, memandang matahari naik perlahan.

Pada momen-momen itu, ia merasa lelaki tua itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di pagi hari. Ia hidup di keheningan. Ia hidup di hati orang-orang yang pernah disentuh keikhlasannya.

Pagi tetap datang. Dan selama seseorang masih merawat pagi itu, jejak lelaki tua penjaga pagi tidak akan pernah hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Next Post

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails
Next Post
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Rancauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Rancauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia
Persona

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
Memang Pasar Malam
Esai

Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

by Angga Wijaya
May 30, 2026
Hikayat Tuak
Liputan Khusus

Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

by Jaswanto
May 30, 2026
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan
Panggung

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional
Budaya

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co