11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
in Cerpen
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit memudar dari kelam menuju keabu-abuan, lalu menyala tipis dengan warna aprikot. Embun di daun pisang mengerut, sementara rumput liar memantulkan cahaya lembut yang jatuh seperti serpihan perak.

Di tengah semua itu, seorang lelaki tua berjalan pelan sambil memegang sapu lidi. Tubuhnya agak membungkuk, rambutnya memutih seperti abu tungku, dan matanya, ah.. matanya, menyimpan ketenangan yang sudah lama tidak dimiliki manusia terburu-buru.

Itulah Marlan, atau “Pak Marlan”, atau “Si Tua Pagi”, begitu anak-anak desa menjulukinya.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan ia menjadi penjaga surau kecil itu. Surau yang dindingnya terkelupas, lantainya retak, dan pintunya sering berderit jika dibuka. Namun, bagi Marlan, tempat itu adalah setengah dari hidupnya; separuh lainnya adalah kesunyian.

Ia menyapu bukan hanya halaman, tapi juga restu kecil untuk hari yang akan dijalani manusia-manusia lain. Kadang ia bersenandung kecil, suara serak yang mengingatkan angin pada dedaunan kering. Senandungnya tidak pernah punya lirik: murni gumaman hati yang sudah lama berdamai dengan waktu.

Marlan tidak menunggu ucapan terima kasih. Tidak menuntut balasan. Tidak berharap ada yang memahami perjuangannya. Ia hanya mengulang rutinitas itu setiap pagi, seperti seseorang yang percaya bahwa ketekunan, meski sederhana, adalah bentuk cinta paling tulus.

Dan cinta, pikirnya, tidak perlu disaksikan siapa pun untuk tetap bernilai.

***

Suatu pagi berkabut, ketika ayam belum benar-benar bangun dan udara masih ringan seperti ingatan masa kecil, sebuah motor tua berhenti di depan rumah kosong yang catnya mengelupas. Dari motor itu turun seorang pemuda dengan ransel lusuh.

Dialah Rafi, anak desa yang pernah bermimpi besar saat meninggalkan kampungnya. Namun bekerja di kota mengikis banyak hal: harapan, harga diri, dan kepercayaan bahwa dunia memperlakukan semua orang dengan adil.

Kepulangannya lebih seperti pelarian.  Rafi merasa gagal. Dunia seolah menertawakannya setiap saat. Ketika ia berjalan tanpa tujuan, ia melihat siluet lelaki tua di halaman surau yang berkabut.

Marlan berdiri di bawah sinar redup, memandangi langit seperti membaca kitab kuno yang hanya ia sendiri yang bisa mengerti. Rafi mendekat.

“Kakek tidak capek melakukan semua ini setiap hari?”

Marlan menoleh perlahan, senyum kecil tercetak di wajah keriputnya.
“Kalau kita hanya mau melakukan yang menguntungkan diri sendiri, hidup akan terasa kecil, Nak.”

Rafi menghembuskan napas panjang. “Tapi hidup tetap sulit, Kek…”

“Kesulitan itu bagian dari perjalanan,” jawab Marlan lembut. “Yang harus kau waspadai bukan penderitaan… tapi rasa ingin menyerah.”

Rafi tak menyahut. Ia terlalu muda untuk memahami kedalaman kalimat itu, tapi cukup lelah untuk mengakuinya.

“Kakek,” katanya akhirnya, “apa gunanya semua ini? Surau tetap surau. Hari tetap hari. Tidak ada yang berubah.”

Marlan menatap padanya lama, seperti menilai berat beban tak kasat mata di bahu pemuda itu.

“Yang berubah itu hati orang yang melakukannya, Nak. Kalau hati kita tetap bernapas, dunia pun terasa sedikit lebih ringan.”

Rafi terdiam, tak menemukan bantahan. Di samping lelaki tua itu, ia merasa seolah sedang duduk di hadapan pohon yang sudah sangat tua, yang tidak lagi takut pada badai, karena akarnya sudah jauh menembus tanah.

Di antara rutinitas pagi, mereka sering berbicara. Bukan percakapan yang penting, tetapi yang diam-diam mengubah jiwa.

Suatu sore, ketika hujan turun seperti tirai panjang, Rafi bertanya, “Kakek punya mimpi dulu?”

Marlan tersenyum, tatapannya menerobos derasnya hujan.

“Dulu saya ingin anak saya jadi orang besar. Baju bagus, pekerjaan bagus, dihormati.”

“Kemudian?”

“Kemudian saya sadar… itu semua keinginan saya. Bukan keinginannya.”

Ia menghela napas, panjang dan berat.

“Kadang kita mengira kita mencintai seseorang. Padahal kita hanya mencintai bayangan yang kita ciptakan tentang mereka.”

Rafi tertegun.

“Anak Kakek masih sering pulang?”

“Tidak.”
Ada jeda panjang.


“Tapi saya tidak menunggunya. Ia punya jalan sendiri. Dan saya… punya matahari pagi.”

Hening menutup percakapan mereka. Rafi merasa ada luka lama yang tak selesai di balik ketenangan lelaki itu.

Namun yang membuatnya terharu bukan lukanya, melainkan caranya menerima luka itu sebagai bagian dari hidup. Tidak melawan, tidak menuntut, hanya mengakui keberadaannya seperti seseorang mengakui bayangan sendiri.

***

Desa itu tenang di malam hari, tapi kadang ketenangan justru memperkuat suara-suara dari dalam diri. Rafi sering gelisah. Ia merasa hidupnya kosong. Namun Marlan selalu mengatakan, “Kesunyian itu bukan hukuman. Itu ruang untuk mengerti diri sendiri.”

Suatu malam, angin berhembus kencang. Daun-daun kering berterbangan, seolah dunia hendak dibersihkan. Marlan dan Rafi masih di surau, memastikan pintu-pintu tertutup. Rafi, melihat lelaki tua itu berjalan dengan langkah lemah tapi pasti, merasa dadanya sesak.

“Kakek tidak pernah merasa sendiri?”

“Sering,” kata Marlan dengan jujur. “Tapi kesendirian itu alamiah. Kesepian adalah pilihan.”

“Apa bedanya?”

“Sendiri itu keadaan. Kesepian itu ketika kau berhenti berbuat untuk orang lain.”

Rafi menunduk.

“Kalau begitu, apa Kakek tidak merasa hidup Kakek terlalu sepi?”

Marlan menatapnya, tersenyum samar.
“Tidak, Nak. Karena setiap pagi, aku masih punya alasan untuk bangun.”

Tahun berlalu perlahan, seperti cerita yang disampaikan dengan napas panjang. Rafi kini menjadi penjaga surau yang baru, lebih kuat, lebih cekatan, lebih mampu mengecat, merawat, dan membersihkan. Penduduk desa memujinya, tapi ia tahu sesungguhnya ia hanya melanjutkan jejak lelaki tua itu.

Sementara Marlan… semakin ringkih. Kadang ia hanya duduk di bangku kayu, mengawasi Rafi bekerja. Namun matanya masih menyala, api kecil yang menolak padam. Suatu pagi, sinar matahari jatuh tepat pada wajah Marlan yang tampak pucat. Ia memanggil Rafi dengan suara lirih.

“Nak… mendekatlah.”

Rafi merunduk, mendengar napas lelaki tua itu yang makin pendek.

“Ada yang ingin Kakek tinggalkan.”

“Apa, Kek?”

“Keikhlasan,” gumam Marlan. “Bukan benda. Bukan uang. Tapi keberanian untuk tetap berjalan… meski tidak ada yang bertepuk tangan.”

Rafi menggenggam tangan lelaki tua itu, yang terasa dingin namun masih kuat.

“Kakek… terima kasih.”

Marlan tersenyum, senyum terakhir yang sangat damai. Dan pada pagi itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, pintu surau dibuka oleh tangan yang berbeda. Namun cahaya yang menyambut tetap sama.

Cahaya yang lahir dari dedikasi seorang lelaki tua yang tidak pernah meminta apa pun bagi dirinya sendiri. Lelaki yang menjaga pagi sampai pagi itu sendiri menjaganya kembali.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih mengenang Marlan. Bukan karena ia tokoh masyarakat, bukan karena jasanya monumental, tapi karena ia mengajarkan satu hal sederhana:

Bahwa hidup tidak perlu gemuruh untuk menjadi berarti.
Tidak perlu sorak-sorai untuk menjadi bermakna.
Yang dibutuhkan hanyalah langkah-langkah kecil yang tidak berhenti.

Rafi sering duduk di bangku kayu tempat Marlan biasa duduk, memandang matahari naik perlahan.

Pada momen-momen itu, ia merasa lelaki tua itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di pagi hari. Ia hidup di keheningan. Ia hidup di hati orang-orang yang pernah disentuh keikhlasannya.

Pagi tetap datang. Dan selama seseorang masih merawat pagi itu, jejak lelaki tua penjaga pagi tidak akan pernah hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Next Post

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co