21 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 10, 2026
in Esai
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga sedang membaca, foto karya Deddy Suhartawan

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan.

Tidak mahal sebenarnya, tetapi seperti banyak orang yang bekerja di dunia media, membeli buku kadang perlu pertimbangan panjang. Antara kebutuhan dapur, biaya hidup, ongkos bensin, dan tagihan bulanan yang datang tanpa rasa iba, membeli buku sering terasa seperti kemewahan kecil yang harus diperjuangkan.

Namun, ada sesuatu yang selalu membuatku kembali membeli buku. Sesuatu yang mungkin sudah hidup sangat lama di dalam diriku, jauh sebelum aku menjadi wartawan, penulis, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktu di depan laptop. Kebiasaan itu berasal dari ayah angkatku. Dari lelaki sederhana yang diam-diam menanamkan cinta membaca tanpa pernah menggurui.

Foto koleksi pribadi

Aku tumbuh di rumah tua yang besar dan penuh cinta. Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi memiliki suasana yang hangat. Di pagi hari, aroma kopi bercampur dengan suara radio dari ruang tengah. Ayahku senang mendengarkan berita dari kantor berita luar negeri melalui radio tua yang suaranya kadang berdesis. Setelah mendengar berita, ia duduk di kursi malas bersama Ibu angkatku, lalu membuka koran dengan khidmat, seperti seorang pemuka agama membuka kitab suci.

Ia membaca perlahan, membolak-balik halaman dengan serius. Kadang dahinya berkerut ketika membaca berita politik. Kadang ia tertawa kecil saat menemukan kisah-kisah lucu di halaman belakang. Setelah selesai membaca, ia mulai bercerita kepada Ibu tentang apa yang baru saja ia baca. Mereka bercakap panjang. Tentang negara lain yang sedang perang, harga beras yang naik, pejabat yang korup, hingga pertandingan sepak bola.

Aku masih kecil waktu itu. Tetapi aku ingat betul suasana pagi yang tenang tersebut. Cahaya matahari masuk dari jendela kayu. Bunyi ayam dari pekarangan terdengar samar. Dan di tengah suasana sederhana itu, aku melihat dua orang dewasa menikmati bacaan seperti menikmati hidup itu sendiri. Tanpa kusadari, dari situlah kebiasaan membaca mulai tumbuh dalam diriku.

Ayahku bukan sarjana. Ia juga bukan intelektual kampus yang pandai mengutip teori-teori rumit. Tetapi ia pembaca yang tekun. Ia percaya membaca membuat manusia tidak mudah dibohongi. Barangkali karena itulah ia begitu menikmati koran, radio, dan buku-buku sederhana yang ada di rumah.

Di masa kecilku, membaca bukan sesuatu yang keren. Tidak ada media sosial untuk memamerkan buku yang sedang dibaca. Atau, foto estetik secangkir kopi di samping novel terkenal. Membaca adalah aktivitas sunyi. Sangat pribadi. Kadang malah dianggap membosankan.

Aku masih ingat bagaimana perpustakaan sekolah dasar terasa seperti tempat asing yang jarang dikunjungi murid-murid. Rak-raknya berdebu. Buku-bukunya kusam. Tetapi aku justru senang berada di sana. Ada rasa tenang ketika membuka halaman demi halaman buku, seolah dunia menjadi lebih luas daripada kampung tempatku tinggal.

Mungkin karena sejak kecil aku sudah melihat membaca sebagai sesuatu yang intim dan hangat. Membaca bukan sekadar mencari ilmu, melainkan juga cara memahami manusia dan kehidupan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu kulakukan lagi. Di tengah dunia yang makin gaduh, aku kembali duduk membaca buku-buku yang teronggok di rak. Kadang ditemani musik klasik yang mengalun pelan dari ponsel, atau ditemani hujan yang turun perlahan di luar kamar kontrakan kecil yang kusewa.

Aku mulai berpikir, mungkin ada yang salah dengan hidup modern hari ini. Kita terlalu sering menggulir layar gawai tanpa tujuan jelas. Berjam-jam habis hanya untuk melihat video pendek yang bahkan beberapa menit kemudian sudah lupa. Kita menjadi generasi yang sulit diam, hening, dan benar-benar hadir.

Foto koleksi pribadi

Aku sendiri tidak sepenuhnya bisa lepas dari candu gawai. Sebagai wartawan, telepon genggam adalah alat kerja. Informasi bergerak cepat. Berita datang tanpa mengenal waktu. Media sosial juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetapi di sela-sela itu, aku mulai merindukan pengalaman membaca yang perlahan dan mendalam.

Membaca buku membuatku merasa kembali menjadi manusia. Ketika membaca buku, aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Tidak ada notifikasi yang memaksa perhatian, atau algoritma yang mengatur apa yang harus kulihat. Aku bebas masuk ke dunia yang dibangun penulis. Bebas berimajinasi, dan juga berpikir. Mungkin karena itu membaca sering terasa seperti perjalanan sunyi menuju diri sendiri.

Aku pernah membaca teori antropologi tentang manusia modern yang hidup dalam budaya massa. Dalam budaya semacam itu, manusia perlahan kehilangan kedalaman. Kita dijejali informasi terus-menerus, tetapi jarang benar-benar memahami sesuatu secara utuh. Kita tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak sungguh mengenali apa pun.

Media sosial mempercepat semuanya. Orang berlomba-lomba menunjukkan dirinya agar diakui keberadaannya. Foto makanan, perjalanan, pakaian baru, kopi mahal, bahkan kesedihan pun dipamerkan. Semua ingin dilihat dan mendapat perhatian. Di tengah dunia yang begitu riuh, membaca buku terasa seperti tindakan melawan arus.

Membaca mengajarkan kesabaran. Ia memintamu duduk diam, menatap halaman demi halaman, lalu membiarkan imajinasi bekerja perlahan. Dan mungkin itulah yang mulai hilang dari manusia modern, kemampuan untuk diam dan mendengarkan isi pikirannya sendiri.

Kadang aku membayangkan ayahku hidup di zaman sekarang. Apakah ia juga akan sibuk bermain media sosial seperti banyak orang hari ini? Apakah ia akan membaca koran digital sambil sesekali menggulir video lucu. Atau mungkin tetap duduk tenang membaca seperti dulu?  Aku tidak tahu.

Tetapi setiap kali membuka buku, aku selalu teringat padanya. Aku teringat suara radio tua di pagi hari, dan halaman koran yang dibalik perlahan. Aku teringat percakapannya dengan Ibu yang hangat dan sederhana. Kenangan-kenangan kecil itu kini terasa sangat mahal. Barangkali manusia memang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil di rumahnya sendiri.

Foto koleksi pribadi

Kini, di kamar kecil tempatku menulis, buku-buku menjadi benda yang sangat berharga. Aku tidak punya mobil mewah, tidak punya koleksi barang mahal. Tetapi aku punya rak buku yang terus bertambah meski dompet sering menipis karenanya.

Ada kebahagiaan aneh ketika membeli buku. Mungkin sama seperti orang lain yang bahagia membeli gitar baru, sepeda mahal, atau burung peliharaan. Buku memberiku rasa dekat dengan kehidupan. Ia seperti teman yang selalu siap berbicara kapan saja.

Beberapa buku membuatku menangis diam-diam. Buku lainnya membuatku marah, berpikir, atau jatuh cinta pada dunia yang belum pernah kukenal. Dari buku-buku pula aku belajar memahami manusia. Bahwa hidup tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Sebagai penulis dan wartawan, aku sadar menulis tanpa membaca akan membuat pikiran cepat kering. Tulisan mungkin tetap bisa lahir, tetapi miskin kedalaman. Buku-buku menjadi semacam amunisi yang memperkaya cara pandangku terhadap kehidupan.

Mungkin karena itu aku selalu percaya bahwa membaca adalah bentuk kerja batin. Ia tidak selalu menghasilkan uang. Tidak selalu mendatangkan popularitas. Tetapi membaca membuat manusia punya ruang untuk berpikir lebih jernih. Dan di zaman yang penuh kebisingan saat ini, kemampuan berpikir jernih menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa otak adalah organ manusia paling seksi. Kalimat itu terdengar lucu sekaligus menarik. Tetapi semakin dewasa, aku mulai memahami maksudnya. Pengetahuan, imajinasi, dan cara seseorang memandang hidup memang bisa membuat manusia tampak sangat menarik. Dan membaca adalah salah satu jalan menuju itu.

Foto koleksi pribadi

Di luar kamar, hujan masih turun perlahan. Aku melangkah ke dapur dan menyeduh kopi lalu duduk di beranda rumah kos. Aku menutup buku sejenak, lalu memandang rak buku yang berdiri di sudut kamar.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Aku sadar, kebiasaan membaca yang kumiliki hari ini bukan muncul begitu saja. Ia diwariskan dengan cara paling sederhana oleh seorang ayah yang mungkin tidak pernah sadar betapa besar pengaruhnya terhadap hidup anaknya.

Beliau tidak pernah memaksaku membaca, menyuruhku menjadi penulis, atau memberi ceramah panjang tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau hanya membaca setiap hari, lalu tanpa sadar menunjukkan bahwa buku bisa menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Dan dari sanalah semuanya bermula. Kini, ketika dunia bergerak semakin cepat, dan manusia makin sibuk mengejar pengakuan dan perhatian, aku justru ingin kembali pada hal-hal sederhana itu. Duduk tenang membaca buku, sambil mendengarkan musik. Menikmati hujan, menulis perlahan. Sebab mungkin, di tengah dunia yang makin bising ini, membaca adalah salah satu cara terakhir untuk tetap waras sebagai manusia. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembacanostalgia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Next Post

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
0
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

KLAKSON
Esai

KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

by Hartanto
June 20, 2026
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

by Chusmeru
June 20, 2026
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan
Ulas Pentas

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya
Panggung

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik
Esai

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali
Khas

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan
Panggung

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali
Bahasa

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

by I Made Sudiana
June 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co