1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 10, 2026
in Esai
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga sedang membaca, foto karya Deddy Suhartawan

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan.

Tidak mahal sebenarnya, tetapi seperti banyak orang yang bekerja di dunia media, membeli buku kadang perlu pertimbangan panjang. Antara kebutuhan dapur, biaya hidup, ongkos bensin, dan tagihan bulanan yang datang tanpa rasa iba, membeli buku sering terasa seperti kemewahan kecil yang harus diperjuangkan.

Namun, ada sesuatu yang selalu membuatku kembali membeli buku. Sesuatu yang mungkin sudah hidup sangat lama di dalam diriku, jauh sebelum aku menjadi wartawan, penulis, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktu di depan laptop. Kebiasaan itu berasal dari ayah angkatku. Dari lelaki sederhana yang diam-diam menanamkan cinta membaca tanpa pernah menggurui.

Foto koleksi pribadi

Aku tumbuh di rumah tua yang besar dan penuh cinta. Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi memiliki suasana yang hangat. Di pagi hari, aroma kopi bercampur dengan suara radio dari ruang tengah. Ayahku senang mendengarkan berita dari kantor berita luar negeri melalui radio tua yang suaranya kadang berdesis. Setelah mendengar berita, ia duduk di kursi malas bersama Ibu angkatku, lalu membuka koran dengan khidmat, seperti seorang pemuka agama membuka kitab suci.

Ia membaca perlahan, membolak-balik halaman dengan serius. Kadang dahinya berkerut ketika membaca berita politik. Kadang ia tertawa kecil saat menemukan kisah-kisah lucu di halaman belakang. Setelah selesai membaca, ia mulai bercerita kepada Ibu tentang apa yang baru saja ia baca. Mereka bercakap panjang. Tentang negara lain yang sedang perang, harga beras yang naik, pejabat yang korup, hingga pertandingan sepak bola.

Aku masih kecil waktu itu. Tetapi aku ingat betul suasana pagi yang tenang tersebut. Cahaya matahari masuk dari jendela kayu. Bunyi ayam dari pekarangan terdengar samar. Dan di tengah suasana sederhana itu, aku melihat dua orang dewasa menikmati bacaan seperti menikmati hidup itu sendiri. Tanpa kusadari, dari situlah kebiasaan membaca mulai tumbuh dalam diriku.

Ayahku bukan sarjana. Ia juga bukan intelektual kampus yang pandai mengutip teori-teori rumit. Tetapi ia pembaca yang tekun. Ia percaya membaca membuat manusia tidak mudah dibohongi. Barangkali karena itulah ia begitu menikmati koran, radio, dan buku-buku sederhana yang ada di rumah.

Di masa kecilku, membaca bukan sesuatu yang keren. Tidak ada media sosial untuk memamerkan buku yang sedang dibaca. Atau, foto estetik secangkir kopi di samping novel terkenal. Membaca adalah aktivitas sunyi. Sangat pribadi. Kadang malah dianggap membosankan.

Aku masih ingat bagaimana perpustakaan sekolah dasar terasa seperti tempat asing yang jarang dikunjungi murid-murid. Rak-raknya berdebu. Buku-bukunya kusam. Tetapi aku justru senang berada di sana. Ada rasa tenang ketika membuka halaman demi halaman buku, seolah dunia menjadi lebih luas daripada kampung tempatku tinggal.

Mungkin karena sejak kecil aku sudah melihat membaca sebagai sesuatu yang intim dan hangat. Membaca bukan sekadar mencari ilmu, melainkan juga cara memahami manusia dan kehidupan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu kulakukan lagi. Di tengah dunia yang makin gaduh, aku kembali duduk membaca buku-buku yang teronggok di rak. Kadang ditemani musik klasik yang mengalun pelan dari ponsel, atau ditemani hujan yang turun perlahan di luar kamar kontrakan kecil yang kusewa.

Aku mulai berpikir, mungkin ada yang salah dengan hidup modern hari ini. Kita terlalu sering menggulir layar gawai tanpa tujuan jelas. Berjam-jam habis hanya untuk melihat video pendek yang bahkan beberapa menit kemudian sudah lupa. Kita menjadi generasi yang sulit diam, hening, dan benar-benar hadir.

Foto koleksi pribadi

Aku sendiri tidak sepenuhnya bisa lepas dari candu gawai. Sebagai wartawan, telepon genggam adalah alat kerja. Informasi bergerak cepat. Berita datang tanpa mengenal waktu. Media sosial juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetapi di sela-sela itu, aku mulai merindukan pengalaman membaca yang perlahan dan mendalam.

Membaca buku membuatku merasa kembali menjadi manusia. Ketika membaca buku, aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Tidak ada notifikasi yang memaksa perhatian, atau algoritma yang mengatur apa yang harus kulihat. Aku bebas masuk ke dunia yang dibangun penulis. Bebas berimajinasi, dan juga berpikir. Mungkin karena itu membaca sering terasa seperti perjalanan sunyi menuju diri sendiri.

Aku pernah membaca teori antropologi tentang manusia modern yang hidup dalam budaya massa. Dalam budaya semacam itu, manusia perlahan kehilangan kedalaman. Kita dijejali informasi terus-menerus, tetapi jarang benar-benar memahami sesuatu secara utuh. Kita tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak sungguh mengenali apa pun.

Media sosial mempercepat semuanya. Orang berlomba-lomba menunjukkan dirinya agar diakui keberadaannya. Foto makanan, perjalanan, pakaian baru, kopi mahal, bahkan kesedihan pun dipamerkan. Semua ingin dilihat dan mendapat perhatian. Di tengah dunia yang begitu riuh, membaca buku terasa seperti tindakan melawan arus.

Membaca mengajarkan kesabaran. Ia memintamu duduk diam, menatap halaman demi halaman, lalu membiarkan imajinasi bekerja perlahan. Dan mungkin itulah yang mulai hilang dari manusia modern, kemampuan untuk diam dan mendengarkan isi pikirannya sendiri.

Kadang aku membayangkan ayahku hidup di zaman sekarang. Apakah ia juga akan sibuk bermain media sosial seperti banyak orang hari ini? Apakah ia akan membaca koran digital sambil sesekali menggulir video lucu. Atau mungkin tetap duduk tenang membaca seperti dulu?  Aku tidak tahu.

Tetapi setiap kali membuka buku, aku selalu teringat padanya. Aku teringat suara radio tua di pagi hari, dan halaman koran yang dibalik perlahan. Aku teringat percakapannya dengan Ibu yang hangat dan sederhana. Kenangan-kenangan kecil itu kini terasa sangat mahal. Barangkali manusia memang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil di rumahnya sendiri.

Foto koleksi pribadi

Kini, di kamar kecil tempatku menulis, buku-buku menjadi benda yang sangat berharga. Aku tidak punya mobil mewah, tidak punya koleksi barang mahal. Tetapi aku punya rak buku yang terus bertambah meski dompet sering menipis karenanya.

Ada kebahagiaan aneh ketika membeli buku. Mungkin sama seperti orang lain yang bahagia membeli gitar baru, sepeda mahal, atau burung peliharaan. Buku memberiku rasa dekat dengan kehidupan. Ia seperti teman yang selalu siap berbicara kapan saja.

Beberapa buku membuatku menangis diam-diam. Buku lainnya membuatku marah, berpikir, atau jatuh cinta pada dunia yang belum pernah kukenal. Dari buku-buku pula aku belajar memahami manusia. Bahwa hidup tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Sebagai penulis dan wartawan, aku sadar menulis tanpa membaca akan membuat pikiran cepat kering. Tulisan mungkin tetap bisa lahir, tetapi miskin kedalaman. Buku-buku menjadi semacam amunisi yang memperkaya cara pandangku terhadap kehidupan.

Mungkin karena itu aku selalu percaya bahwa membaca adalah bentuk kerja batin. Ia tidak selalu menghasilkan uang. Tidak selalu mendatangkan popularitas. Tetapi membaca membuat manusia punya ruang untuk berpikir lebih jernih. Dan di zaman yang penuh kebisingan saat ini, kemampuan berpikir jernih menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa otak adalah organ manusia paling seksi. Kalimat itu terdengar lucu sekaligus menarik. Tetapi semakin dewasa, aku mulai memahami maksudnya. Pengetahuan, imajinasi, dan cara seseorang memandang hidup memang bisa membuat manusia tampak sangat menarik. Dan membaca adalah salah satu jalan menuju itu.

Foto koleksi pribadi

Di luar kamar, hujan masih turun perlahan. Aku melangkah ke dapur dan menyeduh kopi lalu duduk di beranda rumah kos. Aku menutup buku sejenak, lalu memandang rak buku yang berdiri di sudut kamar.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Aku sadar, kebiasaan membaca yang kumiliki hari ini bukan muncul begitu saja. Ia diwariskan dengan cara paling sederhana oleh seorang ayah yang mungkin tidak pernah sadar betapa besar pengaruhnya terhadap hidup anaknya.

Beliau tidak pernah memaksaku membaca, menyuruhku menjadi penulis, atau memberi ceramah panjang tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau hanya membaca setiap hari, lalu tanpa sadar menunjukkan bahwa buku bisa menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Dan dari sanalah semuanya bermula. Kini, ketika dunia bergerak semakin cepat, dan manusia makin sibuk mengejar pengakuan dan perhatian, aku justru ingin kembali pada hal-hal sederhana itu. Duduk tenang membaca buku, sambil mendengarkan musik. Menikmati hujan, menulis perlahan. Sebab mungkin, di tengah dunia yang makin bising ini, membaca adalah salah satu cara terakhir untuk tetap waras sebagai manusia. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembacanostalgia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Next Post

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co