1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 10, 2026
in Esai
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga sedang membaca, foto karya Deddy Suhartawan

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan.

Tidak mahal sebenarnya, tetapi seperti banyak orang yang bekerja di dunia media, membeli buku kadang perlu pertimbangan panjang. Antara kebutuhan dapur, biaya hidup, ongkos bensin, dan tagihan bulanan yang datang tanpa rasa iba, membeli buku sering terasa seperti kemewahan kecil yang harus diperjuangkan.

Namun, ada sesuatu yang selalu membuatku kembali membeli buku. Sesuatu yang mungkin sudah hidup sangat lama di dalam diriku, jauh sebelum aku menjadi wartawan, penulis, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktu di depan laptop. Kebiasaan itu berasal dari ayah angkatku. Dari lelaki sederhana yang diam-diam menanamkan cinta membaca tanpa pernah menggurui.

Foto koleksi pribadi

Aku tumbuh di rumah tua yang besar dan penuh cinta. Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi memiliki suasana yang hangat. Di pagi hari, aroma kopi bercampur dengan suara radio dari ruang tengah. Ayahku senang mendengarkan berita dari kantor berita luar negeri melalui radio tua yang suaranya kadang berdesis. Setelah mendengar berita, ia duduk di kursi malas bersama Ibu angkatku, lalu membuka koran dengan khidmat, seperti seorang pemuka agama membuka kitab suci.

Ia membaca perlahan, membolak-balik halaman dengan serius. Kadang dahinya berkerut ketika membaca berita politik. Kadang ia tertawa kecil saat menemukan kisah-kisah lucu di halaman belakang. Setelah selesai membaca, ia mulai bercerita kepada Ibu tentang apa yang baru saja ia baca. Mereka bercakap panjang. Tentang negara lain yang sedang perang, harga beras yang naik, pejabat yang korup, hingga pertandingan sepak bola.

Aku masih kecil waktu itu. Tetapi aku ingat betul suasana pagi yang tenang tersebut. Cahaya matahari masuk dari jendela kayu. Bunyi ayam dari pekarangan terdengar samar. Dan di tengah suasana sederhana itu, aku melihat dua orang dewasa menikmati bacaan seperti menikmati hidup itu sendiri. Tanpa kusadari, dari situlah kebiasaan membaca mulai tumbuh dalam diriku.

Ayahku bukan sarjana. Ia juga bukan intelektual kampus yang pandai mengutip teori-teori rumit. Tetapi ia pembaca yang tekun. Ia percaya membaca membuat manusia tidak mudah dibohongi. Barangkali karena itulah ia begitu menikmati koran, radio, dan buku-buku sederhana yang ada di rumah.

Di masa kecilku, membaca bukan sesuatu yang keren. Tidak ada media sosial untuk memamerkan buku yang sedang dibaca. Atau, foto estetik secangkir kopi di samping novel terkenal. Membaca adalah aktivitas sunyi. Sangat pribadi. Kadang malah dianggap membosankan.

Aku masih ingat bagaimana perpustakaan sekolah dasar terasa seperti tempat asing yang jarang dikunjungi murid-murid. Rak-raknya berdebu. Buku-bukunya kusam. Tetapi aku justru senang berada di sana. Ada rasa tenang ketika membuka halaman demi halaman buku, seolah dunia menjadi lebih luas daripada kampung tempatku tinggal.

Mungkin karena sejak kecil aku sudah melihat membaca sebagai sesuatu yang intim dan hangat. Membaca bukan sekadar mencari ilmu, melainkan juga cara memahami manusia dan kehidupan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu kulakukan lagi. Di tengah dunia yang makin gaduh, aku kembali duduk membaca buku-buku yang teronggok di rak. Kadang ditemani musik klasik yang mengalun pelan dari ponsel, atau ditemani hujan yang turun perlahan di luar kamar kontrakan kecil yang kusewa.

Aku mulai berpikir, mungkin ada yang salah dengan hidup modern hari ini. Kita terlalu sering menggulir layar gawai tanpa tujuan jelas. Berjam-jam habis hanya untuk melihat video pendek yang bahkan beberapa menit kemudian sudah lupa. Kita menjadi generasi yang sulit diam, hening, dan benar-benar hadir.

Foto koleksi pribadi

Aku sendiri tidak sepenuhnya bisa lepas dari candu gawai. Sebagai wartawan, telepon genggam adalah alat kerja. Informasi bergerak cepat. Berita datang tanpa mengenal waktu. Media sosial juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetapi di sela-sela itu, aku mulai merindukan pengalaman membaca yang perlahan dan mendalam.

Membaca buku membuatku merasa kembali menjadi manusia. Ketika membaca buku, aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Tidak ada notifikasi yang memaksa perhatian, atau algoritma yang mengatur apa yang harus kulihat. Aku bebas masuk ke dunia yang dibangun penulis. Bebas berimajinasi, dan juga berpikir. Mungkin karena itu membaca sering terasa seperti perjalanan sunyi menuju diri sendiri.

Aku pernah membaca teori antropologi tentang manusia modern yang hidup dalam budaya massa. Dalam budaya semacam itu, manusia perlahan kehilangan kedalaman. Kita dijejali informasi terus-menerus, tetapi jarang benar-benar memahami sesuatu secara utuh. Kita tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak sungguh mengenali apa pun.

Media sosial mempercepat semuanya. Orang berlomba-lomba menunjukkan dirinya agar diakui keberadaannya. Foto makanan, perjalanan, pakaian baru, kopi mahal, bahkan kesedihan pun dipamerkan. Semua ingin dilihat dan mendapat perhatian. Di tengah dunia yang begitu riuh, membaca buku terasa seperti tindakan melawan arus.

Membaca mengajarkan kesabaran. Ia memintamu duduk diam, menatap halaman demi halaman, lalu membiarkan imajinasi bekerja perlahan. Dan mungkin itulah yang mulai hilang dari manusia modern, kemampuan untuk diam dan mendengarkan isi pikirannya sendiri.

Kadang aku membayangkan ayahku hidup di zaman sekarang. Apakah ia juga akan sibuk bermain media sosial seperti banyak orang hari ini? Apakah ia akan membaca koran digital sambil sesekali menggulir video lucu. Atau mungkin tetap duduk tenang membaca seperti dulu?  Aku tidak tahu.

Tetapi setiap kali membuka buku, aku selalu teringat padanya. Aku teringat suara radio tua di pagi hari, dan halaman koran yang dibalik perlahan. Aku teringat percakapannya dengan Ibu yang hangat dan sederhana. Kenangan-kenangan kecil itu kini terasa sangat mahal. Barangkali manusia memang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil di rumahnya sendiri.

Foto koleksi pribadi

Kini, di kamar kecil tempatku menulis, buku-buku menjadi benda yang sangat berharga. Aku tidak punya mobil mewah, tidak punya koleksi barang mahal. Tetapi aku punya rak buku yang terus bertambah meski dompet sering menipis karenanya.

Ada kebahagiaan aneh ketika membeli buku. Mungkin sama seperti orang lain yang bahagia membeli gitar baru, sepeda mahal, atau burung peliharaan. Buku memberiku rasa dekat dengan kehidupan. Ia seperti teman yang selalu siap berbicara kapan saja.

Beberapa buku membuatku menangis diam-diam. Buku lainnya membuatku marah, berpikir, atau jatuh cinta pada dunia yang belum pernah kukenal. Dari buku-buku pula aku belajar memahami manusia. Bahwa hidup tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Sebagai penulis dan wartawan, aku sadar menulis tanpa membaca akan membuat pikiran cepat kering. Tulisan mungkin tetap bisa lahir, tetapi miskin kedalaman. Buku-buku menjadi semacam amunisi yang memperkaya cara pandangku terhadap kehidupan.

Mungkin karena itu aku selalu percaya bahwa membaca adalah bentuk kerja batin. Ia tidak selalu menghasilkan uang. Tidak selalu mendatangkan popularitas. Tetapi membaca membuat manusia punya ruang untuk berpikir lebih jernih. Dan di zaman yang penuh kebisingan saat ini, kemampuan berpikir jernih menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa otak adalah organ manusia paling seksi. Kalimat itu terdengar lucu sekaligus menarik. Tetapi semakin dewasa, aku mulai memahami maksudnya. Pengetahuan, imajinasi, dan cara seseorang memandang hidup memang bisa membuat manusia tampak sangat menarik. Dan membaca adalah salah satu jalan menuju itu.

Foto koleksi pribadi

Di luar kamar, hujan masih turun perlahan. Aku melangkah ke dapur dan menyeduh kopi lalu duduk di beranda rumah kos. Aku menutup buku sejenak, lalu memandang rak buku yang berdiri di sudut kamar.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Aku sadar, kebiasaan membaca yang kumiliki hari ini bukan muncul begitu saja. Ia diwariskan dengan cara paling sederhana oleh seorang ayah yang mungkin tidak pernah sadar betapa besar pengaruhnya terhadap hidup anaknya.

Beliau tidak pernah memaksaku membaca, menyuruhku menjadi penulis, atau memberi ceramah panjang tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau hanya membaca setiap hari, lalu tanpa sadar menunjukkan bahwa buku bisa menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Dan dari sanalah semuanya bermula. Kini, ketika dunia bergerak semakin cepat, dan manusia makin sibuk mengejar pengakuan dan perhatian, aku justru ingin kembali pada hal-hal sederhana itu. Duduk tenang membaca buku, sambil mendengarkan musik. Menikmati hujan, menulis perlahan. Sebab mungkin, di tengah dunia yang makin bising ini, membaca adalah salah satu cara terakhir untuk tetap waras sebagai manusia. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembacanostalgia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Next Post

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata,
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata,
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co