30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 10, 2026
in Esai
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga sedang membaca, foto karya Deddy Suhartawan

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan.

Tidak mahal sebenarnya, tetapi seperti banyak orang yang bekerja di dunia media, membeli buku kadang perlu pertimbangan panjang. Antara kebutuhan dapur, biaya hidup, ongkos bensin, dan tagihan bulanan yang datang tanpa rasa iba, membeli buku sering terasa seperti kemewahan kecil yang harus diperjuangkan.

Namun, ada sesuatu yang selalu membuatku kembali membeli buku. Sesuatu yang mungkin sudah hidup sangat lama di dalam diriku, jauh sebelum aku menjadi wartawan, penulis, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktu di depan laptop. Kebiasaan itu berasal dari ayah angkatku. Dari lelaki sederhana yang diam-diam menanamkan cinta membaca tanpa pernah menggurui.

Foto koleksi pribadi

Aku tumbuh di rumah tua yang besar dan penuh cinta. Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi memiliki suasana yang hangat. Di pagi hari, aroma kopi bercampur dengan suara radio dari ruang tengah. Ayahku senang mendengarkan berita dari kantor berita luar negeri melalui radio tua yang suaranya kadang berdesis. Setelah mendengar berita, ia duduk di kursi malas bersama Ibu angkatku, lalu membuka koran dengan khidmat, seperti seorang pemuka agama membuka kitab suci.

Ia membaca perlahan, membolak-balik halaman dengan serius. Kadang dahinya berkerut ketika membaca berita politik. Kadang ia tertawa kecil saat menemukan kisah-kisah lucu di halaman belakang. Setelah selesai membaca, ia mulai bercerita kepada Ibu tentang apa yang baru saja ia baca. Mereka bercakap panjang. Tentang negara lain yang sedang perang, harga beras yang naik, pejabat yang korup, hingga pertandingan sepak bola.

Aku masih kecil waktu itu. Tetapi aku ingat betul suasana pagi yang tenang tersebut. Cahaya matahari masuk dari jendela kayu. Bunyi ayam dari pekarangan terdengar samar. Dan di tengah suasana sederhana itu, aku melihat dua orang dewasa menikmati bacaan seperti menikmati hidup itu sendiri. Tanpa kusadari, dari situlah kebiasaan membaca mulai tumbuh dalam diriku.

Ayahku bukan sarjana. Ia juga bukan intelektual kampus yang pandai mengutip teori-teori rumit. Tetapi ia pembaca yang tekun. Ia percaya membaca membuat manusia tidak mudah dibohongi. Barangkali karena itulah ia begitu menikmati koran, radio, dan buku-buku sederhana yang ada di rumah.

Di masa kecilku, membaca bukan sesuatu yang keren. Tidak ada media sosial untuk memamerkan buku yang sedang dibaca. Atau, foto estetik secangkir kopi di samping novel terkenal. Membaca adalah aktivitas sunyi. Sangat pribadi. Kadang malah dianggap membosankan.

Aku masih ingat bagaimana perpustakaan sekolah dasar terasa seperti tempat asing yang jarang dikunjungi murid-murid. Rak-raknya berdebu. Buku-bukunya kusam. Tetapi aku justru senang berada di sana. Ada rasa tenang ketika membuka halaman demi halaman buku, seolah dunia menjadi lebih luas daripada kampung tempatku tinggal.

Mungkin karena sejak kecil aku sudah melihat membaca sebagai sesuatu yang intim dan hangat. Membaca bukan sekadar mencari ilmu, melainkan juga cara memahami manusia dan kehidupan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu kulakukan lagi. Di tengah dunia yang makin gaduh, aku kembali duduk membaca buku-buku yang teronggok di rak. Kadang ditemani musik klasik yang mengalun pelan dari ponsel, atau ditemani hujan yang turun perlahan di luar kamar kontrakan kecil yang kusewa.

Aku mulai berpikir, mungkin ada yang salah dengan hidup modern hari ini. Kita terlalu sering menggulir layar gawai tanpa tujuan jelas. Berjam-jam habis hanya untuk melihat video pendek yang bahkan beberapa menit kemudian sudah lupa. Kita menjadi generasi yang sulit diam, hening, dan benar-benar hadir.

Foto koleksi pribadi

Aku sendiri tidak sepenuhnya bisa lepas dari candu gawai. Sebagai wartawan, telepon genggam adalah alat kerja. Informasi bergerak cepat. Berita datang tanpa mengenal waktu. Media sosial juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetapi di sela-sela itu, aku mulai merindukan pengalaman membaca yang perlahan dan mendalam.

Membaca buku membuatku merasa kembali menjadi manusia. Ketika membaca buku, aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Tidak ada notifikasi yang memaksa perhatian, atau algoritma yang mengatur apa yang harus kulihat. Aku bebas masuk ke dunia yang dibangun penulis. Bebas berimajinasi, dan juga berpikir. Mungkin karena itu membaca sering terasa seperti perjalanan sunyi menuju diri sendiri.

Aku pernah membaca teori antropologi tentang manusia modern yang hidup dalam budaya massa. Dalam budaya semacam itu, manusia perlahan kehilangan kedalaman. Kita dijejali informasi terus-menerus, tetapi jarang benar-benar memahami sesuatu secara utuh. Kita tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak sungguh mengenali apa pun.

Media sosial mempercepat semuanya. Orang berlomba-lomba menunjukkan dirinya agar diakui keberadaannya. Foto makanan, perjalanan, pakaian baru, kopi mahal, bahkan kesedihan pun dipamerkan. Semua ingin dilihat dan mendapat perhatian. Di tengah dunia yang begitu riuh, membaca buku terasa seperti tindakan melawan arus.

Membaca mengajarkan kesabaran. Ia memintamu duduk diam, menatap halaman demi halaman, lalu membiarkan imajinasi bekerja perlahan. Dan mungkin itulah yang mulai hilang dari manusia modern, kemampuan untuk diam dan mendengarkan isi pikirannya sendiri.

Kadang aku membayangkan ayahku hidup di zaman sekarang. Apakah ia juga akan sibuk bermain media sosial seperti banyak orang hari ini? Apakah ia akan membaca koran digital sambil sesekali menggulir video lucu. Atau mungkin tetap duduk tenang membaca seperti dulu?  Aku tidak tahu.

Tetapi setiap kali membuka buku, aku selalu teringat padanya. Aku teringat suara radio tua di pagi hari, dan halaman koran yang dibalik perlahan. Aku teringat percakapannya dengan Ibu yang hangat dan sederhana. Kenangan-kenangan kecil itu kini terasa sangat mahal. Barangkali manusia memang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil di rumahnya sendiri.

Foto koleksi pribadi

Kini, di kamar kecil tempatku menulis, buku-buku menjadi benda yang sangat berharga. Aku tidak punya mobil mewah, tidak punya koleksi barang mahal. Tetapi aku punya rak buku yang terus bertambah meski dompet sering menipis karenanya.

Ada kebahagiaan aneh ketika membeli buku. Mungkin sama seperti orang lain yang bahagia membeli gitar baru, sepeda mahal, atau burung peliharaan. Buku memberiku rasa dekat dengan kehidupan. Ia seperti teman yang selalu siap berbicara kapan saja.

Beberapa buku membuatku menangis diam-diam. Buku lainnya membuatku marah, berpikir, atau jatuh cinta pada dunia yang belum pernah kukenal. Dari buku-buku pula aku belajar memahami manusia. Bahwa hidup tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Sebagai penulis dan wartawan, aku sadar menulis tanpa membaca akan membuat pikiran cepat kering. Tulisan mungkin tetap bisa lahir, tetapi miskin kedalaman. Buku-buku menjadi semacam amunisi yang memperkaya cara pandangku terhadap kehidupan.

Mungkin karena itu aku selalu percaya bahwa membaca adalah bentuk kerja batin. Ia tidak selalu menghasilkan uang. Tidak selalu mendatangkan popularitas. Tetapi membaca membuat manusia punya ruang untuk berpikir lebih jernih. Dan di zaman yang penuh kebisingan saat ini, kemampuan berpikir jernih menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa otak adalah organ manusia paling seksi. Kalimat itu terdengar lucu sekaligus menarik. Tetapi semakin dewasa, aku mulai memahami maksudnya. Pengetahuan, imajinasi, dan cara seseorang memandang hidup memang bisa membuat manusia tampak sangat menarik. Dan membaca adalah salah satu jalan menuju itu.

Foto koleksi pribadi

Di luar kamar, hujan masih turun perlahan. Aku melangkah ke dapur dan menyeduh kopi lalu duduk di beranda rumah kos. Aku menutup buku sejenak, lalu memandang rak buku yang berdiri di sudut kamar.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Aku sadar, kebiasaan membaca yang kumiliki hari ini bukan muncul begitu saja. Ia diwariskan dengan cara paling sederhana oleh seorang ayah yang mungkin tidak pernah sadar betapa besar pengaruhnya terhadap hidup anaknya.

Beliau tidak pernah memaksaku membaca, menyuruhku menjadi penulis, atau memberi ceramah panjang tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau hanya membaca setiap hari, lalu tanpa sadar menunjukkan bahwa buku bisa menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Dan dari sanalah semuanya bermula. Kini, ketika dunia bergerak semakin cepat, dan manusia makin sibuk mengejar pengakuan dan perhatian, aku justru ingin kembali pada hal-hal sederhana itu. Duduk tenang membaca buku, sambil mendengarkan musik. Menikmati hujan, menulis perlahan. Sebab mungkin, di tengah dunia yang makin bising ini, membaca adalah salah satu cara terakhir untuk tetap waras sebagai manusia. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembacanostalgia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Next Post

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

Read moreDetails

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

by Angga Wijaya
May 26, 2026
0
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

Read moreDetails

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia
Persona

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
Memang Pasar Malam
Esai

Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

by Angga Wijaya
May 30, 2026
Hikayat Tuak
Liputan Khusus

Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

by Jaswanto
May 30, 2026
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan
Panggung

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional
Budaya

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co