11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 10, 2026
in Esai
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Angga sedang membaca, foto karya Deddy Suhartawan

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan.

Tidak mahal sebenarnya, tetapi seperti banyak orang yang bekerja di dunia media, membeli buku kadang perlu pertimbangan panjang. Antara kebutuhan dapur, biaya hidup, ongkos bensin, dan tagihan bulanan yang datang tanpa rasa iba, membeli buku sering terasa seperti kemewahan kecil yang harus diperjuangkan.

Namun, ada sesuatu yang selalu membuatku kembali membeli buku. Sesuatu yang mungkin sudah hidup sangat lama di dalam diriku, jauh sebelum aku menjadi wartawan, penulis, atau seseorang yang menghabiskan banyak waktu di depan laptop. Kebiasaan itu berasal dari ayah angkatku. Dari lelaki sederhana yang diam-diam menanamkan cinta membaca tanpa pernah menggurui.

Foto koleksi pribadi

Aku tumbuh di rumah tua yang besar dan penuh cinta. Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi memiliki suasana yang hangat. Di pagi hari, aroma kopi bercampur dengan suara radio dari ruang tengah. Ayahku senang mendengarkan berita dari kantor berita luar negeri melalui radio tua yang suaranya kadang berdesis. Setelah mendengar berita, ia duduk di kursi malas bersama Ibu angkatku, lalu membuka koran dengan khidmat, seperti seorang pemuka agama membuka kitab suci.

Ia membaca perlahan, membolak-balik halaman dengan serius. Kadang dahinya berkerut ketika membaca berita politik. Kadang ia tertawa kecil saat menemukan kisah-kisah lucu di halaman belakang. Setelah selesai membaca, ia mulai bercerita kepada Ibu tentang apa yang baru saja ia baca. Mereka bercakap panjang. Tentang negara lain yang sedang perang, harga beras yang naik, pejabat yang korup, hingga pertandingan sepak bola.

Aku masih kecil waktu itu. Tetapi aku ingat betul suasana pagi yang tenang tersebut. Cahaya matahari masuk dari jendela kayu. Bunyi ayam dari pekarangan terdengar samar. Dan di tengah suasana sederhana itu, aku melihat dua orang dewasa menikmati bacaan seperti menikmati hidup itu sendiri. Tanpa kusadari, dari situlah kebiasaan membaca mulai tumbuh dalam diriku.

Ayahku bukan sarjana. Ia juga bukan intelektual kampus yang pandai mengutip teori-teori rumit. Tetapi ia pembaca yang tekun. Ia percaya membaca membuat manusia tidak mudah dibohongi. Barangkali karena itulah ia begitu menikmati koran, radio, dan buku-buku sederhana yang ada di rumah.

Di masa kecilku, membaca bukan sesuatu yang keren. Tidak ada media sosial untuk memamerkan buku yang sedang dibaca. Atau, foto estetik secangkir kopi di samping novel terkenal. Membaca adalah aktivitas sunyi. Sangat pribadi. Kadang malah dianggap membosankan.

Aku masih ingat bagaimana perpustakaan sekolah dasar terasa seperti tempat asing yang jarang dikunjungi murid-murid. Rak-raknya berdebu. Buku-bukunya kusam. Tetapi aku justru senang berada di sana. Ada rasa tenang ketika membuka halaman demi halaman buku, seolah dunia menjadi lebih luas daripada kampung tempatku tinggal.

Mungkin karena sejak kecil aku sudah melihat membaca sebagai sesuatu yang intim dan hangat. Membaca bukan sekadar mencari ilmu, melainkan juga cara memahami manusia dan kehidupan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu kulakukan lagi. Di tengah dunia yang makin gaduh, aku kembali duduk membaca buku-buku yang teronggok di rak. Kadang ditemani musik klasik yang mengalun pelan dari ponsel, atau ditemani hujan yang turun perlahan di luar kamar kontrakan kecil yang kusewa.

Aku mulai berpikir, mungkin ada yang salah dengan hidup modern hari ini. Kita terlalu sering menggulir layar gawai tanpa tujuan jelas. Berjam-jam habis hanya untuk melihat video pendek yang bahkan beberapa menit kemudian sudah lupa. Kita menjadi generasi yang sulit diam, hening, dan benar-benar hadir.

Foto koleksi pribadi

Aku sendiri tidak sepenuhnya bisa lepas dari candu gawai. Sebagai wartawan, telepon genggam adalah alat kerja. Informasi bergerak cepat. Berita datang tanpa mengenal waktu. Media sosial juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetapi di sela-sela itu, aku mulai merindukan pengalaman membaca yang perlahan dan mendalam.

Membaca buku membuatku merasa kembali menjadi manusia. Ketika membaca buku, aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Tidak ada notifikasi yang memaksa perhatian, atau algoritma yang mengatur apa yang harus kulihat. Aku bebas masuk ke dunia yang dibangun penulis. Bebas berimajinasi, dan juga berpikir. Mungkin karena itu membaca sering terasa seperti perjalanan sunyi menuju diri sendiri.

Aku pernah membaca teori antropologi tentang manusia modern yang hidup dalam budaya massa. Dalam budaya semacam itu, manusia perlahan kehilangan kedalaman. Kita dijejali informasi terus-menerus, tetapi jarang benar-benar memahami sesuatu secara utuh. Kita tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak sungguh mengenali apa pun.

Media sosial mempercepat semuanya. Orang berlomba-lomba menunjukkan dirinya agar diakui keberadaannya. Foto makanan, perjalanan, pakaian baru, kopi mahal, bahkan kesedihan pun dipamerkan. Semua ingin dilihat dan mendapat perhatian. Di tengah dunia yang begitu riuh, membaca buku terasa seperti tindakan melawan arus.

Membaca mengajarkan kesabaran. Ia memintamu duduk diam, menatap halaman demi halaman, lalu membiarkan imajinasi bekerja perlahan. Dan mungkin itulah yang mulai hilang dari manusia modern, kemampuan untuk diam dan mendengarkan isi pikirannya sendiri.

Kadang aku membayangkan ayahku hidup di zaman sekarang. Apakah ia juga akan sibuk bermain media sosial seperti banyak orang hari ini? Apakah ia akan membaca koran digital sambil sesekali menggulir video lucu. Atau mungkin tetap duduk tenang membaca seperti dulu?  Aku tidak tahu.

Tetapi setiap kali membuka buku, aku selalu teringat padanya. Aku teringat suara radio tua di pagi hari, dan halaman koran yang dibalik perlahan. Aku teringat percakapannya dengan Ibu yang hangat dan sederhana. Kenangan-kenangan kecil itu kini terasa sangat mahal. Barangkali manusia memang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil di rumahnya sendiri.

Foto koleksi pribadi

Kini, di kamar kecil tempatku menulis, buku-buku menjadi benda yang sangat berharga. Aku tidak punya mobil mewah, tidak punya koleksi barang mahal. Tetapi aku punya rak buku yang terus bertambah meski dompet sering menipis karenanya.

Ada kebahagiaan aneh ketika membeli buku. Mungkin sama seperti orang lain yang bahagia membeli gitar baru, sepeda mahal, atau burung peliharaan. Buku memberiku rasa dekat dengan kehidupan. Ia seperti teman yang selalu siap berbicara kapan saja.

Beberapa buku membuatku menangis diam-diam. Buku lainnya membuatku marah, berpikir, atau jatuh cinta pada dunia yang belum pernah kukenal. Dari buku-buku pula aku belajar memahami manusia. Bahwa hidup tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Sebagai penulis dan wartawan, aku sadar menulis tanpa membaca akan membuat pikiran cepat kering. Tulisan mungkin tetap bisa lahir, tetapi miskin kedalaman. Buku-buku menjadi semacam amunisi yang memperkaya cara pandangku terhadap kehidupan.

Mungkin karena itu aku selalu percaya bahwa membaca adalah bentuk kerja batin. Ia tidak selalu menghasilkan uang. Tidak selalu mendatangkan popularitas. Tetapi membaca membuat manusia punya ruang untuk berpikir lebih jernih. Dan di zaman yang penuh kebisingan saat ini, kemampuan berpikir jernih menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa otak adalah organ manusia paling seksi. Kalimat itu terdengar lucu sekaligus menarik. Tetapi semakin dewasa, aku mulai memahami maksudnya. Pengetahuan, imajinasi, dan cara seseorang memandang hidup memang bisa membuat manusia tampak sangat menarik. Dan membaca adalah salah satu jalan menuju itu.

Foto koleksi pribadi

Di luar kamar, hujan masih turun perlahan. Aku melangkah ke dapur dan menyeduh kopi lalu duduk di beranda rumah kos. Aku menutup buku sejenak, lalu memandang rak buku yang berdiri di sudut kamar.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Aku sadar, kebiasaan membaca yang kumiliki hari ini bukan muncul begitu saja. Ia diwariskan dengan cara paling sederhana oleh seorang ayah yang mungkin tidak pernah sadar betapa besar pengaruhnya terhadap hidup anaknya.

Beliau tidak pernah memaksaku membaca, menyuruhku menjadi penulis, atau memberi ceramah panjang tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau hanya membaca setiap hari, lalu tanpa sadar menunjukkan bahwa buku bisa menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Dan dari sanalah semuanya bermula. Kini, ketika dunia bergerak semakin cepat, dan manusia makin sibuk mengejar pengakuan dan perhatian, aku justru ingin kembali pada hal-hal sederhana itu. Duduk tenang membaca buku, sambil mendengarkan musik. Menikmati hujan, menulis perlahan. Sebab mungkin, di tengah dunia yang makin bising ini, membaca adalah salah satu cara terakhir untuk tetap waras sebagai manusia. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembacanostalgia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Next Post

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails

Era Chatting Telah Berlalu

by Angga Wijaya
July 7, 2026
0
Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

Read moreDetails

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co