Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot masih mati, dan ruangan masih lengang. Kalau berada lebih dekat, karya seni di atas kanvas itu sudah mengisyaratkan makna mendalam. Sementara di halaman hijau, aneka menu ringan siap menyambut para pengunjung yang hadir. Setelah orang-orang berdatangan, ruang terbuka itupun penuh dengan percakapan seni yang akhirnya resmi menjadi acara seni.
Jumat, 8 Mei 2026, sore menjelang malam itu, adalah suasana pembukaan pameran seni rupa bertajuk “Vernal Artistic” di Santrian Art Gallery Sanur. Pada pameran kali ini, ada empat seniman yang sepakat melakukan pameran bersama di gallery yang masih berada di areal Griya Santrian a Beach Resort & Spa, Sanur itu. Keempat perupa Bali itu adalah Edy Asparanggi, I Gede Sugiada, IB Suryantara, dan Dewa Gede Agung yang menampilkan sebanyak 23 karya seni.

Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, Rektor ISI Bali, didampingi owner Santrian Art Gallery, Ida Bagus Sidartha Putra kemudian membuka pameran ditandai dengan pengguntingan bunga tepat di depan pintu masuk gallery. Lampu-lampu sorot itu pun menyala membuat ruang gallery menjadi terang, seterang semangat para perupa yang berpameran. Pengunjung kemudian lebih leluasa menyaksikan dan mencoba menafsir pesan dan makna dalam karya itu. Ada pula yang sekadar merasakan keindahan goresan serta warna yang ada.
Kurator I Made Susanta Dwitanaya sebelum pameran menyampaikan, keempat perupa ini, menghadirkan karya yang terakumulasi dari hasil pengendapan gagasan dan eksplorasi diri di laboratorium kreatif. Sekian waktu jeda dari kehadiran mereka di “panggung” pameran telah mereka lalui untuk larut dalam eksplorasi gagasan dan visual, yang hari ini dapat disaksikan bersama hasilnya. Karena itu, Vernal Artistic, pemaknaan atas musim semi kreatifitas keempat perupa.
Tema “Vernal Artistic” adalah musim semi artistik. Musim ketika garis meliuk dinamis, ketika bidang dan ruang menolak stagnan, komposisi terkonfigurasi dinamis, ketika warna menemukan auranya kembali. Para perupa yang dulu menyelami kesunyian itu muncul kembali seperti akar yang menembus batu, tunas yang membelah biji. Mereka melukis bukan untuk menggambarkan tapi untuk menghidupkan, mereka menumpahkan rupa untuk memaknai waktu dan diri yang telah difermentasi oleh kesabaran dan juga pengalaman-pengalaman diri. Setiap torehan garis, sapuan sapuan kuas, komposisi objek dan ruang adalah denyut perkecambahan baru yang bergerak menuju cahaya, seperti tunas tunas musim semi yang menuju cahaya, menumbuhkan batang, cabang, ranting , daun, memekarkan bunga dan buah yang segar.

“Vernal Artistic” adalah gerak hidup yang diterjemahkan ke dalam warna. Ia adalah saat ketika kesunyian berfotosintesis menjadi rupa, ketika diam bertransformasi menjadi ritme,ketika yang beku akhirnya meleleh menjadi komposisi yang hidup. Setiap karya di sini seperti tubuh musim semi itu sendiri: menumbuhkan tunas, menegakkan batang, membuka stomata, menyerap cahaya, dan menyalurkannya ke segala arah.
Ia tumbuh dalam keberanian yang pelan tapi pasti, dalam kerendahan hati yang mekar, dalam keyakinan bahwa keindahan sejati tidak lahir dari proses yang instan, melainkan dari proses fermentasi waktu dan momentum. Para perupa kini kembali pada cahaya semangat penciptaan yang disadari dan dihayati sebagai musim semi artistik yang sedang dirasakan oleh ; Putu Edi Asparanggi, I Gede Sugiada “Anduk”, Ida Bagus Suryantara “Cooh”, dan Dewa Gede Agung.
Di kanan pintu masuk gallery ada karya lukis panel berjudul Bhuana Agung Bhuana Alit merupakan karya IB Suryantara. Karya ini merupakan gabungan dari karya-karya kecil dengan arti masing-masing (bhuana alit). Tetapi, setelah digabung disatukan menjadi lebih besar (bhuana agung) yang memiliki makna keseimbangan. Bahan yang digunakan adalah kertas daur ulang yang ditata indah. Pemilihan bahan ini karena konsep pameran yaitu menjaga lingkungan.

Sementara karya lain menyajikan berbagai figur yang diangkat berangkat dari eksplorasi ikonografi rupa wayang dihadirkan dalam narasi yang lebih personal, tidak lagi terikat dengan narasi pada epos tertentu yang menjadi ciri khas karya-karya seni lukis Bali. Selain itu, karya Rwa Bhineda. Karya-karya yang disajikan lebih menampilkan pada kekuatan garis dan bentuk khas seni lukis Bali serta teknik pewarnaan sigar warna dieksplorasi sedemikian rupa melalui karya-karya.
Berbagai figur yang berangkat dari eksplorasi ikonografi rupa wayang dihadirkan dalam narasi yang lebih personal, tidak lagi terikat dengan narasi pada epos tertentu yang menjadi ciri khas karya-karya seni lukis Bali. Inilah nilai artistik yang dapat dibaca pada karya-karya mutakhir IB Suryantara.
Putu Edi Asparanggi menyajikan karya yang berjudul “Ngintip Capung”. Karya ini menghadirkan sosok barong dengan penggambaran elemen-elemen ornamen berupa dedaunan yang tak ditampilkan secara stiliristik melain secara naturalistik. Barong ini bukan idenya di dalam pementasan, tetapi barong yang sedang bermain-main dengan capung.
Hal ini juga tampak pada karya berjudul “Bedawang” sosok kura kura raksasa yang dalam mitologi Bali sebagai penyangga bumi. Karya-karya Putu Edi Asparanggi menghadirkan nuansa surealistik dengan pilihan warna-warna yang hangat, berbagai mahkluk mitologis yang berakar dari kebudayaan visual Bali yang dieksplorasi ikonografi visualnya menjadi bahasa yang lebih personal. Aspek dekoratif pada karya-karya budaya rupa Bali coba dihadirkan secara volumetris oleh Edi.


Sementara I Gede Sugiada “Anduk” dalam setiap karya-karyanya menampilkan kekhasan warna yang cenderung hangat, pengolahan bentuk serta komposisi yang dinamis tampak pada karya-karya terbaru. Sejak beberapa tahun terakhir karya karya Sugiada memperlihatkan nuansa warna yang lebih bright ketimbang karya-karya pada periode sebelumnya yang cenderung mengeksplore warna yang lebih temaram.
Selain itu karya-karya Sugiada dalam pameran ini juga memperlihatkan komposisi yang lebih dinamis, objek objek yang tersusun dari bentuk bentuk plastis seperti figur tubuh, aneka tumbuhan yang cenderung ornamentik berpadu dengan komposisi bidang-bidang geometris yang tersusun menjadi motif, kombinasi dua karakter bentuk yang kontras antara yang dinamis dan geometris menghadirkan satu pola komposisi yang meski terlihat acak namun tetap terasa harmonis dalam nuansa warna warni yang cenderung hangat.


Sedangkan Dewa Gede Agung dalam pameran ini menghadirkan eksplorasi visual terbarunya yang berangkat dari pengolahan elemen garis, lalu bergerak menuju pengolahan atas unsur unsur ornamentik. Dewa memberikan pernyataan artistik atas karya-karya dan proses kreatifnya, ia memandang karyanya sebagai metafora dari siklus hidup sebuah tumbuhan yang berangkat dari biji yang tertanam di tanah sebagai gagasan, lalu berkecambah yakni elemen garis, kecambah ini terus bertumbuh secara dinamis, menjadi sulur sulur atau yang dalam istilah Bali disebut “util”.
Dari kesadaran konseptual ini karya-karya dewa berangkat, setiap visual yang hadir adalah hasil dari pergerakan dan dinamika garis yang “menjalar” dan “bertumbuh” terkadang menjadi figur dan objek terkadang menjadi ornamen, dan terkadang bergerak secara esensial menjadi komposisi garis dan bidang bidang abstrak, yang dikombinasikan pula dengan aspek warna maupun monokromatik hitam dan putih. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole




























