11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
in Esai
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium puja. Beberapa kakawin menyebutkan istilah ‘candya nireng bhasa’, ‘candya nireng palambang’ yang berarti menstanakannya dalam kakawin’. Sastra layaknya sebuah candi yang dikonstruksi oleh aksara dan bahasa. Melalui karya sastra, seorang penyair memuja sang dewata pujaan dan berharap dapat mencapai kebahagiaan abadi bahkan menyatu dengan sang dewata. Sehingga karya sastra Jawa Kuno khususnya kakawin selain sebagai media seni, juga merupakan media religius bagi penyair.

Monumen puja juga merujuk pada candi dalam bentuk bangunan fisik. Ia disusun dengan bebatuan dirangkai dengan teknik arsitektur. Setelah candi terbangun pada akhirnya akan difungsikan sebagai tempat pemujaan sang dewata junjungan. Candi oleh masyarakat Jawa Kuno juga merupakan yantra (piranti puja) yang amat penting. Sebab candi akan digunakan sebagai lingga stana sang dewata dan melalui candi para baktanya akan memujanya.

Ida Sri Pandita Buddha Raksita berasal dari Grya Taman Kencana, Beratan, Buleleng. Catatan kecil ini merupakan penjelajahan awal, setelah saya melaksanakan penelitian skripsi. Tentu, jejak spiritualitas beliau masih sangat luas. Sehingga membuka peluang untuk dijelajahi lebih dalam.

Akirti Sastra: Karya Sastra Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Ida Sri Pandita Buddha Raksita, seorang bakta Buddha, yang mewujudkan bakti tidak hanya melalui puja dan mantra semata. Ia juga pemuja Saraswati, sehingga pengetahuannya diabadikan melalui wija-wija aksara. Sebagai seorang kawi-wiku (penyair sekaligus pendeta) setidaknya mengarang tiga karya sastra yang baru saya temukan. Karya sastra tersebut berupa satu kakawin berjudul Kakawin Siddharthayana, dan dua geguritan berjudul Gaguritan Galang Sasih dan Gaguritan Grhasta Winaya.

Kakawin Siddharthayana menceritakan perjalanan panjang dari pangeran Siddhartha hingga menjadi Buddha[i]. Sedangkan Gaguritan Galang Sasih pada bagian awal berisi pemujaan kepada Bhatara Buddha yang mencapai kesempurnaan spiritual tepat setiap Purnama Waisaka. Kemudian dilanjutkan dengan dialog antara seorang ayah dan anak yang membahas mengenai hakikat kehidupan. Sedangkan Gaguritan Grhasta Winaya menjelaskan mengenai beberapa kewajiban manusia ketika sebagai anak, ayah, suami, istri, dan teman.

 Ketiga karya sastra tersebut ditemukan dalam bentuk yang berbeda. Kakawin Siddharthayana ditemukan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali dalam bentuk manuskrip. Sedangkan dua geguritan lainnya dalam bentuk ketikan di salah satu website salah satu vihara di Buleleng.

Buddha Yantra: Stana Sang Buddha

Selain mengarang karya sastra bertema Buddhisme, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha juga membangun candi di wilayah Danau Beratan, Tabanan. Candi tersebut bernama Candi Buddhalaya[ii]. Melalui koleksi kliping dari sang anak, Bapak Agung Sapande, penulis mendapatkan informasi penting mengenai candi ini. ‘Buddhalaya’ berarti Sorga Buddha, berada pada areal taman bunga suasana di candi ini memang layak disebut sebagai sorga.

Berdasarkan kliping tersebut candi ini dibangun pada tahun 1964 atas prakarsa dari Ida Sri Pandita Buddha Raksitha. Candi ini berada di utara menghadap keselatan. Struktur candi ini terdiri dari tiga tingkat dan berbentuk persegi delapan. Pada tingkat pertama terdapat 5 anak tangga untuk mengakses struktur tingkat kedua, di sisi kiri dan kanannya dilengkapi dua patung gajah. Pada tingkat kedua terdapat arca Buddha pada sisi depan, belakang, kiri, dan kanan. Sedangkan pada tingkat ketiga terdapat arca Buddha pada bagian depan dan belakang. Serta memiliki atap bertumpuk lima dan satu atap dengan bentuk agak menjulang dan memiliki delapan sisi. Candi ini belum tersentuh oleh penelitian ilmiah, sehingga dimensinya tidak dapat diketahui..  

Menuntun dan Membangun

Menurut informasi yang saya baca melalui kliping yang dimuat oleh media “Vimutti”, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha merupakan seorang penganut Buddhis Theravada. Uniknya walaupun beliau seorang bante buddhis, masyarakat Desa Beratan menganggap beliau sebagai sulinggih. Sehingga ketika berada di kampung halaman sapaan akrab beliau adalah ‘Sri Empu’ panggilan untuk sulinggih dari golongan Pande di Bali.

Sebagai seorang yang telah menjadi bantesekaligus sulinggih, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha menjalankan swadharmanya dengan tulus. Penelitian dari I Gde Pitana menjelaskan, walaupun Ida Sri Pandita Buddha Raksitha diketahui menganut Buddhisme, masyarakat Hindu di Bali tidak mempermasalahkannya. Ketika diminta untuk melaksanakan puja oleh umat Hindu, Sri Pandita tidak menggunakan piranti seperti sulinggih pada umumnya. Beliau hanya menggunakan piranti yang disiapkan, apapun akan diterimanya. Ketulusannya memberikan sinar yang berbeda, terang namun menghangatkan. Sehingga beberapa calon sulinggih memilihnya menjadi seorang nabe (guru bagi calon sulinggih).

Beberapa murid beliau adalah Ida Sri Mpu Dharma Dasi (Tamanbali, Bangli), Ida Sri Mpu Karuna Putra (Budeng, Jembrana), Ida Sri Mpu Upaksa Priya (Tusan, Klungkung), dan Ida Sri Mpu Mudita Baja (Budaga, Klungkung/Donggala)[iii].

Semangat beliau terus berlanjut dalam mengembangkan Buddhisme di Bali, khususnya di daerah Bali Utara. Melalui tangan dinginnya, beberapa Vihara berhasil dibangun. Salah satunya adalah Vihara Giri Manggala yang terletak di Desa Alasangker, Buleleng. Atas segala jasa dalam mengabdi dan mengembangkan Buddha di Bali, pada tahun 2008 Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) menghaturkan penghargaan “Upadhika Dharmmarakkhita Utama” kepada Ida Sri Pandita Buddha Raksitha.

Jejak spiritualitas beliau yang teralirkan melalui sungi sastra mengindikasikan bahwa Ida Sri Pandita Buddha Raksitha tidak memandang status pemuka agama hanya untuk memimpin upacara semata. Nyatanya jalan yoga dipilih sama seperti beberapa kawi-wiku pendahulunya yakni Ida Pedanda Ngurah, Ida Pedanda Made Sidemen, dan Ida Pedanda Panida Wanasara yang melakukan yoga melalui sastra. Dengan meminjam istilah dari Agastia, yoga sastra sangat memungkinkan seorang kawi-wiku mencapai tingkat kenirmalaan yang sempurna. Sebab tidak mungkin seseorang dapat mengarang suatu karya sastra seperti kakawin, tanpa memiliki sumber bacaan yang tidak saja banyak secara kuantitas namun juga berkualitas tinggi. Walaupun beliau lahir dari rahim Buddhisme Theravada, kebudayaan Nusantara yang adi luhung tetap dipelajari bahkan dikusai dengan baik. Mengarang kakawin termasuk geguritan, menuntut pemahaman yang baik terhadap perihal aksara Bali dan bahasa Bali, bahasa Jawa Kuno, serta pengetahuan tattwa (filsafat). Ida Sri Pandita Buddha Raksitha telah memberikan gambaran sinkritisme Siwa-Buddha yang menubuh pada dirinya. Menjadi seorang bante sekaligus sri empu bukanlah hal yang mudah. Namun dengan segala bukti yang ditinggalkannya, maka kita yakin beliau adalah kawi-wiku yang berkualitas. [T]


[i] Wangsa, I Gusti Putu Weda Adi. (2026). Transformasi Spiritual Siddhartha dalam Kakawin Siddharthayana: Analisis Semiotik: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

[ii] Majalah Vimutti koleksi Bapak Agung Sapande

[iii] Pitana, I Gde. (1997). Origin Groups, Status and Identity in Contemporary Bali: Doctor of Philosophy, Australian National University

Tags: sastrasastra balisastra bali klasikSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Next Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co