2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
in Esai
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium puja. Beberapa kakawin menyebutkan istilah ‘candya nireng bhasa’, ‘candya nireng palambang’ yang berarti menstanakannya dalam kakawin’. Sastra layaknya sebuah candi yang dikonstruksi oleh aksara dan bahasa. Melalui karya sastra, seorang penyair memuja sang dewata pujaan dan berharap dapat mencapai kebahagiaan abadi bahkan menyatu dengan sang dewata. Sehingga karya sastra Jawa Kuno khususnya kakawin selain sebagai media seni, juga merupakan media religius bagi penyair.

Monumen puja juga merujuk pada candi dalam bentuk bangunan fisik. Ia disusun dengan bebatuan dirangkai dengan teknik arsitektur. Setelah candi terbangun pada akhirnya akan difungsikan sebagai tempat pemujaan sang dewata junjungan. Candi oleh masyarakat Jawa Kuno juga merupakan yantra (piranti puja) yang amat penting. Sebab candi akan digunakan sebagai lingga stana sang dewata dan melalui candi para baktanya akan memujanya.

Ida Sri Pandita Buddha Raksita berasal dari Grya Taman Kencana, Beratan, Buleleng. Catatan kecil ini merupakan penjelajahan awal, setelah saya melaksanakan penelitian skripsi. Tentu, jejak spiritualitas beliau masih sangat luas. Sehingga membuka peluang untuk dijelajahi lebih dalam.

Akirti Sastra: Karya Sastra Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Ida Sri Pandita Buddha Raksita, seorang bakta Buddha, yang mewujudkan bakti tidak hanya melalui puja dan mantra semata. Ia juga pemuja Saraswati, sehingga pengetahuannya diabadikan melalui wija-wija aksara. Sebagai seorang kawi-wiku (penyair sekaligus pendeta) setidaknya mengarang tiga karya sastra yang baru saya temukan. Karya sastra tersebut berupa satu kakawin berjudul Kakawin Siddharthayana, dan dua geguritan berjudul Gaguritan Galang Sasih dan Gaguritan Grhasta Winaya.

Kakawin Siddharthayana menceritakan perjalanan panjang dari pangeran Siddhartha hingga menjadi Buddha[i]. Sedangkan Gaguritan Galang Sasih pada bagian awal berisi pemujaan kepada Bhatara Buddha yang mencapai kesempurnaan spiritual tepat setiap Purnama Waisaka. Kemudian dilanjutkan dengan dialog antara seorang ayah dan anak yang membahas mengenai hakikat kehidupan. Sedangkan Gaguritan Grhasta Winaya menjelaskan mengenai beberapa kewajiban manusia ketika sebagai anak, ayah, suami, istri, dan teman.

 Ketiga karya sastra tersebut ditemukan dalam bentuk yang berbeda. Kakawin Siddharthayana ditemukan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali dalam bentuk manuskrip. Sedangkan dua geguritan lainnya dalam bentuk ketikan di salah satu website salah satu vihara di Buleleng.

Buddha Yantra: Stana Sang Buddha

Selain mengarang karya sastra bertema Buddhisme, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha juga membangun candi di wilayah Danau Beratan, Tabanan. Candi tersebut bernama Candi Buddhalaya[ii]. Melalui koleksi kliping dari sang anak, Bapak Agung Sapande, penulis mendapatkan informasi penting mengenai candi ini. ‘Buddhalaya’ berarti Sorga Buddha, berada pada areal taman bunga suasana di candi ini memang layak disebut sebagai sorga.

Berdasarkan kliping tersebut candi ini dibangun pada tahun 1964 atas prakarsa dari Ida Sri Pandita Buddha Raksitha. Candi ini berada di utara menghadap keselatan. Struktur candi ini terdiri dari tiga tingkat dan berbentuk persegi delapan. Pada tingkat pertama terdapat 5 anak tangga untuk mengakses struktur tingkat kedua, di sisi kiri dan kanannya dilengkapi dua patung gajah. Pada tingkat kedua terdapat arca Buddha pada sisi depan, belakang, kiri, dan kanan. Sedangkan pada tingkat ketiga terdapat arca Buddha pada bagian depan dan belakang. Serta memiliki atap bertumpuk lima dan satu atap dengan bentuk agak menjulang dan memiliki delapan sisi. Candi ini belum tersentuh oleh penelitian ilmiah, sehingga dimensinya tidak dapat diketahui..  

Menuntun dan Membangun

Menurut informasi yang saya baca melalui kliping yang dimuat oleh media “Vimutti”, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha merupakan seorang penganut Buddhis Theravada. Uniknya walaupun beliau seorang bante buddhis, masyarakat Desa Beratan menganggap beliau sebagai sulinggih. Sehingga ketika berada di kampung halaman sapaan akrab beliau adalah ‘Sri Empu’ panggilan untuk sulinggih dari golongan Pande di Bali.

Sebagai seorang yang telah menjadi bantesekaligus sulinggih, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha menjalankan swadharmanya dengan tulus. Penelitian dari I Gde Pitana menjelaskan, walaupun Ida Sri Pandita Buddha Raksitha diketahui menganut Buddhisme, masyarakat Hindu di Bali tidak mempermasalahkannya. Ketika diminta untuk melaksanakan puja oleh umat Hindu, Sri Pandita tidak menggunakan piranti seperti sulinggih pada umumnya. Beliau hanya menggunakan piranti yang disiapkan, apapun akan diterimanya. Ketulusannya memberikan sinar yang berbeda, terang namun menghangatkan. Sehingga beberapa calon sulinggih memilihnya menjadi seorang nabe (guru bagi calon sulinggih).

Beberapa murid beliau adalah Ida Sri Mpu Dharma Dasi (Tamanbali, Bangli), Ida Sri Mpu Karuna Putra (Budeng, Jembrana), Ida Sri Mpu Upaksa Priya (Tusan, Klungkung), dan Ida Sri Mpu Mudita Baja (Budaga, Klungkung/Donggala)[iii].

Semangat beliau terus berlanjut dalam mengembangkan Buddhisme di Bali, khususnya di daerah Bali Utara. Melalui tangan dinginnya, beberapa Vihara berhasil dibangun. Salah satunya adalah Vihara Giri Manggala yang terletak di Desa Alasangker, Buleleng. Atas segala jasa dalam mengabdi dan mengembangkan Buddha di Bali, pada tahun 2008 Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) menghaturkan penghargaan “Upadhika Dharmmarakkhita Utama” kepada Ida Sri Pandita Buddha Raksitha.

Jejak spiritualitas beliau yang teralirkan melalui sungi sastra mengindikasikan bahwa Ida Sri Pandita Buddha Raksitha tidak memandang status pemuka agama hanya untuk memimpin upacara semata. Nyatanya jalan yoga dipilih sama seperti beberapa kawi-wiku pendahulunya yakni Ida Pedanda Ngurah, Ida Pedanda Made Sidemen, dan Ida Pedanda Panida Wanasara yang melakukan yoga melalui sastra. Dengan meminjam istilah dari Agastia, yoga sastra sangat memungkinkan seorang kawi-wiku mencapai tingkat kenirmalaan yang sempurna. Sebab tidak mungkin seseorang dapat mengarang suatu karya sastra seperti kakawin, tanpa memiliki sumber bacaan yang tidak saja banyak secara kuantitas namun juga berkualitas tinggi. Walaupun beliau lahir dari rahim Buddhisme Theravada, kebudayaan Nusantara yang adi luhung tetap dipelajari bahkan dikusai dengan baik. Mengarang kakawin termasuk geguritan, menuntut pemahaman yang baik terhadap perihal aksara Bali dan bahasa Bali, bahasa Jawa Kuno, serta pengetahuan tattwa (filsafat). Ida Sri Pandita Buddha Raksitha telah memberikan gambaran sinkritisme Siwa-Buddha yang menubuh pada dirinya. Menjadi seorang bante sekaligus sri empu bukanlah hal yang mudah. Namun dengan segala bukti yang ditinggalkannya, maka kita yakin beliau adalah kawi-wiku yang berkualitas. [T]


[i] Wangsa, I Gusti Putu Weda Adi. (2026). Transformasi Spiritual Siddhartha dalam Kakawin Siddharthayana: Analisis Semiotik: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

[ii] Majalah Vimutti koleksi Bapak Agung Sapande

[iii] Pitana, I Gde. (1997). Origin Groups, Status and Identity in Contemporary Bali: Doctor of Philosophy, Australian National University

Tags: sastrasastra balisastra bali klasikSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Next Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co