19 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
in Esai
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium puja. Beberapa kakawin menyebutkan istilah ‘candya nireng bhasa’, ‘candya nireng palambang’ yang berarti menstanakannya dalam kakawin’. Sastra layaknya sebuah candi yang dikonstruksi oleh aksara dan bahasa. Melalui karya sastra, seorang penyair memuja sang dewata pujaan dan berharap dapat mencapai kebahagiaan abadi bahkan menyatu dengan sang dewata. Sehingga karya sastra Jawa Kuno khususnya kakawin selain sebagai media seni, juga merupakan media religius bagi penyair.

Monumen puja juga merujuk pada candi dalam bentuk bangunan fisik. Ia disusun dengan bebatuan dirangkai dengan teknik arsitektur. Setelah candi terbangun pada akhirnya akan difungsikan sebagai tempat pemujaan sang dewata junjungan. Candi oleh masyarakat Jawa Kuno juga merupakan yantra (piranti puja) yang amat penting. Sebab candi akan digunakan sebagai lingga stana sang dewata dan melalui candi para baktanya akan memujanya.

Ida Sri Pandita Buddha Raksita berasal dari Grya Taman Kencana, Beratan, Buleleng. Catatan kecil ini merupakan penjelajahan awal, setelah saya melaksanakan penelitian skripsi. Tentu, jejak spiritualitas beliau masih sangat luas. Sehingga membuka peluang untuk dijelajahi lebih dalam.

Akirti Sastra: Karya Sastra Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

Ida Sri Pandita Buddha Raksita, seorang bakta Buddha, yang mewujudkan bakti tidak hanya melalui puja dan mantra semata. Ia juga pemuja Saraswati, sehingga pengetahuannya diabadikan melalui wija-wija aksara. Sebagai seorang kawi-wiku (penyair sekaligus pendeta) setidaknya mengarang tiga karya sastra yang baru saya temukan. Karya sastra tersebut berupa satu kakawin berjudul Kakawin Siddharthayana, dan dua geguritan berjudul Gaguritan Galang Sasih dan Gaguritan Grhasta Winaya.

Kakawin Siddharthayana menceritakan perjalanan panjang dari pangeran Siddhartha hingga menjadi Buddha[i]. Sedangkan Gaguritan Galang Sasih pada bagian awal berisi pemujaan kepada Bhatara Buddha yang mencapai kesempurnaan spiritual tepat setiap Purnama Waisaka. Kemudian dilanjutkan dengan dialog antara seorang ayah dan anak yang membahas mengenai hakikat kehidupan. Sedangkan Gaguritan Grhasta Winaya menjelaskan mengenai beberapa kewajiban manusia ketika sebagai anak, ayah, suami, istri, dan teman.

 Ketiga karya sastra tersebut ditemukan dalam bentuk yang berbeda. Kakawin Siddharthayana ditemukan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali dalam bentuk manuskrip. Sedangkan dua geguritan lainnya dalam bentuk ketikan di salah satu website salah satu vihara di Buleleng.

Buddha Yantra: Stana Sang Buddha

Selain mengarang karya sastra bertema Buddhisme, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha juga membangun candi di wilayah Danau Beratan, Tabanan. Candi tersebut bernama Candi Buddhalaya[ii]. Melalui koleksi kliping dari sang anak, Bapak Agung Sapande, penulis mendapatkan informasi penting mengenai candi ini. ‘Buddhalaya’ berarti Sorga Buddha, berada pada areal taman bunga suasana di candi ini memang layak disebut sebagai sorga.

Berdasarkan kliping tersebut candi ini dibangun pada tahun 1964 atas prakarsa dari Ida Sri Pandita Buddha Raksitha. Candi ini berada di utara menghadap keselatan. Struktur candi ini terdiri dari tiga tingkat dan berbentuk persegi delapan. Pada tingkat pertama terdapat 5 anak tangga untuk mengakses struktur tingkat kedua, di sisi kiri dan kanannya dilengkapi dua patung gajah. Pada tingkat kedua terdapat arca Buddha pada sisi depan, belakang, kiri, dan kanan. Sedangkan pada tingkat ketiga terdapat arca Buddha pada bagian depan dan belakang. Serta memiliki atap bertumpuk lima dan satu atap dengan bentuk agak menjulang dan memiliki delapan sisi. Candi ini belum tersentuh oleh penelitian ilmiah, sehingga dimensinya tidak dapat diketahui..  

Menuntun dan Membangun

Menurut informasi yang saya baca melalui kliping yang dimuat oleh media “Vimutti”, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha merupakan seorang penganut Buddhis Theravada. Uniknya walaupun beliau seorang bante buddhis, masyarakat Desa Beratan menganggap beliau sebagai sulinggih. Sehingga ketika berada di kampung halaman sapaan akrab beliau adalah ‘Sri Empu’ panggilan untuk sulinggih dari golongan Pande di Bali.

Sebagai seorang yang telah menjadi bantesekaligus sulinggih, Ida Sri Pandita Buddha Raksitha menjalankan swadharmanya dengan tulus. Penelitian dari I Gde Pitana menjelaskan, walaupun Ida Sri Pandita Buddha Raksitha diketahui menganut Buddhisme, masyarakat Hindu di Bali tidak mempermasalahkannya. Ketika diminta untuk melaksanakan puja oleh umat Hindu, Sri Pandita tidak menggunakan piranti seperti sulinggih pada umumnya. Beliau hanya menggunakan piranti yang disiapkan, apapun akan diterimanya. Ketulusannya memberikan sinar yang berbeda, terang namun menghangatkan. Sehingga beberapa calon sulinggih memilihnya menjadi seorang nabe (guru bagi calon sulinggih).

Beberapa murid beliau adalah Ida Sri Mpu Dharma Dasi (Tamanbali, Bangli), Ida Sri Mpu Karuna Putra (Budeng, Jembrana), Ida Sri Mpu Upaksa Priya (Tusan, Klungkung), dan Ida Sri Mpu Mudita Baja (Budaga, Klungkung/Donggala)[iii].

Semangat beliau terus berlanjut dalam mengembangkan Buddhisme di Bali, khususnya di daerah Bali Utara. Melalui tangan dinginnya, beberapa Vihara berhasil dibangun. Salah satunya adalah Vihara Giri Manggala yang terletak di Desa Alasangker, Buleleng. Atas segala jasa dalam mengabdi dan mengembangkan Buddha di Bali, pada tahun 2008 Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) menghaturkan penghargaan “Upadhika Dharmmarakkhita Utama” kepada Ida Sri Pandita Buddha Raksitha.

Jejak spiritualitas beliau yang teralirkan melalui sungi sastra mengindikasikan bahwa Ida Sri Pandita Buddha Raksitha tidak memandang status pemuka agama hanya untuk memimpin upacara semata. Nyatanya jalan yoga dipilih sama seperti beberapa kawi-wiku pendahulunya yakni Ida Pedanda Ngurah, Ida Pedanda Made Sidemen, dan Ida Pedanda Panida Wanasara yang melakukan yoga melalui sastra. Dengan meminjam istilah dari Agastia, yoga sastra sangat memungkinkan seorang kawi-wiku mencapai tingkat kenirmalaan yang sempurna. Sebab tidak mungkin seseorang dapat mengarang suatu karya sastra seperti kakawin, tanpa memiliki sumber bacaan yang tidak saja banyak secara kuantitas namun juga berkualitas tinggi. Walaupun beliau lahir dari rahim Buddhisme Theravada, kebudayaan Nusantara yang adi luhung tetap dipelajari bahkan dikusai dengan baik. Mengarang kakawin termasuk geguritan, menuntut pemahaman yang baik terhadap perihal aksara Bali dan bahasa Bali, bahasa Jawa Kuno, serta pengetahuan tattwa (filsafat). Ida Sri Pandita Buddha Raksitha telah memberikan gambaran sinkritisme Siwa-Buddha yang menubuh pada dirinya. Menjadi seorang bante sekaligus sri empu bukanlah hal yang mudah. Namun dengan segala bukti yang ditinggalkannya, maka kita yakin beliau adalah kawi-wiku yang berkualitas. [T]


[i] Wangsa, I Gusti Putu Weda Adi. (2026). Transformasi Spiritual Siddhartha dalam Kakawin Siddharthayana: Analisis Semiotik: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

[ii] Majalah Vimutti koleksi Bapak Agung Sapande

[iii] Pitana, I Gde. (1997). Origin Groups, Status and Identity in Contemporary Bali: Doctor of Philosophy, Australian National University

Tags: sastrasastra balisastra bali klasikSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Next Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
0
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan
Panggung

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali
Bahasa

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

by I Made Sudiana
June 18, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang
Ulas Rupa

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

by Mahesa Putra
June 18, 2026
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda
Panggung

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas
Esai

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

by Pande Susan
June 18, 2026
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain
Esai

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

by Angga Wijaya
June 18, 2026
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’
Pop

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang...

by Dede Putra Wiguna
June 18, 2026
Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co