Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka, baik fisik maupun batin menjadi inspirasi yang kemudian sebagai bagian dari karya seni itu sendiri. Dokumentasi pengalaman para senimannya sering kali mengubah pengalaman hidup, tantangan, dan rintangan menjadi yang dialami menjadi karya seni yang mampu menggugah emosi penikmatnya.
Hal itu dapat dilihat dalam pameran seni rupa bertajuk “Arka Umbara” di TAT Art Space, dimana hasil dari perjalanan para seniman Jongsarad Bali dipamerkan sekaligus sebagai ajang untuk berbagi cerita dari seniman untuk para pengunjung pameran. Pameran dibuka oleh Ni Wayan Sani pada Sabtu, 9 Mei 2026. Dalam pameran itu, sebanyak 14 seniman memajang beragam karya yang menawarkan berbagai cerita menarik, dan tentunya menginspirasi.
Para perupa yang berpameran itu, adalah Anik Argianti, Arsaiga, Aristya Purnama, Candra Astuti, Deta Artista, Giri Arnaga, I Wayan Adi Surya Pratama, Karin Puspitasari, Ni Kadek Novi Sumariyanti, Rini Widariyanti, Sakde Oka, Teratai Api, Tridanaputra, dan Ugi Gayatri.
Dalam pembukaan “Arka Umbara”, acara dikemas sangat akrab dengan talkshow dan apresiasi seni. Talk Show Tentang Karya dan Dampak Negatif konsumerisme berlebihan Bagi Lingkungan. Mula-mula membahas karya yang dipamerakan dan soal konsumerisme berlebihan. Saat membahas karya seni diisi oleh 6 seniman yang menjadi perwakilan. Sedangkan talk show konsumerisme berlebihan diisi oleh tokoh yang membahas dampak konsumerisme berlebihan bagi lingkungan, dimana hasil dari konsumerisme berlebihan adalah sampah yang melimpah.

Ketua panitia, Prangga Wardana sejak awal menyambut para audience dan menjelaskan tentang tema dari pameran senirupa. Kemudian beberapa seniman yang berkontribusi dalam pameran ini memberikan testimoni dan sudut pandangnya dalam berkontribusi dalam pameran ini.
Pameran Arka Umbara berangkat dari pameran sebelumnya, Kules: Kriya Patra, yang menekankan transformasi gagasan akademik menjadi karya visual yang lebih segar. Namun, Jongsarad kini memasuki babak baru, Umbara adalah langkah keluar menuju perjalanan yang lebih luas, tempat para seniman menatap kembali jejak yang telah dilalui sekaligus membuka ruang bagi pengalaman baru.
Pameran ini terinspirasi dari tahun Kuda Api, Umbara memaknai energi, pergerakan, dan transformasi sebagai dorongan utama dalam perjalanan kreatif. Kuda Api melambangkan dinamika batin yang terus bergerak, melampaui batas lama, dan mencari arah yang lebih baik. “Semangat inilah yang menghidupkan Pameran Arka Umbara, menghadirkan karya-karya yang bersumber dari perjalanan seniman Jongsarad baik secara kolektif maupun soliter, dengan semua ketidakpastian dan kejutan yang justru menjadi hadiah dari proses panjang tersebut,” ucap Prangga Wardana.
Melalui lukisan, patung, instalasi, dan berbagai eksplorasi visual lainnya, Umbara menjadi ruang kembali. Sebuah tempat untuk menuturkan ulang apa yang pernah ditempuh, memahami bagaimana perjalanan membentuk dan mengubah, serta merayakan energi yang menggerakkan langkah berikutnya. “Melalui pameran Arka Umbara, kami ingin mengajak penikmat seni untuk menyelami kisah perjalanan itu, melihat bahwa transformasi bukan hanya tujuan, tetapi perjalanan itu sendiri,” paparnya.
Para pengunjung mendapat kesempatan menjelajahi pameran secara mandiri. Mereka dapat menikmati sajian seni kreatif itu. Menariknya, kegiatan jelajah itu terkesan bebas, karena pengunjung dapat konsultasi dengan seniman, foto bersama di depan karya, atau mengekspresikan kreativitas mereka sendiri. Pengunjung, lalu mengapresiasi karya yang dipajang sekaligus dilengkapi dengan literasi. Di situ terjadi diskusi kecil dan pertukaran ide.


Kelanjutan dari pameran Arka Umbara dengan acara Film Screening oleh Luar Kotak Studio yang mengajak audiens untuk membahas isu sosial dan budaya Bali. Selanjutnya, Eco-print Workshop oleh Novi Sumariani dari Buana Alit bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta mengurangi tingkat stres peserta. Dalam workshop nantinya, peserta akan mempelajari teknik pembuatan motif alami menggunakan daun dan bunga, yang kemudian dicetak pada media kertas atau kain.
Komunitas Lintas Bidang Seni
Jongsarad adalah kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Datang dari latar belakang artistik yang beragam, Jongsarad tumbuh sebagai ruang bersama untuk bereksperimen, berdialog, dan merangkai karya yang melintas medium maupun disiplin.
Nama “Jongsarad” terinspirasi dari salah satu nama lintang dalam tradisi Bali. Secara makna, Jongsarad dibayangkan sebagai sebuah kapal yang bermuatan lebih. Bukan sekadar beban, melainkan limpahan kreativitas, gagasan, dan rasa. Kapal ini berlayar dari satu persinggahan ke persinggahan lain, membagikan keindahan di setiap ruang yang disinggahi, sambil terus melintasi lautan proses untuk menemukan bentuk keindahan baru di ujung samudra.


Melalui pameran, proyek kolaboratif, hingga eksplorasi visual dan naratif, Jongsarad memposisikan diri sebagai wahana perjalanan bersama. Tempat di mana perbedaan medium dan latar belakang dipertemukan, diolah, lalu dihadirkan kembali sebagai pengalaman artistik yang hangat, penuh pencarian, dan terus bergerak.[T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Jaswanto




























