2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marina Rospitasari by Marina Rospitasari
May 12, 2026
in Esai
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marina Rospitasari

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak yang lahir dan tumbuh di tengah teknologi digital akan menyerap kefasihan digital secara alami, seperti penutur asli yang tidak perlu belajar tata bahasa untuk berbicara dengan lancar. Selama dua dekade, gagasan itu diterima luas, menjadi fondasi kebijakan pendidikan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Dua puluh empat tahun kemudian, generasi yang Prensky maksud kini bisa membuat laporan riset lengkap dengan AI (Artificial Intelligence) dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tapi sebagian besar dari mereka tidak tahu bahwa referensi yang dikutip mesin itu kadang tidak benar-benar ada. Prensky tidak salah soal kecepatannya. Ia hanya tidak memperhitungkan kedalamannya atau ketidakadaannya.

Inilah kontradiksi yang kini kita hadapi: generasi dengan akses digital tertinggi dalam sejarah, hidup di tengah ledakan kecerdasan buatan generatif, namun belum tentu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan apa yang diberikan mesin kepada mereka.

Mitos yang Bertahan Terlalu Lama

Konsep digital native bertahan bukan karena bukti empirisnya kuat, melainkan karena terdengar masuk akal secara intuitif. Siapa pun yang melihat anak usia sepuluh tahun mengoperasikan ponsel lebih cepat dari orang tuanya akan tergoda menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang “bawaan” di sana. Namun Neil Selwyn, profesor pendidikan dari Monash University, dalam kajiannya tahun 2009 menyebut istilah ini sebagai salah satu mitos paling berpengaruh—sekaligus paling berbahaya—dalam kebijakan pendidikan kontemporer.

Eszter Hargittai dari Northwestern University memperkuat kritik itu dengan data. Dalam penelitiannya pada 2010, ia menemukan bahwa kemampuan digital anak muda sangat bervariasi—bukan berdasarkan tahun kelahiran, melainkan berdasarkan kelas sosial, kualitas sekolah, dan seberapa sering mereka didorong untuk menggunakan teknologi secara kritis. Lahir di era internet tidak menjamin seseorang paham cara kerjanya, sama seperti lahir di era antibiotik tidak menjamin seseorang bisa membedakan mana obat dan mana plasebo.

Data dari Indonesia mempertegas hal ini. Survei penetrasi internet APJII tahun 2024 mencatat 221,5 juta pengguna aktif, setara 79,5% dari total penduduk dengan Generasi Z sebagai kelompok kontributor terbesar, mencapai 34,4% dari seluruh pengguna. Namun, Indeks Literasi Digital Indonesia (ILDI) yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center menunjukkan skor nasional hanya 3,49 dari skala 5, masuk kategori sedang.

Yang lebih mengkhawatirkan: pilar keamanan digital, kemampuan mengenali risiko, manipulasi, dan jejak data di ruang daring; menjadi pilar dengan skor paling rendah di antara empat indikator yang diukur. Kita memiliki lebih banyak pengguna internet dari sebelumnya. Kita belum tentu memiliki lebih banyak pengguna yang waspada.

Ketika Algoritma Duduk di Kursi Editor

Dalam teori komunikasi, konsep gatekeeper—yang dikembangkan Kurt Lewin pada 1947 dan kemudian dipopulerkan David Manning White dalam konteks jurnalisme, menggambarkan figur atau institusi yang memutuskan informasi mana yang layak sampai kepada publik. Selama puluhan tahun, kursi itu diduduki editor, redaktur, dan produser. Mereka bisa ditanya. Mereka bisa dikritik. Mereka punya nama.

Kini, algoritma AI telah mengambil alih kursi itu—tanpa nama, tanpa akuntabilitas yang mudah diakses publik, dan tanpa standar etis yang seragam. Sistem ini bekerja dalam apa yang para peneliti sebut sebagai black box: outputnya bisa dilihat, tapi logika di balik pilihannya sulit ditelusuri. Bagi pengguna yang tidak terlatih untuk mempertanyakan sumber, mesin yang menjawab dengan percaya diri dan kalimat yang mengalir akan terasa lebih otoritatif dari ensiklopedia mana pun.

Dampak nyatanya bisa kita lihat dalam konteks Indonesia. Selama Pemilu 2024, konten bermuatan disinformasi yang sebagian menggunakan teknologi AI, dari manipulasi suara hingga deepfake visual, menyebar masif lewat WhatsApp, platform yang penetrasinya di Indonesia jauh melampaui media sosial berbasis teks. Di grup keluarga dan komunitas, informasi palsu yang dikemas rapi oleh mesin mendapat kepercayaan lebih tinggi justru karena tampilannya meyakinkan. Mereka yang menyebarkannya, sebagian besar, bukan berniat jahat. Mereka hanya tidak punya alat untuk membedakan.

Inilah yang membuat mitos digital native menjadi berbahaya secara sistemik: ketika kepercayaan diri teknis tidak disertai kemampuan berpikir kritis, seseorang tidak menjadi lebih kebal terhadap manipulasi—ia justru menjadi lebih rentan, karena merasa sudah tahu.

Melek AI Bukan Sekadar Bisa Prompting

Jika digital literacy mengacu pada kemampuan menggunakan teknologi digital secara fungsional, maka AI literacy—literasi kecerdasan buatan—menuntut lapisan yang lebih dalam. UNESCO dalam Kerangka Kompetensi AI-nya (2023) mendefinisikannya mencakup tiga dimensi yang tidak bisa dipisahkan: memahami bagaimana sistem AI bekerja secara konseptual, mengevaluasi dampak sosial dan etisnya secara kritis, serta menggunakannya secara bertanggung jawab dan reflektif. Ketiga dimensi ini adalah keterampilan yang harus diajarkan dan dilatih, bukan diasumsikan hadir secara otomatis.

Ada dimensi lain yang jarang masuk ke dalam diskusi kebijakan: risiko apa yang oleh para kognitivis disebut sebagai cognitive offloading yang berlebihan. Ketika seseorang secara konsisten menyerahkan tugas-tugas berpikir—merumuskan argumen, mengevaluasi informasi, menyusun narasi—kepada sistem eksternal, kapasitas untuk melakukan hal itu secara mandiri berisiko melemah. Otak, seperti kemampuan fisik lainnya, membutuhkan latihan. Teknologi yang terlalu memudahkan tanpa disertai refleksi yang cukup dapat, paradoksnya, membuat penggunanya kurang cakap—bukan lebih.

Ini bukan argumen untuk menolak AI. Sebaliknya: teknologi ini, jika digunakan dengan kesadaran kritis, berpotensi menjadi alat bantu kognitif yang luar biasa. Masalahnya terletak pada jarak antara potensi itu dan kondisi penggunaan yang paling umum terjadi saat ini di mana kecepatan mendapat jawaban lebih dihargai daripada kedalaman mempertanyakannya.

Tanggung Jawab yang Tidak Bisa Didelegasikan ke Mesin

Institusi pendidikan berada di persimpangan yang tidak bisa dihindari. Di satu sisi, mengabaikan AI dalam kurikulum berarti menghasilkan lulusan yang tidak siap menghadapi dunia kerja yang sudah berubah. Di sisi lain, mengintegrasikan AI tanpa kerangka kritis berarti mempercepat ketergantungan yang kita sendiri belum pahami konsekuensinya.

Jalan tengahnya tidak sederhana, tapi arahnya bisa dirumuskan. Pertama, literasi AI perlu masuk ke dalam kurikulum yang sudah ada; bukan sebagai mata kuliah tambahan yang menunggu anggaran baru, melainkan sebagai perspektif yang menyusup ke dalam cara dosen merancang tugas, mendiskusikan sumber, dan mengevaluasi argumen mahasiswa.

Kedua, desain asesmen perlu bergeser dari mengukur hasil menuju mengukur proses: bukan hanya apa yang dihasilkan mahasiswa, tapi bagaimana mereka sampai pada kesimpulan itu. Ketiga; dan ini yang paling sering terlewat, dosen sendiri perlu menjadi pengguna AI yang kritis, bukan sekadar pengawas penggunaannya oleh mahasiswa.

Di tingkat kebijakan, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar program pelatihan digital yang berfokus pada kecakapan teknis. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 mencatat skor 43,34 dari 100; angka yang menunjukkan pertumbuhan, sekaligus mengingatkan betapa jauh jarak yang masih harus ditempuh. Pemerataan kualitas literasi—bukan hanya akses koneksi, harus menjadi prioritas, terutama di daerah yang infrastruktur digitalnya baru tumbuh dan karenanya lebih rentan terhadap informasi yang tidak diverifikasi.

Keberanian untuk Meragukan

Prensky menulis tentang generasi yang akan mengubah cara dunia belajar. Ia tidak salah sepenuhnya. Yang ia lewatkan adalah bahwa kefasihan tanpa kedalaman bukan hanya tidak cukup dalam konteks AI generatif yang mampu memproduksi kebohongan dengan tata bahasa yang sempurna, kefasihan tanpa kritisisme bisa menjadi kerentanan.

Di era ketika mesin dapat menghasilkan esai, analisis, bahkan karya seni dalam hitungan detik, kecerdasan manusia yang paling relevan bukan lagi kemampuan memproduksi. Ia adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, meragukan jawaban yang sudah tersedia, dan bertanya: dari mana ini berasal, dan mengapa saya harus mempercayainya?

Itu bukan keterampilan yang datang bersama koneksi internet. Itu keterampilan yang harus diajarkan dengan sabar, berulang, dan dimulai dari ruang kelas. [T]

Referensi

Prensky, M. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants. On The Horizon, 9(5), 1–6. MCB University Press.

Selwyn, N. (2009). The digital native: myth and reality. Aslib Proceedings, 61(4), 364–379.

Hargittai, E. (2010). Digital Na(t)ives? Variation in Internet Skills and Uses among Members of the ‘Net Generation’. Sociological Inquiry, 80(1), 92–113.

Lewin, K. (1947). Frontiers in Group Dynamics II: Channels of Group Life. Human Relations, 1(2), 143–153.

UNESCO. (2023). AI Competency Framework for Students. UNESCO Publishing, Paris.

APJII. (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

Kominfo & Katadata Insight Center. (2022). Status Literasi Digital Indonesia 2022. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Kementerian Komunikasi dan Informatika. (2024). Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024. Puslitbang Aptika IKP.

Tags: AIGenerasi Zkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Next Post

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Marina Rospitasari

Marina Rospitasari

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” ( UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails
Next Post
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Menulis 'Sunyi' Jauh Sebelum Ada AI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co