25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 12, 2026
in Esai
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam puisi. Banyak puisi yang saya tulis bertahun-tahun lalu berisi kata itu. Sunyi bagi saya bukan sekadar diksi puitis, melainkan suasana, pengalaman batin, bahkan semacam ruang yang diam-diam menemani kehidupan sehari-hari.

Namun sekarang, kata itu mendadak terasa agak mencurigakan. Belakangan ini saya beberapa kali memakai AI untuk membantu menulis esai. Dan entah mengapa, kata “sunyi” hampir selalu muncul. Kadang di tengah paragraf, kadang dijadikan penutup yang dibuat terdengar reflektif. Kota menjadi sunyi. Malam terasa sunyi. Hati tokohnya sunyi. Bahkan hujan pun seperti tidak lengkap tanpa kesunyian.

Awalnya saya menganggap itu kebetulan. Namun lama-lama muncul kegelisahan kecil. Jangan-jangan suatu hari nanti, ketika saya menulis puisi atau esai dengan kata “sunyi”, orang-orang akan mengira tulisan itu dibuat oleh AI. Ironis sekali. Kata yang telah lama hidup dalam puisi-puisi manusia perlahan mulai dicurigai sebagai produk mesin.

Saya membayangkan seorang penyair tua yang sejak muda menulis tentang kesepian, hujan, dan jalanan malam, tiba-tiba dicurigai memakai AI hanya karena puisinya mengandung kata-kata yang sekarang terlalu sering dipakai mesin. Betapa aneh zaman ini. Mesin belajar dari manusia, lalu manusia mulai dicurigai karena terdengar seperti mesin.

Revolusi teknologi memang telah banyak memudahkan pekerjaan manusia, termasuk dalam urusan menulis. Hari ini, orang bisa membuat artikel, esai, bahkan puisi hanya dalam hitungan menit. Ada penulis yang menerima AI sebagai alat bantu, tetapi ada pula yang terang-terangan menolaknya, bahkan dengan bangga menyebut diri sebagai “anti AI”.

Saya sendiri termasuk orang yang selalu penasaran pada hal-hal baru. Sejak dulu saya percaya bahwa teknologi tidak bisa ditolak hanya dengan kemarahan. Ia akan terus datang seperti banjir. Mau tidak mau, manusia akan belajar hidup berdampingan dengannya. Karena itu, saya mencoba mempelajari AI, termasuk teknik-teknik menulis dengan bantuannya.

Saya bereksperimen. Saya memberi bahan, kerangka, gaya bahasa, lalu membiarkan AI melanjutkan tulisan. Kadang saya menulis 30 persen, sisanya diteruskan mesin. Kadang separuh-separuh. Hasilnya mengejutkan. AI mampu menyusun argumen dengan rapi, membuat kalimat terdengar reflektif, bahkan sesekali menghasilkan paragraf yang terasa sangat manusiawi.

Kemampuan berpikirnya menakjubkan. Nyaris mirip otak manusia. Saya mulai memahami mengapa banyak orang tergoda memakainya. Terutama bagi pekerja media, penulis konten, atau orang-orang yang dituntut terus produktif setiap hari. AI bisa menjadi teman yang tidak pernah lelah. Ia tidak mengeluh, tidak meminta kopi, tidak mengantuk, dan tidak punya masalah keluarga. Ia siap membantu kapan saja.

Tetapi anehnya, setelah tulisan itu selesai, saya justru merasakan kehampaan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Saya tidak merasa benar-benar menulisnya. Tulisan itu memang selesai. Kalimatnya bagus. Strukturnya rapi. Bahkan mungkin lebih enak dibaca dibanding tulisan yang saya buat sendiri secara penuh. Namun, ada sesuatu yang terasa hilang. Seperti mendengarkan suara sendiri dari rekaman lama. Mirip, tetapi bukan benar-benar diri kita saat ini.

Perasaan itu mengingatkan saya pada momen ketika seorang wartawan terlalu sering menulis berita dengan template yang sama. Lama-lama tulisannya memang rapi, tetapi kehilangan napas. Semua terasa benar, tetapi tidak terasa hidup. Mungkin penulis lain juga merasakan hal serupa.

Sebab menulis bukan hanya soal menghasilkan teks. Ada kegagalan-kegagalan kecil di dalamnya. Ada kalimat yang dicoret, paragraf yang tersendat, keraguan yang muncul tengah malam, juga rasa kesal ketika satu kata tidak kunjung ditemukan. Dalam proses yang lambat dan kadang melelahkan itulah, seorang penulis sebenarnya sedang bercakap dengan dirinya sendiri.

Saya teringat masa-masa ketika masih sering menulis puisi di buku tulis murah. Kadang saya duduk berjam-jam hanya untuk mencari satu kalimat penutup. Kadang puisi selesai dalam lima belas menit, tetapi lebih sering berhari-hari. Ada malam-malam yang diisi suara radio pelan, kopi dingin, dan rokok yang tinggal separuh. Ada kegagalan yang terasa begitu personal.

AI tidak mengalami itu. Ia tidak pernah merasa cemas apakah tulisannya terlalu buruk. Ia tidak pernah takut ditolak redaktur, dan tidak pernah merasa malu setelah membaca ulang puisinya sendiri. Ia tidak tahu rasanya menunggu honor tulisan cair di akhir bulan. Ia juga tidak pernah mengalami sunyi yang sesungguhnya. Sementara AI cenderung terlalu lancar, cepat, dan terlalu siap membantu.

Saya kemudian mencoba bertanya kepada AI mengapa ia begitu sering memakai kata “sunyi”. Jawabannya menarik. AI mengatakan bahwa kata “sunyi” memiliki daya tarik sastra yang besar dalam bahasa Indonesia modern. Kata itu dianggap puitis, emosional, reflektif, dan sering dipakai dalam esai maupun puisi. Karena belajar dari sangat banyak tulisan manusia, AI mengenali pola bahwa teks yang dianggap “indah” sering memakai kata-kata seperti sunyi, senja, hujan, luka, atau rindu.

Saya tertawa kecil membacanya. Jangan-jangan selama ini AI hanya sedang meniru kebiasaan kita sendiri. Memang harus diakui, dunia sastra dan media sosial kita sejak lama memiliki kecenderungan mengulang simbol yang sama. Senja terlalu sering dijadikan lambang kesedihan. Hujan dianggap otomatis puitis. Kopi identik dengan kesepian. Luka selalu terdengar lebih menarik dibanding kebahagiaan. Bahkan kata “pulang” seolah wajib ada dalam setiap tulisan reflektif.

AI hanya mempelajari kebiasaan itu, lalu memantulkannya kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih rapi dan lebih cepat. Karena itu, saya mulai berpikir, di masa depan mungkin bukan lagi tulisan AI yang berusaha terdengar seperti manusia, melainkan manusia yang takut terdengar seperti AI. Ketakutan itu perlahan mulai nyata. Hari ini, banyak orang membaca tulisan dengan rasa curiga. Ketika sebuah esai terasa terlalu rapi, lancar,atau  terlalu reflektif, orang langsung bertanya, “Ini pakai AI, ya?”

Lucunya, kadang tulisan manusia memang berantakan. Ada emosi yang bocor, paragraf yang terlalu panjang, atau kalimat yang terasa liar. Tetapi justru di situlah letak manusianya. Saya pernah membaca tulisan seorang teman wartawan yang secara teknis tidak sempurna. Ada bagian yang melompat-lompat.dan emosi yang terlalu mentah. Namun tulisan itu terasa hidup karena saya bisa merasakan manusia di belakangnya. Ada pengalaman nyata yang tidak bisa dipalsukan. Barangkali itu yang belum sepenuhnya dimiliki AI.

Sebab pengalaman hidup bukan sekadar data. Mesin mungkin bisa belajar tentang bunyi hujan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya kehujanan sambil memikirkan tagihan kos. Mesin bisa memahami definisi kehilangan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya duduk sendirian setelah ibu meninggal. Mesin bisa menulis tentang kesepian, tetapi ia tidak pernah menunggu balasan pesan yang tak kunjung datang hingga dini hari.

Saya jadi teringat pada pesan WhatsApp yang hanya dibaca lalu dibiarkan begitu saja. Centang biru itu kadang lebih sunyi daripada puisi-puisi muram yang kita tulis berlembar-lembar. Dan mungkin, di situlah masalahnya. AI mampu meniru bahasa kesedihan, tetapi belum tentu mampu mengalami kesedihan itu sendiri.

Meski demikian, saya juga tidak ingin menjadi orang yang sepenuhnya memusuhi AI. Bagaimanapun, teknologi ini memang membantu banyak hal. Dalam beberapa keadaan, AI bahkan bisa menjadi partner diskusi yang menarik. Ia membantu menyusun ide, memberi sudut pandang baru, atau sekadar menjadi teman berpikir ketika kepala sedang buntu.

Saya mengenal beberapa penulis yang memakai AI hanya sebagai alat bantu kecil. Mereka tetap menulis sendiri, tetap melakukan riset sendiri, tetap mempertahankan suara mereka sendiri. AI hanya dipakai untuk membantu merapikan struktur atau memancing ide awal. Mungkin itu cara yang lebih sehat.

Karena bagaimanapun, dunia sudah berubah. AI tidak akan hilang hanya karena sebagian orang membencinya. Sama seperti internet dulu pernah dianggap merusak budaya membaca, tetapi akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Yang paling penting mungkin bukan soal memakai atau menolak AI, melainkan bagaimana manusia tetap menjaga kejujuran dalam menulis. Sebab pada akhirnya, tulisan yang paling diingat pembaca biasanya bukan tulisan yang paling sempurna, melainkan tulisan yang terasa jujur. Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup biasanya memiliki semacam napas yang sulit dijelaskan. Kadang sederhana, tetapi membekas. Tidak terlalu puitis, tetapi terasa dekat. Ada manusia di dalamnya.

Padahal, yang membuat tulisan manusia tetap hidup bukan sekadar pilihan katanya. Bukan apakah ia memakai kata “sunyi” atau tidak. Melainkan pengalaman di belakang kata itu. Detail-detail kecil yang tidak dimiliki mesin. Bau warung tengah malam. Pesan WhatsApp yang hanya centang biru. Suara radio pelan di rumah yang mulai sepi. Atau rasa hampa yang muncul setelah menyelesaikan tulisan dengan bantuan AI.

Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan kecil. Mungkin saya tidak perlu terlalu takut memakai kata “sunyi”. Sebab kata itu bukan milik AI. Kata itu telah hidup jauh sebelum teknologi ini lahir. Yang menentukan apakah sebuah tulisan terasa manusiawi atau tidak, bukan satu dua diksi yang dipakai, melainkan kejujuran orang yang menuliskannya.

Pada akhirnya, di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa ini, semuanya berpulang kembali kepada para penulis sendiri. Ada yang tetap bangga menulis secara sepenuhnya otentik. Ada pula yang nyaman menjadikan AI sebagai partner kreatif. Barangkali tidak ada yang sepenuhnya salah. Tetapi saya kira satu hal tetap penting. Jangan sampai kita kehilangan perasaan saat menulis. Sebab mungkin, di situlah manusia masih berbeda dari mesin. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatanPuisipuisi tentang kesunyian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Next Post

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co