12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 12, 2026
in Esai
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam puisi. Banyak puisi yang saya tulis bertahun-tahun lalu berisi kata itu. Sunyi bagi saya bukan sekadar diksi puitis, melainkan suasana, pengalaman batin, bahkan semacam ruang yang diam-diam menemani kehidupan sehari-hari.

Namun sekarang, kata itu mendadak terasa agak mencurigakan. Belakangan ini saya beberapa kali memakai AI untuk membantu menulis esai. Dan entah mengapa, kata “sunyi” hampir selalu muncul. Kadang di tengah paragraf, kadang dijadikan penutup yang dibuat terdengar reflektif. Kota menjadi sunyi. Malam terasa sunyi. Hati tokohnya sunyi. Bahkan hujan pun seperti tidak lengkap tanpa kesunyian.

Awalnya saya menganggap itu kebetulan. Namun lama-lama muncul kegelisahan kecil. Jangan-jangan suatu hari nanti, ketika saya menulis puisi atau esai dengan kata “sunyi”, orang-orang akan mengira tulisan itu dibuat oleh AI. Ironis sekali. Kata yang telah lama hidup dalam puisi-puisi manusia perlahan mulai dicurigai sebagai produk mesin.

Saya membayangkan seorang penyair tua yang sejak muda menulis tentang kesepian, hujan, dan jalanan malam, tiba-tiba dicurigai memakai AI hanya karena puisinya mengandung kata-kata yang sekarang terlalu sering dipakai mesin. Betapa aneh zaman ini. Mesin belajar dari manusia, lalu manusia mulai dicurigai karena terdengar seperti mesin.

Revolusi teknologi memang telah banyak memudahkan pekerjaan manusia, termasuk dalam urusan menulis. Hari ini, orang bisa membuat artikel, esai, bahkan puisi hanya dalam hitungan menit. Ada penulis yang menerima AI sebagai alat bantu, tetapi ada pula yang terang-terangan menolaknya, bahkan dengan bangga menyebut diri sebagai “anti AI”.

Saya sendiri termasuk orang yang selalu penasaran pada hal-hal baru. Sejak dulu saya percaya bahwa teknologi tidak bisa ditolak hanya dengan kemarahan. Ia akan terus datang seperti banjir. Mau tidak mau, manusia akan belajar hidup berdampingan dengannya. Karena itu, saya mencoba mempelajari AI, termasuk teknik-teknik menulis dengan bantuannya.

Saya bereksperimen. Saya memberi bahan, kerangka, gaya bahasa, lalu membiarkan AI melanjutkan tulisan. Kadang saya menulis 30 persen, sisanya diteruskan mesin. Kadang separuh-separuh. Hasilnya mengejutkan. AI mampu menyusun argumen dengan rapi, membuat kalimat terdengar reflektif, bahkan sesekali menghasilkan paragraf yang terasa sangat manusiawi.

Kemampuan berpikirnya menakjubkan. Nyaris mirip otak manusia. Saya mulai memahami mengapa banyak orang tergoda memakainya. Terutama bagi pekerja media, penulis konten, atau orang-orang yang dituntut terus produktif setiap hari. AI bisa menjadi teman yang tidak pernah lelah. Ia tidak mengeluh, tidak meminta kopi, tidak mengantuk, dan tidak punya masalah keluarga. Ia siap membantu kapan saja.

Tetapi anehnya, setelah tulisan itu selesai, saya justru merasakan kehampaan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Saya tidak merasa benar-benar menulisnya. Tulisan itu memang selesai. Kalimatnya bagus. Strukturnya rapi. Bahkan mungkin lebih enak dibaca dibanding tulisan yang saya buat sendiri secara penuh. Namun, ada sesuatu yang terasa hilang. Seperti mendengarkan suara sendiri dari rekaman lama. Mirip, tetapi bukan benar-benar diri kita saat ini.

Perasaan itu mengingatkan saya pada momen ketika seorang wartawan terlalu sering menulis berita dengan template yang sama. Lama-lama tulisannya memang rapi, tetapi kehilangan napas. Semua terasa benar, tetapi tidak terasa hidup. Mungkin penulis lain juga merasakan hal serupa.

Sebab menulis bukan hanya soal menghasilkan teks. Ada kegagalan-kegagalan kecil di dalamnya. Ada kalimat yang dicoret, paragraf yang tersendat, keraguan yang muncul tengah malam, juga rasa kesal ketika satu kata tidak kunjung ditemukan. Dalam proses yang lambat dan kadang melelahkan itulah, seorang penulis sebenarnya sedang bercakap dengan dirinya sendiri.

Saya teringat masa-masa ketika masih sering menulis puisi di buku tulis murah. Kadang saya duduk berjam-jam hanya untuk mencari satu kalimat penutup. Kadang puisi selesai dalam lima belas menit, tetapi lebih sering berhari-hari. Ada malam-malam yang diisi suara radio pelan, kopi dingin, dan rokok yang tinggal separuh. Ada kegagalan yang terasa begitu personal.

AI tidak mengalami itu. Ia tidak pernah merasa cemas apakah tulisannya terlalu buruk. Ia tidak pernah takut ditolak redaktur, dan tidak pernah merasa malu setelah membaca ulang puisinya sendiri. Ia tidak tahu rasanya menunggu honor tulisan cair di akhir bulan. Ia juga tidak pernah mengalami sunyi yang sesungguhnya. Sementara AI cenderung terlalu lancar, cepat, dan terlalu siap membantu.

Saya kemudian mencoba bertanya kepada AI mengapa ia begitu sering memakai kata “sunyi”. Jawabannya menarik. AI mengatakan bahwa kata “sunyi” memiliki daya tarik sastra yang besar dalam bahasa Indonesia modern. Kata itu dianggap puitis, emosional, reflektif, dan sering dipakai dalam esai maupun puisi. Karena belajar dari sangat banyak tulisan manusia, AI mengenali pola bahwa teks yang dianggap “indah” sering memakai kata-kata seperti sunyi, senja, hujan, luka, atau rindu.

Saya tertawa kecil membacanya. Jangan-jangan selama ini AI hanya sedang meniru kebiasaan kita sendiri. Memang harus diakui, dunia sastra dan media sosial kita sejak lama memiliki kecenderungan mengulang simbol yang sama. Senja terlalu sering dijadikan lambang kesedihan. Hujan dianggap otomatis puitis. Kopi identik dengan kesepian. Luka selalu terdengar lebih menarik dibanding kebahagiaan. Bahkan kata “pulang” seolah wajib ada dalam setiap tulisan reflektif.

AI hanya mempelajari kebiasaan itu, lalu memantulkannya kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih rapi dan lebih cepat. Karena itu, saya mulai berpikir, di masa depan mungkin bukan lagi tulisan AI yang berusaha terdengar seperti manusia, melainkan manusia yang takut terdengar seperti AI. Ketakutan itu perlahan mulai nyata. Hari ini, banyak orang membaca tulisan dengan rasa curiga. Ketika sebuah esai terasa terlalu rapi, lancar,atau  terlalu reflektif, orang langsung bertanya, “Ini pakai AI, ya?”

Lucunya, kadang tulisan manusia memang berantakan. Ada emosi yang bocor, paragraf yang terlalu panjang, atau kalimat yang terasa liar. Tetapi justru di situlah letak manusianya. Saya pernah membaca tulisan seorang teman wartawan yang secara teknis tidak sempurna. Ada bagian yang melompat-lompat.dan emosi yang terlalu mentah. Namun tulisan itu terasa hidup karena saya bisa merasakan manusia di belakangnya. Ada pengalaman nyata yang tidak bisa dipalsukan. Barangkali itu yang belum sepenuhnya dimiliki AI.

Sebab pengalaman hidup bukan sekadar data. Mesin mungkin bisa belajar tentang bunyi hujan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya kehujanan sambil memikirkan tagihan kos. Mesin bisa memahami definisi kehilangan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya duduk sendirian setelah ibu meninggal. Mesin bisa menulis tentang kesepian, tetapi ia tidak pernah menunggu balasan pesan yang tak kunjung datang hingga dini hari.

Saya jadi teringat pada pesan WhatsApp yang hanya dibaca lalu dibiarkan begitu saja. Centang biru itu kadang lebih sunyi daripada puisi-puisi muram yang kita tulis berlembar-lembar. Dan mungkin, di situlah masalahnya. AI mampu meniru bahasa kesedihan, tetapi belum tentu mampu mengalami kesedihan itu sendiri.

Meski demikian, saya juga tidak ingin menjadi orang yang sepenuhnya memusuhi AI. Bagaimanapun, teknologi ini memang membantu banyak hal. Dalam beberapa keadaan, AI bahkan bisa menjadi partner diskusi yang menarik. Ia membantu menyusun ide, memberi sudut pandang baru, atau sekadar menjadi teman berpikir ketika kepala sedang buntu.

Saya mengenal beberapa penulis yang memakai AI hanya sebagai alat bantu kecil. Mereka tetap menulis sendiri, tetap melakukan riset sendiri, tetap mempertahankan suara mereka sendiri. AI hanya dipakai untuk membantu merapikan struktur atau memancing ide awal. Mungkin itu cara yang lebih sehat.

Karena bagaimanapun, dunia sudah berubah. AI tidak akan hilang hanya karena sebagian orang membencinya. Sama seperti internet dulu pernah dianggap merusak budaya membaca, tetapi akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Yang paling penting mungkin bukan soal memakai atau menolak AI, melainkan bagaimana manusia tetap menjaga kejujuran dalam menulis. Sebab pada akhirnya, tulisan yang paling diingat pembaca biasanya bukan tulisan yang paling sempurna, melainkan tulisan yang terasa jujur. Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup biasanya memiliki semacam napas yang sulit dijelaskan. Kadang sederhana, tetapi membekas. Tidak terlalu puitis, tetapi terasa dekat. Ada manusia di dalamnya.

Padahal, yang membuat tulisan manusia tetap hidup bukan sekadar pilihan katanya. Bukan apakah ia memakai kata “sunyi” atau tidak. Melainkan pengalaman di belakang kata itu. Detail-detail kecil yang tidak dimiliki mesin. Bau warung tengah malam. Pesan WhatsApp yang hanya centang biru. Suara radio pelan di rumah yang mulai sepi. Atau rasa hampa yang muncul setelah menyelesaikan tulisan dengan bantuan AI.

Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan kecil. Mungkin saya tidak perlu terlalu takut memakai kata “sunyi”. Sebab kata itu bukan milik AI. Kata itu telah hidup jauh sebelum teknologi ini lahir. Yang menentukan apakah sebuah tulisan terasa manusiawi atau tidak, bukan satu dua diksi yang dipakai, melainkan kejujuran orang yang menuliskannya.

Pada akhirnya, di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa ini, semuanya berpulang kembali kepada para penulis sendiri. Ada yang tetap bangga menulis secara sepenuhnya otentik. Ada pula yang nyaman menjadikan AI sebagai partner kreatif. Barangkali tidak ada yang sepenuhnya salah. Tetapi saya kira satu hal tetap penting. Jangan sampai kita kehilangan perasaan saat menulis. Sebab mungkin, di situlah manusia masih berbeda dari mesin. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatanPuisipuisi tentang kesunyian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Next Post

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co