12 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 12, 2026
in Esai
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam puisi. Banyak puisi yang saya tulis bertahun-tahun lalu berisi kata itu. Sunyi bagi saya bukan sekadar diksi puitis, melainkan suasana, pengalaman batin, bahkan semacam ruang yang diam-diam menemani kehidupan sehari-hari.

Namun sekarang, kata itu mendadak terasa agak mencurigakan. Belakangan ini saya beberapa kali memakai AI untuk membantu menulis esai. Dan entah mengapa, kata “sunyi” hampir selalu muncul. Kadang di tengah paragraf, kadang dijadikan penutup yang dibuat terdengar reflektif. Kota menjadi sunyi. Malam terasa sunyi. Hati tokohnya sunyi. Bahkan hujan pun seperti tidak lengkap tanpa kesunyian.

Awalnya saya menganggap itu kebetulan. Namun lama-lama muncul kegelisahan kecil. Jangan-jangan suatu hari nanti, ketika saya menulis puisi atau esai dengan kata “sunyi”, orang-orang akan mengira tulisan itu dibuat oleh AI. Ironis sekali. Kata yang telah lama hidup dalam puisi-puisi manusia perlahan mulai dicurigai sebagai produk mesin.

Saya membayangkan seorang penyair tua yang sejak muda menulis tentang kesepian, hujan, dan jalanan malam, tiba-tiba dicurigai memakai AI hanya karena puisinya mengandung kata-kata yang sekarang terlalu sering dipakai mesin. Betapa aneh zaman ini. Mesin belajar dari manusia, lalu manusia mulai dicurigai karena terdengar seperti mesin.

Revolusi teknologi memang telah banyak memudahkan pekerjaan manusia, termasuk dalam urusan menulis. Hari ini, orang bisa membuat artikel, esai, bahkan puisi hanya dalam hitungan menit. Ada penulis yang menerima AI sebagai alat bantu, tetapi ada pula yang terang-terangan menolaknya, bahkan dengan bangga menyebut diri sebagai “anti AI”.

Saya sendiri termasuk orang yang selalu penasaran pada hal-hal baru. Sejak dulu saya percaya bahwa teknologi tidak bisa ditolak hanya dengan kemarahan. Ia akan terus datang seperti banjir. Mau tidak mau, manusia akan belajar hidup berdampingan dengannya. Karena itu, saya mencoba mempelajari AI, termasuk teknik-teknik menulis dengan bantuannya.

Saya bereksperimen. Saya memberi bahan, kerangka, gaya bahasa, lalu membiarkan AI melanjutkan tulisan. Kadang saya menulis 30 persen, sisanya diteruskan mesin. Kadang separuh-separuh. Hasilnya mengejutkan. AI mampu menyusun argumen dengan rapi, membuat kalimat terdengar reflektif, bahkan sesekali menghasilkan paragraf yang terasa sangat manusiawi.

Kemampuan berpikirnya menakjubkan. Nyaris mirip otak manusia. Saya mulai memahami mengapa banyak orang tergoda memakainya. Terutama bagi pekerja media, penulis konten, atau orang-orang yang dituntut terus produktif setiap hari. AI bisa menjadi teman yang tidak pernah lelah. Ia tidak mengeluh, tidak meminta kopi, tidak mengantuk, dan tidak punya masalah keluarga. Ia siap membantu kapan saja.

Tetapi anehnya, setelah tulisan itu selesai, saya justru merasakan kehampaan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Saya tidak merasa benar-benar menulisnya. Tulisan itu memang selesai. Kalimatnya bagus. Strukturnya rapi. Bahkan mungkin lebih enak dibaca dibanding tulisan yang saya buat sendiri secara penuh. Namun, ada sesuatu yang terasa hilang. Seperti mendengarkan suara sendiri dari rekaman lama. Mirip, tetapi bukan benar-benar diri kita saat ini.

Perasaan itu mengingatkan saya pada momen ketika seorang wartawan terlalu sering menulis berita dengan template yang sama. Lama-lama tulisannya memang rapi, tetapi kehilangan napas. Semua terasa benar, tetapi tidak terasa hidup. Mungkin penulis lain juga merasakan hal serupa.

Sebab menulis bukan hanya soal menghasilkan teks. Ada kegagalan-kegagalan kecil di dalamnya. Ada kalimat yang dicoret, paragraf yang tersendat, keraguan yang muncul tengah malam, juga rasa kesal ketika satu kata tidak kunjung ditemukan. Dalam proses yang lambat dan kadang melelahkan itulah, seorang penulis sebenarnya sedang bercakap dengan dirinya sendiri.

Saya teringat masa-masa ketika masih sering menulis puisi di buku tulis murah. Kadang saya duduk berjam-jam hanya untuk mencari satu kalimat penutup. Kadang puisi selesai dalam lima belas menit, tetapi lebih sering berhari-hari. Ada malam-malam yang diisi suara radio pelan, kopi dingin, dan rokok yang tinggal separuh. Ada kegagalan yang terasa begitu personal.

AI tidak mengalami itu. Ia tidak pernah merasa cemas apakah tulisannya terlalu buruk. Ia tidak pernah takut ditolak redaktur, dan tidak pernah merasa malu setelah membaca ulang puisinya sendiri. Ia tidak tahu rasanya menunggu honor tulisan cair di akhir bulan. Ia juga tidak pernah mengalami sunyi yang sesungguhnya. Sementara AI cenderung terlalu lancar, cepat, dan terlalu siap membantu.

Saya kemudian mencoba bertanya kepada AI mengapa ia begitu sering memakai kata “sunyi”. Jawabannya menarik. AI mengatakan bahwa kata “sunyi” memiliki daya tarik sastra yang besar dalam bahasa Indonesia modern. Kata itu dianggap puitis, emosional, reflektif, dan sering dipakai dalam esai maupun puisi. Karena belajar dari sangat banyak tulisan manusia, AI mengenali pola bahwa teks yang dianggap “indah” sering memakai kata-kata seperti sunyi, senja, hujan, luka, atau rindu.

Saya tertawa kecil membacanya. Jangan-jangan selama ini AI hanya sedang meniru kebiasaan kita sendiri. Memang harus diakui, dunia sastra dan media sosial kita sejak lama memiliki kecenderungan mengulang simbol yang sama. Senja terlalu sering dijadikan lambang kesedihan. Hujan dianggap otomatis puitis. Kopi identik dengan kesepian. Luka selalu terdengar lebih menarik dibanding kebahagiaan. Bahkan kata “pulang” seolah wajib ada dalam setiap tulisan reflektif.

AI hanya mempelajari kebiasaan itu, lalu memantulkannya kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih rapi dan lebih cepat. Karena itu, saya mulai berpikir, di masa depan mungkin bukan lagi tulisan AI yang berusaha terdengar seperti manusia, melainkan manusia yang takut terdengar seperti AI. Ketakutan itu perlahan mulai nyata. Hari ini, banyak orang membaca tulisan dengan rasa curiga. Ketika sebuah esai terasa terlalu rapi, lancar,atau  terlalu reflektif, orang langsung bertanya, “Ini pakai AI, ya?”

Lucunya, kadang tulisan manusia memang berantakan. Ada emosi yang bocor, paragraf yang terlalu panjang, atau kalimat yang terasa liar. Tetapi justru di situlah letak manusianya. Saya pernah membaca tulisan seorang teman wartawan yang secara teknis tidak sempurna. Ada bagian yang melompat-lompat.dan emosi yang terlalu mentah. Namun tulisan itu terasa hidup karena saya bisa merasakan manusia di belakangnya. Ada pengalaman nyata yang tidak bisa dipalsukan. Barangkali itu yang belum sepenuhnya dimiliki AI.

Sebab pengalaman hidup bukan sekadar data. Mesin mungkin bisa belajar tentang bunyi hujan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya kehujanan sambil memikirkan tagihan kos. Mesin bisa memahami definisi kehilangan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya duduk sendirian setelah ibu meninggal. Mesin bisa menulis tentang kesepian, tetapi ia tidak pernah menunggu balasan pesan yang tak kunjung datang hingga dini hari.

Saya jadi teringat pada pesan WhatsApp yang hanya dibaca lalu dibiarkan begitu saja. Centang biru itu kadang lebih sunyi daripada puisi-puisi muram yang kita tulis berlembar-lembar. Dan mungkin, di situlah masalahnya. AI mampu meniru bahasa kesedihan, tetapi belum tentu mampu mengalami kesedihan itu sendiri.

Meski demikian, saya juga tidak ingin menjadi orang yang sepenuhnya memusuhi AI. Bagaimanapun, teknologi ini memang membantu banyak hal. Dalam beberapa keadaan, AI bahkan bisa menjadi partner diskusi yang menarik. Ia membantu menyusun ide, memberi sudut pandang baru, atau sekadar menjadi teman berpikir ketika kepala sedang buntu.

Saya mengenal beberapa penulis yang memakai AI hanya sebagai alat bantu kecil. Mereka tetap menulis sendiri, tetap melakukan riset sendiri, tetap mempertahankan suara mereka sendiri. AI hanya dipakai untuk membantu merapikan struktur atau memancing ide awal. Mungkin itu cara yang lebih sehat.

Karena bagaimanapun, dunia sudah berubah. AI tidak akan hilang hanya karena sebagian orang membencinya. Sama seperti internet dulu pernah dianggap merusak budaya membaca, tetapi akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Yang paling penting mungkin bukan soal memakai atau menolak AI, melainkan bagaimana manusia tetap menjaga kejujuran dalam menulis. Sebab pada akhirnya, tulisan yang paling diingat pembaca biasanya bukan tulisan yang paling sempurna, melainkan tulisan yang terasa jujur. Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup biasanya memiliki semacam napas yang sulit dijelaskan. Kadang sederhana, tetapi membekas. Tidak terlalu puitis, tetapi terasa dekat. Ada manusia di dalamnya.

Padahal, yang membuat tulisan manusia tetap hidup bukan sekadar pilihan katanya. Bukan apakah ia memakai kata “sunyi” atau tidak. Melainkan pengalaman di belakang kata itu. Detail-detail kecil yang tidak dimiliki mesin. Bau warung tengah malam. Pesan WhatsApp yang hanya centang biru. Suara radio pelan di rumah yang mulai sepi. Atau rasa hampa yang muncul setelah menyelesaikan tulisan dengan bantuan AI.

Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan kecil. Mungkin saya tidak perlu terlalu takut memakai kata “sunyi”. Sebab kata itu bukan milik AI. Kata itu telah hidup jauh sebelum teknologi ini lahir. Yang menentukan apakah sebuah tulisan terasa manusiawi atau tidak, bukan satu dua diksi yang dipakai, melainkan kejujuran orang yang menuliskannya.

Pada akhirnya, di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa ini, semuanya berpulang kembali kepada para penulis sendiri. Ada yang tetap bangga menulis secara sepenuhnya otentik. Ada pula yang nyaman menjadikan AI sebagai partner kreatif. Barangkali tidak ada yang sepenuhnya salah. Tetapi saya kira satu hal tetap penting. Jangan sampai kita kehilangan perasaan saat menulis. Sebab mungkin, di situlah manusia masih berbeda dari mesin. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatanPuisipuisi tentang kesunyian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
0
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co