2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 12, 2026
in Esai
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam puisi. Banyak puisi yang saya tulis bertahun-tahun lalu berisi kata itu. Sunyi bagi saya bukan sekadar diksi puitis, melainkan suasana, pengalaman batin, bahkan semacam ruang yang diam-diam menemani kehidupan sehari-hari.

Namun sekarang, kata itu mendadak terasa agak mencurigakan. Belakangan ini saya beberapa kali memakai AI untuk membantu menulis esai. Dan entah mengapa, kata “sunyi” hampir selalu muncul. Kadang di tengah paragraf, kadang dijadikan penutup yang dibuat terdengar reflektif. Kota menjadi sunyi. Malam terasa sunyi. Hati tokohnya sunyi. Bahkan hujan pun seperti tidak lengkap tanpa kesunyian.

Awalnya saya menganggap itu kebetulan. Namun lama-lama muncul kegelisahan kecil. Jangan-jangan suatu hari nanti, ketika saya menulis puisi atau esai dengan kata “sunyi”, orang-orang akan mengira tulisan itu dibuat oleh AI. Ironis sekali. Kata yang telah lama hidup dalam puisi-puisi manusia perlahan mulai dicurigai sebagai produk mesin.

Saya membayangkan seorang penyair tua yang sejak muda menulis tentang kesepian, hujan, dan jalanan malam, tiba-tiba dicurigai memakai AI hanya karena puisinya mengandung kata-kata yang sekarang terlalu sering dipakai mesin. Betapa aneh zaman ini. Mesin belajar dari manusia, lalu manusia mulai dicurigai karena terdengar seperti mesin.

Revolusi teknologi memang telah banyak memudahkan pekerjaan manusia, termasuk dalam urusan menulis. Hari ini, orang bisa membuat artikel, esai, bahkan puisi hanya dalam hitungan menit. Ada penulis yang menerima AI sebagai alat bantu, tetapi ada pula yang terang-terangan menolaknya, bahkan dengan bangga menyebut diri sebagai “anti AI”.

Saya sendiri termasuk orang yang selalu penasaran pada hal-hal baru. Sejak dulu saya percaya bahwa teknologi tidak bisa ditolak hanya dengan kemarahan. Ia akan terus datang seperti banjir. Mau tidak mau, manusia akan belajar hidup berdampingan dengannya. Karena itu, saya mencoba mempelajari AI, termasuk teknik-teknik menulis dengan bantuannya.

Saya bereksperimen. Saya memberi bahan, kerangka, gaya bahasa, lalu membiarkan AI melanjutkan tulisan. Kadang saya menulis 30 persen, sisanya diteruskan mesin. Kadang separuh-separuh. Hasilnya mengejutkan. AI mampu menyusun argumen dengan rapi, membuat kalimat terdengar reflektif, bahkan sesekali menghasilkan paragraf yang terasa sangat manusiawi.

Kemampuan berpikirnya menakjubkan. Nyaris mirip otak manusia. Saya mulai memahami mengapa banyak orang tergoda memakainya. Terutama bagi pekerja media, penulis konten, atau orang-orang yang dituntut terus produktif setiap hari. AI bisa menjadi teman yang tidak pernah lelah. Ia tidak mengeluh, tidak meminta kopi, tidak mengantuk, dan tidak punya masalah keluarga. Ia siap membantu kapan saja.

Tetapi anehnya, setelah tulisan itu selesai, saya justru merasakan kehampaan. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Saya tidak merasa benar-benar menulisnya. Tulisan itu memang selesai. Kalimatnya bagus. Strukturnya rapi. Bahkan mungkin lebih enak dibaca dibanding tulisan yang saya buat sendiri secara penuh. Namun, ada sesuatu yang terasa hilang. Seperti mendengarkan suara sendiri dari rekaman lama. Mirip, tetapi bukan benar-benar diri kita saat ini.

Perasaan itu mengingatkan saya pada momen ketika seorang wartawan terlalu sering menulis berita dengan template yang sama. Lama-lama tulisannya memang rapi, tetapi kehilangan napas. Semua terasa benar, tetapi tidak terasa hidup. Mungkin penulis lain juga merasakan hal serupa.

Sebab menulis bukan hanya soal menghasilkan teks. Ada kegagalan-kegagalan kecil di dalamnya. Ada kalimat yang dicoret, paragraf yang tersendat, keraguan yang muncul tengah malam, juga rasa kesal ketika satu kata tidak kunjung ditemukan. Dalam proses yang lambat dan kadang melelahkan itulah, seorang penulis sebenarnya sedang bercakap dengan dirinya sendiri.

Saya teringat masa-masa ketika masih sering menulis puisi di buku tulis murah. Kadang saya duduk berjam-jam hanya untuk mencari satu kalimat penutup. Kadang puisi selesai dalam lima belas menit, tetapi lebih sering berhari-hari. Ada malam-malam yang diisi suara radio pelan, kopi dingin, dan rokok yang tinggal separuh. Ada kegagalan yang terasa begitu personal.

AI tidak mengalami itu. Ia tidak pernah merasa cemas apakah tulisannya terlalu buruk. Ia tidak pernah takut ditolak redaktur, dan tidak pernah merasa malu setelah membaca ulang puisinya sendiri. Ia tidak tahu rasanya menunggu honor tulisan cair di akhir bulan. Ia juga tidak pernah mengalami sunyi yang sesungguhnya. Sementara AI cenderung terlalu lancar, cepat, dan terlalu siap membantu.

Saya kemudian mencoba bertanya kepada AI mengapa ia begitu sering memakai kata “sunyi”. Jawabannya menarik. AI mengatakan bahwa kata “sunyi” memiliki daya tarik sastra yang besar dalam bahasa Indonesia modern. Kata itu dianggap puitis, emosional, reflektif, dan sering dipakai dalam esai maupun puisi. Karena belajar dari sangat banyak tulisan manusia, AI mengenali pola bahwa teks yang dianggap “indah” sering memakai kata-kata seperti sunyi, senja, hujan, luka, atau rindu.

Saya tertawa kecil membacanya. Jangan-jangan selama ini AI hanya sedang meniru kebiasaan kita sendiri. Memang harus diakui, dunia sastra dan media sosial kita sejak lama memiliki kecenderungan mengulang simbol yang sama. Senja terlalu sering dijadikan lambang kesedihan. Hujan dianggap otomatis puitis. Kopi identik dengan kesepian. Luka selalu terdengar lebih menarik dibanding kebahagiaan. Bahkan kata “pulang” seolah wajib ada dalam setiap tulisan reflektif.

AI hanya mempelajari kebiasaan itu, lalu memantulkannya kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih rapi dan lebih cepat. Karena itu, saya mulai berpikir, di masa depan mungkin bukan lagi tulisan AI yang berusaha terdengar seperti manusia, melainkan manusia yang takut terdengar seperti AI. Ketakutan itu perlahan mulai nyata. Hari ini, banyak orang membaca tulisan dengan rasa curiga. Ketika sebuah esai terasa terlalu rapi, lancar,atau  terlalu reflektif, orang langsung bertanya, “Ini pakai AI, ya?”

Lucunya, kadang tulisan manusia memang berantakan. Ada emosi yang bocor, paragraf yang terlalu panjang, atau kalimat yang terasa liar. Tetapi justru di situlah letak manusianya. Saya pernah membaca tulisan seorang teman wartawan yang secara teknis tidak sempurna. Ada bagian yang melompat-lompat.dan emosi yang terlalu mentah. Namun tulisan itu terasa hidup karena saya bisa merasakan manusia di belakangnya. Ada pengalaman nyata yang tidak bisa dipalsukan. Barangkali itu yang belum sepenuhnya dimiliki AI.

Sebab pengalaman hidup bukan sekadar data. Mesin mungkin bisa belajar tentang bunyi hujan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya kehujanan sambil memikirkan tagihan kos. Mesin bisa memahami definisi kehilangan, tetapi ia tidak tahu bagaimana rasanya duduk sendirian setelah ibu meninggal. Mesin bisa menulis tentang kesepian, tetapi ia tidak pernah menunggu balasan pesan yang tak kunjung datang hingga dini hari.

Saya jadi teringat pada pesan WhatsApp yang hanya dibaca lalu dibiarkan begitu saja. Centang biru itu kadang lebih sunyi daripada puisi-puisi muram yang kita tulis berlembar-lembar. Dan mungkin, di situlah masalahnya. AI mampu meniru bahasa kesedihan, tetapi belum tentu mampu mengalami kesedihan itu sendiri.

Meski demikian, saya juga tidak ingin menjadi orang yang sepenuhnya memusuhi AI. Bagaimanapun, teknologi ini memang membantu banyak hal. Dalam beberapa keadaan, AI bahkan bisa menjadi partner diskusi yang menarik. Ia membantu menyusun ide, memberi sudut pandang baru, atau sekadar menjadi teman berpikir ketika kepala sedang buntu.

Saya mengenal beberapa penulis yang memakai AI hanya sebagai alat bantu kecil. Mereka tetap menulis sendiri, tetap melakukan riset sendiri, tetap mempertahankan suara mereka sendiri. AI hanya dipakai untuk membantu merapikan struktur atau memancing ide awal. Mungkin itu cara yang lebih sehat.

Karena bagaimanapun, dunia sudah berubah. AI tidak akan hilang hanya karena sebagian orang membencinya. Sama seperti internet dulu pernah dianggap merusak budaya membaca, tetapi akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Yang paling penting mungkin bukan soal memakai atau menolak AI, melainkan bagaimana manusia tetap menjaga kejujuran dalam menulis. Sebab pada akhirnya, tulisan yang paling diingat pembaca biasanya bukan tulisan yang paling sempurna, melainkan tulisan yang terasa jujur. Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup biasanya memiliki semacam napas yang sulit dijelaskan. Kadang sederhana, tetapi membekas. Tidak terlalu puitis, tetapi terasa dekat. Ada manusia di dalamnya.

Padahal, yang membuat tulisan manusia tetap hidup bukan sekadar pilihan katanya. Bukan apakah ia memakai kata “sunyi” atau tidak. Melainkan pengalaman di belakang kata itu. Detail-detail kecil yang tidak dimiliki mesin. Bau warung tengah malam. Pesan WhatsApp yang hanya centang biru. Suara radio pelan di rumah yang mulai sepi. Atau rasa hampa yang muncul setelah menyelesaikan tulisan dengan bantuan AI.

Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan kecil. Mungkin saya tidak perlu terlalu takut memakai kata “sunyi”. Sebab kata itu bukan milik AI. Kata itu telah hidup jauh sebelum teknologi ini lahir. Yang menentukan apakah sebuah tulisan terasa manusiawi atau tidak, bukan satu dua diksi yang dipakai, melainkan kejujuran orang yang menuliskannya.

Pada akhirnya, di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa ini, semuanya berpulang kembali kepada para penulis sendiri. Ada yang tetap bangga menulis secara sepenuhnya otentik. Ada pula yang nyaman menjadikan AI sebagai partner kreatif. Barangkali tidak ada yang sepenuhnya salah. Tetapi saya kira satu hal tetap penting. Jangan sampai kita kehilangan perasaan saat menulis. Sebab mungkin, di situlah manusia masih berbeda dari mesin. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatanPuisipuisi tentang kesunyian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Next Post

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co