31 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
in Esai
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Rendra

……………..
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi.”

(W.S. Rendra, Sajak Seonggok Jagung, 1975)

“Aku bertanya: apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?” Demikian kegelisahan W. S. Rendra dalam Sajak Seonggok Jagung. Puluhan tahun lalu, Rendra telah melihat bahaya pendidikan yang tercerabut dari kehidupan manusia. Pendidikan, dalam kritiknya, bisa berubah menjadi menara gading yang hanya melahirkan orang-orang pandai, tetapi asing terhadap realitas sosialnya. Ironisnya, kegelisahan itu terasa semakin relevan hari ini ketika pendidikan tinggi mulai diukur terutama dengan logika pasar kerja.

Kemendiktisaintek sempat melempar wacana penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Alasannya sederhana sekaligus problematis. Fakta di lapangan menunjukkan lulusan perguruan tinggi sulit mendapatkan pekerjaan sehingga rentan mengalami oversupply. Prodi sosial-humaniora dan ilmu keguruan menjadi bidang yang paling sering disebut dalam isu tersebut. Kendati kemudian Mendiktisaintek Brian Yuliarto meralat pernyataannya.

Perdebatan yang muncul justru membuka pertanyaan mendasar: sebenarnya untuk apa perguruan tinggi hadir? Apakah kampus hanya tempat mencetak pekerja atau seharusnya menjadi ruang lahirnya manusia merdeka, pemikir, dan penjaga nurani masyarakat?

Wacana penutupan prodi mempertegas betapa pendidikan kini semakin dilihat melalui kacamata utilitarian, sesuatu dianggap bernilai jika langsung menghasilkan keuntungan ekonomi. Dalam logika ini, jurusan yang cepat terserap industri dipandang “berguna”, sedangkan ilmu-ilmu yang tidak menghasilkan pekerjaan instan dianggap beban. Kampus perlahan direduksi menjadi semacam pabrik tenaga kerja.

Kritik terhadap orientasi pendidikan yang terlalu industrialistik sebenarnya telah lama digaungkan oleh Paulo Freire (2005) yang menilai pendidikan senyatanya menjadi proses pembebasan manusia, bukan sekadar alat produksi ekonomi. Padahal sejarah peradaban manusia tidak dibangun semata oleh orang-orang yang mampu bekerja, tetapi oleh mereka yang mampu berpikir.

Tak dapat dimungkiri, dunia membutuhkan insinyur dan programmer, tetapi dunia juga membutuhkan filsuf, guru, sastrawan, ahli sejarah, antropolog, dan ilmuwan sosial untuk menjaga kemanusiaan agar tidak tenggelam dalam mesin industrialisasi. Martha C. Nussbaum (2010) bahkan mengingatkan bahwa krisis humaniora akan melahirkan masyarakat yang efisien secara ekonomi, tetapi miskin empati dan nalar demokratis.

Upaya merelevansikan pendidikan tinggi dengan dunia industri sesungguhnya telah berlangsung lama. Mata kuliah kewirausahaan diwajibkan hampir di semua program studi. Pada masa Nadiem Makarim, program Magang Merdeka juga didorong sebagai jembatan antara kampus dan dunia kerja. Namun demikian, pendidikan tidak semestinya melulu tunduk pada kepentingan industri.

Pendidikan adalah proses memerdekakan manusia. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup setinggi-tingginya.  Pernyataan ini juga selaras dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan, “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kata “mencerdaskan” jauh lebih luas daripada sekadar “mempekerjakan.” Pendidikan tidak hanya bertugas menciptakan tenaga kerja yang efisien, tetapi juga manusia yang mampu memahami masyarakat, memiliki empati, dan menjaga nilai-nilai kebudayaan.

Pada titik inilah sajak Rendra menemukan maknanya kembali. Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, mahasiswa berisiko menjadi “layang-layang di ibu kota” yang tercerabut dari akar sosial dan kemanusiaannya sendiri. Mereka mungkin mahir mengoperasikan teknologi, namun gagap memahami penderitaan masyarakat. Mereka mungkin sukses secara ekonomi, tetapi asing terhadap bangsanya sendiri.

Petakanya, industrialisasi perguruan tinggi akan melahirkan cara pandang baru terhadap kuliah bahwa pendidikan menjadi investasi modal semata. Mahasiswa akan memilih jurusan berdasarkan logika return of investment: jurusan mana yang cepat menghasilkan uang, mana yang paling cepat mendapatkan pekerjaan. Dalam jangka panjang, pola pikir model ini berbahaya tersebab ilmu akan kehilangan nilai intrinsiknya. Sastra dianggap tidak penting karena tidak cepat kaya. Filsafat dipandang mubazir gegara tidak menjanjikan gaji besar.

Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi memang harus adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk perkembangan AI, digitalisasi, dan teknologi. Namun adaptasi bukan berarti menyerahkan seluruh orientasi pendidikan kepada pasar. Bahkan ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berbicara tentang AI dan algoritma, matematika sebagai ilmu dasar tetap penting. Ini membuktikan pendidikan sejati justru bertumpu pada fondasi ilmu yang kuat, bukan sekadar tren industri sesaat.

Tak dapat dimungkiri, pasar kerja selalu berubah. Hari ini profesi tertentu dibutuhkan, besok bisa digantikan mesin. Tetapi kemampuan berpikir kritis, berempati, memahami manusia, dan membaca perubahan sosial akan tetap relevan sepanjang zaman. Barangkali inilah yang hendak diingatkan Rendra kepada kita: pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang sekadar membuat seseorang “laku” di pasar kerja, melainkan pendidikan yang membuat manusia tetap dekat dengan kenyataan hidupnya.

Kampus bukan hanya tempat mencetak pekerja, tetapi ruang untuk merawat akal sehat bangsa. Jika tidak, kita mungkin akan menghasilkan generasi yang terampil bekerja, namun kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia yang memahami sesamanya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanRendra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Bahari di Negeri Maritim

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

Read moreDetails

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

by Angga Wijaya
May 26, 2026
0
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

Read moreDetails

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia
Persona

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
Memang Pasar Malam
Esai

Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

by Angga Wijaya
May 30, 2026
Hikayat Tuak
Liputan Khusus

Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

by Jaswanto
May 30, 2026
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan
Panggung

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional
Budaya

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co