23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
in Esai
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Rendra

……………..
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi.”

(W.S. Rendra, Sajak Seonggok Jagung, 1975)

“Aku bertanya: apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?” Demikian kegelisahan W. S. Rendra dalam Sajak Seonggok Jagung. Puluhan tahun lalu, Rendra telah melihat bahaya pendidikan yang tercerabut dari kehidupan manusia. Pendidikan, dalam kritiknya, bisa berubah menjadi menara gading yang hanya melahirkan orang-orang pandai, tetapi asing terhadap realitas sosialnya. Ironisnya, kegelisahan itu terasa semakin relevan hari ini ketika pendidikan tinggi mulai diukur terutama dengan logika pasar kerja.

Kemendiktisaintek sempat melempar wacana penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Alasannya sederhana sekaligus problematis. Fakta di lapangan menunjukkan lulusan perguruan tinggi sulit mendapatkan pekerjaan sehingga rentan mengalami oversupply. Prodi sosial-humaniora dan ilmu keguruan menjadi bidang yang paling sering disebut dalam isu tersebut. Kendati kemudian Mendiktisaintek Brian Yuliarto meralat pernyataannya.

Perdebatan yang muncul justru membuka pertanyaan mendasar: sebenarnya untuk apa perguruan tinggi hadir? Apakah kampus hanya tempat mencetak pekerja atau seharusnya menjadi ruang lahirnya manusia merdeka, pemikir, dan penjaga nurani masyarakat?

Wacana penutupan prodi mempertegas betapa pendidikan kini semakin dilihat melalui kacamata utilitarian, sesuatu dianggap bernilai jika langsung menghasilkan keuntungan ekonomi. Dalam logika ini, jurusan yang cepat terserap industri dipandang “berguna”, sedangkan ilmu-ilmu yang tidak menghasilkan pekerjaan instan dianggap beban. Kampus perlahan direduksi menjadi semacam pabrik tenaga kerja.

Kritik terhadap orientasi pendidikan yang terlalu industrialistik sebenarnya telah lama digaungkan oleh Paulo Freire (2005) yang menilai pendidikan senyatanya menjadi proses pembebasan manusia, bukan sekadar alat produksi ekonomi. Padahal sejarah peradaban manusia tidak dibangun semata oleh orang-orang yang mampu bekerja, tetapi oleh mereka yang mampu berpikir.

Tak dapat dimungkiri, dunia membutuhkan insinyur dan programmer, tetapi dunia juga membutuhkan filsuf, guru, sastrawan, ahli sejarah, antropolog, dan ilmuwan sosial untuk menjaga kemanusiaan agar tidak tenggelam dalam mesin industrialisasi. Martha C. Nussbaum (2010) bahkan mengingatkan bahwa krisis humaniora akan melahirkan masyarakat yang efisien secara ekonomi, tetapi miskin empati dan nalar demokratis.

Upaya merelevansikan pendidikan tinggi dengan dunia industri sesungguhnya telah berlangsung lama. Mata kuliah kewirausahaan diwajibkan hampir di semua program studi. Pada masa Nadiem Makarim, program Magang Merdeka juga didorong sebagai jembatan antara kampus dan dunia kerja. Namun demikian, pendidikan tidak semestinya melulu tunduk pada kepentingan industri.

Pendidikan adalah proses memerdekakan manusia. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup setinggi-tingginya.  Pernyataan ini juga selaras dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan, “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kata “mencerdaskan” jauh lebih luas daripada sekadar “mempekerjakan.” Pendidikan tidak hanya bertugas menciptakan tenaga kerja yang efisien, tetapi juga manusia yang mampu memahami masyarakat, memiliki empati, dan menjaga nilai-nilai kebudayaan.

Pada titik inilah sajak Rendra menemukan maknanya kembali. Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, mahasiswa berisiko menjadi “layang-layang di ibu kota” yang tercerabut dari akar sosial dan kemanusiaannya sendiri. Mereka mungkin mahir mengoperasikan teknologi, namun gagap memahami penderitaan masyarakat. Mereka mungkin sukses secara ekonomi, tetapi asing terhadap bangsanya sendiri.

Petakanya, industrialisasi perguruan tinggi akan melahirkan cara pandang baru terhadap kuliah bahwa pendidikan menjadi investasi modal semata. Mahasiswa akan memilih jurusan berdasarkan logika return of investment: jurusan mana yang cepat menghasilkan uang, mana yang paling cepat mendapatkan pekerjaan. Dalam jangka panjang, pola pikir model ini berbahaya tersebab ilmu akan kehilangan nilai intrinsiknya. Sastra dianggap tidak penting karena tidak cepat kaya. Filsafat dipandang mubazir gegara tidak menjanjikan gaji besar.

Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi memang harus adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk perkembangan AI, digitalisasi, dan teknologi. Namun adaptasi bukan berarti menyerahkan seluruh orientasi pendidikan kepada pasar. Bahkan ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berbicara tentang AI dan algoritma, matematika sebagai ilmu dasar tetap penting. Ini membuktikan pendidikan sejati justru bertumpu pada fondasi ilmu yang kuat, bukan sekadar tren industri sesaat.

Tak dapat dimungkiri, pasar kerja selalu berubah. Hari ini profesi tertentu dibutuhkan, besok bisa digantikan mesin. Tetapi kemampuan berpikir kritis, berempati, memahami manusia, dan membaca perubahan sosial akan tetap relevan sepanjang zaman. Barangkali inilah yang hendak diingatkan Rendra kepada kita: pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang sekadar membuat seseorang “laku” di pasar kerja, melainkan pendidikan yang membuat manusia tetap dekat dengan kenyataan hidupnya.

Kampus bukan hanya tempat mencetak pekerja, tetapi ruang untuk merawat akal sehat bangsa. Jika tidak, kita mungkin akan menghasilkan generasi yang terampil bekerja, namun kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia yang memahami sesamanya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanRendra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Bahari di Negeri Maritim

Next Post

Awas Ada Pocong!

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Awas Ada Pocong!

Awas Ada Pocong!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co