21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
in Esai
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Rendra

……………..
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi.”

(W.S. Rendra, Sajak Seonggok Jagung, 1975)

“Aku bertanya: apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?” Demikian kegelisahan W. S. Rendra dalam Sajak Seonggok Jagung. Puluhan tahun lalu, Rendra telah melihat bahaya pendidikan yang tercerabut dari kehidupan manusia. Pendidikan, dalam kritiknya, bisa berubah menjadi menara gading yang hanya melahirkan orang-orang pandai, tetapi asing terhadap realitas sosialnya. Ironisnya, kegelisahan itu terasa semakin relevan hari ini ketika pendidikan tinggi mulai diukur terutama dengan logika pasar kerja.

Kemendiktisaintek sempat melempar wacana penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Alasannya sederhana sekaligus problematis. Fakta di lapangan menunjukkan lulusan perguruan tinggi sulit mendapatkan pekerjaan sehingga rentan mengalami oversupply. Prodi sosial-humaniora dan ilmu keguruan menjadi bidang yang paling sering disebut dalam isu tersebut. Kendati kemudian Mendiktisaintek Brian Yuliarto meralat pernyataannya.

Perdebatan yang muncul justru membuka pertanyaan mendasar: sebenarnya untuk apa perguruan tinggi hadir? Apakah kampus hanya tempat mencetak pekerja atau seharusnya menjadi ruang lahirnya manusia merdeka, pemikir, dan penjaga nurani masyarakat?

Wacana penutupan prodi mempertegas betapa pendidikan kini semakin dilihat melalui kacamata utilitarian, sesuatu dianggap bernilai jika langsung menghasilkan keuntungan ekonomi. Dalam logika ini, jurusan yang cepat terserap industri dipandang “berguna”, sedangkan ilmu-ilmu yang tidak menghasilkan pekerjaan instan dianggap beban. Kampus perlahan direduksi menjadi semacam pabrik tenaga kerja.

Kritik terhadap orientasi pendidikan yang terlalu industrialistik sebenarnya telah lama digaungkan oleh Paulo Freire (2005) yang menilai pendidikan senyatanya menjadi proses pembebasan manusia, bukan sekadar alat produksi ekonomi. Padahal sejarah peradaban manusia tidak dibangun semata oleh orang-orang yang mampu bekerja, tetapi oleh mereka yang mampu berpikir.

Tak dapat dimungkiri, dunia membutuhkan insinyur dan programmer, tetapi dunia juga membutuhkan filsuf, guru, sastrawan, ahli sejarah, antropolog, dan ilmuwan sosial untuk menjaga kemanusiaan agar tidak tenggelam dalam mesin industrialisasi. Martha C. Nussbaum (2010) bahkan mengingatkan bahwa krisis humaniora akan melahirkan masyarakat yang efisien secara ekonomi, tetapi miskin empati dan nalar demokratis.

Upaya merelevansikan pendidikan tinggi dengan dunia industri sesungguhnya telah berlangsung lama. Mata kuliah kewirausahaan diwajibkan hampir di semua program studi. Pada masa Nadiem Makarim, program Magang Merdeka juga didorong sebagai jembatan antara kampus dan dunia kerja. Namun demikian, pendidikan tidak semestinya melulu tunduk pada kepentingan industri.

Pendidikan adalah proses memerdekakan manusia. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup setinggi-tingginya.  Pernyataan ini juga selaras dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan, “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kata “mencerdaskan” jauh lebih luas daripada sekadar “mempekerjakan.” Pendidikan tidak hanya bertugas menciptakan tenaga kerja yang efisien, tetapi juga manusia yang mampu memahami masyarakat, memiliki empati, dan menjaga nilai-nilai kebudayaan.

Pada titik inilah sajak Rendra menemukan maknanya kembali. Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, mahasiswa berisiko menjadi “layang-layang di ibu kota” yang tercerabut dari akar sosial dan kemanusiaannya sendiri. Mereka mungkin mahir mengoperasikan teknologi, namun gagap memahami penderitaan masyarakat. Mereka mungkin sukses secara ekonomi, tetapi asing terhadap bangsanya sendiri.

Petakanya, industrialisasi perguruan tinggi akan melahirkan cara pandang baru terhadap kuliah bahwa pendidikan menjadi investasi modal semata. Mahasiswa akan memilih jurusan berdasarkan logika return of investment: jurusan mana yang cepat menghasilkan uang, mana yang paling cepat mendapatkan pekerjaan. Dalam jangka panjang, pola pikir model ini berbahaya tersebab ilmu akan kehilangan nilai intrinsiknya. Sastra dianggap tidak penting karena tidak cepat kaya. Filsafat dipandang mubazir gegara tidak menjanjikan gaji besar.

Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi memang harus adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk perkembangan AI, digitalisasi, dan teknologi. Namun adaptasi bukan berarti menyerahkan seluruh orientasi pendidikan kepada pasar. Bahkan ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berbicara tentang AI dan algoritma, matematika sebagai ilmu dasar tetap penting. Ini membuktikan pendidikan sejati justru bertumpu pada fondasi ilmu yang kuat, bukan sekadar tren industri sesaat.

Tak dapat dimungkiri, pasar kerja selalu berubah. Hari ini profesi tertentu dibutuhkan, besok bisa digantikan mesin. Tetapi kemampuan berpikir kritis, berempati, memahami manusia, dan membaca perubahan sosial akan tetap relevan sepanjang zaman. Barangkali inilah yang hendak diingatkan Rendra kepada kita: pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang sekadar membuat seseorang “laku” di pasar kerja, melainkan pendidikan yang membuat manusia tetap dekat dengan kenyataan hidupnya.

Kampus bukan hanya tempat mencetak pekerja, tetapi ruang untuk merawat akal sehat bangsa. Jika tidak, kita mungkin akan menghasilkan generasi yang terampil bekerja, namun kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia yang memahami sesamanya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanRendra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Bahari di Negeri Maritim

Next Post

Awas Ada Pocong!

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails
Next Post
Awas Ada Pocong!

Awas Ada Pocong!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang
Pendidikan

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

 “Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.” Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta,...

by Dede Putra Wiguna
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co