29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memang Pasar Malam

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 30, 2026
in Esai
Memang Pasar Malam

Pasar malam di Padonan, Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. (Foto: Angga Wijaya)

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar malam yang saya datangi berada di Desa Padonan, Kelurahan Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. Tidak jauh dari Canggu, kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu wajah global Bali.

Di sekitar sana berdiri vila-vila, kafe, restoran, dan ruang kerja bersama. Turis asing lalu-lalang dengan sepeda motor. Sebagian datang untuk berlibur, sebagian lagi bekerja dari jarak jauh. Bahasa Inggris terdengar hampir sama seringnya dengan bahasa Indonesia. Bali di kawasan ini seolah menjadi titik pertemuan berbagai bangsa.

Namun malam itu perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jauh lebih sederhana. Lampu-lampu warna-warni menyala di sebuah lapangan. Musik terdengar dari pengeras suara. Anak-anak berlarian. Pedagang menjajakan makanan dan mainan. Sebuah komedi putar terus berputar membawa penumpang kecilnya mengelilingi lingkaran yang sama berulang-ulang.

Pasar malam. Pemandangan yang mungkin dianggap biasa oleh banyak orang, tetapi entah mengapa membuat saya berhenti cukup lama.

Di tengah kehidupan yang semakin digital, saya sempat mengira bentuk hiburan seperti ini perlahan akan menghilang. Anak-anak kini lebih akrab dengan telepon genggam daripada permainan di ruang terbuka. Banyak keluarga menghabiskan waktu luang di depan layar. Hiburan dapat diakses kapan saja melalui internet.

Tetapi malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Anak-anak tertawa tanpa memegang gawai. Orang tua mengantar mereka dari satu wahana ke wahana lain. Para pedagang sibuk melayani pembeli. Ada keramaian yang terasa akrab, seolah datang dari masa lalu yang belum benar-benar pergi.

Saat itulah saya teringat pada sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam. Tentu saja novel itu tidak bercerita tentang pasar malam dalam pengertian yang saya lihat di Padonan. Dalam karya yang pertama kali terbit pada 1951 itu, Pramoedya mengisahkan seorang anak yang pulang menjenguk ayahnya yang sakit keras. Dari kisah yang sederhana itu lahir perenungan tentang keluarga, kemiskinan, perjuangan, kemerdekaan, dan kematian.

Banyak pembaca menganggap Bukan Pasar Malam sebagai salah satu karya Pramoedya yang paling personal. Novel itu juga sering dibaca sebagai kritik terhadap nasib para pejuang setelah Indonesia merdeka. Seorang guru yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa justru menjalani hari-hari tua dalam kemiskinan dan penyakit.

Namun yang paling melekat dalam ingatan banyak orang adalah gagasan yang terkandung dalam judulnya. Dunia bukan pasar malam. Kehidupan bukan pesta yang berlangsung terus-menerus. Manusia datang dan pergi. Pada akhirnya setiap orang menghadapi kesendiriannya sendiri.

Malam itu saya memahami kembali gagasan tersebut. Namun pada saat yang sama saya juga melihat sesuatu yang lain. Apa yang berada di hadapan saya memang pasar malam. Bukan metafora, simbol, dan bukan perumpamaan tentang kehidupan. Melainkan pasar malam yang sesungguhnya, lengkap dengan lampu-lampunya, suara musiknya, dan anak-anak yang berteriak kegirangan. Dan justru karena nyata, ia terasa penting.

Saya lahir dan tumbuh di kota kecil. Karena itu pasar malam bukan sesuatu yang asing dalam ingatan saya. Dulu, ketika pasar malam datang, ia menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu. Anak-anak menabung uang saku. Orang tua menyisihkan waktu untuk mengajak keluarga berjalan-jalan pada malam hari.

Kami tidak datang dengan banyak uang. Kadang hanya cukup untuk membeli satu jajanan atau mencoba satu permainan. Namun keterbatasan itu tidak mengurangi kegembiraan. Justru karena tidak bisa memiliki semuanya, setiap pengalaman terasa lebih berharga.

Kami berjalan mengelilingi arena berkali-kali. Menatap lampu yang berkelip. Mengamati permainan yang tidak mampu kami naiki. Menonton orang-orang yang lalu-lalang. Semua itu sudah cukup membuat malam terasa menyenangkan.

Kini dunia telah berubah. Anak-anak dapat menjelajahi berbagai permainan melalui layar ponsel. Film, musik, dan hiburan tersedia tanpa harus keluar rumah. Namun ada sesuatu yang tidak berubah, yakni kebutuhan manusia untuk berkumpul.

Mungkin itulah sebabnya pasar malam masih bertahan. Ia menawarkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh internet, kehadiran.  Untuk menikmati pasar malam, seseorang harus datang. Harus berjalan, berbagi ruang dengan orang lain, merasakan udara malam dan mendengar suara keramaian secara langsung.

Pengalaman seperti itu semakin langka pada zaman sekarang. Dalam kajian antropologi, pasar tidak pernah dipahami semata-mata sebagai tempat transaksi ekonomi. Pasar adalah ruang sosial. Tempat orang bertemu, bertukar cerita, membangun hubungan, dan menjadi bagian dari komunitas.

Antropolog Clifford Geertz, yang banyak meneliti masyarakat Bali dan Jawa, menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan material. Manusia juga hidup melalui simbol, makna, dan hubungan sosial. Karena itu ruang-ruang perjumpaan memiliki arti yang sangat penting.

Pasar malam dapat dibaca dalam kerangka tersebut. Ia bukan hanya tempat orang mengeluarkan uang untuk membeli makanan atau tiket permainan. Ia adalah ruang sosial yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.

Di sana seorang pegawai kantor dapat berjalan berdampingan dengan pedagang kecil. Anak-anak bermain tanpa peduli latar belakang ekonomi orang tuanya. Pendatang dan warga lokal berbagi ruang yang sama. Dalam kehidupan modern yang semakin terpecah oleh kelas sosial, pekerjaan, dan gaya hidup, situasi seperti itu semakin jarang ditemukan.

Pasar malam menciptakan ruang yang lebih cair. Antropolog Victor Turner menggunakan istilah communitas untuk menggambarkan pengalaman kebersamaan yang muncul ketika manusia berkumpul dalam suatu peristiwa sosial. Dalam momen seperti itu, batas-batas yang biasanya memisahkan orang menjadi lebih longgar.

Saya tidak tahu apakah para pengunjung pasar malam di Padonan mengenal istilah tersebut. Kemungkinan besar tidak. Tetapi mereka mengalaminya. Mereka hadir dalam ruang yang sama. Menikmati suasana yang sama. Menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang sama.

Di sinilah pasar malam menunjukkan maknanya yang lebih dalam. Ia membantu manusia merasa terhubung dengan manusia lainnya. Hal itu menjadi semakin menarik karena pasar malam yang saya lihat berada sangat dekat dengan Canggu.

Kawasan ini adalah simbol perubahan Bali dalam dua dekade terakhir. Sawah berubah menjadi vila. Jalan kecil berubah menjadi jalur wisata. Kedai kopi tumbuh di berbagai sudut. Dunia seakan datang ke Bali.

Perubahan itu membawa banyak manfaat ekonomi. Tidak ada gunanya menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Namun perubahan yang terlalu cepat juga sering melahirkan kerinduan terhadap ruang-ruang yang lebih akrab.

Pasar malam menjawab kerinduan itu. Ia tidak menjual kemewahan, tidak menawarkan gaya hidup global, dan tidak mengandalkan citra eksklusif.

Ada sesuatu yang menarik ketika memikirkan pasar malam di Bali hari ini. Semakin banyak ruang yang berubah menjadi ruang komersial, semakin terasa penting ruang-ruang yang masih dapat diakses oleh siapa saja.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sudut Bali mengalami perubahan yang cepat. Lahan kosong menjadi bangunan. Sawah menjadi kompleks usaha. Pantai-pantai tertentu bahkan terasa semakin eksklusif. Hampir setiap ruang memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung.

Tentu perubahan itu tidak selalu buruk. Ia membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi. Namun pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan ruang yang tidak semata-mata diukur oleh keuntungan. Ruang untuk berkumpul, ruang untuk berjalan tanpa harus mengeluarkan banyak uang, dan ruang untuk merasa menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Pasar malam menyediakan fungsi itu dengan caranya sendiri. Tidak ada tiket masuk yang mahal, aaturan berpakaian tertentu. Juga tidak ada kesan bahwa seseorang harus berasal dari kelompok sosial tertentu untuk dapat hadir di sana.

Semua orang diterima. Anak-anak, pedagang, pekerja, warga lokal, maupun pendatang. Di tengah Bali yang semakin dikenal dunia, pasar malam justru mengingatkan pada sesuatu yang sangat mendasar. Bahwa sebuah komunitas tidak hanya dibangun oleh investasi, bangunan, atau statistik pertumbuhan ekonomi. Komunitas juga dibangun oleh perjumpaan-perjumpaan kecil yang berlangsung setiap hari.

Dan malam itu, di Padonan, saya melihat perjumpaan-perjumpaan kecil itu masih hidup. Yang ditawarkannya sangat sederhana; permainan anak-anak, jajanan, keramaian, dan rasa kebersamaan.

Di satu sisi jalan, seseorang mungkin sedang bekerja secara daring untuk perusahaan di Eropa atau Amerika Serikat. Di sisi lain, seorang anak sedang tertawa di atas komedi putar. Dua dunia itu hidup berdampingan.

Pemandangan semacam itu membuat saya berpikir bahwa modernitas tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kadang-kadang keduanya justru berjalan bersama. Bali terus berubah, tetapi beberapa hal masih bertahan. Pasar malam adalah salah satunya.

Saya memperhatikan wajah-wajah para pengunjung malam itu. Sebagian mungkin sedang memikirkan cicilan, sedang mencari pekerjaan, dan sebagian juga muungkin sedang menghadapi berbagai persoalan hidup yang tidak saya ketahui.

Namun selama beberapa jam di pasar malam, semua beban itu seolah mendapat jeda. Anak-anak tertawa, orang tua tersenyum, pedagang berharap dagangannya laku. Kehidupan berjalan seperti biasa.

Di sinilah saya merasa pasar malam memiliki fungsi sosial yang sering diremehkan. Ia memberi penghiburan. Bukan penghiburan besar yang mengubah nasib seseorang, melainkan penghiburan kecil yang membantu manusia bertahan.

Kita sering menganggap kebahagiaan harus hadir dalam bentuk yang luar biasa. Padahal sebagian besar hidup tersusun dari pengalaman-pengalaman sederhana, berjalan bersama keluarga, mengobrol dengan teman, menonton anak bermain, atau membeli jajanan Hal-hal kecil semacam itulah yang diam-diam membentuk kenangan.

Mungkin beberapa puluh tahun dari sekarang, anak-anak yang malam itu berlarian di Padonan tidak lagi mengingat harga tiket permainan yang mereka naiki. Mereka mungkin lupa lagu yang diputar dari pengeras suara. Tetapi saya yakin mereka akan mengingat perasaannya. Perasaan ketika menjadi bagian dari keramaia, ketika mnggenggam tangan ayah atau ibu, dan perasaan ketika malam terasa panjang dan menyenangkan.

Dan bukankah kehidupan pada akhirnya memang tersusun dari hal-hal semacam itu? Bukan hanya dari peristiwa besar yang masuk berita, melainkan juga dari pengalaman sehari-hari yang diam-diam membentuk siapa diri kita.

Ketika berjalan meninggalkan arena pasar malam, saya melihat beberapa orang mengangkat telepon genggam untuk memotret anak-anak mereka. Sebagian merekam video. Sebagian mengambil swafoto dengan latar lampu warna-warni. Pemandangan itu menarik. Bahkan ketika berada di ruang publik yang nyata, kita tetap membawa dunia digital ke mana-mana.

Namun saya merasa ada perbedaan penting. Media sosial sering menampilkan kehidupan yang telah dipilih dan disaring. Orang menunjukkan versi terbaik dirinya. Foto, momen, dan pengalaman terbaik.

Pasar malam tidak demikian. ia tidak berusaha terlihat sempurna. Lampunya mungkin tidak semegah pusat hiburan modern. Jalannya mungkin tidak selalu rapi. Wahananya mungkin tidak secanggih taman bermain internasional.

Tetapi justru karena ketidaksempurnaannya, ia terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak menjual ilusi, tapi menawarkan pengalaman yang apa adanya.

Di sana orang tidak perlu menjadi siapa-siapa. Seorang ayah cukup menjadi ayah, seorang ibu cukup menjadi ibu dan seorang anak cukup menjadi anak-anak. Tidak ada tuntutan untuk tampil lebih hebat daripada kenyataan. Yang ada hanyalah kehidupan yang berlangsung sebagaimana mestinya.

Ketika pulang malam itu, saya kembali teringat pada Pramoedya. Dunia memang bukan pasar malam. Tidak ada keramaian yang berlangsung selamanya. Tidak ada kegembiraan yang abadi. Cepat atau lambat, setiap orang akan kembali kepada kesunyiannya masing-masing. Tetapi setelah berjalan mengelilingi pasar malam di Padonan, saya merasa ada satu kalimat lain yang dapat ditambahkan.

Bahwa justru karena dunia bukan pasar malam, manusia membutuhkan pasar malam. Membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan, ksempatan untuk tertawa, tempat untuk merasa menjadi bagian dari orang lain. Membutuhkan alasan sederhana untuk keluar rumah dan mengingat bahwa hidup tidak hanya berisi pekerjaan, tagihan, target, dan kecemasan.

Di tengah Bali yang terus berubah, di tengah Canggu yang semakin mendunia, dan di tengah kehidupan digital yang semakin menyita perhatian manusia, pasar malam di Padonan masih berdiri dengan kesederhanaannya.

Lampu-lampunya mungkin tidak seterang gedung-gedung besar. Musiknya mungkin tidak semeriah festival internasional.Namun ia tetap mampu melakukan sesuatu yang penting; mengumpulkan manusia.

Dan kadang-kadang, dalam zaman yang semakin membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri, mengumpulkan manusia mungkin sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa.

Malam semakin larut ketika saya meninggalkan lokasi itu. Dari kejauhan, lampu komedi putar masih berputar perlahan. Anak-anak masih tertawa. Pedagang masih melayani pembeli. Sebuah pemandangan yang tampak sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia menyimpan harapan; bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia masih mau berkumpul, bercakap-cakap, dan berbagi kegembiraan sederhana. Dunia memang bukan pasar malam. Tetapi sesekali, agar tidak terlalu lelah menjadi manusia, kita membutuhkan pasar malam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomigaya hiduppasarpasar malam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Tuak

Next Post

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails
Next Post
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co