30 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memang Pasar Malam

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 30, 2026
in Esai
Memang Pasar Malam

Pasar malam di Padonan, Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. (Foto: Angga Wijaya)

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar malam yang saya datangi berada di Desa Padonan, Kelurahan Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. Tidak jauh dari Canggu, kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu wajah global Bali.

Di sekitar sana berdiri vila-vila, kafe, restoran, dan ruang kerja bersama. Turis asing lalu-lalang dengan sepeda motor. Sebagian datang untuk berlibur, sebagian lagi bekerja dari jarak jauh. Bahasa Inggris terdengar hampir sama seringnya dengan bahasa Indonesia. Bali di kawasan ini seolah menjadi titik pertemuan berbagai bangsa.

Namun malam itu perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jauh lebih sederhana. Lampu-lampu warna-warni menyala di sebuah lapangan. Musik terdengar dari pengeras suara. Anak-anak berlarian. Pedagang menjajakan makanan dan mainan. Sebuah komedi putar terus berputar membawa penumpang kecilnya mengelilingi lingkaran yang sama berulang-ulang.

Pasar malam. Pemandangan yang mungkin dianggap biasa oleh banyak orang, tetapi entah mengapa membuat saya berhenti cukup lama.

Di tengah kehidupan yang semakin digital, saya sempat mengira bentuk hiburan seperti ini perlahan akan menghilang. Anak-anak kini lebih akrab dengan telepon genggam daripada permainan di ruang terbuka. Banyak keluarga menghabiskan waktu luang di depan layar. Hiburan dapat diakses kapan saja melalui internet.

Tetapi malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Anak-anak tertawa tanpa memegang gawai. Orang tua mengantar mereka dari satu wahana ke wahana lain. Para pedagang sibuk melayani pembeli. Ada keramaian yang terasa akrab, seolah datang dari masa lalu yang belum benar-benar pergi.

Saat itulah saya teringat pada sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam. Tentu saja novel itu tidak bercerita tentang pasar malam dalam pengertian yang saya lihat di Padonan. Dalam karya yang pertama kali terbit pada 1951 itu, Pramoedya mengisahkan seorang anak yang pulang menjenguk ayahnya yang sakit keras. Dari kisah yang sederhana itu lahir perenungan tentang keluarga, kemiskinan, perjuangan, kemerdekaan, dan kematian.

Banyak pembaca menganggap Bukan Pasar Malam sebagai salah satu karya Pramoedya yang paling personal. Novel itu juga sering dibaca sebagai kritik terhadap nasib para pejuang setelah Indonesia merdeka. Seorang guru yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa justru menjalani hari-hari tua dalam kemiskinan dan penyakit.

Namun yang paling melekat dalam ingatan banyak orang adalah gagasan yang terkandung dalam judulnya. Dunia bukan pasar malam. Kehidupan bukan pesta yang berlangsung terus-menerus. Manusia datang dan pergi. Pada akhirnya setiap orang menghadapi kesendiriannya sendiri.

Malam itu saya memahami kembali gagasan tersebut. Namun pada saat yang sama saya juga melihat sesuatu yang lain. Apa yang berada di hadapan saya memang pasar malam. Bukan metafora, simbol, dan bukan perumpamaan tentang kehidupan. Melainkan pasar malam yang sesungguhnya, lengkap dengan lampu-lampunya, suara musiknya, dan anak-anak yang berteriak kegirangan. Dan justru karena nyata, ia terasa penting.

Saya lahir dan tumbuh di kota kecil. Karena itu pasar malam bukan sesuatu yang asing dalam ingatan saya. Dulu, ketika pasar malam datang, ia menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu. Anak-anak menabung uang saku. Orang tua menyisihkan waktu untuk mengajak keluarga berjalan-jalan pada malam hari.

Kami tidak datang dengan banyak uang. Kadang hanya cukup untuk membeli satu jajanan atau mencoba satu permainan. Namun keterbatasan itu tidak mengurangi kegembiraan. Justru karena tidak bisa memiliki semuanya, setiap pengalaman terasa lebih berharga.

Kami berjalan mengelilingi arena berkali-kali. Menatap lampu yang berkelip. Mengamati permainan yang tidak mampu kami naiki. Menonton orang-orang yang lalu-lalang. Semua itu sudah cukup membuat malam terasa menyenangkan.

Kini dunia telah berubah. Anak-anak dapat menjelajahi berbagai permainan melalui layar ponsel. Film, musik, dan hiburan tersedia tanpa harus keluar rumah. Namun ada sesuatu yang tidak berubah, yakni kebutuhan manusia untuk berkumpul.

Mungkin itulah sebabnya pasar malam masih bertahan. Ia menawarkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh internet, kehadiran.  Untuk menikmati pasar malam, seseorang harus datang. Harus berjalan, berbagi ruang dengan orang lain, merasakan udara malam dan mendengar suara keramaian secara langsung.

Pengalaman seperti itu semakin langka pada zaman sekarang. Dalam kajian antropologi, pasar tidak pernah dipahami semata-mata sebagai tempat transaksi ekonomi. Pasar adalah ruang sosial. Tempat orang bertemu, bertukar cerita, membangun hubungan, dan menjadi bagian dari komunitas.

Antropolog Clifford Geertz, yang banyak meneliti masyarakat Bali dan Jawa, menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan material. Manusia juga hidup melalui simbol, makna, dan hubungan sosial. Karena itu ruang-ruang perjumpaan memiliki arti yang sangat penting.

Pasar malam dapat dibaca dalam kerangka tersebut. Ia bukan hanya tempat orang mengeluarkan uang untuk membeli makanan atau tiket permainan. Ia adalah ruang sosial yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.

Di sana seorang pegawai kantor dapat berjalan berdampingan dengan pedagang kecil. Anak-anak bermain tanpa peduli latar belakang ekonomi orang tuanya. Pendatang dan warga lokal berbagi ruang yang sama. Dalam kehidupan modern yang semakin terpecah oleh kelas sosial, pekerjaan, dan gaya hidup, situasi seperti itu semakin jarang ditemukan.

Pasar malam menciptakan ruang yang lebih cair. Antropolog Victor Turner menggunakan istilah communitas untuk menggambarkan pengalaman kebersamaan yang muncul ketika manusia berkumpul dalam suatu peristiwa sosial. Dalam momen seperti itu, batas-batas yang biasanya memisahkan orang menjadi lebih longgar.

Saya tidak tahu apakah para pengunjung pasar malam di Padonan mengenal istilah tersebut. Kemungkinan besar tidak. Tetapi mereka mengalaminya. Mereka hadir dalam ruang yang sama. Menikmati suasana yang sama. Menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang sama.

Di sinilah pasar malam menunjukkan maknanya yang lebih dalam. Ia membantu manusia merasa terhubung dengan manusia lainnya. Hal itu menjadi semakin menarik karena pasar malam yang saya lihat berada sangat dekat dengan Canggu.

Kawasan ini adalah simbol perubahan Bali dalam dua dekade terakhir. Sawah berubah menjadi vila. Jalan kecil berubah menjadi jalur wisata. Kedai kopi tumbuh di berbagai sudut. Dunia seakan datang ke Bali.

Perubahan itu membawa banyak manfaat ekonomi. Tidak ada gunanya menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Namun perubahan yang terlalu cepat juga sering melahirkan kerinduan terhadap ruang-ruang yang lebih akrab.

Pasar malam menjawab kerinduan itu. Ia tidak menjual kemewahan, tidak menawarkan gaya hidup global, dan tidak mengandalkan citra eksklusif.

Ada sesuatu yang menarik ketika memikirkan pasar malam di Bali hari ini. Semakin banyak ruang yang berubah menjadi ruang komersial, semakin terasa penting ruang-ruang yang masih dapat diakses oleh siapa saja.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sudut Bali mengalami perubahan yang cepat. Lahan kosong menjadi bangunan. Sawah menjadi kompleks usaha. Pantai-pantai tertentu bahkan terasa semakin eksklusif. Hampir setiap ruang memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung.

Tentu perubahan itu tidak selalu buruk. Ia membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi. Namun pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan ruang yang tidak semata-mata diukur oleh keuntungan. Ruang untuk berkumpul, ruang untuk berjalan tanpa harus mengeluarkan banyak uang, dan ruang untuk merasa menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Pasar malam menyediakan fungsi itu dengan caranya sendiri. Tidak ada tiket masuk yang mahal, aaturan berpakaian tertentu. Juga tidak ada kesan bahwa seseorang harus berasal dari kelompok sosial tertentu untuk dapat hadir di sana.

Semua orang diterima. Anak-anak, pedagang, pekerja, warga lokal, maupun pendatang. Di tengah Bali yang semakin dikenal dunia, pasar malam justru mengingatkan pada sesuatu yang sangat mendasar. Bahwa sebuah komunitas tidak hanya dibangun oleh investasi, bangunan, atau statistik pertumbuhan ekonomi. Komunitas juga dibangun oleh perjumpaan-perjumpaan kecil yang berlangsung setiap hari.

Dan malam itu, di Padonan, saya melihat perjumpaan-perjumpaan kecil itu masih hidup. Yang ditawarkannya sangat sederhana; permainan anak-anak, jajanan, keramaian, dan rasa kebersamaan.

Di satu sisi jalan, seseorang mungkin sedang bekerja secara daring untuk perusahaan di Eropa atau Amerika Serikat. Di sisi lain, seorang anak sedang tertawa di atas komedi putar. Dua dunia itu hidup berdampingan.

Pemandangan semacam itu membuat saya berpikir bahwa modernitas tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kadang-kadang keduanya justru berjalan bersama. Bali terus berubah, tetapi beberapa hal masih bertahan. Pasar malam adalah salah satunya.

Saya memperhatikan wajah-wajah para pengunjung malam itu. Sebagian mungkin sedang memikirkan cicilan, sedang mencari pekerjaan, dan sebagian juga muungkin sedang menghadapi berbagai persoalan hidup yang tidak saya ketahui.

Namun selama beberapa jam di pasar malam, semua beban itu seolah mendapat jeda. Anak-anak tertawa, orang tua tersenyum, pedagang berharap dagangannya laku. Kehidupan berjalan seperti biasa.

Di sinilah saya merasa pasar malam memiliki fungsi sosial yang sering diremehkan. Ia memberi penghiburan. Bukan penghiburan besar yang mengubah nasib seseorang, melainkan penghiburan kecil yang membantu manusia bertahan.

Kita sering menganggap kebahagiaan harus hadir dalam bentuk yang luar biasa. Padahal sebagian besar hidup tersusun dari pengalaman-pengalaman sederhana, berjalan bersama keluarga, mengobrol dengan teman, menonton anak bermain, atau membeli jajanan Hal-hal kecil semacam itulah yang diam-diam membentuk kenangan.

Mungkin beberapa puluh tahun dari sekarang, anak-anak yang malam itu berlarian di Padonan tidak lagi mengingat harga tiket permainan yang mereka naiki. Mereka mungkin lupa lagu yang diputar dari pengeras suara. Tetapi saya yakin mereka akan mengingat perasaannya. Perasaan ketika menjadi bagian dari keramaia, ketika mnggenggam tangan ayah atau ibu, dan perasaan ketika malam terasa panjang dan menyenangkan.

Dan bukankah kehidupan pada akhirnya memang tersusun dari hal-hal semacam itu? Bukan hanya dari peristiwa besar yang masuk berita, melainkan juga dari pengalaman sehari-hari yang diam-diam membentuk siapa diri kita.

Ketika berjalan meninggalkan arena pasar malam, saya melihat beberapa orang mengangkat telepon genggam untuk memotret anak-anak mereka. Sebagian merekam video. Sebagian mengambil swafoto dengan latar lampu warna-warni. Pemandangan itu menarik. Bahkan ketika berada di ruang publik yang nyata, kita tetap membawa dunia digital ke mana-mana.

Namun saya merasa ada perbedaan penting. Media sosial sering menampilkan kehidupan yang telah dipilih dan disaring. Orang menunjukkan versi terbaik dirinya. Foto, momen, dan pengalaman terbaik.

Pasar malam tidak demikian. ia tidak berusaha terlihat sempurna. Lampunya mungkin tidak semegah pusat hiburan modern. Jalannya mungkin tidak selalu rapi. Wahananya mungkin tidak secanggih taman bermain internasional.

Tetapi justru karena ketidaksempurnaannya, ia terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak menjual ilusi, tapi menawarkan pengalaman yang apa adanya.

Di sana orang tidak perlu menjadi siapa-siapa. Seorang ayah cukup menjadi ayah, seorang ibu cukup menjadi ibu dan seorang anak cukup menjadi anak-anak. Tidak ada tuntutan untuk tampil lebih hebat daripada kenyataan. Yang ada hanyalah kehidupan yang berlangsung sebagaimana mestinya.

Ketika pulang malam itu, saya kembali teringat pada Pramoedya. Dunia memang bukan pasar malam. Tidak ada keramaian yang berlangsung selamanya. Tidak ada kegembiraan yang abadi. Cepat atau lambat, setiap orang akan kembali kepada kesunyiannya masing-masing. Tetapi setelah berjalan mengelilingi pasar malam di Padonan, saya merasa ada satu kalimat lain yang dapat ditambahkan.

Bahwa justru karena dunia bukan pasar malam, manusia membutuhkan pasar malam. Membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan, ksempatan untuk tertawa, tempat untuk merasa menjadi bagian dari orang lain. Membutuhkan alasan sederhana untuk keluar rumah dan mengingat bahwa hidup tidak hanya berisi pekerjaan, tagihan, target, dan kecemasan.

Di tengah Bali yang terus berubah, di tengah Canggu yang semakin mendunia, dan di tengah kehidupan digital yang semakin menyita perhatian manusia, pasar malam di Padonan masih berdiri dengan kesederhanaannya.

Lampu-lampunya mungkin tidak seterang gedung-gedung besar. Musiknya mungkin tidak semeriah festival internasional.Namun ia tetap mampu melakukan sesuatu yang penting; mengumpulkan manusia.

Dan kadang-kadang, dalam zaman yang semakin membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri, mengumpulkan manusia mungkin sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa.

Malam semakin larut ketika saya meninggalkan lokasi itu. Dari kejauhan, lampu komedi putar masih berputar perlahan. Anak-anak masih tertawa. Pedagang masih melayani pembeli. Sebuah pemandangan yang tampak sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia menyimpan harapan; bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia masih mau berkumpul, bercakap-cakap, dan berbagi kegembiraan sederhana. Dunia memang bukan pasar malam. Tetapi sesekali, agar tidak terlalu lelah menjadi manusia, kita membutuhkan pasar malam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomigaya hiduppasarpasar malam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Tuak

Next Post

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails
Next Post
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali
Pendidikan

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis...

by Dewi Yulianti
July 29, 2026
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik
Esai

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co