8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memang Pasar Malam

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 30, 2026
in Esai
Memang Pasar Malam

Pasar malam di Padonan, Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. (Foto: Angga Wijaya)

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar malam yang saya datangi berada di Desa Padonan, Kelurahan Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. Tidak jauh dari Canggu, kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu wajah global Bali.

Di sekitar sana berdiri vila-vila, kafe, restoran, dan ruang kerja bersama. Turis asing lalu-lalang dengan sepeda motor. Sebagian datang untuk berlibur, sebagian lagi bekerja dari jarak jauh. Bahasa Inggris terdengar hampir sama seringnya dengan bahasa Indonesia. Bali di kawasan ini seolah menjadi titik pertemuan berbagai bangsa.

Namun malam itu perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jauh lebih sederhana. Lampu-lampu warna-warni menyala di sebuah lapangan. Musik terdengar dari pengeras suara. Anak-anak berlarian. Pedagang menjajakan makanan dan mainan. Sebuah komedi putar terus berputar membawa penumpang kecilnya mengelilingi lingkaran yang sama berulang-ulang.

Pasar malam. Pemandangan yang mungkin dianggap biasa oleh banyak orang, tetapi entah mengapa membuat saya berhenti cukup lama.

Di tengah kehidupan yang semakin digital, saya sempat mengira bentuk hiburan seperti ini perlahan akan menghilang. Anak-anak kini lebih akrab dengan telepon genggam daripada permainan di ruang terbuka. Banyak keluarga menghabiskan waktu luang di depan layar. Hiburan dapat diakses kapan saja melalui internet.

Tetapi malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Anak-anak tertawa tanpa memegang gawai. Orang tua mengantar mereka dari satu wahana ke wahana lain. Para pedagang sibuk melayani pembeli. Ada keramaian yang terasa akrab, seolah datang dari masa lalu yang belum benar-benar pergi.

Saat itulah saya teringat pada sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam. Tentu saja novel itu tidak bercerita tentang pasar malam dalam pengertian yang saya lihat di Padonan. Dalam karya yang pertama kali terbit pada 1951 itu, Pramoedya mengisahkan seorang anak yang pulang menjenguk ayahnya yang sakit keras. Dari kisah yang sederhana itu lahir perenungan tentang keluarga, kemiskinan, perjuangan, kemerdekaan, dan kematian.

Banyak pembaca menganggap Bukan Pasar Malam sebagai salah satu karya Pramoedya yang paling personal. Novel itu juga sering dibaca sebagai kritik terhadap nasib para pejuang setelah Indonesia merdeka. Seorang guru yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa justru menjalani hari-hari tua dalam kemiskinan dan penyakit.

Namun yang paling melekat dalam ingatan banyak orang adalah gagasan yang terkandung dalam judulnya. Dunia bukan pasar malam. Kehidupan bukan pesta yang berlangsung terus-menerus. Manusia datang dan pergi. Pada akhirnya setiap orang menghadapi kesendiriannya sendiri.

Malam itu saya memahami kembali gagasan tersebut. Namun pada saat yang sama saya juga melihat sesuatu yang lain. Apa yang berada di hadapan saya memang pasar malam. Bukan metafora, simbol, dan bukan perumpamaan tentang kehidupan. Melainkan pasar malam yang sesungguhnya, lengkap dengan lampu-lampunya, suara musiknya, dan anak-anak yang berteriak kegirangan. Dan justru karena nyata, ia terasa penting.

Saya lahir dan tumbuh di kota kecil. Karena itu pasar malam bukan sesuatu yang asing dalam ingatan saya. Dulu, ketika pasar malam datang, ia menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu. Anak-anak menabung uang saku. Orang tua menyisihkan waktu untuk mengajak keluarga berjalan-jalan pada malam hari.

Kami tidak datang dengan banyak uang. Kadang hanya cukup untuk membeli satu jajanan atau mencoba satu permainan. Namun keterbatasan itu tidak mengurangi kegembiraan. Justru karena tidak bisa memiliki semuanya, setiap pengalaman terasa lebih berharga.

Kami berjalan mengelilingi arena berkali-kali. Menatap lampu yang berkelip. Mengamati permainan yang tidak mampu kami naiki. Menonton orang-orang yang lalu-lalang. Semua itu sudah cukup membuat malam terasa menyenangkan.

Kini dunia telah berubah. Anak-anak dapat menjelajahi berbagai permainan melalui layar ponsel. Film, musik, dan hiburan tersedia tanpa harus keluar rumah. Namun ada sesuatu yang tidak berubah, yakni kebutuhan manusia untuk berkumpul.

Mungkin itulah sebabnya pasar malam masih bertahan. Ia menawarkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh internet, kehadiran.  Untuk menikmati pasar malam, seseorang harus datang. Harus berjalan, berbagi ruang dengan orang lain, merasakan udara malam dan mendengar suara keramaian secara langsung.

Pengalaman seperti itu semakin langka pada zaman sekarang. Dalam kajian antropologi, pasar tidak pernah dipahami semata-mata sebagai tempat transaksi ekonomi. Pasar adalah ruang sosial. Tempat orang bertemu, bertukar cerita, membangun hubungan, dan menjadi bagian dari komunitas.

Antropolog Clifford Geertz, yang banyak meneliti masyarakat Bali dan Jawa, menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan material. Manusia juga hidup melalui simbol, makna, dan hubungan sosial. Karena itu ruang-ruang perjumpaan memiliki arti yang sangat penting.

Pasar malam dapat dibaca dalam kerangka tersebut. Ia bukan hanya tempat orang mengeluarkan uang untuk membeli makanan atau tiket permainan. Ia adalah ruang sosial yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.

Di sana seorang pegawai kantor dapat berjalan berdampingan dengan pedagang kecil. Anak-anak bermain tanpa peduli latar belakang ekonomi orang tuanya. Pendatang dan warga lokal berbagi ruang yang sama. Dalam kehidupan modern yang semakin terpecah oleh kelas sosial, pekerjaan, dan gaya hidup, situasi seperti itu semakin jarang ditemukan.

Pasar malam menciptakan ruang yang lebih cair. Antropolog Victor Turner menggunakan istilah communitas untuk menggambarkan pengalaman kebersamaan yang muncul ketika manusia berkumpul dalam suatu peristiwa sosial. Dalam momen seperti itu, batas-batas yang biasanya memisahkan orang menjadi lebih longgar.

Saya tidak tahu apakah para pengunjung pasar malam di Padonan mengenal istilah tersebut. Kemungkinan besar tidak. Tetapi mereka mengalaminya. Mereka hadir dalam ruang yang sama. Menikmati suasana yang sama. Menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang sama.

Di sinilah pasar malam menunjukkan maknanya yang lebih dalam. Ia membantu manusia merasa terhubung dengan manusia lainnya. Hal itu menjadi semakin menarik karena pasar malam yang saya lihat berada sangat dekat dengan Canggu.

Kawasan ini adalah simbol perubahan Bali dalam dua dekade terakhir. Sawah berubah menjadi vila. Jalan kecil berubah menjadi jalur wisata. Kedai kopi tumbuh di berbagai sudut. Dunia seakan datang ke Bali.

Perubahan itu membawa banyak manfaat ekonomi. Tidak ada gunanya menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Namun perubahan yang terlalu cepat juga sering melahirkan kerinduan terhadap ruang-ruang yang lebih akrab.

Pasar malam menjawab kerinduan itu. Ia tidak menjual kemewahan, tidak menawarkan gaya hidup global, dan tidak mengandalkan citra eksklusif.

Ada sesuatu yang menarik ketika memikirkan pasar malam di Bali hari ini. Semakin banyak ruang yang berubah menjadi ruang komersial, semakin terasa penting ruang-ruang yang masih dapat diakses oleh siapa saja.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sudut Bali mengalami perubahan yang cepat. Lahan kosong menjadi bangunan. Sawah menjadi kompleks usaha. Pantai-pantai tertentu bahkan terasa semakin eksklusif. Hampir setiap ruang memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung.

Tentu perubahan itu tidak selalu buruk. Ia membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi. Namun pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan ruang yang tidak semata-mata diukur oleh keuntungan. Ruang untuk berkumpul, ruang untuk berjalan tanpa harus mengeluarkan banyak uang, dan ruang untuk merasa menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Pasar malam menyediakan fungsi itu dengan caranya sendiri. Tidak ada tiket masuk yang mahal, aaturan berpakaian tertentu. Juga tidak ada kesan bahwa seseorang harus berasal dari kelompok sosial tertentu untuk dapat hadir di sana.

Semua orang diterima. Anak-anak, pedagang, pekerja, warga lokal, maupun pendatang. Di tengah Bali yang semakin dikenal dunia, pasar malam justru mengingatkan pada sesuatu yang sangat mendasar. Bahwa sebuah komunitas tidak hanya dibangun oleh investasi, bangunan, atau statistik pertumbuhan ekonomi. Komunitas juga dibangun oleh perjumpaan-perjumpaan kecil yang berlangsung setiap hari.

Dan malam itu, di Padonan, saya melihat perjumpaan-perjumpaan kecil itu masih hidup. Yang ditawarkannya sangat sederhana; permainan anak-anak, jajanan, keramaian, dan rasa kebersamaan.

Di satu sisi jalan, seseorang mungkin sedang bekerja secara daring untuk perusahaan di Eropa atau Amerika Serikat. Di sisi lain, seorang anak sedang tertawa di atas komedi putar. Dua dunia itu hidup berdampingan.

Pemandangan semacam itu membuat saya berpikir bahwa modernitas tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kadang-kadang keduanya justru berjalan bersama. Bali terus berubah, tetapi beberapa hal masih bertahan. Pasar malam adalah salah satunya.

Saya memperhatikan wajah-wajah para pengunjung malam itu. Sebagian mungkin sedang memikirkan cicilan, sedang mencari pekerjaan, dan sebagian juga muungkin sedang menghadapi berbagai persoalan hidup yang tidak saya ketahui.

Namun selama beberapa jam di pasar malam, semua beban itu seolah mendapat jeda. Anak-anak tertawa, orang tua tersenyum, pedagang berharap dagangannya laku. Kehidupan berjalan seperti biasa.

Di sinilah saya merasa pasar malam memiliki fungsi sosial yang sering diremehkan. Ia memberi penghiburan. Bukan penghiburan besar yang mengubah nasib seseorang, melainkan penghiburan kecil yang membantu manusia bertahan.

Kita sering menganggap kebahagiaan harus hadir dalam bentuk yang luar biasa. Padahal sebagian besar hidup tersusun dari pengalaman-pengalaman sederhana, berjalan bersama keluarga, mengobrol dengan teman, menonton anak bermain, atau membeli jajanan Hal-hal kecil semacam itulah yang diam-diam membentuk kenangan.

Mungkin beberapa puluh tahun dari sekarang, anak-anak yang malam itu berlarian di Padonan tidak lagi mengingat harga tiket permainan yang mereka naiki. Mereka mungkin lupa lagu yang diputar dari pengeras suara. Tetapi saya yakin mereka akan mengingat perasaannya. Perasaan ketika menjadi bagian dari keramaia, ketika mnggenggam tangan ayah atau ibu, dan perasaan ketika malam terasa panjang dan menyenangkan.

Dan bukankah kehidupan pada akhirnya memang tersusun dari hal-hal semacam itu? Bukan hanya dari peristiwa besar yang masuk berita, melainkan juga dari pengalaman sehari-hari yang diam-diam membentuk siapa diri kita.

Ketika berjalan meninggalkan arena pasar malam, saya melihat beberapa orang mengangkat telepon genggam untuk memotret anak-anak mereka. Sebagian merekam video. Sebagian mengambil swafoto dengan latar lampu warna-warni. Pemandangan itu menarik. Bahkan ketika berada di ruang publik yang nyata, kita tetap membawa dunia digital ke mana-mana.

Namun saya merasa ada perbedaan penting. Media sosial sering menampilkan kehidupan yang telah dipilih dan disaring. Orang menunjukkan versi terbaik dirinya. Foto, momen, dan pengalaman terbaik.

Pasar malam tidak demikian. ia tidak berusaha terlihat sempurna. Lampunya mungkin tidak semegah pusat hiburan modern. Jalannya mungkin tidak selalu rapi. Wahananya mungkin tidak secanggih taman bermain internasional.

Tetapi justru karena ketidaksempurnaannya, ia terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak menjual ilusi, tapi menawarkan pengalaman yang apa adanya.

Di sana orang tidak perlu menjadi siapa-siapa. Seorang ayah cukup menjadi ayah, seorang ibu cukup menjadi ibu dan seorang anak cukup menjadi anak-anak. Tidak ada tuntutan untuk tampil lebih hebat daripada kenyataan. Yang ada hanyalah kehidupan yang berlangsung sebagaimana mestinya.

Ketika pulang malam itu, saya kembali teringat pada Pramoedya. Dunia memang bukan pasar malam. Tidak ada keramaian yang berlangsung selamanya. Tidak ada kegembiraan yang abadi. Cepat atau lambat, setiap orang akan kembali kepada kesunyiannya masing-masing. Tetapi setelah berjalan mengelilingi pasar malam di Padonan, saya merasa ada satu kalimat lain yang dapat ditambahkan.

Bahwa justru karena dunia bukan pasar malam, manusia membutuhkan pasar malam. Membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan, ksempatan untuk tertawa, tempat untuk merasa menjadi bagian dari orang lain. Membutuhkan alasan sederhana untuk keluar rumah dan mengingat bahwa hidup tidak hanya berisi pekerjaan, tagihan, target, dan kecemasan.

Di tengah Bali yang terus berubah, di tengah Canggu yang semakin mendunia, dan di tengah kehidupan digital yang semakin menyita perhatian manusia, pasar malam di Padonan masih berdiri dengan kesederhanaannya.

Lampu-lampunya mungkin tidak seterang gedung-gedung besar. Musiknya mungkin tidak semeriah festival internasional.Namun ia tetap mampu melakukan sesuatu yang penting; mengumpulkan manusia.

Dan kadang-kadang, dalam zaman yang semakin membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri, mengumpulkan manusia mungkin sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa.

Malam semakin larut ketika saya meninggalkan lokasi itu. Dari kejauhan, lampu komedi putar masih berputar perlahan. Anak-anak masih tertawa. Pedagang masih melayani pembeli. Sebuah pemandangan yang tampak sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia menyimpan harapan; bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia masih mau berkumpul, bercakap-cakap, dan berbagi kegembiraan sederhana. Dunia memang bukan pasar malam. Tetapi sesekali, agar tidak terlalu lelah menjadi manusia, kita membutuhkan pasar malam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomigaya hiduppasarpasar malam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Tuak

Next Post

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails
Next Post
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co