23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Made Chandra by Made Chandra
January 4, 2026
in Pameran
Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Salah satu karya peserta Residensi MTN Lab dalam pameran "Pulang ke Palung" | Foto: Chandra

—Sebuah catatan reflektif tentang pameran yang meleburkan batas-batas kelokalan

MENJELANG satu purnama, sejak kami—para peraba mimpi—dipertemukan oleh sebuah perhelatan kebudayaan yang tak disangka menjadi awal dari titik peleburan gagasan, mimpi, cerita, dan pengalaman. Masing-masing dari kami hadir dengan dahaga akan hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

Ya, sebuah program bertajuk Residensi MTN Lab yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan ini akhirnya mencapai edisi terakhirnya pada tahun 2025. Setelah sebelumnya dilaksanakan di sejumlah tempat—Jakarta, Yogyakarta, Gresik, dan Gorontalo—kini program ini menutup rangkaian perjalanannya dengan menyasar Denpasar sebagai pelabuhan terakhir yang merangkai berbagai aktivasi yang telah berlangsung sebelumnya.

Melalui Pratihara Art Institute, Kementerian Kebudayaan memberikan ruang kepada Gurat Institute untuk menjadi fasilitator utama dalam gelaran residensi yang dihelat di Kota Denpasar, Ibu Kota Provinsi Bali.

Program residensi ini dilaksanakan sejak awal Desember, tepatnya pada 8 Desember 2025, membuka ihwal silaturahmi antarindividu yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Melalui kanal media sosialnya, Gurat menyebarkan flyer panggilan terbuka dan kemudian membidik 40 peserta, yang terdiri atas 30 seniman dan 10 kurator. Mereka datang dari seluruh penjuru Nusantara, dari ujung Barat hingga jauh menyisir ke ujung Timur.

Perjumpaan Awal

Sangat terbayang betapa canggungnya kami yang saling tak mengenal sebelumnya, tiba-tiba dalam satu waktu yang singkat dihimpun dalam satu areal inkubasi. Saya sendiri tentu masih samar-samar menerka asal dan latar budaya yang melekat pada banyaknya orang yang berkumpul pada malam itu. Satu per satu akhirnya mulai menampakkan diri, menyapa, lalu memperkenalkan nama dan dari mana mereka berasal. Barulah sebagian dari kami mulai berkenalan dan saling mengakrabkan satu sama lain, berharap dua minggu ke depan akan terjalin hubungan yang saling menumbuhkan.

Singkat cerita, akhirnya kami sampai pada materi inkubasi yang dilaksanakan layaknya ruang kelas yang penuh dengan diskusi, serta penyampaian materi dari para ekspertis seperti seniman, kurator, bahkan galerist.

Para peserta Residensi MTN Lab sedang bertukarpikiran di tempat residensi | Foto: Chandra

Mengapa seperti ruang kelas? Karena ternyata memang ruang yang menginkubasi kami adalah salah satu sekolah seni rupa ternama yang ada di Bali, yaitu SMSR yang kini telah berganti nama menjadi SMKN 1 Sukawati, tempat lahirnya ribuan perupa yang berasal dari Bali. SMSR—begitu kami menyebutnya—adalah kolega yang diajak oleh Gurat untuk menjadi ruang laboratorium bagi para peserta residensi ini.

Setting tempat yang mendukung seakan menghadirkan romansa tentang hiruk pikuk di sekolah dahulu, karena memang sebagian dari kami adalah lulusan dan mahasiswa yang telah lama lepas dari bangku sekolah.

Selain mengenyam banyaknya materi di dalam ruang kelas, kami juga diajak untuk mengitari beberapa lokus seni rupa yang terdapat di Bali, seperti Tonyraka Gallery, Kerthagosa, Batubelah Artspace, dan Erzzi Studio milik perupa lawas Nyoman Erawan.

Satu minggu ini diisi dengan berbagai materi yang sungguh padat, sampai-sampai seorang dari kami membuat lelucon yang menggambarkan betapa seriusnya materi dalam program inkubasi ini, “Wah, pagi-pagi sudah dekolonial aja!!” Sebuah ungkapan yang menyiratkan keterkejutan kami pada awal-awal pembelajaran, ketika harus menyantap berbagai materi “berdaging” yang diberikan oleh berbagai narasumber profesional, seperti Prof. Karja, Aminudin Th. Siregar, FX Harsono, Fredy Chandra, dan para pemateri unggul lainnya.

Masa Produksi Karya

Setelah sepekan kami berjibaku dengan puluhan materi dan kunjungan lapangan, sampailah pada awal masa produksi, ruang di mana kami mulai semakin dekat dan mengenal lebih jauh antara satu sama lain. Bercerita dan menawar ide yang saling bertukar bebas seperti transmisi internet, kami saling mengunggah dan mengunduh data, pengalaman, serta selera visual yang kami punya masing-masing.

Ada satu momen unik sebelum awal masa produksi, yaitu ketika kami pulang dari kunjungan ke daerah Klungkung menuju Denpasar. Begitu kami masuk dan bus mulai berjalan meninggalkan area parkir, di situlah saya tersadar betapa berisiknya bercak obrolan yang saling menyaut—bukan kebisingan yang melelahkan, melainkan hiruk-pikuk yang hidup dan penuh gairah.

Perjalanan yang seharusnya terasa sangat lama justru menjadi begitu singkat karena percakapan yang terlintas begitu cepat, seolah waktu dipercepat oleh pertukaran pikiran yang tak henti. Saya sampai membayangkan bagaimana bus yang sedang melaju ini tak ubahnya sebuah lumbung pengetahuan bergerak, di dalamnya, ide, gagasan, dan kemungkinan-kemungkinan artistik saling ditransmisikan secara organik.

Sebagian dari kami mulai membicarakan rancangan awal karya yang kelak akan diwujudkan, sementara yang lain masih larut dalam pertukaran cara pandang mengenai pengalaman di daerah masing-masing—tentang tradisi, konteks sosial, hingga praktik artistik yang mereka hidupi sehari-hari, membuat perjalanan tiba-tiba terasa terhenti—atau memang harus dihentikan—karena kami telah sampai pada tujuan.

Namun, perihal ide dan bagaimana karya akan diwujudkan baru menemukan bentuknya pada masa produksi baru akan dimulai. Melalui diskusi yang intens dan alot antara seniman dan kurator, akhirnya masing-masing seniman menemukan ide seperti apa yang akan mereka ejawantahkan ke dalam karya rupa.

Para peserta Residensi MTN Lab sedang berbincang di ruang pameran | Foto: Chandra

Para kurator lalu dengan sigap membaca berbagai kecenderungan yang hadir pada setiap seniman dan mulai mengelompokkannya ke dalam empat subtema, yang hadir sebagai alur pembacaan pameran nantinya.

Sebelum semua itu berlangsung, Gurat sebagai fasilitator telah menawarkan satu payung wacana yang akan menjadi pemantik karya dari teman-teman, yaitu Reinvented Tradition—sebuah wacana yang mulai bergulir beberapa waktu ke belakang—sebagai upaya Gurat dalam meninjau ulang praktik tradisi sebagai akar pengetahuan dan menerjemahkannya ke dalam konteks hari ini.

Dalam kerangka ini, tradisi diposisikan bukan sebagai entitas yang harus dirayakan secara nostalgik atau dirawat dalam romantisasi, melainkan sebagai titik berangkat yang kritis: sebuah pisau bedah untuk melihat tradisi sebagai sesuatu yang dinamis, tidak stagnan, dan senantiasa terbuka untuk digali, dielaborasi, bahkan dinegasikan. Tradisi, dengan demikian, ditempatkan sebagai lokus pengetahuan yang sah untuk dipertanyakan kembali, dinegosiasikan ulang, dan dihadapkan pada realitas hari ini.

Sebagai upaya untuk masuk dan bernegosiasi dengan payung tematik yang telah ditawarkan, para kurator kemudian sepakat untuk membaca tradisi sebagai titik pemberangkatan wacana yang akan digulirkan. Tradisi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai medan awal untuk menelisik berbagai persoalan yang lebih luas dan kompleks.

Para peserta Residensi MTN Lab sedang mempersiapkan pameran “Pulang ke Palung” | Foto: Chandra

Dari pembacaan tersebut, dirumuskan empat subtema utama—tradisi, ekologi, identitas, dan kritik—yang kemudian diikat dalam satu tajuk pameran berjudul Pulang ke Palung. Judul ini menjadi pilihan mutlak setelah melalui berbagai intrik diskusi dan negosiasi yang cukup alot di antara para kurator.

Sebuah frasa yang mengajak kita untuk melihat dan mempertanyakan kembali Palung kita, yaitu tempat paling dalam yang menjadi dasar dari sebuah laut, menyiratkan tentang tradisi sebagai akar dan dasar untuk dilihat, dibaca kembali, serta dimaknai ulang dalam praktik hari ini.

Bukan soal romantika, melainkan kebutuhan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Sejauh mana modernitas yang kita hidupi hari ini justru menjauhkan kita dari pemahaman atas diri kita sendiri? Dalam konteks ini, menengok tradisi menjadi sebuah upaya untuk melambat, mengambil jarak dari laju zaman, dan memberi ruang bagi konteks kelokalan masing-masing untuk berbicara.

Tradisi kemudian diposisikan sebagai kemungkinan jawaban—atau setidaknya sebagai alat baca—terhadap berbagai persoalan kontemporer yang mendesak, mulai dari krisis ekologi, perbincangan tentang identitas, hingga kritik atas kondisi sosial dan kebijakan yang membentuk kehidupan kita hari ini.

Estetika yang Meraba-raba

Seperti tajuk tulisan ini, terma meraba-raba adalah cara saya dalam melihat berbagai ketimpangan, di mana apa yang terlihat matang ternyata melewati proses panjang yang saling menguatkan di dalamnya. Seperti telah dikatakan, meraba-raba merupakan kata yang saya gunakan untuk menggambarkan bagaimana para stakeholder—baik itu seniman, kurator, fasilitator, maupun para pendukung pra-pameran—dalam program residensi ini saling menerka dan meraba satu sama lain.

Masalah utama residensi ini adalah keterbatasan waktu yang terasa tidak masuk akal. Dengan materi yang dipadatkan menjadi satu minggu, lalu dihantam dengan produksi karya yang dibatasi tenggat waktu produksi dan tata ruang pamer, semuanya menjadi satu akumulasi dari berbagai tantangan yang ada.

Saya percaya bahwa kesempurnaan presentasi dari residensi ini adalah segala sesuatu yang telah diupayakan oleh masing-masing individu, tak terlepas dari bagaimana disiplin kerja mereka.

Salah satu karya peserta Residensi MTN Lab dalam pameran “Pulang ke Palung” | Foto: Chandra

Namun dengan waktu yang cukup singkat ini, ego dan pikiran serasa dipermainkan, mengelola 1 ruang yang dahulu kerap digunakan sebagai ruang konser, kini harus dapat disterilkan demi menunjang ruang presentasi dari 30 seniman dan karya-karyanya.

Ada yang bilang ini seperti proyek “membabat alas”, saya akui analogi tersebut menggambarkan bagaimana kami dihadapkan dengan berbagai masalah yang datang seperti deru genderang perang. Dengan waktu kurang lebih empat hari sebelum pameran dibuka, segenap tenaga dan daya pikir menjadi amunisi untuk menghadapi tekanan yang datang bertubi-tubi.

Di sini, kami sebagai pemeran utama dalam residensi ini banyak belajar tentang bagaimana menemukan solusi yang konstruktif di tengah ego yang saling tarik-menarik. Rasa kesal, marah, lelah, gembira, dan tawa seakan melebur dalam satu bejana panas. Bernegosiasi dan bersikap tidak kaku menjadi cara kami untuk tetap merasa waras. Karena itu, wadah diskusi yang cair menjadi pendekatan paling relevan untuk menengahi perbedaan perspektif dari setiap kepala, hingga akhirnya mencapai solusi yang saling menumbuhkan.

Salah satu karya peserta Residensi MTN Lab dalam pameran “Pulang ke Palung” | Foto: Chandra

Misi kami pun tidak lagi semata menciptakan karya seni, melainkan bagaimana kami—dengan latar belakang yang begitu beragam—dapat menyatukan visi dalam merancang satu pameran yang layak dipertaruhkan sebagai sebuah peristiwa seni yang patut diperhitungkan. Proses ini tentu tidak terlepas dari peran Penawar Racun sebagai kolega produksi yang membantu proses display, plotting karya, serta berbagai pernik pameran lainnya. Kami juga didampingi oleh Made Susanta sebagai perwakilan fasilitator, yang sangat membantu terwujudnya presentasi akhir dari hasil residensi ini.

Kembali lagi ke judul “estetika yang meraba-raba” hal ini juga menggambarkan bagaimana karya-karya yang ada dalam pameran Pulang Ke Palung ini adalah karya-karya yang sangat layak dipertaruhkan secara gagasan namun lemah dalam eksekusi presentasi, hal itu disebabkan berbagai keterbatasan yang dialami seniman dalam memroduksi karyanya dalam waktu yang singkat. Sehingga terma laboratorium dalam program ini menjadi alibi yang jelas untuk digunakan dalam melihat karya teman-teman seniman yang telah hadir.Di sinilah istilah estetika yang meraba-raba tidak lagi berhenti sebagai deskripsi pengalaman personal, melainkan mulai menyingkap persoalan yang lebih struktural. Di titik ini, keterbatasan waktu tidak lagi bisa dibaca semata sebagai kendala teknis, melainkan sebagai konsekuensi dari sistem produksi pengetahuan yang menuntut hasil instan dari proses yang sejatinya membutuhkan durasi.

Salah satu karya peserta Residensi MTN Lab dalam pameran “Pulang ke Palung” | Foto: Chandra

Program residensi ini—meski membuka ruang pertemuan yang berharga—secara tidak langsung memperlihatkan paradoks praktik seni hari ini: ketika negara dan institusi ingin merangkum keberagaman, kedalaman, dan kompleksitas praktik artistik lintas konteks, namun masih membingkainya dalam skema waktu yang seragam dan serba singkat.

Akibatnya, seniman dipaksa bekerja dalam kondisi meraba-raba—bukan sebagai pilihan metodologis semata, tetapi sebagai respons terhadap struktur yang belum sepenuhnya berpihak pada proses.

Saya percaya, perbedaan latar belakang para seniman dan kurator—yang datang dari spektrum disiplin yang beragam—justru memperkaya daya visual dan wacana yang ditawarkan. Ada yang bergerak di wilayah etnomusikologi, antropologi, arsitektur, hingga kerja-kerja berbasis modal kelokalan yang telah lama melekat dalam praktik masing-masing seniman. Keragaman inilah yang menjadi kekuatan tersendiri dan membedakan Pulang Ke Palung dari pameran-pameran lain di Bali, khususnya yang kerap hadir dengan estetika yang lebih mapan dan homogen.

Salah satu karya peserta Residensi MTN Lab dalam pameran “Pulang ke Palung” | Foto: Chandra

Yak, karya teman-teman dalam pameran ini bagi saya dapat terbaca sebagai karya dengan estetika yang meraba-raba, sebuah estetika yang belum sepenuhnya menemukan bentuk finalnya, namun sedang mencari dan mengenali tubuhnya sendiri, terutama dalam proses produksi yang berlangsung dalam rentang waktu yang singkat dan kondisi yang serba eksperimental.

Sebab, seperti halnya meraba sebuah benda dalam gelap, bentuk utuhnya baru akan terbaca ketika rabaan itu berlangsung terus-menerus, menyentuh keseluruhan permukaan. Sisi potensial dari karya-karya para seniman ini sangat mungkin untuk terus digali disempurnakan, dan dikembangkan dalam presentasi-presentasi berikutnya, seiring dengan berjalannya waktu dan jarak.

Resolusi di Akhir Tahun

Terlepas dari segala tumpang tindih yang tak terelakkan dalam pelaksanaan program residensi ini, upaya untuk meleburkan batas-batas kelokalan ke dalam satu bejana pengetahuan tetap menjadi sebuah tawaran yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Di dalamnya, perbedaan bukan sekadar hadir sebagai latar, melainkan bekerja aktif sebagai penggerak: selera visual yang beragam, ide dan gagasan yang saling menimpali, serta hasrat kolektif untuk saling menumbuhkan satu sama lain menjadi denyut yang terus terasa sepanjang perhelatan ini berlangsung.

Layaknya harapan di penghujung tahun, kita selalu menyimpan resolusi untuk hari-hari yang akan datang—sebuah keyakinan akan kemungkinan. Saya tak henti-hentinya percaya bahwa kehadiran setiap individu yang datang dan melebur dalam residensi ini merupakan titik mula dari sesuatu yang lebih besar, setidaknya bagi perjalanan personal dan praktik kreatif mereka masing-masing.

Salah satu karya peserta Residensi MTN Lab dalam pameran “Pulang ke Palung” | Foto: Chandra

Tentu, saya menyimpan harapan agar program residensi maupun inisiatif-inisiatif serupa dapat terus berlanjut dengan kesadaran evaluatif yang berkelanjutan, sehingga setiap penyelenggaraan berikutnya tumbuh semakin matang. Dari proses itulah, saya membayangkan akan lahir lokus-lokus pengetahuan baru di berbagai ceruk ekosistem yang tersebar di Nusantara; tidak lagi terpusat pada pulau-pulau utama yang kerap mendapat porsi lebih, melainkan juga menjangkau titik-titik kecil di pinggiran.

Dengan demikian, pembacaan atas seni rupa Indonesia dapat bergerak secara paralel—saling menyilang, saling memantulkan, dan membentuk jejaring makna antara satu pusat dengan pusat lainnya.

Terima kasih, semoga Kawan-kawan yang dipisahkan akan bertemu kembali dalam lumbung pengetahuan yang baru!!!

Panjang umur seni rupa![T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto

Tags: Kementerian KebudayaanPameranResidensi MTN LabSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkelanjutan dan Regeneratif, Syarat Mutlak Pariwisata Indonesia

Next Post

BPD IHKA Bali Awali Agenda 2026 dengan Persembahyangan Bersama di Pura Mengening Gianyar

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
BPD IHKA Bali Awali Agenda 2026 dengan Persembahyangan Bersama di Pura Mengening Gianyar

BPD IHKA Bali Awali Agenda 2026 dengan Persembahyangan Bersama di Pura Mengening Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co