13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkelanjutan dan Regeneratif, Syarat Mutlak Pariwisata Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
January 4, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

BENCANA demi bencana terjadi di Tanah Air. Ironinya, bencana itu bukan semata karena faktor alam, tetapi juga lantaran ulah manusia. Tak terkecuali bencana yang terjadi di suatu destinasi wisata. Banjir dan tanah longsor menerjang beberapa objek wisata di Indonesia. Belum lagi musibah kecelakaan yang menimpa wisatawan maupun protes masyarakat lokal atas berdirinya sarana pariwisata.

Bila dikaji lebih mendalam, banyak faktor yang menyebabkan bencana, musibah, dan konflik yang terjadi di sektor pariwisata Indonesia. Nafsu serakah manusia menjadi salah satu sebabnya. Pariwisata Indonesia masih sangat tergantung pada bentang alam yang dimiliki. Para pengelola objek wisata selalu merasa tidak cukup dengan lahan yang mereka miliki. Ketika angka kunjungan wisatawan meningkat, maka perluasan lahan menjadi pilihan. Akibatnya ruang yang mestinya terbuka hijau menjadi diperebutkan oleh wisatawan dan berbagai fasilitas pariwisata.

Ambisi untuk mengejar target pendapatan daerah dapat menjadi pemicu terjadi kerusakan lingkungan dan bencana. Banyak daerah yang mengorbankan lahan-lahan produktif untuk dijadikan objek wisata dengan mengabaikan tata ruang. Dampaknya tentu berkurangnya lahan produktif dan potensi kerusakan lingkungan, demi target pendapatan dari sektor pariwisata.

Mengapa banyak kasus pelanggaran tata ruang di sektor pariwisata? Mengapa begitu mudah orang membangun hotel dan resor pariwisata di tebing, bibir sungai, dan sawah? Sudah pasti jawabnya karena lemahnya penegakkan hukum di sektor pariwisata. Investor begitu mudah melanggar tata ruang. Dan semua pejabat diam. Ketika pelanggaran itu menjadi viral di media sosial, para pejabat kebakaran jenggot dan reaktif mengambil tindakan.

Mentalitas berwacana dari pejabat di Indonesia juga meyumbang terjadinya masalah di sektor pariwisata. Tidak sedikit pejabat yang gemar melontarkan wacana tentang pariwisata berkualitas, namun nyatanya mereka tetap berharap angka kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya. Tidak sedikit pula pejabat yang berwacana untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan, tetapi kerusakan lingkungan terjadi di hadapan mereka.

Namun demikian, selera pasar wisata yang rendah juga memberi andil terhadap banyaknya masalah di sektor pariwisata. Ada saja pasar wisata yang tidak peduli dengan keberlanjutan lingkungan. Terbukti, masih sering ditemui wisatawan yang membuang sampah sembarangan, merusak benda-benda bersejarah, maupun berperilaku tidak tertib di satu destinasi. Kesadaran wisatawan terhadap kelestarian lingkungan belum maksimal.

Berkelanjutan 

Bukan hanya dalam aspek lingkungan alam, konsepsi pariwisata berkelanjutan juga menyentuh aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Pariwisata akan bermakna secara sosial jika proses perencanaan, pengelolaan, dan pengembangannya melibatkan partisipasi masyarakat. Acapkali masyarakat hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata di daerahnya.

Pembangunan objek wisata di daerah sering diklaim mampu menciptakan lapangan kerja. Namun upaya pendidikan dan pelatihan bidang pariwisata bagi masyarakat lokal terlambat dilakukan. Akibatnya, tenaga kerja sektor pariwisata lebih banyak datang dari luar daerah; dan kecemburuan sosial pun timbul dalam bentuk sikap tak ramah kepada wisatawan yang datang.

Keberlanjutan budaya dalam pariwisata dianggap penting, namun kadang dilematis ketika budaya di suatu daerah dikomodifikasi hanya untuk kepentingan pariwisata. Komunikasi lintasbudaya yang diharapkan terjadi saat wisatawan berinteraksi dengan penduduk setempat menjadi berubah tatkala seni dan budaya dikemas hanya untuk tontonan wisatawan.

Banyak budaya dan tradisi yang kehilangan esensi ketika dikemas menjadi bagian dari industri pariwisata di daerah. Tradisi Sedekah Laut di Pantai Selatan Jawa, misalnya. Tradisi yang dilakukan para nelayan itu di masa lalu sarat dengan makna filosofi yang berhubungan dengan Tuhan, alam, dan manusia. Namun ketika tradisi itu menjadi bagian dari rezim pariwisata, esensi ritual dan filosofinya hilang oleh hingar-bingar wisatawan yang menyaksikannya.

Secara berkelanjutan, pariwisata bukan hanya menjadikan alam ini lestari, tetapi juga memberi keadilan dalam bidang ekonomi. Bukan sekadar menciptakan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah, potensi ekonomi pariwisata juga diharapkan dapat dinikmati secara terus-menerus oleh masyarakat, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Harus dipastikan, pariwisata yang berkembang di satu daerah manfaat ekonominya mengalir ke masyarakat setempat, seperti UMKM maupun industri kecil, bukan hanya mengucur kepada korporasi besar. Masyarakat lokal bukan hanya dilibatkan dalam perencanaan, namun juga kepemilikan usaha bisnis pariwisata. Andai pun ada potensi budaya yang “dijual” kepada wisatawan, maka hendaknya wisatawan “membayar” secara adil, sehingga bermanfaat secara ekonomi bagi penduduk lokal.

Berkelanjutan dan Regerasi Lingkungan

Pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sudah sejak lama digaungkan. Namun dalam praktiknya, pembangunan dan pengembangan pariwisata sering mengorbankan lingkungan. Padahal secara konsepsional, pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah pengembangan pariwisata yang memprioritaskan pelestarian sumber daya alam dan meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan.

Konservasi alam adalah esensi dari pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pengembangan pariwisata harus dibarengi dengan upaya melindungi habitat manusia, flora, dan fauna. Tetapi sayangnya pariwisata malah sering justru menimbulkan kerusakan, baik yang disebabkan oleh perilaku wisatawan maupun pembangunan sarana dan prasarana pariwisata.

Sepertinya pariwisata memang tidak cukup berkelanjutan, tetapi juga regeneratif. Pariwisata regeneratif menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan berfokus pada pemulihan serta perbaikan dan regenerasi lingkungan. Pariwisata yang berorientasi pada regenerasi akan berpikir untuk masa depan, bukan keuntungan sesaat.

Bukan sekadar konsep, pariwisata regeneratif mempunyai fokus yang lebih kuat pada restorasi dan pemulihan. Dengan prinsip pariwisata regeneratif ini, maka masyarakat dan industri pariwisata secara bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk terlibat melakukan konservasi, regenerasi, dan restorasi terhadap lingkungan.

Orientasi yang terlalu kuat pada pertumbuhan ekonomi dalam pengembangan pariwisata telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan dan sosial. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan dominasi perusahaan besar di sektor pariwisata ditambah dengan lemahnya regulasi membuat upaya konservasi menjadi semakin sulit.

Masayarakat dan wisatawan mungkin dapat dilibatkan dalam regenerasi lingkungan yang rusak akibat pariwisata. Namun pemerintah dan industri pariwisata merupakan pihak yang paling bertanggung jawab. Pemerintah perlu mengkaji produk kebijakan di sektor pariwisata yang berpotensi merusak lingkungan. Pemerintah jangan justru bersekongkol dengan pengusaha untuk menerabas kebijakan yang ada demi memuluskan hasrat bisnis pariwisata.

Industri pariwisata memang sudah seharusnya ikut terlibat dalam konservasi lingkungan, mengingat pariwisata selalu menimbulkan tekanan terhadap sumber daya alam. Maka sudah sewajarnya pengusaha maupun industri pariwisata melakukan konservasi sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya.

Prinsip siapa yang menaman dia yang memanen dalam industri pariwisata harus berlaku sebaliknya; siapa yang memanen dia yang bertanggung jawab menanam kembali jika terjadi kerusakan. Ibaratnya, satu atau dua pohon tumbang, satu atau dua satwa mati, maka industri pariwisata bertanggung jawab untuk menggantinya dengan yang baru. Jangan oportunis. Ambisi mengejar  keuntungan ekonomis, tapi tak peduli dengan kerusakan lingkungan.

Pariwisata bukan hanya cerita indah tentang peningkatan devisa negara dan pendapatan daerah. Pariwisata juga bukan cuma kegembiraan banyaknya kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, pariwisata bercerita tentang kerusakan lingkungan, tergerusnya budaya dan tradisi, serta masyarakat yang masih tetap miskin di tengah pembangunan pariwisata.

Karena itulah, berkelanjutan dan regeneratif menjadi syarat mutlak dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Semua dapat tercapai bila penegakkan hukum benar-benar dilaksanakan. Hentikan mentalitas berwacana pejabat di sektor pariwisata; dan tindak tegas wisatawan yang hanya menjadi “sampah” dalam industri pariwisata.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Check In, Check Out, dan Anak yang Tak Pernah Libur dari Perjuangan

Next Post

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co