2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkelanjutan dan Regeneratif, Syarat Mutlak Pariwisata Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
January 4, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

BENCANA demi bencana terjadi di Tanah Air. Ironinya, bencana itu bukan semata karena faktor alam, tetapi juga lantaran ulah manusia. Tak terkecuali bencana yang terjadi di suatu destinasi wisata. Banjir dan tanah longsor menerjang beberapa objek wisata di Indonesia. Belum lagi musibah kecelakaan yang menimpa wisatawan maupun protes masyarakat lokal atas berdirinya sarana pariwisata.

Bila dikaji lebih mendalam, banyak faktor yang menyebabkan bencana, musibah, dan konflik yang terjadi di sektor pariwisata Indonesia. Nafsu serakah manusia menjadi salah satu sebabnya. Pariwisata Indonesia masih sangat tergantung pada bentang alam yang dimiliki. Para pengelola objek wisata selalu merasa tidak cukup dengan lahan yang mereka miliki. Ketika angka kunjungan wisatawan meningkat, maka perluasan lahan menjadi pilihan. Akibatnya ruang yang mestinya terbuka hijau menjadi diperebutkan oleh wisatawan dan berbagai fasilitas pariwisata.

Ambisi untuk mengejar target pendapatan daerah dapat menjadi pemicu terjadi kerusakan lingkungan dan bencana. Banyak daerah yang mengorbankan lahan-lahan produktif untuk dijadikan objek wisata dengan mengabaikan tata ruang. Dampaknya tentu berkurangnya lahan produktif dan potensi kerusakan lingkungan, demi target pendapatan dari sektor pariwisata.

Mengapa banyak kasus pelanggaran tata ruang di sektor pariwisata? Mengapa begitu mudah orang membangun hotel dan resor pariwisata di tebing, bibir sungai, dan sawah? Sudah pasti jawabnya karena lemahnya penegakkan hukum di sektor pariwisata. Investor begitu mudah melanggar tata ruang. Dan semua pejabat diam. Ketika pelanggaran itu menjadi viral di media sosial, para pejabat kebakaran jenggot dan reaktif mengambil tindakan.

Mentalitas berwacana dari pejabat di Indonesia juga meyumbang terjadinya masalah di sektor pariwisata. Tidak sedikit pejabat yang gemar melontarkan wacana tentang pariwisata berkualitas, namun nyatanya mereka tetap berharap angka kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya. Tidak sedikit pula pejabat yang berwacana untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan, tetapi kerusakan lingkungan terjadi di hadapan mereka.

Namun demikian, selera pasar wisata yang rendah juga memberi andil terhadap banyaknya masalah di sektor pariwisata. Ada saja pasar wisata yang tidak peduli dengan keberlanjutan lingkungan. Terbukti, masih sering ditemui wisatawan yang membuang sampah sembarangan, merusak benda-benda bersejarah, maupun berperilaku tidak tertib di satu destinasi. Kesadaran wisatawan terhadap kelestarian lingkungan belum maksimal.

Berkelanjutan 

Bukan hanya dalam aspek lingkungan alam, konsepsi pariwisata berkelanjutan juga menyentuh aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Pariwisata akan bermakna secara sosial jika proses perencanaan, pengelolaan, dan pengembangannya melibatkan partisipasi masyarakat. Acapkali masyarakat hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata di daerahnya.

Pembangunan objek wisata di daerah sering diklaim mampu menciptakan lapangan kerja. Namun upaya pendidikan dan pelatihan bidang pariwisata bagi masyarakat lokal terlambat dilakukan. Akibatnya, tenaga kerja sektor pariwisata lebih banyak datang dari luar daerah; dan kecemburuan sosial pun timbul dalam bentuk sikap tak ramah kepada wisatawan yang datang.

Keberlanjutan budaya dalam pariwisata dianggap penting, namun kadang dilematis ketika budaya di suatu daerah dikomodifikasi hanya untuk kepentingan pariwisata. Komunikasi lintasbudaya yang diharapkan terjadi saat wisatawan berinteraksi dengan penduduk setempat menjadi berubah tatkala seni dan budaya dikemas hanya untuk tontonan wisatawan.

Banyak budaya dan tradisi yang kehilangan esensi ketika dikemas menjadi bagian dari industri pariwisata di daerah. Tradisi Sedekah Laut di Pantai Selatan Jawa, misalnya. Tradisi yang dilakukan para nelayan itu di masa lalu sarat dengan makna filosofi yang berhubungan dengan Tuhan, alam, dan manusia. Namun ketika tradisi itu menjadi bagian dari rezim pariwisata, esensi ritual dan filosofinya hilang oleh hingar-bingar wisatawan yang menyaksikannya.

Secara berkelanjutan, pariwisata bukan hanya menjadikan alam ini lestari, tetapi juga memberi keadilan dalam bidang ekonomi. Bukan sekadar menciptakan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah, potensi ekonomi pariwisata juga diharapkan dapat dinikmati secara terus-menerus oleh masyarakat, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Harus dipastikan, pariwisata yang berkembang di satu daerah manfaat ekonominya mengalir ke masyarakat setempat, seperti UMKM maupun industri kecil, bukan hanya mengucur kepada korporasi besar. Masyarakat lokal bukan hanya dilibatkan dalam perencanaan, namun juga kepemilikan usaha bisnis pariwisata. Andai pun ada potensi budaya yang “dijual” kepada wisatawan, maka hendaknya wisatawan “membayar” secara adil, sehingga bermanfaat secara ekonomi bagi penduduk lokal.

Berkelanjutan dan Regerasi Lingkungan

Pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sudah sejak lama digaungkan. Namun dalam praktiknya, pembangunan dan pengembangan pariwisata sering mengorbankan lingkungan. Padahal secara konsepsional, pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah pengembangan pariwisata yang memprioritaskan pelestarian sumber daya alam dan meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan.

Konservasi alam adalah esensi dari pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pengembangan pariwisata harus dibarengi dengan upaya melindungi habitat manusia, flora, dan fauna. Tetapi sayangnya pariwisata malah sering justru menimbulkan kerusakan, baik yang disebabkan oleh perilaku wisatawan maupun pembangunan sarana dan prasarana pariwisata.

Sepertinya pariwisata memang tidak cukup berkelanjutan, tetapi juga regeneratif. Pariwisata regeneratif menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan berfokus pada pemulihan serta perbaikan dan regenerasi lingkungan. Pariwisata yang berorientasi pada regenerasi akan berpikir untuk masa depan, bukan keuntungan sesaat.

Bukan sekadar konsep, pariwisata regeneratif mempunyai fokus yang lebih kuat pada restorasi dan pemulihan. Dengan prinsip pariwisata regeneratif ini, maka masyarakat dan industri pariwisata secara bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk terlibat melakukan konservasi, regenerasi, dan restorasi terhadap lingkungan.

Orientasi yang terlalu kuat pada pertumbuhan ekonomi dalam pengembangan pariwisata telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan dan sosial. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan dominasi perusahaan besar di sektor pariwisata ditambah dengan lemahnya regulasi membuat upaya konservasi menjadi semakin sulit.

Masayarakat dan wisatawan mungkin dapat dilibatkan dalam regenerasi lingkungan yang rusak akibat pariwisata. Namun pemerintah dan industri pariwisata merupakan pihak yang paling bertanggung jawab. Pemerintah perlu mengkaji produk kebijakan di sektor pariwisata yang berpotensi merusak lingkungan. Pemerintah jangan justru bersekongkol dengan pengusaha untuk menerabas kebijakan yang ada demi memuluskan hasrat bisnis pariwisata.

Industri pariwisata memang sudah seharusnya ikut terlibat dalam konservasi lingkungan, mengingat pariwisata selalu menimbulkan tekanan terhadap sumber daya alam. Maka sudah sewajarnya pengusaha maupun industri pariwisata melakukan konservasi sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya.

Prinsip siapa yang menaman dia yang memanen dalam industri pariwisata harus berlaku sebaliknya; siapa yang memanen dia yang bertanggung jawab menanam kembali jika terjadi kerusakan. Ibaratnya, satu atau dua pohon tumbang, satu atau dua satwa mati, maka industri pariwisata bertanggung jawab untuk menggantinya dengan yang baru. Jangan oportunis. Ambisi mengejar  keuntungan ekonomis, tapi tak peduli dengan kerusakan lingkungan.

Pariwisata bukan hanya cerita indah tentang peningkatan devisa negara dan pendapatan daerah. Pariwisata juga bukan cuma kegembiraan banyaknya kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, pariwisata bercerita tentang kerusakan lingkungan, tergerusnya budaya dan tradisi, serta masyarakat yang masih tetap miskin di tengah pembangunan pariwisata.

Karena itulah, berkelanjutan dan regeneratif menjadi syarat mutlak dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Semua dapat tercapai bila penegakkan hukum benar-benar dilaksanakan. Hentikan mentalitas berwacana pejabat di sektor pariwisata; dan tindak tegas wisatawan yang hanya menjadi “sampah” dalam industri pariwisata.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Check In, Check Out, dan Anak yang Tak Pernah Libur dari Perjuangan

Next Post

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co