3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Made Chandra by Made Chandra
June 2, 2026
in Ulas Rupa
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Karya-karya dalam pameran | Sumber : Made Chandra

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?

Begitu erat, cara kita mengaitkan keterhubungan antar informasi, memori, dan pengalaman terkait material yang membentuk makna setelahnya. Pecahan beling bisa sangat terasa tajam, bahkan tanpa kita menyentuhnya sama sekali. Itulah jebakan asosiasi, di mana kita menggolongkan perasaan atas sesuatu, karena pernah mengalami atau setidaknya melihat kejadian yang terhubung dengan keberadaan material itu.

Begitu pula dengan karya seni, sebuah medium bentuk yang selalu membawa teka-teki atas apa yang hadir padanya.  Oleh karenanya, seniman kemudian berlomba-lomba untuk meretas persepsi atas suatu material. Hal itu terlihat dari berbagai karya yang tidak hanya menarik secara visual tapi juga siasat untuk menipu mata dan logika kita yang melihatnya.

Di sinilah material menjadi bahasa yang menampung berbagai bentuk keterhubungan antar pengalaman. Baik tubuh, kebiasaan, status sosial, tradisi, wilayah dan lainnya. Material bukan lagi sekadar pembentuk visual tapi juga membangun agensi atas gagasan sang perupa dan bagaimana ia menjalin relasi dengan audiens yang menikmatinya.

Persoalan-persoalan inilah yang diam-diam diusahakan oleh The Racun’s dalam pameran bertajuk “Everything is doing something” yang merupakan pameran ke-3 yang digagas  oleh kolektif yang berbasis art handling ini, sebuah tawaran dari mereka yang sering kali berada pada produksi belakang layar sebuah pameran. Namun dengan lantangnya, kini mereka tengah menunaikan ibadah kesenimanannya masing-masing. Karena, sebagian besar dari anak-anak the Racun’s adalah mereka yang juga berkarya di sela-sela aktivitas pertukangan mereka. Seperti orang yang sudah kebelet, jika tidak cepat-cepat dikeluarkan, pasti akan mengganggu keseharian mereka. Dengan cara inilah gagasan dan eksekusi menemukan jalan keluarnya, pada mantra yang disebut jalan artistik.

Event yang dirancang dalam satu ruang aktivasi baru di Sika Gallery ini, menggandeng Army sebagai kurator yang bertugas sebagai stimulan para entitas kreatif ini. Dengan menyodorkan judul “everything is doing something” army membedah narasi kita dan keterhubungan memori terhadap eksistensi satu material, dan bagaimana setiap benda berbicara melalui sifat, tekstur, bentuk dan orientasi kerupaan lainnya.

Teks Kuratorial  dan Nama Seniman | Sumber : Made Chandra

Di tengah variasi material yang terbilang cukup liar, para seniman membawa pendekatan mereka masing-masing dalam menaklukkan serta memunculkan potensi tersembunyi dari medium yang tengah mereka eksplorasi. Begitupun dengan  pendekatan kuratorial yang saling tarik-menarik antar seniman dan Army sebagai kurator. Di sinilah ego harus menemukan bentuk negosiasinya.

Sebut saja derry sembiring. Perupa asal karo ini, membawa kertas dalam sifat yang tak lagi ringkih, tipis dan mudah hancur, melainkan bentuk solid bak dinding bata yang tersusun rapi. Dengan pendekatan yang mengarah pada karya tri dimensional, ia mengolah bentuk menjadi satu paradoks. Di mana sifat keras dan elastisitas saling menjembatani satu sama lain.

Kesan bata dan dinding yang begitu kokoh justru ia tampilkan dalam presentasi volume yang begitu lentur. Saya tentu kurang mengerti siasat apa yang sedang dia mainkan. Tapi jelas ada satu tantangan terhadap audiens untuk menerka bentuk dan asosiasi apa yang muncul setelahnya. Bahkan setelah dia membenturkan bata-bata itu dengan komposisi karet ban yang meliuk-liuk. Mungkin di situlah letak asiknya, di mana karya tak hanya setia pada satu persepsi tertentu, ia berubah dalam setiap imajinasi penonton.

Tak cukup di sana, karya lainnya kemudian mengeksplorasi medium lokal yang lekat dengan aktivitas craftmanship yang tinggi. Lihat karya Made Arsana, tatahan kulitnya terlihat sangat detail dan presisi, namun jika dicermati lebih dalam, karya ini  menyimpan berbagai easter egg di dalamnya.

Karya Made Arsana | Sumber : Made Chandra

Jebakan bentuk yang terkesan sangat ornamentik, sebenarnya begitu rawan jika hanya jatuh dalam persepsi kerajinan semata. Tapi begitulah karya seni, mereka tak mengizinkanmu pada terkaan pertama yang hadir di permukaannya saja, ia harus diselami, dialami, dan dilihat dengan segenap rasa penasaran.

Namun Arsana tentu paham akan hal itu, oleh karenanya muncul berbagai easter egg di antara riuh ornamen yang meliuk-liuk, seperti objek-objek kapital layaknya logo branded, mata uang, dan berbagai hal yang lekat dengan narasi konsumerisme dan percepatan industri, dan justru bertolak belakang dengan praktik Arsana yang begitu menguras komitmen tenaga dan waktu yang tentu tak bisa diburu-buru. Di sinilah material dan perlakuan padanya membawa konteks sosial dan permasalahan terkait lokalitas di suatu wilayah.

Karya Gung Gama | Sumber : Made Chandra



Satu contoh yang menarik juga hadir dalam karya Gung Gama dengan praktik fotografi experimentalnya. Dengan memanfaatkan cetak lintas medium ia memakai kaca sebagai penampang cetakan yang disusun berlayer-layer menampilkan kedalaman visual yang diperkuat dengan foto yang dipecah-pecah secara manual. Lapisan foto yang menampilkan siluet yang terabstraksi, seperti gambaran tentang bagaimana Gung Gama melihat Bali dari persoalan identitas dan bagaimana ia dibentuk melalui konstruksi sejarah yang berlapis-lapis dan struktural. Di titik ini sekali lagi citra visual dan medium yang hadir, dapat menghadirkan lapisan makna yang bahkan cukup politis untuk visual yang bagi sebagian orang terlihat sangat eksotis.

Begitupun dengan para perupa lain, yang tampil dengan pendekatan teknis yang berlainan satu sama lain. Mereka mencoba melamar pilihan materialnya masing-masing, membangun kedekatan emosional yang mungkin telah terbangun kokoh sebelumnya, lalu hanya butuh sedikit twist dan konteks narasi yang tepat agar tampil apik dalam presentasi final.

Art handling dan pengalaman material

Karya Putra Wali Aco | Sumber : Made Chandra

Tak bisa dipungkiri, pengalaman kerja yang sangat berkutat pada praktik produksi belakang pameran, memberi pengaruh yang tak bisa dibohongi sama sekali.

Potongan multiplex yang berserakan, debu resin yang berterbangan, atau bising alat-alat potong yang menderu, adalah makanan lumrah bagi mereka. Hal itu terlihat dari cara mereka memberlakukan material dari segi teknis yang tak bisa dibilang sederhana, lihat saja bagaimana Putra Wali Aco, atau kerap yang disapa “acok” merancang sebuah payung  atau mungkin juga gebogan dari potongan plat stainless steel yang tersusun satu persatu dengan rapi dan presisi.

Atau karya yang mencoba bereksperimen dengan medium mentah seperti arang yang coba dihadirkan oleh Agus Mediana “Cuprux”. Sangat terlihat keinginan atau siasat untuk mempermanenkan satu material yang terlihat cukup tidak stabil dari segi ketahanan. Namun di situlah permainan justru  baru dimulai, di mana material tidak cukup hanya ditaklukkan, ia harus diajak berteman dan dalam taraf tertentu kecakapan problem solving benar-benar diuji di sini.

Tentu ketelatenan dan kemampuan teknis yang begitu matang, menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan material seliar apapun. Penguasaan yang begitu terampil tentu tak bisa dicapai dengan pengalaman yang instan. Pada titik inilah, justru wajar mereka yang sehari-hari ditempa dengan berbagai problematika teknis, membawa pendekatan material yang kerap dihindari banyak perupa yang terlanjur nyaman pada praktik yang sudah mapan.

Karya Agus Mediana “cuprux” | Sumber : Made Chandra

Pilinan ijuk, susunan arang, lipatan benang, tumpukan kayu, cermin dan berbagai jenis material sukses membawa pengalaman visual yang menyegarkan, tentu dengan gagasan yang juga dipertaruhkan oleh masing-masing seniman.

Tapi bukannya tanpa risiko, pameran yang bermain dengan pengolahan material yang terlampau bebas, harus dibarengi dengan kematangan eksekusi yang juga mumpuni, tak selesai sampai di sana pilihan medium dan bagaimana ia di presentasikan juga menentukan kualitas karya secara estetika. Karena di beberapa hal memang tak semua seniman yang berpameran akhirnya berhasil dalam mengolah material yang ia bawa, beberapa lagi boleh dikatakan klise dan terlalu banal dalam pengolahan sehingga bisa terpleset dalam “alibi coba-coba”.

Beberapa karya yang hadir terlihat kurang lugas dalam menggali potensi sifat material. Terkadang pemahaman audiens baik saya sendiri terhenti pada atraksi visual semata, tanpa benar-benar bisa memahami kedalaman karya lebih jauh, efeknya menjadi sangat terasa. Tentu pada saat karya tersebut hanya bertahan beberapa menit dalam fokus penonton. Selebihnya mereka melewatkan percakapan yang ditawarkan oleh si seniman dalam karyanya.

Di sini kita bisa memahami bahwa Tidak cukup hanya menghadirkan medium yang tak lazim atau mengejutkan, seniman juga perlu membangun relasi yang meyakinkan antara material, gagasan, dan cara presentasinya di ruang pamer. Pada titik ini juga pemahaman akan konteks kuratorial dapat membantu mempertimbangkan berbagai strategi artistik dan konsep yang tengah dikembangkan.

Tentu kerjasama antara seniman dan tawaran ide yang diajukan oleh kurator menjadi poin utama dalam mengusahakan kemungkinan terbaik dari setiap material yang tengah dieksplorasi. Terlepas dari hal tersebut, pameran ini tentu menjadi tawaran menarik di tengah hiruk pikuk karya yang selalu beronani dengan material konvensional seperti cat, kanvas dan medium industrial lainnya. 

Karya Mangde Bendesa | Sumber : Made Chandra

Justru ini menjadi kesempatan dalam menyelami perspektif lokalitas. Di mana budaya material adalah aset simbolis yang lekat dengan hubungan sosial masyarakat kita. Mulai dari janur kuning yang hadir dalam berbagai kreasi bentuk, bambu yang menjadi kunci struktur arsitektur ataupun berbagai material alam yang membawa narasi mereka masing-masing. 

Berbagai benda tentu membawa kemungkinan gagasan yang begitu luas. Ia tidak pernah sekalipun dipandang secara netral. Ia disortir, dipilih lalu diasosiakan pada sesuatu yang paling dekat pada pengalaman kita. Ia terkait sejarah, kebiasaan dan jejak panjang kesepakatan yang direvisi terus menerus. Di sanalah potensi sebuah material, sesuatu yang sangat multitafsir dengan berbagai kompleksitas teknis yang harus diurai oleh kecakapan setiap seniman.

Pada akhirnya, material bukanlah sekadar artefak mati yang diam. Ia menyimpan jejak-jejak perjumpaan; dengan tubuh yang mengolahnya, dengan waktu yang mengubahnya, maupun sistem makna yang dilekatkan padanya. 

Pada titik tertentu, kita bisa memaknai material sebagai arsip pengalaman, yang bisa berevolusi seiring ia dibentuk, dipindahkan, dirakit bahkan dihancurkan. “Everything is Doing Something” pada akhirnya bukan hanya perayaan atas kecakapan mengolah material, tapi pengingat akan segala sesuatu tak pernah patuh pada satu persepsi yang telah mapan. Tawaran dari setiap seniman pada pameran ini, menantang perspektif audiens terhadap eksistensi sebuah material. Dari situlah kita beranjak pada pemahaman bahwa bentuk tak hanya melulu pada persoalan fisik tapi bagaimana ia membawa percakapan yang jauh lebih dalam setelahnya.[T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa Balisika gallery
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Next Post

(Tidak Ada) Literasi Digital

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
(Tidak Ada) Literasi Digital

(Tidak Ada) Literasi Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co