2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Made Chandra by Made Chandra
June 2, 2026
in Ulas Rupa
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Karya-karya dalam pameran | Sumber : Made Chandra

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?

Begitu erat, cara kita mengaitkan keterhubungan antar informasi, memori, dan pengalaman terkait material yang membentuk makna setelahnya. Pecahan beling bisa sangat terasa tajam, bahkan tanpa kita menyentuhnya sama sekali. Itulah jebakan asosiasi, di mana kita menggolongkan perasaan atas sesuatu, karena pernah mengalami atau setidaknya melihat kejadian yang terhubung dengan keberadaan material itu.

Begitu pula dengan karya seni, sebuah medium bentuk yang selalu membawa teka-teki atas apa yang hadir padanya.  Oleh karenanya, seniman kemudian berlomba-lomba untuk meretas persepsi atas suatu material. Hal itu terlihat dari berbagai karya yang tidak hanya menarik secara visual tapi juga siasat untuk menipu mata dan logika kita yang melihatnya.

Di sinilah material menjadi bahasa yang menampung berbagai bentuk keterhubungan antar pengalaman. Baik tubuh, kebiasaan, status sosial, tradisi, wilayah dan lainnya. Material bukan lagi sekadar pembentuk visual tapi juga membangun agensi atas gagasan sang perupa dan bagaimana ia menjalin relasi dengan audiens yang menikmatinya.

Persoalan-persoalan inilah yang diam-diam diusahakan oleh The Racun’s dalam pameran bertajuk “Everything is doing something” yang merupakan pameran ke-3 yang digagas  oleh kolektif yang berbasis art handling ini, sebuah tawaran dari mereka yang sering kali berada pada produksi belakang layar sebuah pameran. Namun dengan lantangnya, kini mereka tengah menunaikan ibadah kesenimanannya masing-masing. Karena, sebagian besar dari anak-anak the Racun’s adalah mereka yang juga berkarya di sela-sela aktivitas pertukangan mereka. Seperti orang yang sudah kebelet, jika tidak cepat-cepat dikeluarkan, pasti akan mengganggu keseharian mereka. Dengan cara inilah gagasan dan eksekusi menemukan jalan keluarnya, pada mantra yang disebut jalan artistik.

Event yang dirancang dalam satu ruang aktivasi baru di Sika Gallery ini, menggandeng Army sebagai kurator yang bertugas sebagai stimulan para entitas kreatif ini. Dengan menyodorkan judul “everything is doing something” army membedah narasi kita dan keterhubungan memori terhadap eksistensi satu material, dan bagaimana setiap benda berbicara melalui sifat, tekstur, bentuk dan orientasi kerupaan lainnya.

Teks Kuratorial  dan Nama Seniman | Sumber : Made Chandra

Di tengah variasi material yang terbilang cukup liar, para seniman membawa pendekatan mereka masing-masing dalam menaklukkan serta memunculkan potensi tersembunyi dari medium yang tengah mereka eksplorasi. Begitupun dengan  pendekatan kuratorial yang saling tarik-menarik antar seniman dan Army sebagai kurator. Di sinilah ego harus menemukan bentuk negosiasinya.

Sebut saja derry sembiring. Perupa asal karo ini, membawa kertas dalam sifat yang tak lagi ringkih, tipis dan mudah hancur, melainkan bentuk solid bak dinding bata yang tersusun rapi. Dengan pendekatan yang mengarah pada karya tri dimensional, ia mengolah bentuk menjadi satu paradoks. Di mana sifat keras dan elastisitas saling menjembatani satu sama lain.

Kesan bata dan dinding yang begitu kokoh justru ia tampilkan dalam presentasi volume yang begitu lentur. Saya tentu kurang mengerti siasat apa yang sedang dia mainkan. Tapi jelas ada satu tantangan terhadap audiens untuk menerka bentuk dan asosiasi apa yang muncul setelahnya. Bahkan setelah dia membenturkan bata-bata itu dengan komposisi karet ban yang meliuk-liuk. Mungkin di situlah letak asiknya, di mana karya tak hanya setia pada satu persepsi tertentu, ia berubah dalam setiap imajinasi penonton.

Tak cukup di sana, karya lainnya kemudian mengeksplorasi medium lokal yang lekat dengan aktivitas craftmanship yang tinggi. Lihat karya Made Arsana, tatahan kulitnya terlihat sangat detail dan presisi, namun jika dicermati lebih dalam, karya ini  menyimpan berbagai easter egg di dalamnya.

Karya Made Arsana | Sumber : Made Chandra

Jebakan bentuk yang terkesan sangat ornamentik, sebenarnya begitu rawan jika hanya jatuh dalam persepsi kerajinan semata. Tapi begitulah karya seni, mereka tak mengizinkanmu pada terkaan pertama yang hadir di permukaannya saja, ia harus diselami, dialami, dan dilihat dengan segenap rasa penasaran.

Namun Arsana tentu paham akan hal itu, oleh karenanya muncul berbagai easter egg di antara riuh ornamen yang meliuk-liuk, seperti objek-objek kapital layaknya logo branded, mata uang, dan berbagai hal yang lekat dengan narasi konsumerisme dan percepatan industri, dan justru bertolak belakang dengan praktik Arsana yang begitu menguras komitmen tenaga dan waktu yang tentu tak bisa diburu-buru. Di sinilah material dan perlakuan padanya membawa konteks sosial dan permasalahan terkait lokalitas di suatu wilayah.

Karya Gung Gama | Sumber : Made Chandra



Satu contoh yang menarik juga hadir dalam karya Gung Gama dengan praktik fotografi experimentalnya. Dengan memanfaatkan cetak lintas medium ia memakai kaca sebagai penampang cetakan yang disusun berlayer-layer menampilkan kedalaman visual yang diperkuat dengan foto yang dipecah-pecah secara manual. Lapisan foto yang menampilkan siluet yang terabstraksi, seperti gambaran tentang bagaimana Gung Gama melihat Bali dari persoalan identitas dan bagaimana ia dibentuk melalui konstruksi sejarah yang berlapis-lapis dan struktural. Di titik ini sekali lagi citra visual dan medium yang hadir, dapat menghadirkan lapisan makna yang bahkan cukup politis untuk visual yang bagi sebagian orang terlihat sangat eksotis.

Begitupun dengan para perupa lain, yang tampil dengan pendekatan teknis yang berlainan satu sama lain. Mereka mencoba melamar pilihan materialnya masing-masing, membangun kedekatan emosional yang mungkin telah terbangun kokoh sebelumnya, lalu hanya butuh sedikit twist dan konteks narasi yang tepat agar tampil apik dalam presentasi final.

Art handling dan pengalaman material

Karya Putra Wali Aco | Sumber : Made Chandra

Tak bisa dipungkiri, pengalaman kerja yang sangat berkutat pada praktik produksi belakang pameran, memberi pengaruh yang tak bisa dibohongi sama sekali.

Potongan multiplex yang berserakan, debu resin yang berterbangan, atau bising alat-alat potong yang menderu, adalah makanan lumrah bagi mereka. Hal itu terlihat dari cara mereka memberlakukan material dari segi teknis yang tak bisa dibilang sederhana, lihat saja bagaimana Putra Wali Aco, atau kerap yang disapa “acok” merancang sebuah payung  atau mungkin juga gebogan dari potongan plat stainless steel yang tersusun satu persatu dengan rapi dan presisi.

Atau karya yang mencoba bereksperimen dengan medium mentah seperti arang yang coba dihadirkan oleh Agus Mediana “Cuprux”. Sangat terlihat keinginan atau siasat untuk mempermanenkan satu material yang terlihat cukup tidak stabil dari segi ketahanan. Namun di situlah permainan justru  baru dimulai, di mana material tidak cukup hanya ditaklukkan, ia harus diajak berteman dan dalam taraf tertentu kecakapan problem solving benar-benar diuji di sini.

Tentu ketelatenan dan kemampuan teknis yang begitu matang, menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan material seliar apapun. Penguasaan yang begitu terampil tentu tak bisa dicapai dengan pengalaman yang instan. Pada titik inilah, justru wajar mereka yang sehari-hari ditempa dengan berbagai problematika teknis, membawa pendekatan material yang kerap dihindari banyak perupa yang terlanjur nyaman pada praktik yang sudah mapan.

Karya Agus Mediana “cuprux” | Sumber : Made Chandra

Pilinan ijuk, susunan arang, lipatan benang, tumpukan kayu, cermin dan berbagai jenis material sukses membawa pengalaman visual yang menyegarkan, tentu dengan gagasan yang juga dipertaruhkan oleh masing-masing seniman.

Tapi bukannya tanpa risiko, pameran yang bermain dengan pengolahan material yang terlampau bebas, harus dibarengi dengan kematangan eksekusi yang juga mumpuni, tak selesai sampai di sana pilihan medium dan bagaimana ia di presentasikan juga menentukan kualitas karya secara estetika. Karena di beberapa hal memang tak semua seniman yang berpameran akhirnya berhasil dalam mengolah material yang ia bawa, beberapa lagi boleh dikatakan klise dan terlalu banal dalam pengolahan sehingga bisa terpleset dalam “alibi coba-coba”.

Beberapa karya yang hadir terlihat kurang lugas dalam menggali potensi sifat material. Terkadang pemahaman audiens baik saya sendiri terhenti pada atraksi visual semata, tanpa benar-benar bisa memahami kedalaman karya lebih jauh, efeknya menjadi sangat terasa. Tentu pada saat karya tersebut hanya bertahan beberapa menit dalam fokus penonton. Selebihnya mereka melewatkan percakapan yang ditawarkan oleh si seniman dalam karyanya.

Di sini kita bisa memahami bahwa Tidak cukup hanya menghadirkan medium yang tak lazim atau mengejutkan, seniman juga perlu membangun relasi yang meyakinkan antara material, gagasan, dan cara presentasinya di ruang pamer. Pada titik ini juga pemahaman akan konteks kuratorial dapat membantu mempertimbangkan berbagai strategi artistik dan konsep yang tengah dikembangkan.

Tentu kerjasama antara seniman dan tawaran ide yang diajukan oleh kurator menjadi poin utama dalam mengusahakan kemungkinan terbaik dari setiap material yang tengah dieksplorasi. Terlepas dari hal tersebut, pameran ini tentu menjadi tawaran menarik di tengah hiruk pikuk karya yang selalu beronani dengan material konvensional seperti cat, kanvas dan medium industrial lainnya. 

Karya Mangde Bendesa | Sumber : Made Chandra

Justru ini menjadi kesempatan dalam menyelami perspektif lokalitas. Di mana budaya material adalah aset simbolis yang lekat dengan hubungan sosial masyarakat kita. Mulai dari janur kuning yang hadir dalam berbagai kreasi bentuk, bambu yang menjadi kunci struktur arsitektur ataupun berbagai material alam yang membawa narasi mereka masing-masing. 

Berbagai benda tentu membawa kemungkinan gagasan yang begitu luas. Ia tidak pernah sekalipun dipandang secara netral. Ia disortir, dipilih lalu diasosiakan pada sesuatu yang paling dekat pada pengalaman kita. Ia terkait sejarah, kebiasaan dan jejak panjang kesepakatan yang direvisi terus menerus. Di sanalah potensi sebuah material, sesuatu yang sangat multitafsir dengan berbagai kompleksitas teknis yang harus diurai oleh kecakapan setiap seniman.

Pada akhirnya, material bukanlah sekadar artefak mati yang diam. Ia menyimpan jejak-jejak perjumpaan; dengan tubuh yang mengolahnya, dengan waktu yang mengubahnya, maupun sistem makna yang dilekatkan padanya. 

Pada titik tertentu, kita bisa memaknai material sebagai arsip pengalaman, yang bisa berevolusi seiring ia dibentuk, dipindahkan, dirakit bahkan dihancurkan. “Everything is Doing Something” pada akhirnya bukan hanya perayaan atas kecakapan mengolah material, tapi pengingat akan segala sesuatu tak pernah patuh pada satu persepsi yang telah mapan. Tawaran dari setiap seniman pada pameran ini, menantang perspektif audiens terhadap eksistensi sebuah material. Dari situlah kita beranjak pada pemahaman bahwa bentuk tak hanya melulu pada persoalan fisik tapi bagaimana ia membawa percakapan yang jauh lebih dalam setelahnya.[T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa Balisika gallery
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Next Post

(Tidak Ada) Literasi Digital

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails
Next Post
(Tidak Ada) Literasi Digital

(Tidak Ada) Literasi Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co