22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Made Chandra by Made Chandra
June 2, 2026
in Ulas Rupa
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Karya-karya dalam pameran | Sumber : Made Chandra

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?

Begitu erat, cara kita mengaitkan keterhubungan antar informasi, memori, dan pengalaman terkait material yang membentuk makna setelahnya. Pecahan beling bisa sangat terasa tajam, bahkan tanpa kita menyentuhnya sama sekali. Itulah jebakan asosiasi, di mana kita menggolongkan perasaan atas sesuatu, karena pernah mengalami atau setidaknya melihat kejadian yang terhubung dengan keberadaan material itu.

Begitu pula dengan karya seni, sebuah medium bentuk yang selalu membawa teka-teki atas apa yang hadir padanya.  Oleh karenanya, seniman kemudian berlomba-lomba untuk meretas persepsi atas suatu material. Hal itu terlihat dari berbagai karya yang tidak hanya menarik secara visual tapi juga siasat untuk menipu mata dan logika kita yang melihatnya.

Di sinilah material menjadi bahasa yang menampung berbagai bentuk keterhubungan antar pengalaman. Baik tubuh, kebiasaan, status sosial, tradisi, wilayah dan lainnya. Material bukan lagi sekadar pembentuk visual tapi juga membangun agensi atas gagasan sang perupa dan bagaimana ia menjalin relasi dengan audiens yang menikmatinya.

Persoalan-persoalan inilah yang diam-diam diusahakan oleh The Racun’s dalam pameran bertajuk “Everything is doing something” yang merupakan pameran ke-3 yang digagas  oleh kolektif yang berbasis art handling ini, sebuah tawaran dari mereka yang sering kali berada pada produksi belakang layar sebuah pameran. Namun dengan lantangnya, kini mereka tengah menunaikan ibadah kesenimanannya masing-masing. Karena, sebagian besar dari anak-anak the Racun’s adalah mereka yang juga berkarya di sela-sela aktivitas pertukangan mereka. Seperti orang yang sudah kebelet, jika tidak cepat-cepat dikeluarkan, pasti akan mengganggu keseharian mereka. Dengan cara inilah gagasan dan eksekusi menemukan jalan keluarnya, pada mantra yang disebut jalan artistik.

Event yang dirancang dalam satu ruang aktivasi baru di Sika Gallery ini, menggandeng Army sebagai kurator yang bertugas sebagai stimulan para entitas kreatif ini. Dengan menyodorkan judul “everything is doing something” army membedah narasi kita dan keterhubungan memori terhadap eksistensi satu material, dan bagaimana setiap benda berbicara melalui sifat, tekstur, bentuk dan orientasi kerupaan lainnya.

Teks Kuratorial  dan Nama Seniman | Sumber : Made Chandra

Di tengah variasi material yang terbilang cukup liar, para seniman membawa pendekatan mereka masing-masing dalam menaklukkan serta memunculkan potensi tersembunyi dari medium yang tengah mereka eksplorasi. Begitupun dengan  pendekatan kuratorial yang saling tarik-menarik antar seniman dan Army sebagai kurator. Di sinilah ego harus menemukan bentuk negosiasinya.

Sebut saja derry sembiring. Perupa asal karo ini, membawa kertas dalam sifat yang tak lagi ringkih, tipis dan mudah hancur, melainkan bentuk solid bak dinding bata yang tersusun rapi. Dengan pendekatan yang mengarah pada karya tri dimensional, ia mengolah bentuk menjadi satu paradoks. Di mana sifat keras dan elastisitas saling menjembatani satu sama lain.

Kesan bata dan dinding yang begitu kokoh justru ia tampilkan dalam presentasi volume yang begitu lentur. Saya tentu kurang mengerti siasat apa yang sedang dia mainkan. Tapi jelas ada satu tantangan terhadap audiens untuk menerka bentuk dan asosiasi apa yang muncul setelahnya. Bahkan setelah dia membenturkan bata-bata itu dengan komposisi karet ban yang meliuk-liuk. Mungkin di situlah letak asiknya, di mana karya tak hanya setia pada satu persepsi tertentu, ia berubah dalam setiap imajinasi penonton.

Tak cukup di sana, karya lainnya kemudian mengeksplorasi medium lokal yang lekat dengan aktivitas craftmanship yang tinggi. Lihat karya Made Arsana, tatahan kulitnya terlihat sangat detail dan presisi, namun jika dicermati lebih dalam, karya ini  menyimpan berbagai easter egg di dalamnya.

Karya Made Arsana | Sumber : Made Chandra

Jebakan bentuk yang terkesan sangat ornamentik, sebenarnya begitu rawan jika hanya jatuh dalam persepsi kerajinan semata. Tapi begitulah karya seni, mereka tak mengizinkanmu pada terkaan pertama yang hadir di permukaannya saja, ia harus diselami, dialami, dan dilihat dengan segenap rasa penasaran.

Namun Arsana tentu paham akan hal itu, oleh karenanya muncul berbagai easter egg di antara riuh ornamen yang meliuk-liuk, seperti objek-objek kapital layaknya logo branded, mata uang, dan berbagai hal yang lekat dengan narasi konsumerisme dan percepatan industri, dan justru bertolak belakang dengan praktik Arsana yang begitu menguras komitmen tenaga dan waktu yang tentu tak bisa diburu-buru. Di sinilah material dan perlakuan padanya membawa konteks sosial dan permasalahan terkait lokalitas di suatu wilayah.

Karya Gung Gama | Sumber : Made Chandra



Satu contoh yang menarik juga hadir dalam karya Gung Gama dengan praktik fotografi experimentalnya. Dengan memanfaatkan cetak lintas medium ia memakai kaca sebagai penampang cetakan yang disusun berlayer-layer menampilkan kedalaman visual yang diperkuat dengan foto yang dipecah-pecah secara manual. Lapisan foto yang menampilkan siluet yang terabstraksi, seperti gambaran tentang bagaimana Gung Gama melihat Bali dari persoalan identitas dan bagaimana ia dibentuk melalui konstruksi sejarah yang berlapis-lapis dan struktural. Di titik ini sekali lagi citra visual dan medium yang hadir, dapat menghadirkan lapisan makna yang bahkan cukup politis untuk visual yang bagi sebagian orang terlihat sangat eksotis.

Begitupun dengan para perupa lain, yang tampil dengan pendekatan teknis yang berlainan satu sama lain. Mereka mencoba melamar pilihan materialnya masing-masing, membangun kedekatan emosional yang mungkin telah terbangun kokoh sebelumnya, lalu hanya butuh sedikit twist dan konteks narasi yang tepat agar tampil apik dalam presentasi final.

Art handling dan pengalaman material

Karya Putra Wali Aco | Sumber : Made Chandra

Tak bisa dipungkiri, pengalaman kerja yang sangat berkutat pada praktik produksi belakang pameran, memberi pengaruh yang tak bisa dibohongi sama sekali.

Potongan multiplex yang berserakan, debu resin yang berterbangan, atau bising alat-alat potong yang menderu, adalah makanan lumrah bagi mereka. Hal itu terlihat dari cara mereka memberlakukan material dari segi teknis yang tak bisa dibilang sederhana, lihat saja bagaimana Putra Wali Aco, atau kerap yang disapa “acok” merancang sebuah payung  atau mungkin juga gebogan dari potongan plat stainless steel yang tersusun satu persatu dengan rapi dan presisi.

Atau karya yang mencoba bereksperimen dengan medium mentah seperti arang yang coba dihadirkan oleh Agus Mediana “Cuprux”. Sangat terlihat keinginan atau siasat untuk mempermanenkan satu material yang terlihat cukup tidak stabil dari segi ketahanan. Namun di situlah permainan justru  baru dimulai, di mana material tidak cukup hanya ditaklukkan, ia harus diajak berteman dan dalam taraf tertentu kecakapan problem solving benar-benar diuji di sini.

Tentu ketelatenan dan kemampuan teknis yang begitu matang, menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan material seliar apapun. Penguasaan yang begitu terampil tentu tak bisa dicapai dengan pengalaman yang instan. Pada titik inilah, justru wajar mereka yang sehari-hari ditempa dengan berbagai problematika teknis, membawa pendekatan material yang kerap dihindari banyak perupa yang terlanjur nyaman pada praktik yang sudah mapan.

Karya Agus Mediana “cuprux” | Sumber : Made Chandra

Pilinan ijuk, susunan arang, lipatan benang, tumpukan kayu, cermin dan berbagai jenis material sukses membawa pengalaman visual yang menyegarkan, tentu dengan gagasan yang juga dipertaruhkan oleh masing-masing seniman.

Tapi bukannya tanpa risiko, pameran yang bermain dengan pengolahan material yang terlampau bebas, harus dibarengi dengan kematangan eksekusi yang juga mumpuni, tak selesai sampai di sana pilihan medium dan bagaimana ia di presentasikan juga menentukan kualitas karya secara estetika. Karena di beberapa hal memang tak semua seniman yang berpameran akhirnya berhasil dalam mengolah material yang ia bawa, beberapa lagi boleh dikatakan klise dan terlalu banal dalam pengolahan sehingga bisa terpleset dalam “alibi coba-coba”.

Beberapa karya yang hadir terlihat kurang lugas dalam menggali potensi sifat material. Terkadang pemahaman audiens baik saya sendiri terhenti pada atraksi visual semata, tanpa benar-benar bisa memahami kedalaman karya lebih jauh, efeknya menjadi sangat terasa. Tentu pada saat karya tersebut hanya bertahan beberapa menit dalam fokus penonton. Selebihnya mereka melewatkan percakapan yang ditawarkan oleh si seniman dalam karyanya.

Di sini kita bisa memahami bahwa Tidak cukup hanya menghadirkan medium yang tak lazim atau mengejutkan, seniman juga perlu membangun relasi yang meyakinkan antara material, gagasan, dan cara presentasinya di ruang pamer. Pada titik ini juga pemahaman akan konteks kuratorial dapat membantu mempertimbangkan berbagai strategi artistik dan konsep yang tengah dikembangkan.

Tentu kerjasama antara seniman dan tawaran ide yang diajukan oleh kurator menjadi poin utama dalam mengusahakan kemungkinan terbaik dari setiap material yang tengah dieksplorasi. Terlepas dari hal tersebut, pameran ini tentu menjadi tawaran menarik di tengah hiruk pikuk karya yang selalu beronani dengan material konvensional seperti cat, kanvas dan medium industrial lainnya. 

Karya Mangde Bendesa | Sumber : Made Chandra

Justru ini menjadi kesempatan dalam menyelami perspektif lokalitas. Di mana budaya material adalah aset simbolis yang lekat dengan hubungan sosial masyarakat kita. Mulai dari janur kuning yang hadir dalam berbagai kreasi bentuk, bambu yang menjadi kunci struktur arsitektur ataupun berbagai material alam yang membawa narasi mereka masing-masing. 

Berbagai benda tentu membawa kemungkinan gagasan yang begitu luas. Ia tidak pernah sekalipun dipandang secara netral. Ia disortir, dipilih lalu diasosiakan pada sesuatu yang paling dekat pada pengalaman kita. Ia terkait sejarah, kebiasaan dan jejak panjang kesepakatan yang direvisi terus menerus. Di sanalah potensi sebuah material, sesuatu yang sangat multitafsir dengan berbagai kompleksitas teknis yang harus diurai oleh kecakapan setiap seniman.

Pada akhirnya, material bukanlah sekadar artefak mati yang diam. Ia menyimpan jejak-jejak perjumpaan; dengan tubuh yang mengolahnya, dengan waktu yang mengubahnya, maupun sistem makna yang dilekatkan padanya. 

Pada titik tertentu, kita bisa memaknai material sebagai arsip pengalaman, yang bisa berevolusi seiring ia dibentuk, dipindahkan, dirakit bahkan dihancurkan. “Everything is Doing Something” pada akhirnya bukan hanya perayaan atas kecakapan mengolah material, tapi pengingat akan segala sesuatu tak pernah patuh pada satu persepsi yang telah mapan. Tawaran dari setiap seniman pada pameran ini, menantang perspektif audiens terhadap eksistensi sebuah material. Dari situlah kita beranjak pada pemahaman bahwa bentuk tak hanya melulu pada persoalan fisik tapi bagaimana ia membawa percakapan yang jauh lebih dalam setelahnya.[T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa Balisika gallery
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Next Post

(Tidak Ada) Literasi Digital

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails
Next Post
(Tidak Ada) Literasi Digital

(Tidak Ada) Literasi Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co