11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Tidak Ada) Literasi Digital

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 2, 2026
in Esai
(Tidak Ada) Literasi Digital

I Wayan Artika

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digital menuntut kemampuan yang pada dasarnya juga telah hadir dalam media analog seperti surat kabar dan televisi, meskipun sebelumnya tidak tampak secara jelas.

Dari berbagai sumber yang sangat tidak terbatas, literasi digital, cukup disebut demikian. Tak ada konsep yang ditawarkan mengenai apa itu literasi digital. Namun sangat menarik bahwa literasi digital sebagai kemampuan individu untuk beradaptasi dengan media baru (Danhua Peng, Zhonggen Yu, 2022). Maka ini mengindikasikan bahwa tidak ada definisi untuk literasi digital. Tapi pembicaraan di seputar literasi digital sering menyinggung literasi informasi. Literasi ini tumbuh di tengah masyarakat informasi (Deklarasi Praha, 2003). Masih ada satu istilah literasi yang terkait dengan hal ini, yakni literasi media. Ini cukup jauh maknanya karena definisinya adalah literasi untuk mengkritisi media (konstruksi dan tafsir). Artinya cukup sampai pada literasi saja dan, ”entah”.

Artinya konsep literasi cetak (atau apapun itu sebutannya, cukup literasi saja) sudah memadai jika kembali ke konsep klasik mengenai literasi. Literasi digital adalah literasi yang diterapkan di dunia digital. Maka persoalan manusia saat memasuki abad 21 dengan disrupsi dan digitalisme adalah pendefinisian mengenai apa itu dunia digital.

Dalam dan kalau membicarakan literasi digital atau dunia digital yang mustahil ditinggalkan di abad ini adalah munculnya kata ”teknologi” dan ”informasi”. Dua kata ini selalu muncul. Sekaligus juga tidak dipahami oleh orang kebanyakan. Teknologi secara instrumental, yaitu sekadar sebagai alat bantu tanpa implikasi nilai yang signifikan bagi individu maupun masyarakat.

Dengan demikian, dalam perspektif teknis, literasi digital dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi digital untuk mengakses informasi serta menyesuaikan diri dengan perkembangan media baru secara efektif (Danhua Peng, Zhonggen Yu, 2022). Atau menggunakan perangkat digital secara tepat untuk mengelola sumber-sumber digital (Danhua Peng, Zhonggen Yu, 2022). Sebaliknya, pandangan substantif menempatkan teknologi sebagai kekuatan yang berperan menentukan perubahan sosial (Allah Nawaz and Ghulam Muhammad Kundi, 2010).

Teknologi digital memungkinkan globalisasi proses bisnis dan produk budaya komersial, sekaligus memfasilitasi pengumpulan data individu dalam jumlah besar yang kemudian menjadi komoditas. Dengan demikian, teknologi digital terlibat dalam pembentukan dan pemeliharaan masyarakat pascamodern. Namun, aktor-aktor utama dalam masyarakatlah yang mendorong perkembangan tersebut melalui riset dan investasi teknologi baru demi keuntungan ekonomi maupun politik.

Teknologi digital dipahami sebagai internet, media sosial, dan kondisi manusia dalam jaringan dengan perangkat keras berupa berbagai jenis gawai dan komputer. Lalu dalam kehidupan nyata, tindakan digital itu terjadi dalam berbagai aktivitas yang nirkertas, dalam jaringan, tidak bertemu muka, namun dengan jamianan kunci-kunci teknologinya aman, berterima, dan tepercaya. Misalnya pengiriman data KTP digital. Tidak lagi dipersoalakan asli atau salinan. Dokumen atau data beredar secara digital dalam jaringan maya.

Lantas apa sebenarnya literasi digital itu? Apakah segala pertentangan dengan literasi cetak?

Barangkalai definisi ini dapat membantu: “Dengan memandang literasi dalam konteks masyarakat digital, literasi dapat dipahami sebagai alat yang sangat penting bagi individu maupun kelompok untuk memahami hubungan mereka dengan dunia digital.” (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015)

Jika demikian halnya literasi digital adalah transformasi berbagai material nyata kepada material tidak nyata/digital. Literasi digital memisahkan hubungan fisik apapun di dunia ini. Konsep yang diwujudkan dalam berbagai materi menjadi benda (tanda tangan, foto, tulisan tangan, dll.) tidak ada lagi. Piala dari kejuaraan cukup dalam foto. Upacara penerimaannya cukup lewat foto juga yang diambil dari jarak yang tidak diketahuai. Aksi-aksi dalam kehidupan juga tidak perlu dialkukan bersama di satu ruang tetapi beralih ke ruang digital/maya ketika pertemuan dimungkinkan bersama meretas jarak dan waktu tempuh.

Jika literasi digital adalah transformatif, artinya tidak diperlukan lagi definisi khusus literasi digital ini. Ia cukup meminjam atau menggunakan konsep literasi yang sudah ada. Namun demikian, cuma ada hal yang krusial, ketika harus berbicara pada aspek teknologi. Tapi hal ini adalah bidang yang bukan tanggung jawab semua orang tetapi ada pada para ahli yang mempelajrai dan mengembangkannya. Makna literasi digital yang dibutuhkan adalah seperlunya pada tindakan digital manusia. Atau bahkan konsepnya tidak perlu namun dengan perangkat keras (HP, mungkin) tindakan di dunia digital bisa dilakukan, seperti pengiriman uang atau pembayaran tagihan air minum.

Berbicara perangkat keras dalam literasi digital, tentu tidak lepas dari fungsinya sebagai wahna atau kapsul yang dapat membawa siapa saja ke dunia digital/maya, “komputer pribadi (PC) menjadi gerbang utama menuju aktivitas siber, baik di tempat kerja maupun di rumah” (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015). Wahana ini menghadirkan siapapun pada ruang maya. Ini semacam pintru dimana manusia diubah menjadi nirfisik. Mereka hadir lewat foto dalam forum seminar internasional atau perkuliahan melalui wahana perangkat keras yang bekerja bersama perangkat lunaknya: zoom misalnya.

Melalui proyek DigEuLit (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015) diamati adanya berbagai bentuk literasi yang saling berkonvergensi dan memperoleh relevansi baru dalam lingkungan digital. Berdasarkan pengamatan tersebut, dirumuskan definisi literasi digital yang menitikberatkan pada proses penggunaan perangkat digital untuk mendukung pencapaian tujuan dalam situasi kehidupan individu (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015)

Definisi literasi digital di bawah ini akan dibahas lebih leanjut:

Kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta internet telah menjadi bentuk baru literasi, yaitu “literasi digital”. Literasi digital dengan cepat menjadi prasyarat bagi kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan. Tanpa literasi digital, warga negara tidak akan dapat berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan masyarakat maupun memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk hidup di abad ke-21. (European Commission, 2003: 3)

Kutipan di atas mnunjukkan bahwa inti dari literasi digital adalah keterampilan menggunakan teknologi inforasi dan komunikasi. Definisi ini  sejalan dengan “kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi” (American Library Association [ALA], t.t.). Masih dari European Commission, literasi digital juga menyangkut seperangkat kompetensi (mengakses, memahami, mengevaluasi, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi secara efektif dalam lingkungan digital).

Yang menarik dalam berbagai sumber mengenai literasi digital, digunakan istilah “informasi” jadi bukan pengetahuan. Mungkin ini istilah yang lebih luas, umum, dan akrab dari istilah pengetahuan atau ”literasi merupakan tindakan dasar dalam proses kognitif” (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015). Sejalan dengan konsep proses kognitif tersebut,  Gilster (dalam Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015) menempatkan berpikir kritis—bukan kompetensi teknis—sebagai keterampilan inti dalam literasi digital. Ia menekankan pentingnya evaluasi kritis terhadap informasi yang ditemukan di web, bukan semata-mata keterampilan teknis yang diperlukan untuk mengaksesnya.

Dari berbagai sumber muncul kesan bahwa literasi digital sangat menekankan pada sikap manusia terhadap materi digital. Sehubungan dengan hal ini, Spires dan Bartlett (2012) membagi berbagai proses intelektual yang berkaitan dengan literasi digital ke dalam tiga kategori, yaitu: menemukan dan mengonsumsi konten digital (locating and consuming digital content); menciptakan konten digital (creating digital content); dan mengomunikasikan konten digital (communicating digital content).

Esai ini ingin ditutup dengan sejumlah poin mengenai literasi digital. Ia selalu berkaitan dengan internet, kondisi terhubung (online), teknologi informasi/komunikasi, realitas (cetak.\/analog, kertas) vs dalam jaringan (digital; nirkertas), kecakapan digital. Dalam kondisisi dan konteks apapun pembicaraan mengenai literasi digtal, maka, jika literasi digital itu ada, maka semua bermuara pada poin poin di atas. Sementara itu esenasi atau substansi literasi tetap sama.  [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Literasiliterasi digital
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Next Post

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa ---Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co