2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Tidak Ada) Literasi Digital

I Wayan Artika by I Wayan Artika
June 2, 2026
in Esai
(Tidak Ada) Literasi Digital

I Wayan Artika

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digital menuntut kemampuan yang pada dasarnya juga telah hadir dalam media analog seperti surat kabar dan televisi, meskipun sebelumnya tidak tampak secara jelas.

Dari berbagai sumber yang sangat tidak terbatas, literasi digital, cukup disebut demikian. Tak ada konsep yang ditawarkan mengenai apa itu literasi digital. Namun sangat menarik bahwa literasi digital sebagai kemampuan individu untuk beradaptasi dengan media baru (Danhua Peng, Zhonggen Yu, 2022). Maka ini mengindikasikan bahwa tidak ada definisi untuk literasi digital. Tapi pembicaraan di seputar literasi digital sering menyinggung literasi informasi. Literasi ini tumbuh di tengah masyarakat informasi (Deklarasi Praha, 2003). Masih ada satu istilah literasi yang terkait dengan hal ini, yakni literasi media. Ini cukup jauh maknanya karena definisinya adalah literasi untuk mengkritisi media (konstruksi dan tafsir). Artinya cukup sampai pada literasi saja dan, ”entah”.

Artinya konsep literasi cetak (atau apapun itu sebutannya, cukup literasi saja) sudah memadai jika kembali ke konsep klasik mengenai literasi. Literasi digital adalah literasi yang diterapkan di dunia digital. Maka persoalan manusia saat memasuki abad 21 dengan disrupsi dan digitalisme adalah pendefinisian mengenai apa itu dunia digital.

Dalam dan kalau membicarakan literasi digital atau dunia digital yang mustahil ditinggalkan di abad ini adalah munculnya kata ”teknologi” dan ”informasi”. Dua kata ini selalu muncul. Sekaligus juga tidak dipahami oleh orang kebanyakan. Teknologi secara instrumental, yaitu sekadar sebagai alat bantu tanpa implikasi nilai yang signifikan bagi individu maupun masyarakat.

Dengan demikian, dalam perspektif teknis, literasi digital dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi digital untuk mengakses informasi serta menyesuaikan diri dengan perkembangan media baru secara efektif (Danhua Peng, Zhonggen Yu, 2022). Atau menggunakan perangkat digital secara tepat untuk mengelola sumber-sumber digital (Danhua Peng, Zhonggen Yu, 2022). Sebaliknya, pandangan substantif menempatkan teknologi sebagai kekuatan yang berperan menentukan perubahan sosial (Allah Nawaz and Ghulam Muhammad Kundi, 2010).

Teknologi digital memungkinkan globalisasi proses bisnis dan produk budaya komersial, sekaligus memfasilitasi pengumpulan data individu dalam jumlah besar yang kemudian menjadi komoditas. Dengan demikian, teknologi digital terlibat dalam pembentukan dan pemeliharaan masyarakat pascamodern. Namun, aktor-aktor utama dalam masyarakatlah yang mendorong perkembangan tersebut melalui riset dan investasi teknologi baru demi keuntungan ekonomi maupun politik.

Teknologi digital dipahami sebagai internet, media sosial, dan kondisi manusia dalam jaringan dengan perangkat keras berupa berbagai jenis gawai dan komputer. Lalu dalam kehidupan nyata, tindakan digital itu terjadi dalam berbagai aktivitas yang nirkertas, dalam jaringan, tidak bertemu muka, namun dengan jamianan kunci-kunci teknologinya aman, berterima, dan tepercaya. Misalnya pengiriman data KTP digital. Tidak lagi dipersoalakan asli atau salinan. Dokumen atau data beredar secara digital dalam jaringan maya.

Lantas apa sebenarnya literasi digital itu? Apakah segala pertentangan dengan literasi cetak?

Barangkalai definisi ini dapat membantu: “Dengan memandang literasi dalam konteks masyarakat digital, literasi dapat dipahami sebagai alat yang sangat penting bagi individu maupun kelompok untuk memahami hubungan mereka dengan dunia digital.” (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015)

Jika demikian halnya literasi digital adalah transformasi berbagai material nyata kepada material tidak nyata/digital. Literasi digital memisahkan hubungan fisik apapun di dunia ini. Konsep yang diwujudkan dalam berbagai materi menjadi benda (tanda tangan, foto, tulisan tangan, dll.) tidak ada lagi. Piala dari kejuaraan cukup dalam foto. Upacara penerimaannya cukup lewat foto juga yang diambil dari jarak yang tidak diketahuai. Aksi-aksi dalam kehidupan juga tidak perlu dialkukan bersama di satu ruang tetapi beralih ke ruang digital/maya ketika pertemuan dimungkinkan bersama meretas jarak dan waktu tempuh.

Jika literasi digital adalah transformatif, artinya tidak diperlukan lagi definisi khusus literasi digital ini. Ia cukup meminjam atau menggunakan konsep literasi yang sudah ada. Namun demikian, cuma ada hal yang krusial, ketika harus berbicara pada aspek teknologi. Tapi hal ini adalah bidang yang bukan tanggung jawab semua orang tetapi ada pada para ahli yang mempelajrai dan mengembangkannya. Makna literasi digital yang dibutuhkan adalah seperlunya pada tindakan digital manusia. Atau bahkan konsepnya tidak perlu namun dengan perangkat keras (HP, mungkin) tindakan di dunia digital bisa dilakukan, seperti pengiriman uang atau pembayaran tagihan air minum.

Berbicara perangkat keras dalam literasi digital, tentu tidak lepas dari fungsinya sebagai wahna atau kapsul yang dapat membawa siapa saja ke dunia digital/maya, “komputer pribadi (PC) menjadi gerbang utama menuju aktivitas siber, baik di tempat kerja maupun di rumah” (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015). Wahana ini menghadirkan siapapun pada ruang maya. Ini semacam pintru dimana manusia diubah menjadi nirfisik. Mereka hadir lewat foto dalam forum seminar internasional atau perkuliahan melalui wahana perangkat keras yang bekerja bersama perangkat lunaknya: zoom misalnya.

Melalui proyek DigEuLit (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015) diamati adanya berbagai bentuk literasi yang saling berkonvergensi dan memperoleh relevansi baru dalam lingkungan digital. Berdasarkan pengamatan tersebut, dirumuskan definisi literasi digital yang menitikberatkan pada proses penggunaan perangkat digital untuk mendukung pencapaian tujuan dalam situasi kehidupan individu (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015)

Definisi literasi digital di bawah ini akan dibahas lebih leanjut:

Kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta internet telah menjadi bentuk baru literasi, yaitu “literasi digital”. Literasi digital dengan cepat menjadi prasyarat bagi kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan. Tanpa literasi digital, warga negara tidak akan dapat berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan masyarakat maupun memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk hidup di abad ke-21. (European Commission, 2003: 3)

Kutipan di atas mnunjukkan bahwa inti dari literasi digital adalah keterampilan menggunakan teknologi inforasi dan komunikasi. Definisi ini  sejalan dengan “kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi” (American Library Association [ALA], t.t.). Masih dari European Commission, literasi digital juga menyangkut seperangkat kompetensi (mengakses, memahami, mengevaluasi, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi secara efektif dalam lingkungan digital).

Yang menarik dalam berbagai sumber mengenai literasi digital, digunakan istilah “informasi” jadi bukan pengetahuan. Mungkin ini istilah yang lebih luas, umum, dan akrab dari istilah pengetahuan atau ”literasi merupakan tindakan dasar dalam proses kognitif” (Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015). Sejalan dengan konsep proses kognitif tersebut,  Gilster (dalam Jan Grudziecki, Allan Martin, 2015) menempatkan berpikir kritis—bukan kompetensi teknis—sebagai keterampilan inti dalam literasi digital. Ia menekankan pentingnya evaluasi kritis terhadap informasi yang ditemukan di web, bukan semata-mata keterampilan teknis yang diperlukan untuk mengaksesnya.

Dari berbagai sumber muncul kesan bahwa literasi digital sangat menekankan pada sikap manusia terhadap materi digital. Sehubungan dengan hal ini, Spires dan Bartlett (2012) membagi berbagai proses intelektual yang berkaitan dengan literasi digital ke dalam tiga kategori, yaitu: menemukan dan mengonsumsi konten digital (locating and consuming digital content); menciptakan konten digital (creating digital content); dan mengomunikasikan konten digital (communicating digital content).

Esai ini ingin ditutup dengan sejumlah poin mengenai literasi digital. Ia selalu berkaitan dengan internet, kondisi terhubung (online), teknologi informasi/komunikasi, realitas (cetak.\/analog, kertas) vs dalam jaringan (digital; nirkertas), kecakapan digital. Dalam kondisisi dan konteks apapun pembicaraan mengenai literasi digtal, maka, jika literasi digital itu ada, maka semua bermuara pada poin poin di atas. Sementara itu esenasi atau substansi literasi tetap sama.  [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Literasiliterasi digital
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Next Post

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa ---Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co