3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kosmologi Sulur Wayan Setem

Hartanto by Hartanto
July 23, 2026
in Ulas Rupa
Kosmologi Sulur Wayan Setem

Sulur-Sulur Kehidupan karya I Wayan Setem, panel acrylic on canvas 200 x 110

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama karena pesertanya adalah para dosen seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali.

Perhelatan ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Partisipasi mereka membuat tema ini tidak hanya berbicara tentang arah seni ‘kontemporer’ secara umum, tetapi juga tentang ‘orientasi akademik’, ‘pedagogis’, dan ‘institusional’ yang melekat pada peran seorang ‘pengajar seni’.

Arah di sini bukan sekadar ‘garis tujuan’ atau ‘orientasi tunggal’, melainkan sebuah ‘proses’ memilih jalur, ‘menegosiasikan posisi’, dan ‘meneguhkan sikap’ di tengah persimpangan zaman.

Para dosen yang berkarya dalam pameran ini tentunya membawa beban ganda: di satu sisi mereka dituntut oleh institusi untuk mengajar, meneliti, dan mengabdi. Di sisi lain, mereka tetap harus menjaga ‘ruang otonom’ untuk ‘penciptaan artistik’.

Pameran ini memperlihatkan bahwa seni adalah medan perlawanan terhadap reduksi manusia menjadi data, sekaligus perawatan terhadap rasa yang membuat kita tetap manusia.

Dengan demikian, perkenankan saya mengatakan bahwa Yogya Annual Art #11 dapat dibaca sebagai sebuah ‘manifesto’: seni sebagai ‘arah’ yang meneguhkan ‘martabat manusia’.

Intinya, para perupa diajak mengeksplorasi ‘arah’ sebagai ‘kemenjadian’ (becoming); sebagai jalur-jalur ingatan personal dan sosial, transformasi dan pewarisan; serta bayang masa depan, kendati harus berputar-putar, berkelak-kelok, tanpa kepastian.

Dalam pameran ini, salah satu yang menarik perhatian saya adalah karya Prof. I Wayan Setem yang berjudul Sulur-sulur Kehidupan. Karya ini menghadirkan sebuah ‘lanskap visual’ yang kaya akan ‘energi organik’.

Dua panel akrilik di atas kanvas, dengan dominasi warna kuning, emas, dan oranye, seakan menyalakan ‘aura’ cahaya matahari yang menyelimuti ruang.

‘Motif sulur’ yang berkelindan, ‘berpola floral’, memberi kesan pertumbuhan yang tak henti-hentinya, sebuah ‘metafora’ tentang ‘kehidupan’ yang terus ‘bergerak’, ‘berputar’, dan ‘berulang’.

‘Streak merah’ vertikal pada panel kiri menghadirkan tegangan ‘dramatik’, seperti denyut nadi yang menyalurkan ‘vitalitas’ ke seluruh ‘komposisi’. Menurut saya, ini semacam axis mundi (poros dunia) yang menghubungkan bumi dan langit.

Sementara itu, semburat ‘turquoise’ (hijau-biru) memberi keseimbangan dingin, seolah menjadi napas segar di tengah intensitas warna hangat.

Panel kanan, dengan konsentrasi warna oranye dan lingkaran-lingkaran motif, menegaskan ‘siklus kosmos’: kehidupan yang berputar, lahir, tumbuh, dan kembali.

Tekstur yang kaya, melalui lapisan demi lapisan cat ‘akrilik’, menciptakan kedalaman yang bukan hanya ‘visual’, tetapi juga ‘simbolik’.

Sulur-sulur itu dapat dibaca sebagai ‘representasi’ akar budaya Bali yang terus menjalar, merangkul ‘tradisi’ sekaligus membuka diri pada ‘abstraksi modern’.

Ada semacam dialog antara ‘ornamentasi tradisi’ (motif floral, sulur dekoratif) dengan bahasa ‘abstrak kontemporer’ yang lebih bebas, sehingga karya ini berdiri di persimpangan antara ‘warisan’ dan ‘eksplorasi’.

Secara konseptual, Sulur-sulur Kehidupan dapat ditafsirkan sebagai pernyataan tentang ‘vitalitas budaya’, bahwa kehidupan, seperti sulur, tumbuh dengan arah yang tak selalu terduga, namun tetap berakar pada tanah dan cahaya.

Setem menghadirkan bukan sekadar ‘dekorasi’, melainkan ‘kosmologi visual’ yang menyalakan kesadaran akan ‘siklus hidup’, ‘energi’, dan ‘keberlanjutan’.

Dalam dua panel ini, Setem menegaskan bahwa seni adalah organisme hidup—ia tumbuh, berputar, dan menyalakan energi yang melampaui batas medium.

Manifesto akademis yang terkandung di dalamnya adalah pernyataan tentang ‘intermedialitas’: bagaimana ‘motif tradisi’ (flora, sulur, ornamentasi) ‘bernegosiasi’ dengan ‘abstraksi modern’.

‘Refleksi puitis’nya hadir dalam kesan bahwa setiap sulur adalah doa yang menjalar, setiap warna adalah mantra yang bergetar.

Sulur-sulur Kehidupan bukan sekadar lukisan, melainkan ‘teks kosmologis’ yang menyingkap bahwa kehidupan adalah jaringan tak berujung, sebuah tarian antara ‘tradisi’ dan ‘modernitas’, antara ‘ornamentasi’ dan ‘abstraksi’, antara bumi dan langit.

Saya berpendapat, karya ini berdiri sebagai ‘manifesto’ sekaligus ‘elegi puitis’—ia menegaskan bahwa seni ‘Bali kontemporer’ tidak hanya melestarikan bentuk, tetapi juga menyalakan kembali ‘denyut kosmos’ dalam ‘bahasa visual’ yang berakar dan sekaligus meluas.

Karya Wayan Setem ini mengingatkan saya pada tradisi ‘abstraksi organik’ para perupa seperti Jackson Pollock, Joan Mitchell, Olafur Eliasson, Jaanika Peerna, hingga Jadé Fadojutimi.

Mereka sama-sama menegaskan bahwa ‘abstraksi’ bukan sekadar permainan bentuk, melainkan ‘kosmologi hidup’ yang berakar pada alam.

Jackson Pollock pernah menyatakan, “I don’t paint nature, I am nature.” (Saya tidak melukis alam, saya adalah alam itu sendiri).

Pernyataan ini menemukan gema dalam karya Setem, di mana sulur-sulur bukan sekadar ‘representasi flora’, melainkan tubuh alam itu sendiri yang berdenyut di kanvas.

Joan Mitchell, dengan ‘lanskap emosional’nya, menegaskan bahwa lukisan adalah “landscapes of feelings” (lanskap perasaan).

Panel Setem, dengan aura sakral warna emas dan oranye, menghadirkan ‘lanskap spiritual’ Bali yang menyalakan rasa sekaligus ingatan kolektif.

Sementara itu, Olafur Eliasson menekankan bahwa seni harus “membuat yang tak terlihat menjadi pengalaman langsung”.

Sulur Setem menyingkap energi ‘kosmos Bali’, menjadikan siklus hidup yang biasanya tak kasatmata hadir sebagai ‘pengalaman visual’.

Jadé Fadojutimi menyebut ‘abstraksi’nya sebagai “emotional landscapes” (lanskap emosional) yang menjembatani ‘batin’ dan ‘alam’.

Setem pun menjadikan sulur sebagai jembatan antara ‘ornamentasi tradisi’ dan ‘abstraksi kontemporer’.

Saya sangat tertarik dengan pemikiran Jaanika Peerna melalui Glacier Elegies-nya (Elegi Gletser), yang menegaskan seni sebagai ‘ritual ekologis’.

Setem pun menghadirkan paradigma ‘Tri Hita Karana’, yang menekankan etika ekologis untuk menjaga keseimbangan antara ‘manusia’, ‘alam’, dan ‘spiritualitas’.

Begitulah, karya Setem mengingatkan saya pada Pollock, Mitchell, Eliasson, Fadojutimi, dan Peerna—bukan dalam ‘imitasi’, melainkan dalam ‘gema kosmologis’—bahwa seni adalah bahasa universal tentang kehidupan, energi, dan keberlanjutan.

Setem menegaskan bahwa seni Bali kontemporer adalah ‘kosmologi sulur’: akar tradisi yang menjalar, bernegosiasi dengan modernitas, dan menyalakan kesadaran ekologis. Seperti Pollock yang menyatakan dirinya adalah alam.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia YogyakartaPameran Yogya Annual Art #11
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

Next Post

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan ---Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co