14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kosmologi Sulur Wayan Setem

Hartanto by Hartanto
July 23, 2026
in Ulas Rupa
Kosmologi Sulur Wayan Setem

Sulur-Sulur Kehidupan karya I Wayan Setem, panel acrylic on canvas 200 x 110

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama karena pesertanya adalah para dosen seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali.

Perhelatan ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Partisipasi mereka membuat tema ini tidak hanya berbicara tentang arah seni ‘kontemporer’ secara umum, tetapi juga tentang ‘orientasi akademik’, ‘pedagogis’, dan ‘institusional’ yang melekat pada peran seorang ‘pengajar seni’.

Arah di sini bukan sekadar ‘garis tujuan’ atau ‘orientasi tunggal’, melainkan sebuah ‘proses’ memilih jalur, ‘menegosiasikan posisi’, dan ‘meneguhkan sikap’ di tengah persimpangan zaman.

Para dosen yang berkarya dalam pameran ini tentunya membawa beban ganda: di satu sisi mereka dituntut oleh institusi untuk mengajar, meneliti, dan mengabdi. Di sisi lain, mereka tetap harus menjaga ‘ruang otonom’ untuk ‘penciptaan artistik’.

Pameran ini memperlihatkan bahwa seni adalah medan perlawanan terhadap reduksi manusia menjadi data, sekaligus perawatan terhadap rasa yang membuat kita tetap manusia.

Dengan demikian, perkenankan saya mengatakan bahwa Yogya Annual Art #11 dapat dibaca sebagai sebuah ‘manifesto’: seni sebagai ‘arah’ yang meneguhkan ‘martabat manusia’.

Intinya, para perupa diajak mengeksplorasi ‘arah’ sebagai ‘kemenjadian’ (becoming); sebagai jalur-jalur ingatan personal dan sosial, transformasi dan pewarisan; serta bayang masa depan, kendati harus berputar-putar, berkelak-kelok, tanpa kepastian.

Dalam pameran ini, salah satu yang menarik perhatian saya adalah karya Prof. I Wayan Setem yang berjudul Sulur-sulur Kehidupan. Karya ini menghadirkan sebuah ‘lanskap visual’ yang kaya akan ‘energi organik’.

Dua panel akrilik di atas kanvas, dengan dominasi warna kuning, emas, dan oranye, seakan menyalakan ‘aura’ cahaya matahari yang menyelimuti ruang.

‘Motif sulur’ yang berkelindan, ‘berpola floral’, memberi kesan pertumbuhan yang tak henti-hentinya, sebuah ‘metafora’ tentang ‘kehidupan’ yang terus ‘bergerak’, ‘berputar’, dan ‘berulang’.

‘Streak merah’ vertikal pada panel kiri menghadirkan tegangan ‘dramatik’, seperti denyut nadi yang menyalurkan ‘vitalitas’ ke seluruh ‘komposisi’. Menurut saya, ini semacam axis mundi (poros dunia) yang menghubungkan bumi dan langit.

Sementara itu, semburat ‘turquoise’ (hijau-biru) memberi keseimbangan dingin, seolah menjadi napas segar di tengah intensitas warna hangat.

Panel kanan, dengan konsentrasi warna oranye dan lingkaran-lingkaran motif, menegaskan ‘siklus kosmos’: kehidupan yang berputar, lahir, tumbuh, dan kembali.

Tekstur yang kaya, melalui lapisan demi lapisan cat ‘akrilik’, menciptakan kedalaman yang bukan hanya ‘visual’, tetapi juga ‘simbolik’.

Sulur-sulur itu dapat dibaca sebagai ‘representasi’ akar budaya Bali yang terus menjalar, merangkul ‘tradisi’ sekaligus membuka diri pada ‘abstraksi modern’.

Ada semacam dialog antara ‘ornamentasi tradisi’ (motif floral, sulur dekoratif) dengan bahasa ‘abstrak kontemporer’ yang lebih bebas, sehingga karya ini berdiri di persimpangan antara ‘warisan’ dan ‘eksplorasi’.

Secara konseptual, Sulur-sulur Kehidupan dapat ditafsirkan sebagai pernyataan tentang ‘vitalitas budaya’, bahwa kehidupan, seperti sulur, tumbuh dengan arah yang tak selalu terduga, namun tetap berakar pada tanah dan cahaya.

Setem menghadirkan bukan sekadar ‘dekorasi’, melainkan ‘kosmologi visual’ yang menyalakan kesadaran akan ‘siklus hidup’, ‘energi’, dan ‘keberlanjutan’.

Dalam dua panel ini, Setem menegaskan bahwa seni adalah organisme hidup—ia tumbuh, berputar, dan menyalakan energi yang melampaui batas medium.

Manifesto akademis yang terkandung di dalamnya adalah pernyataan tentang ‘intermedialitas’: bagaimana ‘motif tradisi’ (flora, sulur, ornamentasi) ‘bernegosiasi’ dengan ‘abstraksi modern’.

‘Refleksi puitis’nya hadir dalam kesan bahwa setiap sulur adalah doa yang menjalar, setiap warna adalah mantra yang bergetar.

Sulur-sulur Kehidupan bukan sekadar lukisan, melainkan ‘teks kosmologis’ yang menyingkap bahwa kehidupan adalah jaringan tak berujung, sebuah tarian antara ‘tradisi’ dan ‘modernitas’, antara ‘ornamentasi’ dan ‘abstraksi’, antara bumi dan langit.

Saya berpendapat, karya ini berdiri sebagai ‘manifesto’ sekaligus ‘elegi puitis’—ia menegaskan bahwa seni ‘Bali kontemporer’ tidak hanya melestarikan bentuk, tetapi juga menyalakan kembali ‘denyut kosmos’ dalam ‘bahasa visual’ yang berakar dan sekaligus meluas.

Karya Wayan Setem ini mengingatkan saya pada tradisi ‘abstraksi organik’ para perupa seperti Jackson Pollock, Joan Mitchell, Olafur Eliasson, Jaanika Peerna, hingga Jadé Fadojutimi.

Mereka sama-sama menegaskan bahwa ‘abstraksi’ bukan sekadar permainan bentuk, melainkan ‘kosmologi hidup’ yang berakar pada alam.

Jackson Pollock pernah menyatakan, “I don’t paint nature, I am nature.” (Saya tidak melukis alam, saya adalah alam itu sendiri).

Pernyataan ini menemukan gema dalam karya Setem, di mana sulur-sulur bukan sekadar ‘representasi flora’, melainkan tubuh alam itu sendiri yang berdenyut di kanvas.

Joan Mitchell, dengan ‘lanskap emosional’nya, menegaskan bahwa lukisan adalah “landscapes of feelings” (lanskap perasaan).

Panel Setem, dengan aura sakral warna emas dan oranye, menghadirkan ‘lanskap spiritual’ Bali yang menyalakan rasa sekaligus ingatan kolektif.

Sementara itu, Olafur Eliasson menekankan bahwa seni harus “membuat yang tak terlihat menjadi pengalaman langsung”.

Sulur Setem menyingkap energi ‘kosmos Bali’, menjadikan siklus hidup yang biasanya tak kasatmata hadir sebagai ‘pengalaman visual’.

Jadé Fadojutimi menyebut ‘abstraksi’nya sebagai “emotional landscapes” (lanskap emosional) yang menjembatani ‘batin’ dan ‘alam’.

Setem pun menjadikan sulur sebagai jembatan antara ‘ornamentasi tradisi’ dan ‘abstraksi kontemporer’.

Saya sangat tertarik dengan pemikiran Jaanika Peerna melalui Glacier Elegies-nya (Elegi Gletser), yang menegaskan seni sebagai ‘ritual ekologis’.

Setem pun menghadirkan paradigma ‘Tri Hita Karana’, yang menekankan etika ekologis untuk menjaga keseimbangan antara ‘manusia’, ‘alam’, dan ‘spiritualitas’.

Begitulah, karya Setem mengingatkan saya pada Pollock, Mitchell, Eliasson, Fadojutimi, dan Peerna—bukan dalam ‘imitasi’, melainkan dalam ‘gema kosmologis’—bahwa seni adalah bahasa universal tentang kehidupan, energi, dan keberlanjutan.

Setem menegaskan bahwa seni Bali kontemporer adalah ‘kosmologi sulur’: akar tradisi yang menjalar, bernegosiasi dengan modernitas, dan menyalakan kesadaran ekologis. Seperti Pollock yang menyatakan dirinya adalah alam.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia YogyakartaPameran Yogya Annual Art #11
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

Next Post

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan ---Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co