23 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kosmologi Sulur Wayan Setem

Hartanto by Hartanto
July 23, 2026
in Ulas Rupa
Kosmologi Sulur Wayan Setem

Sulur-Sulur Kehidupan karya I Wayan Setem, panel acrylic on canvas 200 x 110

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama karena pesertanya adalah para dosen seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali.

Perhelatan ini digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, dari 19 Juni hingga 8 September 2026.

Partisipasi mereka membuat tema ini tidak hanya berbicara tentang arah seni ‘kontemporer’ secara umum, tetapi juga tentang ‘orientasi akademik’, ‘pedagogis’, dan ‘institusional’ yang melekat pada peran seorang ‘pengajar seni’.

Arah di sini bukan sekadar ‘garis tujuan’ atau ‘orientasi tunggal’, melainkan sebuah ‘proses’ memilih jalur, ‘menegosiasikan posisi’, dan ‘meneguhkan sikap’ di tengah persimpangan zaman.

Para dosen yang berkarya dalam pameran ini tentunya membawa beban ganda: di satu sisi mereka dituntut oleh institusi untuk mengajar, meneliti, dan mengabdi. Di sisi lain, mereka tetap harus menjaga ‘ruang otonom’ untuk ‘penciptaan artistik’.

Pameran ini memperlihatkan bahwa seni adalah medan perlawanan terhadap reduksi manusia menjadi data, sekaligus perawatan terhadap rasa yang membuat kita tetap manusia.

Dengan demikian, perkenankan saya mengatakan bahwa Yogya Annual Art #11 dapat dibaca sebagai sebuah ‘manifesto’: seni sebagai ‘arah’ yang meneguhkan ‘martabat manusia’.

Intinya, para perupa diajak mengeksplorasi ‘arah’ sebagai ‘kemenjadian’ (becoming); sebagai jalur-jalur ingatan personal dan sosial, transformasi dan pewarisan; serta bayang masa depan, kendati harus berputar-putar, berkelak-kelok, tanpa kepastian.

Dalam pameran ini, salah satu yang menarik perhatian saya adalah karya Prof. I Wayan Setem yang berjudul Sulur-sulur Kehidupan. Karya ini menghadirkan sebuah ‘lanskap visual’ yang kaya akan ‘energi organik’.

Dua panel akrilik di atas kanvas, dengan dominasi warna kuning, emas, dan oranye, seakan menyalakan ‘aura’ cahaya matahari yang menyelimuti ruang.

‘Motif sulur’ yang berkelindan, ‘berpola floral’, memberi kesan pertumbuhan yang tak henti-hentinya, sebuah ‘metafora’ tentang ‘kehidupan’ yang terus ‘bergerak’, ‘berputar’, dan ‘berulang’.

‘Streak merah’ vertikal pada panel kiri menghadirkan tegangan ‘dramatik’, seperti denyut nadi yang menyalurkan ‘vitalitas’ ke seluruh ‘komposisi’. Menurut saya, ini semacam axis mundi (poros dunia) yang menghubungkan bumi dan langit.

Sementara itu, semburat ‘turquoise’ (hijau-biru) memberi keseimbangan dingin, seolah menjadi napas segar di tengah intensitas warna hangat.

Panel kanan, dengan konsentrasi warna oranye dan lingkaran-lingkaran motif, menegaskan ‘siklus kosmos’: kehidupan yang berputar, lahir, tumbuh, dan kembali.

Tekstur yang kaya, melalui lapisan demi lapisan cat ‘akrilik’, menciptakan kedalaman yang bukan hanya ‘visual’, tetapi juga ‘simbolik’.

Sulur-sulur itu dapat dibaca sebagai ‘representasi’ akar budaya Bali yang terus menjalar, merangkul ‘tradisi’ sekaligus membuka diri pada ‘abstraksi modern’.

Ada semacam dialog antara ‘ornamentasi tradisi’ (motif floral, sulur dekoratif) dengan bahasa ‘abstrak kontemporer’ yang lebih bebas, sehingga karya ini berdiri di persimpangan antara ‘warisan’ dan ‘eksplorasi’.

Secara konseptual, Sulur-sulur Kehidupan dapat ditafsirkan sebagai pernyataan tentang ‘vitalitas budaya’, bahwa kehidupan, seperti sulur, tumbuh dengan arah yang tak selalu terduga, namun tetap berakar pada tanah dan cahaya.

Setem menghadirkan bukan sekadar ‘dekorasi’, melainkan ‘kosmologi visual’ yang menyalakan kesadaran akan ‘siklus hidup’, ‘energi’, dan ‘keberlanjutan’.

Dalam dua panel ini, Setem menegaskan bahwa seni adalah organisme hidup—ia tumbuh, berputar, dan menyalakan energi yang melampaui batas medium.

Manifesto akademis yang terkandung di dalamnya adalah pernyataan tentang ‘intermedialitas’: bagaimana ‘motif tradisi’ (flora, sulur, ornamentasi) ‘bernegosiasi’ dengan ‘abstraksi modern’.

‘Refleksi puitis’nya hadir dalam kesan bahwa setiap sulur adalah doa yang menjalar, setiap warna adalah mantra yang bergetar.

Sulur-sulur Kehidupan bukan sekadar lukisan, melainkan ‘teks kosmologis’ yang menyingkap bahwa kehidupan adalah jaringan tak berujung, sebuah tarian antara ‘tradisi’ dan ‘modernitas’, antara ‘ornamentasi’ dan ‘abstraksi’, antara bumi dan langit.

Saya berpendapat, karya ini berdiri sebagai ‘manifesto’ sekaligus ‘elegi puitis’—ia menegaskan bahwa seni ‘Bali kontemporer’ tidak hanya melestarikan bentuk, tetapi juga menyalakan kembali ‘denyut kosmos’ dalam ‘bahasa visual’ yang berakar dan sekaligus meluas.

Karya Wayan Setem ini mengingatkan saya pada tradisi ‘abstraksi organik’ para perupa seperti Jackson Pollock, Joan Mitchell, Olafur Eliasson, Jaanika Peerna, hingga Jadé Fadojutimi.

Mereka sama-sama menegaskan bahwa ‘abstraksi’ bukan sekadar permainan bentuk, melainkan ‘kosmologi hidup’ yang berakar pada alam.

Jackson Pollock pernah menyatakan, “I don’t paint nature, I am nature.” (Saya tidak melukis alam, saya adalah alam itu sendiri).

Pernyataan ini menemukan gema dalam karya Setem, di mana sulur-sulur bukan sekadar ‘representasi flora’, melainkan tubuh alam itu sendiri yang berdenyut di kanvas.

Joan Mitchell, dengan ‘lanskap emosional’nya, menegaskan bahwa lukisan adalah “landscapes of feelings” (lanskap perasaan).

Panel Setem, dengan aura sakral warna emas dan oranye, menghadirkan ‘lanskap spiritual’ Bali yang menyalakan rasa sekaligus ingatan kolektif.

Sementara itu, Olafur Eliasson menekankan bahwa seni harus “membuat yang tak terlihat menjadi pengalaman langsung”.

Sulur Setem menyingkap energi ‘kosmos Bali’, menjadikan siklus hidup yang biasanya tak kasatmata hadir sebagai ‘pengalaman visual’.

Jadé Fadojutimi menyebut ‘abstraksi’nya sebagai “emotional landscapes” (lanskap emosional) yang menjembatani ‘batin’ dan ‘alam’.

Setem pun menjadikan sulur sebagai jembatan antara ‘ornamentasi tradisi’ dan ‘abstraksi kontemporer’.

Saya sangat tertarik dengan pemikiran Jaanika Peerna melalui Glacier Elegies-nya (Elegi Gletser), yang menegaskan seni sebagai ‘ritual ekologis’.

Setem pun menghadirkan paradigma ‘Tri Hita Karana’, yang menekankan etika ekologis untuk menjaga keseimbangan antara ‘manusia’, ‘alam’, dan ‘spiritualitas’.

Begitulah, karya Setem mengingatkan saya pada Pollock, Mitchell, Eliasson, Fadojutimi, dan Peerna—bukan dalam ‘imitasi’, melainkan dalam ‘gema kosmologis’—bahwa seni adalah bahasa universal tentang kehidupan, energi, dan keberlanjutan.

Setem menegaskan bahwa seni Bali kontemporer adalah ‘kosmologi sulur’: akar tradisi yang menjalar, bernegosiasi dengan modernitas, dan menyalakan kesadaran ekologis. Seperti Pollock yang menyatakan dirinya adalah alam.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia BaliInstitut Seni Indonesia YogyakartaPameran Yogya Annual Art #11
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

Next Post

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 22, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan ---Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin
Khas

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
Kosmologi Sulur Wayan Setem
Ulas Rupa

Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

by Hartanto
July 23, 2026
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma
Esai

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 22, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co