4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Faris Widiyatmoko by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
in Esai
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkata dengan penuh keyakinan, “Kalau kita mau benar-benar keluar dari jebakan middle income trap, pertumbuhan ekonomi kita harus tembus 8 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi harus dipacu terus, tiada jalan lain.” Nada bicaranya mantap, hampir seperti pidato seorang teknokrat yang baru keluar dari forum ekonomi nasional.

Seorang kawan lain yang sejak tadi diam kemudian mengangkat kepala. Dengan nada serius bercampur penasaran ia bertanya, “Karena konon katanya setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen bisa membuka sekitar 1 juta lapangan kerja itu, ya?” “Iya, tentu,” jawabnya cepat. “Lihat saja sekarang. Orang makin sulit cari kerja. Lapangan kerja harus dibuka sebanyak-banyaknya.”

Percakapan itu lalu mengendap beberapa detik. Saya ikut diam, tetapi kepala saya justru penuh pertanyaan. Benarkah dalam situasi hari ini, 1 persen pertumbuhan ekonomi masih sanggup menciptakan 1 juta pekerjaan atau setidaknya ratusan ribu? Atau jangan-jangan angka itu hanya gema dari masa lalu, ketika industri masih padat karya dan pembangunan belum sepenuhnya digerakkan mesin, platform digital, dan otomatisasi?

Saya jadi mengingat-ingat kembali bagaimana kata “pembangunan” dan “pertumbuhan ekonomi” pernah menjadi mantra ampuh untuk menunjukkan kemodernan. Kata itu sendiri tidak salah, namun praktiknya seringkali dimaknai dengan membangun gedung, membangun beton, dan lebih buruk lagi, memompa air tanah tanpa henti untuk menyangga semuanya. Barangkali kita terlalu terobsesi dengan pembangunan hingga melupakan bahwa fondasi dari seluruh kemajuan itu, secara harfiah, sedang amblas ke dalam bumi.

Peringatan Kepada Kita

Penurunan muka tanah (land subsidence) yang melanda Jakarta Utara, Semarang, Demak, dan sejumlah kota pesisir lainnya bukanlah bencana yang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari hutang ekologis yang ditimbun selama berpuluh-puluh tahun oleh model pembangunan yang terobsesi pada pertumbuhan ekonomi semata, tanpa memperhitungkan daya tahan ekologis secara serius. Tragedi ini tidak dramatis seperti banjir bandang, tidak ada tangisan yang menjadi viral dalam semalam.

Jika masih ada yang percaya bahwa angka Produk Domestik Bruto (PDB) adalah cermin tunggal kemajuan, mungkin belum melihat dengan jelas bagaimana bangunan-bangunan di pesisir Jakarta Utara kini berdiri dengan lantai dasar yang sudah berada di bawah permukaan laut, bagaimana tanggul laut darurat dibangun bukan untuk melindungi masa depan, melainkan sekadar menunda kepastian yang pahit. Penyebab struktural tenggelamnya kota-kota pantai ini bukan semata perubahan iklim dan naiknya permukaan laut global, melainkan juga pengambilan air tanah berlebihan, pembebanan massif akibat konstruksi yang tak terkendali, dan hilangnya ruang resapan akibat alih fungsi lahan yang bertahun-tahun diabaikan.

Lorenzo Fioramonti telah mengingatkan kita melalui bukunya Problem Domestik Bruto (2017), sebuah plesetan satir dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, PDB telah menjelma menjadi “mantra” ampuh yang digunakan untuk mengukur kemakmuran sebuah bangsa, hingga menghanyutkan segalanya. Kita bisa melihatnya lewat pembentukan G8 dan G20, yang keanggotaannya ditentukan oleh kekuatan PDB. Akibatnya, debat publik dan keberhasilan pembangunan nyaris selalu direduksi menjadi soal seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi naik.

Di balik dominasinya, PDB menghitung nilai barang dan jasa yang diproduksi, namun tutup mata terhadap besarnya pengambilan air tanah, hilangnya tutupan hijau, atau turunnya permukaan tanah hingga beberapa sentimeter per tahun. Lebih ironis lagi, pengeluaran untuk membangun tanggul darurat, merelokasi warga yang terusir, atau merekonstruksi kawasan yang terendam justru bisa menaikkan PDB.

Negara mungkin mencatatnya sebagai “pertumbuhan” dalam statistik, sementara rakyatnya hidup dalam ketidakpastian ekologis yang semakin nyata. Inilah paradoks yang menyakitkan, pertumbuhan yang diukur dengan PDB seringkali menutup kerusakan yang memicu krisis itu sendiri, bahkan secara aktif mempercepat.

Angka yang Tidak Boleh Kita Abaikan

Beberapa data terbaru memperkuat argumentasi bahwa kita sedang memanen akibat dari pengabaian ekosistem. Penelitian dari berbagai lembaga ilmiah mencatat bahwa sebagian wilayah Jakarta Utara telah mengalami penurunan muka tanah hingga 1–4 meter (bisa lebih di kawasan tertentu) dalam beberapa dekade terakhir. Dengan kecepatan penurunan di titik-titik tertentu mencapai 1–15 sentimeter per tahun, bahkan ada yang sampai 20-25 sentimeter per tahun, salah satu yang tertinggi di dunia untuk sebuah kota besar (Abidin et al., 2015; Ward et al., 2011).

Sementara itu, permukaan laut di kawasan pesisir Jawa Utara juga terus meningkat akibat perubahan iklim global, sehingga ancaman ganda ini tidak lagi sekadar proyeksi, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Di Demak dan Pekalongan, ribuan hektar tambak dan permukiman pesisir telah tenggelam secara permanen. Warga yang kehilangan ruang hidup bermigrasi ke kota-kota yang kapasitasnya pun sudah melampaui batas. Laju deforestasi netto Indonesia menurut rilis resmi Kementerian Kehutanan pada tahun 2024 tercatat sebesar 175,4 ribu hektar, angka yang mengingatkan kita bahwa tekanan terhadap ekosistem tidak berdiri sendiri.

Adapun biaya ekonomi dari kerusakan lingkungan ini sangat besar. Diperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana dan degradasi lingkungan mencapai miliaran dolar per tahun. Itu baru menghitung sebagian biaya langsung, belum lagi termasuk biaya kesehatan jangka panjang, kehilangan layanan ekosistem, nilai tanah yang hilang, dan kerugian non-materi dari komunitas yang terpaksa tercerabut dari akar tempatnya hidup selama generasi.

PDB Hijau: Sebuah Keperluan Darurat

Kita membutuhkan indikator yang memaksa pengambil kebijakan menghitung ongkos ekologis secara nyata, seperti PDB Hijau. Peter Sørensen (2025) menjelaskan secara teoritis dan empiris bagaimana memulai transformasi menuju PDB Hijau, meski tidak mudah namun ini langkah penting yang patut juga kita renungkan bersama. Dengan memasukkan biaya degradasi lingkungan dan kehilangan sumber daya alam, PDB Hijau akan memperlihatkan kebenaran yang selama ini disamarkan oleh PDB konvensional bahwa “pertumbuhan” berbasis eksploitasi tanpa batas seringkali berakhir dengan tagihan yang jauh lebih mahal.

Negara yang serius harus mulai mengadaptasi pengukuran ini dalam perencanaan anggaran dan evaluasi pembangunan. Mulai tenggelamnya kota-kota pesisir kita telah mengungkap lagi apa yang sudah terlalu lama disembunyikan, jaringan kepentingan ekstraktif dari pengembang properti hingga pengguna air tanah industri skala besar telah mendorong eksploitasi yang menghasilkan keuntungan cepat sambil memindahkan ongkosnya ke alam dan masyarakat lokal.

Jika pembangunan hanya dinilai dari realisasi investasi dan angka PDB, maka pemerintah pusat maupun daerah terdorong membuat keputusan yang mengorbankan keselamatan ekologis jangka panjang demi tampilan statistik jangka pendek. Waktu untuk kompromi semacam itu tampaknya telah habis. Ini bukan lagi soal kenyamanan atau kemajuan, melainkan soal apakah akan ada daratan yang tersisa untuk dibangun diterus memuaskan hasrat pembangunan.

Jika elite politik dan teknokrat masih nyaman menilai keberhasilan pemerintahan semata lewat kenaikan angka PDB dan realisasi proyek, maka Jakarta yang mulai tenggelam, Semarang yang tergenang pasang, dan Demak yang hilang di bawah laut harus menjadi cermin yang memalukan. Jika kita tidak segera memasukkan biaya ekologis sebagai bagian integral dari kalkulasi pembangunan, kita sedang menulis neraca negara yang keliru, dan menunggu tagihannya datang dalam bentuk yang jauh lebih permanen dari sekadar banjir musiman.

Pembangunan yang benar tidak menenggelamkan kotanya sendiri. Pembangunan yang benar tidak menukar garis pantai dan air tanah dengan indeks yang menipu. Sudah waktunya Indonesia keluar dari obsesi PDB semata, dan mulai menaksir masa depan dengan alat ukur yang jujur. Pada titik ini, PDB Hijau bisa menjadi salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan dengan serius. Sebab jika kita hanya berdiam dan berpangku tangan, kita bukan sekadar tertinggal, lebih dari itu kita sedang membiarkan negeri ini tenggelam, dalam arti yang sesungguhnya.[T]

Penulis: Faris Widiyatmoko
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buzzer Rakyat

Next Post

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Faris Widiyatmoko

Faris Widiyatmoko

Dosen Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co