25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Faris Widiyatmoko by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
in Esai
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkata dengan penuh keyakinan, “Kalau kita mau benar-benar keluar dari jebakan middle income trap, pertumbuhan ekonomi kita harus tembus 8 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi harus dipacu terus, tiada jalan lain.” Nada bicaranya mantap, hampir seperti pidato seorang teknokrat yang baru keluar dari forum ekonomi nasional.

Seorang kawan lain yang sejak tadi diam kemudian mengangkat kepala. Dengan nada serius bercampur penasaran ia bertanya, “Karena konon katanya setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen bisa membuka sekitar 1 juta lapangan kerja itu, ya?” “Iya, tentu,” jawabnya cepat. “Lihat saja sekarang. Orang makin sulit cari kerja. Lapangan kerja harus dibuka sebanyak-banyaknya.”

Percakapan itu lalu mengendap beberapa detik. Saya ikut diam, tetapi kepala saya justru penuh pertanyaan. Benarkah dalam situasi hari ini, 1 persen pertumbuhan ekonomi masih sanggup menciptakan 1 juta pekerjaan atau setidaknya ratusan ribu? Atau jangan-jangan angka itu hanya gema dari masa lalu, ketika industri masih padat karya dan pembangunan belum sepenuhnya digerakkan mesin, platform digital, dan otomatisasi?

Saya jadi mengingat-ingat kembali bagaimana kata “pembangunan” dan “pertumbuhan ekonomi” pernah menjadi mantra ampuh untuk menunjukkan kemodernan. Kata itu sendiri tidak salah, namun praktiknya seringkali dimaknai dengan membangun gedung, membangun beton, dan lebih buruk lagi, memompa air tanah tanpa henti untuk menyangga semuanya. Barangkali kita terlalu terobsesi dengan pembangunan hingga melupakan bahwa fondasi dari seluruh kemajuan itu, secara harfiah, sedang amblas ke dalam bumi.

Peringatan Kepada Kita

Penurunan muka tanah (land subsidence) yang melanda Jakarta Utara, Semarang, Demak, dan sejumlah kota pesisir lainnya bukanlah bencana yang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari hutang ekologis yang ditimbun selama berpuluh-puluh tahun oleh model pembangunan yang terobsesi pada pertumbuhan ekonomi semata, tanpa memperhitungkan daya tahan ekologis secara serius. Tragedi ini tidak dramatis seperti banjir bandang, tidak ada tangisan yang menjadi viral dalam semalam.

Jika masih ada yang percaya bahwa angka Produk Domestik Bruto (PDB) adalah cermin tunggal kemajuan, mungkin belum melihat dengan jelas bagaimana bangunan-bangunan di pesisir Jakarta Utara kini berdiri dengan lantai dasar yang sudah berada di bawah permukaan laut, bagaimana tanggul laut darurat dibangun bukan untuk melindungi masa depan, melainkan sekadar menunda kepastian yang pahit. Penyebab struktural tenggelamnya kota-kota pantai ini bukan semata perubahan iklim dan naiknya permukaan laut global, melainkan juga pengambilan air tanah berlebihan, pembebanan massif akibat konstruksi yang tak terkendali, dan hilangnya ruang resapan akibat alih fungsi lahan yang bertahun-tahun diabaikan.

Lorenzo Fioramonti telah mengingatkan kita melalui bukunya Problem Domestik Bruto (2017), sebuah plesetan satir dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, PDB telah menjelma menjadi “mantra” ampuh yang digunakan untuk mengukur kemakmuran sebuah bangsa, hingga menghanyutkan segalanya. Kita bisa melihatnya lewat pembentukan G8 dan G20, yang keanggotaannya ditentukan oleh kekuatan PDB. Akibatnya, debat publik dan keberhasilan pembangunan nyaris selalu direduksi menjadi soal seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi naik.

Di balik dominasinya, PDB menghitung nilai barang dan jasa yang diproduksi, namun tutup mata terhadap besarnya pengambilan air tanah, hilangnya tutupan hijau, atau turunnya permukaan tanah hingga beberapa sentimeter per tahun. Lebih ironis lagi, pengeluaran untuk membangun tanggul darurat, merelokasi warga yang terusir, atau merekonstruksi kawasan yang terendam justru bisa menaikkan PDB.

Negara mungkin mencatatnya sebagai “pertumbuhan” dalam statistik, sementara rakyatnya hidup dalam ketidakpastian ekologis yang semakin nyata. Inilah paradoks yang menyakitkan, pertumbuhan yang diukur dengan PDB seringkali menutup kerusakan yang memicu krisis itu sendiri, bahkan secara aktif mempercepat.

Angka yang Tidak Boleh Kita Abaikan

Beberapa data terbaru memperkuat argumentasi bahwa kita sedang memanen akibat dari pengabaian ekosistem. Penelitian dari berbagai lembaga ilmiah mencatat bahwa sebagian wilayah Jakarta Utara telah mengalami penurunan muka tanah hingga 1–4 meter (bisa lebih di kawasan tertentu) dalam beberapa dekade terakhir. Dengan kecepatan penurunan di titik-titik tertentu mencapai 1–15 sentimeter per tahun, bahkan ada yang sampai 20-25 sentimeter per tahun, salah satu yang tertinggi di dunia untuk sebuah kota besar (Abidin et al., 2015; Ward et al., 2011).

Sementara itu, permukaan laut di kawasan pesisir Jawa Utara juga terus meningkat akibat perubahan iklim global, sehingga ancaman ganda ini tidak lagi sekadar proyeksi, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Di Demak dan Pekalongan, ribuan hektar tambak dan permukiman pesisir telah tenggelam secara permanen. Warga yang kehilangan ruang hidup bermigrasi ke kota-kota yang kapasitasnya pun sudah melampaui batas. Laju deforestasi netto Indonesia menurut rilis resmi Kementerian Kehutanan pada tahun 2024 tercatat sebesar 175,4 ribu hektar, angka yang mengingatkan kita bahwa tekanan terhadap ekosistem tidak berdiri sendiri.

Adapun biaya ekonomi dari kerusakan lingkungan ini sangat besar. Diperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana dan degradasi lingkungan mencapai miliaran dolar per tahun. Itu baru menghitung sebagian biaya langsung, belum lagi termasuk biaya kesehatan jangka panjang, kehilangan layanan ekosistem, nilai tanah yang hilang, dan kerugian non-materi dari komunitas yang terpaksa tercerabut dari akar tempatnya hidup selama generasi.

PDB Hijau: Sebuah Keperluan Darurat

Kita membutuhkan indikator yang memaksa pengambil kebijakan menghitung ongkos ekologis secara nyata, seperti PDB Hijau. Peter Sørensen (2025) menjelaskan secara teoritis dan empiris bagaimana memulai transformasi menuju PDB Hijau, meski tidak mudah namun ini langkah penting yang patut juga kita renungkan bersama. Dengan memasukkan biaya degradasi lingkungan dan kehilangan sumber daya alam, PDB Hijau akan memperlihatkan kebenaran yang selama ini disamarkan oleh PDB konvensional bahwa “pertumbuhan” berbasis eksploitasi tanpa batas seringkali berakhir dengan tagihan yang jauh lebih mahal.

Negara yang serius harus mulai mengadaptasi pengukuran ini dalam perencanaan anggaran dan evaluasi pembangunan. Mulai tenggelamnya kota-kota pesisir kita telah mengungkap lagi apa yang sudah terlalu lama disembunyikan, jaringan kepentingan ekstraktif dari pengembang properti hingga pengguna air tanah industri skala besar telah mendorong eksploitasi yang menghasilkan keuntungan cepat sambil memindahkan ongkosnya ke alam dan masyarakat lokal.

Jika pembangunan hanya dinilai dari realisasi investasi dan angka PDB, maka pemerintah pusat maupun daerah terdorong membuat keputusan yang mengorbankan keselamatan ekologis jangka panjang demi tampilan statistik jangka pendek. Waktu untuk kompromi semacam itu tampaknya telah habis. Ini bukan lagi soal kenyamanan atau kemajuan, melainkan soal apakah akan ada daratan yang tersisa untuk dibangun diterus memuaskan hasrat pembangunan.

Jika elite politik dan teknokrat masih nyaman menilai keberhasilan pemerintahan semata lewat kenaikan angka PDB dan realisasi proyek, maka Jakarta yang mulai tenggelam, Semarang yang tergenang pasang, dan Demak yang hilang di bawah laut harus menjadi cermin yang memalukan. Jika kita tidak segera memasukkan biaya ekologis sebagai bagian integral dari kalkulasi pembangunan, kita sedang menulis neraca negara yang keliru, dan menunggu tagihannya datang dalam bentuk yang jauh lebih permanen dari sekadar banjir musiman.

Pembangunan yang benar tidak menenggelamkan kotanya sendiri. Pembangunan yang benar tidak menukar garis pantai dan air tanah dengan indeks yang menipu. Sudah waktunya Indonesia keluar dari obsesi PDB semata, dan mulai menaksir masa depan dengan alat ukur yang jujur. Pada titik ini, PDB Hijau bisa menjadi salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan dengan serius. Sebab jika kita hanya berdiam dan berpangku tangan, kita bukan sekadar tertinggal, lebih dari itu kita sedang membiarkan negeri ini tenggelam, dalam arti yang sesungguhnya.[T]

Penulis: Faris Widiyatmoko
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buzzer Rakyat

Next Post

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Faris Widiyatmoko

Faris Widiyatmoko

Dosen Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co