16 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Faris Widiyatmoko by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
in Esai
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkata dengan penuh keyakinan, “Kalau kita mau benar-benar keluar dari jebakan middle income trap, pertumbuhan ekonomi kita harus tembus 8 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi harus dipacu terus, tiada jalan lain.” Nada bicaranya mantap, hampir seperti pidato seorang teknokrat yang baru keluar dari forum ekonomi nasional.

Seorang kawan lain yang sejak tadi diam kemudian mengangkat kepala. Dengan nada serius bercampur penasaran ia bertanya, “Karena konon katanya setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen bisa membuka sekitar 1 juta lapangan kerja itu, ya?” “Iya, tentu,” jawabnya cepat. “Lihat saja sekarang. Orang makin sulit cari kerja. Lapangan kerja harus dibuka sebanyak-banyaknya.”

Percakapan itu lalu mengendap beberapa detik. Saya ikut diam, tetapi kepala saya justru penuh pertanyaan. Benarkah dalam situasi hari ini, 1 persen pertumbuhan ekonomi masih sanggup menciptakan 1 juta pekerjaan atau setidaknya ratusan ribu? Atau jangan-jangan angka itu hanya gema dari masa lalu, ketika industri masih padat karya dan pembangunan belum sepenuhnya digerakkan mesin, platform digital, dan otomatisasi?

Saya jadi mengingat-ingat kembali bagaimana kata “pembangunan” dan “pertumbuhan ekonomi” pernah menjadi mantra ampuh untuk menunjukkan kemodernan. Kata itu sendiri tidak salah, namun praktiknya seringkali dimaknai dengan membangun gedung, membangun beton, dan lebih buruk lagi, memompa air tanah tanpa henti untuk menyangga semuanya. Barangkali kita terlalu terobsesi dengan pembangunan hingga melupakan bahwa fondasi dari seluruh kemajuan itu, secara harfiah, sedang amblas ke dalam bumi.

Peringatan Kepada Kita

Penurunan muka tanah (land subsidence) yang melanda Jakarta Utara, Semarang, Demak, dan sejumlah kota pesisir lainnya bukanlah bencana yang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari hutang ekologis yang ditimbun selama berpuluh-puluh tahun oleh model pembangunan yang terobsesi pada pertumbuhan ekonomi semata, tanpa memperhitungkan daya tahan ekologis secara serius. Tragedi ini tidak dramatis seperti banjir bandang, tidak ada tangisan yang menjadi viral dalam semalam.

Jika masih ada yang percaya bahwa angka Produk Domestik Bruto (PDB) adalah cermin tunggal kemajuan, mungkin belum melihat dengan jelas bagaimana bangunan-bangunan di pesisir Jakarta Utara kini berdiri dengan lantai dasar yang sudah berada di bawah permukaan laut, bagaimana tanggul laut darurat dibangun bukan untuk melindungi masa depan, melainkan sekadar menunda kepastian yang pahit. Penyebab struktural tenggelamnya kota-kota pantai ini bukan semata perubahan iklim dan naiknya permukaan laut global, melainkan juga pengambilan air tanah berlebihan, pembebanan massif akibat konstruksi yang tak terkendali, dan hilangnya ruang resapan akibat alih fungsi lahan yang bertahun-tahun diabaikan.

Lorenzo Fioramonti telah mengingatkan kita melalui bukunya Problem Domestik Bruto (2017), sebuah plesetan satir dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, PDB telah menjelma menjadi “mantra” ampuh yang digunakan untuk mengukur kemakmuran sebuah bangsa, hingga menghanyutkan segalanya. Kita bisa melihatnya lewat pembentukan G8 dan G20, yang keanggotaannya ditentukan oleh kekuatan PDB. Akibatnya, debat publik dan keberhasilan pembangunan nyaris selalu direduksi menjadi soal seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi naik.

Di balik dominasinya, PDB menghitung nilai barang dan jasa yang diproduksi, namun tutup mata terhadap besarnya pengambilan air tanah, hilangnya tutupan hijau, atau turunnya permukaan tanah hingga beberapa sentimeter per tahun. Lebih ironis lagi, pengeluaran untuk membangun tanggul darurat, merelokasi warga yang terusir, atau merekonstruksi kawasan yang terendam justru bisa menaikkan PDB.

Negara mungkin mencatatnya sebagai “pertumbuhan” dalam statistik, sementara rakyatnya hidup dalam ketidakpastian ekologis yang semakin nyata. Inilah paradoks yang menyakitkan, pertumbuhan yang diukur dengan PDB seringkali menutup kerusakan yang memicu krisis itu sendiri, bahkan secara aktif mempercepat.

Angka yang Tidak Boleh Kita Abaikan

Beberapa data terbaru memperkuat argumentasi bahwa kita sedang memanen akibat dari pengabaian ekosistem. Penelitian dari berbagai lembaga ilmiah mencatat bahwa sebagian wilayah Jakarta Utara telah mengalami penurunan muka tanah hingga 1–4 meter (bisa lebih di kawasan tertentu) dalam beberapa dekade terakhir. Dengan kecepatan penurunan di titik-titik tertentu mencapai 1–15 sentimeter per tahun, bahkan ada yang sampai 20-25 sentimeter per tahun, salah satu yang tertinggi di dunia untuk sebuah kota besar (Abidin et al., 2015; Ward et al., 2011).

Sementara itu, permukaan laut di kawasan pesisir Jawa Utara juga terus meningkat akibat perubahan iklim global, sehingga ancaman ganda ini tidak lagi sekadar proyeksi, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Di Demak dan Pekalongan, ribuan hektar tambak dan permukiman pesisir telah tenggelam secara permanen. Warga yang kehilangan ruang hidup bermigrasi ke kota-kota yang kapasitasnya pun sudah melampaui batas. Laju deforestasi netto Indonesia menurut rilis resmi Kementerian Kehutanan pada tahun 2024 tercatat sebesar 175,4 ribu hektar, angka yang mengingatkan kita bahwa tekanan terhadap ekosistem tidak berdiri sendiri.

Adapun biaya ekonomi dari kerusakan lingkungan ini sangat besar. Diperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana dan degradasi lingkungan mencapai miliaran dolar per tahun. Itu baru menghitung sebagian biaya langsung, belum lagi termasuk biaya kesehatan jangka panjang, kehilangan layanan ekosistem, nilai tanah yang hilang, dan kerugian non-materi dari komunitas yang terpaksa tercerabut dari akar tempatnya hidup selama generasi.

PDB Hijau: Sebuah Keperluan Darurat

Kita membutuhkan indikator yang memaksa pengambil kebijakan menghitung ongkos ekologis secara nyata, seperti PDB Hijau. Peter Sørensen (2025) menjelaskan secara teoritis dan empiris bagaimana memulai transformasi menuju PDB Hijau, meski tidak mudah namun ini langkah penting yang patut juga kita renungkan bersama. Dengan memasukkan biaya degradasi lingkungan dan kehilangan sumber daya alam, PDB Hijau akan memperlihatkan kebenaran yang selama ini disamarkan oleh PDB konvensional bahwa “pertumbuhan” berbasis eksploitasi tanpa batas seringkali berakhir dengan tagihan yang jauh lebih mahal.

Negara yang serius harus mulai mengadaptasi pengukuran ini dalam perencanaan anggaran dan evaluasi pembangunan. Mulai tenggelamnya kota-kota pesisir kita telah mengungkap lagi apa yang sudah terlalu lama disembunyikan, jaringan kepentingan ekstraktif dari pengembang properti hingga pengguna air tanah industri skala besar telah mendorong eksploitasi yang menghasilkan keuntungan cepat sambil memindahkan ongkosnya ke alam dan masyarakat lokal.

Jika pembangunan hanya dinilai dari realisasi investasi dan angka PDB, maka pemerintah pusat maupun daerah terdorong membuat keputusan yang mengorbankan keselamatan ekologis jangka panjang demi tampilan statistik jangka pendek. Waktu untuk kompromi semacam itu tampaknya telah habis. Ini bukan lagi soal kenyamanan atau kemajuan, melainkan soal apakah akan ada daratan yang tersisa untuk dibangun diterus memuaskan hasrat pembangunan.

Jika elite politik dan teknokrat masih nyaman menilai keberhasilan pemerintahan semata lewat kenaikan angka PDB dan realisasi proyek, maka Jakarta yang mulai tenggelam, Semarang yang tergenang pasang, dan Demak yang hilang di bawah laut harus menjadi cermin yang memalukan. Jika kita tidak segera memasukkan biaya ekologis sebagai bagian integral dari kalkulasi pembangunan, kita sedang menulis neraca negara yang keliru, dan menunggu tagihannya datang dalam bentuk yang jauh lebih permanen dari sekadar banjir musiman.

Pembangunan yang benar tidak menenggelamkan kotanya sendiri. Pembangunan yang benar tidak menukar garis pantai dan air tanah dengan indeks yang menipu. Sudah waktunya Indonesia keluar dari obsesi PDB semata, dan mulai menaksir masa depan dengan alat ukur yang jujur. Pada titik ini, PDB Hijau bisa menjadi salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan dengan serius. Sebab jika kita hanya berdiam dan berpangku tangan, kita bukan sekadar tertinggal, lebih dari itu kita sedang membiarkan negeri ini tenggelam, dalam arti yang sesungguhnya.[T]

Penulis: Faris Widiyatmoko
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buzzer Rakyat

Next Post

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Faris Widiyatmoko

Faris Widiyatmoko

Dosen Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Related Posts

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails
Next Post
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co