23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar dalam sebuah perkara dugaan korupsi. Sebelum hasil pemeriksaan selesai diumumkan, media sosial telah lebih dahulu dipenuhi berbagai dugaan, tafsir, bahkan skenario mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ada dua kubu, yang satu menunggu penjelasan resmi. Yang lain lebih dulu menyusun kesimpulannya sendiri. Terlepas dari bagaimana hasil akhirnya nanti, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada perkara itu sendiri, mengapa masyarakat kini lebih cepat mempercayai dugaan daripada menunggu pembuktian?

Ada satu hal yang menarik setiap kali sebuah kasus besar mencuat ke ruang publik. Bukan semata-mata karena nilai kerugiannya yang fantastis, bukan pula karena tokoh-tokoh yang terseret di dalamnya. Bagi saya, yang lebih menarik justru reaksi masyarakat.  Sebelum laboratorium selesai bekerja, sebelum hakim membuka sidang, sebelum penyidik menyampaikan hasil pemeriksaan, media sosial sudah lebih dulu menjatuhkan putusan.

Masyarakat kini mulai begeser dari mempertanyakan fakta ke mempertanyakan narasi alias skenario. Maka ketika ditemukan barang bukti emas berpuluh kilo dan uang ratusan milyar, benak publik mulai dipenuhi berbagai rancangan narasi dan skenario yang mereka anggap mungkin.  Meski ini terdengar wajar, tetapi sesungguhnya menunjukkan pergeseran yang sangat mendasar dalam kehidupan demokrasi. 

Kita memasuki zaman ketika persoalan terbesar bukan lagi kurangnya informasi, melainkan berkurangnya kepercayaan. Kalau kita bertanya pada banyak rumah tangga yang ribut karena krisis kepercayaan pada pasangan, alias trust issue, mereka akan lantang bilang bahwa kepercayaan adalah modal yang tidak dapat dicetak ulang seperti uang. Kepercayaan bukan tidak bisa diproduksi melalui konferensi pers atau lahir dari slogan. Kepercayaan tumbuh dari pengalaman panjang, dan kalau sudah hilang, sangat amat sulit untuk dikembalikan.

Masyarakat Penduga

Sebagai sebuah negara, modal utama adalah kepercayaan bahwa institusi negara akan bekerja secara konsisten, transparan, dan adil.  Ketika modal itu menipis, setiap penjelasan resmi akan selalu disambut dengan tanda tanya. Bahkan sebelum hasil penyelidikan diumumkan, sebagian masyarakat sudah lebih dahulu mengambil kesimpulan. Apa pun hasil akhirnya, selalu ada yang berkata, “Sudah diduga.” Fenomena ini sering dianggap sekadar akibat media sosial. Padahal akar persoalannya jauh lebih dalam.

Media sosial hanya mempercepat penyebaran virus ketidakpercayaan yang sudah lebih dulu menginfeksi. Di sinilah kita perlu membedakan dua hal yang sering tercampur. Pertama, publik sesunguhnya tidak benar-benar kehilangan keyakinan bahwa kebenaran itu ada. Yang kedua, yang mulai hilang adalah keyakinan bahwa, kebenaran dapat ditemukan dan ditegakkan secara adil melalui institusi.

Perbedaan ini sangat penting.  Orang yang masih percaya pada institusi akan menunggu hasil pembuktiannya, sementara orang yang kehilangan kepercayaan , apa pun hasilnya, tidak akan mau percaya. Pada fenomena yang kedua itu bukan lagi kritik. itu adalah gejala sinisme, bahkan mungkin masuk ke apatisme. Sinisme dan apatisme jauh lebih berbahaya daripada kritik.  Kritik masih membuka ruang dialog. Sinisme dan apatisme, menutup semua kemungkinan. 

Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa masyarakat tidak selalu hancur karena percaya pada kebohongan. Masyarakat justru menjadi lemah ketika tidak lagi mampu membedakan mana yang layak dipercaya. Pada titik itu, fakta kehilangan daya ikatnya, sementara dugaan dan mengira-ngira justru menempati posisi yang hampir setara dengan bukti. Maka azas praduga tak bersalah bisa sama sahihnya denga dugaan jelas bersalah.

Di era digital, keadaan ini semakin diperparah oleh algoritma media sosial. Narasi tidak lagi menang karena paling benar, melainkan karena paling cepat, paling emosional, atau paling sesuai dengan keyakinan kelompoknya. Yang diperebutkan bukan lagi pembuktian, melainkan perhatian. Ironisnya, ketika kepercayaan publik melemah, negara menghadapi dilema yang tidak mudah.

Di satu sisi, negara tetap harus menjalankan hukum, menjaga ketertiban, dan memastikan setiap proses berjalan sesuai prosedur. Namun di sisi lain, setiap langkah negara akan dibaca dengan kacamata kecurigaan. Pernyataan resmi dianggap sebagai narasi, klarifikasi akan dipersepsikan sebagai pembelaan, bahkan proses hukum yang sah pun dapat dipandang sebagai bagian dari permainan politik.

Pengadilan Alternatif

Inilah yang oleh banyak ilmuwan politik disebut sebagai krisis legitimasi. Di sini legitimasi berbeda dengan kekuasaan. Kekuasaan membuat negara mampu memerintah sementara legitimasi membuat rakyat bersedia dipimpin.  Jadi, negara mungkin tetap memiliki aparat, anggaran, dan kewenangan hukum. Namun tanpa legitimasi, setiap kebijakan aka pasti memerlukan energi yang jauh lebih besar untuk memperoleh kepatuhan.

Ketika kepatuhan sukarela berkurang, negara cenderung semakin bergantung pada aturan, pengawasan, dan penegakan hukum. Dalam praktiknya, ruang bagi tindakan koersif menjadi lebih besar karena negara harus memastikan sistem tetap berjalan. Bukan semata-mata karena ingin bersikap keras, melainkan karena modal kepercayaan yang seharusnya menjadi perekat mulai terkikis habis.

Sebaliknya, rakyat pun merasa semakin kecil posisi tawarnya. Mereka melihat institusi sebagai sesuatu yang tak terjangkau, sulit dikoreksi, dan sulit meyakinkan publik bahwa proses hukum berjalan demi menemukan kebenaran. Akibatnya, media sosial berubah menjadi ruang pengadilan alternatif. Di sanalah opini dibentuk, saksi dihadirkan, vonis dijatuhkan, bahkan sebelum proses hukum yang sebenarnya selesai. 

Demokrasi sebenarnya tidak runtuh ketika rakyat mengkritik negara, karena demokrasi justru hidup karena ada ruang untuk kritik. Yang berbahaya bagi negara adalah ketika kritik berubah menjadi keyakinan bahwa tidak ada lagi institusi yang layak dipercaya.

Sejatinya, demokrasi tidak hanya berdiri di atas konstitusi. Demokrasi juga berdiri di atas suatu kepercayaan bahwa ketika terjadi masalah, ada institusi yang mampu memisahkan fakta dari dugaan, bukti dari prasangka, serta keadilan dari kepentingan.  Jika kepercayaan itu runtuh, maka setiap perkara akan berubah menjadi perang narasi, seperti saat ini. Kita bisa rasakan, setiap putusan akan dipandang masyarakat sebagai keberpihakan. Setiap klarifikasi akan dicurigai sebagai rekayasa. Dan pada akhirnya, yang kalah bukan pemerintah atau oposisi, tapi adalah masyarakat itu sendiri.

Sepertinya negara kita mulai rapuh bukan saja karena banyak orang melanggar hukum. Namun secara fundamental, kita mulai rapuh ketika semakin banyak warganya tidak lagi percaya bahwa hukum mampu membedakan yang benar dari yang salah. Ini sangat gawat, dan mungkin inilah pekerjaan rumah terbesar demokrasi kita hari ini. Bukan sekadar memperbaiki citra institusi, melainkan memulihkan kembali jembatan kepercayaan antara negara dan rakyat. Sebab tanpa jembatan itu, setiap fakta akan terus nyemplung, tenggelam di tengah riuhnya pertarungan narasi.

Pada akhirnya, perkara terbesar yang sedang dihadapi bangsa ini mungkin bukan soal berapa kilogram emas yang disita, berapa miliar rupiah yang ditemukan, atau siapa yang kelak dinyatakan bersalah. Semua itu penting, tetapi masih berada di permukaan.  Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah, masihkah rakyat percaya bahwa kebenaran dapat ditemukan melalui institusi yang dibangun negara?

Negara Kehilangan Hak Moral Untuk Dipercaya

Sebenarnya bisa saja kita sensus pertanyaan tersebut. Jika jawabannya ya, maka demokrasi masih memiliki harapan. Putusan pengadilan, meskipun tidak selalu memuaskan semua pihak, tetap memiliki kewibawaan untuk mengakhiri sengketa.  Tetapi jika jawabannya adalah tidak, maka kita sedang memasuki wilayah yang jauh lebih berbahaya, karena negara kehilangan sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan anggaran sebesar apa pun yaitu kepercayaan. Negara kita bisa pelan-pelan runtuh ketika setiap penjelasan resmi dianggap sebagai sandiwara, setiap klarifikasi dipersepsikan sebagai rekayasa, dan setiap putusan dipandang sebagai keberpihakan.

Membangun gedung pengadilan hanya membutuhkan anggaran. Sama juga dengan menambah jumlah aparat atau menyusun undang-undang baru yang hanya membutuhkan pembahasan politik. Mungkin kita tengah memasuki krisis peradaban.

Jika kita melihat di suatu negara, kucing berubah menjadi sekecil tikus dan tikusnya menjadi sebesar anjing, masih percayakah kita kalau beberapa manusia di situ bukan sekedar kera?Semoga negara itu belum kehilangan hak untuk dipercaya. Tabik.[T]

Tags: negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Next Post

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co