3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar dalam sebuah perkara dugaan korupsi. Sebelum hasil pemeriksaan selesai diumumkan, media sosial telah lebih dahulu dipenuhi berbagai dugaan, tafsir, bahkan skenario mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ada dua kubu, yang satu menunggu penjelasan resmi. Yang lain lebih dulu menyusun kesimpulannya sendiri. Terlepas dari bagaimana hasil akhirnya nanti, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada perkara itu sendiri, mengapa masyarakat kini lebih cepat mempercayai dugaan daripada menunggu pembuktian?

Ada satu hal yang menarik setiap kali sebuah kasus besar mencuat ke ruang publik. Bukan semata-mata karena nilai kerugiannya yang fantastis, bukan pula karena tokoh-tokoh yang terseret di dalamnya. Bagi saya, yang lebih menarik justru reaksi masyarakat.  Sebelum laboratorium selesai bekerja, sebelum hakim membuka sidang, sebelum penyidik menyampaikan hasil pemeriksaan, media sosial sudah lebih dulu menjatuhkan putusan.

Masyarakat kini mulai begeser dari mempertanyakan fakta ke mempertanyakan narasi alias skenario. Maka ketika ditemukan barang bukti emas berpuluh kilo dan uang ratusan milyar, benak publik mulai dipenuhi berbagai rancangan narasi dan skenario yang mereka anggap mungkin.  Meski ini terdengar wajar, tetapi sesungguhnya menunjukkan pergeseran yang sangat mendasar dalam kehidupan demokrasi. 

Kita memasuki zaman ketika persoalan terbesar bukan lagi kurangnya informasi, melainkan berkurangnya kepercayaan. Kalau kita bertanya pada banyak rumah tangga yang ribut karena krisis kepercayaan pada pasangan, alias trust issue, mereka akan lantang bilang bahwa kepercayaan adalah modal yang tidak dapat dicetak ulang seperti uang. Kepercayaan bukan tidak bisa diproduksi melalui konferensi pers atau lahir dari slogan. Kepercayaan tumbuh dari pengalaman panjang, dan kalau sudah hilang, sangat amat sulit untuk dikembalikan.

Masyarakat Penduga

Sebagai sebuah negara, modal utama adalah kepercayaan bahwa institusi negara akan bekerja secara konsisten, transparan, dan adil.  Ketika modal itu menipis, setiap penjelasan resmi akan selalu disambut dengan tanda tanya. Bahkan sebelum hasil penyelidikan diumumkan, sebagian masyarakat sudah lebih dahulu mengambil kesimpulan. Apa pun hasil akhirnya, selalu ada yang berkata, “Sudah diduga.” Fenomena ini sering dianggap sekadar akibat media sosial. Padahal akar persoalannya jauh lebih dalam.

Media sosial hanya mempercepat penyebaran virus ketidakpercayaan yang sudah lebih dulu menginfeksi. Di sinilah kita perlu membedakan dua hal yang sering tercampur. Pertama, publik sesunguhnya tidak benar-benar kehilangan keyakinan bahwa kebenaran itu ada. Yang kedua, yang mulai hilang adalah keyakinan bahwa, kebenaran dapat ditemukan dan ditegakkan secara adil melalui institusi.

Perbedaan ini sangat penting.  Orang yang masih percaya pada institusi akan menunggu hasil pembuktiannya, sementara orang yang kehilangan kepercayaan , apa pun hasilnya, tidak akan mau percaya. Pada fenomena yang kedua itu bukan lagi kritik. itu adalah gejala sinisme, bahkan mungkin masuk ke apatisme. Sinisme dan apatisme jauh lebih berbahaya daripada kritik.  Kritik masih membuka ruang dialog. Sinisme dan apatisme, menutup semua kemungkinan. 

Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa masyarakat tidak selalu hancur karena percaya pada kebohongan. Masyarakat justru menjadi lemah ketika tidak lagi mampu membedakan mana yang layak dipercaya. Pada titik itu, fakta kehilangan daya ikatnya, sementara dugaan dan mengira-ngira justru menempati posisi yang hampir setara dengan bukti. Maka azas praduga tak bersalah bisa sama sahihnya denga dugaan jelas bersalah.

Di era digital, keadaan ini semakin diperparah oleh algoritma media sosial. Narasi tidak lagi menang karena paling benar, melainkan karena paling cepat, paling emosional, atau paling sesuai dengan keyakinan kelompoknya. Yang diperebutkan bukan lagi pembuktian, melainkan perhatian. Ironisnya, ketika kepercayaan publik melemah, negara menghadapi dilema yang tidak mudah.

Di satu sisi, negara tetap harus menjalankan hukum, menjaga ketertiban, dan memastikan setiap proses berjalan sesuai prosedur. Namun di sisi lain, setiap langkah negara akan dibaca dengan kacamata kecurigaan. Pernyataan resmi dianggap sebagai narasi, klarifikasi akan dipersepsikan sebagai pembelaan, bahkan proses hukum yang sah pun dapat dipandang sebagai bagian dari permainan politik.

Pengadilan Alternatif

Inilah yang oleh banyak ilmuwan politik disebut sebagai krisis legitimasi. Di sini legitimasi berbeda dengan kekuasaan. Kekuasaan membuat negara mampu memerintah sementara legitimasi membuat rakyat bersedia dipimpin.  Jadi, negara mungkin tetap memiliki aparat, anggaran, dan kewenangan hukum. Namun tanpa legitimasi, setiap kebijakan aka pasti memerlukan energi yang jauh lebih besar untuk memperoleh kepatuhan.

Ketika kepatuhan sukarela berkurang, negara cenderung semakin bergantung pada aturan, pengawasan, dan penegakan hukum. Dalam praktiknya, ruang bagi tindakan koersif menjadi lebih besar karena negara harus memastikan sistem tetap berjalan. Bukan semata-mata karena ingin bersikap keras, melainkan karena modal kepercayaan yang seharusnya menjadi perekat mulai terkikis habis.

Sebaliknya, rakyat pun merasa semakin kecil posisi tawarnya. Mereka melihat institusi sebagai sesuatu yang tak terjangkau, sulit dikoreksi, dan sulit meyakinkan publik bahwa proses hukum berjalan demi menemukan kebenaran. Akibatnya, media sosial berubah menjadi ruang pengadilan alternatif. Di sanalah opini dibentuk, saksi dihadirkan, vonis dijatuhkan, bahkan sebelum proses hukum yang sebenarnya selesai. 

Demokrasi sebenarnya tidak runtuh ketika rakyat mengkritik negara, karena demokrasi justru hidup karena ada ruang untuk kritik. Yang berbahaya bagi negara adalah ketika kritik berubah menjadi keyakinan bahwa tidak ada lagi institusi yang layak dipercaya.

Sejatinya, demokrasi tidak hanya berdiri di atas konstitusi. Demokrasi juga berdiri di atas suatu kepercayaan bahwa ketika terjadi masalah, ada institusi yang mampu memisahkan fakta dari dugaan, bukti dari prasangka, serta keadilan dari kepentingan.  Jika kepercayaan itu runtuh, maka setiap perkara akan berubah menjadi perang narasi, seperti saat ini. Kita bisa rasakan, setiap putusan akan dipandang masyarakat sebagai keberpihakan. Setiap klarifikasi akan dicurigai sebagai rekayasa. Dan pada akhirnya, yang kalah bukan pemerintah atau oposisi, tapi adalah masyarakat itu sendiri.

Sepertinya negara kita mulai rapuh bukan saja karena banyak orang melanggar hukum. Namun secara fundamental, kita mulai rapuh ketika semakin banyak warganya tidak lagi percaya bahwa hukum mampu membedakan yang benar dari yang salah. Ini sangat gawat, dan mungkin inilah pekerjaan rumah terbesar demokrasi kita hari ini. Bukan sekadar memperbaiki citra institusi, melainkan memulihkan kembali jembatan kepercayaan antara negara dan rakyat. Sebab tanpa jembatan itu, setiap fakta akan terus nyemplung, tenggelam di tengah riuhnya pertarungan narasi.

Pada akhirnya, perkara terbesar yang sedang dihadapi bangsa ini mungkin bukan soal berapa kilogram emas yang disita, berapa miliar rupiah yang ditemukan, atau siapa yang kelak dinyatakan bersalah. Semua itu penting, tetapi masih berada di permukaan.  Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah, masihkah rakyat percaya bahwa kebenaran dapat ditemukan melalui institusi yang dibangun negara?

Negara Kehilangan Hak Moral Untuk Dipercaya

Sebenarnya bisa saja kita sensus pertanyaan tersebut. Jika jawabannya ya, maka demokrasi masih memiliki harapan. Putusan pengadilan, meskipun tidak selalu memuaskan semua pihak, tetap memiliki kewibawaan untuk mengakhiri sengketa.  Tetapi jika jawabannya adalah tidak, maka kita sedang memasuki wilayah yang jauh lebih berbahaya, karena negara kehilangan sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan anggaran sebesar apa pun yaitu kepercayaan. Negara kita bisa pelan-pelan runtuh ketika setiap penjelasan resmi dianggap sebagai sandiwara, setiap klarifikasi dipersepsikan sebagai rekayasa, dan setiap putusan dipandang sebagai keberpihakan.

Membangun gedung pengadilan hanya membutuhkan anggaran. Sama juga dengan menambah jumlah aparat atau menyusun undang-undang baru yang hanya membutuhkan pembahasan politik. Mungkin kita tengah memasuki krisis peradaban.

Jika kita melihat di suatu negara, kucing berubah menjadi sekecil tikus dan tikusnya menjadi sebesar anjing, masih percayakah kita kalau beberapa manusia di situ bukan sekedar kera?Semoga negara itu belum kehilangan hak untuk dipercaya. Tabik.[T]

Tags: negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Next Post

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co