13 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Surfian Rahmat AP by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
in Esai
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat daripada memastikan pelayanan publik di ruang publik berjalan secara efektif. Dalam situasi seperti ini, prioritas kebijakan bergeser dari penyelesaian persoalan yang secara langsung memengaruhi kesejahteraan warga menuju pengaturan identitas dan pilihan personal masyarakat. Akibatnya, fungsi utama pemerintah sebagai penyedia layanan publik menjadi terpinggirkan oleh agenda yang lebih bersifat simbolik daripada substantif.

Fenomena tersebut kini terlihat di Makassar. Kota tempat saya lahir dan dibesarkan, Di tengah ambisi menjadikan kota ini sebagai metropolitan yang inklusif, maju, dan berdaya saing, pemerintah daerah bersama DPRD justru mengarahkan prioritas politiknya pada penyusunan Peraturan Daerah (Perda) anti-LGBT. Waktu, perhatian, dan sumber daya kelembagaan yang semestinya difokuskan untuk mengatasi berbagai persoalan publik yang lebih mendesak justru dialihkan pada regulasi yang mengatur ranah privat warga.

Ironisnya, di saat masyarakat masih dihadapkan pada tantangan pelayanan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai persoalan tata kelola perkotaan, isu moralitas kembali ditempatkan sebagai agenda utama dalam politik lokal.

Langkah legislasi tersebut bukan sekadar menunjukkan kecenderungan negara yang terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi warganya (state overreach), tetapi juga mencerminkan pergeseran fungsi dasar pemerintahan. Sejak Aristoteles membedakan antara Oikos (ruang privat) dan Polis (ruang publik), terdapat pemahaman bahwa negara memperoleh legitimasi untuk mengelola urusan yang menyangkut kepentingan bersama, sementara kehidupan privat warga tidak seharusnya menjadi objek intervensi politik, kecuali ketika berdampak langsung pada kepentingan publik.

Dengan kata lain, mandat utama negara bukanlah mengawasi identitas atau orientasi seksual warga, melainkan menjamin keamanan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Karena itu, ketika pemerintah daerah dan DPRD menggunakan instrumen legislasi untuk mengatur aspek-aspek kehidupan yang berada dalam ranah privat, persoalannya bukan semata-mata soal substansi Perda anti-LGBT, melainkan tentang bagaimana negara menetapkan prioritas kebijakannya. Alih-alih mengerahkan kapasitas kelembagaan untuk menjawab persoalan pelayanan publik, kemiskinan, ketimpangan, atau kualitas tata kelola perkotaan, perhatian politik justru diarahkan pada isu yang lebih bersifat simbolik. Kondisi ini memperlihatkan adanya misplaced priorities ketika agenda moral ditempatkan di atas kebutuhan publik yang lebih mendesak.

Dalam tata kelola pemerintahan yang demokratis, kebijakan publik semestinya disusun berdasarkan persoalan yang nyata, kebutuhan masyarakat, dan bukti empiris (evidence-based policy). Regulasi hadir untuk menyelesaikan masalah publik yang terukur, bukan sebagai respons terhadap kepanikan moral (moral panic) yang dibangun melalui sentimen populis.

Ketika moralitas dijadikan landasan utama dalam pembentukan kebijakan tanpa didukung oleh kebutuhan publik yang jelas, negara berisiko menggeser orientasi pemerintahannya dari penyedia layanan publik menjadi pengatur kehidupan privat warga. Pada titik inilah kualitas demokrasi dipertaruhkan, sebab negara mulai kehilangan fokus terhadap fungsi utamanya sebagai pelindung kepentingan bersama.

Persoalan ini juga dapat dilihat dari prinsip paling mendasar dalam kebijakan publik, yakni bagaimana pemerintah mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya. Setiap penyusunan peraturan daerah membutuhkan biaya, waktu, dan kapasitas kelembagaan yang tidak sedikit. Mulai dari penyusunan naskah akademik, konsultasi publik, pembahasan di DPRD, hingga proses pengesahan, seluruhnya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dalam perspektif opportunity cost, setiap sumber daya yang digunakan untuk satu agenda berarti mengurangi kesempatan untuk menyelesaikan agenda lainnya. Karena itu, ketika pemerintah dan DPRD memilih menghabiskan energi institusional untuk mengatur orientasi seksual sekelompok warga, sesungguhnya ada kebutuhan publik yang lebih mendesak yang sedang ditunda penyelesaiannya.

Padahal, Makassar masih menghadapi berbagai persoalan struktural yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Banjir masih menjadi ancaman rutin ketika musim hujan tiba, sementara krisis air bersih terus dirasakan oleh sebagian warga, terutama di kawasan pesisir dan utara kota.

Di saat yang sama, kemiskinan perkotaan, ketimpangan ekonomi, persoalan tata ruang, hingga kualitas pelayanan publik masih membutuhkan perhatian yang serius. Dalam konteks seperti ini, menempatkan regulasi yang mengatur moralitas sebagai prioritas justru menunjukkan kegagalan pemerintah membaca kebutuhan masyarakat.

Ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan tidak ditentukan oleh seberapa jauh negara mengawasi kehidupan privat warganya, melainkan oleh kemampuannya menyediakan pelayanan publik yang berkualitas, membangun infrastruktur yang layak, mengurangi kemiskinan, dan menghadirkan keadilan sosial.

                                                                        ***

Selain persoalan prioritas, pembentukan kebijakan publik juga harus didasarkan pada bukti empiris (evidence-based policy). Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah terdapat data yang menunjukkan bahwa keberadaan kelompok minoritas gender menjadi penyebab utama persoalan pembangunan di Makassar? Apakah banjir, kemiskinan, rendahnya kualitas layanan publik, atau persoalan tata ruang berkaitan dengan orientasi seksual warga?

 Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka sulit untuk menempatkan isu tersebut sebagai prioritas legislasi. Kebijakan yang tidak bertumpu pada bukti berisiko berubah menjadi instrumen politik simbolik, bukan solusi atas persoalan publik.

Dalam kajian politik, kondisi semacam ini sering kali dipahami sebagai praktik moral panic, ketika kelompok minoritas dijadikan sasaran untuk membangun solidaritas mayoritas. Alih-alih menyelesaikan persoalan tata kelola yang kompleks, elite politik lebih memilih isu yang mudah membangkitkan emosi publik karena dinilai lebih menguntungkan secara elektoral. Strategi seperti ini memang dapat menghasilkan dukungan politik dalam jangka pendek, tetapi pada saat yang sama mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan kesejahteraan yang jauh lebih mendesak dan membutuhkan kapasitas pemerintahan yang sesungguhnya.

Ironisnya, argumentasi bahwa Perda anti-LGBT diperlukan demi menjaga nilai budaya Sulawesi Selatan justru bertentangan dengan sejarah masyarakat Bugis-Makassar sendiri. Jauh sebelum konsep modern mengenai identitas gender berkembang, masyarakat Bugis telah mengenal sistem lima gender, yaitu makkunrai (perempuan), oroané (laki-laki), calalai, calabai, dan bissu.

Keberadaan mereka bukan sekadar diakui, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan kultural yang penting dalam kehidupan masyarakat. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah konsep yang asing dalam kebudayaan lokal. Karena itu, menjadikan budaya sebagai dasar untuk melegitimasi kebijakan yang diskriminatif justru mengabaikan warisan sejarah yang selama berabad-abad memperlihatkan kemampuan masyarakat Sulawesi Selatan hidup berdampingan dengan berbagai bentuk identitas sosial.

Apabila regulasi semacam ini tetap dipaksakan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok yang menjadi sasaran kebijakan, tetapi juga oleh citra Makassar sebagai kota metropolitan yang ingin berkembang menjadi kota berkelas dunia. Kota yang terbuka, kompetitif, dan menarik bagi investasi membutuhkan kepastian hukum, perlindungan hak warga, serta ruang sosial yang inklusif.

Sebaliknya, kebijakan yang berwatak diskriminatif berpotensi memperkuat stigma intoleransi, memperlebar eksklusi sosial, dan bahkan membuka ruang bagi tindakan diskriminasi maupun kekerasan horizontal di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, membangun Makassar yang maju tidak dapat dilakukan dengan memperluas intervensi negara ke dalam ruang privat warga. Pemerintah daerah dan DPRD perlu mengembalikan fokus kebijakannya pada persoalan-persoalan yang benar-benar menentukan kualitas hidup masyarakat. APBD, kapasitas birokrasi, dan agenda legislasi seharusnya diarahkan untuk memperbaiki pelayanan publik, mengatasi banjir, menjamin akses air bersih, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat daya saing kota.

Sebab, ukuran keberhasilan negara bukan terletak pada kemampuannya mengatur kehidupan pribadi warganya, melainkan pada kemampuannya memastikan setiap warga memperoleh hak-hak dasar sebagai bagian dari pelayanan publik yang adil dan bermartabat.[T]

Tags: LGBTperdaSeksualitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

Next Post

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Surfian Rahmat AP

Surfian Rahmat AP

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co