14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Surfian Rahmat AP by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
in Esai
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat daripada memastikan pelayanan publik di ruang publik berjalan secara efektif. Dalam situasi seperti ini, prioritas kebijakan bergeser dari penyelesaian persoalan yang secara langsung memengaruhi kesejahteraan warga menuju pengaturan identitas dan pilihan personal masyarakat. Akibatnya, fungsi utama pemerintah sebagai penyedia layanan publik menjadi terpinggirkan oleh agenda yang lebih bersifat simbolik daripada substantif.

Fenomena tersebut kini terlihat di Makassar. Kota tempat saya lahir dan dibesarkan, Di tengah ambisi menjadikan kota ini sebagai metropolitan yang inklusif, maju, dan berdaya saing, pemerintah daerah bersama DPRD justru mengarahkan prioritas politiknya pada penyusunan Peraturan Daerah (Perda) anti-LGBT. Waktu, perhatian, dan sumber daya kelembagaan yang semestinya difokuskan untuk mengatasi berbagai persoalan publik yang lebih mendesak justru dialihkan pada regulasi yang mengatur ranah privat warga.

Ironisnya, di saat masyarakat masih dihadapkan pada tantangan pelayanan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai persoalan tata kelola perkotaan, isu moralitas kembali ditempatkan sebagai agenda utama dalam politik lokal.

Langkah legislasi tersebut bukan sekadar menunjukkan kecenderungan negara yang terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi warganya (state overreach), tetapi juga mencerminkan pergeseran fungsi dasar pemerintahan. Sejak Aristoteles membedakan antara Oikos (ruang privat) dan Polis (ruang publik), terdapat pemahaman bahwa negara memperoleh legitimasi untuk mengelola urusan yang menyangkut kepentingan bersama, sementara kehidupan privat warga tidak seharusnya menjadi objek intervensi politik, kecuali ketika berdampak langsung pada kepentingan publik.

Dengan kata lain, mandat utama negara bukanlah mengawasi identitas atau orientasi seksual warga, melainkan menjamin keamanan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Karena itu, ketika pemerintah daerah dan DPRD menggunakan instrumen legislasi untuk mengatur aspek-aspek kehidupan yang berada dalam ranah privat, persoalannya bukan semata-mata soal substansi Perda anti-LGBT, melainkan tentang bagaimana negara menetapkan prioritas kebijakannya. Alih-alih mengerahkan kapasitas kelembagaan untuk menjawab persoalan pelayanan publik, kemiskinan, ketimpangan, atau kualitas tata kelola perkotaan, perhatian politik justru diarahkan pada isu yang lebih bersifat simbolik. Kondisi ini memperlihatkan adanya misplaced priorities ketika agenda moral ditempatkan di atas kebutuhan publik yang lebih mendesak.

Dalam tata kelola pemerintahan yang demokratis, kebijakan publik semestinya disusun berdasarkan persoalan yang nyata, kebutuhan masyarakat, dan bukti empiris (evidence-based policy). Regulasi hadir untuk menyelesaikan masalah publik yang terukur, bukan sebagai respons terhadap kepanikan moral (moral panic) yang dibangun melalui sentimen populis.

Ketika moralitas dijadikan landasan utama dalam pembentukan kebijakan tanpa didukung oleh kebutuhan publik yang jelas, negara berisiko menggeser orientasi pemerintahannya dari penyedia layanan publik menjadi pengatur kehidupan privat warga. Pada titik inilah kualitas demokrasi dipertaruhkan, sebab negara mulai kehilangan fokus terhadap fungsi utamanya sebagai pelindung kepentingan bersama.

Persoalan ini juga dapat dilihat dari prinsip paling mendasar dalam kebijakan publik, yakni bagaimana pemerintah mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya. Setiap penyusunan peraturan daerah membutuhkan biaya, waktu, dan kapasitas kelembagaan yang tidak sedikit. Mulai dari penyusunan naskah akademik, konsultasi publik, pembahasan di DPRD, hingga proses pengesahan, seluruhnya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dalam perspektif opportunity cost, setiap sumber daya yang digunakan untuk satu agenda berarti mengurangi kesempatan untuk menyelesaikan agenda lainnya. Karena itu, ketika pemerintah dan DPRD memilih menghabiskan energi institusional untuk mengatur orientasi seksual sekelompok warga, sesungguhnya ada kebutuhan publik yang lebih mendesak yang sedang ditunda penyelesaiannya.

Padahal, Makassar masih menghadapi berbagai persoalan struktural yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Banjir masih menjadi ancaman rutin ketika musim hujan tiba, sementara krisis air bersih terus dirasakan oleh sebagian warga, terutama di kawasan pesisir dan utara kota.

Di saat yang sama, kemiskinan perkotaan, ketimpangan ekonomi, persoalan tata ruang, hingga kualitas pelayanan publik masih membutuhkan perhatian yang serius. Dalam konteks seperti ini, menempatkan regulasi yang mengatur moralitas sebagai prioritas justru menunjukkan kegagalan pemerintah membaca kebutuhan masyarakat.

Ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan tidak ditentukan oleh seberapa jauh negara mengawasi kehidupan privat warganya, melainkan oleh kemampuannya menyediakan pelayanan publik yang berkualitas, membangun infrastruktur yang layak, mengurangi kemiskinan, dan menghadirkan keadilan sosial.

                                                                        ***

Selain persoalan prioritas, pembentukan kebijakan publik juga harus didasarkan pada bukti empiris (evidence-based policy). Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah terdapat data yang menunjukkan bahwa keberadaan kelompok minoritas gender menjadi penyebab utama persoalan pembangunan di Makassar? Apakah banjir, kemiskinan, rendahnya kualitas layanan publik, atau persoalan tata ruang berkaitan dengan orientasi seksual warga?

 Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka sulit untuk menempatkan isu tersebut sebagai prioritas legislasi. Kebijakan yang tidak bertumpu pada bukti berisiko berubah menjadi instrumen politik simbolik, bukan solusi atas persoalan publik.

Dalam kajian politik, kondisi semacam ini sering kali dipahami sebagai praktik moral panic, ketika kelompok minoritas dijadikan sasaran untuk membangun solidaritas mayoritas. Alih-alih menyelesaikan persoalan tata kelola yang kompleks, elite politik lebih memilih isu yang mudah membangkitkan emosi publik karena dinilai lebih menguntungkan secara elektoral. Strategi seperti ini memang dapat menghasilkan dukungan politik dalam jangka pendek, tetapi pada saat yang sama mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan kesejahteraan yang jauh lebih mendesak dan membutuhkan kapasitas pemerintahan yang sesungguhnya.

Ironisnya, argumentasi bahwa Perda anti-LGBT diperlukan demi menjaga nilai budaya Sulawesi Selatan justru bertentangan dengan sejarah masyarakat Bugis-Makassar sendiri. Jauh sebelum konsep modern mengenai identitas gender berkembang, masyarakat Bugis telah mengenal sistem lima gender, yaitu makkunrai (perempuan), oroané (laki-laki), calalai, calabai, dan bissu.

Keberadaan mereka bukan sekadar diakui, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan kultural yang penting dalam kehidupan masyarakat. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah konsep yang asing dalam kebudayaan lokal. Karena itu, menjadikan budaya sebagai dasar untuk melegitimasi kebijakan yang diskriminatif justru mengabaikan warisan sejarah yang selama berabad-abad memperlihatkan kemampuan masyarakat Sulawesi Selatan hidup berdampingan dengan berbagai bentuk identitas sosial.

Apabila regulasi semacam ini tetap dipaksakan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok yang menjadi sasaran kebijakan, tetapi juga oleh citra Makassar sebagai kota metropolitan yang ingin berkembang menjadi kota berkelas dunia. Kota yang terbuka, kompetitif, dan menarik bagi investasi membutuhkan kepastian hukum, perlindungan hak warga, serta ruang sosial yang inklusif.

Sebaliknya, kebijakan yang berwatak diskriminatif berpotensi memperkuat stigma intoleransi, memperlebar eksklusi sosial, dan bahkan membuka ruang bagi tindakan diskriminasi maupun kekerasan horizontal di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, membangun Makassar yang maju tidak dapat dilakukan dengan memperluas intervensi negara ke dalam ruang privat warga. Pemerintah daerah dan DPRD perlu mengembalikan fokus kebijakannya pada persoalan-persoalan yang benar-benar menentukan kualitas hidup masyarakat. APBD, kapasitas birokrasi, dan agenda legislasi seharusnya diarahkan untuk memperbaiki pelayanan publik, mengatasi banjir, menjamin akses air bersih, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat daya saing kota.

Sebab, ukuran keberhasilan negara bukan terletak pada kemampuannya mengatur kehidupan pribadi warganya, melainkan pada kemampuannya memastikan setiap warga memperoleh hak-hak dasar sebagai bagian dari pelayanan publik yang adil dan bermartabat.[T]

Tags: LGBTperdaSeksualitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

Next Post

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Surfian Rahmat AP

Surfian Rahmat AP

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co