23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Surfian Rahmat AP by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
in Esai
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat daripada memastikan pelayanan publik di ruang publik berjalan secara efektif. Dalam situasi seperti ini, prioritas kebijakan bergeser dari penyelesaian persoalan yang secara langsung memengaruhi kesejahteraan warga menuju pengaturan identitas dan pilihan personal masyarakat. Akibatnya, fungsi utama pemerintah sebagai penyedia layanan publik menjadi terpinggirkan oleh agenda yang lebih bersifat simbolik daripada substantif.

Fenomena tersebut kini terlihat di Makassar. Kota tempat saya lahir dan dibesarkan, Di tengah ambisi menjadikan kota ini sebagai metropolitan yang inklusif, maju, dan berdaya saing, pemerintah daerah bersama DPRD justru mengarahkan prioritas politiknya pada penyusunan Peraturan Daerah (Perda) anti-LGBT. Waktu, perhatian, dan sumber daya kelembagaan yang semestinya difokuskan untuk mengatasi berbagai persoalan publik yang lebih mendesak justru dialihkan pada regulasi yang mengatur ranah privat warga.

Ironisnya, di saat masyarakat masih dihadapkan pada tantangan pelayanan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai persoalan tata kelola perkotaan, isu moralitas kembali ditempatkan sebagai agenda utama dalam politik lokal.

Langkah legislasi tersebut bukan sekadar menunjukkan kecenderungan negara yang terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi warganya (state overreach), tetapi juga mencerminkan pergeseran fungsi dasar pemerintahan. Sejak Aristoteles membedakan antara Oikos (ruang privat) dan Polis (ruang publik), terdapat pemahaman bahwa negara memperoleh legitimasi untuk mengelola urusan yang menyangkut kepentingan bersama, sementara kehidupan privat warga tidak seharusnya menjadi objek intervensi politik, kecuali ketika berdampak langsung pada kepentingan publik.

Dengan kata lain, mandat utama negara bukanlah mengawasi identitas atau orientasi seksual warga, melainkan menjamin keamanan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Karena itu, ketika pemerintah daerah dan DPRD menggunakan instrumen legislasi untuk mengatur aspek-aspek kehidupan yang berada dalam ranah privat, persoalannya bukan semata-mata soal substansi Perda anti-LGBT, melainkan tentang bagaimana negara menetapkan prioritas kebijakannya. Alih-alih mengerahkan kapasitas kelembagaan untuk menjawab persoalan pelayanan publik, kemiskinan, ketimpangan, atau kualitas tata kelola perkotaan, perhatian politik justru diarahkan pada isu yang lebih bersifat simbolik. Kondisi ini memperlihatkan adanya misplaced priorities ketika agenda moral ditempatkan di atas kebutuhan publik yang lebih mendesak.

Dalam tata kelola pemerintahan yang demokratis, kebijakan publik semestinya disusun berdasarkan persoalan yang nyata, kebutuhan masyarakat, dan bukti empiris (evidence-based policy). Regulasi hadir untuk menyelesaikan masalah publik yang terukur, bukan sebagai respons terhadap kepanikan moral (moral panic) yang dibangun melalui sentimen populis.

Ketika moralitas dijadikan landasan utama dalam pembentukan kebijakan tanpa didukung oleh kebutuhan publik yang jelas, negara berisiko menggeser orientasi pemerintahannya dari penyedia layanan publik menjadi pengatur kehidupan privat warga. Pada titik inilah kualitas demokrasi dipertaruhkan, sebab negara mulai kehilangan fokus terhadap fungsi utamanya sebagai pelindung kepentingan bersama.

Persoalan ini juga dapat dilihat dari prinsip paling mendasar dalam kebijakan publik, yakni bagaimana pemerintah mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya. Setiap penyusunan peraturan daerah membutuhkan biaya, waktu, dan kapasitas kelembagaan yang tidak sedikit. Mulai dari penyusunan naskah akademik, konsultasi publik, pembahasan di DPRD, hingga proses pengesahan, seluruhnya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dalam perspektif opportunity cost, setiap sumber daya yang digunakan untuk satu agenda berarti mengurangi kesempatan untuk menyelesaikan agenda lainnya. Karena itu, ketika pemerintah dan DPRD memilih menghabiskan energi institusional untuk mengatur orientasi seksual sekelompok warga, sesungguhnya ada kebutuhan publik yang lebih mendesak yang sedang ditunda penyelesaiannya.

Padahal, Makassar masih menghadapi berbagai persoalan struktural yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Banjir masih menjadi ancaman rutin ketika musim hujan tiba, sementara krisis air bersih terus dirasakan oleh sebagian warga, terutama di kawasan pesisir dan utara kota.

Di saat yang sama, kemiskinan perkotaan, ketimpangan ekonomi, persoalan tata ruang, hingga kualitas pelayanan publik masih membutuhkan perhatian yang serius. Dalam konteks seperti ini, menempatkan regulasi yang mengatur moralitas sebagai prioritas justru menunjukkan kegagalan pemerintah membaca kebutuhan masyarakat.

Ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan tidak ditentukan oleh seberapa jauh negara mengawasi kehidupan privat warganya, melainkan oleh kemampuannya menyediakan pelayanan publik yang berkualitas, membangun infrastruktur yang layak, mengurangi kemiskinan, dan menghadirkan keadilan sosial.

                                                                        ***

Selain persoalan prioritas, pembentukan kebijakan publik juga harus didasarkan pada bukti empiris (evidence-based policy). Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah terdapat data yang menunjukkan bahwa keberadaan kelompok minoritas gender menjadi penyebab utama persoalan pembangunan di Makassar? Apakah banjir, kemiskinan, rendahnya kualitas layanan publik, atau persoalan tata ruang berkaitan dengan orientasi seksual warga?

 Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka sulit untuk menempatkan isu tersebut sebagai prioritas legislasi. Kebijakan yang tidak bertumpu pada bukti berisiko berubah menjadi instrumen politik simbolik, bukan solusi atas persoalan publik.

Dalam kajian politik, kondisi semacam ini sering kali dipahami sebagai praktik moral panic, ketika kelompok minoritas dijadikan sasaran untuk membangun solidaritas mayoritas. Alih-alih menyelesaikan persoalan tata kelola yang kompleks, elite politik lebih memilih isu yang mudah membangkitkan emosi publik karena dinilai lebih menguntungkan secara elektoral. Strategi seperti ini memang dapat menghasilkan dukungan politik dalam jangka pendek, tetapi pada saat yang sama mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan kesejahteraan yang jauh lebih mendesak dan membutuhkan kapasitas pemerintahan yang sesungguhnya.

Ironisnya, argumentasi bahwa Perda anti-LGBT diperlukan demi menjaga nilai budaya Sulawesi Selatan justru bertentangan dengan sejarah masyarakat Bugis-Makassar sendiri. Jauh sebelum konsep modern mengenai identitas gender berkembang, masyarakat Bugis telah mengenal sistem lima gender, yaitu makkunrai (perempuan), oroané (laki-laki), calalai, calabai, dan bissu.

Keberadaan mereka bukan sekadar diakui, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan kultural yang penting dalam kehidupan masyarakat. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah konsep yang asing dalam kebudayaan lokal. Karena itu, menjadikan budaya sebagai dasar untuk melegitimasi kebijakan yang diskriminatif justru mengabaikan warisan sejarah yang selama berabad-abad memperlihatkan kemampuan masyarakat Sulawesi Selatan hidup berdampingan dengan berbagai bentuk identitas sosial.

Apabila regulasi semacam ini tetap dipaksakan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok yang menjadi sasaran kebijakan, tetapi juga oleh citra Makassar sebagai kota metropolitan yang ingin berkembang menjadi kota berkelas dunia. Kota yang terbuka, kompetitif, dan menarik bagi investasi membutuhkan kepastian hukum, perlindungan hak warga, serta ruang sosial yang inklusif.

Sebaliknya, kebijakan yang berwatak diskriminatif berpotensi memperkuat stigma intoleransi, memperlebar eksklusi sosial, dan bahkan membuka ruang bagi tindakan diskriminasi maupun kekerasan horizontal di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, membangun Makassar yang maju tidak dapat dilakukan dengan memperluas intervensi negara ke dalam ruang privat warga. Pemerintah daerah dan DPRD perlu mengembalikan fokus kebijakannya pada persoalan-persoalan yang benar-benar menentukan kualitas hidup masyarakat. APBD, kapasitas birokrasi, dan agenda legislasi seharusnya diarahkan untuk memperbaiki pelayanan publik, mengatasi banjir, menjamin akses air bersih, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat daya saing kota.

Sebab, ukuran keberhasilan negara bukan terletak pada kemampuannya mengatur kehidupan pribadi warganya, melainkan pada kemampuannya memastikan setiap warga memperoleh hak-hak dasar sebagai bagian dari pelayanan publik yang adil dan bermartabat.[T]

Tags: LGBTperdaSeksualitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

Next Post

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Surfian Rahmat AP

Surfian Rahmat AP

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co