16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buzzer Rakyat

Hartanto by Hartanto
May 25, 2026
in Esai
Buzzer Rakyat

Kartun by Cece Reberu

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring, plus diwarnai stabilo warna merah) – saya ingin memposisikan diri sebagai ‘buzzer rakyat’.

Meski beberapa teman berpendapat bahwa ‘buzzer rakyat’ hanya sebatas imajinasi, setara produksi ‘cerita pendek’ semata. Tapi saya tetap bersikukuh – berusaha berkutat dengan/sebagai ‘buzzer rakyat’.

Hal ini, ‘buzzer rakyat’ – dapat dibaca sebagai  ‘demokrasi digital’ Indonesia. Sebab, di satu sisi, istilah ini menandakan adanya partisipasi ‘warga biasa’ yang menggunakan ‘media sosial’ untuk ‘menyuarakan’ pendapat, ‘membentuk’ opini, dan ‘melawan dominasi’ ‘buzzer bayaran’ yang sering ‘diasosiasikan’ dengan ‘kepentingan politik elite’.

Sejumlah ahli komunikasi politik menyoroti hal ini. Merlyna Lim, misalnya, dalam kajiannya tentang politik digital di Indonesia, menyebut bahwa “media sosial bukan sekadar ruang publik baru, tetapi juga arena perebutan makna di mana suara rakyat bisa dimobilisasi”. Tandasnya.

Saat ini Merlyna Lim menyandang posisi sebagai ‘Canada Research Chair’ dalam bidang media digital dan masyarakat global. Selain itu, ia juga berposisi sebagai profesor bidang Komunikasi di Carleton University.

Hal itu (Pendapat Merlyna) bisa negatip, bisa positip. Dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ bisa menjadi bagian dari produksi kebenaran atau sebaliknya, meskipun berangkat dari pengalaman nyata warga.

Jika ditarik lebih jauh, ‘buzzer rakyat’ mencerminkan ketegangan antara ‘rasionalitas publik’ dan ‘eksistensi digital’. Sebab, ‘demokrasi ideal’ menuntut partisipasi yang ‘jujur’, ‘deliberatif’, dan ‘berbasis argumen’.

Maka, esensi dari ‘buzzer rakyat’ bukan sekadar ‘fenomena teknis’, melainkan ‘refleksi’ atas kondisi demokrasi kita.

Lebih lanjut, menurut pemahaman saya – ‘buzzer rakyat’  menyingkap bagaimana rakyat berusaha merebut ‘ruang digital’, tetapi sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya ruang itu terhadap kekeliruan.

Pertanyaannya bukan hanya apakah ‘buzzer rakyat’ benar-benar mewakili ‘suara otentik’, dan apakah ‘demokrasi digital’ mampu menyediakan ruang yang sehat bagi suara tersebut untuk tumbuh tanpa harus ‘tunduk’ pada ‘logika propaganda’?.

Menurut pengamatan saya – fenomena ‘buzzer rakyat’ di Indonesia menemukan bentuknya dalam berbagai peristiwa politik dan sosial, terutama ketika ‘media sosial’ menjadi arena utama ‘pertarungan opini’.

Misalnya, dalam konteks Pemilu 2019, banyak ‘warga biasa’ yang secara sukarela menyuarakan ‘dukungan’ atau ‘kritik’ terhadap kandidat tertentu.

Mereka ‘tidak dibayar’, tetapi suara mereka sering kali disamakan dengan ‘buzzer bayaran’ karena ‘intensitas’ dan ‘pola penyebaran’ yang mirip dengan ‘propaganda’. Sementara ini, saya lebih percaya pada kejujuran ‘buzzer rakyat’. Ia murni, hanya ‘dibayar doa’ oleh rakyat.

Di sisi lain, kasus Omnibus Law Cipta Kerjapada 2020 memperlihatkan bagaimana ‘buzzer rakyat’ muncul sebagai ‘kontra-narasi’ : ribuan akun ‘warga biasa’ menyuarakan ‘penolakan’, ‘mengkritik’ kebijakan pemerintah, dan ‘menandingi narasi resmi’ (yang didukung ‘buzzer bayaran’ ?).

Di sini, istilah ‘buzzer rakyat’ menjadi simbol ‘perlawanan digital’, meski tetap rentan terhadap ‘framing’ dan ‘tuduhan’ manipulasi.

Kendatipun demikian, pandangan ini relevan dengan fenomena ‘buzzer rakyat’ : suara otentik warga bisa menjadi kekuatan ‘demokrasi’, tetapi juga bisa ‘dipelintir oleh algoritma’ dan ‘framing elite’.

Contoh lain dapat dilihat dalam gerakan sosial seperti #ReformasiDikorupsipada 2019, ketika mahasiswa dan masyarakat luas menggunakan ‘media sosial’ untuk ‘menyuarakan kritik’ terhadap ‘pelemahan KPK’ dan ‘revisi UU’.

Suara mereka sering disebut sebagai ‘buzzer rakyat’ karena ‘masif’, ‘spontan’, dan berakar dari  ‘keresahan publik’. Namun, ‘kekuasaan’ dan media tertentu kadang ‘menstigmatisasi’ gerakan ini sebagai hasil ‘mobilisasi buzzer’.

Sehingga mengaburkan ‘otentisitas’ partisipasi warga. Di titik ini, istilah ‘buzzer rakyat’ menjadi medan perebutan makna : apakah ia benar-benar ‘suara otentik rakyat’, atau sekadar ‘label’ yang digunakan untuk ‘melemahkan legitimasi kritik’?

Masih menurut saya – dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ adalah fenomena ‘ambivalen’. Ia bisa menjadi harapan akan ‘partisipasi otentik’ dalam ‘demokrasi digital’, tetapi juga  mesti waspada, agar rakyat tak dijadikan ‘mesin propaganda’ tanpa disadari.

Esensinya bukan sekadar teknis, melainkan refleksi atas kondisi demokrasi kita : apakah ruang digital mampu menyediakan arena sehat bagi suara rakyat, atau justru memperlihatkan betapa rapuhnya demokrasi terhadap manipulasi.

Mari coba kita tengok gerakan rakyat di Nepal beberapa waktu lalu. Menurut pemahaman saya, Gerakan Gen Z di Nepal tahun 2025 bisa dibaca sebagai bentuk gerakan ‘buzzer rakyat’.

Sebab, ia lahir dari partisipasi spontan warga muda yang menggunakan media sosial untuk melawan korupsi dan sensor pemerintah, bukan dari ‘orkestrasi elite’ atau ‘buzzer bayaran’.

Namun, ada hal yang saya tidak setuju. Sebab,istilah gerakan rakyat di Nepal ini tetap ‘problematis’ karena gerakan tersebut juga mengalami ‘framing’, ‘kekerasan’, dan ‘manipulasi politik’.

Gerakan  di Nepal yang dipimpin oleh Generasi Z yang marah atas korupsi, nepotisme, dan larangan 26 platform media sosial, bisa terujud karena banyaknya ‘buzzer rakyat’. Mereka turun ke jalan dan menggunakan internet sebagai medium (propaganda?) utama.

Meski pemerintah sempat memblokir media sosial, para demonstran (dan ‘buzzer rakyat’) tetap memanfaatkan jaringan digital untuk menyebarkan pesan, mirip dengan ‘buzzer bayaran’, tetapi tanpa bayaran atau arahan elite.

Tuntutan para ‘buzzer rakyat’ dari Gen Z ini, sangat jelas : memerangi korupsi, transparansi, dan kebebasan berekspresi. Ini menunjukkan ‘suara rakyat’ yang rasional, bukan ‘propaganda elite’.

Sebab, ‘buzzer bayaran’ acapdigerakkan oleh kepentingan politik tertentu, sering menyebarkan ‘disinformasi’ atau ‘framing’ untuk mendukung ‘penguasa’.

‘Buzzer rakyat’ yang genial dan bijak adalah sosok-sosok yang mampu menjadikan ruang digital sebagai wadah ‘deliberasi’, bukan sekadar arena ‘propaganda’. Ia tidak hanya menyuarakan keresahan, tetapi juga mengolahnya menjadi wacana publik yang kritis, jernih, dan membebaskan.

Genialitasnya terletak pada kemampuan merangkai narasi yang berangkat dari pengalaman otentik rakyat, lalu menghubungkannya dengan kepentingan bersama sehingga suara yang lahir bukan sekadar ‘viralitas’, melainkan ‘resonansi’.

Kebijakannya tampak dalam sikap menjaga integritas, menolak hoaks, dan mengarahkan emosi kolektif ke arah solidaritas, bukan kebencian.

Seperti diingatkan oleh Jürgen Habermas, demokrasi sehat hanya bisa tumbuh dalam ruang publik ‘deliberatif’, di mana argumen rasional dan diskusi terbuka menjadi dasar pengambilan keputusan.

Dalam konteks ini, ‘buzzer rakyat’ yang bijak adalah penjaga ‘rasionalitas’ publik, memastikan bahwa suara rakyat tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk ‘post-truth’.

Hannah Arendt menulis bahwa politik sejati lahir dari tindakan bersama, bukan dari manipulasi massa ; maka ‘buzzer rakyat’ yang bijak adalah mereka yang mengubah ‘keresahan’ menjadi ‘aksi kolektif’ yang bermakna.

Hannah Arendt (1906–1975) adalah seorang filsuf politik dan pemikir berpengaruh abad ke-20 asal Jerman-Amerika. . ia sangat dikenal melalui karya-karyanya yang mengkaji totaliterisme, otoritas, hakikat kejahatan, serta kondisi fundamental manusia.

Dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ yang ‘genial’ dan ‘bijak’ bukanlah ‘mesin opini’, melainkan ‘kurator’ pengalaman rakyat yang mampu menyalakan ‘api kesadaran’, membangun ‘jembatan antarwarga’, dan menjaga ‘demokrasi digital’ agar tetap berakar pada ‘kebenaran’ dan ‘etika’. [T]

Tags: buzzerdemokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Next Post

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails
Next Post
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia
Panggung

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi
Panggung

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Dari Duta SMA ke Duta Besar
Esai

Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026
Tualang

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan
Panggung

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali
Esai

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

by Nur Kamilia
August 14, 2026
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan
Pendidikan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO) memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM disabilitas melalui training legalitas usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari...

by Angga Wijaya
August 14, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co