6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buzzer Rakyat

Hartanto by Hartanto
May 25, 2026
in Esai
Buzzer Rakyat

Kartun by Cece Reberu

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring, plus diwarnai stabilo warna merah) – saya ingin memposisikan diri sebagai ‘buzzer rakyat’.

Meski beberapa teman berpendapat bahwa ‘buzzer rakyat’ hanya sebatas imajinasi, setara produksi ‘cerita pendek’ semata. Tapi saya tetap bersikukuh – berusaha berkutat dengan/sebagai ‘buzzer rakyat’.

Hal ini, ‘buzzer rakyat’ – dapat dibaca sebagai  ‘demokrasi digital’ Indonesia. Sebab, di satu sisi, istilah ini menandakan adanya partisipasi ‘warga biasa’ yang menggunakan ‘media sosial’ untuk ‘menyuarakan’ pendapat, ‘membentuk’ opini, dan ‘melawan dominasi’ ‘buzzer bayaran’ yang sering ‘diasosiasikan’ dengan ‘kepentingan politik elite’.

Sejumlah ahli komunikasi politik menyoroti hal ini. Merlyna Lim, misalnya, dalam kajiannya tentang politik digital di Indonesia, menyebut bahwa “media sosial bukan sekadar ruang publik baru, tetapi juga arena perebutan makna di mana suara rakyat bisa dimobilisasi”. Tandasnya.

Saat ini Merlyna Lim menyandang posisi sebagai ‘Canada Research Chair’ dalam bidang media digital dan masyarakat global. Selain itu, ia juga berposisi sebagai profesor bidang Komunikasi di Carleton University.

Hal itu (Pendapat Merlyna) bisa negatip, bisa positip. Dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ bisa menjadi bagian dari produksi kebenaran atau sebaliknya, meskipun berangkat dari pengalaman nyata warga.

Jika ditarik lebih jauh, ‘buzzer rakyat’ mencerminkan ketegangan antara ‘rasionalitas publik’ dan ‘eksistensi digital’. Sebab, ‘demokrasi ideal’ menuntut partisipasi yang ‘jujur’, ‘deliberatif’, dan ‘berbasis argumen’.

Maka, esensi dari ‘buzzer rakyat’ bukan sekadar ‘fenomena teknis’, melainkan ‘refleksi’ atas kondisi demokrasi kita.

Lebih lanjut, menurut pemahaman saya – ‘buzzer rakyat’  menyingkap bagaimana rakyat berusaha merebut ‘ruang digital’, tetapi sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya ruang itu terhadap kekeliruan.

Pertanyaannya bukan hanya apakah ‘buzzer rakyat’ benar-benar mewakili ‘suara otentik’, dan apakah ‘demokrasi digital’ mampu menyediakan ruang yang sehat bagi suara tersebut untuk tumbuh tanpa harus ‘tunduk’ pada ‘logika propaganda’?.

Menurut pengamatan saya – fenomena ‘buzzer rakyat’ di Indonesia menemukan bentuknya dalam berbagai peristiwa politik dan sosial, terutama ketika ‘media sosial’ menjadi arena utama ‘pertarungan opini’.

Misalnya, dalam konteks Pemilu 2019, banyak ‘warga biasa’ yang secara sukarela menyuarakan ‘dukungan’ atau ‘kritik’ terhadap kandidat tertentu.

Mereka ‘tidak dibayar’, tetapi suara mereka sering kali disamakan dengan ‘buzzer bayaran’ karena ‘intensitas’ dan ‘pola penyebaran’ yang mirip dengan ‘propaganda’. Sementara ini, saya lebih percaya pada kejujuran ‘buzzer rakyat’. Ia murni, hanya ‘dibayar doa’ oleh rakyat.

Di sisi lain, kasus Omnibus Law Cipta Kerjapada 2020 memperlihatkan bagaimana ‘buzzer rakyat’ muncul sebagai ‘kontra-narasi’ : ribuan akun ‘warga biasa’ menyuarakan ‘penolakan’, ‘mengkritik’ kebijakan pemerintah, dan ‘menandingi narasi resmi’ (yang didukung ‘buzzer bayaran’ ?).

Di sini, istilah ‘buzzer rakyat’ menjadi simbol ‘perlawanan digital’, meski tetap rentan terhadap ‘framing’ dan ‘tuduhan’ manipulasi.

Kendatipun demikian, pandangan ini relevan dengan fenomena ‘buzzer rakyat’ : suara otentik warga bisa menjadi kekuatan ‘demokrasi’, tetapi juga bisa ‘dipelintir oleh algoritma’ dan ‘framing elite’.

Contoh lain dapat dilihat dalam gerakan sosial seperti #ReformasiDikorupsipada 2019, ketika mahasiswa dan masyarakat luas menggunakan ‘media sosial’ untuk ‘menyuarakan kritik’ terhadap ‘pelemahan KPK’ dan ‘revisi UU’.

Suara mereka sering disebut sebagai ‘buzzer rakyat’ karena ‘masif’, ‘spontan’, dan berakar dari  ‘keresahan publik’. Namun, ‘kekuasaan’ dan media tertentu kadang ‘menstigmatisasi’ gerakan ini sebagai hasil ‘mobilisasi buzzer’.

Sehingga mengaburkan ‘otentisitas’ partisipasi warga. Di titik ini, istilah ‘buzzer rakyat’ menjadi medan perebutan makna : apakah ia benar-benar ‘suara otentik rakyat’, atau sekadar ‘label’ yang digunakan untuk ‘melemahkan legitimasi kritik’?

Masih menurut saya – dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ adalah fenomena ‘ambivalen’. Ia bisa menjadi harapan akan ‘partisipasi otentik’ dalam ‘demokrasi digital’, tetapi juga  mesti waspada, agar rakyat tak dijadikan ‘mesin propaganda’ tanpa disadari.

Esensinya bukan sekadar teknis, melainkan refleksi atas kondisi demokrasi kita : apakah ruang digital mampu menyediakan arena sehat bagi suara rakyat, atau justru memperlihatkan betapa rapuhnya demokrasi terhadap manipulasi.

Mari coba kita tengok gerakan rakyat di Nepal beberapa waktu lalu. Menurut pemahaman saya, Gerakan Gen Z di Nepal tahun 2025 bisa dibaca sebagai bentuk gerakan ‘buzzer rakyat’.

Sebab, ia lahir dari partisipasi spontan warga muda yang menggunakan media sosial untuk melawan korupsi dan sensor pemerintah, bukan dari ‘orkestrasi elite’ atau ‘buzzer bayaran’.

Namun, ada hal yang saya tidak setuju. Sebab,istilah gerakan rakyat di Nepal ini tetap ‘problematis’ karena gerakan tersebut juga mengalami ‘framing’, ‘kekerasan’, dan ‘manipulasi politik’.

Gerakan  di Nepal yang dipimpin oleh Generasi Z yang marah atas korupsi, nepotisme, dan larangan 26 platform media sosial, bisa terujud karena banyaknya ‘buzzer rakyat’. Mereka turun ke jalan dan menggunakan internet sebagai medium (propaganda?) utama.

Meski pemerintah sempat memblokir media sosial, para demonstran (dan ‘buzzer rakyat’) tetap memanfaatkan jaringan digital untuk menyebarkan pesan, mirip dengan ‘buzzer bayaran’, tetapi tanpa bayaran atau arahan elite.

Tuntutan para ‘buzzer rakyat’ dari Gen Z ini, sangat jelas : memerangi korupsi, transparansi, dan kebebasan berekspresi. Ini menunjukkan ‘suara rakyat’ yang rasional, bukan ‘propaganda elite’.

Sebab, ‘buzzer bayaran’ acapdigerakkan oleh kepentingan politik tertentu, sering menyebarkan ‘disinformasi’ atau ‘framing’ untuk mendukung ‘penguasa’.

‘Buzzer rakyat’ yang genial dan bijak adalah sosok-sosok yang mampu menjadikan ruang digital sebagai wadah ‘deliberasi’, bukan sekadar arena ‘propaganda’. Ia tidak hanya menyuarakan keresahan, tetapi juga mengolahnya menjadi wacana publik yang kritis, jernih, dan membebaskan.

Genialitasnya terletak pada kemampuan merangkai narasi yang berangkat dari pengalaman otentik rakyat, lalu menghubungkannya dengan kepentingan bersama sehingga suara yang lahir bukan sekadar ‘viralitas’, melainkan ‘resonansi’.

Kebijakannya tampak dalam sikap menjaga integritas, menolak hoaks, dan mengarahkan emosi kolektif ke arah solidaritas, bukan kebencian.

Seperti diingatkan oleh Jürgen Habermas, demokrasi sehat hanya bisa tumbuh dalam ruang publik ‘deliberatif’, di mana argumen rasional dan diskusi terbuka menjadi dasar pengambilan keputusan.

Dalam konteks ini, ‘buzzer rakyat’ yang bijak adalah penjaga ‘rasionalitas’ publik, memastikan bahwa suara rakyat tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk ‘post-truth’.

Hannah Arendt menulis bahwa politik sejati lahir dari tindakan bersama, bukan dari manipulasi massa ; maka ‘buzzer rakyat’ yang bijak adalah mereka yang mengubah ‘keresahan’ menjadi ‘aksi kolektif’ yang bermakna.

Hannah Arendt (1906–1975) adalah seorang filsuf politik dan pemikir berpengaruh abad ke-20 asal Jerman-Amerika. . ia sangat dikenal melalui karya-karyanya yang mengkaji totaliterisme, otoritas, hakikat kejahatan, serta kondisi fundamental manusia.

Dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ yang ‘genial’ dan ‘bijak’ bukanlah ‘mesin opini’, melainkan ‘kurator’ pengalaman rakyat yang mampu menyalakan ‘api kesadaran’, membangun ‘jembatan antarwarga’, dan menjaga ‘demokrasi digital’ agar tetap berakar pada ‘kebenaran’ dan ‘etika’. [T]

Tags: buzzerdemokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Next Post

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co