26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buzzer Rakyat

Hartanto by Hartanto
May 25, 2026
in Esai
Buzzer Rakyat

Kartun by Cece Reberu

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring, plus diwarnai stabilo warna merah) – saya ingin memposisikan diri sebagai ‘buzzer rakyat’.

Meski beberapa teman berpendapat bahwa ‘buzzer rakyat’ hanya sebatas imajinasi, setara produksi ‘cerita pendek’ semata. Tapi saya tetap bersikukuh – berusaha berkutat dengan/sebagai ‘buzzer rakyat’.

Hal ini, ‘buzzer rakyat’ – dapat dibaca sebagai  ‘demokrasi digital’ Indonesia. Sebab, di satu sisi, istilah ini menandakan adanya partisipasi ‘warga biasa’ yang menggunakan ‘media sosial’ untuk ‘menyuarakan’ pendapat, ‘membentuk’ opini, dan ‘melawan dominasi’ ‘buzzer bayaran’ yang sering ‘diasosiasikan’ dengan ‘kepentingan politik elite’.

Sejumlah ahli komunikasi politik menyoroti hal ini. Merlyna Lim, misalnya, dalam kajiannya tentang politik digital di Indonesia, menyebut bahwa “media sosial bukan sekadar ruang publik baru, tetapi juga arena perebutan makna di mana suara rakyat bisa dimobilisasi”. Tandasnya.

Saat ini Merlyna Lim menyandang posisi sebagai ‘Canada Research Chair’ dalam bidang media digital dan masyarakat global. Selain itu, ia juga berposisi sebagai profesor bidang Komunikasi di Carleton University.

Hal itu (Pendapat Merlyna) bisa negatip, bisa positip. Dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ bisa menjadi bagian dari produksi kebenaran atau sebaliknya, meskipun berangkat dari pengalaman nyata warga.

Jika ditarik lebih jauh, ‘buzzer rakyat’ mencerminkan ketegangan antara ‘rasionalitas publik’ dan ‘eksistensi digital’. Sebab, ‘demokrasi ideal’ menuntut partisipasi yang ‘jujur’, ‘deliberatif’, dan ‘berbasis argumen’.

Maka, esensi dari ‘buzzer rakyat’ bukan sekadar ‘fenomena teknis’, melainkan ‘refleksi’ atas kondisi demokrasi kita.

Lebih lanjut, menurut pemahaman saya – ‘buzzer rakyat’  menyingkap bagaimana rakyat berusaha merebut ‘ruang digital’, tetapi sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya ruang itu terhadap kekeliruan.

Pertanyaannya bukan hanya apakah ‘buzzer rakyat’ benar-benar mewakili ‘suara otentik’, dan apakah ‘demokrasi digital’ mampu menyediakan ruang yang sehat bagi suara tersebut untuk tumbuh tanpa harus ‘tunduk’ pada ‘logika propaganda’?.

Menurut pengamatan saya – fenomena ‘buzzer rakyat’ di Indonesia menemukan bentuknya dalam berbagai peristiwa politik dan sosial, terutama ketika ‘media sosial’ menjadi arena utama ‘pertarungan opini’.

Misalnya, dalam konteks Pemilu 2019, banyak ‘warga biasa’ yang secara sukarela menyuarakan ‘dukungan’ atau ‘kritik’ terhadap kandidat tertentu.

Mereka ‘tidak dibayar’, tetapi suara mereka sering kali disamakan dengan ‘buzzer bayaran’ karena ‘intensitas’ dan ‘pola penyebaran’ yang mirip dengan ‘propaganda’. Sementara ini, saya lebih percaya pada kejujuran ‘buzzer rakyat’. Ia murni, hanya ‘dibayar doa’ oleh rakyat.

Di sisi lain, kasus Omnibus Law Cipta Kerjapada 2020 memperlihatkan bagaimana ‘buzzer rakyat’ muncul sebagai ‘kontra-narasi’ : ribuan akun ‘warga biasa’ menyuarakan ‘penolakan’, ‘mengkritik’ kebijakan pemerintah, dan ‘menandingi narasi resmi’ (yang didukung ‘buzzer bayaran’ ?).

Di sini, istilah ‘buzzer rakyat’ menjadi simbol ‘perlawanan digital’, meski tetap rentan terhadap ‘framing’ dan ‘tuduhan’ manipulasi.

Kendatipun demikian, pandangan ini relevan dengan fenomena ‘buzzer rakyat’ : suara otentik warga bisa menjadi kekuatan ‘demokrasi’, tetapi juga bisa ‘dipelintir oleh algoritma’ dan ‘framing elite’.

Contoh lain dapat dilihat dalam gerakan sosial seperti #ReformasiDikorupsipada 2019, ketika mahasiswa dan masyarakat luas menggunakan ‘media sosial’ untuk ‘menyuarakan kritik’ terhadap ‘pelemahan KPK’ dan ‘revisi UU’.

Suara mereka sering disebut sebagai ‘buzzer rakyat’ karena ‘masif’, ‘spontan’, dan berakar dari  ‘keresahan publik’. Namun, ‘kekuasaan’ dan media tertentu kadang ‘menstigmatisasi’ gerakan ini sebagai hasil ‘mobilisasi buzzer’.

Sehingga mengaburkan ‘otentisitas’ partisipasi warga. Di titik ini, istilah ‘buzzer rakyat’ menjadi medan perebutan makna : apakah ia benar-benar ‘suara otentik rakyat’, atau sekadar ‘label’ yang digunakan untuk ‘melemahkan legitimasi kritik’?

Masih menurut saya – dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ adalah fenomena ‘ambivalen’. Ia bisa menjadi harapan akan ‘partisipasi otentik’ dalam ‘demokrasi digital’, tetapi juga  mesti waspada, agar rakyat tak dijadikan ‘mesin propaganda’ tanpa disadari.

Esensinya bukan sekadar teknis, melainkan refleksi atas kondisi demokrasi kita : apakah ruang digital mampu menyediakan arena sehat bagi suara rakyat, atau justru memperlihatkan betapa rapuhnya demokrasi terhadap manipulasi.

Mari coba kita tengok gerakan rakyat di Nepal beberapa waktu lalu. Menurut pemahaman saya, Gerakan Gen Z di Nepal tahun 2025 bisa dibaca sebagai bentuk gerakan ‘buzzer rakyat’.

Sebab, ia lahir dari partisipasi spontan warga muda yang menggunakan media sosial untuk melawan korupsi dan sensor pemerintah, bukan dari ‘orkestrasi elite’ atau ‘buzzer bayaran’.

Namun, ada hal yang saya tidak setuju. Sebab,istilah gerakan rakyat di Nepal ini tetap ‘problematis’ karena gerakan tersebut juga mengalami ‘framing’, ‘kekerasan’, dan ‘manipulasi politik’.

Gerakan  di Nepal yang dipimpin oleh Generasi Z yang marah atas korupsi, nepotisme, dan larangan 26 platform media sosial, bisa terujud karena banyaknya ‘buzzer rakyat’. Mereka turun ke jalan dan menggunakan internet sebagai medium (propaganda?) utama.

Meski pemerintah sempat memblokir media sosial, para demonstran (dan ‘buzzer rakyat’) tetap memanfaatkan jaringan digital untuk menyebarkan pesan, mirip dengan ‘buzzer bayaran’, tetapi tanpa bayaran atau arahan elite.

Tuntutan para ‘buzzer rakyat’ dari Gen Z ini, sangat jelas : memerangi korupsi, transparansi, dan kebebasan berekspresi. Ini menunjukkan ‘suara rakyat’ yang rasional, bukan ‘propaganda elite’.

Sebab, ‘buzzer bayaran’ acapdigerakkan oleh kepentingan politik tertentu, sering menyebarkan ‘disinformasi’ atau ‘framing’ untuk mendukung ‘penguasa’.

‘Buzzer rakyat’ yang genial dan bijak adalah sosok-sosok yang mampu menjadikan ruang digital sebagai wadah ‘deliberasi’, bukan sekadar arena ‘propaganda’. Ia tidak hanya menyuarakan keresahan, tetapi juga mengolahnya menjadi wacana publik yang kritis, jernih, dan membebaskan.

Genialitasnya terletak pada kemampuan merangkai narasi yang berangkat dari pengalaman otentik rakyat, lalu menghubungkannya dengan kepentingan bersama sehingga suara yang lahir bukan sekadar ‘viralitas’, melainkan ‘resonansi’.

Kebijakannya tampak dalam sikap menjaga integritas, menolak hoaks, dan mengarahkan emosi kolektif ke arah solidaritas, bukan kebencian.

Seperti diingatkan oleh Jürgen Habermas, demokrasi sehat hanya bisa tumbuh dalam ruang publik ‘deliberatif’, di mana argumen rasional dan diskusi terbuka menjadi dasar pengambilan keputusan.

Dalam konteks ini, ‘buzzer rakyat’ yang bijak adalah penjaga ‘rasionalitas’ publik, memastikan bahwa suara rakyat tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk ‘post-truth’.

Hannah Arendt menulis bahwa politik sejati lahir dari tindakan bersama, bukan dari manipulasi massa ; maka ‘buzzer rakyat’ yang bijak adalah mereka yang mengubah ‘keresahan’ menjadi ‘aksi kolektif’ yang bermakna.

Hannah Arendt (1906–1975) adalah seorang filsuf politik dan pemikir berpengaruh abad ke-20 asal Jerman-Amerika. . ia sangat dikenal melalui karya-karyanya yang mengkaji totaliterisme, otoritas, hakikat kejahatan, serta kondisi fundamental manusia.

Dengan demikian, ‘buzzer rakyat’ yang ‘genial’ dan ‘bijak’ bukanlah ‘mesin opini’, melainkan ‘kurator’ pengalaman rakyat yang mampu menyalakan ‘api kesadaran’, membangun ‘jembatan antarwarga’, dan menjaga ‘demokrasi digital’ agar tetap berakar pada ‘kebenaran’ dan ‘etika’. [T]

Tags: buzzerdemokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Next Post

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co