17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Chusmeru by Chusmeru
May 25, 2026
in Tualang
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Batu Punden Majapahit/ Foto Dok.Penulis

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak peninggalan masa lalu yang layak menjadi literasi sejarah bagi generasi muda saat ini.

Kabupaten Kebumen berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di utara, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo di timur, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas di barat, serta Samudra Hindia di selatan. Memiliki luas 1.581,11 km2, Kebumen dihuni oleh 1.399.976 jiwa penduduk.

Tidak sulit untuk mengunjungi Kebumen yang berada di jalur tengah dan selatan Pulau Jawa. Sarana transportasi menuju dan dari Kebumen sangatlah mudah. Aksesibilitas Kebumen ditunjang oleh angkutan umum antarkota dan antarprovinsi serta stasiun kereta api.

Kompleks Mexolie, Kebumen | Foto Dok.Penulis

Potensi wisata Kabupaten Kebumen sangat banyak. Letak geografis yang dikelilingi bebukitan dan pantai menjadikan Kebumen memiliki banyak objek wisata alam, selain objek wisata sejarah dan religi. Banyak petilasan masa Kerajaan Majapahit dan Mataram yang terdapat di Kabupaten Kebumen.

Gua Jatijajar menjadi ikon pariwisata Kebumen. Gua Jatijajar dibentuk oleh alam selama ribuan tahun dan menjadi tempat berpetualang indah di perut bumi. Selain itu, kini banyak dikembangkan objek wisata pantai yang tereletak di selatan Kebumen.  

Untuk menilik potensi wisata sejarah, penulis bersama Tim Peneliti dari Fisip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengunjungi beberapa objek petilasan sejarah di Kebumen. Tri Nugroho Adi selaku Ketua Tim Peneliti berharap dapat merumuskan Model Komunikasi Pendidikan dalam Literasi Sejarah Petilasan sebagai Rekayasa Sosial dan Budaya untuk Generasi Muda.

Jejak Sejarah

Memiliki latar belakang sejarah yang panjang, Kebumen tidak dapat dilepaskan dari dua nama besar kerajaan di Jawa masa lalu, yaitu Majapahit dan Mataram. Nama Kebumen konon berasal dari kabumian, yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677.

Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer. Salah seorang cicit Pangeran Senopati bernama Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, turut berjasa dengan membuat lumbung padi bagi prajurit Mataram.

Situs Pertabatan Ratu Panjer Nagari | Foto Dok.Penulis

Wilayah Kebumen juga memiliki keterkaitan sejarah yang erat dengan kerajaan Majapahit, terbukti dengan ditemukannya situs Punden Majapahit di Desa Sadang Wetan. Daerah ini merupakan bagian dari jalur penting di pesisir selatan Jawa yang dilewati rombongan Majapahit dan menjadi saksi sejarah peralihan budaya di pesisir selatan.

Jejak sejarah Kebumen antara lain terdapat di Kompleks Mexolie, Panjer, yang memiliki kisah panjang dari masa kerajaan kuno hingga era kemerdekaan Indonesia. Salah satu peninggalan paling bersejarah di kompleks Mexolie adalah Situs Pertabatan Ratu Panjer Nagari dan Situs Pamoksan Maha Patih Gajah Mada dan Kuwu Panjer. Tempat ini dulunya diakui menjadi pusat pertemuan para raja dan tokoh penting kerajaan dengan penguasa Panjer di Pendopo Agung Panjer.

Di Kompleks Mexolie ini terjadi berbagai pertemuan bersejarah antara tokoh legendaris seperti Maha Patih Gajah Mada dan Raden Putra dari Kerajaan Majapahit, Wali dari Kerajaan Demak yang membawa ajaran Islam, hingga Susuhunan Agung Hanyakrakusuma saat Panjer menjadi lumbung logistik Mataram untuk menyerang VOC di Batavia. Bahkan konon Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Diponegoro pernah singgah di Panjer dalam perjuangan mereka melawan Belanda. Hal itu tertulis di batu prasasti yang terdapat di Kompleks Mexolie.

Kompleks Mexolie sendiri adalah situs bersejarah peninggalan Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1851 sebagai pabrik minyak kelapa besar. Kompleks ini awalnya merupakan bagian dari pusat pemerintahan di kawasan Panjer. Setelah Perang Dunia II, pabrik ini sempat dikenal sebagai Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati. Saat ini Mexolie dialihfungsikan sebagai hotel dengan konsep mempertahankan bentuk bangunan asli untuk menjaga nilai sejarahnya.

Penulis ditemani staf manajemen Hotel Mexolie, Teguh dan juru kunci Pemoksan Gajah Mada, Mbah Karman (90 tahun) mengunjungi kedua situs tersebut. Suasana mistis dan menegangkan sangat terasa ketika penulis bersama Mbah Karman memasuki situs pamoksan. Terdapat bekas sesaji bunga dan tempat pembakaran kemenyan.

Menurut Mbah Karman, Pemoksan Maha Patih Gajah Mada ini secara gaib ditunggu oleh sosok tinggi besar bernama Mbah Resa Wikrama. Biasanya setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon ada beberapa pengunjung yang melakukan ritual di situs pamoksan.

“Biasanya pengunjung mencari berkah kewibawaan,” ujar Mbah Karman.

Keberadaan dua situs peninggalan Majapahit dan Mataram tersebut justru menambah daya tarik Hotel Mexolie. Terbukti angka hunian hotelnya selalu berada di kisaran 60-80 persen. Bahkan menurut Teguh bila akhir pekan dan libur panjang dapat mencapai 95 persen. Ke depan pihak hotel akan berupaya agar kedua situs itu dapat menjadi bagian dari wisata sejarah dan edukasi; karena banyak tamu yang menginap di hotel mengunjungi situs tersebut.

Penulis bersama Kepala Dusun dan Peneliti Unsoed di Punden Majapahit | Foto Dok.Penulis

Tokoh masyarakat Kebumen, Mayjen TNI (Purn) Fulad mengatakan kepada penulis, petilasan Patih Gajah Mada yang berada di Kompleks Mexolie, di bawah pembinaan Kodim 0709 Kebumen, memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai situs sejarah. Tempat ini adalah ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, yang jika dikelola dengan tepat dapat memperkuat jati diri bangsa.

Kehadiran petilasan ini dari aspek sejarah menguatkan narasi bahwa pengaruh Majapahit menjangkau hingga Kebumen. Gajah Mada bukan hanya tokoh dari kitab Pararaton dan Negarakertagama, tetapi figur nyata yang jejaknya bisa dirasakan secara lokal. Merawat petilasan berarti menjaga bukti material bahwa sejarah Indonesia disusun dari berbagai daerah, bukan hanya dari pusat kekuasaan.

“Tanpa perawatan, sejarah akan menjadi mitos. Dengan perawatan, sejarah menjadi guru,” ujar Mayjen TNI (Purn) Fulad yang pernah menjabat sebagai Penasihat Militer RI untuk PBB 2017-2019.

Menurutnya, Gajah Mada dikenal melalui Sumpah Palapa, ikrar untuk menyatukan Nusantara. Nilai ini relevan dengan tantangan kebangsaan hari ini: menjaga persatuan di tengah keberagaman dan gempuran budaya asing. Petilasan akan tetap asing jika hanya menjadi objek wisata pasif. Di sinilah literasi sejarah berperan.

Melalui kegiatan seperti napak tilas, lomba menulis esai sejarah lokal, podcast sejarah Kebumen, dan digitalisasi cerita petilasan, tempat ini bisa menjadi “kelas terbuka” tanpa dinding. Literasi yang tumbuh dari konteks lokal akan lebih kuat membentuk identitas dan rasa memiliki daripada pelajaran sejarah yang abstrak.

“Jika sejarah dirawat, kebangsaan dikuatkan, dan literasi dihidupkan, maka situs ini akan menjadi lebih dari sekadar batu dan tanah. Ia akan menjadi tempat di mana generasi muda belajar bahwa menjadi Indonesia berarti mengingat, memahami, dan melanjutkan,” kata Mayjen TNI (Purn) Fulad yang juga pernah menjabat Wadanseskoad dan Irlat Itum Itjenad.

Situs Petilasan Gajah Mada

Kompleks Mexolie juga dipercaya sebagai tempat situs Pemoksan Gajah Mada menuju tingkatan Hambadan Cahya (berbadan cahaya). Salah satu penguat kepercayaan itu adalah ditemukannya situs Punden (tempat keramat) Majapahit di persawahan Desa Sadang Wetan, Kebumen. Tempat yang oleh masyarakat dinamakan Persawahan Majapahit ini disebut sebagai tempat keramat dimurcakannya pusaka-pusaka penting Majapahit.

Penulis dan juru kunci Pamoksan Maha Patih Gajah Mada | Foto Dok.Penulis

Tempat ini berupa sebuah batu besar yang dahulunya digunakan Gajah Mada dan pasukan pengikutnya untuk meletakkan pusaka-pusakanya. Gajah Mada berada di petilasan ini dalam rangkaian perjalannya ke barat setelah diberhentikan sebagai Maha Patih dikarenakan peristiwa perang Bubat.

Punden Majapahit yang berada di tengah area pesawahan bebatuan berbentuk terasering. Meskipun merupakan lahan batu, pertanian padi di Sawah Majapahit ini sangat baik. Pengairan tidak penah terkendala sehingga bisa dilakukan tiga kali tanam.

Penulis dipandu oleh Kepala Dusun I, Wahid dan Kepala Dusun III Desa Sadang Wetan, Arul mengunjungi situs Punden Majapahit yang diapit oleh Sungai Luk Ulo dan Sungai Loning. Cuaca sangat cerah ketika tiba di batu besar yang dipercaya sebagai Punden Majapahit, tempat pusaka Gajah Mada dikubur dan dimusnahkan secara gaib di tempat itu.

Perlu usaha keras dan menegangkan ketika menuju Punden Majapahit itu. Aksesibilitas menuju ke tempat keramat itu masih sangat sederhana. Kendaraan pengunjung diparkir di halaman rumah warga. Pengunjung harus melewati jembatan bambu di atas Sungai Loning. Jalan menuju punden penuh bebatuan dan licin. Setelah berjalan di atas pematang sawah yang sempit barulah tiba di area Punden Majapahit.

Aura mistis dan merinding terasa ketika penulis berada di sisi batu besar Punden Majapahit itu. Menurut Kepala Dusun I, Teguh, ada beberapa pengunjung yang pernah datang ke punden itu dengan tujuan tertentu. Namun bila bertujuan kurang baik, seperti ambisi untuk mendapatkan pusaka di punden biasanya pengunjung itu gagal dan mendapatkan musibah.

“Sampai saat ini belum ada juru kuncinya, karena belum ada warga yang berani,” tutur Teguh.

Berdasarkan pengamatan penulis, Punden Majapahit ini sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah, spiritual, dan edukasi. Dengan catatan harus ada perbaikan aksesibilitasnya. Papan informasi penunjuk arah menuju punden juga belum ada. Selain itu, belum ada narasi sejarah yang dibuat Pemerintah Kabupaten Kebumen dan Desa Sadang Wetan yang menceritakan keterkaitan Pemoksan Gajah Mada di Kompleks Mexolie dengan batu Punden Majapahit.

Pakar pemberdayaan masyarakat Prof.Dr.Adhi Iman Sulaiman sebagai pendamping penelitian menyatakan perlunya partisipasi masyarakat dalam upaya pengenalan, edukasi, dan pelestarian petilasan sejarah di Kebumen. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberdayaan di sekitar petilasan agar dapat dijadikan objek wisata sejarah dan edukasi, sehingga  memberi kontribusi nilai ekonomis bagi masyarakat, seperti UMKM.

Petilasan Gajah Mada di Kebumen adalah jejak sejarah masa lalu yang patut dilestarikan dan dituturkan pada generasi muda. Bukan untuk dimitoskan atau disakralkan. Namun lebih kepada upaya literasi sejarah agar tumbuh jiwa nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda saat ini. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gajah MadaKabupaten KebumenMajapahitsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

Next Post

Buzzer Rakyat

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Buzzer Rakyat

Buzzer Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co