26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Chusmeru by Chusmeru
May 25, 2026
in Tualang
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Batu Punden Majapahit/ Foto Dok.Penulis

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak peninggalan masa lalu yang layak menjadi literasi sejarah bagi generasi muda saat ini.

Kabupaten Kebumen berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di utara, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo di timur, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas di barat, serta Samudra Hindia di selatan. Memiliki luas 1.581,11 km2, Kebumen dihuni oleh 1.399.976 jiwa penduduk.

Tidak sulit untuk mengunjungi Kebumen yang berada di jalur tengah dan selatan Pulau Jawa. Sarana transportasi menuju dan dari Kebumen sangatlah mudah. Aksesibilitas Kebumen ditunjang oleh angkutan umum antarkota dan antarprovinsi serta stasiun kereta api.

Kompleks Mexolie, Kebumen | Foto Dok.Penulis

Potensi wisata Kabupaten Kebumen sangat banyak. Letak geografis yang dikelilingi bebukitan dan pantai menjadikan Kebumen memiliki banyak objek wisata alam, selain objek wisata sejarah dan religi. Banyak petilasan masa Kerajaan Majapahit dan Mataram yang terdapat di Kabupaten Kebumen.

Gua Jatijajar menjadi ikon pariwisata Kebumen. Gua Jatijajar dibentuk oleh alam selama ribuan tahun dan menjadi tempat berpetualang indah di perut bumi. Selain itu, kini banyak dikembangkan objek wisata pantai yang tereletak di selatan Kebumen.  

Untuk menilik potensi wisata sejarah, penulis bersama Tim Peneliti dari Fisip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengunjungi beberapa objek petilasan sejarah di Kebumen. Tri Nugroho Adi selaku Ketua Tim Peneliti berharap dapat merumuskan Model Komunikasi Pendidikan dalam Literasi Sejarah Petilasan sebagai Rekayasa Sosial dan Budaya untuk Generasi Muda.

Jejak Sejarah

Memiliki latar belakang sejarah yang panjang, Kebumen tidak dapat dilepaskan dari dua nama besar kerajaan di Jawa masa lalu, yaitu Majapahit dan Mataram. Nama Kebumen konon berasal dari kabumian, yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677.

Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer. Salah seorang cicit Pangeran Senopati bernama Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, turut berjasa dengan membuat lumbung padi bagi prajurit Mataram.

Situs Pertabatan Ratu Panjer Nagari | Foto Dok.Penulis

Wilayah Kebumen juga memiliki keterkaitan sejarah yang erat dengan kerajaan Majapahit, terbukti dengan ditemukannya situs Punden Majapahit di Desa Sadang Wetan. Daerah ini merupakan bagian dari jalur penting di pesisir selatan Jawa yang dilewati rombongan Majapahit dan menjadi saksi sejarah peralihan budaya di pesisir selatan.

Jejak sejarah Kebumen antara lain terdapat di Kompleks Mexolie, Panjer, yang memiliki kisah panjang dari masa kerajaan kuno hingga era kemerdekaan Indonesia. Salah satu peninggalan paling bersejarah di kompleks Mexolie adalah Situs Pertabatan Ratu Panjer Nagari dan Situs Pamoksan Maha Patih Gajah Mada dan Kuwu Panjer. Tempat ini dulunya diakui menjadi pusat pertemuan para raja dan tokoh penting kerajaan dengan penguasa Panjer di Pendopo Agung Panjer.

Di Kompleks Mexolie ini terjadi berbagai pertemuan bersejarah antara tokoh legendaris seperti Maha Patih Gajah Mada dan Raden Putra dari Kerajaan Majapahit, Wali dari Kerajaan Demak yang membawa ajaran Islam, hingga Susuhunan Agung Hanyakrakusuma saat Panjer menjadi lumbung logistik Mataram untuk menyerang VOC di Batavia. Bahkan konon Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Diponegoro pernah singgah di Panjer dalam perjuangan mereka melawan Belanda. Hal itu tertulis di batu prasasti yang terdapat di Kompleks Mexolie.

Kompleks Mexolie sendiri adalah situs bersejarah peninggalan Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1851 sebagai pabrik minyak kelapa besar. Kompleks ini awalnya merupakan bagian dari pusat pemerintahan di kawasan Panjer. Setelah Perang Dunia II, pabrik ini sempat dikenal sebagai Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati. Saat ini Mexolie dialihfungsikan sebagai hotel dengan konsep mempertahankan bentuk bangunan asli untuk menjaga nilai sejarahnya.

Penulis ditemani staf manajemen Hotel Mexolie, Teguh dan juru kunci Pemoksan Gajah Mada, Mbah Karman (90 tahun) mengunjungi kedua situs tersebut. Suasana mistis dan menegangkan sangat terasa ketika penulis bersama Mbah Karman memasuki situs pamoksan. Terdapat bekas sesaji bunga dan tempat pembakaran kemenyan.

Menurut Mbah Karman, Pemoksan Maha Patih Gajah Mada ini secara gaib ditunggu oleh sosok tinggi besar bernama Mbah Resa Wikrama. Biasanya setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon ada beberapa pengunjung yang melakukan ritual di situs pamoksan.

“Biasanya pengunjung mencari berkah kewibawaan,” ujar Mbah Karman.

Keberadaan dua situs peninggalan Majapahit dan Mataram tersebut justru menambah daya tarik Hotel Mexolie. Terbukti angka hunian hotelnya selalu berada di kisaran 60-80 persen. Bahkan menurut Teguh bila akhir pekan dan libur panjang dapat mencapai 95 persen. Ke depan pihak hotel akan berupaya agar kedua situs itu dapat menjadi bagian dari wisata sejarah dan edukasi; karena banyak tamu yang menginap di hotel mengunjungi situs tersebut.

Penulis bersama Kepala Dusun dan Peneliti Unsoed di Punden Majapahit | Foto Dok.Penulis

Tokoh masyarakat Kebumen, Mayjen TNI (Purn) Fulad mengatakan kepada penulis, petilasan Patih Gajah Mada yang berada di Kompleks Mexolie, di bawah pembinaan Kodim 0709 Kebumen, memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai situs sejarah. Tempat ini adalah ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, yang jika dikelola dengan tepat dapat memperkuat jati diri bangsa.

Kehadiran petilasan ini dari aspek sejarah menguatkan narasi bahwa pengaruh Majapahit menjangkau hingga Kebumen. Gajah Mada bukan hanya tokoh dari kitab Pararaton dan Negarakertagama, tetapi figur nyata yang jejaknya bisa dirasakan secara lokal. Merawat petilasan berarti menjaga bukti material bahwa sejarah Indonesia disusun dari berbagai daerah, bukan hanya dari pusat kekuasaan.

“Tanpa perawatan, sejarah akan menjadi mitos. Dengan perawatan, sejarah menjadi guru,” ujar Mayjen TNI (Purn) Fulad yang pernah menjabat sebagai Penasihat Militer RI untuk PBB 2017-2019.

Menurutnya, Gajah Mada dikenal melalui Sumpah Palapa, ikrar untuk menyatukan Nusantara. Nilai ini relevan dengan tantangan kebangsaan hari ini: menjaga persatuan di tengah keberagaman dan gempuran budaya asing. Petilasan akan tetap asing jika hanya menjadi objek wisata pasif. Di sinilah literasi sejarah berperan.

Melalui kegiatan seperti napak tilas, lomba menulis esai sejarah lokal, podcast sejarah Kebumen, dan digitalisasi cerita petilasan, tempat ini bisa menjadi “kelas terbuka” tanpa dinding. Literasi yang tumbuh dari konteks lokal akan lebih kuat membentuk identitas dan rasa memiliki daripada pelajaran sejarah yang abstrak.

“Jika sejarah dirawat, kebangsaan dikuatkan, dan literasi dihidupkan, maka situs ini akan menjadi lebih dari sekadar batu dan tanah. Ia akan menjadi tempat di mana generasi muda belajar bahwa menjadi Indonesia berarti mengingat, memahami, dan melanjutkan,” kata Mayjen TNI (Purn) Fulad yang juga pernah menjabat Wadanseskoad dan Irlat Itum Itjenad.

Situs Petilasan Gajah Mada

Kompleks Mexolie juga dipercaya sebagai tempat situs Pemoksan Gajah Mada menuju tingkatan Hambadan Cahya (berbadan cahaya). Salah satu penguat kepercayaan itu adalah ditemukannya situs Punden (tempat keramat) Majapahit di persawahan Desa Sadang Wetan, Kebumen. Tempat yang oleh masyarakat dinamakan Persawahan Majapahit ini disebut sebagai tempat keramat dimurcakannya pusaka-pusaka penting Majapahit.

Penulis dan juru kunci Pamoksan Maha Patih Gajah Mada | Foto Dok.Penulis

Tempat ini berupa sebuah batu besar yang dahulunya digunakan Gajah Mada dan pasukan pengikutnya untuk meletakkan pusaka-pusakanya. Gajah Mada berada di petilasan ini dalam rangkaian perjalannya ke barat setelah diberhentikan sebagai Maha Patih dikarenakan peristiwa perang Bubat.

Punden Majapahit yang berada di tengah area pesawahan bebatuan berbentuk terasering. Meskipun merupakan lahan batu, pertanian padi di Sawah Majapahit ini sangat baik. Pengairan tidak penah terkendala sehingga bisa dilakukan tiga kali tanam.

Penulis dipandu oleh Kepala Dusun I, Wahid dan Kepala Dusun III Desa Sadang Wetan, Arul mengunjungi situs Punden Majapahit yang diapit oleh Sungai Luk Ulo dan Sungai Loning. Cuaca sangat cerah ketika tiba di batu besar yang dipercaya sebagai Punden Majapahit, tempat pusaka Gajah Mada dikubur dan dimusnahkan secara gaib di tempat itu.

Perlu usaha keras dan menegangkan ketika menuju Punden Majapahit itu. Aksesibilitas menuju ke tempat keramat itu masih sangat sederhana. Kendaraan pengunjung diparkir di halaman rumah warga. Pengunjung harus melewati jembatan bambu di atas Sungai Loning. Jalan menuju punden penuh bebatuan dan licin. Setelah berjalan di atas pematang sawah yang sempit barulah tiba di area Punden Majapahit.

Aura mistis dan merinding terasa ketika penulis berada di sisi batu besar Punden Majapahit itu. Menurut Kepala Dusun I, Teguh, ada beberapa pengunjung yang pernah datang ke punden itu dengan tujuan tertentu. Namun bila bertujuan kurang baik, seperti ambisi untuk mendapatkan pusaka di punden biasanya pengunjung itu gagal dan mendapatkan musibah.

“Sampai saat ini belum ada juru kuncinya, karena belum ada warga yang berani,” tutur Teguh.

Berdasarkan pengamatan penulis, Punden Majapahit ini sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah, spiritual, dan edukasi. Dengan catatan harus ada perbaikan aksesibilitasnya. Papan informasi penunjuk arah menuju punden juga belum ada. Selain itu, belum ada narasi sejarah yang dibuat Pemerintah Kabupaten Kebumen dan Desa Sadang Wetan yang menceritakan keterkaitan Pemoksan Gajah Mada di Kompleks Mexolie dengan batu Punden Majapahit.

Pakar pemberdayaan masyarakat Prof.Dr.Adhi Iman Sulaiman sebagai pendamping penelitian menyatakan perlunya partisipasi masyarakat dalam upaya pengenalan, edukasi, dan pelestarian petilasan sejarah di Kebumen. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberdayaan di sekitar petilasan agar dapat dijadikan objek wisata sejarah dan edukasi, sehingga  memberi kontribusi nilai ekonomis bagi masyarakat, seperti UMKM.

Petilasan Gajah Mada di Kebumen adalah jejak sejarah masa lalu yang patut dilestarikan dan dituturkan pada generasi muda. Bukan untuk dimitoskan atau disakralkan. Namun lebih kepada upaya literasi sejarah agar tumbuh jiwa nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda saat ini. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gajah MadaKabupaten KebumenMajapahitsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

Next Post

Buzzer Rakyat

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Buzzer Rakyat

Buzzer Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co