MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak peninggalan masa lalu yang layak menjadi literasi sejarah bagi generasi muda saat ini.
Kabupaten Kebumen berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di utara, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo di timur, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas di barat, serta Samudra Hindia di selatan. Memiliki luas 1.581,11 km2, Kebumen dihuni oleh 1.399.976 jiwa penduduk.
Tidak sulit untuk mengunjungi Kebumen yang berada di jalur tengah dan selatan Pulau Jawa. Sarana transportasi menuju dan dari Kebumen sangatlah mudah. Aksesibilitas Kebumen ditunjang oleh angkutan umum antarkota dan antarprovinsi serta stasiun kereta api.

Potensi wisata Kabupaten Kebumen sangat banyak. Letak geografis yang dikelilingi bebukitan dan pantai menjadikan Kebumen memiliki banyak objek wisata alam, selain objek wisata sejarah dan religi. Banyak petilasan masa Kerajaan Majapahit dan Mataram yang terdapat di Kabupaten Kebumen.
Gua Jatijajar menjadi ikon pariwisata Kebumen. Gua Jatijajar dibentuk oleh alam selama ribuan tahun dan menjadi tempat berpetualang indah di perut bumi. Selain itu, kini banyak dikembangkan objek wisata pantai yang tereletak di selatan Kebumen.
Untuk menilik potensi wisata sejarah, penulis bersama Tim Peneliti dari Fisip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengunjungi beberapa objek petilasan sejarah di Kebumen. Tri Nugroho Adi selaku Ketua Tim Peneliti berharap dapat merumuskan Model Komunikasi Pendidikan dalam Literasi Sejarah Petilasan sebagai Rekayasa Sosial dan Budaya untuk Generasi Muda.
Jejak Sejarah
Memiliki latar belakang sejarah yang panjang, Kebumen tidak dapat dilepaskan dari dua nama besar kerajaan di Jawa masa lalu, yaitu Majapahit dan Mataram. Nama Kebumen konon berasal dari kabumian, yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677.
Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer. Salah seorang cicit Pangeran Senopati bernama Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, turut berjasa dengan membuat lumbung padi bagi prajurit Mataram.

Wilayah Kebumen juga memiliki keterkaitan sejarah yang erat dengan kerajaan Majapahit, terbukti dengan ditemukannya situs Punden Majapahit di Desa Sadang Wetan. Daerah ini merupakan bagian dari jalur penting di pesisir selatan Jawa yang dilewati rombongan Majapahit dan menjadi saksi sejarah peralihan budaya di pesisir selatan.
Jejak sejarah Kebumen antara lain terdapat di Kompleks Mexolie, Panjer, yang memiliki kisah panjang dari masa kerajaan kuno hingga era kemerdekaan Indonesia. Salah satu peninggalan paling bersejarah di kompleks Mexolie adalah Situs Pertabatan Ratu Panjer Nagari dan Situs Pamoksan Maha Patih Gajah Mada dan Kuwu Panjer. Tempat ini dulunya diakui menjadi pusat pertemuan para raja dan tokoh penting kerajaan dengan penguasa Panjer di Pendopo Agung Panjer.
Di Kompleks Mexolie ini terjadi berbagai pertemuan bersejarah antara tokoh legendaris seperti Maha Patih Gajah Mada dan Raden Putra dari Kerajaan Majapahit, Wali dari Kerajaan Demak yang membawa ajaran Islam, hingga Susuhunan Agung Hanyakrakusuma saat Panjer menjadi lumbung logistik Mataram untuk menyerang VOC di Batavia. Bahkan konon Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Diponegoro pernah singgah di Panjer dalam perjuangan mereka melawan Belanda. Hal itu tertulis di batu prasasti yang terdapat di Kompleks Mexolie.
Kompleks Mexolie sendiri adalah situs bersejarah peninggalan Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1851 sebagai pabrik minyak kelapa besar. Kompleks ini awalnya merupakan bagian dari pusat pemerintahan di kawasan Panjer. Setelah Perang Dunia II, pabrik ini sempat dikenal sebagai Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati. Saat ini Mexolie dialihfungsikan sebagai hotel dengan konsep mempertahankan bentuk bangunan asli untuk menjaga nilai sejarahnya.
Penulis ditemani staf manajemen Hotel Mexolie, Teguh dan juru kunci Pemoksan Gajah Mada, Mbah Karman (90 tahun) mengunjungi kedua situs tersebut. Suasana mistis dan menegangkan sangat terasa ketika penulis bersama Mbah Karman memasuki situs pamoksan. Terdapat bekas sesaji bunga dan tempat pembakaran kemenyan.
Menurut Mbah Karman, Pemoksan Maha Patih Gajah Mada ini secara gaib ditunggu oleh sosok tinggi besar bernama Mbah Resa Wikrama. Biasanya setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon ada beberapa pengunjung yang melakukan ritual di situs pamoksan.
“Biasanya pengunjung mencari berkah kewibawaan,” ujar Mbah Karman.
Keberadaan dua situs peninggalan Majapahit dan Mataram tersebut justru menambah daya tarik Hotel Mexolie. Terbukti angka hunian hotelnya selalu berada di kisaran 60-80 persen. Bahkan menurut Teguh bila akhir pekan dan libur panjang dapat mencapai 95 persen. Ke depan pihak hotel akan berupaya agar kedua situs itu dapat menjadi bagian dari wisata sejarah dan edukasi; karena banyak tamu yang menginap di hotel mengunjungi situs tersebut.

Tokoh masyarakat Kebumen, Mayjen TNI (Purn) Fulad mengatakan kepada penulis, petilasan Patih Gajah Mada yang berada di Kompleks Mexolie, di bawah pembinaan Kodim 0709 Kebumen, memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai situs sejarah. Tempat ini adalah ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, yang jika dikelola dengan tepat dapat memperkuat jati diri bangsa.
Kehadiran petilasan ini dari aspek sejarah menguatkan narasi bahwa pengaruh Majapahit menjangkau hingga Kebumen. Gajah Mada bukan hanya tokoh dari kitab Pararaton dan Negarakertagama, tetapi figur nyata yang jejaknya bisa dirasakan secara lokal. Merawat petilasan berarti menjaga bukti material bahwa sejarah Indonesia disusun dari berbagai daerah, bukan hanya dari pusat kekuasaan.
“Tanpa perawatan, sejarah akan menjadi mitos. Dengan perawatan, sejarah menjadi guru,” ujar Mayjen TNI (Purn) Fulad yang pernah menjabat sebagai Penasihat Militer RI untuk PBB 2017-2019.
Menurutnya, Gajah Mada dikenal melalui Sumpah Palapa, ikrar untuk menyatukan Nusantara. Nilai ini relevan dengan tantangan kebangsaan hari ini: menjaga persatuan di tengah keberagaman dan gempuran budaya asing. Petilasan akan tetap asing jika hanya menjadi objek wisata pasif. Di sinilah literasi sejarah berperan.
Melalui kegiatan seperti napak tilas, lomba menulis esai sejarah lokal, podcast sejarah Kebumen, dan digitalisasi cerita petilasan, tempat ini bisa menjadi “kelas terbuka” tanpa dinding. Literasi yang tumbuh dari konteks lokal akan lebih kuat membentuk identitas dan rasa memiliki daripada pelajaran sejarah yang abstrak.
“Jika sejarah dirawat, kebangsaan dikuatkan, dan literasi dihidupkan, maka situs ini akan menjadi lebih dari sekadar batu dan tanah. Ia akan menjadi tempat di mana generasi muda belajar bahwa menjadi Indonesia berarti mengingat, memahami, dan melanjutkan,” kata Mayjen TNI (Purn) Fulad yang juga pernah menjabat Wadanseskoad dan Irlat Itum Itjenad.
Situs Petilasan Gajah Mada
Kompleks Mexolie juga dipercaya sebagai tempat situs Pemoksan Gajah Mada menuju tingkatan Hambadan Cahya (berbadan cahaya). Salah satu penguat kepercayaan itu adalah ditemukannya situs Punden (tempat keramat) Majapahit di persawahan Desa Sadang Wetan, Kebumen. Tempat yang oleh masyarakat dinamakan Persawahan Majapahit ini disebut sebagai tempat keramat dimurcakannya pusaka-pusaka penting Majapahit.

Tempat ini berupa sebuah batu besar yang dahulunya digunakan Gajah Mada dan pasukan pengikutnya untuk meletakkan pusaka-pusakanya. Gajah Mada berada di petilasan ini dalam rangkaian perjalannya ke barat setelah diberhentikan sebagai Maha Patih dikarenakan peristiwa perang Bubat.
Punden Majapahit yang berada di tengah area pesawahan bebatuan berbentuk terasering. Meskipun merupakan lahan batu, pertanian padi di Sawah Majapahit ini sangat baik. Pengairan tidak penah terkendala sehingga bisa dilakukan tiga kali tanam.
Penulis dipandu oleh Kepala Dusun I, Wahid dan Kepala Dusun III Desa Sadang Wetan, Arul mengunjungi situs Punden Majapahit yang diapit oleh Sungai Luk Ulo dan Sungai Loning. Cuaca sangat cerah ketika tiba di batu besar yang dipercaya sebagai Punden Majapahit, tempat pusaka Gajah Mada dikubur dan dimusnahkan secara gaib di tempat itu.
Perlu usaha keras dan menegangkan ketika menuju Punden Majapahit itu. Aksesibilitas menuju ke tempat keramat itu masih sangat sederhana. Kendaraan pengunjung diparkir di halaman rumah warga. Pengunjung harus melewati jembatan bambu di atas Sungai Loning. Jalan menuju punden penuh bebatuan dan licin. Setelah berjalan di atas pematang sawah yang sempit barulah tiba di area Punden Majapahit.
Aura mistis dan merinding terasa ketika penulis berada di sisi batu besar Punden Majapahit itu. Menurut Kepala Dusun I, Teguh, ada beberapa pengunjung yang pernah datang ke punden itu dengan tujuan tertentu. Namun bila bertujuan kurang baik, seperti ambisi untuk mendapatkan pusaka di punden biasanya pengunjung itu gagal dan mendapatkan musibah.
“Sampai saat ini belum ada juru kuncinya, karena belum ada warga yang berani,” tutur Teguh.
Berdasarkan pengamatan penulis, Punden Majapahit ini sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah, spiritual, dan edukasi. Dengan catatan harus ada perbaikan aksesibilitasnya. Papan informasi penunjuk arah menuju punden juga belum ada. Selain itu, belum ada narasi sejarah yang dibuat Pemerintah Kabupaten Kebumen dan Desa Sadang Wetan yang menceritakan keterkaitan Pemoksan Gajah Mada di Kompleks Mexolie dengan batu Punden Majapahit.
Pakar pemberdayaan masyarakat Prof.Dr.Adhi Iman Sulaiman sebagai pendamping penelitian menyatakan perlunya partisipasi masyarakat dalam upaya pengenalan, edukasi, dan pelestarian petilasan sejarah di Kebumen. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberdayaan di sekitar petilasan agar dapat dijadikan objek wisata sejarah dan edukasi, sehingga memberi kontribusi nilai ekonomis bagi masyarakat, seperti UMKM.
Petilasan Gajah Mada di Kebumen adalah jejak sejarah masa lalu yang patut dilestarikan dan dituturkan pada generasi muda. Bukan untuk dimitoskan atau disakralkan. Namun lebih kepada upaya literasi sejarah agar tumbuh jiwa nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda saat ini. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole




























