6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

Made Chandra by Made Chandra
May 25, 2026
in Panggung
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

Garbha Gambuh dan anak-anak | Foto: Made Chandra

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan malaikat-malaikat kecil nan polos. Mereka menari-nari, bermain dan menebar kebahagiaan bagi siapa pun yang melihatnya.

Sore itu Bumi Bajra—begitu mereka memperkenalkan dirinya—menggelar sebuah showcase pertunjukan dalam satu kalangan belajar, di mana acara tersebut secara bergantian menampilkan berbagai koreografi pertunjukan, khususnya tari yang dikemas dalam perspektif segar nan atraktif.

Walau ini yang pertama, aku seperti dimanjakan akan berbagai pertunjukan yang tak biasa aku lihat, di tempat-tempat lain. Ada sesuatu yang melebur di antara batas tradisi dan kesadaran seni hari ini. Sebuah hal langka di kala banyak orang berbondong-bondong mengejar panggung lomba yang begitu prestisius.Pertunjukan-pertunjukan ini terasa tidak sedang berusaha memenuhi standar kompetisi, namun menawarkan ruang bagi pengalaman artistik yang lebih jujur dan organik.

Meskipun terlihat seperti sanggar, ruang ini mungkin lebih cocok disebut sebagai laboratorium kreatif, sebuah wadah yang memfokuskan praktik mereka pada dunia pertunjukan yang begitu cair. Maka sebutan “Laboratorium” sejalan dengan praktik ruang ini.  Dimana  eksplorasi, percobaan, dan proses belajar yang tidak sepenuhnya dibatasi oleh pakem pertunjukan konvensional, ia menemukan kemungkinan baru dalam perluasan bentuk pementasan.

Karena, dibanding mengulang pola-pola sanggar pada umumnya, Bumi Bajra justru menaruh perhatian lebih pada eksplorasi kesadaran tubuh. Bahkan praktiknya hadir dalam tubuh-tubuh anak yang sungguh masih belia. Mereka yang sebagian besar diantar oleh orang tuanya.

Kaburnya Batas-Batas Tari

Seperti halnya disiplin tari, kita mengenal berbagai konvensi-konvensi klasik soal apa dan bagaimana sesuatu bisa disebut sebagai sebuah tari. Apakah dengan sekadar menggerakkan sekelumit organ tubuh, bisa disebut dengan tari. Atau berbagai disiplin gerak yang termuat dalam aturan kompleks nan ketat. Ribet bukan?

Garbha Gambuh dan anak-anak | Foto: Made Chandra

Sepertinya membahas hal tersebut, lebih membawa kita pada percakapan tak berujung. Semua memiliki perspektif dan titik pandang mereka terhadap pemahaman disiplin ini. Sehingga sulit pula untuk menentukan bagaimana kita mendefinisikan tari dalam konteks pemahaman kultural yang begitu luas.

Lalu apa yang coba ditawarkan oleh Bumi Bajra?

Garbha Madya (Garbha Gambuh) | Foto: Made Chandra

Ruang yang menjadi bagian dari payung besar Yayasan Maha Bajra Sandhi ini, tumbuh dan berkembang atas pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Apakah kita memahami tubuh kita? Apakah kita memahami potensi gerak yang muncul dari setiap individu? Dan apakah semua orang berhak dan bisa menari, tanpa terikat batas estetika pakem yang mapan.Pertanyaan-pertanyaan ini terasa menyentil karena membuka kemungkinan bahwa tubuh setiap orang menyimpan bahasa geraknya sendiri, bahkan hanya dengan sedikit stimulasi saja.

Semua itu terjawab dari pertunjukan yang dihadirkan sore ke malam itu. Berbagai lapisan umur menampilkan potensi kinetik terbaik mereka. Mulai dari yang tergabung dalam Garbha Madya yaitu mereka yang masih ataupun telah melewati masa remaja. Sampai Garbha Alit yang mengakomodir potensi cilik dari wajah-wajah lugu yang aku sendiri kagum, bagaimana mereka bisa kompak dalam satu koreo yang telah dibekalkan kepada mereka.

Masing-masing dari kelompok umur berlomba-lomba untuk memunculkan berbagai potensi sensorik mereka dalam sebuah agenda pertunjukan.

Seperti yang terlihat pada koreo Garbha Gambuh, yang menampilkan satu dramaturgi yang berakar dari kesenian Gambuh ritual yang telah eksis sangat lama. Namun yang berbeda adalah cara mereka meleburkan batas-batas sensori tubuh, baik bunyi-bunyian yang teresap melalui telinga, gerakan tubuh yang begitu lugas, hingga olah vokal yang meliuk-liuk. Semua terangkum dalam satu garapan pertunjukan yang sangat menyegarkan.

Garbha Alit (Makan) | Foto: Made Chandra

 

Kemudian Garbha Alit yang membawa karya berjudul Makan. Sebuah garapan yang mengeksplorasi gerak dan pengalaman yang berkaitan dengan cara kita makan. Terutama dari mereka yang masih sangat belia. Ide yang terlihat sangat sederhana, justru berhasil memaksimalkan kejujuran dan potensi kinetik dari kepolosan anak-anak yang bergerak lincah dari hulu ke hilir, tentu dengan satu acuan koreo, namun tak terpatri dalam intervensi tubuh yang terlalu ketat.

Dan juga tentu pertunjukan-pertunjukan lain yang disuguhkan oleh berbagai komunitas lain, yang tak kalah nakal. Ada yang berkutat dengan narasi pengalaman tubuh personal, laku masa kecil atau imaji cerita rakyat yang dilakonkan ulang dalam sebuah repertoar lintas kultural.

Imaji Panji oleh Yanuari | Foto: Made Chandra

Kesadaran Seni, Tubuh dan Relasi

Banyak yang bisa mempraktikkan tari Bali dengan begitu presisinya, tapi seberapa banyak yang tahu dan menyadari makna, serta jejak historis dari sebuah tari, bahkan dari hal sederhana seperti Agem. Ketepatan teknik sering kali menjadi fokus utama, padahal kesadaran atas makna dan konteks budaya justru menjadi ruh yang menghidupkan sebuah gerak.

Inilah yang coba dipantik oleh Bumi Bajra dalam satu panel diskusi yang membawa perbincangan soal proses kreatif. Bagian krusial pada terlahirnya sebuah karya seni.

Diskusi ini menghadirkan Agus Wiratama sebagai seorang penulis dan dramaturg pertunjukan, serta Pennawati yang seorang perupa perempuan yang berkutat pada eksplorasi medium tekstil. Diskusi yang di moderatori oleh Gus Sena ini menguak percakapan dapur dari para seniman dalam dua disiplin yang berbeda, yaitu seni pertunjukan dan seni rupa.

Panel Diskusi antara Agus Wiratama dan Pennawati yang dimoderatori oleh Mahijasena | Foto: Made Chandra

Pemaparan dan pertanyaan silih berganti mengisi jalannya pembicaraan. Diskusi ini berbuah pada satu kata kunci yang bisa aku ambil yaitu kesadaran. Sebuah hal sederhana yang kerap terlewat dari kacamata kita.

Mengapa kemudian itu menjadi penting?

Sebagai contoh, apa yang membedakan praktik ritual seperti membuat canang dengan mereka yang merajut wol lalu dipamerkan sebagai sebuah karya seni? Bukankah keduanya lekat dengan kerja-kerja tangan dan pengetahuan craftsmanship yang tinggi?

Lalu mengapa yang satu bisa disebut dengan seni, yang satu tidak? Ini bukan soal mengkotak-kotakan, tapi soal mencoba memahami sesuatu yang secara fundamental, sehingga tak berakhir pada pemahaman yang bias.

Kesadaran seni lah yang membuat kedua pekerjaan tersebut bekerja pada konteks yang berbeda. Bagaimana bila dibalik? Bisakah canang yang lumrah tersebut ditempatkan dalam konteks sebagai karya seni, dan dipamerkan? Jawabannya, tentu! Lalu, tak menutup kemungkinan rajutan benang wol yang telah dibuat dengan susah payah kemudian berhenti pada bentuk kerajinan semata.

Begitupun dengan tubuh. Dalam konteks seni pertunjukan, terutama tari. Persoalan ketubuhan adalah harga mati seorang performer. Lekak-lekuk sendi serta ketahanan otot mereka dilatih sedemikian rupa untuk menampung berbagai kemungkinan gerak.

Main yuk oleh Yayasan Gopal Sundaram Art | Foto: Made Chandra

Inilah yang menjadikan Bumi Bajra unik dengan pendekatan yang justru menggali ke dalam—menawarkan cara pandang segar dalam melihat, mengalami dan memaknai sebuah suguhan pertunjukan. Kesadaran atas tubuh dan relasi estetikanya membuat karya-karya mereka tidak hanya terasa di permukaan, tapi menyelam hingga ke dalam.

Aku yakin, anak kecil tak perlu cepat-cepat menjadi dewasa untuk menari dalam konsentrasi tari yang ketat. Kesadaran mereka atas tubuh dan otentisitas gerakan yang dimaksimalkan justru membuat mereka menari dengan jujur, tanpa stimulasi yang dibuat-buat hanya untuk menampilkan kesempurnaan hasil.

Di sinilah Bumi Bajra menjadi ruang tumbuh yang menubuh. Sebuah wadah yang menampung kreativitas, spontanitas dan kenakalan artistik yang dipelihara senantiasa dalam diri setiap individu kreatif. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakBumi Bajrakesenian baliKesenian Gambuhseni pertunjukanTari GambuhTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

by tatkala
November 6, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

Read moreDetails

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
0
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

Read moreDetails

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails
Next Post
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co