6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

Made Chandra by Made Chandra
May 25, 2026
in Panggung
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

Garbha Gambuh dan anak-anak | Foto: Made Chandra

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan malaikat-malaikat kecil nan polos. Mereka menari-nari, bermain dan menebar kebahagiaan bagi siapa pun yang melihatnya.

Sore itu Bumi Bajra—begitu mereka memperkenalkan dirinya—menggelar sebuah showcase pertunjukan dalam satu kalangan belajar, di mana acara tersebut secara bergantian menampilkan berbagai koreografi pertunjukan, khususnya tari yang dikemas dalam perspektif segar nan atraktif.

Walau ini yang pertama, aku seperti dimanjakan akan berbagai pertunjukan yang tak biasa aku lihat, di tempat-tempat lain. Ada sesuatu yang melebur di antara batas tradisi dan kesadaran seni hari ini. Sebuah hal langka di kala banyak orang berbondong-bondong mengejar panggung lomba yang begitu prestisius.Pertunjukan-pertunjukan ini terasa tidak sedang berusaha memenuhi standar kompetisi, namun menawarkan ruang bagi pengalaman artistik yang lebih jujur dan organik.

Meskipun terlihat seperti sanggar, ruang ini mungkin lebih cocok disebut sebagai laboratorium kreatif, sebuah wadah yang memfokuskan praktik mereka pada dunia pertunjukan yang begitu cair. Maka sebutan “Laboratorium” sejalan dengan praktik ruang ini.  Dimana  eksplorasi, percobaan, dan proses belajar yang tidak sepenuhnya dibatasi oleh pakem pertunjukan konvensional, ia menemukan kemungkinan baru dalam perluasan bentuk pementasan.

Karena, dibanding mengulang pola-pola sanggar pada umumnya, Bumi Bajra justru menaruh perhatian lebih pada eksplorasi kesadaran tubuh. Bahkan praktiknya hadir dalam tubuh-tubuh anak yang sungguh masih belia. Mereka yang sebagian besar diantar oleh orang tuanya.

Kaburnya Batas-Batas Tari

Seperti halnya disiplin tari, kita mengenal berbagai konvensi-konvensi klasik soal apa dan bagaimana sesuatu bisa disebut sebagai sebuah tari. Apakah dengan sekadar menggerakkan sekelumit organ tubuh, bisa disebut dengan tari. Atau berbagai disiplin gerak yang termuat dalam aturan kompleks nan ketat. Ribet bukan?

Garbha Gambuh dan anak-anak | Foto: Made Chandra

Sepertinya membahas hal tersebut, lebih membawa kita pada percakapan tak berujung. Semua memiliki perspektif dan titik pandang mereka terhadap pemahaman disiplin ini. Sehingga sulit pula untuk menentukan bagaimana kita mendefinisikan tari dalam konteks pemahaman kultural yang begitu luas.

Lalu apa yang coba ditawarkan oleh Bumi Bajra?

Garbha Madya (Garbha Gambuh) | Foto: Made Chandra

Ruang yang menjadi bagian dari payung besar Yayasan Maha Bajra Sandhi ini, tumbuh dan berkembang atas pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Apakah kita memahami tubuh kita? Apakah kita memahami potensi gerak yang muncul dari setiap individu? Dan apakah semua orang berhak dan bisa menari, tanpa terikat batas estetika pakem yang mapan.Pertanyaan-pertanyaan ini terasa menyentil karena membuka kemungkinan bahwa tubuh setiap orang menyimpan bahasa geraknya sendiri, bahkan hanya dengan sedikit stimulasi saja.

Semua itu terjawab dari pertunjukan yang dihadirkan sore ke malam itu. Berbagai lapisan umur menampilkan potensi kinetik terbaik mereka. Mulai dari yang tergabung dalam Garbha Madya yaitu mereka yang masih ataupun telah melewati masa remaja. Sampai Garbha Alit yang mengakomodir potensi cilik dari wajah-wajah lugu yang aku sendiri kagum, bagaimana mereka bisa kompak dalam satu koreo yang telah dibekalkan kepada mereka.

Masing-masing dari kelompok umur berlomba-lomba untuk memunculkan berbagai potensi sensorik mereka dalam sebuah agenda pertunjukan.

Seperti yang terlihat pada koreo Garbha Gambuh, yang menampilkan satu dramaturgi yang berakar dari kesenian Gambuh ritual yang telah eksis sangat lama. Namun yang berbeda adalah cara mereka meleburkan batas-batas sensori tubuh, baik bunyi-bunyian yang teresap melalui telinga, gerakan tubuh yang begitu lugas, hingga olah vokal yang meliuk-liuk. Semua terangkum dalam satu garapan pertunjukan yang sangat menyegarkan.

Garbha Alit (Makan) | Foto: Made Chandra

 

Kemudian Garbha Alit yang membawa karya berjudul Makan. Sebuah garapan yang mengeksplorasi gerak dan pengalaman yang berkaitan dengan cara kita makan. Terutama dari mereka yang masih sangat belia. Ide yang terlihat sangat sederhana, justru berhasil memaksimalkan kejujuran dan potensi kinetik dari kepolosan anak-anak yang bergerak lincah dari hulu ke hilir, tentu dengan satu acuan koreo, namun tak terpatri dalam intervensi tubuh yang terlalu ketat.

Dan juga tentu pertunjukan-pertunjukan lain yang disuguhkan oleh berbagai komunitas lain, yang tak kalah nakal. Ada yang berkutat dengan narasi pengalaman tubuh personal, laku masa kecil atau imaji cerita rakyat yang dilakonkan ulang dalam sebuah repertoar lintas kultural.

Imaji Panji oleh Yanuari | Foto: Made Chandra

Kesadaran Seni, Tubuh dan Relasi

Banyak yang bisa mempraktikkan tari Bali dengan begitu presisinya, tapi seberapa banyak yang tahu dan menyadari makna, serta jejak historis dari sebuah tari, bahkan dari hal sederhana seperti Agem. Ketepatan teknik sering kali menjadi fokus utama, padahal kesadaran atas makna dan konteks budaya justru menjadi ruh yang menghidupkan sebuah gerak.

Inilah yang coba dipantik oleh Bumi Bajra dalam satu panel diskusi yang membawa perbincangan soal proses kreatif. Bagian krusial pada terlahirnya sebuah karya seni.

Diskusi ini menghadirkan Agus Wiratama sebagai seorang penulis dan dramaturg pertunjukan, serta Pennawati yang seorang perupa perempuan yang berkutat pada eksplorasi medium tekstil. Diskusi yang di moderatori oleh Gus Sena ini menguak percakapan dapur dari para seniman dalam dua disiplin yang berbeda, yaitu seni pertunjukan dan seni rupa.

Panel Diskusi antara Agus Wiratama dan Pennawati yang dimoderatori oleh Mahijasena | Foto: Made Chandra

Pemaparan dan pertanyaan silih berganti mengisi jalannya pembicaraan. Diskusi ini berbuah pada satu kata kunci yang bisa aku ambil yaitu kesadaran. Sebuah hal sederhana yang kerap terlewat dari kacamata kita.

Mengapa kemudian itu menjadi penting?

Sebagai contoh, apa yang membedakan praktik ritual seperti membuat canang dengan mereka yang merajut wol lalu dipamerkan sebagai sebuah karya seni? Bukankah keduanya lekat dengan kerja-kerja tangan dan pengetahuan craftsmanship yang tinggi?

Lalu mengapa yang satu bisa disebut dengan seni, yang satu tidak? Ini bukan soal mengkotak-kotakan, tapi soal mencoba memahami sesuatu yang secara fundamental, sehingga tak berakhir pada pemahaman yang bias.

Kesadaran seni lah yang membuat kedua pekerjaan tersebut bekerja pada konteks yang berbeda. Bagaimana bila dibalik? Bisakah canang yang lumrah tersebut ditempatkan dalam konteks sebagai karya seni, dan dipamerkan? Jawabannya, tentu! Lalu, tak menutup kemungkinan rajutan benang wol yang telah dibuat dengan susah payah kemudian berhenti pada bentuk kerajinan semata.

Begitupun dengan tubuh. Dalam konteks seni pertunjukan, terutama tari. Persoalan ketubuhan adalah harga mati seorang performer. Lekak-lekuk sendi serta ketahanan otot mereka dilatih sedemikian rupa untuk menampung berbagai kemungkinan gerak.

Main yuk oleh Yayasan Gopal Sundaram Art | Foto: Made Chandra

Inilah yang menjadikan Bumi Bajra unik dengan pendekatan yang justru menggali ke dalam—menawarkan cara pandang segar dalam melihat, mengalami dan memaknai sebuah suguhan pertunjukan. Kesadaran atas tubuh dan relasi estetikanya membuat karya-karya mereka tidak hanya terasa di permukaan, tapi menyelam hingga ke dalam.

Aku yakin, anak kecil tak perlu cepat-cepat menjadi dewasa untuk menari dalam konsentrasi tari yang ketat. Kesadaran mereka atas tubuh dan otentisitas gerakan yang dimaksimalkan justru membuat mereka menari dengan jujur, tanpa stimulasi yang dibuat-buat hanya untuk menampilkan kesempurnaan hasil.

Di sinilah Bumi Bajra menjadi ruang tumbuh yang menubuh. Sebuah wadah yang menampung kreativitas, spontanitas dan kenakalan artistik yang dipelihara senantiasa dalam diri setiap individu kreatif. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakBumi Bajrakesenian baliKesenian Gambuhseni pertunjukanTari GambuhTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails
Next Post
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co