6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perokok Bertanggung Jawab

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 25, 2026
in Esai
Perokok Bertanggung Jawab

Foto ilustrasi dari penulis

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di beberapa bagian. Permukaannya kusam seperti benda yang terlalu sering disentuh tangan dan asap. Pada badan kaleng itu ditempel secarik tulisan yang mengingatkan orang agar membuang abu dan puntung rokok pada tempat yang telah disediakan. Tulisan sederhana yang mungkin dibaca sekilas lalu dilupakan.

Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Sebagian menepuk-nepuk abu rokoknya pelan ke dalam kaleng itu. Sebagian lain membiarkan puntung tetap tercecer di lantai beranda. Ada yang meninggalkan bungkus rokok kosong di atas meja kayu. Ada pula yang pergi begitu saja sambil menyisakan abu berhamburan seperti bekas sesuatu yang tidak ingin lagi diingat.

Pemandangan seperti itu sebenarnya sangat biasa. Beranda toko modern kini perlahan menjadi ruang singgah kecil bagi banyak orang. Tempat pengemudi ojek online beristirahat sebentar sambil menunggu pesanan berikutnya. Tempat pegawai toko keluar sejenak mencari udara setelah berjam-jam berdiri di bawah cahaya lampu putih dan pendingin ruangan, mahasiswa membeli kopi murah sebelum kembali ke kamar kos, atau tempat orang-orang duduk sambil memandangi jalan yang tidak pernah benar-benar tidur.

Di Denpasar, terutama menjelang malam, meja kayu panjang di depan toko modern sering terasa seperti ruang sosial kecil yang aneh. Orang-orang yang tidak saling mengenal bisa duduk berdampingan tanpa banyak percakapan. Ada yang sibuk dengan telepon genggamnya, meneguk kopi sachet perlahan, atau ada juga yang  mengembuskan asap rokok sambil memandangi kendaraan berlalu-lalang.

Saya sering memperhatikan tempat-tempat seperti itu. Sebab kadang kehidupan terlihat lebih jujur di ruang-ruang sederhana semacam itu daripada di ruang formal yang penuh basa-basi.

Dari meja kayu panjang itu, saya merasa bisa melihat banyak hal tentang masyarakat kita.Tentang bagaimana seseorang memperlakukan ruang bersama, atau meninggalkan jejak setelah selesai menikmati sesuatu. Juga, tentang apakah kita masih memiliki kesadaran bahwa tempat umum juga perlu dijaga bersama-sama.

Dulu beberapa toko sempat menyediakan asbak konvensional. Bentuknya bagus dan memang layak disebut asbak. Namun lama-lama hilang. Entah dibawa pulang siapa. Mungkin dianggap barang kecil yang tidak penting. Akhirnya, kaleng bekas menjadi pilihan paling aman. Murah, sederhana, dan kalau hilang tidak terlalu merugikan.

Ada sesuatu yang terasa ironis dalam keadaan itu. Kita hidup di tengah bangunan yang semakin modern. Lampu-lampu terang menyala hampir dua puluh empat jam. Pembayaran bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QR. Kamera pengawas dipasang di sudut-sudut toko. Namun menjaga benda kecil seperti asbak saja ternyata masih sulit.

Kadang saya berpikir, mungkin masalah kita memang bukan soal modern atau tidak modern. Kita mungkin modern dalam teknologi, tetapi belum tentu modern dalam kesadaran publik.

Orang masih dengan mudah membuang sampah dari atas motor. Gelas kopi plastik ditinggalkan di meja begitu saja. Puntung rokok dijepit di sela pot tanaman. Bahkan ada yang meninggalkan abu rokok berserakan di meja kayu panjang itu, lalu pergi tanpa merasa telah mengotori ruang bersama. Hal-hal kecil seperti itu sering dianggap sepele. Padahal justru dari situlah watak sosial sebuah masyarakat terlihat.

Saya pernah melihat seseorang selesai merokok, lalu dengan santai melempar puntung rokok ke area parkir, padahal kaleng asbak hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya duduk. Yang membuat saya heran bukan tindakannya semata, melainkan ekspresi wajahnya yang begitu biasa. Seolah tidak ada yang salah.

Mungkin karena terlalu sering melihat hal semacam itu, kita akhirnya ikut menganggapnya wajar. Padahal ruang publik tidak pernah benar-benar kotor dengan sendirinya. Ia menjadi kotor karena ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang setiap hari.

Karena itu saya diam-diam kagum pada seorang teman perokok. Ia selalu membawa asbak kecil sendiri di dalam tasnya. Bentuknya sederhana, sebesar telapak tangan. Setiap selesai merokok, ia memasukkan puntung ke sana. Tidak dibuang sembarangan,  ditinggalkan di atas meja, atau dilempar begitu saja ke selokan.

Awalnya saya menganggap itu terlalu repot. Namun semakin dipikirkan, justru di situlah letak tanggung jawab yang sesungguhnya. Ia sadar bahwa kebiasaan merokok adalah pilihannya sendiri. Maka sisa dari kebiasaan itu juga menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Bukan tanggung jawab petugas kebersihan, pegawai toko. Bukan pula tanggung jawab orang lain yang datang setelahnya. Hal sederhana seperti itu kini terasa semakin langka.

Kita hidup di tengah masyarakat yang sering berbicara besar tentang moral, budaya, dan sopan santun, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru sering gagal menjaga hal-hal kecil. Orang mudah marah melihat berita korupsi miliaran rupiah, tetapi santai membuang sampah sembarangan.

Atau, ibuk membicarakan kerusakan lingkungan di media sosial, tetapi meninggalkan gelas plastik di pantai setelah menikmati matahari terbenam. Orang berbicara tentang tata krama dengan penuh semangat, tetapi tidak merasa bersalah ketika meninggalkan puntung rokok di meja yang akan dipakai orang lain.

Mungkin memang begitulah manusia. Kita sering merasa sudah cukup baik hanya karena memiliki pendapat yang benar, padahal tanggung jawab sosial justru terlihat dari tindakan kecil yang dilakukan saat tidak ada yang memperhatikan.

Saya teringat pada suasana masa kecil di Bali ketika orang-orang masih punya rasa malu jika mengotori lingkungan sekitar rumah. Halaman disapu setiap pagi. Selokan dibersihkan bersama-sama. Bahkan daun jatuh di depan rumah tetangga kadang ikut dipungut.

Bukan karena takut didenda atau karena ingin dipuji. Ada kesadaran sederhana bahwa ruang bersama perlu dijaga bersama-sama. Sekarang kesadaran seperti itu terasa mulai menipis.

Kota semakin padat. Orang semakin sibuk. Hubungan antarwarga semakin renggang. Banyak orang hidup di tengah keramaian, tetapi tidak benar-benar merasa memiliki lingkungan tempat mereka tinggal. Akibatnya, ruang publik sering diperlakukan seperti tempat singgah tanpa tanggung jawab. Dipakai seperlunya, lalu ditinggalkan begitu saja. Padahal ruang publik adalah cermin kecil tentang siapa kita sebenarnya.

Meja kayu panjang di beranda toko modern itu mungkin tampak sepele. Namun dari sana kita bisa melihat bagaimana seseorang memperlakukan tempat yang bukan miliknya. Kita bisa melihat apakah ia masih memiliki rasa peduli terhadap orang lain yang akan duduk di sana setelah dirinya pergi.

Dan mungkin karena terlalu sering melihat puntung rokok tercecer di sekitar meja itu, seseorang akhirnya menempelkan tulisan kecil pada kaleng bekas tadi. Sebuah permintaan sederhana agar orang mau sedikit lebih bertanggung jawab. Tidak besar. Tidak muluk-muluk. Hanya meminta abu dan puntung rokok dibuang pada tempatnya.

Namun bahkan permintaan sesederhana itu ternyata belum tentu mudah dilakukan. Kadang saya membayangkan, alangkah baiknya jika lebih banyak orang membawa “asbak kecil” masing-masing dalam hidupnya.

Bukan sekadar asbak untuk puntung rokok, melainkan kesadaran untuk membereskan akibat dari kebiasaan sendiri. Kesadaran untuk tidak selalu meninggalkan beban bagi ruang publik dan orang lain.

Sebab dunia tampaknya semakin penuh oleh orang-orang yang ingin bebas menikmati sesuatu, tetapi malas bertanggung jawab atas sisa-sisa yang mereka tinggalkan.

Dan mungkin, menjadi manusia yang bertanggung jawab memang sesederhana itu. Menepuk abu rokok pada tempatnya. Membersihkan meja setelah dipakai. Membawa pulang sampah sendiri. Tidak meninggalkan jejak yang merepotkan orang lain. Hal-hal kecil yang sekarang justru terasa semakin langka.

Malam semakin turun di kota. Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti aliran kecil yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di beranda toko modern itu, orang-orang masih datang silih berganti. Ada yang membeli air mineral, mengambil uang di ATM. Ada juga yang hanya duduk sebentar sambil mengisap rokok sebelum pulang ke rumah yang mungkin terasa sama penatnya dengan jalanan.

Kaleng bekas di atas meja kayu panjang itu tetap berada di tempatnya. Kadang saya berpikir, benda sederhana seperti itu sebenarnya menyimpan cerita yang cukup panjang tentang masyarakat kita. Tentang cara kita menghadapi keterbatasan. Tentang kebiasaan mencari solusi paling praktis. Sekaligus tentang rendahnya kepercayaan bahwa barang yang disediakan bersama bisa tetap dijaga bersama.

Mungkin pengelola toko pernah berharap asbak yang bagus akan membuat orang lebih tertib. Namun harapan sering kalah oleh kenyataan sehari-hari. Barang hilang. Asbak berpindah entah ke mana. Lalu kaleng bekas menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Ada nuansa pasrah dalam keputusan semacam itu. Seolah-olah kita sudah terlalu terbiasa hidup berdampingan dengan kehilangan kecil. Kehilangan sendok di warung makan. Kehilangan tanaman di pinggir jalan. Kehilangan lampu taman. Kehilangan fasilitas umum yang perlahan rusak karena dianggap bukan milik siapa-siapa.

Padahal justru dari cara masyarakat memperlakukan benda-benda kecil itulah kualitas sebuah peradaban bisa dibaca. Negara-negara maju sering dipuji karena transportasi publiknya, teknologinya, atau bangunannya yang tertata. Namun mungkin yang lebih penting sebenarnya adalah kesadaran kecil warganya untuk tidak merusak hal yang dipakai bersama. Kesadaran yang tampak sederhana, tetapi membutuhkan pendidikan sosial yang panjang.

Di tempat kita, kesadaran itu kadang masih terasa rapuh. Saya beberapa kali melihat meja kayu di beranda toko modern dicoret-coret dengan nama atau kata-kata iseng. Ada yang meninggalkan bungkus makanan begitu saja meski tempat sampah hanya beberapa langkah, atau menggeser kursi tanpa mengembalikannya lagi. Semua terlihat kecil dan sepele. Namun jika terus diulang setiap hari oleh banyak orang, ruang publik perlahan berubah menjadi ruang yang lelah.

Dan mungkin, petugas kebersihan adalah orang-orang yang paling sering menyaksikan kelelahan itu. Mereka datang pagi-pagi ketika kota belum benar-benar sibuk. Menyapu puntung rokok. Mengangkat gelas plastik. Membersihkan meja yang lengket oleh tumpahan kopi atau abu rokok. Sering kali pekerjaan mereka dianggap biasa saja karena terlalu sering kita lihat. Padahal banyak orang bisa menikmati ruang yang bersih justru karena ada orang lain yang diam-diam membersihkan sisa kebiasaan kita.

Karena itu saya selalu merasa, menjadi “perokok bertanggung jawab” sebenarnya bukan hanya soal rokok. Ia adalah cara seseorang memahami keberadaannya di tengah orang lain. Apakah setelah menikmati sesuatu, ia bersedia membereskan jejaknya sendiri atau tidak. Apakah ia sadar bahwa ruang publik bukan tempat membuang semua sisa yang tidak ingin ia urus lagi.

Barangkali itu pula sebabnya saya menyukai kalimat kecil yang ditempel pada kaleng bekas itu. Kalimat yang sederhana dan nyaris tidak puitis sama sekali. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa jujur. Tidak sedang menggurui dunia. Tidak sedang berbicara tentang perubahan besar. Hanya sebuah permintaan kecil agar orang mau sedikit lebih peduli.

Dan kadang, perubahan memang selalu dimulai dari permintaan-permintaan kecil yang terus diabaikan. Dari puntung rokok yang dibuang pada tempatnya, meja yang dibersihkan setelah dipakai. Dari kesediaan memikirkan orang lain yang akan datang setelah kita pergi. Mungkin itu terdengar terlalu sederhana untuk disebut sebagai bentuk peradaban.

Namun saya semakin percaya bahwa kehidupan bersama memang dibangun oleh hal-hal sederhana semacam itu. Bukan hanya oleh pidato besar tentang moralitas, kebudayaan, atau nasionalisme. Melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bahkan ketika tidak ada yang melihat. Di atas meja kayu panjang itu, kaleng bekas tetap diam. Menampung abu, puntung rokok, dan mungkin juga sisa-sisa kesadaran publik yang belum sepenuhnya hilang.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: antirokokgaya hiduprokok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

Next Post

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co