26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

Luthfi Hasanal Bolqiah by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
in Esai
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinyalakan. Alasannya berganti-ganti mulai dari izin keramaian, klasifikasi Lembaga Sensor Film, ketertiban umum, sampai sensitivitas judul. Tetapi ada satu pola yang konsisten: yang dipersoalkan selalu filmnya, bukan pertanyaan yang diajukan film itu.

Di dalam film itu satu kalimat diulang beberapa kali, “Papua bukan tanah kosong”. Artinya tanah itu sejak awal tidak hanya berisi hutan, sagu dan sungai tapi juga tradisi, ingatan leluhur, dan masyarakat yang hidupnya ikut dipertaruhkan ketika proyek pangan dijalankan.

Di media sosial, isu dana produksi dan representasi dalam film ramai diperdebatkan. Perdebatan itu bisa jadi penting, tetapi tidak menjawab soal mendasar tentang apa yang sedang terjadi pada tanah, hutan, pangan, dan masyarakat adat di Papua Selatan?

Ketahanan Pangan untuk Siapa?

Di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, hutan adat dibayangkan sebagai lahan produksi. Ruang hidup masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu masuk ke dalam kalkulasi besar negara, dari cetak sawah, tebu, sawit, bioetanol, biodiesel, infrastruktur, hingga rantai pasok.

Negara menyebut semua itu sebagai “ketahanan pangan”, “Swasembada”, “Pemerataan ekonomi”. Bahasa yang nyaris mustahil ditolak. Dan lagipula siapa yang ingin menolak pangan, kemandirian bangsa, atau pertumbuhan yang lebih adil bagi Indonesia timur?

Tapi karena bahasa itu terdengar mulia, kita perlu benar-benar mempertanyakannya. Bukan karena pangan tidak penting, melainkan logika pembangunan yang bekerja dibaliknya membuat proyek terlihat sebagai penyelamatan. Bahkan ketika yang terjadi adalah pencabutan masyarakat dari sumber hidupnya sendiri.

Apalagi ketika rencana kawasan pangan dan energi di Papua Selatan terjadi dalam skala besar, WALHI mencatat proyeksinya sekitar 2,68 juta hektare. Angka sebesar itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah tanah hanya disebut bernilai ketika ia menghasilkan komoditas, bukan ketika ia menghidupi manusia?

Pertanyaan itu penting karena hidup manusia tidak pernah dimulai dari komoditas. Ia dimulai dari ketergantungan, perawatan, dan relasi. Sarah Blaffer Hrdy dalam Mothers and Others (2009) menunjukkan bahwa manusia bertahan bukan karena berdiri sendiri, tetapi karena ditopang oleh jaringan pengasuhan bersama.

Maka tanah yang memberi makan, hutan yang menyimpan pengetahuan, dan komunitas yang merawat kehidupan tidak bisa direduksi menjadi lahan belum produktif. Ketika hutan dibuka, yang hilang bukan hanya pohon: ada jalur berburu yang terputus, batas adat yang dikaburkan, ingatan keluarga yang tercerabut.

Dan ketika food estate merusak susunan itu, yang terjadi bukan penciptaan ketahanan baru, melainkan pembongkaran ketahanan yang sudah lama ada. Negara menjanjikan pangan nasional, tetapi masyarakat adat justru terancam kehilangan sumber pangannya sendiri. Dari titik inilah penderitaan dimulai.

Siapa yang Boleh Menjelaskan Luka?

Dibalik banyak bahasa, penderitaan korban malah diperebutkan, bukan diselesaikan. Ketika negara datang dengan bahasa produktivitas, ketahanan pangan, pemerataan, dan kemajuan. Bahasa itu tidak menyebut pengambilalihan tapi penyelamatan.

Dan itulah yang membuatnya berbahaya, bukan karena ia bohong secara telanjang, tetapi karena ia menerjemahkan kenyataan dengan cara yang membuat pengambilalihan tampak sebagai kepedulian. Begitu penderitaan berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa administrasi, ia kehilangan kapasitasnya untuk menggugat.

Pesta Babi muncul dan menolak cara negara menamai kenyataan itu. Film ini tidak hanya mendokumentasikan tapi berusaha ia mengembalikan bahasa penderitaan kepada pemiliknya. Sebuah gugatan atas logika yang mengubah ruang hidup menjadi kalkulasi produktivitas.

Tidak lama setelahnya, filmnya sendiri dipersoalkan. Bukan fakta didalamnya tapi haknya untuk menamai. Dana asing dipersoalkan, posisi pembuat film digugat, sengketa representasi dibesarkan. Pertanyaan bergeser: siapa yang berdiri di balik kamera dan kepentingan apa yang dibawanya?

Dibalik semua riuh bahasa, yang terjadi sebenarnya adalah perebutan penderitaan, pertarungan tentang bahasa mana yang sah untuk mendeskripsikan kenyataan yang sama.

Gayatri Spivak pernah mengingatkan bahwa punya suara belum cukup karena yang menentukan adalah apakah bahasa yang tersedia memungkinkan suara itu didengar sebagai gugatan.

Menyerang kredibilitas film bekerja persis seperti itu. Kesaksian masyarakat Papua tidak  dibantah tapi dipindahkan. Dari gugatan menjadi keluhan. Dari keluhan menjadi klaim yang perlu diverifikasi. Dari klaim menjadi pertanyaan tentang siapa yang membiayai.

Rantai dari tubuh yang terluka menuju perubahan struktural diputus bukan dengan melarang orang bicara, tetapi dengan penerjemahan paksa ke dalam bahasa yang tidak mengakui luka sebagai luka.

Atas Nama Siapa?

Yang sedang terjadi di Papua Selatan sebenarnya tidak rumit untuk dilihat. Sistem pangan yang selama ini menghidupi masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu sedang digantikan oleh sistem komoditas yang hasilnya tidak untuk mereka. Bukan karena sistem lama gagal, tetapi karena sistem baru lebih mudah dihitung dan dilaporkan sebagai keberhasilan.

Perlu diakui bahwa kekhawatiran yang mendorong proyek ini bukan tanpa dasar: krisis pangan global nyata, ketergantungan impor nyata, kesenjangan timur-barat juga nyata. Tapi urgensi tidak pernah bisa menjadi izin. Begitu ia dijadikan izin, ia berhenti menjadi alasan dan berubah menjadi pembenaran dan pembenaran tidak butuh persetujuan dari siapapun yang hidupnya dipertaruhkan.

Maka pertanyaannya menjadi lebih besar: siapa yang berhak menentukan pembangunan itu untuk siapa, dan dengan biaya siapa? Pertanyaan itu milik semua orang yang namanya dipinjam ketika negara berkata “untuk kepentingan nasional”.

Justru di situlah Pesta Babi menjadi penting: ia memperlihatkan bahwa yang sedang dipertahankan bukan hanya proyek, melainkan hak sepihak untuk menentukan cerita mana yang boleh dianggap benar. [T]

Penulis: Luthfi Hasanal Bolqiah
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmketahanan panganlingkunganPapuaPesta Babi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Next Post

Perokok Bertanggung Jawab

Luthfi Hasanal Bolqiah

Luthfi Hasanal Bolqiah

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Perokok Bertanggung Jawab

Perokok Bertanggung Jawab

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co