6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

Luthfi Hasanal Bolqiah by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
in Esai
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinyalakan. Alasannya berganti-ganti mulai dari izin keramaian, klasifikasi Lembaga Sensor Film, ketertiban umum, sampai sensitivitas judul. Tetapi ada satu pola yang konsisten: yang dipersoalkan selalu filmnya, bukan pertanyaan yang diajukan film itu.

Di dalam film itu satu kalimat diulang beberapa kali, “Papua bukan tanah kosong”. Artinya tanah itu sejak awal tidak hanya berisi hutan, sagu dan sungai tapi juga tradisi, ingatan leluhur, dan masyarakat yang hidupnya ikut dipertaruhkan ketika proyek pangan dijalankan.

Di media sosial, isu dana produksi dan representasi dalam film ramai diperdebatkan. Perdebatan itu bisa jadi penting, tetapi tidak menjawab soal mendasar tentang apa yang sedang terjadi pada tanah, hutan, pangan, dan masyarakat adat di Papua Selatan?

Ketahanan Pangan untuk Siapa?

Di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, hutan adat dibayangkan sebagai lahan produksi. Ruang hidup masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu masuk ke dalam kalkulasi besar negara, dari cetak sawah, tebu, sawit, bioetanol, biodiesel, infrastruktur, hingga rantai pasok.

Negara menyebut semua itu sebagai “ketahanan pangan”, “Swasembada”, “Pemerataan ekonomi”. Bahasa yang nyaris mustahil ditolak. Dan lagipula siapa yang ingin menolak pangan, kemandirian bangsa, atau pertumbuhan yang lebih adil bagi Indonesia timur?

Tapi karena bahasa itu terdengar mulia, kita perlu benar-benar mempertanyakannya. Bukan karena pangan tidak penting, melainkan logika pembangunan yang bekerja dibaliknya membuat proyek terlihat sebagai penyelamatan. Bahkan ketika yang terjadi adalah pencabutan masyarakat dari sumber hidupnya sendiri.

Apalagi ketika rencana kawasan pangan dan energi di Papua Selatan terjadi dalam skala besar, WALHI mencatat proyeksinya sekitar 2,68 juta hektare. Angka sebesar itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah tanah hanya disebut bernilai ketika ia menghasilkan komoditas, bukan ketika ia menghidupi manusia?

Pertanyaan itu penting karena hidup manusia tidak pernah dimulai dari komoditas. Ia dimulai dari ketergantungan, perawatan, dan relasi. Sarah Blaffer Hrdy dalam Mothers and Others (2009) menunjukkan bahwa manusia bertahan bukan karena berdiri sendiri, tetapi karena ditopang oleh jaringan pengasuhan bersama.

Maka tanah yang memberi makan, hutan yang menyimpan pengetahuan, dan komunitas yang merawat kehidupan tidak bisa direduksi menjadi lahan belum produktif. Ketika hutan dibuka, yang hilang bukan hanya pohon: ada jalur berburu yang terputus, batas adat yang dikaburkan, ingatan keluarga yang tercerabut.

Dan ketika food estate merusak susunan itu, yang terjadi bukan penciptaan ketahanan baru, melainkan pembongkaran ketahanan yang sudah lama ada. Negara menjanjikan pangan nasional, tetapi masyarakat adat justru terancam kehilangan sumber pangannya sendiri. Dari titik inilah penderitaan dimulai.

Siapa yang Boleh Menjelaskan Luka?

Dibalik banyak bahasa, penderitaan korban malah diperebutkan, bukan diselesaikan. Ketika negara datang dengan bahasa produktivitas, ketahanan pangan, pemerataan, dan kemajuan. Bahasa itu tidak menyebut pengambilalihan tapi penyelamatan.

Dan itulah yang membuatnya berbahaya, bukan karena ia bohong secara telanjang, tetapi karena ia menerjemahkan kenyataan dengan cara yang membuat pengambilalihan tampak sebagai kepedulian. Begitu penderitaan berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa administrasi, ia kehilangan kapasitasnya untuk menggugat.

Pesta Babi muncul dan menolak cara negara menamai kenyataan itu. Film ini tidak hanya mendokumentasikan tapi berusaha ia mengembalikan bahasa penderitaan kepada pemiliknya. Sebuah gugatan atas logika yang mengubah ruang hidup menjadi kalkulasi produktivitas.

Tidak lama setelahnya, filmnya sendiri dipersoalkan. Bukan fakta didalamnya tapi haknya untuk menamai. Dana asing dipersoalkan, posisi pembuat film digugat, sengketa representasi dibesarkan. Pertanyaan bergeser: siapa yang berdiri di balik kamera dan kepentingan apa yang dibawanya?

Dibalik semua riuh bahasa, yang terjadi sebenarnya adalah perebutan penderitaan, pertarungan tentang bahasa mana yang sah untuk mendeskripsikan kenyataan yang sama.

Gayatri Spivak pernah mengingatkan bahwa punya suara belum cukup karena yang menentukan adalah apakah bahasa yang tersedia memungkinkan suara itu didengar sebagai gugatan.

Menyerang kredibilitas film bekerja persis seperti itu. Kesaksian masyarakat Papua tidak  dibantah tapi dipindahkan. Dari gugatan menjadi keluhan. Dari keluhan menjadi klaim yang perlu diverifikasi. Dari klaim menjadi pertanyaan tentang siapa yang membiayai.

Rantai dari tubuh yang terluka menuju perubahan struktural diputus bukan dengan melarang orang bicara, tetapi dengan penerjemahan paksa ke dalam bahasa yang tidak mengakui luka sebagai luka.

Atas Nama Siapa?

Yang sedang terjadi di Papua Selatan sebenarnya tidak rumit untuk dilihat. Sistem pangan yang selama ini menghidupi masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu sedang digantikan oleh sistem komoditas yang hasilnya tidak untuk mereka. Bukan karena sistem lama gagal, tetapi karena sistem baru lebih mudah dihitung dan dilaporkan sebagai keberhasilan.

Perlu diakui bahwa kekhawatiran yang mendorong proyek ini bukan tanpa dasar: krisis pangan global nyata, ketergantungan impor nyata, kesenjangan timur-barat juga nyata. Tapi urgensi tidak pernah bisa menjadi izin. Begitu ia dijadikan izin, ia berhenti menjadi alasan dan berubah menjadi pembenaran dan pembenaran tidak butuh persetujuan dari siapapun yang hidupnya dipertaruhkan.

Maka pertanyaannya menjadi lebih besar: siapa yang berhak menentukan pembangunan itu untuk siapa, dan dengan biaya siapa? Pertanyaan itu milik semua orang yang namanya dipinjam ketika negara berkata “untuk kepentingan nasional”.

Justru di situlah Pesta Babi menjadi penting: ia memperlihatkan bahwa yang sedang dipertahankan bukan hanya proyek, melainkan hak sepihak untuk menentukan cerita mana yang boleh dianggap benar. [T]

Penulis: Luthfi Hasanal Bolqiah
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmketahanan panganlingkunganPapuaPesta Babi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Next Post

Perokok Bertanggung Jawab

Luthfi Hasanal Bolqiah

Luthfi Hasanal Bolqiah

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
Perokok Bertanggung Jawab

Perokok Bertanggung Jawab

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 5, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co