17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

Luthfi Hasanal Bolqiah by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
in Esai
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinyalakan. Alasannya berganti-ganti mulai dari izin keramaian, klasifikasi Lembaga Sensor Film, ketertiban umum, sampai sensitivitas judul. Tetapi ada satu pola yang konsisten: yang dipersoalkan selalu filmnya, bukan pertanyaan yang diajukan film itu.

Di dalam film itu satu kalimat diulang beberapa kali, “Papua bukan tanah kosong”. Artinya tanah itu sejak awal tidak hanya berisi hutan, sagu dan sungai tapi juga tradisi, ingatan leluhur, dan masyarakat yang hidupnya ikut dipertaruhkan ketika proyek pangan dijalankan.

Di media sosial, isu dana produksi dan representasi dalam film ramai diperdebatkan. Perdebatan itu bisa jadi penting, tetapi tidak menjawab soal mendasar tentang apa yang sedang terjadi pada tanah, hutan, pangan, dan masyarakat adat di Papua Selatan?

Ketahanan Pangan untuk Siapa?

Di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, hutan adat dibayangkan sebagai lahan produksi. Ruang hidup masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu masuk ke dalam kalkulasi besar negara, dari cetak sawah, tebu, sawit, bioetanol, biodiesel, infrastruktur, hingga rantai pasok.

Negara menyebut semua itu sebagai “ketahanan pangan”, “Swasembada”, “Pemerataan ekonomi”. Bahasa yang nyaris mustahil ditolak. Dan lagipula siapa yang ingin menolak pangan, kemandirian bangsa, atau pertumbuhan yang lebih adil bagi Indonesia timur?

Tapi karena bahasa itu terdengar mulia, kita perlu benar-benar mempertanyakannya. Bukan karena pangan tidak penting, melainkan logika pembangunan yang bekerja dibaliknya membuat proyek terlihat sebagai penyelamatan. Bahkan ketika yang terjadi adalah pencabutan masyarakat dari sumber hidupnya sendiri.

Apalagi ketika rencana kawasan pangan dan energi di Papua Selatan terjadi dalam skala besar, WALHI mencatat proyeksinya sekitar 2,68 juta hektare. Angka sebesar itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah tanah hanya disebut bernilai ketika ia menghasilkan komoditas, bukan ketika ia menghidupi manusia?

Pertanyaan itu penting karena hidup manusia tidak pernah dimulai dari komoditas. Ia dimulai dari ketergantungan, perawatan, dan relasi. Sarah Blaffer Hrdy dalam Mothers and Others (2009) menunjukkan bahwa manusia bertahan bukan karena berdiri sendiri, tetapi karena ditopang oleh jaringan pengasuhan bersama.

Maka tanah yang memberi makan, hutan yang menyimpan pengetahuan, dan komunitas yang merawat kehidupan tidak bisa direduksi menjadi lahan belum produktif. Ketika hutan dibuka, yang hilang bukan hanya pohon: ada jalur berburu yang terputus, batas adat yang dikaburkan, ingatan keluarga yang tercerabut.

Dan ketika food estate merusak susunan itu, yang terjadi bukan penciptaan ketahanan baru, melainkan pembongkaran ketahanan yang sudah lama ada. Negara menjanjikan pangan nasional, tetapi masyarakat adat justru terancam kehilangan sumber pangannya sendiri. Dari titik inilah penderitaan dimulai.

Siapa yang Boleh Menjelaskan Luka?

Dibalik banyak bahasa, penderitaan korban malah diperebutkan, bukan diselesaikan. Ketika negara datang dengan bahasa produktivitas, ketahanan pangan, pemerataan, dan kemajuan. Bahasa itu tidak menyebut pengambilalihan tapi penyelamatan.

Dan itulah yang membuatnya berbahaya, bukan karena ia bohong secara telanjang, tetapi karena ia menerjemahkan kenyataan dengan cara yang membuat pengambilalihan tampak sebagai kepedulian. Begitu penderitaan berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa administrasi, ia kehilangan kapasitasnya untuk menggugat.

Pesta Babi muncul dan menolak cara negara menamai kenyataan itu. Film ini tidak hanya mendokumentasikan tapi berusaha ia mengembalikan bahasa penderitaan kepada pemiliknya. Sebuah gugatan atas logika yang mengubah ruang hidup menjadi kalkulasi produktivitas.

Tidak lama setelahnya, filmnya sendiri dipersoalkan. Bukan fakta didalamnya tapi haknya untuk menamai. Dana asing dipersoalkan, posisi pembuat film digugat, sengketa representasi dibesarkan. Pertanyaan bergeser: siapa yang berdiri di balik kamera dan kepentingan apa yang dibawanya?

Dibalik semua riuh bahasa, yang terjadi sebenarnya adalah perebutan penderitaan, pertarungan tentang bahasa mana yang sah untuk mendeskripsikan kenyataan yang sama.

Gayatri Spivak pernah mengingatkan bahwa punya suara belum cukup karena yang menentukan adalah apakah bahasa yang tersedia memungkinkan suara itu didengar sebagai gugatan.

Menyerang kredibilitas film bekerja persis seperti itu. Kesaksian masyarakat Papua tidak  dibantah tapi dipindahkan. Dari gugatan menjadi keluhan. Dari keluhan menjadi klaim yang perlu diverifikasi. Dari klaim menjadi pertanyaan tentang siapa yang membiayai.

Rantai dari tubuh yang terluka menuju perubahan struktural diputus bukan dengan melarang orang bicara, tetapi dengan penerjemahan paksa ke dalam bahasa yang tidak mengakui luka sebagai luka.

Atas Nama Siapa?

Yang sedang terjadi di Papua Selatan sebenarnya tidak rumit untuk dilihat. Sistem pangan yang selama ini menghidupi masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu sedang digantikan oleh sistem komoditas yang hasilnya tidak untuk mereka. Bukan karena sistem lama gagal, tetapi karena sistem baru lebih mudah dihitung dan dilaporkan sebagai keberhasilan.

Perlu diakui bahwa kekhawatiran yang mendorong proyek ini bukan tanpa dasar: krisis pangan global nyata, ketergantungan impor nyata, kesenjangan timur-barat juga nyata. Tapi urgensi tidak pernah bisa menjadi izin. Begitu ia dijadikan izin, ia berhenti menjadi alasan dan berubah menjadi pembenaran dan pembenaran tidak butuh persetujuan dari siapapun yang hidupnya dipertaruhkan.

Maka pertanyaannya menjadi lebih besar: siapa yang berhak menentukan pembangunan itu untuk siapa, dan dengan biaya siapa? Pertanyaan itu milik semua orang yang namanya dipinjam ketika negara berkata “untuk kepentingan nasional”.

Justru di situlah Pesta Babi menjadi penting: ia memperlihatkan bahwa yang sedang dipertahankan bukan hanya proyek, melainkan hak sepihak untuk menentukan cerita mana yang boleh dianggap benar. [T]

Penulis: Luthfi Hasanal Bolqiah
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmketahanan panganlingkunganPapuaPesta Babi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Next Post

Perokok Bertanggung Jawab

Luthfi Hasanal Bolqiah

Luthfi Hasanal Bolqiah

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Perokok Bertanggung Jawab

Perokok Bertanggung Jawab

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co