6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

Luthfi Hasanal Bolqiah by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
in Esai
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

Luthfi Hasanal Bolqiah

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinyalakan. Alasannya berganti-ganti mulai dari izin keramaian, klasifikasi Lembaga Sensor Film, ketertiban umum, sampai sensitivitas judul. Tetapi ada satu pola yang konsisten: yang dipersoalkan selalu filmnya, bukan pertanyaan yang diajukan film itu.

Di dalam film itu satu kalimat diulang beberapa kali, “Papua bukan tanah kosong”. Artinya tanah itu sejak awal tidak hanya berisi hutan, sagu dan sungai tapi juga tradisi, ingatan leluhur, dan masyarakat yang hidupnya ikut dipertaruhkan ketika proyek pangan dijalankan.

Di media sosial, isu dana produksi dan representasi dalam film ramai diperdebatkan. Perdebatan itu bisa jadi penting, tetapi tidak menjawab soal mendasar tentang apa yang sedang terjadi pada tanah, hutan, pangan, dan masyarakat adat di Papua Selatan?

Ketahanan Pangan untuk Siapa?

Di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, hutan adat dibayangkan sebagai lahan produksi. Ruang hidup masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu masuk ke dalam kalkulasi besar negara, dari cetak sawah, tebu, sawit, bioetanol, biodiesel, infrastruktur, hingga rantai pasok.

Negara menyebut semua itu sebagai “ketahanan pangan”, “Swasembada”, “Pemerataan ekonomi”. Bahasa yang nyaris mustahil ditolak. Dan lagipula siapa yang ingin menolak pangan, kemandirian bangsa, atau pertumbuhan yang lebih adil bagi Indonesia timur?

Tapi karena bahasa itu terdengar mulia, kita perlu benar-benar mempertanyakannya. Bukan karena pangan tidak penting, melainkan logika pembangunan yang bekerja dibaliknya membuat proyek terlihat sebagai penyelamatan. Bahkan ketika yang terjadi adalah pencabutan masyarakat dari sumber hidupnya sendiri.

Apalagi ketika rencana kawasan pangan dan energi di Papua Selatan terjadi dalam skala besar, WALHI mencatat proyeksinya sekitar 2,68 juta hektare. Angka sebesar itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah tanah hanya disebut bernilai ketika ia menghasilkan komoditas, bukan ketika ia menghidupi manusia?

Pertanyaan itu penting karena hidup manusia tidak pernah dimulai dari komoditas. Ia dimulai dari ketergantungan, perawatan, dan relasi. Sarah Blaffer Hrdy dalam Mothers and Others (2009) menunjukkan bahwa manusia bertahan bukan karena berdiri sendiri, tetapi karena ditopang oleh jaringan pengasuhan bersama.

Maka tanah yang memberi makan, hutan yang menyimpan pengetahuan, dan komunitas yang merawat kehidupan tidak bisa direduksi menjadi lahan belum produktif. Ketika hutan dibuka, yang hilang bukan hanya pohon: ada jalur berburu yang terputus, batas adat yang dikaburkan, ingatan keluarga yang tercerabut.

Dan ketika food estate merusak susunan itu, yang terjadi bukan penciptaan ketahanan baru, melainkan pembongkaran ketahanan yang sudah lama ada. Negara menjanjikan pangan nasional, tetapi masyarakat adat justru terancam kehilangan sumber pangannya sendiri. Dari titik inilah penderitaan dimulai.

Siapa yang Boleh Menjelaskan Luka?

Dibalik banyak bahasa, penderitaan korban malah diperebutkan, bukan diselesaikan. Ketika negara datang dengan bahasa produktivitas, ketahanan pangan, pemerataan, dan kemajuan. Bahasa itu tidak menyebut pengambilalihan tapi penyelamatan.

Dan itulah yang membuatnya berbahaya, bukan karena ia bohong secara telanjang, tetapi karena ia menerjemahkan kenyataan dengan cara yang membuat pengambilalihan tampak sebagai kepedulian. Begitu penderitaan berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa administrasi, ia kehilangan kapasitasnya untuk menggugat.

Pesta Babi muncul dan menolak cara negara menamai kenyataan itu. Film ini tidak hanya mendokumentasikan tapi berusaha ia mengembalikan bahasa penderitaan kepada pemiliknya. Sebuah gugatan atas logika yang mengubah ruang hidup menjadi kalkulasi produktivitas.

Tidak lama setelahnya, filmnya sendiri dipersoalkan. Bukan fakta didalamnya tapi haknya untuk menamai. Dana asing dipersoalkan, posisi pembuat film digugat, sengketa representasi dibesarkan. Pertanyaan bergeser: siapa yang berdiri di balik kamera dan kepentingan apa yang dibawanya?

Dibalik semua riuh bahasa, yang terjadi sebenarnya adalah perebutan penderitaan, pertarungan tentang bahasa mana yang sah untuk mendeskripsikan kenyataan yang sama.

Gayatri Spivak pernah mengingatkan bahwa punya suara belum cukup karena yang menentukan adalah apakah bahasa yang tersedia memungkinkan suara itu didengar sebagai gugatan.

Menyerang kredibilitas film bekerja persis seperti itu. Kesaksian masyarakat Papua tidak  dibantah tapi dipindahkan. Dari gugatan menjadi keluhan. Dari keluhan menjadi klaim yang perlu diverifikasi. Dari klaim menjadi pertanyaan tentang siapa yang membiayai.

Rantai dari tubuh yang terluka menuju perubahan struktural diputus bukan dengan melarang orang bicara, tetapi dengan penerjemahan paksa ke dalam bahasa yang tidak mengakui luka sebagai luka.

Atas Nama Siapa?

Yang sedang terjadi di Papua Selatan sebenarnya tidak rumit untuk dilihat. Sistem pangan yang selama ini menghidupi masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu sedang digantikan oleh sistem komoditas yang hasilnya tidak untuk mereka. Bukan karena sistem lama gagal, tetapi karena sistem baru lebih mudah dihitung dan dilaporkan sebagai keberhasilan.

Perlu diakui bahwa kekhawatiran yang mendorong proyek ini bukan tanpa dasar: krisis pangan global nyata, ketergantungan impor nyata, kesenjangan timur-barat juga nyata. Tapi urgensi tidak pernah bisa menjadi izin. Begitu ia dijadikan izin, ia berhenti menjadi alasan dan berubah menjadi pembenaran dan pembenaran tidak butuh persetujuan dari siapapun yang hidupnya dipertaruhkan.

Maka pertanyaannya menjadi lebih besar: siapa yang berhak menentukan pembangunan itu untuk siapa, dan dengan biaya siapa? Pertanyaan itu milik semua orang yang namanya dipinjam ketika negara berkata “untuk kepentingan nasional”.

Justru di situlah Pesta Babi menjadi penting: ia memperlihatkan bahwa yang sedang dipertahankan bukan hanya proyek, melainkan hak sepihak untuk menentukan cerita mana yang boleh dianggap benar. [T]

Penulis: Luthfi Hasanal Bolqiah
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmketahanan panganlingkunganPapuaPesta Babi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Next Post

Perokok Bertanggung Jawab

Luthfi Hasanal Bolqiah

Luthfi Hasanal Bolqiah

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Perokok Bertanggung Jawab

Perokok Bertanggung Jawab

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co