21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
in Cerpen
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen, aku bertandang ke Jakarta dengan keyakinan penuh, seperti perahu kecil yang merasa mampu menantang samudra. Aku pikir kota metropolitan itu akan mudah kutaklukkan, layaknya di sinetron-sinetron. Datang, melamar kerja, lalu hidup berubah sekejap mata.

Nyatanya tak semudah itu, Jakarta begitu keras. Bahkan menakutkan.

Alasan kepergianku sebetulnya sederhana, sekaligus memalukan: gengsi. Saudara dan tetanggaku banyak yang sukses setelah merantau. Mereka pulang dengan cerita dan kebanggaan. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin dipandang, ingin diakui.

Namun, setelah puluhan lamaran kerja kukirim, tak satu pun diterima. Harapanku menjadi pegawai kantoran, bekerja di gedung tinggi menjulang, lenyap begitu saja.

Uang bekal dari Ibu pun semakin menipis. Aku tidak punya pilihan selain bertahan. Aku mengambil pekerjaan apa saja. Apa pun, selama aku masih bisa makan dan tidak tenggelam sepenuhnya.

Tapi aku tidak pernah berani mengatakan kebenaran itu pada Ibu.

“Bu, aku sudah diterima kerja di kantor ternama di Jakarta,” kataku suatu malam, dengan suara yang kupaksa terdengar tegar.

Suara Ibu di seberang telepon terdengar begitu bahagia. “Alhamdulillah, Nak. Ibu bangga sekali sama kamu Bagas.”

Kata-kata itu seperti pisau yang perlahan mengiris dadaku. Karena semua itu kebohongan.

Kenyataannya, aku hanya bekerja sebagai tukang cuci mobil. Jam kerjaku dari pukul delapan pagi sampai tiga sore. Upahnya hanya tiga ratus lima belas ribu per minggu, sekitar empat puluh lima ribu per hari. Jumlah yang nyaris tidak cukup untuk hidup di ibu kota.

Untuk menutup kekurangan, aku bekerja tambahan mengantar galon dan beras di kios sembako milik Koh Aceng, dekat kosku.

“Gas, tolong antar galon ini ke Blok B, sama beras dua karung ke rumah Bu Rini,” kata Koh Aceng.

“Iya, Koh. Siap,” jawabku sambil mengangkat beban yang terasa turut memanggul hidupku sendiri.

Saban sore aku berkeliling kompleks, mengantarkan pesanan. Lima puluh ribu per hari menjadi penyelamatku.

Hari-hariku berjalan seperti itu. Berulang. Melelahkan. Monoton, bagai roda berputar tanpa arah. Sampai akhirnya, aku hampir melupakan mimpiku sendiri untuk bekerja kantoran.

Aku tetap menelepon Ibu setiap hari.

“Kenapa kau tak pernah pulang, Gas?” tanya Ibu suatu kali.

“Masih sibuk kerja, Bu,” jawabku cepat, menyembunyikan kegelisahan yang berdesakan di dada.

“Saudara-saudaramu selalu pulang setiap lebaran. Mereka bawa oleh-oleh, bawa keluarga. Semua menanyakanmu,” lanjut Ibu.

Aku hanya terdiam, menahan sesuatu yang mengganjal di dada. Setiap Ramadhan, pertanyaan itu selalu datang. Bagiku, bulan yang seharusnya penuh berkah justru terasa mencekam. Bukannya aku tidak ingin pulang. Tapi, aku tidak mampu. Aku malu. Aku takut kebohonganku terbongkar.

Di kompleks kos, aku mengenal seorang perempuan bernama Dini. Ia berbeda. Hangat. Sederhana. Dan entah bagaimana, selalu hadir di saat-saat aku merasa lelah. Setiap akhir pekan, ia akan datang membawa makanan.

“Aku coba resep baru dari media sosial, kamu harus jadi orang pertama yang mencobanya,” katanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum menimpali. “Kalau dari kamu, pasti enak.”

Bagiku, makanan dari Dini adalah anugerah. Juga, perhatian yang diam-diam mengisi kekosongan.

Aku mengenalnya di tahun kedua aku tinggal di sana. Dini adalah guru kontrak di SMP Negeri di dekat kompleks. Ia anak Pak Rahman, seorang pengembang kondang di lingkungan itu. Hidupnya terjamin, berbeda jauh dariku. Namun entah kenapa, ia selalu memperhatikanku.

“Kamu kelihatan capek, Gas,” katanya suatu sore saat aku mengantar galon ke rumahnya.

“Biasa aja, Din. Namanya juga kerja,” jawabku, mencoba terlihat kuat, meski sebenarnya penat.

Aku menyukainya. Tapi aku sadar diri. Aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku. Dan mungkin, karena itu, ia mengira aku tidak punya perasaan apa-apa.

Waktu terus berjalan. Dini tetap datang setiap akhir pekan. Kadang hanya untuk berjalan mengelilingi kompleks, menyusuri jalan-jalan kecil, dan memulai percakapan tentang masa depan.

“Gas, kamu nggak pernah cerita tentang mimpimu?” tanyanya suatu malam.

Aku terdiam sejenak. “Dulu ada. Sekarang… ya jalani aja,” sahutku, menghela napas panjang, terasa seperti menyerah pada hidup.

Setahun kemudian, tanpa kepastian dari perasaanku, Dini mulai menyerah. Suatu hari ia berkata pelan, “Aku akan menikah.”

Aku menatapnya tajam. “Dengan siapa?”

“Pilihan Ayah,” jawabnya singkat.

Aku mengangguk, meski hatiku terasa runtuh. Aku tidak punya hak untuk menahannya. Aku bahkan tidak pernah memberi alasan baginya untuk menunggu.

Hari pernikahannya tiba. Aku datang sebagai tamu. Berdiri di antara banyak orang yang lebih pantas berada di hidupnya.

Saat bersalaman, aku mendekat dan berbisik, “Selamat ya, Din. Maaf aku nggak bisa memberikan apa yang kamu dapatkan sekarang. Tapi yang pasti, aku mencintaimu. Dan sekarang aku ikhlas melupakannya.”

Dini terdiam sejenak, lalu tersenyum. Di matanya, ada sesuatu yang tak sempat lagi kami bicarakan.

Setelah itu, hidupku kembali berjalan seperti biasa. Hanya saja, kini ditemani patah hati yang diam-diam mengendap serupa hujan yang tak kunjung reda.

Di tempat kerja, keadaan juga tidak mudah. Manajer kami, Ridwan, sering berlaku tidak adil.

“Telat sedikit aja, potong gaji!” bentaknya suatu pagi.

“Kelamaan istirahat? Potong lagi! Jangan harap bekerja di sini bisa santai-santai seenaknya.”

Kami semua resah, tapi tidak ada yang berani melawan. Kami butuh pekerjaan itu, layaknya nelayan bertahan di tengah arus deras demi mendapatkan ikan.

Suatu hari, seorang pelanggan datang membawa mobil baru. Tak ada yang tahu bahwa ia adalah pemilik tempat itu, Pak Malik.

Dari dalam mobil, ia melihat semua perlakuan Ridwan.

Ia turun dan bertanya padaku, “Kamu Bagas kan? Yang paling lama kerja di sini?”

“Iya, Pak,” jawabku hati-hati.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku ragu sejenak, lalu berkata jujur, “Pak, gaji kami sering dipotong tanpa alasan yang jelas.”

Tak lama kemudian, Ridwan dipecat. Ia tak berbicara apa pun pada kami, hanya menatap tajam, lalu pergi.

Dan sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi.

“Kamu saya angkat jadi manajer,” kata Pak Malik.

“Saya, Pak?” tanyaku tak percaya.

“Kamu sudah lebih dari setahun di sini. Yang lain banyak yang tidak bertahan. Saya lihat kamu jujur dan konsisten. Apalagi kamu sarjana manajemen kan? Saya butuh orang seperti itu.”

Sejak saat itu, hidupku mulai membaik. Gajiku menjadi dua setengah juta per bulan. Tidak besar untuk ukuran ibu kota, tapi cukup untuk membuatku bernapas lebih lega.

Aku berhenti dari pekerjaan di kios Koh Aceng. Aku pindah kos ke tempat yang lebih dekat dengan tempat kerja. Dan perlahan, aku mencoba melupakan Dini, meski bayangnya sesekali masih datang.

Memasuki tahun keempat, aku akhirnya memutuskan untuk pulang kampung saat lebaran. Sudah terlalu lama aku menunda. Aku tidak memberi kabar pada Ibu. Aku ingin mengejutkannya. Aku bahkan pulang lebih awal di bulan Ramadhan agar bisa berpuasa bersama dan menghabiskan waktu lebih lama dengannya.

Di terminal, aku melihat banyak perantau lain, dengan tas besar, pakaian sederhana, dan wajah penuh harapan. Aku seperti melihat diriku sendiri empat tahun lalu, berdiri di titik awal yang sama.

Dalam hati, aku berdoa, semoga mereka menemukan apa yang mereka cari, dan tidak tersesat seperti aku.

Perjalanan pulang terasa panjang. Tapi juga hangat. Dipenuhi bayangan tentang pelukan Ibu yang kurindukan. Namun setibanya di kampung, semuanya tidak seperti yang kubayangkan. Orang-orang memandangku dengan heran.

“Itu Bagas, kan?” bisik seseorang.

“Bukannya dia sudah hilang?” sahut yang lain.

Berbagai cerita beredar tentangku: aku kabur, masuk penjara, bahkan ada yang bilang aku sudah meninggal. Aku hanya tersenyum kaku. Saat sampai di rumah, keluarga besarku terkejut.

“Kamu ke mana saja selama ini, Gas?” tanya salah satu dari mereka.

“Kenapa nggak pernah pulang?” tanya yang lain.

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Tapi aku tidak sempat menjawab semuanya. Aku hanya bertanya satu hal, “Ibu di mana?”

Suasana tiba-tiba berubah. Sunyi menggantung serupa awan gelap.

Pamanku, Heddi, menatapku dengan wajah berat. “Gas… ibumu sudah meninggal. Setahun lalu. Kena serangan jantung waktu mau ke pasar,” ucapnya dengan nada berat.

Aku membeku. Dunia terasa runtuh seketika.

“Kami nggak bisa hubungi kamu. Kami nggak tahu kamu di mana. Semua tentang kamu, ibumu yang simpan sendiri,” katanya lagi.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku kehilangan banyak hal. Mimpi, cinta, dan sekarang… Ibu.

Aku meninggalkan barang-barangku dan bergegas menuju makam Ibu. Sesampai di sana, aku berlutut. Tanganku menyentuh papan nisan bertulis namanya.

“Bu maafkan aku,” bisikku lirih.

Aku menangis sejadi-jadinya. Menyesali semua yang telah kulakukan. Semua kutunda. Semua yang kusia-siakan seperti waktu yang tak pernah bisa kuputar kembali.

Aku selalu berpikir harus berhasil dulu baru pulang. Padahal, mungkin Ibu hanya butuh aku pulang. Kini semuanya sudah terlambat. Aku mengusap nisan itu, seolah berharap Ibu masih bisa merasakan kehadiranku.

“Aku pulang, Bu. Tapi, aku terlambat.” [T]

Minggu, 26 April 2026

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gagal Itu Indah

Next Post

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co