1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagal Itu Indah

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 10, 2026
in Esai
Gagal Itu Indah

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan

DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar sosial tertentu: karier mapan, keluarga harmonis, kekayaan, gelar akademik, atau pengakuan publik. Sebaliknya, ketika seseorang kehilangan pekerjaan, mengalami perceraian, bangkrut, gagal dalam studi, atau tidak memenuhi harapan keluarga, ia segera diberi label “gagal”.

Padahal, sejarah manusia menunjukkan sesuatu yang berbeda. Banyak tokoh besar justru lahir dari reruntuhan kegagalan. Kegagalan bukan selalu tanda kehancuran, melainkan titik retak tempat cahaya kesadaran mulai masuk. Dalam bahasa psikologi spiritual, kegagalan sering menjadi momentum ketika ego kehilangan pijakan dan manusia mulai bertanya tentang makna hidup yang lebih dalam.

Masalah utama manusia modern adalah kecenderungan mengukur hidup hanya dari pencapaian eksternal. Kita diajarkan mengejar kemenangan, tetapi jarang diajarkan memahami kehancuran. Kita dipuji ketika sukses, tetapi dijauhi ketika gagal. Akibatnya, banyak orang hidup dalam ketakutan: takut jatuh, takut dipermalukan, takut kehilangan citra diri.

Padahal, sering kali kegagalan justru membebaskan manusia dari ilusi tentang dirinya sendiri. Ketika semua identitas runtuh, seseorang mulai melihat dirinya secara lebih jujur. Dalam kondisi itu, kesadaran dapat bertumbuh.

Di sinilah pemikiran David R. Hawkins menjadi menarik. Dalam konsep Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa emosi seperti malu, takut, rasa bersalah, dan putus asa berada pada tingkat kesadaran rendah. Banyak orang berhenti di sana ketika mengalami kegagalan. Mereka merasa hidup telah selesai.

Namun Hawkins juga menunjukkan bahwa manusia dapat melampaui kondisi itu. Ketika seseorang mulai menerima pengalaman hidupnya, belajar melepaskan ego, dan menemukan makna lebih dalam, kesadarannya bergerak naik menuju keberanian, penerimaan, cinta, hingga kedamaian. Dengan kata lain, kegagalan bukan musuh kesadaran; sering kali justru gerbangnya.

Ironisnya, banyak keberhasilan lahir dari kesadaran rendah: ambisi berlebihan, ketakutan kalah, kebutuhan dipuji, atau hasrat menguasai orang lain. Sebaliknya, beberapa “kegagalan” justru menjadi awal pencerahan. Dunia sering tertipu oleh penampilan luar. Orang yang tampak kalah belum tentu benar-benar kalah. Dan orang yang tampak menang belum tentu menemukan dirinya.

Karena itu, kita perlu merekonstruksi arti kegagalan. Kegagalan bukan sekadar tidak tercapainya target duniawi. Kegagalan sejati adalah ketika manusia kehilangan kemanusiaannya, kehilangan kasih, kehilangan kejernihan batin, dan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, bila sebuah kegagalan membuat manusia menjadi lebih sadar, lebih rendah hati, lebih bijaksana, maka kegagalan itu sesungguhnya adalah bentuk keberhasilan yang tersembunyi.

Siddharta: Kegagalan yang Melahirkan Buddha

Kisah Siddhartha Gautama adalah salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana dunia sering salah memahami kegagalan.

Dalam pandangan kerajaan, Siddharta bisa dianggap gagal memenuhi harapan ayahnya. Raja Suddhodana menginginkan putranya menjadi chakravartin—raja agung yang berkuasa dan membawa kejayaan politik. Karena itu Siddharta dibesarkan dalam kemewahan, dijauhkan dari penderitaan, dan disiapkan menjadi penguasa besar. Namun semua harapan itu runtuh ketika Siddharta meninggalkan istana pada usia muda.

Dari sudut pandang keluarga, tindakannya bahkan tampak seperti pengkhianatan. Ia meninggalkan tahta, meninggalkan kemewahan, meninggalkan istrinya Yasodhara, dan meninggalkan Rahula yang masih kecil. Dalam standar sosial biasa, Siddharta mungkin dianggap gagal menjadi anak, gagal menjadi suami, bahkan gagal menjadi ayah.

Namun justru dari kegagalan-kegagalan itulah lahir seorang Buddha.

Siddharta melihat bahwa hidup tidak dapat dipahami hanya melalui kenyamanan istana. Ia menyaksikan usia tua, penyakit, dan kematian—sesuatu yang sebelumnya disembunyikan darinya. Pengalaman itu mengguncang kesadarannya. Semua kejayaan dunia tampak rapuh di hadapan penderitaan manusia.

Keputusan meninggalkan istana bukanlah tindakan melarikan diri semata, melainkan pencarian eksistensial yang sangat dalam. Siddharta sedang mempertanyakan akar penderitaan manusia. Ia tidak puas dengan jawaban-jawaban dangkal. Bahkan setelah bertahun-tahun bertapa ekstrem, ia kembali mengalami “kegagalan”. Penyiksaan diri yang terlalu keras ternyata tidak membawanya pada pencerahan.

Di bawah pohon Bodhi, Siddharta akhirnya menemukan Jalan Tengah. Ia menyadari bahwa kebebasan batin tidak lahir dari kemewahan maupun penyiksaan diri, tetapi dari kesadaran mendalam terhadap hakikat kehidupan, dan dunia kemudian mengenang Siddharta bukan sebagai raja yang gagal, melainkan sebagai Buddha—yang tercerahkan.

Dalam buku Soul Quest: Pengembaraan Jiwa, dari Kematian Menuju Keabadian, Guruji Anand Krishna menceritakan versi yang tidak populer. “Pencerahan tidak didapatkan begitu saja karena duduk di bawah pohon. Sebenarnya hari itu ia capek dan bosan dengan semua yang dilakukannya. Semua latihan, disiplin dan meditasi tidak membawanya ke mana pun”, demikian kata Sang Lama yang Guruji temui di Leh. Siddharta lalu memilih untuk istirahat sejenak, duduk bersandar dengan mata terpejam, dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia merasa sangat rileks, tak ada lagi kegelisahan maupun pencarian kebenaran. Pada saat itulah, secara tiba-tiba, ia tercerahkan.

Kisah ini menunjukkan bahwa apa yang disebut kegagalan sering kali hanyalah benturan antara panggilan jiwa dan harapan sosial. Banyak orang dipaksa menjalani kehidupan yang diinginkan orang lain: menjadi profesi tertentu, mempertahankan status tertentu, atau memenuhi definisi sukses tertentu. Ketika mereka keluar dari pola itu, mereka dianggap gagal.

Namun sejarah spiritual manusia memperlihatkan bahwa transformasi besar hampir selalu dimulai dari keberanian meninggalkan identitas lama. Dalam banyak tradisi mistik, kehancuran ego bahkan dianggap syarat kelahiran kesadaran baru.

Tanpa kegagalan sebagai raja, mungkin Siddharta hanya dikenang sebagai penguasa biasa. Tanpa kegagalan dalam kehidupan personalnya, mungkin ia tidak pernah menempuh jalan kontemplasi yang mengubah sejarah dunia. Dengan demikian, kegagalan dalam perspektif spiritual bukan sekadar kehilangan, tetapi proses kelahiran ulang kesadaran.

Refleksi di Balik Apa yang Disebut Gagal

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menilai dirinya terlalu cepat. Ketika usaha tidak berhasil, hubungan hancur, atau mimpi runtuh, seseorang merasa hidupnya berakhir. Padahal, bisa jadi kehidupan sedang membuka pintu baru yang belum dipahami.

Peta kesadaran dari David R. Hawkins membantu melihat persoalan ini secara lebih mendalam. Hawkins menjelaskan bahwa manusia dapat hidup dari berbagai tingkat kesadaran. Pada tingkat rendah, hidup digerakkan oleh rasa malu, takut, amarah, dan kesedihan. Dalam kondisi itu, kegagalan terasa menghancurkan identitas diri.

Namun ketika kesadaran naik menuju keberanian dan penerimaan, manusia mulai mampu melihat kegagalan secara berbeda. Ia tidak lagi bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang ingin diajarkan kehidupan melalui pengalaman ini?” Pertanyaan kedua membuka ruang transformasi.

Sering kali kehidupan menghancurkan sesuatu yang palsu agar manusia menemukan sesuatu yang lebih sejati. Sebuah kegagalan dapat menghancurkan kesombongan. Kehilangan dapat melunakkan hati. Kesedihan dapat membuka empati. Bahkan keterpurukan dapat membuat seseorang menemukan dimensi spiritual yang sebelumnya tidak pernah disentuh.

Dalam banyak kasus, manusia baru mulai mencari makna hidup setelah mengalami kegagalan besar. Ketika semua sandaran luar runtuh, ia mulai masuk ke dalam dirinya sendiri. Dalam bahasa spiritual Timur, perjalanan sejati memang dimulai ketika manusia berhenti sepenuhnya bergantung pada dunia luar.

Karena itu, kegagalan bukan lawan dari keberhasilan. Keduanya hanyalah bagian dari proses evolusi kesadaran manusia. Ada keberhasilan yang membuat manusia makin egois dan kosong. Tetapi ada kegagalan yang membuat manusia menjadi lebih sadar, lebih penuh kasih, dan lebih dekat pada kebijaksanaan.

Kisah Siddharta memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Dunia melihat kehilangan tahta; sejarah melihat lahirnya Buddha. Dunia melihat kegagalan personal; kemanusiaan melihat kebangkitan kesadaran universal.

Pada akhirnya, hidup bukan sekadar soal menang atau kalah menurut ukuran sosial. Hidup adalah perjalanan memahami diri sendiri. Dan dalam perjalanan itu, kegagalan sering menjadi guru yang paling jujur.

Mungkin karena itu, kegagalan sebenarnya indah—bila manusia mampu membaca makna tersembunyi di baliknya. [T]

Tags: gaya hidupkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

Next Post

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails
Next Post
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co