20 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagal Itu Indah

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 10, 2026
in Esai
Gagal Itu Indah

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan

DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar sosial tertentu: karier mapan, keluarga harmonis, kekayaan, gelar akademik, atau pengakuan publik. Sebaliknya, ketika seseorang kehilangan pekerjaan, mengalami perceraian, bangkrut, gagal dalam studi, atau tidak memenuhi harapan keluarga, ia segera diberi label “gagal”.

Padahal, sejarah manusia menunjukkan sesuatu yang berbeda. Banyak tokoh besar justru lahir dari reruntuhan kegagalan. Kegagalan bukan selalu tanda kehancuran, melainkan titik retak tempat cahaya kesadaran mulai masuk. Dalam bahasa psikologi spiritual, kegagalan sering menjadi momentum ketika ego kehilangan pijakan dan manusia mulai bertanya tentang makna hidup yang lebih dalam.

Masalah utama manusia modern adalah kecenderungan mengukur hidup hanya dari pencapaian eksternal. Kita diajarkan mengejar kemenangan, tetapi jarang diajarkan memahami kehancuran. Kita dipuji ketika sukses, tetapi dijauhi ketika gagal. Akibatnya, banyak orang hidup dalam ketakutan: takut jatuh, takut dipermalukan, takut kehilangan citra diri.

Padahal, sering kali kegagalan justru membebaskan manusia dari ilusi tentang dirinya sendiri. Ketika semua identitas runtuh, seseorang mulai melihat dirinya secara lebih jujur. Dalam kondisi itu, kesadaran dapat bertumbuh.

Di sinilah pemikiran David R. Hawkins menjadi menarik. Dalam konsep Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa emosi seperti malu, takut, rasa bersalah, dan putus asa berada pada tingkat kesadaran rendah. Banyak orang berhenti di sana ketika mengalami kegagalan. Mereka merasa hidup telah selesai.

Namun Hawkins juga menunjukkan bahwa manusia dapat melampaui kondisi itu. Ketika seseorang mulai menerima pengalaman hidupnya, belajar melepaskan ego, dan menemukan makna lebih dalam, kesadarannya bergerak naik menuju keberanian, penerimaan, cinta, hingga kedamaian. Dengan kata lain, kegagalan bukan musuh kesadaran; sering kali justru gerbangnya.

Ironisnya, banyak keberhasilan lahir dari kesadaran rendah: ambisi berlebihan, ketakutan kalah, kebutuhan dipuji, atau hasrat menguasai orang lain. Sebaliknya, beberapa “kegagalan” justru menjadi awal pencerahan. Dunia sering tertipu oleh penampilan luar. Orang yang tampak kalah belum tentu benar-benar kalah. Dan orang yang tampak menang belum tentu menemukan dirinya.

Karena itu, kita perlu merekonstruksi arti kegagalan. Kegagalan bukan sekadar tidak tercapainya target duniawi. Kegagalan sejati adalah ketika manusia kehilangan kemanusiaannya, kehilangan kasih, kehilangan kejernihan batin, dan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, bila sebuah kegagalan membuat manusia menjadi lebih sadar, lebih rendah hati, lebih bijaksana, maka kegagalan itu sesungguhnya adalah bentuk keberhasilan yang tersembunyi.

Siddharta: Kegagalan yang Melahirkan Buddha

Kisah Siddhartha Gautama adalah salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana dunia sering salah memahami kegagalan.

Dalam pandangan kerajaan, Siddharta bisa dianggap gagal memenuhi harapan ayahnya. Raja Suddhodana menginginkan putranya menjadi chakravartin—raja agung yang berkuasa dan membawa kejayaan politik. Karena itu Siddharta dibesarkan dalam kemewahan, dijauhkan dari penderitaan, dan disiapkan menjadi penguasa besar. Namun semua harapan itu runtuh ketika Siddharta meninggalkan istana pada usia muda.

Dari sudut pandang keluarga, tindakannya bahkan tampak seperti pengkhianatan. Ia meninggalkan tahta, meninggalkan kemewahan, meninggalkan istrinya Yasodhara, dan meninggalkan Rahula yang masih kecil. Dalam standar sosial biasa, Siddharta mungkin dianggap gagal menjadi anak, gagal menjadi suami, bahkan gagal menjadi ayah.

Namun justru dari kegagalan-kegagalan itulah lahir seorang Buddha.

Siddharta melihat bahwa hidup tidak dapat dipahami hanya melalui kenyamanan istana. Ia menyaksikan usia tua, penyakit, dan kematian—sesuatu yang sebelumnya disembunyikan darinya. Pengalaman itu mengguncang kesadarannya. Semua kejayaan dunia tampak rapuh di hadapan penderitaan manusia.

Keputusan meninggalkan istana bukanlah tindakan melarikan diri semata, melainkan pencarian eksistensial yang sangat dalam. Siddharta sedang mempertanyakan akar penderitaan manusia. Ia tidak puas dengan jawaban-jawaban dangkal. Bahkan setelah bertahun-tahun bertapa ekstrem, ia kembali mengalami “kegagalan”. Penyiksaan diri yang terlalu keras ternyata tidak membawanya pada pencerahan.

Di bawah pohon Bodhi, Siddharta akhirnya menemukan Jalan Tengah. Ia menyadari bahwa kebebasan batin tidak lahir dari kemewahan maupun penyiksaan diri, tetapi dari kesadaran mendalam terhadap hakikat kehidupan, dan dunia kemudian mengenang Siddharta bukan sebagai raja yang gagal, melainkan sebagai Buddha—yang tercerahkan.

Dalam buku Soul Quest: Pengembaraan Jiwa, dari Kematian Menuju Keabadian, Guruji Anand Krishna menceritakan versi yang tidak populer. “Pencerahan tidak didapatkan begitu saja karena duduk di bawah pohon. Sebenarnya hari itu ia capek dan bosan dengan semua yang dilakukannya. Semua latihan, disiplin dan meditasi tidak membawanya ke mana pun”, demikian kata Sang Lama yang Guruji temui di Leh. Siddharta lalu memilih untuk istirahat sejenak, duduk bersandar dengan mata terpejam, dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia merasa sangat rileks, tak ada lagi kegelisahan maupun pencarian kebenaran. Pada saat itulah, secara tiba-tiba, ia tercerahkan.

Kisah ini menunjukkan bahwa apa yang disebut kegagalan sering kali hanyalah benturan antara panggilan jiwa dan harapan sosial. Banyak orang dipaksa menjalani kehidupan yang diinginkan orang lain: menjadi profesi tertentu, mempertahankan status tertentu, atau memenuhi definisi sukses tertentu. Ketika mereka keluar dari pola itu, mereka dianggap gagal.

Namun sejarah spiritual manusia memperlihatkan bahwa transformasi besar hampir selalu dimulai dari keberanian meninggalkan identitas lama. Dalam banyak tradisi mistik, kehancuran ego bahkan dianggap syarat kelahiran kesadaran baru.

Tanpa kegagalan sebagai raja, mungkin Siddharta hanya dikenang sebagai penguasa biasa. Tanpa kegagalan dalam kehidupan personalnya, mungkin ia tidak pernah menempuh jalan kontemplasi yang mengubah sejarah dunia. Dengan demikian, kegagalan dalam perspektif spiritual bukan sekadar kehilangan, tetapi proses kelahiran ulang kesadaran.

Refleksi di Balik Apa yang Disebut Gagal

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menilai dirinya terlalu cepat. Ketika usaha tidak berhasil, hubungan hancur, atau mimpi runtuh, seseorang merasa hidupnya berakhir. Padahal, bisa jadi kehidupan sedang membuka pintu baru yang belum dipahami.

Peta kesadaran dari David R. Hawkins membantu melihat persoalan ini secara lebih mendalam. Hawkins menjelaskan bahwa manusia dapat hidup dari berbagai tingkat kesadaran. Pada tingkat rendah, hidup digerakkan oleh rasa malu, takut, amarah, dan kesedihan. Dalam kondisi itu, kegagalan terasa menghancurkan identitas diri.

Namun ketika kesadaran naik menuju keberanian dan penerimaan, manusia mulai mampu melihat kegagalan secara berbeda. Ia tidak lagi bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang ingin diajarkan kehidupan melalui pengalaman ini?” Pertanyaan kedua membuka ruang transformasi.

Sering kali kehidupan menghancurkan sesuatu yang palsu agar manusia menemukan sesuatu yang lebih sejati. Sebuah kegagalan dapat menghancurkan kesombongan. Kehilangan dapat melunakkan hati. Kesedihan dapat membuka empati. Bahkan keterpurukan dapat membuat seseorang menemukan dimensi spiritual yang sebelumnya tidak pernah disentuh.

Dalam banyak kasus, manusia baru mulai mencari makna hidup setelah mengalami kegagalan besar. Ketika semua sandaran luar runtuh, ia mulai masuk ke dalam dirinya sendiri. Dalam bahasa spiritual Timur, perjalanan sejati memang dimulai ketika manusia berhenti sepenuhnya bergantung pada dunia luar.

Karena itu, kegagalan bukan lawan dari keberhasilan. Keduanya hanyalah bagian dari proses evolusi kesadaran manusia. Ada keberhasilan yang membuat manusia makin egois dan kosong. Tetapi ada kegagalan yang membuat manusia menjadi lebih sadar, lebih penuh kasih, dan lebih dekat pada kebijaksanaan.

Kisah Siddharta memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Dunia melihat kehilangan tahta; sejarah melihat lahirnya Buddha. Dunia melihat kegagalan personal; kemanusiaan melihat kebangkitan kesadaran universal.

Pada akhirnya, hidup bukan sekadar soal menang atau kalah menurut ukuran sosial. Hidup adalah perjalanan memahami diri sendiri. Dan dalam perjalanan itu, kegagalan sering menjadi guru yang paling jujur.

Mungkin karena itu, kegagalan sebenarnya indah—bila manusia mampu membaca makna tersembunyi di baliknya. [T]

Tags: gaya hidupkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

Next Post

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
0
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails
Next Post
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

KLAKSON
Esai

KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

by Hartanto
June 20, 2026
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

by Chusmeru
June 20, 2026
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan
Ulas Pentas

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya
Panggung

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik
Esai

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali
Khas

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan
Panggung

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali
Bahasa

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

by I Made Sudiana
June 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co