SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja budaya di AbSenter alias Abian Senter (Taman Budaya -Art Centre, Denpasar). Tentu tugas saya berbeda dengan Pak Wid, begitu saya selalu menyapa sosok Widnyana Sudibya. Meskipun ada dua orang bernama Sudibya yang bertugas saat itu, salah satunya adalah dosen tari dari ISI Bali yang menjadi stage manager yang bertanggung jawab atas suksesnya gelaran.
Saya yang juga bekerja pada bagian stage mengenal Pak Wid sejak tahun 2016 . Kami diperkenalkan dalam serangkaian pertemuan saat menikmati kerja budaya sambil menonton pertunjukan. Saat itu, saya sering melihat beliau mengambil momen untuk Gelaran Nawanatya. Itu adalah agenda seni sepanjang tahun yang digagas Gubernur Mangku Pastika, di mana pertunjukan digelar setiap akhir pekan—Jumat, Sabtu, dan Minggu—sejak Februari hingga November, hanya jeda untuk agenda Pekan Kesenian Bali (PKB) di bulan Juni dan Mahalango di bulan Agustus. Agenda budaya yang begitu padat itu berakhir pada 2018 seiring berakhirnya masa jabatan beliau, lalu digantikan oleh agenda Festival Seni Bali Jani di era Gubernur Wayan Koster.
Dari perkenalan di tengah riuhnya agenda-agenda tersebut, saya mencari akun Facebook beliau. Bagi saya, Pak Wid adalah fotografer Bali yang selalu “bersembunyi”. Ia ada di tengah keramaian, tapi tidak selalu menampakkan diri dengan riuh. Ia sunyi di balik mata kameranya, seperti kamera itu sedang menyimpan gambar-gambar peristiwa. Lalu, ia hadirkan hasil bidikannya lewat media sosial dengan sedikit narasi, bahkan mungkin tanpa narasi sama sekali, membiarkan foto peristiwa itu berbicara sendiri. Seusai pertunjukan, beliau hanya menuliskan nama acara, tanggal, lokasi, serta sanggar yang tampil.

Dalam kesempatan panjang selama saya menjadi pekerja di belakang panggung—katakan saja saat saya merasa kurang tenang jika ada hal yang mengganjal—Pak Wid selalu mengingatkan saya untuk tenang. Dari gelaran Nawanatya, PKB, hingga Mahalango yang menampilkan banyak tari klasik, saya merasakan keramahtamahan dan ketenangan beliau. Banyak yang mengatakan Pak Wid adalah orang yang pintar dan tidak terburu-buru. Bagi saya, kehadiran beliau memberikan kesegaran serta kehangatan tersendiri. Kesan itu juga tampak dalam bidikan-bidikannya; mata kameranya yang tajam selalu mengamati setiap gerak, membuat pertunjukan yang mungkin kurang menarik di mata orang lain justru tampil lebih memikat melalui lensanya.
Suatu hari di sudut tertentu, tanpa harus berpindah ke sana-kemari, Pak Wid berusaha begitu tenang mengambil sebuah momentum. Sambil asyik mengobrol sedikit demi sedikit, beliau berdiri di posisi yang sama, mendekatkan kamera ke mata. Cekrek, cekrek, cekrek. Beliau seakan tahu posisi terbaik untuk menangkap sebuah momentum. Tampaknya bidikan beliau pun seolah berkata, “Ini lho, momentum keindahannya.”


Hasil bidikan Pak Wid menjadi daya tarik tersendiri. Foto-foto yang dihasilkannya seakan menjadi berita gambar yang dikisahkan; bahwa dalam keriuhan panggung, ada kesejatian yang diutarakan lewat ekspresi yang natural. Pak Wid yang ramah, tenang, dan selalu fokus, mampu menempatkan diri secara terukur. Bidikannya menghasilkan potret yang halus dan tegas dalam pencahayaan. Esensi keindahannya memiliki karakter tersendiri, yang berbicara tentang ketenangan, kekuatan, dan kejelasan.
Di sisi lain, Pak Wid memindahkan kesadaran dari hasil fotografinya ke sebidang kertas. Dengan sadar dan detail, ia menggambar foto bidikannya menggunakan pensil. Dengan ketekunan serta kesabaran, ia melakukan cetak manual dengan tangannya, yang hasilnya ia jadikan kalender.
Pak Wid sejatinya sedang bekerja dengan hati yang bebas dan merdeka. Sebagai orang yang hanya mengenal beliau di lapangan—karena Pak Wid sendiri tak pernah menceritakan dirinya—barangkali karya-karyanya kurang dibicarakan, atau sosoknya tidak banyak diketahui orang. Beliau ternyata adalah seorang insinyur yang juga arsitek. Bisa saja beliau adalah orang terkenal, namun kesan kesederhanaannya menjadikan ia asyik menikmati dunia fotografi. Hasil bidikannya tak harus dinarasikan secara bombastis; setiap fotonya memiliki momentum kesadaran ruang, ekspresi yang jujur, dan pencahayaan yang kuat.

Kesunyian foto-foto beliau meninggalkan kesan yang mendalam. Seperti Pak Wid dalam tidurnya yang panjang sekarang, ia meninggalkan pesan yang kuat: sebuah kesunyian yang diam-diam membuat orang membaca kembali kisah perjalanannya. [T]
Denpasar, Minggu 24 Mei 2026





























