19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana


Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan sekadar entitas ekonomi, melainkan eksperimen ideologis—sebuah upaya menghidupkan kembali cita-cita Mohammad Hatta yang menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian (lihat pidato Hari Koperasi, 12 Juli 1951, serta kumpulan tulisan Hatta tentang ekonomi kerakyatan).

Bagi Hatta, koperasi adalah wujud nyata demokrasi ekonomi: produksi oleh semua untuk kesejahteraan bersama, bukan akumulasi segelintir orang.
Namun sejarah koperasi Indonesia tidak pernah steril dari intervensi kekuasaan. Pada masa Orde Baru di bawah Soeharto, Koperasi Unit Desa (KUD) dijadikan instrumen utama pembangunan ekonomi pedesaan (bandingkan dengan kebijakan Inpres KUD era 1970–1980-an). 

Negara hadir sangat dominan: dari pembentukan, pembiayaan, hingga penentuan arah usaha. Dalam jangka pendek, KUD memang tampak berhasil, tetapi dalam jangka panjang ia rapuh karena tidak tumbuh dari partisipasi anggota. Ketika dukungan negara melemah, banyak KUD kehilangan daya hidup—sebuah pelajaran klasik dalam sejarah koperasi Indonesia.

Kini, dalam era Prabowo Subianto, Koperasi Merah Putih hadir melalui mandat Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 sebagai bagian dari agenda Asta Cita pembangunan dari desa. Program ini bahkan digerakkan secara masif hingga ribuan koperasi terbentuk dalam waktu singkat (lihat dokumen kebijakan pemerintah dan rilis Kementerian Koperasi 2025).
sudah diresmikan 1,061 Koperasi Desa/Keluarahan Merah Putih (KDKMP) di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dipusatkan di desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk Jawa TImur pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis desa dan kelurahan melalui pengembangan koperasi yang produktiktif dan teristegrasi. terdiri dari 530 unit di Jawa Timur yang tersbar di tujuh Kabupaten, serta 531 unit di Jawa Tengah yang tersebar di delapan Kabupaten/kota, Benarkah demikian menjadi solusi atau akan jadi problem baru?

Yang menarik sekaligus problematis adalah kecenderungan menjadikan entitas lama seperti KUD dan bahkan Badan Usaha Milik Desa sebagai “modal sosial” bagi Koperasi Merah Putih. Secara konseptual, ini tampak efisien, tetapi dalam praktik berpotensi menimbulkan tumpang tindih kelembagaan.

BUMDes sendiri telah memiliki legitimasi kuat melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, sehingga kehadiran koperasi baru tanpa desain relasi yang jelas justru menciptakan dualisme kelembagaan di desa (lihat kajian tata kelola desa dan ekonomi lokal pasca UU Desa).

Kritik normatif datang dari Sri Edi Swasono yang menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan sistem ekonomi alternatif yang bertumpu pada kedaulatan anggota (Sri Edi Swasono, Indonesia dan Doktrin Kesejahteraan Sosial, serta berbagai tulisan tentang ekonomi Pancasila). Ia mengingatkan bahwa koperasi tidak boleh direduksi menjadi alat kapitalisme negara dengan wajah kerakyatan.

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Sutoyo yang menilai kegagalan KUD bukan terletak pada konsep koperasi, melainkan pada pendekatan top-down yang mengabaikan partisipasi anggota dan kelayakan usaha (lihat diskursus koperasi dalam kajian ekonomi kerakyatan dan evaluasi program KUD pasca-Orde Baru).

Fakta di lapangan menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Dalam sejumlah kasus, proses pembentukan koperasi tidak melalui musyawarah yang partisipatif. Ketua koperasi dipilih secara aklamasi berdasarkan usulan kepala desa, sementara pengawas ditunjuk langsung. 

Praktik ini bahkan mendapatkan legitimasi dari Surat Keputusan Menteri Koperasi Nomor 1 Tahun 2025 yang memungkinkan kepala desa menjadi ketua pengawas (lihat ketentuan normatif dalam beleid tersebut).
Pengalaman di lapangan disampaikan oleh Sugianto yang mengungkap terbatasnya partisipasi warga dalam musyawarah pembentukan koperasi (testimoni praktisi koperasi di Lampung, 2025). 

Bahkan dalam beberapa kasus, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) tidak dibahas dalam rapat anggota, tetapi ditetapkan sepihak setelah koperasi terbentuk—sebuah praktik yang bertentangan langsung dengan prinsip koperasi internasional (lihat ICA Cooperative Principles). Kritik akademik turut menguat. Saring Suhendro menyoroti lemahnya akuntabilitas dan transparansi (kajian akuntansi sektor publik dan koperasi, 2025).

Sementara Dadan Suharmawijaya dalam forum Ombudsman RI menegaskan adanya potensi maladministrasi dalam implementasi program (forum “Problematika Koperasi Desa Merah Putih”, Ombudsman RI, Mei 2025). Dari sisi kebijakan, Yusuf Wibisono juga mengingatkan risiko kelembagaan dan keberlanjutan usaha (analisis kebijakan Next Policy, 2025).

Di sinilah persoalan mendasar muncul: Koperasi Merah Putih mengalami planning fallacy. Ribuan koperasi dibentuk secara cepat, tetapi tidak diiringi kesiapan ekosistem usaha mulai dari akses pasar, permodalan, hingga model bisnis yang jelas (bandingkan dengan teori perencanaan kebijakan publik dalam studi pembangunan). Banyak koperasi akhirnya berdiri tanpa arah: tidak tahu usaha apa yang dijalankan, dari mana sumber pendapatan diperoleh, bahkan di mana lokasi operasionalnya.

Alih-alih memperkuat ekonomi desa, kondisi ini justru menimbulkan kecemasan baru di tingkat lokal. Desa berada dalam posisi harap-harap cemas: antara harapan akan kemajuan dan kekhawatiran akan kegagalan program.

Belajar dari pengalaman Koperasi Unit Desa dan keberadaan Badan Usaha Milik Desa, seharusnya negara tidak terjebak pada logika “membentuk sebanyak mungkin”, tetapi “membangun sekuat mungkin”. 

Revitalisasi kelembagaan lama dan penguatan yang sudah ada bisa menjadi jalan lebih rasional dibanding menciptakan entitas baru tanpa fondasi.
Pada akhirnya, pertanyaan besar tetap sama: apakah Koperasi Merah Putih akan menjadi jalan baru ekonomi kerakyatan, atau sekadar mengulang sejarah dalam wajah berbeda?

Jawabannya kembali pada prinsip dasar yang telah lama ditegaskan Mohammad Hatta—bahwa koperasi hanya akan hidup jika benar-benar dimiliki dan dijalankan oleh anggotanya (Hatta, 1951). Jika tidak, maka yang lahir bukanlah gerakan ekonomi rakyat, melainkan proyek kekuasaan yang dibungkus retorika kesejahteraan. [T]

Tags: Kolom Tanah Airkoperasikoperasi merah putihMade Pria Dharsana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

Next Post

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co