12 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

KH Ketut Imaduddin Jamal by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
in Opini
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

KH Ketut Imaduddin Jamal

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah disediakan, dan seremoni telah dilaksanakan. Seolah-olah kehadiran negara cukup dibuktikan dengan pidato, papan nama proyek, serta potret-potret peresmian yang beredar luas di media. Padahal ukuran sesungguhnya dari sebuah kebijakan nasional bukanlah seberapa ramai ia dipertontonkan di pusat, melainkan seberapa adil ia menjangkau pinggiran. Di situlah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang menghadapi ujian moralnya: apakah ia sungguh dirancang untuk seluruh anak bangsa, atau tanpa sadar sedang dijalankan dengan logika lama yang Jawa-sentris, dekat pada pusat kuasa, tetapi jauh dari wilayah yang justru paling membutuhkan perhatian.

Kegelisahan itu bukan lahir dari kecemburuan geografis, melainkan dari realitas yang terbaca terang. Di pulau Jawa, geliat MBG di lingkungan pesantren bergerak cepat, lengkap dengan koordinasi kelembagaan, peresmian demi peresmian, kunjungan pejabat, dan narasi optimisme yang terus diproduksi. Kehadiran para pejabat tinggi seperti Dadan Hindayana dan Sony Sonjaya dalam berbagai momentum peluncuran program menghadirkan kesan bahwa negara sedang bekerja penuh tenaga. Namun republik ini bukan hanya Jawa. Republik ini juga hidup di ruang-ruang yang jauh dari sorot kamera, di wilayah minoritas Muslim yang justru memerlukan sentuhan kebijakan yang lebih peka, lebih hati-hati, dan lebih sungguh-sungguh. Salah satu ruang sunyi itu adalah Bali.

Di Bali, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan; ia adalah benteng kebudayaan, penjaga akidah, dan rumah peradaban kecil umat Islam yang hidup sebagai minoritas. Di sana, keberadaan pesantren memikul beban yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengajar kitab dan membina santri. Ia juga menjaga rasa aman psikologis komunitas, memelihara identitas keagamaan, serta menjadi simpul ketahanan sosial bagi umat yang hidup di tengah lanskap plural yang khas. Karena itu, ketika program sebesar MBG datang ke lingkungan pesantren di Bali, yang dibutuhkan bukan sekadar distribusi makanan, melainkan kehadiran negara yang memahami sensitivitas sosial-keagamaan yang hidup di dalamnya. Negara harus datang dengan kehormatan, dengan kehati-hatian, dan dengan standar yang lebih tinggi, terutama dalam urusan halal yang bagi umat Islam bukan detail administratif, melainkan prinsip etik yang menyentuh inti keyakinan.

Di titik inilah keresahan itu tumbuh. Berbagai pesantren di Bali justru menghadapi tawaran skema dapur MBG yang menimbulkan kegelisahan karena persoalan kepastian sertifikasi halal belum sepenuhnya tegak sebagai fondasi mutlak. Ini bukan soal teknis, bukan pula sekadar soal administrasi yang bisa dibereskan belakangan. Dalam konteks komunitas Muslim minoritas, halal bukan formalitas; halal adalah martabat. Halal adalah bentuk penghormatan negara terhadap keyakinan warganya. Ketika jaminan halal belum hadir secara kokoh, sementara program terus didorong dengan semangat percepatan, yang terbaca bukanlah ketegasan kebijakan, melainkan kegagapan memahami substansi. Negara tampak terlalu sibuk mengejar target kuantitatif, tetapi kurang tekun mendengar kualitas kegelisahan yang hidup di lapangan.

Padahal, jika kita mau jujur, aspirasi dari pesantren-pesantren Bali bukanlah suara yang datang tiba-tiba. Saluran komunikasi telah dibuka. Proposal telah diajukan. Ikhtiar kelembagaan telah ditempuh. Fasilitasi dari Majelis Ulama Indonesia telah hadir. Harapan telah diletakkan secara formal kepada pusat. Namun yang dirasakan hingga kini adalah lambannya respons konkret, seolah-olah wilayah minoritas Muslim tetap harus berdiri lebih lama di ruang tunggu kebijakan, sementara wilayah yang dekat dengan pusat kekuasaan lebih dahulu mendapatkan prioritas implementasi. Kesan seperti ini berbahaya, sebab ia menimbulkan persepsi bahwa distribusi perhatian negara tidak sepenuhnya ditentukan oleh tingkat kebutuhan, tetapi oleh kedekatan struktural dengan pusat pengambilan keputusan.

Karena itu pertanyaan dari Bali hari ini bukanlah pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan moral-politik yang sangat mendasar: kapan pejabat Badan Gizi Nasional datang langsung ke Bali untuk meresmikan MBG khusus pesantren dengan skema yang benar-benar matang, jaminan halal yang tidak menyisakan keraguan, serta perhatian yang setara sebagaimana yang diberikan kepada banyak pesantren di Jawa? Kapan negara menunjukkan, bukan lewat pidato melainkan lewat tindakan nyata, bahwa santri di Bali memiliki nilai yang sama dengan santri di pusat-pusat besar pendidikan Islam di Jawa? Kapan kehadiran negara benar-benar menyentuh wilayah yang secara sosial lebih rentan, lebih sensitif, dan lebih membutuhkan afirmasi kebijakan?

Bangsa ini tidak dibangun hanya oleh angka-angka anggaran, tetapi oleh rasa adil yang hidup di dada warganya. Ketika rasa adil itu mulai retak, maka program sebesar apa pun akan kehilangan legitimasi moralnya. MBG semestinya menjadi simbol pemerataan gizi sekaligus pemerataan perhatian negara. Namun jika yang terasa justru ketimpangan sentuhan kebijakan—ramai di pusat, samar di pinggiran—maka yang tumbuh bukan kepercayaan, melainkan kekecewaan yang perlahan mengendap menjadi kritik historis. Dan kritik itu akan terus menggema dari Bali, dari Nusa Tenggara Barat, dari berbagai wilayah Indonesia Timur, sampai negara benar-benar membuktikan bahwa kebijakan nasional tidak boleh berhenti pada mereka yang paling dekat dengan pusat kuasa, melainkan harus terlebih dahulu hadir kepada mereka yang paling lama menunggu di beranda republik. [T]

Penulis: KH Ketut Imaduddin Jamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: makanan bergiziPendidikanpesantren
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Next Post

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

KH Ketut Imaduddin Jamal

KH Ketut Imaduddin Jamal

Dewan Pertimbangan Majlis Ulama Indonesia Provinsi Bali dan Pengelola Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan Bali

Related Posts

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026
Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional
Lingkungan

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
June 11, 2026
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng
Tualang

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
Tempe dan Ekonomi yang Teriris
Esai

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
Fiksi

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat...

by Chusmeru
June 11, 2026
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan
Esai

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

by Chandra Manikan
June 10, 2026
‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan
Panggung

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
June 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan
Esai

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co