1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

KH Ketut Imaduddin Jamal by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
in Opini
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

KH Ketut Imaduddin Jamal

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah disediakan, dan seremoni telah dilaksanakan. Seolah-olah kehadiran negara cukup dibuktikan dengan pidato, papan nama proyek, serta potret-potret peresmian yang beredar luas di media. Padahal ukuran sesungguhnya dari sebuah kebijakan nasional bukanlah seberapa ramai ia dipertontonkan di pusat, melainkan seberapa adil ia menjangkau pinggiran. Di situlah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang menghadapi ujian moralnya: apakah ia sungguh dirancang untuk seluruh anak bangsa, atau tanpa sadar sedang dijalankan dengan logika lama yang Jawa-sentris, dekat pada pusat kuasa, tetapi jauh dari wilayah yang justru paling membutuhkan perhatian.

Kegelisahan itu bukan lahir dari kecemburuan geografis, melainkan dari realitas yang terbaca terang. Di pulau Jawa, geliat MBG di lingkungan pesantren bergerak cepat, lengkap dengan koordinasi kelembagaan, peresmian demi peresmian, kunjungan pejabat, dan narasi optimisme yang terus diproduksi. Kehadiran para pejabat tinggi seperti Dadan Hindayana dan Sony Sonjaya dalam berbagai momentum peluncuran program menghadirkan kesan bahwa negara sedang bekerja penuh tenaga. Namun republik ini bukan hanya Jawa. Republik ini juga hidup di ruang-ruang yang jauh dari sorot kamera, di wilayah minoritas Muslim yang justru memerlukan sentuhan kebijakan yang lebih peka, lebih hati-hati, dan lebih sungguh-sungguh. Salah satu ruang sunyi itu adalah Bali.

Di Bali, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan; ia adalah benteng kebudayaan, penjaga akidah, dan rumah peradaban kecil umat Islam yang hidup sebagai minoritas. Di sana, keberadaan pesantren memikul beban yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengajar kitab dan membina santri. Ia juga menjaga rasa aman psikologis komunitas, memelihara identitas keagamaan, serta menjadi simpul ketahanan sosial bagi umat yang hidup di tengah lanskap plural yang khas. Karena itu, ketika program sebesar MBG datang ke lingkungan pesantren di Bali, yang dibutuhkan bukan sekadar distribusi makanan, melainkan kehadiran negara yang memahami sensitivitas sosial-keagamaan yang hidup di dalamnya. Negara harus datang dengan kehormatan, dengan kehati-hatian, dan dengan standar yang lebih tinggi, terutama dalam urusan halal yang bagi umat Islam bukan detail administratif, melainkan prinsip etik yang menyentuh inti keyakinan.

Di titik inilah keresahan itu tumbuh. Berbagai pesantren di Bali justru menghadapi tawaran skema dapur MBG yang menimbulkan kegelisahan karena persoalan kepastian sertifikasi halal belum sepenuhnya tegak sebagai fondasi mutlak. Ini bukan soal teknis, bukan pula sekadar soal administrasi yang bisa dibereskan belakangan. Dalam konteks komunitas Muslim minoritas, halal bukan formalitas; halal adalah martabat. Halal adalah bentuk penghormatan negara terhadap keyakinan warganya. Ketika jaminan halal belum hadir secara kokoh, sementara program terus didorong dengan semangat percepatan, yang terbaca bukanlah ketegasan kebijakan, melainkan kegagapan memahami substansi. Negara tampak terlalu sibuk mengejar target kuantitatif, tetapi kurang tekun mendengar kualitas kegelisahan yang hidup di lapangan.

Padahal, jika kita mau jujur, aspirasi dari pesantren-pesantren Bali bukanlah suara yang datang tiba-tiba. Saluran komunikasi telah dibuka. Proposal telah diajukan. Ikhtiar kelembagaan telah ditempuh. Fasilitasi dari Majelis Ulama Indonesia telah hadir. Harapan telah diletakkan secara formal kepada pusat. Namun yang dirasakan hingga kini adalah lambannya respons konkret, seolah-olah wilayah minoritas Muslim tetap harus berdiri lebih lama di ruang tunggu kebijakan, sementara wilayah yang dekat dengan pusat kekuasaan lebih dahulu mendapatkan prioritas implementasi. Kesan seperti ini berbahaya, sebab ia menimbulkan persepsi bahwa distribusi perhatian negara tidak sepenuhnya ditentukan oleh tingkat kebutuhan, tetapi oleh kedekatan struktural dengan pusat pengambilan keputusan.

Karena itu pertanyaan dari Bali hari ini bukanlah pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan moral-politik yang sangat mendasar: kapan pejabat Badan Gizi Nasional datang langsung ke Bali untuk meresmikan MBG khusus pesantren dengan skema yang benar-benar matang, jaminan halal yang tidak menyisakan keraguan, serta perhatian yang setara sebagaimana yang diberikan kepada banyak pesantren di Jawa? Kapan negara menunjukkan, bukan lewat pidato melainkan lewat tindakan nyata, bahwa santri di Bali memiliki nilai yang sama dengan santri di pusat-pusat besar pendidikan Islam di Jawa? Kapan kehadiran negara benar-benar menyentuh wilayah yang secara sosial lebih rentan, lebih sensitif, dan lebih membutuhkan afirmasi kebijakan?

Bangsa ini tidak dibangun hanya oleh angka-angka anggaran, tetapi oleh rasa adil yang hidup di dada warganya. Ketika rasa adil itu mulai retak, maka program sebesar apa pun akan kehilangan legitimasi moralnya. MBG semestinya menjadi simbol pemerataan gizi sekaligus pemerataan perhatian negara. Namun jika yang terasa justru ketimpangan sentuhan kebijakan—ramai di pusat, samar di pinggiran—maka yang tumbuh bukan kepercayaan, melainkan kekecewaan yang perlahan mengendap menjadi kritik historis. Dan kritik itu akan terus menggema dari Bali, dari Nusa Tenggara Barat, dari berbagai wilayah Indonesia Timur, sampai negara benar-benar membuktikan bahwa kebijakan nasional tidak boleh berhenti pada mereka yang paling dekat dengan pusat kuasa, melainkan harus terlebih dahulu hadir kepada mereka yang paling lama menunggu di beranda republik. [T]

Penulis: KH Ketut Imaduddin Jamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: makanan bergiziPendidikanpesantren
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Next Post

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

KH Ketut Imaduddin Jamal

KH Ketut Imaduddin Jamal

Dewan Pertimbangan Majlis Ulama Indonesia Provinsi Bali dan Pengelola Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan Bali

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co