2 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
in Esai
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai ruang kontemplasi yang jujur, sekalipun yang tercermin justru realitas pendidikan yang masih bergulat dengan persoalan paling mendasar. Ada satu pertanyaan krusial yang tak bisa lagi dihindari: benarkah anak-anak Indonesia telah memiliki kemampuan membaca yang memadai? Jika merujuk data, jawabannya jauh dari menggembirakan.

Hingga Mei 2026, hasil resmi Program Penilaian Siswa Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 belum dirilis tersebab siklus pengumpulan data baru saja selesai. Namun data terakhir PISA 2022 (dirilis akhir 2023) menunjukkan literasi membaca Indonesia berada di skor 359, menempatkan Indonesia di peringkat bawah dunia. Skor ini mengalami penurunan dari 371 pada tahun 2018 dan menjadi salah satu yang terendah sejak tahun 2000. Lebih dari itu, data tersebut masih jauh di bawah rata-rata global, yang menempatkan Indonesia di kelompok bawah dalam kemampuan memahami bacaan

Persoalannya bukan pada kemampuan mengeja huruf, melainkan pada kegagalan menangkap makna. Sekolah kita masih sering berpuas diri ketika siswa “lancar membaca”, padahal literasi sejati menuntut lebih dari sekadar pelafalan. Literasi menuntut pemahaman, analisis, dan refleksi. Di sinilah kegagalan itu bermula dan terus direproduksi.

Fakta lain yang tak kalah miris datang dari laporan World Bank melalui kajian learning poverty yang menyebutkan bahwa sekitar 70% anak usia 10 tahun di Indonesia tidak mampu memahami teks sederhana. Artinya, mayoritas siswa kita secara teknis bisa membaca, tetapi gagal menangkap makna dasar dari apa yang dibacanya. Data ini mempertegas krisis literasi kita bersifat struktural, bukan insidental. Ketika kemampuan memahami teks paling sederhana saja belum tuntas, maka berbicara tentang kompetensi abad 21 seperti berpikir kritis dan kreatif menjadi ironi.

Lebih ironis lagi, budaya membaca yang rendah tersebut bukan sekadar persoalan individu siswa, melainkan cerminan ekosistem pendidikan yang rapuh. Sementara itu, literasi membaca merupakan fondasi bagi kemampuan lain, termasuk matematika dan sains. Jika kemampuan membaca lemah, niscaya kemampuan berpikir logis dan analitis ikut kropos. Dengan kata lain, krisis literasi bukan sebatas satu masalah, ia adalah akar dari banyak kegagalan akademik lainnya.

Kita masih sering menyalahkan pandemi sebagai biang kerok rendahnya budaya membaca. Memang benar, fenomena learning loss terjadi secara global. Namun menjadikan pandemi sebagai kambing hitam adalah cara paling mudah untuk menghindari persoalan yang lebih dalam. Kita tidak pernah benar-benar membangun budaya membaca yang kuat sejak awal. Bahkan sebelum pandemi, skor literasi Indonesia sudah stagnan dan cenderung rendah selama dua dekade terakhir.

Di ruang kelas, membaca kerap direduksi menjadi kewajiban administratif. Membaca teks untuk menjawab soal, bukan untuk memahami dunia. Buku bukan sahabat intelektual, melainkan sekadar alat untuk lulus ujian. Guru pun, dalam banyak kasus, lebih sibuk mengejar target kurikulum daripada menumbuhkan rasa ingin tahu. Akibatnya, siswa tidak pernah mengalami membaca sebagai aktivitas yang memerdekakan, namun justru menjadi beban yang menjenuhkan.

Di luar sekolah, situasinya tidak lebih baik. Gawai telah menggantikan buku, tetapi bukan untuk membaca secara mendalam, melainkan untuk konsumsi informasi instan yang dangkal. Kita hidup dalam pusaran informasi, tetapi kering makna. Anak-anak kita terbiasa menggulir layar, bukan menelusuri ide.

Hardiknas, dalam konteks ini, selama ini lebih dari jelmaan ritual simbolik yang kehilangan daya gugah. Upacara, pidato, dan slogan pendidikan berkualitas terasa hampa ketika realitas di lapangan menunjukkan sebagian besar siswa kita masih berjuang memahami teks sederhana. Kita merayakan pendidikan tanpa memerkuat fondasinya.

Sudah saatnya Hardiknas diubah dari seremoni menjadi momen konfrontasi dengan kenyataan bahwa kita belum berhasil menjadikan membaca sebagai budaya. Tanpa budaya baca, semua jargon tentang “merdeka belajar” akan runtuh menjadi retorika kosong. Sebab bagaimana mungkin siswa merdeka dalam belajar jika ia tidak masih sulit memahami bacaan?

Perbaikan tidak bisa berhenti pada kebijakan makro. Ia harus menyentuh ruang paling intim dalam pendidikan, yaitu relasi antara siswa dan teks. Sekolah harus menjadi ruang tempat membaca bukan sebatas tugas. Guru harus menjadi teladan pembaca, bukan sekadar pengajar. Sistem evaluasi perlu bergeser dari tujuan menguji hafalan menuju mengukur pemahaman. Jika tidak, kita akan terus terjebak dalam siklus merayakan pendidikan setiap tahun, sambil diam-diam mengabaikan krisis literasi yang kian dalam.

Hardiknas senyatanya bukan tentang mengenang masa lalu pendidikan, tetapi tentang keberanian mengakui kegagalannya hari ini. Hanya dengan kejujuran itulah, kita punya peluang untuk membangun budaya membaca bukan lagi sebagai kelemahan kolektif, melainkan kekuatan bersama dalam memajukan bangsa. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Pendidikan NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Next Post

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

by Angga Wijaya
May 2, 2026
0
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

Read moreDetails

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails
Next Post
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam
Esai

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

by Angga Wijaya
May 2, 2026
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co