23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
in Esai
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai ruang kontemplasi yang jujur, sekalipun yang tercermin justru realitas pendidikan yang masih bergulat dengan persoalan paling mendasar. Ada satu pertanyaan krusial yang tak bisa lagi dihindari: benarkah anak-anak Indonesia telah memiliki kemampuan membaca yang memadai? Jika merujuk data, jawabannya jauh dari menggembirakan.

Hingga Mei 2026, hasil resmi Program Penilaian Siswa Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 belum dirilis tersebab siklus pengumpulan data baru saja selesai. Namun data terakhir PISA 2022 (dirilis akhir 2023) menunjukkan literasi membaca Indonesia berada di skor 359, menempatkan Indonesia di peringkat bawah dunia. Skor ini mengalami penurunan dari 371 pada tahun 2018 dan menjadi salah satu yang terendah sejak tahun 2000. Lebih dari itu, data tersebut masih jauh di bawah rata-rata global, yang menempatkan Indonesia di kelompok bawah dalam kemampuan memahami bacaan

Persoalannya bukan pada kemampuan mengeja huruf, melainkan pada kegagalan menangkap makna. Sekolah kita masih sering berpuas diri ketika siswa “lancar membaca”, padahal literasi sejati menuntut lebih dari sekadar pelafalan. Literasi menuntut pemahaman, analisis, dan refleksi. Di sinilah kegagalan itu bermula dan terus direproduksi.

Fakta lain yang tak kalah miris datang dari laporan World Bank melalui kajian learning poverty yang menyebutkan bahwa sekitar 70% anak usia 10 tahun di Indonesia tidak mampu memahami teks sederhana. Artinya, mayoritas siswa kita secara teknis bisa membaca, tetapi gagal menangkap makna dasar dari apa yang dibacanya. Data ini mempertegas krisis literasi kita bersifat struktural, bukan insidental. Ketika kemampuan memahami teks paling sederhana saja belum tuntas, maka berbicara tentang kompetensi abad 21 seperti berpikir kritis dan kreatif menjadi ironi.

Lebih ironis lagi, budaya membaca yang rendah tersebut bukan sekadar persoalan individu siswa, melainkan cerminan ekosistem pendidikan yang rapuh. Sementara itu, literasi membaca merupakan fondasi bagi kemampuan lain, termasuk matematika dan sains. Jika kemampuan membaca lemah, niscaya kemampuan berpikir logis dan analitis ikut kropos. Dengan kata lain, krisis literasi bukan sebatas satu masalah, ia adalah akar dari banyak kegagalan akademik lainnya.

Kita masih sering menyalahkan pandemi sebagai biang kerok rendahnya budaya membaca. Memang benar, fenomena learning loss terjadi secara global. Namun menjadikan pandemi sebagai kambing hitam adalah cara paling mudah untuk menghindari persoalan yang lebih dalam. Kita tidak pernah benar-benar membangun budaya membaca yang kuat sejak awal. Bahkan sebelum pandemi, skor literasi Indonesia sudah stagnan dan cenderung rendah selama dua dekade terakhir.

Di ruang kelas, membaca kerap direduksi menjadi kewajiban administratif. Membaca teks untuk menjawab soal, bukan untuk memahami dunia. Buku bukan sahabat intelektual, melainkan sekadar alat untuk lulus ujian. Guru pun, dalam banyak kasus, lebih sibuk mengejar target kurikulum daripada menumbuhkan rasa ingin tahu. Akibatnya, siswa tidak pernah mengalami membaca sebagai aktivitas yang memerdekakan, namun justru menjadi beban yang menjenuhkan.

Di luar sekolah, situasinya tidak lebih baik. Gawai telah menggantikan buku, tetapi bukan untuk membaca secara mendalam, melainkan untuk konsumsi informasi instan yang dangkal. Kita hidup dalam pusaran informasi, tetapi kering makna. Anak-anak kita terbiasa menggulir layar, bukan menelusuri ide.

Hardiknas, dalam konteks ini, selama ini lebih dari jelmaan ritual simbolik yang kehilangan daya gugah. Upacara, pidato, dan slogan pendidikan berkualitas terasa hampa ketika realitas di lapangan menunjukkan sebagian besar siswa kita masih berjuang memahami teks sederhana. Kita merayakan pendidikan tanpa memerkuat fondasinya.

Sudah saatnya Hardiknas diubah dari seremoni menjadi momen konfrontasi dengan kenyataan bahwa kita belum berhasil menjadikan membaca sebagai budaya. Tanpa budaya baca, semua jargon tentang “merdeka belajar” akan runtuh menjadi retorika kosong. Sebab bagaimana mungkin siswa merdeka dalam belajar jika ia tidak masih sulit memahami bacaan?

Perbaikan tidak bisa berhenti pada kebijakan makro. Ia harus menyentuh ruang paling intim dalam pendidikan, yaitu relasi antara siswa dan teks. Sekolah harus menjadi ruang tempat membaca bukan sebatas tugas. Guru harus menjadi teladan pembaca, bukan sekadar pengajar. Sistem evaluasi perlu bergeser dari tujuan menguji hafalan menuju mengukur pemahaman. Jika tidak, kita akan terus terjebak dalam siklus merayakan pendidikan setiap tahun, sambil diam-diam mengabaikan krisis literasi yang kian dalam.

Hardiknas senyatanya bukan tentang mengenang masa lalu pendidikan, tetapi tentang keberanian mengakui kegagalannya hari ini. Hanya dengan kejujuran itulah, kita punya peluang untuk membangun budaya membaca bukan lagi sebagai kelemahan kolektif, melainkan kekuatan bersama dalam memajukan bangsa. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Pendidikan NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Next Post

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co