23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
in Esai
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai ruang kontemplasi yang jujur, sekalipun yang tercermin justru realitas pendidikan yang masih bergulat dengan persoalan paling mendasar. Ada satu pertanyaan krusial yang tak bisa lagi dihindari: benarkah anak-anak Indonesia telah memiliki kemampuan membaca yang memadai? Jika merujuk data, jawabannya jauh dari menggembirakan.

Hingga Mei 2026, hasil resmi Program Penilaian Siswa Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 belum dirilis tersebab siklus pengumpulan data baru saja selesai. Namun data terakhir PISA 2022 (dirilis akhir 2023) menunjukkan literasi membaca Indonesia berada di skor 359, menempatkan Indonesia di peringkat bawah dunia. Skor ini mengalami penurunan dari 371 pada tahun 2018 dan menjadi salah satu yang terendah sejak tahun 2000. Lebih dari itu, data tersebut masih jauh di bawah rata-rata global, yang menempatkan Indonesia di kelompok bawah dalam kemampuan memahami bacaan

Persoalannya bukan pada kemampuan mengeja huruf, melainkan pada kegagalan menangkap makna. Sekolah kita masih sering berpuas diri ketika siswa “lancar membaca”, padahal literasi sejati menuntut lebih dari sekadar pelafalan. Literasi menuntut pemahaman, analisis, dan refleksi. Di sinilah kegagalan itu bermula dan terus direproduksi.

Fakta lain yang tak kalah miris datang dari laporan World Bank melalui kajian learning poverty yang menyebutkan bahwa sekitar 70% anak usia 10 tahun di Indonesia tidak mampu memahami teks sederhana. Artinya, mayoritas siswa kita secara teknis bisa membaca, tetapi gagal menangkap makna dasar dari apa yang dibacanya. Data ini mempertegas krisis literasi kita bersifat struktural, bukan insidental. Ketika kemampuan memahami teks paling sederhana saja belum tuntas, maka berbicara tentang kompetensi abad 21 seperti berpikir kritis dan kreatif menjadi ironi.

Lebih ironis lagi, budaya membaca yang rendah tersebut bukan sekadar persoalan individu siswa, melainkan cerminan ekosistem pendidikan yang rapuh. Sementara itu, literasi membaca merupakan fondasi bagi kemampuan lain, termasuk matematika dan sains. Jika kemampuan membaca lemah, niscaya kemampuan berpikir logis dan analitis ikut kropos. Dengan kata lain, krisis literasi bukan sebatas satu masalah, ia adalah akar dari banyak kegagalan akademik lainnya.

Kita masih sering menyalahkan pandemi sebagai biang kerok rendahnya budaya membaca. Memang benar, fenomena learning loss terjadi secara global. Namun menjadikan pandemi sebagai kambing hitam adalah cara paling mudah untuk menghindari persoalan yang lebih dalam. Kita tidak pernah benar-benar membangun budaya membaca yang kuat sejak awal. Bahkan sebelum pandemi, skor literasi Indonesia sudah stagnan dan cenderung rendah selama dua dekade terakhir.

Di ruang kelas, membaca kerap direduksi menjadi kewajiban administratif. Membaca teks untuk menjawab soal, bukan untuk memahami dunia. Buku bukan sahabat intelektual, melainkan sekadar alat untuk lulus ujian. Guru pun, dalam banyak kasus, lebih sibuk mengejar target kurikulum daripada menumbuhkan rasa ingin tahu. Akibatnya, siswa tidak pernah mengalami membaca sebagai aktivitas yang memerdekakan, namun justru menjadi beban yang menjenuhkan.

Di luar sekolah, situasinya tidak lebih baik. Gawai telah menggantikan buku, tetapi bukan untuk membaca secara mendalam, melainkan untuk konsumsi informasi instan yang dangkal. Kita hidup dalam pusaran informasi, tetapi kering makna. Anak-anak kita terbiasa menggulir layar, bukan menelusuri ide.

Hardiknas, dalam konteks ini, selama ini lebih dari jelmaan ritual simbolik yang kehilangan daya gugah. Upacara, pidato, dan slogan pendidikan berkualitas terasa hampa ketika realitas di lapangan menunjukkan sebagian besar siswa kita masih berjuang memahami teks sederhana. Kita merayakan pendidikan tanpa memerkuat fondasinya.

Sudah saatnya Hardiknas diubah dari seremoni menjadi momen konfrontasi dengan kenyataan bahwa kita belum berhasil menjadikan membaca sebagai budaya. Tanpa budaya baca, semua jargon tentang “merdeka belajar” akan runtuh menjadi retorika kosong. Sebab bagaimana mungkin siswa merdeka dalam belajar jika ia tidak masih sulit memahami bacaan?

Perbaikan tidak bisa berhenti pada kebijakan makro. Ia harus menyentuh ruang paling intim dalam pendidikan, yaitu relasi antara siswa dan teks. Sekolah harus menjadi ruang tempat membaca bukan sebatas tugas. Guru harus menjadi teladan pembaca, bukan sekadar pengajar. Sistem evaluasi perlu bergeser dari tujuan menguji hafalan menuju mengukur pemahaman. Jika tidak, kita akan terus terjebak dalam siklus merayakan pendidikan setiap tahun, sambil diam-diam mengabaikan krisis literasi yang kian dalam.

Hardiknas senyatanya bukan tentang mengenang masa lalu pendidikan, tetapi tentang keberanian mengakui kegagalannya hari ini. Hanya dengan kejujuran itulah, kita punya peluang untuk membangun budaya membaca bukan lagi sebagai kelemahan kolektif, melainkan kekuatan bersama dalam memajukan bangsa. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Pendidikan NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Next Post

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

Read moreDetails
Next Post
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co