11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
in Esai
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Ilustrasi tatkala.co | Canva

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya.

Di sampingnya, Made Jembar sedang mencabuti rumput liar yang tumbuh di pematang. Ia berhenti sejenak, menegakkan badan, lalu menjawab, “Doa, Yan.”

“Cuma doa?”

“Cuma doa.”

“Kalau begitu, petani cukup sembahyang saja. Tak perlu membajak sawah, tak perlu menanam padi, tak perlu menyemprot pestisida,” sahut Tulus, tersenyum tipis.

Jembar tertawa. “Kamu memang suka membelokkan omongan orang.”

Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Sama-sama lahir dari keluarga petani, tak pernah jauh dari lumpur sawah. Bedanya, Jembar dikenal rajin bersembahyang. Hampir setiap hari ada saja canang yang ia haturkan. Sementara Tulus lebih banyak percaya pada kerja keras.

“Menurutku, yang menentukan hidup manusia itu usaha,” kata Tulus.

“Cuma usaha?”

“Cuma usaha.”

“Berarti orang yang paling kuat dan paling pintar pasti selalu berhasil?” Tulus terdiam. Kini giliran Jembar yang tersenyum.

Pagi itu mereka melanjutkan pekerjaan sambil berdebat. Matahari mulai meninggi. Burung-burung pipit berterbangan mencari bulir padi yang tersisa.

“Kamu ingat Mangku Dana?” tanya Jembar.

“Yang punya toko bangunan itu?”

“Iya. Dulu waktu usahanya baru dimulai, dia selalu sembahyang minta kelancaran. Setelah tokonya besar, mobilnya bertambah, cabangnya banyak, dia mulai berkata bahwa semua itu hasil kerja kerasnya sendiri.”

“Lalu?” tanya Tulus.

“Tahun berikutnya usahanya merosot.”

Tulus mengangguk pelan. “Jadi menurutmu itu karena dia berhenti berdoa?”

“Bukan begitu. Menurutku dia mulai lupa bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dikendalikan manusia.”

Tulus kemudian menunjuk ke arah sawah.

“Lihat padi itu. Kalau aku tidak mengolah tanah, tidak menanam, tidak membersihkan hama, apakah doa saja bisa membuat padi tumbuh?”

“Jelas, tidak.”

“Nah.”

“Tapi kalau hujan tidak turun berbulan-bulan? Kalau banjir datang? Kalau hama menyerang tanaman?” cecar Jembar.

Tulus terdiam.

Jembar tertawa kecil. “Makanya aku bilang, usaha saja juga tidak cukup.”

Mereka lalu duduk di gubuk kecil di tepi sawah. Jembar membuka bekal singkong rebus yang dibawanya dari rumah. Separuh diberikan kepada Tulus.

Di desa mereka, banyak orang memiliki keyakinan yang berbeda-beda tentang keberhasilan. Ada yang percaya semuanya ditentukan kerja keras. Ada yang percaya semuanya ditentukan nasib. Ada pula yang menunggu keajaiban datang tanpa pernah bergerak.

“Anakku yang nomor dua itu lucu,” kata Tulus.

“Kenapa?”

“Menjelang ujian dia sembahyang lama sekali.”

“Itu bagus.”

“Tapi bukunya tidak pernah dibuka.”

Jembar terbahak-bahak.

“Kalau begitu dia sedang meminta hasil panen tanpa menanam benih.”

“Itulah yang kubilang.”

“Tapi ada juga kebalikannya.”

“Maksudmu?” tanya Jembar.

“Ada anak yang belajar siang malam. Merasa dirinya paling hebat. Merasa pasti berhasil. Tidak pernah bersyukur, tidak pernah rendah hati. Kalau gagal sekali saja, biasanya paling terpukul,” ucap Tulus.

Mereka kemudian terdiam.

Di kejauhan terdengar suara mesin traktor. Kawanan bangau putih turun di petak sawah yang baru dibajak. Jembar memandang langit yang mulai cerah.

“Dulu ayahku sering bilang, doa tanpa usaha itu kosong dan usaha tanpa doa itu sombong.”

Tulus mengulang kalimat itu pelan-pelan. Ia lalu teringat banyak orang yang dikenalnya. Ada yang setiap hari memohon rezeki tetapi enggan bekerja. Ada yang bekerja mati-matian tetapi menganggap keberhasilannya murni hasil dirinya sendiri.

Padahal manusia hidup di antara dua hal itu: kemampuan dan keterbatasan. Kemampuan untuk berusaha. Keterbatasan untuk menentukan hasil.

Menjelang siang mereka kembali turun ke sawah. Lumpur menempel sampai ke betis. Matahari terasa makin panas.

“Ternyata kita ini mirip petani yang menanam padi ya,” kata Tulus.

“Memang petani.”

“Maksudku hidup manusia itu.”

Jembar tertawa.

“Kita memilih benih, mengolah tanah, memberi pupuk, menjaga tanaman. Itu usaha.”

“Dan panennya?” tanya Jembar.

“Kita harapkan yang terbaik sambil tetap menyadari tidak semua ada di tangan kita.”

Perdebatan mereka pun berakhir. Mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing. Tak ada yang menang, tak ada yang kalah. Di atas sawah yang menghampar luas, mereka sama-sama mengerti bahwa doa bukan pengganti usaha. Dan usaha bukan alasan untuk melupakan doa.

Karena sejatinya, manusia memang harus bekerja sekuat tenaga karena semua bergantung pada dirinya. Namun tetap berdoa dengan rendah hati karena semuanya bergantung pada Yang Maha Kuasa. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: bekerjaBerdoadoafilosofi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

Next Post

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails
Next Post
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik ---Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli
Panggung

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co