2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumbuh dalam kehidupan sederhana, bukan generasi yang pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata.  Mereka memiliki bahasa yang berbeda.  Bahasa itu bernama makanan. Bahkan kakek-nenek kita selalu menyuruh kita makan kalau kita datang berkunjung.

Saya masih ingat sebuah pemandangan yang mungkin juga akrab bagi banyak orang Indonesia. Di meja makan yang sederhana, ibu berkata bahwa beliau sudah kenyang. Ayah bilang ia tidak terlalu suka bagian ayam yang besar. Belakangan, setelah dewasa, kita baru memahami bahwa sebagian dari pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar.  Mereka bukan tidak lapar.  Mereka hanya ingin memastikan anak-anaknya makan lebih dulu.

Kalimat legendaris “yang penting anak-anak sudah makan” mungkin merupakan salah satu bentuk cinta paling jujur yang pernah lahir di negeri ini. Tidak ada puisi, pun tidak ada musik latar. Tidak ada unggahan media sosial yang menyentuh hati.  Hanya ada sepiring lauk yang diam-diam berpindah dari piring orang tua ke piring anak.  Dalam tindakan sederhana itu terkandung sebuah pesan yang luar biasa, bahwa kelangsungan hidup anak-anak lebih penting daripada kenyamanan orang tua.  Karena itulah makanan tidak pernah sekadar makanan. 

Mengapa Manusia Selalu Menghubungkan Makanan dengan Kehormatan?

Para antropolog sudah lama memahami bahwa makanan memiliki makna yang jauh melampaui fungsi biologisnya. Claude Lévi-Strauss melihat makanan sebagai bagian dari sistem simbol yang digunakan manusia untuk memahami dunia. Mary Douglas menjelaskan bahwa makan bersama adalah peristiwa sosial yang membantu membangun dan menjaga hubungan antarmanusia. Sementara Marcel Mauss menunjukkan bahwa pemberian, termasuk pemberian makanan, hampir selalu mengandung makna penghormatan dan ikatan sosial.

Karena itu, di hampir semua budaya, memberi makan seseorang bukan sekadar memindahkan kalori dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah bentuk pengakuan.  Ketika tamu datang ke rumah lalu disuguhi teh hangat, yang diberikan bukan sekadar minuman. Yang diberikan adalah pesan bahwa ia diterima. 

Ketika warga kampung berkumpul dalam hajatan dan makan bersama, yang sedang dibangun bukan hanya rasa kenyang, melainkan rasa kebersamaan.  Dalam budaya Jawa, bahkan membiarkan tamu pulang tanpa suguhan sering dianggap kurang pantas. Bukan karena tamunya akan kelaparan, melainkan karena penghormatan sosial belum diberikan sebagaimana mestinya.

Makanan adalah bahasa. Dan seperti semua bahasa, ia menyampaikan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.  Ketika negara masuk ke ruang yang sangat pribadi, maka di sinilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi menarik untuk dibahas. Selama ini kita cenderung melihat MBG sebagai program pembangunan. Kita berbicara tentang anggaran, target penerima manfaat, dapur umum, rantai distribusi, dan indikator keberhasilan.  Semua itu tentu penting. 

Namun ada satu hal yang jarang disadari.  Ketika negara memberikan makanan kepada anak-anak, negara sesungguhnya sedang memasuki ruang yang selama ribuan tahun menjadi wilayah moral keluarga. Negara sedang melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan seorang ibu.  Negara sedang mengambil peran yang selama ini dijalankan seorang ayah.  Negara sedang berkata kepada jutaan anak Indonesia,  “Kami ingin memastikan kalian tumbuh dengan baik.” 

Karena itulah MBG tidak pernah bisa dipahami hanya sebagai program pangan.  Ia juga merupakan pernyataan moral.  Ia adalah cara sebuah bangsa menunjukkan bagaimana ia memandang generasi yang akan mewarisi masa depannya.

Dari Anak-Anak ke Administrasi

Namun di sinilah kegelisahan mulai muncul.  Ketika MBG pertama kali diperkenalkan, yang memenuhi imajinasi publik tentu adalah anak-anak. Kita membayangkan siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Kita membayangkan keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi harian. Kita membayangkan dengan optimis masa depan generasi muda yang lebih sehat. 

Tetapi perlahan-lahan, percakapan publik mulai bergeser.   Yang muncul di media bukan lagi cerita tentang anak-anak.  Yang muncul adalah cerita tentang tata kelola, anggaran, audit, pengawasan,  pergantian pimpinan,  polemik pengelolaan dapur, bahkan sampai tentang perdebatan para aktivis mahasiswa dengan pejabat publik. Terakhir ini tentang berbagai tudingan dan kecurigaan yang beredar di ruang publik., seperti yang beredar di media bagaimana Sony Sonjaya membongkar isi chat dengan 26 pejabat yang diduga berebut jatah lokasi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahkan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional dari Dadan Hindayana kepada Naniek Sudaryati Deyang menambah kesan bahwa persoalan yang dihadapi program ini tidak lagi semata-mata menyangkut distribusi makanan, melainkan juga menyangkut tata kelola dan kepercayaan publik. Semua isu itu memang penting. 

Namun ada sesuatu yang terasa mengganggu.  Di tengah ramainya perdebatan tersebut, coba kita perhatikan, anak-anak perlahan mulai menghilang dari pusat cerita.  Seolah-olah bangsa ini mulai lebih sibuk membicarakan siapa yang mengelola makanan daripada siapa yang memakannya.

Pelan tapi Pasti Spreadsheet Menggantikan Empati

Tentu saja program sebesar MBG membutuhkan administrasi yang baik.  Tidak ada yang salah dengan audit dan pengawasan.  Tidak ada yang salah juga dengan indikator kinerja.  Masalah muncul ketika administrasi mulai menggantikan tujuan moral yang seharusnya dilayaninya.  Dalam keluarga, seorang ibu tidak menghitung kasih sayangnya menggunakan spreadsheet.   Seorang ayah tidak membuat indikator kinerja utama untuk menentukan berapa besar pengorbanan yang harus ia berikan kepada anaknya.

Ketika orang tua memastikan anaknya makan lebih dulu, yang bekerja bukan logika administrasi.  Yang bekerja adalah logika kepedulian. Ya wajar saja masyarakat menjadi sangat sensitif ketika program makan anak-anak terlalu sering dibicarakan dalam bahasa proyek.  Bukan karena administrasi tidak penting.  Melainkan karena administrasi seharusnya menjadi alat untuk mewujudkan tujuan etis, bukan menggantikannya.

Mungkin inilah alasan mengapa masyarakat bereaksi begitu keras setiap kali muncul kabar makanan yang tidak layak, kasus keracunan, atau dugaan penyimpangan dalam program makan anak.  Yang terluka bukan hanya kepercayaan terhadap sistem.  Yang terluka adalah sesuatu yang lebih dalam.  Yaitu keyakinan bahwa anak-anak kita sedang diperlakukan dengan hormat, tercederai.

Namun, sering kali pemerintah menjawab kritik terhadap MBG dengan data.  Sekian juta penerima manfaat.  Sekian ribu dapur.  Sekian triliun anggaran.  Sekian persen capaian.  Data-data itu penting.  Namun ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh statistik.  Pertanyaan itu sangat sederhana. “Kalau itu anak saya, apakah saya rela memberinya makanan seperti itu?”  Pertanyaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada audit keuangan.  Karena ia menyentuh inti persoalan, karena dalam hampir semua budaya, kualitas makanan yang diberikan mencerminkan kualitas penghormatan kepada penerimanya.  Orang yang dihormati mendapat hidangan terbaik.  Anak yang dicintai mendapat bagian terbaik.

Soal Lauk yang Berpindah

Pada akhirnya, perdebatan tentang MBG bukan sekadar perdebatan tentang menu makan siang.  Ia adalah perdebatan tentang bagaimana sebuah bangsa memandang anak-anaknya.  Apakah mereka dilihat sebagai manusia yang harus dihormati martabatnya?   Ataukah sekadar angka penerima manfaat dalam sebuah laporan kinerja?  Barangkali masalah terbesar bukanlah ketika terjadi pergantian pejabat, muncul polemik pengelolaan, atau beredarnya berbagai rumor dan tudingan yang sulit diverifikasi.  Masalah terbesar muncul ketika kita mulai lupa mengapa program itu ada sejak awal.

Ketika perhatian kita lebih banyak tersita pada proyek daripada anak-anak.  Ketika kita lebih sibuk membicarakan dapur daripada mereka yang makan.  Ketika administrasi perlahan mengambil alih ruang yang semestinya diisi oleh kepedulian.

Sebab pada akhirnya, memberi makan anak bukanlah sekadar aktivitas distribusi pangan. Itu adalah tindakan moral., soal simbol penghormatan.  Makananan adalah bahasa cinta yang telah dipraktikkan manusia jauh sebelum lahirnya kementerian, badan negara, maupun sistem birokrasi modern.

Dan jika suatu hari bangsa ini kehilangan kesadaran akan makna itu, yang terancam hilang bukan hanya kualitas makanan yang diterima anak-anak.  Yang terancam hilang adalah sesuatu yang jauh lebih mahal. Yaitu kemampuan kita untuk melihat sesama manusia, terutama anak-anak, sebagai pribadi yang layak dihormati, dirawat, dan dijaga masa depannya.

Jika orangtua memindahkan lauknya ke piring anak-anaknya secara diam-diam karena sayang, sekarang pun perpindahan lauk itu tetap ada. Hanya arahnya yang berbeda, dari piring anak-anak pindah entah kemana. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: makananmakanan bergizi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

Next Post

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails
Next Post
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co