1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumbuh dalam kehidupan sederhana, bukan generasi yang pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata.  Mereka memiliki bahasa yang berbeda.  Bahasa itu bernama makanan. Bahkan kakek-nenek kita selalu menyuruh kita makan kalau kita datang berkunjung.

Saya masih ingat sebuah pemandangan yang mungkin juga akrab bagi banyak orang Indonesia. Di meja makan yang sederhana, ibu berkata bahwa beliau sudah kenyang. Ayah bilang ia tidak terlalu suka bagian ayam yang besar. Belakangan, setelah dewasa, kita baru memahami bahwa sebagian dari pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar.  Mereka bukan tidak lapar.  Mereka hanya ingin memastikan anak-anaknya makan lebih dulu.

Kalimat legendaris “yang penting anak-anak sudah makan” mungkin merupakan salah satu bentuk cinta paling jujur yang pernah lahir di negeri ini. Tidak ada puisi, pun tidak ada musik latar. Tidak ada unggahan media sosial yang menyentuh hati.  Hanya ada sepiring lauk yang diam-diam berpindah dari piring orang tua ke piring anak.  Dalam tindakan sederhana itu terkandung sebuah pesan yang luar biasa, bahwa kelangsungan hidup anak-anak lebih penting daripada kenyamanan orang tua.  Karena itulah makanan tidak pernah sekadar makanan. 

Mengapa Manusia Selalu Menghubungkan Makanan dengan Kehormatan?

Para antropolog sudah lama memahami bahwa makanan memiliki makna yang jauh melampaui fungsi biologisnya. Claude Lévi-Strauss melihat makanan sebagai bagian dari sistem simbol yang digunakan manusia untuk memahami dunia. Mary Douglas menjelaskan bahwa makan bersama adalah peristiwa sosial yang membantu membangun dan menjaga hubungan antarmanusia. Sementara Marcel Mauss menunjukkan bahwa pemberian, termasuk pemberian makanan, hampir selalu mengandung makna penghormatan dan ikatan sosial.

Karena itu, di hampir semua budaya, memberi makan seseorang bukan sekadar memindahkan kalori dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah bentuk pengakuan.  Ketika tamu datang ke rumah lalu disuguhi teh hangat, yang diberikan bukan sekadar minuman. Yang diberikan adalah pesan bahwa ia diterima. 

Ketika warga kampung berkumpul dalam hajatan dan makan bersama, yang sedang dibangun bukan hanya rasa kenyang, melainkan rasa kebersamaan.  Dalam budaya Jawa, bahkan membiarkan tamu pulang tanpa suguhan sering dianggap kurang pantas. Bukan karena tamunya akan kelaparan, melainkan karena penghormatan sosial belum diberikan sebagaimana mestinya.

Makanan adalah bahasa. Dan seperti semua bahasa, ia menyampaikan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.  Ketika negara masuk ke ruang yang sangat pribadi, maka di sinilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi menarik untuk dibahas. Selama ini kita cenderung melihat MBG sebagai program pembangunan. Kita berbicara tentang anggaran, target penerima manfaat, dapur umum, rantai distribusi, dan indikator keberhasilan.  Semua itu tentu penting. 

Namun ada satu hal yang jarang disadari.  Ketika negara memberikan makanan kepada anak-anak, negara sesungguhnya sedang memasuki ruang yang selama ribuan tahun menjadi wilayah moral keluarga. Negara sedang melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan seorang ibu.  Negara sedang mengambil peran yang selama ini dijalankan seorang ayah.  Negara sedang berkata kepada jutaan anak Indonesia,  “Kami ingin memastikan kalian tumbuh dengan baik.” 

Karena itulah MBG tidak pernah bisa dipahami hanya sebagai program pangan.  Ia juga merupakan pernyataan moral.  Ia adalah cara sebuah bangsa menunjukkan bagaimana ia memandang generasi yang akan mewarisi masa depannya.

Dari Anak-Anak ke Administrasi

Namun di sinilah kegelisahan mulai muncul.  Ketika MBG pertama kali diperkenalkan, yang memenuhi imajinasi publik tentu adalah anak-anak. Kita membayangkan siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Kita membayangkan keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi harian. Kita membayangkan dengan optimis masa depan generasi muda yang lebih sehat. 

Tetapi perlahan-lahan, percakapan publik mulai bergeser.   Yang muncul di media bukan lagi cerita tentang anak-anak.  Yang muncul adalah cerita tentang tata kelola, anggaran, audit, pengawasan,  pergantian pimpinan,  polemik pengelolaan dapur, bahkan sampai tentang perdebatan para aktivis mahasiswa dengan pejabat publik. Terakhir ini tentang berbagai tudingan dan kecurigaan yang beredar di ruang publik., seperti yang beredar di media bagaimana Sony Sonjaya membongkar isi chat dengan 26 pejabat yang diduga berebut jatah lokasi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahkan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional dari Dadan Hindayana kepada Naniek Sudaryati Deyang menambah kesan bahwa persoalan yang dihadapi program ini tidak lagi semata-mata menyangkut distribusi makanan, melainkan juga menyangkut tata kelola dan kepercayaan publik. Semua isu itu memang penting. 

Namun ada sesuatu yang terasa mengganggu.  Di tengah ramainya perdebatan tersebut, coba kita perhatikan, anak-anak perlahan mulai menghilang dari pusat cerita.  Seolah-olah bangsa ini mulai lebih sibuk membicarakan siapa yang mengelola makanan daripada siapa yang memakannya.

Pelan tapi Pasti Spreadsheet Menggantikan Empati

Tentu saja program sebesar MBG membutuhkan administrasi yang baik.  Tidak ada yang salah dengan audit dan pengawasan.  Tidak ada yang salah juga dengan indikator kinerja.  Masalah muncul ketika administrasi mulai menggantikan tujuan moral yang seharusnya dilayaninya.  Dalam keluarga, seorang ibu tidak menghitung kasih sayangnya menggunakan spreadsheet.   Seorang ayah tidak membuat indikator kinerja utama untuk menentukan berapa besar pengorbanan yang harus ia berikan kepada anaknya.

Ketika orang tua memastikan anaknya makan lebih dulu, yang bekerja bukan logika administrasi.  Yang bekerja adalah logika kepedulian. Ya wajar saja masyarakat menjadi sangat sensitif ketika program makan anak-anak terlalu sering dibicarakan dalam bahasa proyek.  Bukan karena administrasi tidak penting.  Melainkan karena administrasi seharusnya menjadi alat untuk mewujudkan tujuan etis, bukan menggantikannya.

Mungkin inilah alasan mengapa masyarakat bereaksi begitu keras setiap kali muncul kabar makanan yang tidak layak, kasus keracunan, atau dugaan penyimpangan dalam program makan anak.  Yang terluka bukan hanya kepercayaan terhadap sistem.  Yang terluka adalah sesuatu yang lebih dalam.  Yaitu keyakinan bahwa anak-anak kita sedang diperlakukan dengan hormat, tercederai.

Namun, sering kali pemerintah menjawab kritik terhadap MBG dengan data.  Sekian juta penerima manfaat.  Sekian ribu dapur.  Sekian triliun anggaran.  Sekian persen capaian.  Data-data itu penting.  Namun ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh statistik.  Pertanyaan itu sangat sederhana. “Kalau itu anak saya, apakah saya rela memberinya makanan seperti itu?”  Pertanyaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada audit keuangan.  Karena ia menyentuh inti persoalan, karena dalam hampir semua budaya, kualitas makanan yang diberikan mencerminkan kualitas penghormatan kepada penerimanya.  Orang yang dihormati mendapat hidangan terbaik.  Anak yang dicintai mendapat bagian terbaik.

Soal Lauk yang Berpindah

Pada akhirnya, perdebatan tentang MBG bukan sekadar perdebatan tentang menu makan siang.  Ia adalah perdebatan tentang bagaimana sebuah bangsa memandang anak-anaknya.  Apakah mereka dilihat sebagai manusia yang harus dihormati martabatnya?   Ataukah sekadar angka penerima manfaat dalam sebuah laporan kinerja?  Barangkali masalah terbesar bukanlah ketika terjadi pergantian pejabat, muncul polemik pengelolaan, atau beredarnya berbagai rumor dan tudingan yang sulit diverifikasi.  Masalah terbesar muncul ketika kita mulai lupa mengapa program itu ada sejak awal.

Ketika perhatian kita lebih banyak tersita pada proyek daripada anak-anak.  Ketika kita lebih sibuk membicarakan dapur daripada mereka yang makan.  Ketika administrasi perlahan mengambil alih ruang yang semestinya diisi oleh kepedulian.

Sebab pada akhirnya, memberi makan anak bukanlah sekadar aktivitas distribusi pangan. Itu adalah tindakan moral., soal simbol penghormatan.  Makananan adalah bahasa cinta yang telah dipraktikkan manusia jauh sebelum lahirnya kementerian, badan negara, maupun sistem birokrasi modern.

Dan jika suatu hari bangsa ini kehilangan kesadaran akan makna itu, yang terancam hilang bukan hanya kualitas makanan yang diterima anak-anak.  Yang terancam hilang adalah sesuatu yang jauh lebih mahal. Yaitu kemampuan kita untuk melihat sesama manusia, terutama anak-anak, sebagai pribadi yang layak dihormati, dirawat, dan dijaga masa depannya.

Jika orangtua memindahkan lauknya ke piring anak-anaknya secara diam-diam karena sayang, sekarang pun perpindahan lauk itu tetap ada. Hanya arahnya yang berbeda, dari piring anak-anak pindah entah kemana. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: makananmakanan bergizi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

Next Post

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails
Next Post
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co