21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumbuh dalam kehidupan sederhana, bukan generasi yang pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata.  Mereka memiliki bahasa yang berbeda.  Bahasa itu bernama makanan. Bahkan kakek-nenek kita selalu menyuruh kita makan kalau kita datang berkunjung.

Saya masih ingat sebuah pemandangan yang mungkin juga akrab bagi banyak orang Indonesia. Di meja makan yang sederhana, ibu berkata bahwa beliau sudah kenyang. Ayah bilang ia tidak terlalu suka bagian ayam yang besar. Belakangan, setelah dewasa, kita baru memahami bahwa sebagian dari pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar.  Mereka bukan tidak lapar.  Mereka hanya ingin memastikan anak-anaknya makan lebih dulu.

Kalimat legendaris “yang penting anak-anak sudah makan” mungkin merupakan salah satu bentuk cinta paling jujur yang pernah lahir di negeri ini. Tidak ada puisi, pun tidak ada musik latar. Tidak ada unggahan media sosial yang menyentuh hati.  Hanya ada sepiring lauk yang diam-diam berpindah dari piring orang tua ke piring anak.  Dalam tindakan sederhana itu terkandung sebuah pesan yang luar biasa, bahwa kelangsungan hidup anak-anak lebih penting daripada kenyamanan orang tua.  Karena itulah makanan tidak pernah sekadar makanan. 

Mengapa Manusia Selalu Menghubungkan Makanan dengan Kehormatan?

Para antropolog sudah lama memahami bahwa makanan memiliki makna yang jauh melampaui fungsi biologisnya. Claude Lévi-Strauss melihat makanan sebagai bagian dari sistem simbol yang digunakan manusia untuk memahami dunia. Mary Douglas menjelaskan bahwa makan bersama adalah peristiwa sosial yang membantu membangun dan menjaga hubungan antarmanusia. Sementara Marcel Mauss menunjukkan bahwa pemberian, termasuk pemberian makanan, hampir selalu mengandung makna penghormatan dan ikatan sosial.

Karena itu, di hampir semua budaya, memberi makan seseorang bukan sekadar memindahkan kalori dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah bentuk pengakuan.  Ketika tamu datang ke rumah lalu disuguhi teh hangat, yang diberikan bukan sekadar minuman. Yang diberikan adalah pesan bahwa ia diterima. 

Ketika warga kampung berkumpul dalam hajatan dan makan bersama, yang sedang dibangun bukan hanya rasa kenyang, melainkan rasa kebersamaan.  Dalam budaya Jawa, bahkan membiarkan tamu pulang tanpa suguhan sering dianggap kurang pantas. Bukan karena tamunya akan kelaparan, melainkan karena penghormatan sosial belum diberikan sebagaimana mestinya.

Makanan adalah bahasa. Dan seperti semua bahasa, ia menyampaikan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.  Ketika negara masuk ke ruang yang sangat pribadi, maka di sinilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi menarik untuk dibahas. Selama ini kita cenderung melihat MBG sebagai program pembangunan. Kita berbicara tentang anggaran, target penerima manfaat, dapur umum, rantai distribusi, dan indikator keberhasilan.  Semua itu tentu penting. 

Namun ada satu hal yang jarang disadari.  Ketika negara memberikan makanan kepada anak-anak, negara sesungguhnya sedang memasuki ruang yang selama ribuan tahun menjadi wilayah moral keluarga. Negara sedang melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan seorang ibu.  Negara sedang mengambil peran yang selama ini dijalankan seorang ayah.  Negara sedang berkata kepada jutaan anak Indonesia,  “Kami ingin memastikan kalian tumbuh dengan baik.” 

Karena itulah MBG tidak pernah bisa dipahami hanya sebagai program pangan.  Ia juga merupakan pernyataan moral.  Ia adalah cara sebuah bangsa menunjukkan bagaimana ia memandang generasi yang akan mewarisi masa depannya.

Dari Anak-Anak ke Administrasi

Namun di sinilah kegelisahan mulai muncul.  Ketika MBG pertama kali diperkenalkan, yang memenuhi imajinasi publik tentu adalah anak-anak. Kita membayangkan siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Kita membayangkan keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi harian. Kita membayangkan dengan optimis masa depan generasi muda yang lebih sehat. 

Tetapi perlahan-lahan, percakapan publik mulai bergeser.   Yang muncul di media bukan lagi cerita tentang anak-anak.  Yang muncul adalah cerita tentang tata kelola, anggaran, audit, pengawasan,  pergantian pimpinan,  polemik pengelolaan dapur, bahkan sampai tentang perdebatan para aktivis mahasiswa dengan pejabat publik. Terakhir ini tentang berbagai tudingan dan kecurigaan yang beredar di ruang publik., seperti yang beredar di media bagaimana Sony Sonjaya membongkar isi chat dengan 26 pejabat yang diduga berebut jatah lokasi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahkan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional dari Dadan Hindayana kepada Naniek Sudaryati Deyang menambah kesan bahwa persoalan yang dihadapi program ini tidak lagi semata-mata menyangkut distribusi makanan, melainkan juga menyangkut tata kelola dan kepercayaan publik. Semua isu itu memang penting. 

Namun ada sesuatu yang terasa mengganggu.  Di tengah ramainya perdebatan tersebut, coba kita perhatikan, anak-anak perlahan mulai menghilang dari pusat cerita.  Seolah-olah bangsa ini mulai lebih sibuk membicarakan siapa yang mengelola makanan daripada siapa yang memakannya.

Pelan tapi Pasti Spreadsheet Menggantikan Empati

Tentu saja program sebesar MBG membutuhkan administrasi yang baik.  Tidak ada yang salah dengan audit dan pengawasan.  Tidak ada yang salah juga dengan indikator kinerja.  Masalah muncul ketika administrasi mulai menggantikan tujuan moral yang seharusnya dilayaninya.  Dalam keluarga, seorang ibu tidak menghitung kasih sayangnya menggunakan spreadsheet.   Seorang ayah tidak membuat indikator kinerja utama untuk menentukan berapa besar pengorbanan yang harus ia berikan kepada anaknya.

Ketika orang tua memastikan anaknya makan lebih dulu, yang bekerja bukan logika administrasi.  Yang bekerja adalah logika kepedulian. Ya wajar saja masyarakat menjadi sangat sensitif ketika program makan anak-anak terlalu sering dibicarakan dalam bahasa proyek.  Bukan karena administrasi tidak penting.  Melainkan karena administrasi seharusnya menjadi alat untuk mewujudkan tujuan etis, bukan menggantikannya.

Mungkin inilah alasan mengapa masyarakat bereaksi begitu keras setiap kali muncul kabar makanan yang tidak layak, kasus keracunan, atau dugaan penyimpangan dalam program makan anak.  Yang terluka bukan hanya kepercayaan terhadap sistem.  Yang terluka adalah sesuatu yang lebih dalam.  Yaitu keyakinan bahwa anak-anak kita sedang diperlakukan dengan hormat, tercederai.

Namun, sering kali pemerintah menjawab kritik terhadap MBG dengan data.  Sekian juta penerima manfaat.  Sekian ribu dapur.  Sekian triliun anggaran.  Sekian persen capaian.  Data-data itu penting.  Namun ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh statistik.  Pertanyaan itu sangat sederhana. “Kalau itu anak saya, apakah saya rela memberinya makanan seperti itu?”  Pertanyaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada audit keuangan.  Karena ia menyentuh inti persoalan, karena dalam hampir semua budaya, kualitas makanan yang diberikan mencerminkan kualitas penghormatan kepada penerimanya.  Orang yang dihormati mendapat hidangan terbaik.  Anak yang dicintai mendapat bagian terbaik.

Soal Lauk yang Berpindah

Pada akhirnya, perdebatan tentang MBG bukan sekadar perdebatan tentang menu makan siang.  Ia adalah perdebatan tentang bagaimana sebuah bangsa memandang anak-anaknya.  Apakah mereka dilihat sebagai manusia yang harus dihormati martabatnya?   Ataukah sekadar angka penerima manfaat dalam sebuah laporan kinerja?  Barangkali masalah terbesar bukanlah ketika terjadi pergantian pejabat, muncul polemik pengelolaan, atau beredarnya berbagai rumor dan tudingan yang sulit diverifikasi.  Masalah terbesar muncul ketika kita mulai lupa mengapa program itu ada sejak awal.

Ketika perhatian kita lebih banyak tersita pada proyek daripada anak-anak.  Ketika kita lebih sibuk membicarakan dapur daripada mereka yang makan.  Ketika administrasi perlahan mengambil alih ruang yang semestinya diisi oleh kepedulian.

Sebab pada akhirnya, memberi makan anak bukanlah sekadar aktivitas distribusi pangan. Itu adalah tindakan moral., soal simbol penghormatan.  Makananan adalah bahasa cinta yang telah dipraktikkan manusia jauh sebelum lahirnya kementerian, badan negara, maupun sistem birokrasi modern.

Dan jika suatu hari bangsa ini kehilangan kesadaran akan makna itu, yang terancam hilang bukan hanya kualitas makanan yang diterima anak-anak.  Yang terancam hilang adalah sesuatu yang jauh lebih mahal. Yaitu kemampuan kita untuk melihat sesama manusia, terutama anak-anak, sebagai pribadi yang layak dihormati, dirawat, dan dijaga masa depannya.

Jika orangtua memindahkan lauknya ke piring anak-anaknya secara diam-diam karena sayang, sekarang pun perpindahan lauk itu tetap ada. Hanya arahnya yang berbeda, dari piring anak-anak pindah entah kemana. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: makananmakanan bergizi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

Next Post

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co