12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumbuh dalam kehidupan sederhana, bukan generasi yang pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata.  Mereka memiliki bahasa yang berbeda.  Bahasa itu bernama makanan. Bahkan kakek-nenek kita selalu menyuruh kita makan kalau kita datang berkunjung.

Saya masih ingat sebuah pemandangan yang mungkin juga akrab bagi banyak orang Indonesia. Di meja makan yang sederhana, ibu berkata bahwa beliau sudah kenyang. Ayah bilang ia tidak terlalu suka bagian ayam yang besar. Belakangan, setelah dewasa, kita baru memahami bahwa sebagian dari pernyataan itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar.  Mereka bukan tidak lapar.  Mereka hanya ingin memastikan anak-anaknya makan lebih dulu.

Kalimat legendaris “yang penting anak-anak sudah makan” mungkin merupakan salah satu bentuk cinta paling jujur yang pernah lahir di negeri ini. Tidak ada puisi, pun tidak ada musik latar. Tidak ada unggahan media sosial yang menyentuh hati.  Hanya ada sepiring lauk yang diam-diam berpindah dari piring orang tua ke piring anak.  Dalam tindakan sederhana itu terkandung sebuah pesan yang luar biasa, bahwa kelangsungan hidup anak-anak lebih penting daripada kenyamanan orang tua.  Karena itulah makanan tidak pernah sekadar makanan. 

Mengapa Manusia Selalu Menghubungkan Makanan dengan Kehormatan?

Para antropolog sudah lama memahami bahwa makanan memiliki makna yang jauh melampaui fungsi biologisnya. Claude Lévi-Strauss melihat makanan sebagai bagian dari sistem simbol yang digunakan manusia untuk memahami dunia. Mary Douglas menjelaskan bahwa makan bersama adalah peristiwa sosial yang membantu membangun dan menjaga hubungan antarmanusia. Sementara Marcel Mauss menunjukkan bahwa pemberian, termasuk pemberian makanan, hampir selalu mengandung makna penghormatan dan ikatan sosial.

Karena itu, di hampir semua budaya, memberi makan seseorang bukan sekadar memindahkan kalori dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah bentuk pengakuan.  Ketika tamu datang ke rumah lalu disuguhi teh hangat, yang diberikan bukan sekadar minuman. Yang diberikan adalah pesan bahwa ia diterima. 

Ketika warga kampung berkumpul dalam hajatan dan makan bersama, yang sedang dibangun bukan hanya rasa kenyang, melainkan rasa kebersamaan.  Dalam budaya Jawa, bahkan membiarkan tamu pulang tanpa suguhan sering dianggap kurang pantas. Bukan karena tamunya akan kelaparan, melainkan karena penghormatan sosial belum diberikan sebagaimana mestinya.

Makanan adalah bahasa. Dan seperti semua bahasa, ia menyampaikan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.  Ketika negara masuk ke ruang yang sangat pribadi, maka di sinilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi menarik untuk dibahas. Selama ini kita cenderung melihat MBG sebagai program pembangunan. Kita berbicara tentang anggaran, target penerima manfaat, dapur umum, rantai distribusi, dan indikator keberhasilan.  Semua itu tentu penting. 

Namun ada satu hal yang jarang disadari.  Ketika negara memberikan makanan kepada anak-anak, negara sesungguhnya sedang memasuki ruang yang selama ribuan tahun menjadi wilayah moral keluarga. Negara sedang melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan seorang ibu.  Negara sedang mengambil peran yang selama ini dijalankan seorang ayah.  Negara sedang berkata kepada jutaan anak Indonesia,  “Kami ingin memastikan kalian tumbuh dengan baik.” 

Karena itulah MBG tidak pernah bisa dipahami hanya sebagai program pangan.  Ia juga merupakan pernyataan moral.  Ia adalah cara sebuah bangsa menunjukkan bagaimana ia memandang generasi yang akan mewarisi masa depannya.

Dari Anak-Anak ke Administrasi

Namun di sinilah kegelisahan mulai muncul.  Ketika MBG pertama kali diperkenalkan, yang memenuhi imajinasi publik tentu adalah anak-anak. Kita membayangkan siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Kita membayangkan keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi harian. Kita membayangkan dengan optimis masa depan generasi muda yang lebih sehat. 

Tetapi perlahan-lahan, percakapan publik mulai bergeser.   Yang muncul di media bukan lagi cerita tentang anak-anak.  Yang muncul adalah cerita tentang tata kelola, anggaran, audit, pengawasan,  pergantian pimpinan,  polemik pengelolaan dapur, bahkan sampai tentang perdebatan para aktivis mahasiswa dengan pejabat publik. Terakhir ini tentang berbagai tudingan dan kecurigaan yang beredar di ruang publik., seperti yang beredar di media bagaimana Sony Sonjaya membongkar isi chat dengan 26 pejabat yang diduga berebut jatah lokasi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahkan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional dari Dadan Hindayana kepada Naniek Sudaryati Deyang menambah kesan bahwa persoalan yang dihadapi program ini tidak lagi semata-mata menyangkut distribusi makanan, melainkan juga menyangkut tata kelola dan kepercayaan publik. Semua isu itu memang penting. 

Namun ada sesuatu yang terasa mengganggu.  Di tengah ramainya perdebatan tersebut, coba kita perhatikan, anak-anak perlahan mulai menghilang dari pusat cerita.  Seolah-olah bangsa ini mulai lebih sibuk membicarakan siapa yang mengelola makanan daripada siapa yang memakannya.

Pelan tapi Pasti Spreadsheet Menggantikan Empati

Tentu saja program sebesar MBG membutuhkan administrasi yang baik.  Tidak ada yang salah dengan audit dan pengawasan.  Tidak ada yang salah juga dengan indikator kinerja.  Masalah muncul ketika administrasi mulai menggantikan tujuan moral yang seharusnya dilayaninya.  Dalam keluarga, seorang ibu tidak menghitung kasih sayangnya menggunakan spreadsheet.   Seorang ayah tidak membuat indikator kinerja utama untuk menentukan berapa besar pengorbanan yang harus ia berikan kepada anaknya.

Ketika orang tua memastikan anaknya makan lebih dulu, yang bekerja bukan logika administrasi.  Yang bekerja adalah logika kepedulian. Ya wajar saja masyarakat menjadi sangat sensitif ketika program makan anak-anak terlalu sering dibicarakan dalam bahasa proyek.  Bukan karena administrasi tidak penting.  Melainkan karena administrasi seharusnya menjadi alat untuk mewujudkan tujuan etis, bukan menggantikannya.

Mungkin inilah alasan mengapa masyarakat bereaksi begitu keras setiap kali muncul kabar makanan yang tidak layak, kasus keracunan, atau dugaan penyimpangan dalam program makan anak.  Yang terluka bukan hanya kepercayaan terhadap sistem.  Yang terluka adalah sesuatu yang lebih dalam.  Yaitu keyakinan bahwa anak-anak kita sedang diperlakukan dengan hormat, tercederai.

Namun, sering kali pemerintah menjawab kritik terhadap MBG dengan data.  Sekian juta penerima manfaat.  Sekian ribu dapur.  Sekian triliun anggaran.  Sekian persen capaian.  Data-data itu penting.  Namun ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh statistik.  Pertanyaan itu sangat sederhana. “Kalau itu anak saya, apakah saya rela memberinya makanan seperti itu?”  Pertanyaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada audit keuangan.  Karena ia menyentuh inti persoalan, karena dalam hampir semua budaya, kualitas makanan yang diberikan mencerminkan kualitas penghormatan kepada penerimanya.  Orang yang dihormati mendapat hidangan terbaik.  Anak yang dicintai mendapat bagian terbaik.

Soal Lauk yang Berpindah

Pada akhirnya, perdebatan tentang MBG bukan sekadar perdebatan tentang menu makan siang.  Ia adalah perdebatan tentang bagaimana sebuah bangsa memandang anak-anaknya.  Apakah mereka dilihat sebagai manusia yang harus dihormati martabatnya?   Ataukah sekadar angka penerima manfaat dalam sebuah laporan kinerja?  Barangkali masalah terbesar bukanlah ketika terjadi pergantian pejabat, muncul polemik pengelolaan, atau beredarnya berbagai rumor dan tudingan yang sulit diverifikasi.  Masalah terbesar muncul ketika kita mulai lupa mengapa program itu ada sejak awal.

Ketika perhatian kita lebih banyak tersita pada proyek daripada anak-anak.  Ketika kita lebih sibuk membicarakan dapur daripada mereka yang makan.  Ketika administrasi perlahan mengambil alih ruang yang semestinya diisi oleh kepedulian.

Sebab pada akhirnya, memberi makan anak bukanlah sekadar aktivitas distribusi pangan. Itu adalah tindakan moral., soal simbol penghormatan.  Makananan adalah bahasa cinta yang telah dipraktikkan manusia jauh sebelum lahirnya kementerian, badan negara, maupun sistem birokrasi modern.

Dan jika suatu hari bangsa ini kehilangan kesadaran akan makna itu, yang terancam hilang bukan hanya kualitas makanan yang diterima anak-anak.  Yang terancam hilang adalah sesuatu yang jauh lebih mahal. Yaitu kemampuan kita untuk melihat sesama manusia, terutama anak-anak, sebagai pribadi yang layak dihormati, dirawat, dan dijaga masa depannya.

Jika orangtua memindahkan lauknya ke piring anak-anaknya secara diam-diam karena sayang, sekarang pun perpindahan lauk itu tetap ada. Hanya arahnya yang berbeda, dari piring anak-anak pindah entah kemana. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: makananmakanan bergizi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

Next Post

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co